<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ilma Rayhana &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/ilmarayhana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 May 2025 08:32:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Ilma Rayhana &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kondangan Meriah: Menyambut Jamming Budaya Pertama 2024</title>
		<link>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilma Rayhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 03:38:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[fib ui]]></category>
		<category><![CDATA[jamming budaya]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=1410</guid>

					<description><![CDATA[Udara malam yang berembun membuat kerumunan mahasiswa berkostum formal terasa pengap. Namun, mereka tidak tampak begitu peduli. Payung, pusat perkumpulan mahasiswa FIB UI, telah disulap menjadi panggung. Di atasnya, musisi menerima sorakan riuh saat bergantian menaiki panggung. Kampus terasa begitu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Udara malam yang berembun membuat kerumunan mahasiswa berkostum formal terasa pengap. Namun, mereka tidak tampak begitu peduli. Payung, pusat perkumpulan mahasiswa FIB UI, telah disulap menjadi panggung. Di atasnya, musisi menerima sorakan riuh saat bergantian menaiki panggung. Kampus terasa begitu hidup dan berwarna, dipenuhi gelak tawa dan dentuman <em>bass</em>. Inilah yang terjadi setiap diadakan Jamming Budaya.</p>



<figure class="wp-block-video aligncenter"><video height="538" style="aspect-ratio: 960 / 538;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Suasana-Jambud2.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Suasana Payung ketika Jamming Budaya (Sumber video: Rafi Abid Wibisono)</figcaption></figure>



<p>Jamming Budaya, kerap disebut Jambud, merupakan acara musik yang diselenggarakan Irama Bahana Sastra (Mantra) UI. Mantra UI sendiri merupakan badan otonom mahasiswa FIB UI yang berfokus di bidang musik. Sebagai penyelenggara, Mantra UI memberikan wadah bagi para musisi untuk menunjukkan kemampuan bermusiknya, baik musisi internal maupun eksternal FIB. Tak hanya memberikan panggung bagi musisi, Jambud juga hadir sebagai ajang mahasiswa untuk melepas penat di tengah wara-wiri perkuliahan.</p>



<p>Pada edisi ketujuh ini, Jambud membawakan tema “Kondangan”. Tema tersebut disambut baik dengan rasa antusiasme dari para pengunjungnya. Mayoritas pengunjung yang hadir pada Jambud kali ini datang dengan mengenakan batik, kebaya, jas, atau pakaian kondangan lainnya. Acara yang diadakan setiap sebulan sekali tersebut telah kembali diadakan untuk pertama kalinya di tahun 2024, lebih tepatnya pada tanggal 31 Mei 2024 kemarin.</p>



<p>Jambud edisi ini diisi oleh penampilan band yang kebanyakan merupakan band internal FIB, seperti <em>homeband</em> Mantra, Mothersoul, Fuzzy Lads, Lokadipocere, dan DJ Ali. Penampil eksternal diisi oleh band Harum Manis yang pada acara ini menampilkan debut album barunya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdE73tNCvNPSIVpAAqTXsdhVVjGaYtg7kzGpnHohAm_GtT-Q5PoPa_Yngvug8Jsz6uYcORjz8RNF9xLPiWfzwoPvb_kDSlNOCc3tvAe80LhpqlBH3rw55Z0x12q1Jhe-HC-Ru37xkzNIUQCjcS_UZUExDU?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Pertunjukan di Jamming Budaya (Sumber foto: Rafi Abid Wibisono)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Antusiasme tersebut dirasakan oleh sejumlah pengunjung yang mendatangi Jambud kali ini. Salah satunya adalah Millie, mahasiswa UI angkatan 2022. “Kali ini, aku ingin nonton <em>debut performance-</em>nya Harum Manis. Terbayar tunai, ternyata mereka <em>nyanyi </em>se-album!” ujarnya sambil tertawa.</p>



<p>Keempat kalinya datang ke Jambud, Millie selalu bersemangat untuk melihat dekorasi dan lingkungan yang “menggemakan <em>youth</em>” baginya. Millie merasa bahwa di Jambud, mahasiswa dapat berkegiatan layaknya mahasiswa biasa, bebas melepas penat. Selain itu, acara ini menjadi mediumnya bertemu teman-temannya dari media sosial X.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeJlPHOw0ZuUQjjMEw5Rfi1u1ea7IKVV-z96h1sQexspj99FJp11UiZZP_-zLQwR3MNngxrdn_s4TIFk2HlX-QCNoxH7-fA6B8Ge3T9PTGpqTRehPoGfSgoztq-I53Bvvst-AE7CpjJApTRaRwMPRLH2xwQ?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Millie di Jamming Budaya (Sumber foto: Millie)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Salah seorang pengunjung yang juga merupakan mahasiswa FIB, Mamul, telah menghadiri Jambud sejak acara tersebut pertama kali diadakan. Hal yang paling ia tunggu dari Jambud adalah momen <em>bonding</em> dengan teman-teman sefakultas, kakak tingkat, dan alumni yang jarang ditemui di hari biasa perkuliahan. Jumat sore setiap akhir bulan menjadi waktu yang dinantikan Mamul untuk bisa seru-seruan bersama teman di akhir pekan.</p>



<p>Mamul menilai Jambud berbeda dari acara musik kampus lainnya. Menurutnya, Jambud spesial dan selalu membuat hidupnya lebih berwarna. &#8220;Spesial karena rutin diadakan dengan konsep-konsep menarik dan unik, salah satu contohnya, <em>ya,</em> <em>dresscode</em> (kondangan) ini yang <em>bikin</em> suasana jadi semakin seru.&#8221; Lokasi yang sempit dan kostum yang pengap tidak menghalangi niat Mamul untuk datang ke Jambud, selama tiket masuknya gratis dan dapat menjadi ajang seru-seruan.</p>



<p>Fadhil juga memberikan opininya terkait penyelenggaraan Jambud kali ini. Fadhil telah mengikuti Jambud lebih dari 6 kali, banyaknya mahasiswa UI yang memilih Jambud sebagai tempat berkumpul adalah alasan utamanya dalam mengikuti Jambud. “Karena banyak yang dikenal jadi tambah asik lagi, terus juga karena banyak orang dari fakultas lain kita jadi bisa kenalan sama orang-orang baru,” kata Fadhil.</p>



<p>Namun, menurut Fadhil, Jambud pertama 2024 ini memiliki kekurangan spesifik dibanding Jambud sebelumnya. Yaitu, pertunjukan musik yang hanya diadakan sampai pukul 10 malam. Hal ini tidak seperti penyelenggaraan Jambud yang umumnya dilaksanakan hingga pukul 11-12 malam.</p>



<p>Opini para pengunjung bahwa Jambud sebagai tempat melepas penat, unik, serta tempat bermain dan berkumpul bersama teman tampaknya didukung oleh ramainya pengunjung yang datang. Fakta bahwa pengunjung yang berasal dari berbagai fakultas dan diselenggarakan pada akhir minggu Ujian Akhir Semester (UAS), menunjukkan bahwa Jambud tidak hanya ditujukan untuk kalangan mahasiswa tertentu, melainkan untuk seluruh kalangan mahasiswa yang ingin mengisi waktu kosong mereka dengan diiringi seni musik.</p>



<p>Di tengah-tengah para hadirin <em>kondangan</em>, tentunya banyak cerita baru yang muncul dalam Jambud edisi ke-7 ini. Acara yang selalu diramaikan dengan audiens dari berbagai kalangan ini selalu menyuguhkan keramaian yang berbeda dari acara musik lain, khususnya di FIB UI. Suasana seperti itu pun dirasakan kemarin ketika salah satu band penampil. Fuzzy Lads, membawakan persembahan untuk Alm. Adrian, mahasiswa FIB UI yang belum lama ini meninggal dunia.&nbsp;</p>



<p>Penampilan dari Fuzzy Lads dilengkapi dengan puisi ciptaan Rae, mahasiswa Sastra Indonesia, yang dibuat khusus untuk mengenang Adrian. Persembahan itu pun membuat Jambud edisi kali ini terasa lebih dekat bagi para mahasiswa FIB UI dengan penampilan persembahan yang dibumbui dengan perasaan hangat dan haru. Sebagai acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak dari mahasiswa internal FIB UI, bahkan mahasiswa eksternal sekalipun, tentunya penyelenggara acara selalu mempersiapkan <em>gebrakan</em> pada setiap Jambud.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfqhQzAuvbe69_GSVbZgTM4sX59MHB3_cFubBJ6vdD4SVY1g1pNR1vxRcM0ouV2XhBVjd83sSfJC2ZlJTGvC5exm5oaGqfulv0tWe618w8Yl5zjEdElqL6xsNw0-4dTRU6h8aHoxXgwMbTLNMUownAv83Vh?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Penonton menikmati penampilan <em>band</em>. (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Dari hiasan ala acara pernikahan yang biasa kita jumpai di lingkungan rumah, hingga lagu-lagu dangdut yang melantun, dan orang-orang yang mengikuti <em>dresscode</em>. Atasan kebaya yang dipadukan dengan kain batik, kemeja dengan jas formal khas undangan pernikahan, bahkan beberapa penonton yang datang berpakaian sebagai pengantin. Dalam setiap pelaksanaannya, Jambud selalu dijadikan sebagai ajang mengekspresikan diri melalui dandanan sesuai <em>dresscode</em> dan gaya masing-masing. Selain pakaian, antusiasme dan euforia yang tinggi selalu ditunjukkan oleh para audiens Jambud yang memenuhi Payung, tempat para pengunjung duduk, yang turut bernyanyi dan menari di depan panggung.&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Penulis: </strong>Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Vanya Annisa Shizuka, Yoga Al Kemal</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Suasana-Jambud2.mp4" length="1872324" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Analisis Peer Communication Mahasiswa dalam Kegiatan Merokok di Kampus</title>
		<link>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilma Rayhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2024 10:19:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[peer communication]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[social influence theory]]></category>
		<category><![CDATA[takor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=892</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Diandra Adjani Paruntu, Gedavi Hamallas, Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Yoga Al Kemal Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai peer communication terhadap kebiasaan merokok mereka di lingkungan kampus, dengan fokus pada kantin Takor, Fakultas Ilmu Sosial...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Penulis</strong>: Diandra Adjani Paruntu, Gedavi Hamallas, Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Yoga Al Kemal</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Abstrak</strong></h2>



<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai <em>peer communication</em> terhadap kebiasaan merokok mereka di lingkungan kampus, dengan fokus pada kantin Takor, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>peer communication</em> memiliki peran yang signifikan dalam membentuk norma sosial terkait merokok di area kampus yang seharusnya bebas dari asap rokok. Teknik analisis data yang digunakan adalah <em>explanation building</em> yang memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam bagaimana dan mengapa fenomena terjadi. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi kebiasaan merokok di lingkungan kampus.</p>



<p>Keyword:<em> Peer communication,</em> Kegiatan merokok, Lingkungan kampus, Kawasan bebas asap rokok</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pendahuluan</strong></h2>



<p>Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang telah lama menjadi perdebatan di berbagai kalangan masyarakat. Di tengah upaya untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok, larangan merokok di tempat umum menjadi sebuah langkah yang diambil oleh banyak institusi. Namun sayangnya, implementasi larangan merokok tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika budaya merokok telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di suatu tempat.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-1024x768.png" alt="" class="wp-image-1333" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-1024x768.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-300x225.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-768x576.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4.png 1360w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kantin FISIP UI (Takor). (Sumber foto: Hans TM via Google Maps)</figcaption></figure>



<p>Kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menjadi salah satu contoh lingkungan di mana larangan merokok tidak sepenuhnya diindahkan. Meskipun berbagai cara telah dilakukan seperti dipasangnya banner larangan merokok, kegiatan merokok tetap berlangsung di area yang dikenal dengan sebutan Takor (Taman Korea) atau Balsem (Balik Semak). Fenomena ini menarik perhatian kelompok peneliti untuk menggali lebih dalam tentang dinamika komunikasi antar individu terkait kegiatan merokok di kawasan anti rokok. Masalah penelitian yang mendasari&nbsp; adalah bagaimana konsep <em>peer communication</em> dapat memengaruhi perilaku merokok di kantin FISIP UI, terutama dalam konteks larangan merokok yang sebenarnya telah diberlakukan. <em>Peer communication</em>, atau komunikasi antar teman sebaya, dianggap memiliki peran yang signifikan dalam membentuk norma sosial dan perilaku individu. Dalam kasus ini, <em>peer communication</em> diharapkan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk tidak merokok sesuai dengan area yang bebas dari asap rokok.&nbsp;</p>



<p>Penelitian ini memiliki signifikansi yang penting dalam konteks kesehatan masyarakat dan kebijakan anti merokok. Dengan memahami bagaimana komunikasi antar individu di lingkungan kantin FISIP UI memengaruhi keputusan merokok, diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga bagi pengembangan strategi preventif dan intervensi yang lebih efektif bagi pihak kampus dalam mengurangi kebiasaan merokok di lingkungan kampus. Pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah bagaimana <em>peer communication</em> mendorong individu dalam keputusan merokok di kawasan anti rokok di FISIP UI. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi pola komunikasi antar teman sebaya terkait kegiatan merokok dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas <em>peer communication</em> dalam mengubah perilaku merokok.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Literature Review</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Peer Communication</em></strong></h3>



<p>Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kram dan Isabella (1985) <em>peer communication</em> dapat dibedakan oleh karakteristik komunikasinya. Jenis hubungan pertama disebut sebagai <em>information peer</em> (komunikasi mengenai pekerjaan atau organisasi dengan tingkat pengungkapan diri dan kepercayaan yang rendah). Yang kedua adalah <em>collegial peer</em> (komunikasi mengenai pekerjaan atau masalah pribadi dengan tingkat kepercayaan dan pengungkapan diri yang lebih baik atau berada pada level menengah). Yang terakhir adalah <em>the special peer</em> (berbagai topik komunikasi, dukungan emosional tinggi, umpan balik pribadi, kepercayaan, pengungkapan diri, dan persahabatan yang kuat).</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Social Influence Theory</em></strong></h3>



<p>Sementara itu, teori yang digunakan adalah teori pengaruh sosial (<em>social influence theory</em>). Menurut Venkatesh dan Brown (2001), <em>social influence theory </em>adalah bagaimana seseorang dalam jejaring sosialnya dipengaruhi oleh sikap lingkungannya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu melalui interaksi sosial. Dalam konteks kegiatan merokok di FISIP UI, seorang individu dapat mempengaruhi orang yang merokok di area dilarang merokok dengan menggunakan <em>peer communication</em>. Menurut Kelman (1979), <em>social influence theory</em> memiliki tiga cara dalam mempengaruhi perubahan perilaku seseorang dalam sistem sosial, yaitu <em>compliance</em> (kepatuhan), <em>identification</em> (identifikasi), atau <em>internalization</em> (internalisasi).&nbsp;</p>



<p><em>Compliance</em> merupakan penerimaan pengaruh bagi individu untuk menerima imbalan dan menghindari hukuman atas perilaku tidak patuh. Penerimaan ini sering kali disebabkan oleh kekhawatiran akan dampak sosial dari melanggar peraturan, yang kemudian membantu mengurangi kesenjangan dalam norma sosial. <em>Compliance</em> kemungkinan besar terjadi ketika terdapat pengawasan dari agen yang mempengaruhi (Pelinka &amp; Suedfeld, 2017). <em>Identification</em> merupakan pengaruh sosial yang bertujuan mencapai tujuan tertentu tanpa mencerminkan nilai pribadi. <em>Identification</em> terjadi apabila individu mengharapkan dirinya dapat memenuhi peran sosial tertentu. Kondisi ini dapat terjadi apabila individu terhubung dengan kategori sosial tertentu, dan juga terdapat tuntutan peran sosial di dalamnya. Berbeda dengan <em>identification</em>, <em>internalization</em> dapat terjadi apabila seseorang mengadopsi perilaku karena sesuai dengan nilai dan pandangan pribadinya. Nilai tersebut sering dipengaruhi oleh lingkungan sosial saat seseorang dibesarkan. Perilaku yang sesuai dengan nilai yang seseorang anut akan membantunya mencapai tujuan yang diinginkan (Kelman, 1958).</p>



<p>Dengan mengacu pada <em>social influence theory</em>, peneliti membagi narasumber menjadi 2 bagian, yaitu <em>compliant group</em> dan <em>non-compliant group</em>. Tingkat kepatuhan atau <em>compliance</em> merujuk pada peraturan formal yang didistribusikan melalui spanduk berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok UI, serta konsensus informal mahasiswa FISIP UI mengenai waktu dan lokasi tempat yang diperbolehkan merokok. Sementara, mahasiswa yang mengabaikan kedua payung aturan tersebut dikategorikan sebagai <em>non-compliant group</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Research Gap</em></strong></h3>



<p>Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, ditemukan bahwa <em>peer communication</em> ternyata berperan dalam mempersuasi individu untuk berpikir dan bersikap dengan cara tertentu, bahkan lebih besar dari peraturan dan himbauan yang dibuat oleh pembuat kebijakan terkait. Hal tersebut rata-rata berhasil terjadi karena rasa kepercayaan dari individu terhadap <em>peer group</em> mereka, percakapan informal mengenai hal-hal formal seperti kebijakan, serta keterbukaan diskusi dalam <em>peer group</em> (Muraleetharan &amp; Brault, 2021: 7–8).</p>



<p>Dalam konteks larangan merokok di lingkungan kantin FISIP UI, peneliti berhasil menemukan beberapa <em>research gap</em> dari penelitian terdahulu bahwa (1) belum ada pembahasan yang cukup spesifik mengenai peran <em>peer communication</em> dalam himbauan berhenti merokok di lokasi bebas asap rokok. Di sisi lain, banyaknya penelitian terdahulu dengan tema rokok tidak menekankan <em>peer communication</em>. Kemudian (2) tidak adanya batasan-batasan dari konsep <em>peer communication</em> itu sendiri, sehingga salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan untuk penelitian ini adalah untuk menjelaskan batasan <em>peer groups</em>, seperti kedekatan antar teman yang mungkin akan mempengaruhi reaksi individu dalam berpikir dan bersikap.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Metode</strong></h2>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretif untuk memperoleh data yang diperlukan. penelitian berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial melalui pengumpulan data yang kaya dan deskriptif. Dalam pendekatan ini penulis menggunakan dua metode pengumpulan data, yaitu wawancara langsung dan observasi mandiri. Metode wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang paling umum dalam pendekatan penelitian kualitatif. Dalam paradigma interpretif, wawancara digunakan untuk menggali makna dan interpretasi yang dimiliki individu tentang pengalaman dan perspektif mereka. Kemudian dalam paradigma ini, metode observasi digunakan untuk memahami makna dan interpretasi yang dibangun oleh individu dan kelompok dalam pengalaman mereka.</p>



<p>Paradigma interpretif adalah cara pandang dalam penelitian ilmu sosial yang melihat sesuatu dengan cara memahami dan menjelaskan dunia sosial melalui perspektif pelaku suatu kasus sosial. Berbeda dengan paradigma positivis yang cenderung menekankan objektivitas dan meyakini realitas bersifat tunggal, paradigma interpretif mengakui realitas dapat memiliki banyak sisi tergantung dari sudut pandang kita melihat realitas tersebut. Paradigma interpretatif membantu kami untuk mengulik lebih dalam subjek penelitian, tidak hanya sekedar analisis dasar dari subjek namun juga perilaku, interaksi, dan budaya subjek penelitian. Dengan penggunaan pendekatan dan paradigma ini, kami bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi yang terjadi dalam suatu <em>peer group </em>dimaknai oleh para subjek penelitian, dan apakah <em>social influence theory</em> sebagai teori acuan dapat diaplikasikan pada kasus ini.</p>



<p>Konsep <em>peer group </em>dan <em>social influence theory </em>kami gunakan berkaca dari kasus serupa lain, yakni pengembalian piring makan <em>(self-service) </em>pada kantin Takor FISIP UI yang berhasil membentuk sebuah budaya dan konsensus baru di tempat yang sama. Dalam memperoleh data, penulis menggunakan metode wawancara secara langsung dengan 7 informan. Kemudian untuk memperkuat data primer penulis juga melakukan observasi mandiri untuk melihat perilaku dan kebiasaan orang-orang di kantin Takor FISIP UI dalam merokok. Dari data-data tersebut, penulis kemudian menganalisis data tersebut dengan cara <em>coding </em>manual untuk melihat pola-pola yang ada dalam jawaban-jawaban informan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hasil dan Diskusi</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Konsensus bersama lebih dipatuhi daripada peraturan resmi</strong></h3>



<p>Dalam hal merokok di area Takor, para narasumber–baik <em>compliant </em>maupun <em>non-compliant group–</em>merasa bahwa terdapat daerah-daerah kantin yang telah disetujui untuk merokok selain <em>smoking area </em>resmi. Persetujuan ini selanjutnya akan disebut konsensus area merokok, yang antara lain terdiri dari Takor Atas, Takor Politik, dan Takor Semen.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Nah, kalo ngerokok di Takor, gue ngeliat ada dua tempat yang sering dijadiin yaitu Smokar dan lantai atas, dan yang kedua tuh di tempat politik. (&#8230;) tempat duduk semen sekarang juga jadi tempat ngerokok.”</em></p>
<cite>Perokok, <em>compliant group</em>.</cite></blockquote>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeUodPT1oiwD117jBBbSCvpj35VszaEU60ZzjlEbhGa11bUPE0Jkxt_pRw-DjIyFe16U9bSrBR6R0HfhtXNHQIHMtWVhMeMJ3PV9TsyUd0NEVmmRvHp3I2QKKp8mez2qI6XqLf8_VsQvvx0iMZNaK70h3mF?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Semen (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXezLLPKNQngfhCV8a1f-YDhH49O3B-PtBjELlpjiBrr5co4EgtFHTRrSTmTfm4uEbmRYSAUl7rMLvAf3MLlF15WfkJaTPN2jbLIMhwXmXpMTnbzc3wCzdvp9eIjxuyHyV7jZvgcvDtFhpMRbtK7SzsH9-Z-?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Bawah (bagian rendah, <em>foreground</em>) dan Takor Atas (bagian tinggi, <em>background)</em> (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcJ1o9sBGGTEjo2Xm1RG37jbvN9pi7_548F6XDz9AbcdVJgBqAYEvI6-skekzpdTTKno9Bmn5Jw--HHU-DPxEZwyI_ByAjfMa32etduVQuVzwuMT6aiQMNR7vaEkUvXBntnhuKwssZyv8Bw5bHx9xxr1-G7?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Politik (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<p>Konsensus area merokok inilah yang cenderung diikuti oleh para perokok dan non-perokok. Keduanya saling diuntungkan–perokok dapat merokok tanpa merasakan pengapnya <em>smoking area </em>Takor, dan non-perokok dapat menghirup udara bersih. Tetapi, terkadang hal ini juga masih dilanggar. Menurut beberapa narasumber, biasanya hal ini dilakukan warga non-FISIP UI yang tidak tahu persis tentang konsensus area merokok.</p>



<p>Secara umum, mereka mengetahui tentang larangan merokok formal yang disosialisasikan dari <em>banner </em>dan poster di area Takor. Larangan ini sudah diatur oleh SK Rektor UI Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) UI. Namun, pasifnya pihak berwajib membuat para perokok merasa “aman” untuk merokok. Kebanyakan dari mereka berdalih–jika salah, maka salahnya ramai-ramai. Jika dihukum, maka ratusan orang lain juga harus dihukum, termasuk dosen dan staf yang merokok di kawasan tanpa rokok.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Latar belakang perokok yang membentuk budaya merokok</strong></h3>



<p>Berdasarkan kebiasaan merokoknya, terdapat empat narasumber yang merupakan perokok, dua non-perokok, dan satu mantan perokok. Uniknya, keempat perokok dan satu mantan perokok mulai merokok saat masih di bangku SMP-SMA dan dilakukan karena, atau ingin ikut, <em>nongkrong</em>.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Berawal diajak waktu nongkrong. (&#8230;) Dari gue SMP, gue merasa harus merokok. Citra itu gue tekunin sampai sekarang.”</em></p>
<cite>Perokok, <em>noncompliant group</em></cite></blockquote>



<p>Kedua kebiasaan ini–merokok dan <em>nongkrong</em>–menjadi tidak terpisahkan hingga kuliah. Hal ini terlihat ketika dilakukan observasi di area Takor. Kebanyakan pengunjung Takor yang berada di satu meja<em> </em>akan makan, mengobrol, hingga mengerjakan tugas sambil merokok.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Munculnya  </strong><strong><em>social ignorance</em></strong></h3>



<p>Warga Takor tidak lagi asing dengan peneguran. Berbasis pengalaman saling menegur yang efektif untuk mengembalikan piring kotor, kami mencoba membawanya ke dalam konteks rokok. Namun, hasil penelitian tidak menunjukkan pola yang sama.</p>



<p>Para narasumber dari <em>compliant group </em>tidak pernah menegur orang yang merokok di kawasan tanpa rokok, dengan alasan simpel: tidak merasa terganggu dengan asapnya. Salah satu narasumber memilih mengajak teman perokoknya untuk <em>nongkrong </em>di area konsensus sebelum pelanggaran dapat terjadi. Narasumber lain mengakui pernah ditegur oleh teman dekatnya sendiri dengan nada baik-baik. Hal ini mendorongnya untuk lebih menghormati temannya dan menjauh ketika sedang ingin merokok.</p>



<p>Beberapa narasumber dari <em>noncompliant group </em>yang pernah ditegur merasa malu ketika hal itu terjadi, apalagi jika ditegur orang yang tidak ia kenal. Namun, ini tidak berkelanjutan–ia akan melanjutkan merokok dengan sembarangan setelah beberapa hari.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfnWlPJzakZFXJ3TOsYWnb7ZWPNe4xd3zktIij24J1UpHOIiHWtSjU3zInep42zQ79DORZWaxhd-gPx5mkyHdeMpg_5C1RCmGjA17Sxch9l25IDjT6I0gOyxXVAraxGoYQDG5Z7WGeeHfIA6t7xczFNbvw?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt="" style="width:500px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Hasil observasi juga menunjukkan keluhan mahasiswa di media sosial, khususnya X, tentang asap rokok di Takor<em>.</em> Hanya pengunggah berikut yang memberikan izin untuk dijadikan data. Sejumlah unggahan lain menyatakan bahwa mereka merasa “tidak berani” untuk menegur, karena notabenenya beberapa perokok dianggap mengintimidasi. Hal ini sejalan dengan salah satu jawaban narasumber, merasa “takut untuk menegur orang yang tidak dikenal.”</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcEAUxaJlh6li92xsa58_vCRxVM967qz7wCk9dLNZpPc3RWSLgvwXF0HWmgqd4W9uGstl5S7GlMjG_JRb_przoVK91c0-Rov-T8EjFuHSDr2B3T6uzpv75OhaJuDY1z1TmULEvQj2d6UxtYQ7e9hNz52VUv?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt="" style="width:451px;height:auto"/><figcaption class="wp-element-caption">Sumber foto: Anonim, mahasiswa FISIP 2021</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Diskusi</strong></h3>



<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konsensus informal mengenai area merokok di FISIP UI yang lebih dipatuhi oleh para perokok dibandingkan aturan formal yang dianggap kurang efektif. Hal ini sejalan dengan konsep <em>social influence theory</em> yang menjelaskan bagaimana interaksi sosial dalam kelompok dapat mempengaruhi perilaku individu. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana perokok dan non-perokok di FISIP UI mengikuti konsensus area merokok yang diakui secara sosial. Dalam hal ini, persetujuan bersama terkait area merokok menjadi lebih dominan daripada peraturan formal yang ditetapkan oleh pihak fakultas.</p>



<p>Sementara itu, terdapat pula teori lain yang relevan dengan hasil penelitian ini, yaitu <em>social theory of ignorance.</em> Menurut teori ini, ketidakpedulian terhadap aturan merupakan konstruksi sosial yang dilanggengkan. Hal ini tercermin dalam perilaku perokok yang merasa &#8220;aman-aman saja&#8221; untuk tetap melanggar aturan karena kurangnya penegakan hukum dan sanksi nyata. Salah satu narasumber juga memilih untuk tidak menegur perokok karena tidak merasa terganggu meskipun hal tersebut tetap merupakan pelanggaran.</p>



<p>Berkaca pada kasus teguran pengembalian piring di kantin Takor FISIP UI, kami menduga bahwa konsep <em>peer communication</em> akan lebih efektif untuk mencegah kegiatan merokok di area dilarang merokok. Diasumsikan bahwa dalam <em>peer group </em>dengan anggota orang yang <em>compliant </em>dan <em>noncompliant </em>terhadap peraturan dan konsensus, pihak <em>noncompliant </em>dapat terdorong untuk mengikuti ekspektasi anggota kelompoknya untuk menjaga harmoni.</p>



<p>Walaupun hal ini terjadi dalam salah satu narasumber yang ditegur oleh teman dekatnya,&nbsp; tetapi berdasarkan jawaban mayoritas narasumber lain, konsep <em>peer communication</em> terbukti masih kurang dimaknai dengan baik oleh perokok. Kebanyakan narasumber merasa teguran yang ditujukan kepada mereka akan lebih efektif jika dilakukan oleh pihak yang berwenang, berkuasa, atau memiliki otoritas, seperti dosen atau PLK.</p>



<p>Walaupun demikian, sejumlah narasumber yang pernah ditegur pun hanya berhenti merokok di area dilarang merokok dalam jangka waktu pendek. Pihak <em>compliant group</em> cenderung segan untuk menegur orang yang tidak mereka kenal. Hal ini menjawab pertanyaan penelitian terkait bagaimana perokok memaknai teguran dari <em>peer group</em> mereka.</p>



<p>Dapat disimpulkan bahwa peran <em>peer communication </em>akan efektif dan dimaknai dengan baik apabila terdapat budaya dan norma tertentu yang ingin dipertahankan, seperti budaya pengembalian piring di Takor. Namun, untuk kegiatan merokok di FISIP UI, cukup banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti <em>ignorance</em>, sikap “tidak enak”, dan regulasi formal yang tidak dikomunikasikan dengan baik oleh pihak berwajib.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Simpulan</strong></h2>



<p>Merokok sudah menjadi begitu umum di lingkungan mahasiswa FISIP UI. Hal ini juga didorong oleh latar belakang kebanyakan individu menjadi perokok yang erat kaitannya dengan bersosialisasi. Teguran terkait larangan merokok cenderung jarang dibahas dalam suatu <em>peer communication</em> mahasiswa FISIP UI akibat merasa “tidak enak”.&nbsp;</p>



<p>Faktor <em>social ignorance</em> terhadap kegiatan merokok<em> </em>juga jauh lebih berkontribusi dibandingkan <em>peer communication </em>maupun peraturan formal. Karena mahasiswa FISIP UI memilih untuk bersikap <em>“bodo amat</em>” terhadap peraturan, maka muncul <em>status quo </em>bahwa ada kebebasan relatif dalam merokok di FISIP UI. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa konsensus informal yang telah disetujui secara kolektif mengenai lokasi merokok jauh lebih dihormati dibandingkan peraturan formal tanpa sanksi yang diimplementasikan dengan baik. Teguran dari teman dapat dimaknai dengan baik, namun dari orang yang tidak dikenal akan kurang efektif. Di sisi lain, perokok merasa bahwa penegakan larangan merokok berbentuk peneguran lebih baik dilakukan secara rutin orang yang berwenang (seperti petugas keamanan).</p>



<p>Penelitian selanjutnya dapat membahas lebih dalam mengenai faktor perilaku dari kegiatan merokok di kampus, menggunakan sudut pandang psikologis atau sosiologis dibandingkan komunikasi. <em>Social theory of ignorance </em>atau konsep <em>face saving </em>dapat digunakan sebagai acuan, karena hubungannya yang erat dengan budaya masyarakat yang menghindar dari konfrontasi langsung seperti teguran.&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Referensi</strong></h2>



<p>Aprilian, M. (2023). <em>PENGARUH TINGKAT SOCIAL INFLUENCE TERHADAP PERSEPSI SISWA PADA PENGGUNAAN LAYANAN MOBILE PAYMENT (Survei Terhadap Siswa Kelas XI IPS di SMAN 1 Parigi)</em>.</p>



<p>Bryman, A. (2012). <em>Social Research Methods</em>. OUP Oxford.</p>



<p>eBusiness@Newcastle. (n.d.). Social Influence Theory &#8211; TheoryHub &#8211; Academic theories reviews for research and T&amp;L. <a href="https://open.ncl.ac.uk/theories/15/social-influence-theory/">https://open.ncl.ac.uk/theories/15/social-influence-theory/</a>&nbsp;</p>



<p>Esterberg, K. G. (2002). <em>Qualitative Methods in Social Research. </em>McGraw-Hill.</p>



<p>Kram, K. E., &amp; Isabella, L. (1985). MENTORING ALTERNATIVES: THE ROLE OF PEER RELATIONSHIPS IN CAREER DEVELOPMENT. <em>Academy of Management Journal</em>, <em>28</em>(1), 110–132. <a href="https://doi.org/10.2307/256064">https://doi.org/10.2307/256064</a>&nbsp;</p>



<p>Li, C. (2013). Persuasive messages on information system acceptance: A theoretical extension of elaboration likelihood model and social influence theory. <em>Computers in Human Behavior</em>, <em>29</em>(1), 264–275. <a href="https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.09.003">https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.09.003</a></p>



<p>Mekarisce, A. A. (2020). Teknik Pemeriksaan keabsahan data Pada Penelitian kualitatif di bidang Kesehatan Masyarakat. <em>JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat</em>, <em>12</em>(3), 145–151. https://doi.org/10.52022/jikm.v12i3.102&nbsp;</p>



<p>Meyer, S. B., Leask, J., Seale, H., &amp; Wiley, K. E. (2023). ‘Getting the vaccine makes me a champion of it’: Exploring perceptions towards peer-to-peer communication about the COVID-19 vaccines amongst Australian adults. <em>Health Expectations</em>, <em>26</em>, 1505-1513.</p>



<p>Moran, M. B., &amp; Sussman, S. (2015). Changing Attitudes Toward Smoking and Smoking Susceptibility Through Peer Crowd Targeting: More Evidence From a Controlled Study. <em>Health Communication</em>, <em>30</em>(5), 521-524.</p>



<p>Muraleetharan, V., &amp; Brault, M. A. (2021). Friends as Informal Educators: The Role of Peer Relationships in Promotion of Sexual Health Services among College Students. <em>Community Health Equity Research &amp; Policy</em>, <em>44</em>(1), 3-14.</p>



<p>Nasution, S. (1988). <em>Metode penelitian naturalistik kualitatif. </em>Tarsito.</p>



<p>Rektorat UI. (2013). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keputusan Rektor Universitas Indonesia Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok Universitas Indonesia (KTR UI) [Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia].</p>



<p>Saw, A., Paterniti, D., Fung, L.-C., Tsoh, J. Y., Chen Jr., M. S., &amp; Tong, E. K. (2017). Social Environmental Influences on Smoking and Cessation: Qualitative Perspectives Among Chinese-Speaking Smokers and Nonsmokers in California. <em>J Immigr Minor Health</em>, <em>19</em>(6), 1404-1411.</p>



<p>Yin, R.K (2017). Case Study Research and Application: Design and Methods. Sage Publication.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencekau Aman di Depok Penuh Begal</title>
		<link>https://journalight.com/2023/11/29/mencekau-aman-di-depok-penuh-begal/</link>
					<comments>https://journalight.com/2023/11/29/mencekau-aman-di-depok-penuh-begal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilma Rayhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2023 09:11:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[begal beji]]></category>
		<category><![CDATA[begal cilodong]]></category>
		<category><![CDATA[begal cimanggis]]></category>
		<category><![CDATA[begal cinere]]></category>
		<category><![CDATA[begal cipayung]]></category>
		<category><![CDATA[begal depok]]></category>
		<category><![CDATA[begal juanda]]></category>
		<category><![CDATA[begal limo]]></category>
		<category><![CDATA[begal margonda]]></category>
		<category><![CDATA[begal motor]]></category>
		<category><![CDATA[begal pancoran mas]]></category>
		<category><![CDATA[begal sawangan]]></category>
		<category><![CDATA[begal sukmajaya]]></category>
		<category><![CDATA[begal tapos]]></category>
		<category><![CDATA[daerah rawan begal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=52</guid>

					<description><![CDATA[*mencekau: menangkap atau memegang (dng cakar, tangan, atau mulut)&#160;(v) Huru-hara perburuan mengisi sebuah rumah di Tanah Baru, Depok pada malam 17 Agustus 2023. Pemilik rumah tersebut menemukan perampok seusai pulang dari perayaan kemerdekaan. Saat berlari untuk mengejarnya, sang pemilik rumah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>*<sup>mencekau: menangkap atau memegang (dng cakar, tangan, atau mulut)&nbsp;<em>(v)</em></sup></p>



<p></p>



<p>Huru-hara perburuan mengisi sebuah rumah di Tanah Baru, Depok pada malam 17 Agustus 2023. Pemilik rumah tersebut menemukan perampok seusai pulang dari perayaan kemerdekaan. Saat berlari untuk mengejarnya, sang pemilik rumah dibacok dari atas motor oleh celurit pelaku yang berhasil melarikan diri.</p>



<p>Peristiwa semacam ini merajalela di seluruh Kota Depok. Tercatat, 30% kasus begal yang diberitakan media selama dua tahun terakhir terjadi di Kecamatan Beji. Pekatnya kriminalitas ini meresahkan seluruh warga dan mahasiswa yang menetap di Depok, Kota Begal. Cerita-cerita tentang mahasiswa yang dibacok malam hari atau perempuan yang dicegat di tengah jalan sudah tidak asing. Namun, tidak banyak data agregat yang dapat diakses dengan mudah oleh publik untuk dapat meninjau keamanan Kota Depok. Oleh karena itu, proyek ini akan memetakan penyebaran begal di Kota Depok dengan harapan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap aksi begal di Kota Depok.</p>



<div class="wp-block-cover wp-duotone-rgb6700-rgb2557676-1"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim-30 has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1478" height="1108" class="wp-block-cover__image-background wp-image-345" alt="" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1.jpg 1478w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1-300x225.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1-1024x768.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1-768x576.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_1-1170x877.jpg 1170w" sizes="(max-width: 1478px) 100vw, 1478px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-constrained wp-block-cover-is-layout-constrained">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size"><strong>Tercatat, 30% kasus begal yang diberitakan media selama dua tahun terakhir terjadi di Kecamatan Beji.</strong></p>
</div></div>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kisah lama yang berulang terus-menerus</h2>



<p>Begal merujuk pada tindakan kriminal yang melibatkan upaya pemaksaan atau kekerasan dalam mencuri harta benda atau uang dari korban, biasanya di jalan atau tempat umum.&nbsp;</p>



<p>Dalam dua tahun terakhir, terdapat 29 kasus begal di Depok yang diliput media <em>online</em>. Kasus-kasus tersebut meliputi pencurian motor &amp; gawai, kekerasan seksual, dan penjambretan di jalan dan tempat umum. Dapat dibayangkan, berapa banyak upaya-upaya pembegalan lain yang lolos dari gigitan pers?</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/16086080"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script></div>



<p>Paruh kedua tahun 2022 sempat menjadi bulan terbahaya di Kota Depok. Kasus-kasus pembegalan sempat memuncak di masa ini usai diringankannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat COVID-19 pada bulan Juli 2022.&nbsp;</p>



<p>Pemberitaan kasus pembegalan sempat mereda pada bulan Januari. Akan tetapi, kembali memuncak pada akhir tahun 2023.</p>


<div class="flourish-embed flourish-gauge" data-src="visualisation/16087396"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script></div>



<p>Warga Depok paling rentan terkena pembegalan pada waktu 00.00-06.00 dini hari. Penelaahan kami menemukan bahwa lebih dari setengah kasus pembegalan terjadi pada waktu-waktu tersebut.&nbsp;</p>



<p>Dosen Kriminologi Universitas Indonesia, Mohammad Irvan Olii, menyatakan “Begal terjadi karena ada kondisi yang memungkinkan kesempatan datang, yaitu kondisi gelap… (karena) orang sekarang lebih memilih pulang larut malam naik kendaraan pribadi–motor.”</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-348" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2-1024x768.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2-300x225.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2-768x576.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2-1170x877.jpg 1170w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2023/12/LINE_ALBUM_Depok-kalam-malam_231211_2.jpg 1478w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jalan di Depok kala tengah malam. (Foto: Rafi Abid)</figcaption></figure>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading">Pembegalan paling sering terjadi di kecamatan mahasiswa, Beji. </h2>



<p>Beji sering diidentikkan sebagai kecamatan yang penuh dengan kost sewaan mahasiswa. Hal ini karena terdapat lima universitas di sekitar Beji, antara lain Universitas Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Gunadarma, dan Polimedia Kreatif.</p>


<div class="flourish-embed flourish-map" data-src="visualisation/15935178"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script></div>



<p></p>



<p>Menekankan kembali, 30% berita begal dari 2022–2023 terjadi di daerah Beji. Di Beji–sama seperti di seluruh kecamatan Kota Depok lain–demografi korban tidak terfokus pada gender atau usia tertentu. </p>



<p>Kasus-kasus pembegalan seolah tidak pandang bulu dalam mengancam korban hingga terjadi kekerasan fisik. Namun, perlu dicatat bahwa semua pembegal dengan motif kekerasan seksual menargetkan korban perempuan, dan selalu beraksi sendirian.</p>


<div class="flourish-embed flourish-pictogram" data-src="visualisation/16086321"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script></div>



<p>Begal tidak hanya menimbulkan kekerasan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak nonfisik bagi korbannya. R (21) merupakan salah satu korban begal di Beji pada 2022.</p>



<p>Beberapa bulan setelah kejadian, R mengalami dampak nonfisik yang cukup besar. Selain pengeluaran untuk biaya operasi, ganti telepon genggam, dan rawat jalan&#8211;yang mendapatkan bantuan dari pihak alumni kampus&#8211;R merasakan beban psikologis yang berat baginya.</p>



<p>“<em>Gue </em>sangat <em>mentally drained </em>atas semua yang terjadi<em> </em>(&#8230;) <em>Gue </em>kerap kali takut dan panik melihat orang yang terlihat <em>suspicious </em>bawa motor malam-malam.” ujar R. Kelelahan juga muncul dari media lokal dan nasional yang menggunakan nama R tanpa izin dan membuat cerita-cerita yang tidak akurat mengenai pembegalan yang dilaluinya.</p>



<p>R menyatakan bahwa setelah lebih dari setahun, trauma yang dirasakan jauh berkurang. Ini menunjukkan bahwa  begal juga menyebabkan luka secara psikologis yang seringkali membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh.</p>



<p></p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa saja yang melakukan begal?</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Alasan seseorang membegal yang paling sederhana (&#8230;) yaitu karena kemiskinan. Padahal, <em>nggak </em>juga.</p>
<cite>Mohammad Irvan Olii, Dosen Kriminologi UI</cite></blockquote>



<p>Aksi pembegalan dapat dilakukan sendiri maupun berkelompok. Data yang terkumpul dari pemberitaan media massa <em>online </em>menunjukkan lebih dari setengah kasus pembegalan dilakukan dalam kelompok berisi 2–4 orang. Menurut Olii, hal ini dilakukan sesuai kapasitas yang dimiliki oleh pelaku. Jumlah anggota tak luput dari tujuan dan hubungan antar pelaku. Misalnya, hubungan dekat dengan orang lain seperti teman akrab, saudara, bahkan sebatas teman tongkrongan.&nbsp;</p>



<p>Begal terjadi karena ada motivasi dan kesempatan. Alasan seseorang membegal yang paling sederhana adalah karena alasan kemiskinan. Namun, masalah ini jauh lebih kompleks. Faktor lainnya adalah karena dorongan dan pengaruh dari pergaulan.&nbsp;</p>



<p>Terdapat orang-orang yang hidup berkelompok dan menjadikan begal sebagai cerminan kegiatannya. Sekelompok anak muda di bawah 18 tahun pun biasanya termotivasi untuk menunjukkan tindak kekerasannya karena ingin memiliki barang tertentu.</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/16087660"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script></div>



<p>Hingga saat ini, masyarakat Depok hanya bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap begal. Untuk menyelesaikan masalah ini secara mendalam, diperlukan kebijakan di tingkat pemerintah seperti meningkatkan fasilitas transportasi umum agar pengguna motor berkurang. Solusi jangka panjang yang menyeluruh harus segera ditemukan apabila para pemangku kepentingan tidak ingin Depok terus dijuluki sebagai “Kota Begal”.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2023/11/29/mencekau-aman-di-depok-penuh-begal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
