<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bernadette Moureen Nathalia Indra &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/bernadettemoureen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jun 2025 07:04:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Bernadette Moureen Nathalia Indra &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dibalik Manfaat LinkedIn: Ketika Harapan Berubah Jadi Beban</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/linkedin-ternyata-gak-hanya-mengantar-ke-karir-impian-tapi-juga-nambah-beban-pikiran/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/linkedin-ternyata-gak-hanya-mengantar-ke-karir-impian-tapi-juga-nambah-beban-pikiran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 02:55:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Final Year Student]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[LinkedIn]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3738</guid>

					<description><![CDATA[Apakah kamu familiar dengan potongan kalimat “I’m happy to announce—”? Jika iya, mungkin karena kamu adalah bagian dari 26 juta pengguna LinkedIn di Indonesia (Scuderia, 2024). Tak seperti media digital lainnya yang didominasi konten hiburan, LinkedIn dirancang untuk menghubungkan pencari...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Apakah kamu familiar dengan potongan kalimat <em>“I’m happy to announce—”</em>? Jika iya, mungkin karena kamu adalah bagian dari 26 juta pengguna LinkedIn di Indonesia (Scuderia, 2024). Tak seperti media digital lainnya yang didominasi konten hiburan, LinkedIn dirancang untuk menghubungkan pencari kerja dengan perekrut serta menawarkan peluang dan informasi yang membuatnya semakin populer di kalangan mahasiswa dan lulusan baru (Muhamad, 2023). Namun, penelitian terdahulu ternyata menunjukkan adanya kecenderungan munculnya dampak negatif dari penggunaan LinkedIn kepada pengguna, seperti tekanan emosional (Bilderback, 2025), stres, kecemasan, dan penurunan suasana hati (Jones dkk., 2016). Melihat hal tersebut, apakah LinkedIn serta merta hanya menjadi sumber perasaan negatif bagi para mahasiswa tingkat akhir?</p>



<p>Penelitian ini lahir dari minimnya kajian terkait LinkedIn melalui perspektif efek media yang bersumber dari bidang ilmu komunikasi. Untuk itu, penelitian ini hendak menjawab pertanyaan utama yaitu  <strong>bagaimana efek LinkedIn terhadap keyakinan, perilaku, dan perasaan terkait peluang karier pada diri mahasiswa tingkat akhir Universitas Indonesia?</strong></p>



<p>Tiga konsep utama, yaitu <strong>efek media </strong>(Potter, 2012), <strong>manajemen kesan </strong>(Goffman, 1959), dan <strong>kecemasan </strong>(Clark &amp; Beck, 2010 dalam Jabeen dkk., 2023) digunakan dalam penelitian ini. Dengan kerangka efek media, penelitian ini mengeksplorasi tiga dimensi efek media secara spesifik, yaitu kepercayaan, perilaku, dan perasaan. Sedangkan, dengan manajemen kesan, penelitian ini hendak menelusuri bagaimana pengguna LinkedIn melakukan presentasi diri dan bagaimana presentasi diri yang terdapat di LinkedIn berdampak pada pengguna. Dengan adanya efek media dan manajemen kesan tersebut, penelitian ini juga hendak melihat bagaimana konsep ini dapat berlaku di antara kelompok mahasiswa tingkat akhir yang menggunakan LinkedIn.</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan penelitian, digunakan metode kualitatif interpretatif untuk memahami makna pengalaman individu dalam konteks sosial tertentu. Narasumber dipilih melalui <em>purposive sampling</em> dengan kriteria: mahasiswa tingkat akhir Sarjana Universitas Indonesia, pengguna aktif LinkedIn, dan sedang mempersiapkan karier. Pada akhirnya, penelitian diikuti oleh total 10 narasumber dengan proses validasi data melalui triangulasi metode berupa diari, <em>focus group discussion</em> (FGD) atau diskusi kelompok terfokus, dan wawancara mendalam; triangulasi data berupa diari partisipan, transkrip diskusi kelompok terfokus, dan transkrip wawancara mendalam; triangulasi peneliti dengan data terverifikasi oleh 5 peneliti.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="335" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542-1024x335.jpg" alt="" class="wp-image-3759" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542-1024x335.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542-300x98.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542-768x251.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542-1536x503.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749061021542.jpg 1699w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 1. Kerangka konsep penelitian<br>Sumber: Hasil olahan peneliti</figcaption></figure>



<p>Merujuk pada Gambar 1, penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa tingkat akhir memiliki kondisi prasyarat yang mendasari penggunaan LinkedIn, yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Kondisi ini berkontribusi pada keyakinan mahasiswa terhadap efektivitas LinkedIn sebagai sebuah platform. Keyakinan tersebut kemudian mendorong mereka untuk menerapkan strategi manajemen kesan di LinkedIn. Selain itu, penggunaan LinkedIn juga menciptakan pengalaman emosional yang turut dipengaruhi oleh konteks dan kondisi emosional individu. Hal ini menentukan apakah mahasiswa tingkat akhir merasakan pengalaman negatif atau positif ketika menggunakan LinkedIn.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="498" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588-1024x498.jpg" alt="" class="wp-image-3758" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588-1024x498.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588-300x146.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588-768x373.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588-1536x747.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/messageImage_1749060711588.jpg 1561w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Diagram 1. <em>Word-cloud </em>berdasarkan kode dominan<br>Sumber: Hasil olahan peneliti</figcaption></figure>



<p>Berdasarkan hasil temuan, Diagram 1 memperlihatkan bahwa kode dominan terkait pengaruh LinkedIn menjadi temuan utama dalam penelitian ini. Kode tersebut diperoleh dari catatan diari, diskusi kelompok terfokus, dan wawancara, yang menggambarkan keyakinan terhadap penggunaan LinkedIn sebagai sarana peluang karir, kecenderungan untuk melakukan manajemen kesan agar tampil profesional, serta munculnya perasaan termotivasi sekaligus ketidakpercayaan diri dalam penggunaannya.</p>



<p><strong>LinkedIn sebagai Pintu Peluang Karier&nbsp;</strong></p>



<p>Hasil temuan menunjukkan bahwa LinkedIn diyakini berperan penting dalam menunjang karier mahasiswa tingkat akhir. Melalui platform ini, mereka dapat mengakses tips karier, kisah inspiratif, hingga lowongan pekerjaan. LinkedIn juga membantu membangun koneksi profesional melalui jalinan&nbsp; koneksi dengan para ahli di bidangnya.</p>



<p>GB (21 tahun, jurusan ilmu komunikasi) menyampaikan bahwa ia membagi sumber informasi di LinkedIn menjadi tiga kategori utama: pemimpin industri, teman sebaya, serta personalia perusahaan. Akses terhadap informasi ini mendorongnya untuk semakin serius mengembangkan bidang yang diminati.</p>



<p>Kesadaran akan pentingnya visibilitas digital juga memperkuat keyakinan mahasiswa terhadap efektivitas LinkedIn. Mereka yakin bahwa dengan membagikan pemikiran, menampilkan pencapaian, dan konsisten berinteraksi di platform ini dapat meningkatkan peluang untuk ditentukan sebagai kandidat kerja potensial. Temuan ini sejalan dengan Trang dkk. (2023) yang menegaskan bahwa kesan diri di ranah digital penting dalam membangun kesan positif bagi penyedia kerja.</p>



<p>Tak muncul secara tiba-tiba, keyakinan ini terbentuk secara bertahap melalui paparan berulang terhadap konten-konten bertemakan karier. Temuan ini menunjukkan aplikasi teori <em>belief effect</em> (Potter, 2012), yang menyatakan bahwa media berperan penting dalam membentuk realita sosial dan keyakinan individu. Dalam konteks LinkedIn, narasi kesuksesan profesional membentuk gambaran ideal tentang pencapaian karier. Secara fungsional, respon mahasiswa menunjukkan adanya proses penguatan (<em>reinforcing</em>), di mana keyakinan mereka terhadap LinkedIn semakin kuat karena mereka terpapar konten-konten yang serupa secara berulang.&nbsp;</p>



<p>Namun, efektivitas LinkedIn ini juga bergantung pada fase kehidupan dan kebutuhan pribadi pengguna. Mahasiswa cenderung aktif menggunakan LinkedIn ketika mencari magang atau pekerjaan karena platform ini dianggap mampu meningkatkan visibilitas dan membuka akses peluang profesional. Setelah melewati tahap tersebut, banyak di antara mereka yang mulai jarang mengakses LinkedIn.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;<em>Iya jujur, aku rasa ini berlaku ke teman-teman aku yang lain juga. Kita bakal buka LinkedIn ketika kita butuh magang atau kita lagi gak ngapa-ngapain, tapi ketika kita udah dapat kerja, kita gak bakal buka.</em>&#8221; (Narasumber M, wawancara, 5 Mei 2025, menit 4:05)</p>
</blockquote>



<p><strong>Namun, LinkedIn Tak Selalu Efektif&nbsp;</strong></p>



<p>Latar belakang jurusan dan sosial-akademik turut mempengaruhi keyakinan terhadap efektivitas LinkedIn. Mahasiswa dari rumpun ilmu sosial menyampaikan bahwa LinkedIn belum sepenuhnya menyediakan informasi lowongan kerja yang relevan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Gua merasa lumayan susah uuntuk cari magang atau loker yg penelitian atau yang berkaitan dengan penulisan tapi juga ranahnya soshum sospol gitu isunya, dan tidak kalah penting, bayaranya sesuai.” </em>(Narasumber M, diari, 20 April 2025).</p>
</blockquote>



<p>Secara umum, mahasiswa dari rumpun ilmu sosial merasa lowongan pekerjaan yang ditawarkan di LinkedIn cenderung terbuka untuk mahasiswa dari sektor bisnis, manajemen, dan teknik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Biasanya kita kalau melihat linkedin itu, biasanya yang banyak kan korporat dan kadang yang ada biasanya lebih ke manajemen dulu lah atau yang dicari-cari itu bukan kita-kita” </em>(Narasumber A, diskusi kelompok terfokus, 23 April, menit 16:39).</p>
</blockquote>



<p>Seperti halnya yang diyakini mahasiswa rumpun ilmu sosial, G yang berasal dari Fakultas Ilmu Administrasi menyebutkan bahwa LinkedIn sangat efektif, bahkan telah menjadi norma sosial di lingkungannya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“LinkedIn itu emang kalo buat jurusan aku, karena aku administrasi bisnis ngebantu banget”&nbsp; (Narasumber G, diskusi kelompok terfokus, 23 April, menit 27:39 &#8211; 31:30).</em></p>
</blockquote>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3754" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/1.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 2. Situasi diskusi kelompok terfokus</figcaption></figure>



<p>Gambar 2 menunjukkan situasi diskusi ketika diberikan studi kasus mengenai pengguna LinkedIn bernama Toddi. Para mahasiswa langsung menanyakan latar belakang jurusannya. Begitu mengetahui bahwa Toddi berasal dari Ilmu Komunikasi, mereka serempak menilai bahwa LinkedIn akan relevan baginya karena ketersediaan informasi seputar karir di bidang komunikasi yang berlimpah di platform tersebut. Keyakinan ini diperkuat FIK (22 tahun, Jurusan Teknik Industri), mahasiswa rumpun ilmu Sains dan Teknologi yang menyatakan LinkedIn sangat mendukung pengembangan karirnya. Banyak teman satu jurusannya yang dihubungi langsung oleh perekrut&nbsp; melalui LinkedIn. Berdasarkan temuan tersebut, keyakinan terhadap efektivitas LinkedIn dipengaruhi oleh sejauh mana informasi yang disediakan relevan dengan konteks dan kebutuhan masing-masing rumpun ilmu yang berbeda.</p>



<p><strong>Mencari Perhatian Perekrut dengan Tampilan Profesional di LinkedIn</strong></p>



<p>Sebagai platform profesional, LinkedIn mempengaruhi cara pengguna membentuk kesan diri. Pengguna didorong untuk menyusun profil dengan rapi, rutin berbagi wawasan, dan aktif menunjukkan keterlibatan di bidang tertentu demi membangun kesan profesional dan kredibel.</p>



<p>RY menganalogikan aktivitas di LinkedIn selayaknya pertunjukan. Di depan panggung (<em>front stage</em>), pengguna menampilkan diri seprofesional mungkin, sementara sisi personal yang lebih santai disimpan di balik layar (<em>backstage</em>). Ini selaras dengan teori dramaturgi (Goffman, 1959) yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung tempat mengatur kesan.</p>



<p>Samar dkk. (2023) menyatakan desain platform LinkedIn mendorong pengguna untuk terus menampilkan pencapaian mereka agar dianggap relevan (Bilderback, 2025). Ini diperkuat dengan keyakinan mahasiswa bahwa kesan diri yang kuat dapat membuka lebih banyak peluang karier. Temuan ini memperlihatkan bagaimana keyakinan (<em>beliefs</em>) mempengaruhi sikap (<em>attitudes</em>) sehingga menguatkan argumen Potter (2012) bahwa keyakinan dapat mendorong terbentuknya sikap dan begitu pula sebaliknya.</p>



<p>Dalam konteks ini, para mahasiswa menilai bahwa keaktifan mereka di LinkedIn berdampak positif bagi pengembangan karier. Sikap positif ini kemudian diwujudkan dalam berbagai aksi nyata seperti memperbarui profil, mengunggah pencapaian, hingga aktif berinteraksi sosial dengan pengguna lainnya.&nbsp;</p>



<p>Lebih jauh lagi, pengalaman mereka menunjukkan bagaimana media, dalam hal ini LinkedIn, berperan dalam memperkuat kebiasaan sekaligus mendorong munculnya perilaku baru. Potter (2012) menjelaskan bahwa paparan terhadap aktivitas atau keberhasilan pengguna lain bisa memicu evaluasi internal, dalam konteks ini, dihasilkan tindakan strategis yang berulang untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Melihat profil dan unggahan orang lain di LinkedIn sangat mendorong saya untuk mulai memperbaiki profil pribadi dan mulai membagikan pencapaian saya sendiri.</em>” (Narasumber G, diari, 23 April)</p>
</blockquote>



<p><strong>Kesan Profesional, Romantisasi atau Otentisitas?&nbsp;</strong></p>



<p>Dalam membangun kesan profesional di LinkedIn, mahasiswa berusaha menampilkan versi terbaik dari diri mereka. Namun, dengan dorongan untuk tampil profesional, muncul pertanyaan reflektif: <em>sejauh mana batas antara otentisitas dan romantisasi pencapaian?</em></p>



<p>Sebagian besar mahasiswa memandang bahwa representasi diri di LinkedIn dapat diterima selama narasi yang disusun masih relevan, masuk akal, dan tidak menyimpang dari fakta yang sebenarnya. Pengemasan cerita pencapaian secara profesional dianggap sah, selama tetap pada pengalaman nyata.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Batasannya asal masih di scope yang sama. Nggak mungkin dia ngomong kayak gitu tapi nanti dia nulis memimpin team padahal enggak” </em>(Narasumber RY, diskusi kelompok terfokus, 23 April 2025, menit 44:49-45:03).</p>
</blockquote>



<p>Mereka juga menyadari bahwa semua kesan tersebut pada akhirnya akan diuji dalam situasi nyata seperti wawancara. Artinya, manajemen kesan memang memiliki potensi menciptakan kesan berlebihan, namun hal ini dipahami sebagai strategi yang wajar selama tetap beretika.</p>



<p>Pendekatan ini mencerminkan konsep oleh Potter (2012) yang menyatakan bahwa sikap seseorang dibentuk oleh keyakinan. Dalam konteks ini, keyakinan bahwa manajemen kesan dapat meningkatkan peluang karier akhirnya mempengaruhi sikap mereka untuk melakukan manajemen kesan. Oleh karena itu, mahasiswa cenderung merancang narasi pencapaian dengan bahasa formal dan sistematis untuk menunjukkan profesionalisme, namun tetap berupaya menjaga kejujuran serta rasionalitas dalam membentuk identitas diri di ruang digital.</p>



<p><strong>Antara Iri dan Motivasi: Efek LinkedIn Bersifat Kontekstual</strong></p>



<p>Hasil penelitian belum menemukan indikasi kuat bahwa LinkedIn berefek pada kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir. Justru, perasaan seperti ketidakpercayaan diri, iri, dan tertinggal lebih mendominasi. Emosi-emosi ini muncul secara kontekstual, tergantung kondisi psikologis, suasana hati, dan cara pandang individu terhadap diri, lingkungan, dan perjalanan kariernya.</p>



<p>Beberapa narasumber mengungkapkan bahwa merasa tidak percaya diri ketika membandingkan profil LinkedIn mereka dengan pengguna lain yang dianggap lebih sukses. CHE (22 tahun, Jurusan Manajemen) bahkan menggambarkan profilnya seperti “serpihan debu,” sebuah gambaran yang menunjukkan rasa rendah diri (diari, 20 April 2025). G (22 tahun, Jurusan Ilmu Administrasi Niaga) juga mengaku iri ketika melihat teman atau kenalan dekat meraih pencapaian yang diidamkan. Hal ini sejalan dengan Bilderback (2025) yang menyatakan bahwa perbandingan diri, terutama dengan orang terdekat yang telah sukses dapat memicu perasaan negatif.&nbsp;</p>



<p>Meski demikian, rasa ketidakpercayaan diri yang muncul ini belum berkembang menjadi kecemasan seperti yang diuraikan oleh Barlow (2002) dan Beck dkk. (2005) (Jabeen dkk., 2023). Sebaliknya, emosi negatif ini bersifat fluktuatif dan dapat dikelola secara adaptif oleh sebagian pengguna. Contohnya, LRS (21 tahun, Ilmu Kesejahteraan Sosial) mengaku bahwa rasa ketidakpercayaan diri justru menjadi motivasi untuk memperbaiki profil LinkedIn dan aktif mencari peluang magang.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Aku bukan tipe orang yang akan ngerasain emosi tersebut secara berlarut, justru dari rasa ketidakpercayaan diri tersebut, aku jadi termotivasi juga untuk benerin page LinkedIn, resume, cari info magang, dan melamar kalo ada kesempatan.” </em>(Narasumber LRS, diari, 11 Mei 2025).</p>
</blockquote>



<p>Sejalan dengan <em>media effects</em> (Potter, 2012), media dapat memicu reaksi emosional berupa <em>triggering</em>, yakni menimbulkan emosi yang sudah ada dalam diri pengguna. Efek ini sangat bergantung pada kondisi emosional pengguna saat mengakses media, sehingga saat <em>mood </em>sedang baik, LinkedIn dapat menjadi sumber semangat, tapi saat <em>mood </em>buruk, platform ini dapat terasa membebani.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3755" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 3. Situasi diskusi kelompok terfokus</figcaption></figure>



<p>Gambar 3 menunjukkan hasil diskusi kelompok terkait kasus fiktif mahasiswa bernama Toddi yang menguatkan hasil temuan tersebut. Para narasumber sepakat bahwa saat Toddi dalam kondisi bahagia, seperti setelah memenangkan lomba, membuka LinkedIn akan membangkitkan perasaan bangga dan bersyukur. Namun sebaliknya, saat menghadapi kegagalan, platform ini justru memicu perasaan frustrasi, iri, dan rendah diri. Ini menegaskan bahwa LinkedIn berfungsi sebagai “cermin emosional” yang memantulkan perasaan pengguna berdasarkan konteks psikologis mereka saat itu.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Apa Implikasi dari Penelitian Ini?</strong></h3>



<p><strong>Dari sisi teoritis,</strong> hasil penelitian ini memperluas cara kita memahami bagaimana media, khususnya LinkedIn, memengaruhi penggunanya. Selama ini, teori efek media sering hanya dilihat dari apa yang orang tahu atau lakukan setelah melihat konten. Tapi temuan ini menunjukkan bahwa media juga bisa memicu perasaan tertentu, seperti motivasi, cemas, atau merasa tertinggal. Dengan kata lain, emosi pengguna juga bagian penting dari efek media, apalagi di platform yang berisi pencapaian orang lain. Penelitian ini membantu memperkaya teori efek media agar lebih sesuai dengan kenyataan hidup digital masa kini.</p>



<p><strong>Sedangkan, dari sisi praktis</strong>, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan LinkedIn tidak hanya berdampak pada karier, tapi juga pada kondisi emosional penggunanya. Karena itu, penting bagi pengembang platform untuk menerapkan pendekatan empatik dengan mempertimbangkan bagaimana fitur-fitur seperti notifikasi pencapaian, jumlah koneksi, atau endorsement bisa memicu tekanan sosial. Pengembang perlu mulai merancang fitur yang mendorong fitur proses, bukan hanya hasil, dan memberi ruang bagi pengguna untuk merasa aman, nyaman, serta tidak terus-menerus terjebak dalam perbandingan sosial. Dengan begitu, platform profesional seperti LinkedIn tidak hanya mendorong pertumbuhan karier, tapi juga mendukung kesejahteraan mental penggunanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Apa yang bisa kita lakukan?</strong></h3>



<p>Berdasarkan temuan tersebut, berikut adalah sejumlah rekomendasi yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk memaksimalkan manfaat LinkedIn sekaligus meminimalisir dampak emosional yang mungkin ditimbulkan.</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk mahasiswa, </strong>gunakan LinkedIn secara bijak. Bangun koneksi, cari informasi kerja, dan bagikan proses belajarmu. Jangan terjebak di pencitraan semata atau merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain karena bisa jadi kamu sudah berkembang lebih jauh dari yang kamu sadari</li>



<li><strong>Untuk kampus dan institusi pendidikan, </strong>waktunya mengubah pendekatan.<strong> </strong>Selain mengajarkan cara penggunaan linkedin yang efektif dan sesuai konteks jurusan, institusi pendidikan juga harus aktif menjelaskan cara menjaga kesehatan mental dari penggunaan LinkedIn, terlebih terkait tekanan sosial digital yang ditimbulkannya.&nbsp;</li>



<li><strong>Untuk peneliti selanjutnya, </strong>studi lanjutan disarankan untuk melibatkan <strong>partisipan dari berbagai universitas</strong> di Indonesia baik negeri maupun swasta untuk menangkap spektrum pengalaman yang lebih luas. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan <strong>variasi latar belakang sosial-ekonomi</strong> guna memahami bagaimana faktor seperti akses terhadap teknologi, ekspektasi keluarga, atau tekanan finansial memengaruhi cara mahasiswa menggunakan LinkedIn, membangun kesan diri, serta mengelola tekanan sosial digital</li>
</ol>



<p>Infografis:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="483" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester-483x1024.png" alt="" class="wp-image-3795" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester-483x1024.png 483w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester-141x300.png 141w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester-768x1629.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester-724x1536.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group02_Infografis-Ujian-Akhir-Semester.png 943w" sizes="auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px" /></figure>
</div>


<p>Ditulis oleh:<br>Bernadette Moureen Nathalia Indra (moureenindra@gmail.com); Haga Valentino (hagavalentino11@gmail.com); Marcelina Andika (marcelina.andika@gmail.com); Priscilla Dewiningtyas (priscilladewiningtyas@gmail.com); Toddi Aliffandi (toddialifandi@gmail.com)<br>Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia</p>



<p class="has-small-font-size">Daftar Pustaka:</p>



<p class="has-small-font-size">Bilderback, S. (2025). Managing Gen Z anxiety and digital perfectionism on LinkedIn. Strategic HR Review. <a href="https://doi.org/10.1108/shr-01-2025-0006">https://doi.org/10.1108/shr-01-2025-0006 </a></p>



<p class="has-small-font-size">Jabeen, F., Tandon, A., Sithipolvanichgul, J., Srivastava, S., &amp; Dhir, A. (2023). Social media-induced fear of missing out (FOMO) and social media fatigue: The role of narcissism, comparison and disclosure. Journal of Business Research, 159, 113693.  <a href="https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2023.113693">https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2023.113693</a></p>



<p class="has-small-font-size">Jones, J. R., Colditz, J. B., Shensa, A., Sidani, J. E., Lin, L. Y., Terry, M. A., &amp; Primack, B. A. (2016). Associations between internet-based professional social networking and emotional distress. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 19(10), 601–608. <a href="https://doi.org/10.1089/cyber.2016.0134">https://doi.org/10.1089/cyber.2016.0134</a> </p>



<p class="has-small-font-size">Muhamad, N. (2023, September 22). Ada 24,9 juta pengguna LinkedIn di Indonesia, milenial mendominasi. Databoks Katadata. <a href="https://databoks.katadata.co.id/teknologi-telekomunikasi/statistik/bb6b1535cc311b3/ada-249-juta-pengguna-linkedin-di-indonesia-milenial-mendominasi">https://databoks.katadata.co.id/teknologi-telekomunikasi/statistik/bb6b1535cc311b3/ada-249-juta-pengguna-linkedin-di-indonesia-milenial-mendominasi</a></p>



<p class="has-small-font-size">Neuman, W. L. (2013). Social research methods: Qualitative and quantitative approaches. Pearson.</p>



<p class="has-small-font-size">Potter, W. J. (2012). Media effects. SAGE Publications.</p>



<p class="has-small-font-size">Scuderia, A. M. (2024, Oktober 14). Naik lagi! Ini jumlah pengguna LinkedIn Indonesia 2024. GoodStats. <a href="https://data.goodstats.id/statistic/naik-lagi-ini-jumlah-pengguna-linkedin-indonesia-2024-ntoEQ">https://data.goodstats.id/statistic/naik-lagi-ini-jumlah-pengguna-linkedin-indonesia-2024-ntoEQ</a></p>



<p class="has-small-font-size">Sun, Y., Fang, S., &amp; Zhang, Z. (2021). Impression management strategies on enterprise social media platforms: An affordance perspective. International Journal of Information Management, 60, 102359. <a href="https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2021.102359">https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2021.102359</a></p>



<p class="has-small-font-size">Trang, N. M., McKenna, B., Cai, W., &amp; Morrison, A. M. (2023). I do not want to be perfect: Investigating Generation Z students’ personal brands on social media for job seeking. Information Technology &amp; People, 37(2), 793–814. <a href="https://doi.org/10.1108/ITP-08-2022-0602">https://doi.org/10.1108/ITP-08-2022-0602</a></p>



<p class="has-small-font-size"></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/linkedin-ternyata-gak-hanya-mengantar-ke-karir-impian-tapi-juga-nambah-beban-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bebas atau Hidup Terbatas: Cerita dari Pekerja Freelance di Jakarta</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 13:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[freelance]]></category>
		<category><![CDATA[freelancer]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3071</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Makanya sebagai freelancer itu tuh in my opinion kayaknya gak bisa cuman depend on one income aja. Harus 2, at least 2 ya. 3 is fine gitu.&#8220; Pernah menyangka, gak, sih, kalau seorang freelancer di Jakarta ternyata harus mengambil lebih...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>&#8220;<em>Makanya sebagai freelancer itu tuh in my opinion kayaknya gak bisa cuman depend on one income aja. Harus 2, at least 2 ya. 3 is fine gitu.</em>&#8220;</p>



<p>Pernah menyangka, <em>gak</em>, <em>sih</em>, kalau seorang <em>freelancer</em> di Jakarta ternyata harus mengambil lebih dari satu <em>gig</em> untuk bisa bertahan? Di kota metropolitan yang penuh dengan peluang dan tantangan, ternyata makin banyak generasi muda memilih untuk bekerja sebagai <em>freelance</em> demi fleksibilitas dan kebebasan. Namun, apakah bekerja tanpa ikatan kontrak selalu menjanjikan penghidupan layak?</p>



<p>Seiring dengan meningkatnya biaya hidup di Jakarta, fenomena <em>gig economy </em>semakin meluas di berbagai wilayah. Berdasarkan Gandini (2019) dalam Hasan dkk. (2024), <strong><em>gig economy</em> mengacu pada pergeseran kondisi ekonomi dari pekerja yang biasanya berstatus permanen menuju pekerja dengan kontrak jangka pendek, non-permanen, atau independen</strong>. Fenomena ini tercermin dari semakin bertambahnya jumlah pekerja <em>freelancer</em>. Sistem kerja <em>freelance</em> yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan waktu ini <strong>semakin diminati oleh generasi milenial dan Gen Z</strong> (Hasan dkk., 2024). Namun, di balik daya tarik tersebut, tak dapat disangkal bahwa sistem kerja <em>freelance</em> diikuti berbagai ketidakpastian dan persaingan ketat, karena <strong>sifat pekerjaan yang berbasis pada proyek dan tidak bersifat permanen</strong> (Hikmawati, 2023).</p>



<p>Lantas, bagaimana sebenarnya kehidupan para <em>freelancer</em> muda di Jakarta? Untuk menjawabnya, kami berbincang dengan tiga <em>freelancer</em> muda yang menjalani keseharian mereka di Jakarta dan sekitarnya. Yuk, simak kisah mereka!</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/23422669/embed#?secret=n13uf7KEE2" data-secret="n13uf7KEE2" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Aura, Adjie, dan Paundra sama-sama melihat pekerjaan <em>freelance </em>sebagai <strong>kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan perasaan bebas dan bahagia</strong>. <em>“Aku punya prinsip mengutamakan kebahagiaan terlebih dahulu jadi pengen bekerja di mana aja kapan aja gitu, ya. Jadi, karena aku jadi </em>freelancer content creator<em>, aku bisa kerja lagi di luar negeri bisa sambil liburan gitu sih jadi gak ada aturan yang mengikat aja sih bagi aku,”</em> ujar Paundra.</p>



<p>Namun, bagi Aura, <em>freelance</em> menjadi pilihan tepat baginya karena baginya, <strong>pekerjaan yang ia tekuni sesuai dengan apa yang ia gemari</strong>. Baginya, mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan ketertarikannya cenderung membuatnya <em>lose interest</em>. Sebaliknya, kini ia merasa bahagia membagikan apa yang ia sukai kepada orang lain melalui pekerjaannya sebagai instruktur yoga. Sebagai<em> freelancer graphic designer,</em> jawaban Adjie menjadi campuran dari isi hati Paundra dan Aura,<strong> fleksibilitas waktu dan tempat bekerja serta kesempatan untuk bisa bekerja sesuai dengan <em>passion</em></strong> menjadi alasan mengapa Adjie memilih untuk terjun ke dunia <em>freelance</em>.</p>



<p>Lalu, dengan segala kebebasan tersebut, bagaimana rutinitas mereka dalam bekerja?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3073" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Rutinitas yang cukup menarik, ya. Kalau dibandingkan dengan rutinitas pekerja kantoran tentunya rutinitas mereka sangat jauh berbeda. Namun, apakah dengan rutinitas seperti itu mereka tetap mendapatkan penghasilan yang mampu menyokong kehidupan mereka sehari-hari?</p>



<p><em>Well</em>, jawaban ketiganya cukup variatif. Untuk Adjie sendiri, ia bercerita bahwa pendapatannya tergantung dengan banyaknya proyek yang ia ambil serta tingkat kesulitan dari proyek-proyek tersebut. Sebagai seorang <em>freelancer graphic designer,</em> Adjie memperoleh pendapatan sekitar <strong>2 hingga 4 juta rupiah per bulannya</strong>. Namun, baginya itu <strong>sudah cukup untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari, terlebih ketika Ia masih tinggal bersama dengan orangtuanya</strong>. Oleh karena itu, pendapatan yang Ia peroleh dari pekerjaan <em>freelance</em>-nya digunakan untuk kebutuhan seperti makan, transportasi, dan pengeluaran hiburan personal.</p>



<p>Di lain sisi, Aura mengungkapkan bahwa pendapatannya cukup stabil. Ia memilih untuk tidak mengungkapkan angka secara spesifik, tapi dalam satu bulan, ia menyebutkan bahwa ia mampu mendapatkan sekitar <strong>puluhan juta rupiah dari ketiga pekerjaannya</strong>. Undangan untuk datang ke acara <em>brand </em>dan <em>community </em>menjadi pendapatan tambahan bagi pemasukan bulanannya. Dengan jumlah pemasukannya itu, Ia tetap berusaha untuk <strong>menabung dan menjaga pengeluarannya untuk berada di bawah setengah pendapatannya</strong>.</p>



<p>Namun, bagi Paundra yang sudah membiayai berbagai kebutuhan dirinya, mulai dari pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari seperti tempat tinggal, pendapatannya sebagai <em>freelancer content creator</em> sangat fluktuatif. Dengan membatasi diri untuk <strong>mengambil 7 hingga 8 projek saja per bulan</strong>, ia berupaya untuk mempertahankan pendapatan<strong> puluhan juta rupiah setiap bulannya</strong>. Tak hanya untuk kebutuhan pokok, pendapatannya tersebut juga ia gunakan untuk mendukung hobi sekaligus tema konten yang ia bawakan, yaitu untuk menonton konser dan liburan.</p>



<p>Lalu, apa, sih, keuntungan dan tantangan yang Aura, Paundra, dan Adjie rasakan selama menjadi <em>freelancer</em>?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3075" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kini, ketiganya <strong>tetap berpegang teguh terhadap keputusan mereka untuk menjadi seorang <em>freelancer</em></strong> dan bahkan menetapkan goal untuk lebih berkembang kedepannya. Dengan pengalaman dan lika-liku yang mereka hadapi selama menjadi <em>freelancer</em>, Aura, Paundra, dan Adjie memiliki beberapa rekomendasi dan saran, <em>nih</em>, buat para anak muda yang tertarik untuk terjun di dunia <em>freelance</em>!</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Cari tahu </strong><strong><em>passion </em></strong><strong>kamu!&nbsp;</strong></li>
</ol>



<p>Lakukan ini untuk benar-benar memilih bidang <em>freelance</em> yang memang sesuai dengan minat dan bakatmu.&nbsp;</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li><strong>Pelajari kebiasaan waktu dan kegiatanmu.</strong></li>
</ol>



<p>Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah kamu tipe orang yang suka dan mampu menghadapi jadwal yang sangat sibuk? Dan, apakah kamu sesuai dengan jam kerja “<em>9 to 5” </em>seperti di kantoran? Jika kamu merasa tidak cocok dengan kedua itu, maka pilihan bekerja sebagai freelance mungkin patut kamu coba.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li><strong>Pertimbangkan pilihanmu dengan baik-baik.</strong></li>
</ol>



<p>Perhitungkan kemungkinan-kemungkinan risiko serta perbandingannya dengan opsi pekerjaan lainnya. Memilih untuk menjadi seorang <em>freelancer</em> bukan merupakan proses yang mudah. Pertimbangkan juga latar belakang, tujuan yang ingin kamu kejar, juga perasaan serta prinsip hidupmu.&nbsp;</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li><strong>Jangan bergantung pada satu sumber pemasukan saja!</strong></li>
</ol>



<p>Pendapatan yang tidak pasti membuat seorang <em>freelancer</em> perlu mencari alternatif lain. Kamu bisa menambah jenis <em>freelance</em> lain yang masih sesuai dengan keahlianmu ataupun membuka diri terhadap peluang pekerjaan tambahan agar tetap memiliki penghasilan yang stabil.</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li><strong>Terakhir, perbanyak koneksi.</strong></li>
</ol>



<p>Sebagai seorang <em>freelancer</em>, sangat mungkin untuk proyek-proyek dan pekerjaan yang kamu dapatkan berasal dari teman atau kenalan di sekitarmu. Oleh karena itu, perbanyaklah koneksimu dengan orang-orang baru.</p>



<p>Gimana? Apakah kamu makin tertarik untuk menjadi <em>freelancer</em>, atau justru sebaliknya?</p>



<p style="font-size:15px">Ditulis oleh Bernadette Moureen Natalia Indra, Elaine Keisha, Nefertiti Gayla Garibaldi, Wilhelmina Inara Nediva, dan Marcelina Andika Putri.  </p>



<p class="has-small-font-size">Referensi:</p>



<p class="has-small-font-size">Hasan, D., Nuraeni, Nursyirwan, V. I., Tantri, M., &amp; Kinasih, D. H. P. (2023). Gig Economy: What is the Impact on Top Talent Recruitment and Labour Skill Market for Freelance Workers in the Millennial Generation in DKI Jakarta. <em>Scientific Journal of Reflection: Economic, Accounting, Management, and Business</em>, <em>7</em>(1), 1-11.</p>



<p class="has-small-font-size">Hikmawati, U. N. (2023). Di Ambang Kegairahan dan Kerentanan (Fleksibilitas Freelance Industri Kreatif Desain di Yogyakarta). <em>Jurnal Studi Pemuda</em>, <em>12</em>(1), 50-62.<br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merakyat Lewat Digital: Kenapa Politisi Semakin Gencar Kampanye Melalui Sosial Media?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 02:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kang dedi mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3439</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong. Apa, sih, yang membuat media sosial begitu “menggoda” bagi para politisi di berbagai belahan dunia?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1920" style="aspect-ratio: 1080 / 1920;" width="1080" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Video kompilasi perbedaan pendekatan konten media sosial dari tiga politisi dari Indonesia, Singapura, dan India.<br>Visual: Unsplash dan Instagram @dedimulyadi71@lawrencewongst dan @narendramodi</figcaption></figure>



<p>Lanskap politik dalam negeri baru-baru ini dihebohkan dengan aktivitas digital Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, yang dijuluki “gubernur konten”. Berkat konten-konten sosial medianya, KDM kini berhasil meraup 4.6 juta pengikut dengan rata-rata puluhan ribu <em>likes </em>pada setiap postingannya di Instagram. Konten-kontennya ini berhasil menangkap perhatian dan sorotan dari tak hanya masyarakat Jawa Barat, tetapi juga masyarakat lintas daerah.</p>



<p>Namun, fenomena politisi yang ‘social media savvy’ tidak hanya terjadi di Indonesia. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan kebijakan pemmerintah dan memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah pusat. Dengan angle kamera yang sinematik, penyuntingan video yang dinamis, serta gaya bicara yang lugas, Lawrence mencuri perhatian dan simpati masyarakat Singapura, bahkan dipuji oleh masyarakat negara tetangga.</p>



<p>India pun tidak ketinggalan dalam tren ini. Perdana Menteri Narendra Modi, dengan 95.9 juta pengikut di Instagram, memiliki kehadiran digital yang luar biasa. Melalui <em>feed</em>-nya, ia membagikan cuplikan perbincangan di <em>podcast</em>, konten ceramah, hingga aktivitas sehari-hari yang dikemas secara menarik. Setiap unggahannya mampu meraup jutaan <em>likes </em>dan memiliki <em>engagement </em>tinggi untuk seorang politisi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png" alt="" class="wp-image-3589" style="width:724px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Infografik <em>insights</em> media sosial tiga politisi internasional.<br>Foto: ANTARA</figcaption></figure>
</div>


<p>KDM, Lawrence Wong, hingga Narendra Modi adalah tiga dari sekian banyaknya politisi internasional yang gencar menggunakan sosial media. <em>Well</em>, keputusan mereka ini bukan sebatas karena ingin saja, tetapi karena memang sistem politik kini sangat dipengaruhi dan disesuaikan dengan demand dari media massa selayaknya yang diungkapkan oleh Hjarvard (2008) dalam Croteau &amp; Hoynes (2019). Fenomena ini kerap disebut dengan<strong> <em>the mediatization of politics </em>atau mediatisasi politik.</strong></p>



<p>Pengaruh media terhadap dunia politik ini secara jelasnya bisa kita lihat melalui bagaimana para politisi melakukan kampanye di sosial media maupun memimpin daerahnya dengan bantuan media. Politisi yang semakin terdorong untuk jago <em>ngonten</em> dan tampil santai di depan kamera juga balik lagi, karena efek mediatisasi politik itu sendiri.</p>



<p>Aktivitas sosial media politisi tidak lepas dari campur tangan tim konten, sosial media, ataupun hubungan masyarakat mereka. Melansir <a href="https://www.tempo.co/politik/dedi-mulyadi-punya-tim-konten-dengan-7-videografer-1483721">Tempo </a>(04/16/2025), KDM memiliki tim kontennya sendiri yang terdiri dari 7 orang videografer yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan Dedi dari berbagai sisi.</p>



<p>Konten media sosial berperan penting dalam lanskap politik modern, terutama karena pertimbangan individu dalam menentukan pilihan politik telah berubah. Croteau &amp; Hoynes (2019) dalam buku Media/Society mengungkapkan bahwa pergeseran ini terjadi ketika pola pemilihan yang sebelumnya didasarkan pada afiliasi partai kini justru lebih berdasarkan kepribadian sang kandidat.</p>



<p>Penggunaan sosial media memberikan keuntungan signifikan bagi politisi. Alih-alih bergantung pada media berita untuk menyebarkan informasi kampanye atau pesan komunikasi mereka, media sosial memungkinkan politisi memproduksi dan mendistribusikan konten secara mandiri. Dengan itu, mereka memiliki kendali penuh atas pesan yang ingin disampaikan. Tak hanya itu, konten di media sosial pun lebih berpotensi untuk viral karena mudah dibagikan antar masyarakat sehingga memperluas jangkauan pesan yang secara sekilas tampak, organik dan otentik.</p>



<p>Namun, benarkah konten media sosial politisi itu organik dan otentik? Ya, selayaknya iklan, konten media sosial politisi sebenarnya merupakan hasil orkestrasi tim yang telah dirancang secara cermat. Konten-konten ini tentunya sudah dikalkulasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dari sang politisi, entah itu mengkomunikasikan kebijakan, mempengaruhi pilihan politik, dan sebagainya.</p>



<p>Kami bertanya kepada masyarakat Jawa Barat terkait tanggapan mereka terhadap aktivitas digital KDM. Bagaimana pandangan mereka terhadap fenomena ini dan terhadap julukan “gubernur konten” yang disematkan kepada Dedi Mulyadi?</p>



<p><em>Turns out</em>, mereka cukup pro dan kontra, <em>lho</em>. Misalnya, Dimas Muhammad Diariefaundra, kerap disapa dengan nama Dimas, mengungkapkan kalau ia cukup senang karena setidaknya ia bisa mengetahui seluk beluk kegiatan yang dilakukan seorang pejabat publik di Jawa Barat. Menurutnya, <em>fair enough</em>, <em>kok</em>, kalo KDM disebut-sebut sebagai “gubernur konten” karena memang ia sudah <em>ngonten </em>jauh sebelum mencalonkan diri sebagai gubernur. “KDM itu menurut gue memang sosok gubernur yang cocok sama karakteristik masyarakat Jawa Barat, dari mulai ia pakai bahasa pengantar Sunda, suka dialog sama rakyat, dan ya jadi lebih deket sama masyarakatnya,” ujar Dimas.</p>



<p>Lain hal dengan Rafi Firmansyah. Sebagai seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang seumur hidupnya tinggal di Jawa Barat, Rafi sudah banyak mendengar tentang KDM. Di satu sisi, ia mendengar dari sesama warga Jawa Barat lainnya bahwa konten KDM membuatnya terasa dekat dengan masyarakat. Namun, di sisi lain, ia menganggap semua konten KDM tidak lebih dari sekedar pencitraan. &#8220;Bukan berarti gue bilang cara yang dia pake ini jelek, tapi ada kekhawatiran bahwa manuver politik ini sebatas cari dukungan untuk maju ke pemilihan aja, jadi gue skeptis dan merasa lebih baik untuk terus mengkritisi aksi KDM,&#8221; ungkapnya. </p>



<p>Ketika Rafi melihat konten ini sebagai pencitraan, Naila Sitti Khalisha atau Naila menyebutnya sebagai gimik.  &#8220;Kalau dari aku sendiri ngeliatnya kayak <em>he&#8217;s full of gimmicks</em> jadi<em> i can&#8217;t take him seriously</em>. Menurut aku, seorang gubernur Jawa Barat itu gak seharusnya tampil di publik dengan citra seperti ini,&#8221; ujar Naila. Naila tak menampis bahwa memang ini sebuah taktik untuk lebih relevan dan dekat dengan masyarakat, tetapi, ia melihat bahwa konten seperti ini sangat dibalut dengan sensasi dramatis layaknya sinetron. Terlebih, Naila mengungkit klaim netizen bahwa salah satu konten KDM itu <em>settingan. </em>Ini yang mendorong Naila untuk cenderung mendiskreditkan konten yang dibuat KDM dan melihatnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat dan bukan benar-benar yang terjadi di lapangan.  </p>



<p>Nah, oleh karena itu, apa, <em>sih</em>, sebenarnya yang perlu kamu awasi dan kamu lakukan jika ketemu konten-konten media sosial politisi? Secara umumnya, tak ada yang salah kok dengan politisi yang melek media sosial. Justru, itu bisa jadi salah satu cara bagi kita untuk mengenal para politisi yang bertanggung jawab atas kesejahteraan hidup masyarakat suatu daerah. Jadi, tenang saja, konten-konten tersebut tak perlu kamu jauhi, tapi jangan pula ditelan mentah-mentah, ya.</p>



<p>Melainkan, <strong>coba untuk lebih kritis terhadap konten-konten tersebut</strong>. <em>Take it with a grain of salt </em>alias terima informasi dan pesannya dengan hati-hati. Tonton dengan kesadaran bahwa konten yang dipublikasikan itu merupakan hasil rancangan dan penyusunan yang terkalkulasi oleh sang politisi dan timnya. Cek kembali fakta yang disampaikan oleh sang politisi dan tentukan pilihan politikmu jangan hanya berdasarkan kepribadian mereka yang kamu lihat di sosial media, tapi, yuk telusuri kembali seluk beluk dan kebijakan yang mereka canangkan!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
