<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelompok 3 MPK 2 Kualitatif &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/ayrazarrani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 May 2024 16:49:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Kelompok 3 MPK 2 Kualitatif &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>K-Pop dan Politik: Partisipasi Anak Muda Lewat Lensa Fan Activism</title>
		<link>https://journalight.com/2024/05/28/k-pop-dan-politik-partisipasi-anak-muda-lewat-lensa-fan-activism/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/05/28/k-pop-dan-politik-partisipasi-anak-muda-lewat-lensa-fan-activism/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 3 MPK 2 Kualitatif]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2024 14:03:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[partisipasi politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=898</guid>

					<description><![CDATA[Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena partisipasi sukarela oleh pengguna media sosial X yang menggabungkan unsur budaya K-Pop dalam kampanye politik Anies Baswedan pada masa Pemilihan Umum 2024 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses partisipasi politik di era digital,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="768" height="1024" data-id="949" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-1-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-949" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-1-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-1-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-1.jpg 1108w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sukarelawan Olppaemi Project di JIS dalam rangka acara kampanye akbar paslon 01 (Sumber: Naja Thahira A.)</figcaption></figure>
</figure>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading">Abstrak</h2>



<p class="has-text-align-left">Penelitian ini mengkaji fenomena partisipasi sukarela oleh pengguna media sosial X yang menggabungkan unsur budaya K-Pop dalam kampanye politik Anies Baswedan pada masa Pemilihan Umum 2024 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses partisipasi politik di era digital, khususnya bagaimana budaya populer dapat mempengaruhi keterlibatan politik generasi muda. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi digital dan wawancara mendalam, penelitian ini menemukan bahwa fan activism dalam kampanye politik dapat terjadi melalui proses yang kompleks. Fenomena ini bermula dari aksi spontan pengguna media sosial yang mengaitkan elemen K-Pop dengan kampanye politik kemudian menarik perhatian komunitas fandom K-Pop dan menciptakan bentuk partisipasi politik yang kreatif. Partisipasi ini melibatkan aktivitas online seperti mengunggah dan berinteraksi dengan konten, serta aktivitas offline seperti bergabung dengan tim sukarelawan dan mengadakan acara berbasis komunitas. Faktor pendorong partisipasi meliputi pengaruh lingkungan sosial, rasa kesesuaian dengan visi dan misi politik, serta pendekatan kampanye yang menarik dan menyenangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya K-Pop dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan partisipasi politik di kalangan generasi muda, menciptakan kampanye politik yang lebih inklusif dan relevan. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang potensi kampanye politik kreatif di masa depan dan bagaimana pendekatan berbasis budaya populer dan pendekatan yang relevan dan kreatif dapat memperluas jangkauan dan meningkatkan keterlibatan politik masyarakat.<br><br><strong>Keyword</strong>: Budaya populer, Fan activism, Kampanye politik, K-Pop, Media sosial, Partisipasi politik, Generasi muda, Pemilu 2024, Anies Baswedan, Etnografi digital, Participatory culture</p>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading">Fenomena Fan Activism dan Budaya Partisipatori K-Pop dalam Kampanye Politik Anies Baswedan</h2>



<p>Saat ini, fenomena <em>fan activism</em> dapat ditemukan di ranah politik pada isu-isu yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Indonesia, fenomena ini pernah terjadi beberapa kali. Salah satu contohnya adalah ketika fans K-Pop berpartisipasi dalam demonstrasi penolakan RUU Cipta Kerja dengan menggunakan <em>hashtag </em>dan membantu isu tersebut naik menjadi <em>worldwide trending topic </em>di media sosial X (Andini &amp; Akhni, 2021). Contoh lainnya terjadi baru-baru ini selama kampanye politik jelang Pemilihan Umum 2024, di mana ketertarikan dan keterlibatan masyarakat dalam politik mencapai puncaknya. Selama ini, aktivisme yang melibatkan penggunaan budaya populer hanya terbatas pada demonstrasi isu-isu sosial, ekonomi, serta kebijakan hukum. Pada pesta demokrasi tahun ini, terdapat fenomena yang cukup unik, yaitu adanya sekelompok pengguna media sosial X yang secara sukarela menggabungkan unsur budaya K-Pop ke dalam kampanye politik Anies Baswedan. Fenomena tersebut tentu sangat menarik untuk diteliti karena belum ada penelitian yang secara khusus mempelajari proses terjadinya praktik <em>fan activism</em> yang digunakan dalam kampanye politik untuk mendukung seorang calon presiden di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Kontestasi pilpres 2024 dimeriahkan dengan penggunaan unsur budaya penggemar K-Pop yang dikaitkan dengan sosok calon presiden nomor urut 01, Anies Baswedan. Dari meluasnya narasi bahwa Anies mirip dengan idola K-Pop hingga wajahnya terpampang di sejumlah layar videotron di berbagai kota, media sosial menjadi tempat semuanya berawal.&nbsp; Anies Baswedan menyapa masyarakat lewat siaran langsung (<em>live</em>) TikTok ketika sedang dalam perjalanan pulang selepas berkegiatan (28/12/24). Siapa sangka, gestur kecil yang dilakukan Anies tersebut menuai perhatian dari penggemar K-Pop di media sosial X karena dinilai mirip dengan idola K-pop, yang memang kerap melakukan <em>live </em>serupa setelah tampil di acara musik.</p>



<p>Keesokan harinya (29/12/24), muncul akun X @aniesbubble mengunggah<strong> </strong>video <em>live </em>TikTok Anies Baswedan dengan <em>caption </em>terjemahan bahasa Korea, persis seperti akun penggemar K-Pop yang biasa mengunggah terjemahan dari konten idola mereka, kemudian rutin mengunggah <em>update </em>terkini dari aktivitas Anies dan mempromosikan kinerjanya ketika menjabat sebagai gubernur. Setelah itu, muncul pula akun @olpproject dan @haveaniesday, yang menginisiasi berbagai aktivitas kampanye untuk mendukung Anies sebagai capres sekaligus mendorong partisipasi lebih lanjut dari pengguna X dalam aktivitas-aktivitas tersebut, baik secara luring maupun daring. Orang-orang yang familiar dengan budaya penggemar K-Pop merespons fenomena ini dengan sikap positif—banyak dari mereka yang memuji dan turut berpartisipasi secara sukarela, sedangkan orang-orang yang tidak familiar cenderung bertanya-tanya tentang alasan mereka berpartisipasi mereka dalam fenomena ini, sekaligus meragukan keorganikan fenomena ini.</p>



<p>Dengan meneliti fenomena ini, peneliti berharap dapat memberikan wawasan berharga yang bisa membantu memahami proses partisipasi politik di era digital serta bisa menjadi panduan untuk membangun strategi kampanye politik yang lebih efektif. Selain itu, peneliti juga berharap dapat mendorong pemikiran kritis dan diskusi mengenai peran budaya populer dalam membentuk opini politik dan partisipasi politik, terutama di kalangan generasi muda. Apalagi, mereka ini sangat mudah terpengaruh oleh tren dan konten media sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Serba-Serbi Fan Activism dan Budaya Partisipatoris</h2>



<p>Menyinggung topik penggemar K-Pop, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang dapat menjelaskan fenomena yang diangkat dalam penelitian ini secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Hutt (2021) menunjukkan bahwa <em>fandom</em> K-Pop memperlihatkan cara penerimaan <em>(mode of reception)</em> unik yang dipengaruhi oleh internet, dan media sosial dan menjadi ruang aman untuk membentuk komunitas sosial alternatif. <em>Fandom</em> K-Pop juga terlibat dalam serangkaian praktik kritis dan interpretatif tertentu, serta mendorong terjadinya berbagai produksi, tradisi estetika, dan praktik kebudayaan <em>(fan videos, fan arts, fanchants, fanfiction, covers,</em> terjemahan, dan lain-lain), serta berkontribusi terhadap identitas kolektif yang kuat yang memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan spesifik, termasuk usaha-usaha politis. Kim dan Hutt (2021) juga menemukan bahwa penggemar K-Pop memiliki sejarah dalam keterlibatan aktif sebuah <em>fandom</em> di berbagai aspek, mulai dari ekonomi, sosial, hingga musik dari sebelum tahun 2020. Mereka juga melibatkan diri dalam masalah sosial politik yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka di luar konteks <em>fandom</em>.&nbsp;</p>



<p>Budaya K-Pop memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana bagi penggemar untuk berpartisipasi dalam proses politik dan melawan tatanan sosial yang dominan dengan memanfaatkan kekuatan mereka di media sosial. Pada studi lain yang dilakukan oleh Kurniawan et al. (2022), dapat dilihat bahwa keterlibatan penggemar K-Pop dalam aktivisme digital dikemas dengan cara yang khas. Agar pesan-pesannya dapat dimengerti, mereka menyampaikannya dalam berbagai bentuk, mulai dari infografis, utas, hingga <em>meme. </em>Mereka kerap menggunakan jenis bahasa guyon atau plesetan dan sentimen emosional yang mempermudah penyebaran serta penerimaan pesan.</p>



<p>Keterlibatan penggemar dalam permasalahan sosial politik dapat disebut dengan istilah <em>fan activism</em>. Dalam praktik <em>fan activism, </em>penggemar merubah statusnya dari audiens yang pasif menjadi sebuah publik yang peduli akan isu sosial-politik (Brough &amp; Shresthova, 2012). Jenkins (2012) mendefinisikan <em>fan activism </em>atau aktivisme penggemar sebagai &#8220;upaya yang didorong oleh penggemar untuk mengatasi masalah sipil atau politik melalui keterlibatan dan penyebaran konten budaya populer secara strategis&#8221;. Lebih lanjut, Jenkins menjelaskan konsep fan activism dengan menganalisis Harry Potter Alliance (HPA), sebuah organisasi non-profit yang mendukung hak asasi manusia dan kesetaraan yang didirikan dan digerakkan oleh penggemar Harry Potter di seluruh dunia. Contoh ini memberikan pandangan yang lebih luas terhadap definisi dari aktivisme yang semula hanya terbatas pada praktik-praktik tradisional. Kini, definisi dari aktivisme lebih mempertimbangkan peran media dan konvergensi budaya. Sebab, menurut Jenkins (2012), permasalahan politik sering terjadi melalui bahasa dan konteks yang banyak dipengaruhi oleh budaya komersial yang memusatkan aktivisme penggemar dan konsumen dalam gerakan sosial kontemporer.</p>



<p>Konsep <em>fan activism </em>sendiri merupakan bagian dari <em>participatory culture</em>. <em>Participatory culture</em> atau budaya partisipatoris dapat diartikan sebagai budaya penggemar yang dapat mendorong terjadinya kegiatan aktivisme penggemar sebagai wujud dari adanya keterlibatan sipil (Jenkins, dalam Leksmono &amp; Maharani, 2022). <em>Participatory culture</em> tidak hanya fokus pada bagaimana orang bisa menjadi prosumer, tetapi juga menjelaskan bagaimana orang dapat berkolaborasi dan membentuk sebuah komunitas di era digital (Leksmono &amp; Maharani, 2022). Melanjutkan hal tersebut, menurut Jenkins et al. (dalam Leksmono &amp; Maharani, 2022), <em>participatory culture</em> telah bergeser dari ekspresi individu menjadi keterlibatan komunitas. <em>Participatory culture</em> (Jenkins, dalam Leksmono &amp; Maharani, 2022) memiliki beberapa karakteristik, yaitu hambatan yang relatif rendah terhadap ekspresi artistik dan keterlibatan masyarakat, dukungan kuat untuk menciptakan dan berbagi karya, adanya bimbingan informal di mana orang yang paling berpengalaman meneruskan pengetahuannya kepada orang yang masih tergolong pemula, dan anggotanya memercayai bahwa kontribusi mereka penting dan merasakan adanya hubungan sosial antara satu sama lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Metodologi Penelitian</h2>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menelusuri fenomena <em>fan activism </em>dalam konteks kampanye politik. Peneliti tertarik untuk memahami bagaimana pengguna media sosial X menggunakan berbagai elemen budaya K-Pop, seperti<em> fan events, merchandise,</em> dan aktivitas <em>online</em>, dalam mendukung kampanye politik Anies Baswedan secara kreatif dan intensif, yang merupakan fokus utama penelitian kami. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap proses dan motivasi di balik partisipasi aktif mereka, serta bagaimana interaksi dan komunitas <em>online</em> ini berkontribusi pada strategi kampanye secara keseluruhan. Dengan mengadopsi paradigma konstruktivis, peneliti berusaha memahami bagaimana realitas partisipasi ini dibentuk oleh pengalaman sosial individu yang terlibat. Paradigma konstruktivis menganggap bahwa realitas adalah konstruksi mental yang bersifat lokal dan spesifik, serta tergantung pada individu yang melakukannya (Irawati et al., 2021). Untuk mengumpulkan data, peneliti menerapkan metode etnografi digital dan melakukan wawancara mendalam dengan para pengguna media sosial yang terlibat dalam kampanye tersebut. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perspektif, pengalaman, dan pandangan responden terkait dengan topik penelitian. Selain itu, peneliti juga mengamati interaksi mereka di platform media sosial untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang praktik <em>online</em> mereka. Penelitian ini menggunakan metode observasi <em>‘observer participation’,</em> di mana data dikumpulkan melalui pengamatan terhadap objek penelitian tanpa keterlibatan aktif dalam kegiatan kelompok yang diamati (Hasan et al., 2022). Metode ini bertujuan untuk menggali aspek-aspek praktik yang melibatkan hubungan antara tindakan manusia dan aturan, struktur, serta proses yang membentuk perilaku dan interaksi <em>online</em>. Setelah mengumpulkan data, peneliti menerapkan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola dan tema-tema utama yang muncul dalam partisipasi mereka. Metode analisis ini sesuai dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan, serta memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman yang dalam tentang bagaimana budaya K-Pop digunakan dalam konteks politik dan bagaimana hal ini mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kampanye politik. Pendekatan ini juga memberikan wawasan tentang dinamika sosial dan kultural yang mendasari fenomena<em> fan activism</em> dalam kampanye politik. Hasil temuan dari analisis ini akan dibahas secara rinci pada bagian berikutnya, memberikan gambaran menyeluruh tentang pola partisipasi dan interaksi yang terjadi. Diskusi ini juga akan melihat implikasi dari penggunaan budaya K-Pop dalam konteks politik, kontribusinya terhadap strategi kampanye, dan dampaknya pada keterlibatan politik secara keseluruhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Budaya Populer, Anak Muda, dan Politik</h2>



<p>Budaya populer, atau <em>pop culture</em>, adalah bentuk budaya yang paling umum diadopsi dan dinikmati oleh masyarakat luas. Dalam kajian budaya, budaya populer dianggap sebagai budaya massa yang dikonsumsi dan dipraktikkan oleh khalayak umum dalam kehidupan sehari-hari, didorong oleh media massa dan faktor lainnya (Messianik &amp; Shamad, 2023). Budaya populer sangat lazim di kalangan anak muda, terutama Gen Z dan milenial, karena mereka adalah <em>digital native</em> yang terbiasa dengan internet dan teknologi digital (Selwyn, 2009).&nbsp;</p>



<p>Penelitian ini membahas fenomena di media sosial, khususnya bagaimana budaya populer mempengaruhi partisipasi politik anak muda. Sebagai pemilih pemula dalam pemilihan presiden pertama mereka, anak muda mencari cara berpartisipasi yang sesuai dengan budaya mereka, yang menarik dan menyenangkan. Quintellier (2007) dalam jurnal Contemporary Politics menyatakan bahwa generasi muda lebih tertarik pada partisipasi politik baru seperti aksi komunitas lokal, konsumerisme politik, gerakan sosial baru, politik isu tunggal, dan protes, dibandingkan dengan partisipasi tradisional. Bagi mereka, menarik dan menyenangkan berarti sesuatu yang menghibur, kreatif, dan relevan dengan minat mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan di Balik Partisipasi</h2>



<p>Berdasarkan hasil observasi di media sosial dan didukung oleh cerita salah satu informan, Fifi (24), fenomena penggunaan budaya penggemar K-Pop pada kampanye Anies ini bermula dari keisengan belaka, yang tanpa disangka-sangka menuai <em>engagement </em>besar hingga menjangkau audiens yang tidak familiar dengan budaya K-Pop.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-724x1024.png" alt="" class="wp-image-999" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/1-2.png 1587w" sizes="(max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p>Sebanyak 3 dari 5 informan mengaku tidak berniat mendukung Anies sebelum maraknya fenomena penggunaan budaya penggemar K-Pop pada kampanye Anies. Naja (20), NA (23), dan Jia (24) menyatakan bahwa fenomena ini menjadi titik awal mereka dalam mencari tahu lebih lanjut tentang Anies dan politik, hingga akhirnya menjatuhkan pilihan kepada paslon 01. Sementara itu, Fifi dan Rey (19), mengaku memang telah menjatuhkan pilihannya kepada Anies sebelum merebaknya fenomena ini.</p>



<p>Alasan informan dalam mendukung Anies antara lain karena kesesuaian dengan visi dan misi serta<em> track record,</em> familiaritas dengan kiprah politik Anies, gestur, serta kepribadian Anies. Faktor lingkungan, seperti pengaruh keluarga dan teman, juga berperan dalam mendorong beberapa informan untuk memilih paslon 01.</p>



<p>Kelima informan memiliki alasan berbeda-beda yang mendasari partisipasinya dalam berbagai aktivitas kampanye yang berbalutkan budaya penggemar K-Pop.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-724x1024.png" alt="" class="wp-image-1205" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1.png 1587w" sizes="(max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading">Warna-Warni Partisipasi Berbalut Budaya Penggemar K-Pop</h2>



<p>Kelima informan mengaku ikut meramaikan kampanye Anies yang dibalut budaya penggemar K-Pop dengan berbagai bentuk partisipasi, baik daring maupun luring. Mereka pertama kali terpapar oleh fenomena ini setelah melihat cuitan-cuitan berbalut budaya penggemar K-Pop yang beredar di linimasa media sosial X mereka. Para informan sepakat bahwa momen ketika Anies Baswedan melakukan live di TikTok menjadi titik awal penting dalam memahami penggunaan budaya penggemar K-Pop dalam kampanye politik Anies Baswedan, yang kemudian mendorong mereka untuk terlibat lebih jauh dalam berbagai bentuk partisipasi dalam fenomena ini.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-724x1024.png" alt="" class="wp-image-1206" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-2.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p>Bentuk partisipasi yang dilakukan tiap informan bervariasi. Namun, terdapat dua bentuk partisipasi yang sama-sama dilakukan oleh kelima informan, yakni mengunggah konten tentang Anies Baswedan yang dikaitkan dengan budaya penggemar K-Pop dan berinteraksi (memberikan<em> like, reply, retweet,</em> dan/atau <em>quote retweet</em>) dengan cuitan-cuitan yang serupa.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-724x1024.png" alt="" class="wp-image-1207" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-3.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p>Pada lingkup luring, bentuk partisipasi yang dilakukan semakin bervariasi dan kompleks. Misalnya, bergabung dengan tim sukarelawan yang diinisiasi oleh Olppaemi Project dalam rangka menyukseskan kampanye akbar, sebagaimana yang dilakukan oleh Naja<strong>.</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-724x1024.png" alt="" class="wp-image-975" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/5-1.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p><br>&#8220;Masuk, jadi volunteer, ketemu sehari-dua hari, lalu udah mulai ngomongin bakal ngapain aja,” ungkap Naja ketika ditanyai tentang kegiatan yang dilakukan selama menjadi sukarelawan. &#8220;Kami jadi dekat karena banyak yang dikerjain selama kampanye akbar.&#8221;</p>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="839" class="wp-block-cover__image-background wp-image-976" alt="" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445672_0-2-1024x839.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445672_0-2-1024x839.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445672_0-2-300x246.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445672_0-2-768x629.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445672_0-2.jpg 1414w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">“Selama <em>volunteer</em>, aku mendapat <em><strong>networking</strong></em>, <strong>teman</strong>, dan <strong>keluarga baru</strong>.” &#8211; Naja, 20 tahun</p>
</div></div>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-id="982" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-982" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-1152x1536.jpg 1152w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-1536x2048.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445673_0-2-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pernak-pernik yang dibagikan oleh Olppaemi Project (Sumber: Naja Thahira A.)</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="609" data-id="980" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2-1024x609.jpg" alt="" class="wp-image-980" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2-1024x609.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2-300x178.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2-768x456.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2-1536x913.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445671_0-2.jpg 1659w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Naja bersama teman-teman sukarelawan (Sumber: Naja Thahira A.)</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-id="981" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-2-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-981" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-2-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-2-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__37445670_0-2.jpg 1108w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Naja bersama teman-teman sukarelawan (Sumber: Naja Thahira A.)</figcaption></figure>
</figure>



<p>Sejumlah informan juga rela merogoh kocek sendiri dalam menunjukkan dukungannya lewat sejumlah aktivitas khas penggemar K-Pop. Jia menceritakan pengalamannya berpartisipasi dengan membuat dan membagikan <em>freebies </em>berupa <em>merchandise </em>gantungan kunci gemas berwajah Anies ketika ia menyambangi acara kampanye Anies.</p>



<pre class="wp-block-preformatted">*<em><strong>freebies</strong></em>: hadiah yang diberikan kepada sesama penggemar K-Pop secara cuma-cuma <em>(n)</em><br><br></pre>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-724x1024.png" alt="" class="wp-image-1192" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="576" height="1024" data-id="1189" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-1189" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0-576x1024.jpg 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0-169x300.jpg 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0-768x1365.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0-864x1536.jpg 864w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843924_0.jpg 960w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Freebies </em>bergambar Anies Baswedan yang dibagikan di acara Desak Anies Jogja. (Sumber: Jia)</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" data-id="1190" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-1190" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0-768x432.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0-1536x864.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__43843922_0.jpg 1706w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Proses pengemasan <em>freebies </em>bergambar Anies Baswedan yang dibagikan di acara Desak Anies Jogja. (Sumber: Jia)</figcaption></figure>
</figure>



<p>Ada pula NA, yang berpartisipasi dalam penggalangan donasi yang diinisiasi oleh akun akun @olpproject, @humaniesproject, dan @aniesbubble. Donasi biasanya dibuka untuk memberikan sumbangan dana untuk bencana alam ataupun isu sosial lainnya atas nama Humanies.</p>



<pre class="wp-block-preformatted">*<strong>Humanies</strong>: sebutan untuk pendukung Anies Baswedan (n)</pre>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="996" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2-996x1024.png" alt="" class="wp-image-991" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2-996x1024.png 996w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2-292x300.png 292w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2-768x789.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2-1495x1536.png 1495w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/9-2.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 996px) 100vw, 996px" /><figcaption class="wp-element-caption"><br>Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p>Bentuk partisipasi lain juga dilakukan oleh NA. Ia berkata sempat mengikuti acara nonton bareng Debat Capres bersama pendukung Anies Baswedan lainnya yang dikemas dalam konsep <em>cupsleeve event</em>, khas penggemar K-Pop.</p>



<pre class="wp-block-preformatted">*<em><strong>cupsleeve event</strong></em>: acara yang digelar di kafe biasanya untuk merayakan ulang tahun, hari jadi atau sebuah pencapaian grup atau anggota grup K-Pop. <em>(n)</em></pre>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="866" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3-866x1024.png" alt="" class="wp-image-994" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3-866x1024.png 866w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3-254x300.png 254w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3-768x908.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3-1299x1536.png 1299w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/10-3.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 866px) 100vw, 866px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong><em><br></em></strong>Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<p>Setelah usainya pilpres, partisipasi mereka tidak berhenti begitu saja. Beberapa informan memperhatikan bahwa akun-akun besar seperti @aniesbubble, @olpproject, dan lain-lain masih aktif mengunggah konten, melakukan <em>live </em>Space, menggalang dana untuk isu sosial dan lingkungan, serta mengadakan acara luring.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-724x1024.png" alt="" class="wp-image-1208" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/FR-19-tahun-4.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading">Dampak Penggunaan Budaya Penggemar K-Pop</h2>



<p>Selain mendalami bagaimana fenomena ini terjadi di kalangan fandom K-Pop dan anak muda itu sendiri, kami juga mengeksplorasi pandangan mereka mengenai dampak penggunaan budaya ini terhadap eksplorasi dunia politik di Indonesia ke depannya. Hadirnya fenomena ini tentunya memunculkan spekulasi-spekulasi terkait pendekatan baru yang akan dilakukan oleh para praktisi di dunia politik Indonesia. Informan kami, Fifi, memandang fenomena ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas pasangan calon tersebut, namun akan berpengaruh pada <em>swing voters</em> atau pemilih yang belum menetapkan pilihan dan masih labil atau dapat berubah-ubah sewaktu-waktu. Pendekatan ini dapat menjadi daya tarik dan penentu bagi mereka dalam mengambil keputusan terakhir, serta berdampak pada meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu politik di Indonesia melalui tahap perkenalan yang menggunakan pendekatan yang lebih akrab.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="708" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0-1024x708.jpg" alt="" class="wp-image-1214" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0-1024x708.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0-300x207.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0-768x531.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0-1536x1062.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270082_0.jpg 1539w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>



<p>Rey, informan kami lainnya, melihat fenomena ini sangat berdampak pada anak muda yang menjadi lebih melek terhadap isu politik di Indonesia. Aksi ini juga dapat menggerakkan anak muda lainnya untuk lebih peduli dan mulai memberikan perhatian pada isu-isu politik di Indonesia.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="335" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0-1024x335.jpg" alt="" class="wp-image-1216" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0-1024x335.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0-300x98.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0-768x251.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0-1536x502.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270087_0.jpg 1587w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>



<p>Dengan kata lain, seluruh informan memandang aksi dan fenomena ini sebagai dampak penggunaan budaya K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan yang berkesan positif dan cukup berpengaruh terhadap praktik politik di Indonesia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Prediksi Kampanye Politik Masa Depan</h2>



<p>Di masa depan, informan kami optimis bahwa fenomena ini membuka peluang untuk munculnya bentuk kampanye politik baru. Misalnya, Naja mengungkapkan,</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="621" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1-1024x621.jpg" alt="" class="wp-image-1217" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1-1024x621.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1-300x182.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1-768x466.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1-1536x931.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270084_0-1.jpg 1587w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>



<p>Selain itu, bentuk kampanye ini juga dianggap meningkatkan rasa keterlibatan masyarakat dalam politik. Fifi menyatakan,</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="468" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0-1024x468.jpg" alt="" class="wp-image-1219" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0-1024x468.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0-300x137.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0-768x351.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0-1536x703.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/S__228270085_0.jpg 1587w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Hasil wawancara dengan informan</figcaption></figure>



<p>Secara umum, para informan melihat bahwa kampanye kreatif yang menggabungkan elemen budaya populer seperti K-Pop dapat memperluas target audiens dan membawa pendekatan baru yang lebih menarik dalam dunia politik Indonesia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p>Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bagaimana fenomena partisipasi sukarela oleh pengguna media sosial X yang menggunakan kultur K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan terjadi melalui proses yang kompleks. Fenomena ini bermula dari aksi spontan dan iseng seorang pengguna Twitter yang mengaitkan elemen budaya K-Pop dengan kampanye politik Anies Baswedan. Aksi ini menarik perhatian komunitas fandom K-Pop di media sosial X, menciptakan bentuk partisipasi politik yang kreatif dan akrab bagi generasi muda pada proses politik yang biasanya dianggap serius. Melalui unggahan cuitan, video, dan konten visual yang meniru gaya <em>fanbase</em> K-Pop, para pengguna media sosial X mulai menghidupkan narasi politik dengan cara yang segar dan menarik. Partisipasi ini berkembang dari aktivitas <em>online</em> seperti <em>like</em>, <em>reply</em>, <em>retweet</em>, dan <em>quote retweet</em> terhadap konten berunsur K-Pop, hingga aktivitas <em>offline</em> seperti bergabung dengan tim sukarelawan, menyumbangkan dana, dan membagikan <em>freebies/merchandise</em> terkait kampanye.</p>



<p>Keterlibatan komunitas <em>fandom</em> K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan menunjukkan bahwa anak muda dapat memadukan minat pribadi mereka dengan partisipasi politik, menciptakan bentuk keterlibatan yang inovatif dan relevan dengan budaya dan karakter <em>digital native</em> mereka. Selain itu, partisipasi ini juga didorong oleh faktor lingkungan, seperti pengaruh keluarga dan teman, serta rasa kesesuaian dengan visi dan misi Anies Baswedan. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang proses partisipasi politik di era digital dan bagaimana budaya populer, seperti K-Pop, dapat digunakan untuk mendorong keterlibatan politik di kalangan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan potensi besar dari kampanye politik kreatif, tetapi juga menandakan bahwa pendekatan serupa dapat diadopsi dalam kampanye politik di masa depan untuk mencapai audiens yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi politik masyarakat, terutama generasi muda. Dimulai dari aktivisme spontan seorang penggemar K-Pop di media sosial X, aksi ini berkembang menjadi gerakan yang lebih terstruktur dan berdampak besar. <em>Fan activism</em> dalam kampanye Anies Baswedan menunjukkan bagaimana anak muda dapat memadukan minat pribadi mereka dengan partisipasi politik, menciptakan bentuk keterlibatan yang inovatif dan relevan dengan budaya digital mereka. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa politik bisa menjadi menarik dan menyenangkan jika disajikan dengan cara yang tepat, mendorong lebih banyak anak muda untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam proses demokrasi. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa sebuah gerakan dapat berkembang dari bawah ke atas, dimulai dari para penggemar dan kemudian mencapai tingkat yang lebih tinggi hingga melibatkan idola yang mereka gemari.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Daftar Pustaka</h2>



<p>Andini, A. N., &amp; Akhni, G. N. (2021). Exploring Youth Political Participation: K-Pop fan activism in Indonesia and Thailand. <em>Global Focus</em>, <em>1</em>(1), 38–55. <a href="https://doi.org/10.21776/ub.jgf.2021.001.01.3">https://doi.org/10.21776/ub.jgf.2021.001.01.3</a></p>



<p>Brough, M., &amp; Shresthova, S. (2012). Fandom Meets Activism: Rethinking Civic and Political Participation. <em>Transformative Works and Cultures</em>, <em>10</em>. <a href="https://doi.org/10.3983/twc.2012.0303">https://doi.org/10.3983/twc.2012.0303</a></p>



<p>Hasan, M., Pd, M., Harahap, T. K., &amp; Hasibuan, M. S. S. (2022). <em>Metode penelitian kualitatif. </em>Penerbit Tahta Media Group.</p>



<p>Irawati, D., Natsir, N. F., &amp; Haryanti, E. (2021). Positivisme, Pospositivisme, Teori Kritis, dan Konstruktivisme dalam Perspektif “Epistemologi Islam”. <em>JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, </em>8(4), 875.</p>



<p>Jenkins, H. (2012). “Cultural Acupuncture”: Fan Activism and the Harry Potter Alliance. <em>Transformative Works and Cultures</em>, <em>10</em>.<a href="https://doi.org/10.3983/twc.2012.0305"> https://doi.org/10.3983/twc.2012.0305</a></p>



<p>Kim, P., &amp; Hutt, E. (2021). K-pop as a Social Movement: Case Study of BTS and Their Fandom ARMY. <em>Journal of Student Research</em>, <em>10</em>(3). <a href="https://doi.org/10.47611/jsrhs.v10i3.1772">https://doi.org/10.47611/jsrhs.v10i3.1772</a></p>



<p>Kurniawan, A. F., &amp; Manar, D. G. (2022). ANALISIS ETNOGRAFI VIRTUAL: AKTIVISME</p>



<p>FANS K-POP DI MEDIA SOSIAL DALAM KASUS OMNIBUS LAW<em>. Journal of Politic and Government Studies, </em>11(4), 118-128.</p>



<p>Leksmono, D. L., &amp; Maharani, T. P. (2022). K-pop Fans, Climate Activism, and Participatory Culture in the New Media Era. <em>Unitas. (Print)</em>, <em>95</em>(3), 114–135.<a href="https://doi.org/10.31944/20229503.05"> https://doi.org/10.31944/20229503.05</a></p>



<p>Messianik, A., &amp; Shamad, P. A. (2023). Komodifikasi Budaya Populer di Generasi Z (Studi Kasus Anak Muda Sidoarjo) Popular Culture Commodification On Z Generation (Case Study Sidoarjo’s Young Generation). <em>Jurnal Dinamika Sosial Budaya</em>, <em>25</em>(1), 220–223.<a href="https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/download/4387/3305"> https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/download/4387/3305</a></p>



<p>Quintelier, E. (2007). Differences in political participation between young and old people. <em>Contemporary Politics</em>, <em>13</em>(2), 165–180.<a href="https://doi.org/10.1080/13569770701562658"> https://doi.org/10.1080/13569770701562658</a></p>



<p>Selwyn, N. (2009). The digital native – myth and reality. <em>Aslib Proceedings</em>, <em>61</em>(4), 364–379.<a href="https://doi.org/10.1108/00012530910973776"> https://doi.org/10.1108/00012530910973776</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/05/28/k-pop-dan-politik-partisipasi-anak-muda-lewat-lensa-fan-activism/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
