<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelompok 4 MPK Kualitatif D &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/keldigietno3/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Jul 2025 03:20:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Kelompok 4 MPK Kualitatif D &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>A Dump Account: Ruang Digital Aman Tanpa Kritikan</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3797</guid>

					<description><![CDATA[Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Feeds harus estetik, caption harus...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi</strong></p>



<p>Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. <em>Feeds</em> harus estetik, <em>caption</em> harus <em>catchy</em>, dan citra diri pun seolah harus dijaga terus-menerus. Di tengah tekanan itu, muncul pertanyaan: bagaimana seseorang bisa mengekspresikan perasaannya dengan jujur jika media sosial justru menjadi ruang yang penuh tuntutan?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3837" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-scaled.png 960w" sizes="(max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</div>


<p class="has-large-font-size"><strong>Instagram dan Dump Account</strong></p>



<p>Dalam era digital saat ini, media sosial bukan hanya sarana berbagi informasi atau foto, tapi juga ruang untuk membentuk identitas diri dan menyalurkan emosi. Bagi generasi Z, Instagram menjadi platform utama untuk mencurahkan cerita dan perasaan melalui konten visual. Namun, tekanan untuk selalu menampilkan “kehidupan ideal” di akun utama membuat banyak pengguna merasa tak lagi punya ruang aman untuk mengekspresikan sisi personal mereka. Beberapa hal di atas menjadi alasan banyak orang beralih dan menjadi lebih aktif di <em>dump account</em>. <em>Dump account</em> adalah akun alternatif Instagram yang digunakan secara lebih santai, bebas, dan spontan. Berbeda dari akun utama yang penuh pencitraan, <em>dump account</em> lebih menyerupai ruang pribadi di mana pengguna bisa unggah foto acak, refleksi pribadi, atau momen emosional tanpa merasa diawasi atau dinilai, meskipun akunnya tetap bisa dilihat masyarakat umum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png" alt="" class="wp-image-3809" style="width:442px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-768x644.png 768w" sizes="(max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p><br>Menariknya, ini bukan fenomena yang jarang terjadi. Menurut data Goodstats.id (2024), <strong>57% pengguna Instagram di Indonesia memiliki akun kedua</strong>, termasuk <em>dump account.</em> Angka ini mencerminkan kebutuhan besar akan ruang ekspresi yang lebih autentik dan lepas dari tekanan sosial.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Fenomena ini menjadi titik awal dari penelitian kami,</strong></p>



<p>yang bertujuan menggali bagaimana penggunaan <em>dump account</em> sebagai bentuk jurnal foto digital dapat membantu generasi Z dalam meregulasi emosi mereka. Hal ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Scott et al. (2023) dan Pluta et al. (2021), terkait pemilihan media untuk mengekspresikan aspek emosional dan pribadi di ranah digital. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan teknik<em> photo elicitation interview</em>, kami mendalami pengalaman subjektif para pengguna <em>dump account</em>. Penelitian ini didukung oleh konsep-konsep seperti <em>online self-disclosure</em>, <em>social sharing of emotions</em>, dan <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT) untuk memahami lebih dalam relasi antara ekspresi diri di media sosial dan kesejahteraan emosional mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Di Balik Maraknya Penggunaan <em>Dump Account</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f9d1-200d-1f4bb.png" alt="🧑‍💻" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Untuk memahami lebih dalam bagaimana <em>dump account</em> digunakan sebagai bentuk jurnal foto digital atau media untuk ekspresi dan regulasi emosi, penelitian ini mengacu pada tiga konsep utama, yaitu <strong><em>online self-disclosure</em></strong><em>, </em><strong><em>social sharing of emotions</em></strong><em>, dan </em><strong><em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong>. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana individu memaknai penggunaan media sosial sebagai ruang ekspresi personal di tengah tekanan sosial digital.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>1. <em>Online Self-Disclosure</em></strong></p>



<p>Konsep <em>online self-disclosure</em> merujuk pada kecenderungan seseorang untuk secara sukarela membagikan informasi pribadi, pikiran, dan perasaannya melalui media online. Dibandingkan dengan interaksi langsung, komunikasi berbasis platform digital cenderung membuka ruang yang lebih leluasa untuk bersikap terbuka, terutama ketika pengguna merasa audiensnya terbatas atau tidak terlalu menghakimi.&nbsp;Dalam konteks <em>dump account</em>, praktik <em>self-disclosure</em> ini menjadi lebih mudah dilakukan. Informan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa mereka unggah di akun utama. Baik dalam bentuk foto, video, maupun caption reflektif, pengguna memanfaatkan <em>dump account</em> untuk membagikan sisi emosional mereka tanpa rasa takut dinilai atau dilihat oleh orang-orang yang tidak dekat secara personal.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>2. <em>Social Sharing of Emotions</em></strong></p>



<p>Berkaitan erat dengan konsep sebelumnya, <em>social sharing of emotions</em> menjelaskan bagaimana individu secara alami terdorong untuk membagikan pengalaman emosional baik yang menyenangkan maupun menyedihkan kepada orang lain, sebagai bentuk pencarian dukungan atau validasi. Menurut Rimé (2009), berbagi emosi bukan hanya soal curhat, tapi juga bagian dari proses mengelola dan memahami perasaan diri sendiri.<em>Dump account</em> menjadi media untuk itu. Pengguna sering membagikan konten yang berisi memori personal, suasana hati, bahkan momen-momen yang tidak sempat dibagikan di dunia nyata. Terkadang, mereka tidak mencari respons besar dari audiens, cukup dengan mengetahui bahwa unggahan tersebut ada yang melihat dan mengerti dengan postingan mereka saja sudah cukup untuk memberikan rasa lega.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>3. <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong></p>



<p>Teori ini membantu menjelaskan alasan mengapa seseorang memilih <em>dump account</em> dibandingkan akun utama. Dalam <em>Uses and Gratifications Theory</em> (Blumler &amp; Katz, 1974), individu secara aktif memilih media tertentu berdasarkan kebutuhan atau kepuasan yang ingin mereka dapatkan, seperti kebutuhan akan hiburan, ekspresi diri, pelarian emosional, atau hubungan sosial.Dalam konteks penelitian ini, <em>dump account</em> menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan akan ekspresi jujur dan regulasi emosi. Alih-alih menggunakan akun utama yang penuh tekanan dan ekspektasi sosial, pengguna lebih memilih dump account karena bisa mengunggah konten tanpa harus mempertimbangkan estetika, jumlah likes, atau citra diri yang harus dijaga.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kerangka Penelitian</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcKFgaKBwYu7rYqiDxs-v5bjdxoHklGvziHSsvxauAb2q7WmEsmDjbO22ug3PFI5zF251-AkRVoR696a9MnZcNEZFaTVMER41Wg8OzZ0gRTN3ZIgqFtkL9OrVdT3FwRsPgxZ-THbQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian</em></p>



<p>Penelitian ini ingin melihat bagaimana penggunaan <em>dump account</em> Instagram berperan sebagai sarana regulasi emosi bagi generasi Z. Ketiga teori dan konsep utama dalam penelitian ini saling terhubung dengan memberikan kerangka teoritis untuk memahami bagaimana aktivitas berbagi secara digital bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang bermakna. Ini memperkuat pemahaman bahwa <em>dump account</em> adalah bentuk jurnal foto digital, yang tidak hanya mendokumentasikan momen, tetapi juga membantu pengguna dalam proses regulasi emosi.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif pengguna dalam menggunakan <em>dump account</em> sebagai jurnal foto digital dalam proses regulasi emosi. Pendekatan fenomenologi dipilih karena mampu mengungkap makna terdalam dari pengalaman hidup partisipan, tidak hanya dari perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga dari refleksi personal yang melekat dalam tindakan mereka. Untuk menggali kompleksitas pengalaman tersebut, digunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data, yaitu observasi digital, wawancara mendalam, dan <em>photo elicitation interview</em>. Ketiga teknik ini tidak hanya digunakan secara terpisah, melainkan saling melengkapi melalui proses triangulasi metode, yaitu upaya membandingkan dan mengkonfirmasi data dari berbagai sumber untuk meningkatkan keabsahan dan kedalaman temuan.</p>



<p>Proses pengumpulan data diawali dengan observasi digital terhadap <em>dump account</em> partisipan. Observasi ini dilakukan dengan mengamati aktivitas autentik pengguna dalam ruang digital mereka. Fokus observasi meliputi pola unggahan, jenis konten visual yang dibagikan, gaya penulisan <em>caption</em>, serta bentuk interaksi yang terjadi antara pengguna dan pengikut mereka. Tahapan ini penting sebagai landasan awal untuk mengenali konteks penggunaan akun, membangun pemahaman terhadap kebiasaan pengguna, serta mengidentifikasi konten-konten yang berpotensi mengandung makna emosional. Informasi yang diperoleh dari observasi ini kemudian menjadi pijakan dalam menyusun pertanyaan yang lebih kontekstual dan spesifik pada tahap wawancara berikutnya.</p>



<p>Setelah mendapatkan pemahaman awal dari observasi digital, peneliti melanjutkan proses dengan melakukan wawancara mendalam terhadap partisipan yang telah memenuhi kriteria penelitian. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, memberikan ruang bagi partisipan untuk mengembangkan narasi pribadi mereka dengan bebas, sambil tetap diarahkan pada topik-topik utama yang ingin digali. Tujuan dari wawancara ini adalah mengeksplorasi bagaimana partisipan memaknai penggunaan <em>dump account</em>, apa yang mereka rasakan ketika mengunggah konten, serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap regulasi emosi mereka. Wawancara ini juga menjadi ruang aman bagi partisipan untuk mengekspresikan hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari unggahan mereka, termasuk latar belakang emosional di balik setiap tindakan digital yang dilakukan.</p>



<p>Dalam upaya memperdalam pemahaman terhadap aspek visual dan simbolik dari konten yang dibagikan, teknik <em>photo elicitation interview</em> digunakan sebagai pelengkap wawancara. Dalam sesi ini, partisipan diminta untuk memilih beberapa unggahan dari <em>dump account</em> mereka yang dianggap paling bermakna secara emosional. Foto-foto tersebut kemudian digunakan sebagai pemicu diskusi, mendorong partisipan untuk menggali kembali emosi, kenangan, atau refleksi yang mungkin sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Visual berperan sebagai jembatan antara pengalaman internal dan ekspresi luar, memunculkan dimensi pengalaman yang lebih dalam dan autentik. Teknik ini terbukti efektif untuk memunculkan narasi yang lebih kaya dan reflektif, karena citra visual mampu membangkitkan memori dan emosi yang bersifat personal dan tak jarang laten.</p>



<p>Ketiga teknik ini saling memperkuat dalam kerangka triangulasi metode. Observasi digital memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana pengguna mengekspresikan diri di ruang daring, wawancara mendalam membuka lapisan makna dan motivasi di balik tindakan tersebut, sementara <em>photo elicitation interview</em> menjembatani keduanya dengan eksplorasi visual yang bersifat emosional. Ketika temuan dari ketiga teknik ini saling mendukung, maka validitas data semakin kuat. Sebaliknya, jika terdapat ketidaksesuaian, hal tersebut justru menjadi peluang untuk menggali lebih dalam kompleksitas subjektivitas partisipan. Dengan demikian, proses pengumpulan data ini tidak hanya memberikan informasi deskriptif, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial digunakan sebagai ruang ekspresi emosional dan refleksi personal oleh generasi muda di era digital.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>Photo Elicitation Interview</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4f8.png" alt="📸" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Salah satu teknik utama dalam penelitian ini adalah <em>photo elicitation interview</em>, yaitu metode wawancara yang menggunakan foto atau unggahan visual sebagai pemantik wawancara atau memulai titik awal diskusi. Pendekatan <em>photo elicitation </em> kami pilih sebagai metode utama dengan harapan dapat menggali pengalaman, motivasi, serta dampak emosional dari penggunaan <em>dump account</em>. Selama wawancara, partisipan diminta memilih beberapa unggahan yang menurut mereka memiliki makna emosional atau yang paling merepresentasikan emosi tertentu. Foto-foto yang dipilih bisa berasal dari unggahan partisipan sendiri di <em>dump account</em> mereka. Dengan menunjuk dan menjelaskan langsung gambar-gambar tersebut, informan cenderung lebih terbuka, reflektif, dan bebas dalam mengungkapkan perasaan mereka. Dari sini, peneliti dapat mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara ekspresi visual dan proses regulasi emosi yang dialami. Teknik ini terbukti mampu menggali lapisan-lapisan makna yang tidak muncul dalam wawancara biasa, karena visual membangkitkan kenangan dan emosi yang mendalam (Harper, 2002).</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode Pengolahan Data</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4ca.png" alt="📊" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Setelah transkrip dari wawancara dan <em>Photo Elicitation Interview </em> lengkap,<strong> </strong>data dianalisis menggunakan aplikasi bantu bernama <strong>Taguette</strong>. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan <strong>coding</strong>, yaitu proses memberi label atau “tag” pada kutipan-kutipan penting dalam transkrip yang relevan dengan fokus penelitian. Kami membaca ulang setiap transkrip secara cermat, lalu menandai bagian-bagian yang mencerminkan tema seperti <em>regulasi emosi</em>, <em>kebebasan ekspresi</em>, atau <em>autentisitas</em>. Setiap kutipan diberi tag sesuai kategori tematik yang telah dirumuskan berdasarkan teori. Hasil dari proses ini membantu peneliti mengidentifikasi pola makna dan mengorganisasi temuan dengan lebih sistematis.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Pola Temuan</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeyTl6mfamtOolE1lwt2e_sWDYZsvvzsAWuCNNPxDpM5AWiWuGkCFi0bK1bGmY_PaNocyA045oyxnip2gcbYGk67PBqLrcAQP2b_VluWIXZUKr-zDCr55zQNXKGR8ASa9LrN6KYgA?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 2. Word-clouds</em></p>



<p class="has-text-align-left">Sebelum membahas temuan lebih lanjut, visualisasi word cloud berikut memberikan gambaran awal tentang tema-tema dominan yang muncul dari hasil analisis transkrip wawancara. Word cloud ini disusun berdasarkan frekuensi tag yang digunakan selama proses pengodean data. Terlihat bahwa istilah seperti <strong>“Kebebasan Ekspresi”</strong>, <strong>“Regulasi Emosi”</strong>, dan <strong>“Konten”</strong> paling sering muncul, menandakan bahwa dump account banyak dimaknai sebagai ruang untuk mengekspresikan diri secara jujur dan emosional. Kata-kata lain seperti <em>nyaman</em>, <em>bahagia</em>, dan <em>motivasi</em> memperkuat temuan bahwa dump account tidak sekadar tempat berbagi konten, melainkan juga alat bantu untuk menjaga kesehatan emosional pengguna.</p>



<p class="has-text-align-left has-large-font-size"><strong>Jurnal Foto Digital: Bukan Sekadar Foto, Tapi Juga Menyimpan Perasaan</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdZHSw7JKE2AS52NMkP_tGjjqc0a_rHk_1Mm_zzyHWCHOBh0FENvqzpsk8_L9nrunSWtc6X8wYK4vIajpW10K7I4nRezDFuVn-D1-DSe24yBBJj8wEwxqJuD9kr-wLz5odn4mCr1w?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:472px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3.</em> <em>Kutipan Temuan 1</em></p>



<p>Banyak partisipan menjadikan <em>dump account</em> sebagai semacam album digital pribadi yang mencatat perasaan dan momen emosional mereka. Setiap unggahan bukan hanya visual, tapi juga menyimpan kenangan, pemikiran, dan emosi yang mereka rasakan. <em>Dump account</em> menjadi tempat yang bisa mereka buka kembali saat ingin mengingat dan mengenang memori mereka.</p>



<p>“Jadi <em>dump account</em> ini sebagai album foto aku. Ketika nanti aku pengen ngeliat, tinggal buka aja.”<br>— <em>WI, 21 tahun, Wawancara 16 April 2025.</em></p>



<p>Konsep ini selaras dengan gagasan bahwa <em>dump account</em> bukan hanya tempat curhat sesaat, tapi bentuk dokumentasi emosional yang bermakna dan dekat secara personal. Temuan ini juga relevan dengan Uses and Gratifications Theory (UGT), di mana media sosial dipakai secara aktif untuk memenuhi kebutuhan ekspresi dan refleksi diri.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Gak Estetik, Gak Masalah, Yang Penting Jujur</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfOv1q4X43Ai8Wr-Jt6TAImkszLX22ild7-pLXbYgF83L8WyqY15RYqYpNkGFL1sq8wK3Xmplafs3WnVpzbVdHI7cmm_k71Ld8wz54paVoiW9fwU_ftaPXl98SsM7oVFed2_6UYpQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:477px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 2</em></p>



<p>Tidak seperti akun utama yang dipenuhi tuntutan estetik dan “branding diri”, dump account memberi kebebasan untuk unggah apa saja, meski fotonya <em>blur</em>, nggak nyambung, atau caption-nya cuma satu kata. Justru karena itu, tempat ini terasa lebih jujur dan personal.</p>



<p>“Kalau <em>main account</em> kan harus yang cantik, indah, bagus gitu ya. Kalau <em>dump</em> tuh aku bisa upload apa aja, dan aku gak harus mikirin orang ngeliat ini jelek atau enggak.”<br>— <em>FRD, 20 tahun, Wawancara 17 April 2025.</em>Dalam dunia digital yang penuh tuntutan estetika dan pencitraan, kehadiran ruang semacam ini menjadi penting untuk menjaga kewarasan emosional para pengguna muda. Temuan ini berhubungan erat dengan konsep <em>self-disclosure</em> dan <em>authenticity</em>, di mana pengguna merasa lebih lepas, jujur, dan bebas dalam menyampaikan diri secara apa adanya tanpa tekanan sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Validasi Emosi dari Lingkaran Kecil Tapi Berarti</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfS4qW2Ne-l0Lcr_E2Y17nnM_ujwc0Gc2_KRGqPp5n9soqW67aNfBzCw2uToTDNZQULxsXNZL8Orn-EEs8n6NupnBCUBmzdL6lNzq_f_wqpVdyy2TASOIehA3_syOfOFfnbmEnN?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:475px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 4</em></p>



<p>Walau <em>audiens dump</em> account terbatas, interaksi yang muncul seringkali jauh lebih bermakna. Komentar pendek atau like dari orang dekat bisa memberikan rasa diperhatikan, yang justru sangat dibutuhkan ketika sedang berada dalam kondisi emosional tertentu.</p>



<p>“Ada yang like, komen, <em>reply story</em>. Rasanya kayak, oh ada yang liat.”<br>— <em>AK, 21 tahun, Wawancara 15 April 2025.</em>Respons ini memberikan perasaan bahwa mereka tidak sendirian, ada orang lain yang melihat, mengerti, dan peduli. Hal ini mencerminkan konsep <em>social sharing of emotions</em> dan memperkuat gagasan bahwa ekspresi emosional secara daring bisa menjadi jembatan untuk menciptakan koneksi sosial yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan dan Rekomendasi</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Teoretis</strong></p>



<p>Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur komunikasi digital dan psikologi media, khususnya dalam konteks o<em>nline self-disclosure, social sharing of emotions, dan Uses and Gratifications Theory</em> dalam konteks lokal (Generasi Z di Indonesia). Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial, khususnya <em>dump account</em>, berperan dalam regulasi emosi di kalangan pengguna muda.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Praktis</strong></p>



<p>Penggunaan jurnal foto digital di <em>dump account</em> terbukti menjadi alat yang bermanfaat untuk refleksi diri dan pengelolaan emosi, yang pada gilirannya membantu kesejahteraan psikologis generasi muda. Dengan adanya ruang yang lebih privat dan aman, <em>dump account</em> dapat membantu pengguna mengekspresikan diri dan mengurangi stres.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Akademis</strong></p>



<p>Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan subjek yang memiliki latar belakang usia, jenis kelamin, dan konteks budaya yang lebih beragam untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang penggunaan <em>dump account</em> di berbagai demografi. Penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur secara objektif pengaruh penggunaan <em>dump account</em> terhadap pengelolaan stres atau kesehatan mental</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Praktis</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk Pengguna Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengguna <em>dump account</em> harus sadar akan pentingnya menjaga privasi dan memahami resiko berbagi informasi di ruang digital. Pengguna dapat memanfaatkan <em>dump account</em> sebagai alat yang positif untuk ekspresi diri dan pengelolaan emosi, namun dengan bijak dan bertanggung jawab.</li>



<li><strong>Untuk Pengembangan Platform Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengembang perlu meningkatkan fitur privasi dan keamanan untuk <em>dump account</em>, serta memberikan edukasi kepada pengguna tentang bagaimana menggunakan platform ini secara sehat, khususnya dalam hal kesehatan mental.</li>



<li><strong>Untuk Praktisi Kesehatan Mental dan Pendidikan</strong> <br>Mengintegrasikan pemahaman tentang penggunaan media sosial alternatif dalam program pendampingan psikologis dan edukasi digital, khususnya untuk remaja dan dewasa muda yang aktif di media sosial. Praktisi juga perlu mengajarkan pengguna tentang bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pengelolaan emosi yang sehat.</li>
</ol>



<p class="has-large-font-size"><strong>Visualisasi Observasi dan Wawancara</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="630" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png" alt="" class="wp-image-3830" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-300x184.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-768x472.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1536x945.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-2048x1259.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 5. Proses photo elicitation interview dengan pengguna dump account aktif (Foto di atas hanya sebagian informan)</em></p>



<p class="has-text-align-center"></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png" alt="" class="wp-image-3836" style="width:482px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-768x644.png 768w" sizes="auto, (max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 6. Contoh unggahan foto dan caption reflektif di dump account. (Foto di atas hanya sebagian dump account informan).</em></p>



<p></p>



<p class="has-text-align-left"><strong>Artikel ini ditulis oleh Kelompok 4 Mata Kuliah MPK Kualitatif D:</strong> Andrea Deflin (<a href="mailto:andreadeflin@gmail.com">andreadeflin@gmail.com</a>), Fariz Arsaputra (<a href="mailto:fariz.arsaputra@gmail.com">fariz.arsaputra@gmail.com</a>), Lutfia Munisa A (<a href="mailto:lutfiamunisaa@gmail.com">lutfiamunisaa@gmail.com</a>), M Dafa Ardhika (<a href="mailto:dafaardhika27@gmail.com">dafaardhika27@gmail.com</a>), Naila S. Khalisha (<a href="mailto:naila.khalisha03@gmail.com">naila.khalisha03@gmail.com</a>).</p>



<p></p>



<p><strong>Sumber Referensi</strong></p>



<p>Goodstats.id. (2024). Laporan penggunaan akun kedua di media sosial di Indonesia. <em>Goodstats.id</em>. <a href="https://www.goodstats.id/">https://www.goodstats.id</a></p>



<p>Pluta, A., Ulrich, G., &amp; Kappes, A. (2021). Emotional disclosure on social media: The role of social support and positive feedback. <em>Journal of Affective Disorders, 292</em>, 32-39. <a href="https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098">https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098</a>&nbsp;</p>



<p>Andreassen dkk., (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. <em>Addictive Behaviors, 64</em>, 287-293. <a href="https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006">https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006</a>&nbsp;</p>



<p>Glaw dkk., (2017). Visual methodologies in qualitative research: Autophotography and photo elicitation applied to mental health research. International journal of qualitative methods, 16(1), 1609406917748215.&nbsp;​​Papacharissi dkk., (2000). Predictors of Internet use. <em>Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media, 44</em>(2), 175-196. <a href="https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2">https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2</a></p>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe8fKpkbGPyUn_pUIObEpaZlkvJIclVszDIw3OoMSnDkiGLUcxcj51hHbDZjlDrbMh7VMlZBQci2hmL8CIRVv9G1EcI7hbFWC-_MM70d197VnWXHSKMA-7RpBK2Kiuv1VIAdFcP?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:148px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Sumber Referensi selengkapnya&nbsp;dapat diakses di QR Code berikut ini.</p>



<p class="has-large-font-size"><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bedah Strategi SIAK War Pada Mahasiswa FISIP dan FASILKOM UI 2022</title>
		<link>https://journalight.com/2024/06/04/bedah-strategi-siak-war-pada-mahasiswa-fisip-dan-fasilkom-ui-2022/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/06/04/bedah-strategi-siak-war-pada-mahasiswa-fisip-dan-fasilkom-ui-2022/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2024 15:48:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=1342</guid>

					<description><![CDATA[Serba-serbi SIAK War UI Setiap semester, mahasiswa Universitas Indonesia menghadapi momen yang bisa dibilang sebagai salah satu yang paling menegangkan dalam kehidupan akademis mereka, yakni SIAK War. Tidak terkecuali mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-group has-contrast-color has-text-color has-link-color wp-elements-ea486ddb8bb67045cdb4cfe5819fbec7 is-content-justification-space-between is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-fefaeca0 wp-block-group-is-layout-flex" style="padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-right:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30);padding-left:var(--wp--preset--spacing--30)">
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="600" height="200" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Blue-and-White-professional-Newsletter-Email-Header-1-2.png" alt="" class="wp-image-1365" style="width:794px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Blue-and-White-professional-Newsletter-Email-Header-1-2.png 600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Blue-and-White-professional-Newsletter-Email-Header-1-2-300x100.png 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-724x1024.jpg" alt="" class="wp-image-1366" style="width:792px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-724x1024.jpg 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-212x300.jpg 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-768x1086.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-1086x1536.jpg 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942-1448x2048.jpg 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/S__22478942.jpg 1722w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /></figure>
</div>



<p class="has-large-font-size"><strong>Serba-serbi SIAK War UI</strong></p>



<p>Setiap semester, mahasiswa Universitas Indonesia menghadapi momen yang bisa dibilang sebagai salah satu yang paling menegangkan dalam kehidupan akademis mereka, yakni SIAK War. Tidak terkecuali mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (FASILKOM UI). Proses pendaftaran mata kuliah ini adalah ajang adu strategi, di mana ketegangan dan persaingan begitu terasa. Mahasiswa harus berpacu dengan waktu untuk memastikan mereka mendapatkan mata kuliah dan jadwal yang diinginkan. Tidak heran, banyak dari mereka yang merasa stres dan cemas ketika momen ini datang.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Apa Hubungannya SIAK War Dengan Mahasiswa?</strong></p>



<p>Stres akademik ini tidak main-main. Ia dapat berdampak buruk pada kinerja akademis mahasiswa. Menurut penelitian Misra &amp; McKean (2000), stres akademik adalah respons emosional, fisik, dan mental terhadap tekanan akademis yang sering kali berhubungan dengan tuntutan lingkungan pendidikan. Akan tetapi, sebenarnya apa yang terjadi di balik SIAK War yang dialami mahasiswa di FISIP UI dan FASILKOM UI? Apakah ada teori yang dapat menjelaskan fenomena ini?</p>



<p>Selain menjadi ajang persaingan, SIAK War juga memunculkan fenomena sosial unik di kalangan mahasiswa. Strategi dan keputusan mereka sering kali dipengaruhi oleh <em>review </em>kakak tingkat atau kepentingan dari <em>peer group </em>mereka. Mahasiswa saling berbagi taktik dan bahkan terkadang terjebak dalam dinamika &#8220;ikut-ikutan&#8221; yang bisa jadi tidak selalu menguntungkan mereka, sebagaimana yang dijelaskan pada <em>Social Learning Theory </em>dan <em>Groupthink Theory</em>.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Teori <em>Social Learning</em></strong></p>



<p>Teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura ini menjelaskan bagaimana individu belajar dari lingkungan sosial melalui observasi dan imitasi. Dalam SIAK War, mahasiswa belajar dalam observasi pengalaman mereka dan strategi berdasarkan <em>review </em>dari teman-teman atau kakak tingkat mereka. Hal ini karena teori<em> social learning</em> menjelaskan bahwa perilaku individu sering kali dipengaruhi oleh perilaku orang lain (Bandura, 1977). Penggunaan teori <em>social learning</em> dalam penelitian ini relevan karena teori ini menjelaskan bagaimana individu belajar dari lingkungan sosial mereka melalui observasi, imitasi, dan model. Teori <em>social learning</em> yang dikembangkan oleh Albert Bandura ini menyatakan bahwa banyak dari pembelajaran sosial terjadi berdasarkan observasi kasual atau terarah terhadap perilaku yang dilakukan oleh orang lain dalam situasi sehari-hari.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Teori <em>Groupthink</em></strong></p>



<p>Teori ini menjelaskan bagaimana keinginan untuk mencapai kesepakatan kelompok bisa mengalahkan pertimbangan individu. Di sisi lain, teori <em>groupthink </em>merupakan cara berpikir kolektif oleh anggota kelompok ketika keinginan mereka untuk mencapai kesepakatan mengalahkan motivasi individu untuk mempertimbangkan semua pilihan yang tersedia (West &amp; Turner, 2019). Dalam SIAK War, mahasiswa sering merasa tertekan untuk mengikuti pilihan mayoritas atau teman dekat, meskipun kadang hal itu mungkin bukan pilihan terbaik bagi mereka.  Teori ini bertujuan memahami cara kelompok kecil membuat keputusan dan telah banyak digunakan dalam berbagai situasi pengambilan keputusan kelompok. Dalam konteks SIAK War, mahasiswa mengalami tekanan untuk mengikuti pilihan mayoritas atau teman dekat mereka dalam memilih kelas, yang mungkin tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau minat akademis mereka.</p>



<p>Menghubungkan teori <em>social learning </em>dan <em>groupthink </em>dengan praktik nyata dalam SIAK War, penulis menyadari bahwa pemahaman mendalam tentang perilaku mahasiswa dalam konteks ini sangat penting. Kedua teori ini memberikan kerangka kerja yang berguna untuk menganalisis bagaimana keputusan diambil dan bagaimana interaksi sosial memengaruhi pilihan individu. </p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Dari fenomena SIAK WAR ini, kelompok kami menerapkan beberapa metodologi penelitian dan juga fokus penelitian untuk bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, beberapa diantaranya adalah:</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>a.</strong> <strong><em>Research Experience</em></strong></p>



<p><em>Research experience </em>didefinisikan sebagai pengalaman partisipan penelitian dalam ruang digital yang dipelajari, dengan menggunakan metode etnografi digital untuk mengumpulkan data dan menghasilkan wawasan (Pink, 2016). Dengan kata lain, <em>research experience </em>adalah fokus penelitian yang bermanfaat bagi etnografer digital yang ingin memahami dunia digital secara mendalam. Dengan terlibat langsung dalam budaya dan praktik online, peneliti dapat memperoleh wawasan yang tidak dapat diperoleh dengan metode lain. Dijabarkan juga bahwa terdapat beberapa karakteristik dalam <em>research experience,</em> yang diantaranya (Pink, 2016):</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Partisipatif: Peneliti tidak hanya mengamati tetapi juga terlibat dalam aktivitas dan interaksi daring. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan perspektif yang lebih kaya dan mendalam tentang dinamika sosial yang terjadi di dunia digital.</li>



<li>Reflektif: Peneliti secara aktif merenungkan pengalaman mereka dan dampaknya terhadap penelitian. Proses refleksi ini membantu peneliti untuk memahami bias pribadi dan bagaimana hal itu mungkin mempengaruhi interpretasi data.</li>



<li>Iteratif: Peneliti terus belajar dan menyesuaikan pendekatan mereka sepanjang penelitian. Pendekatan yang fleksibel dan berulang ini memungkinkan peneliti untuk mengatasi tantangan yang muncul dan mengeksplorasi temuan baru secara lebih efektif.</li>



<li>Holistik: Peneliti mempertimbangkan berbagai aspek budaya dan praktik online, termasuk teknologi, konten, dan interaksi. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa semua elemen yang relevan dari kehidupan digital dipertimbangkan dalam analisis.</li>
</ul>



<p class="has-medium-font-size"><strong>b. <em>Research Practice</em></strong></p>



<p><em>Research practice </em>dalam konteks digital membahas mengenai pemahaman kebiasaan dan rutinitas sehari-hari yang terjadi (Pink, 2016). Konsep ini menekankan pentingnya <em>research practice</em> dalam mempelajari praktik media digital dan bagaimana praktik tersebut tertanam dalam kehidupan sosial dan budaya.<em> Research practice </em>dalam etnografi digital melibatkan penggunaan metode etnografi untuk menyelidiki praktik-praktik sebagaimana yang sudah terjadi, dengan fokus pada tindakan dan aktivitas individu dan komunitas dalam hubungannya dengan media digital.</p>



<p><strong><em>Dalam melakukan pengumpulan data kami menggunakan beberapa metode, diantaranya:</em></strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Wawancara: Digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai permasalahan penelitian. Pertanyaan wawancara diajukan kepada mahasiswa FISIP dan FASILKOM UI angkatan 2022, baik secara langsung maupun daring.</li>



<li>Video Re-enactment: Meminta infroman penelitian untuk merekonstruksi ulang situasi atau kegiatan yang terjadi selama SIAK War untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang interaksi dan keputusan mereka.</li>



<li>Analisis Dokumen: Melakukan analisis terhadap dokumen terkait SIAK War, seperti dokumentasi pemilihan kelas untuk mendapatkan wawasan tentang proses tersebut.</li>
</ul>



<p>Informan dipilih untuk mewakili kedua fakultas yang menjadi fokus, yaitu FISIP dan FASILKOM UI. Empat informan dari kedua fakultas yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 1, FISIP angkatan 2022</li>



<li>Informan 2, FISIP angkatan 2022</li>



<li>Informan 3, FASILKOM angkatan 2022</li>



<li>Informan 4, FASILKOM angkatan 2022</li>
</ul>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://youtu.be/VDk9yKmgpNM?si=jO2V1hrwhl0F0hd9
</div></figure>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Dalam pengumpulan data, kami menemukan adanya pengalaman-pengalaman menarik dari para informan, berikut diantaranya</strong></p>



<p class="has-large-font-size">1.<strong>Teori <em>Social Learning</em></strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Vicarious Reinforcement</em></strong></p>



<p>Konsep <em>vicarious reinforcement </em>dalam teori <em>social learning </em>menyatakan bahwa seseorang dapat belajar dan mengubah perilaku melalui pengamatan terhadap konsekuensi yang diterima oleh orang lain (Bandura, 1977). Dalam konteks ini, para informan menggunakan pengalaman orang lain dalam memilih dosen dan kelas.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 1: Informan 1 memilih dosen A berdasarkan pengalaman positif di semester sebelumnya, meski teman-temannya lebih menyukai dosen B.</li>



<li>Informan 2: Informan 2 mendiskusikan pengalaman dosen dengan <em>peer group</em> dan kakak tingkat untuk memutuskan dosen yang diinginkan.  </li>



<li>Informan 3: Informan 3 memperoleh informasi tentang dosen dari teman dan kakak tingkat sebelum memilih mata kuliah.</li>



<li>Informan 4: Informan 4 bersama <em>peer group</em> membuat daftar dosen dan kelas berdasarkan pengalaman sebelumnya serta rekomendasi kakak tingkat untuk memilih kelas.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong>&#8220;Pengalaman teman gue tentang dosen sangat berpengaruh dalam keputusan gue.&#8221; </strong></p>
<cite><strong>Informan</strong> <strong>2</strong></cite></blockquote>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Self-Regulation</em></strong></p>



<p>Dalam konsep <em>self-regulation </em>dijelaskan bahwa individu dapat menetapkan standar pribadi, mengevaluasi perilaku mereka sendiri, dan merespons dengan penghargaan diri atau hukuman diri. Konsep ini menunjukkan adanya kemampuan dalam menetapkan standar pribadi dan mengevaluasi tindakan mereka pada proses SIAK War. Berikut merupakan jawaban dari informan yang terkait dengan <em>self-regulation</em>:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 3: Informan 3 tidak memilih dosen yang memberikan pengalaman buruk di semester sebelumnya. </li>



<li>Informan 2: Informan 2 menggunakan bot untuk memastikan mendapatkan kelas yang diinginkan tanpa perlu khawatir harus <em>drop </em>mata kuliah.</li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong>&#8220;Pengalaman gue dengan dosen jelek bikin gue lebih hati-hati milih dosen sekarang.&#8221;</strong></p>
<cite><strong>Informan</strong> <strong>3</strong></cite></blockquote>



<p class="has-large-font-size">2. <strong>Teori <em>Groupthink</em></strong></p>



<p>&nbsp;Teori <em>groupthink </em>dapat menjelaskan dalam beberapa konsep atau fenomena yang terkait dengan adanya pengaruh teman dalam melakukan SIAK War. Beberapa konsep diantaranya adalah:</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Direct Pressure on Dissenters</em></strong></p>



<p>Konsep ini menjelaskan bahwa adanya perasaan tertekan, misalnya ketika ingin menentukan kelas dan menyamakan jadwal. Anggota kelompok yang tidak sependapat dengan keputusan atau suara yang dipegang oleh mayoritas akan didesak untuk mengubah pendapat mereka dan mendukung konsensus kelompok. Berikut merupakan jawaban dari informan yang terkait dengan konsep ini:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 1: Informan 1 merasakan tekanan dari teman-temannya untuk memilih dosen yang berbeda dengan preferensinya. </li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p> <strong>&#8220;Teman gue <em>complain </em>tentang dosen pilihan gue, bikin gue merasa terpaksa untuk mengikuti pilihan mereka.&#8221;</strong></p>
<cite><strong>Informan</strong> <strong>1</strong></cite></blockquote>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Self-Censorship</em></strong></p>



<p><em>Self-censorship</em> adalah ilusi kebulatan suara, di mana anggota kelompok yang diam dianggap menyetujui apa yang diputuskan, meskipun sebenarnya mereka mungkin memiliki pandangan yang berbeda. Konsep ini menjelaskan bahwa informan memutuskan untuk menahan diri untuk tidak menyuarakan pendapat yang berbeda demi persetujuan kelompok. Berikut merupakan kutipan dari informan yang terkait dengan konsep ini.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 4: Informan 4 menyiapkan daftar kelas bersama peer group untuk memastikan mereka berada di kelas yang sama.</li>



<li>Informan  2: Informan 2 menyatakan pentingnya berada di kelas yang sama dengan peer group untuk memudahkan tugas kelompok. </li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong>&#8220;Kalo ga sekelompok ribet karena banyak tugas kelompok.&#8221;</strong></p>
<cite><strong>Informan</strong> <strong>2</strong></cite></blockquote>



<p class="has-large-font-size">3. <strong>Fenomena Joki SIAK WAR</strong></p>



<p>Seorang joki adalah individu yang dengan sengaja melakukan tugas orang lain atau berpura-pura menjadi orang lain, dan menerima imbalan untuk melaksanakan tugas tersebut dengan tujuan memenuhi kepentingan pribadi (Herlambang &amp; Fauzi, 2024). Penggunaan joki dalam SIAK War merupakan salah satu strategi mahasiswa untuk mengatasi stres dan memastikan mereka mendapatkan kelas yang diinginkan. Joki biasanya menggunakan bantuan bot untuk melakukan pendaftaran dengan cepat dan efisien. Berikut merupakan kutipan dari informan yang terkait dengan konsep ini.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Informan 3: Informan 3 menggunakan jasa joki karena masalah sinyal, dan merasa tenang karena bot memastikan kelas terpilih dengan cepat.</li>



<li>Informan 2: Informan 2 merasa lebih tenang menggunakan bot, karena persaingan ketat di FASILKOM UI sudah melibatkan bot. </li>
</ul>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><strong>&#8220;Sebelum pake bot, gue ga tenang. Setelah pake bot, semua kelas yang gue mau dapet.&#8221;</strong></p>
<cite><strong>Informan</strong> <strong>2</strong></cite></blockquote>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Dari hasil pengumpulan data yang dilampirkan di atas, kami melakukan analisis pada tiap konsep, berikut adalah hasil diskusi dari penelitian kami:</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li class="has-medium-font-size"><strong>Teori <em>Social Learning</em></strong></li>
</ol>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Vicarious Reinforcement</em></strong></p>



<p>Informan dari FISIP dan FASILKOM UI 2022 menunjukkan bahwa mereka belajar memilih dosen dan kelas melalui pengamatan terhadap pengalaman orang lain. Ini sesuai dengan konsep <em>vicarious reinforcement</em>, di mana mahasiswa tidak perlu mengalami sendiri, tetapi dapat belajar dari pengalaman teman-teman mereka. Misalnya, narasumber 1 memilih dosen A berdasarkan pengalaman positif sebelumnya, meski teman-temannya lebih suka dosen B. Sementara itu, narasumber 2 mendiskusikan pengalaman dosen dengan teman-teman dan kakak tingkatnya sebelum memutuskan.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Self Regulation</em></strong></p>



<p>Pengalaman SIAK War juga menunjukkan pentingnya kemampuan regulasi diri. Mahasiswa yang dapat menetapkan standar pribadi, mengevaluasi tindakan, dan merespons konsekuensi dengan baik cenderung memiliki pengalaman yang lebih positif. Narasumber 3 menolak memilih dosen yang pernah memberinya pengalaman buruk, dan narasumber 2 menggunakan bot untuk memastikan mendapatkan kelas yang diinginkan tanpa perlu khawatir.</p>



<p class="has-medium-font-size">2. <strong>Teori <em>Groupthink</em></strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Direct Pressure on Dissenters</em></strong></p>



<p>Informan penelitian sering mengalami tekanan dari <em>peer group </em>untuk memilih kelas yang sama. Narasumber 1 merasakan tekanan dari teman-temannya untuk memilih dosen yang berbeda dari preferensinya. Meski narasumber 1 tidak keberatan mengambil kelas berbeda, teman-temannya menunjukkan ketidaksetujuan dan memberikan tekanan secara tidak langsung.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Self-Censorship</em></strong></p>



<p>Narasumber 4 menunjukkan bahwa keputusan tentang kelas sering kali diambil secara kolektif. Mereka membuat daftar dosen dan kelas bersama teman-teman untuk memastikan bahwa semuanya berada di kelas yang sama. Narasumber 2 juga merasakan tekanan untuk tetap dalam satu kelompok karena tugas-tugas kelompok yang banyak. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa mungkin menahan diri untuk tidak menyuarakan preferensi pribadi demi menjaga kesatuan kelompok.</p>



<p class="has-medium-font-size">3. <strong>Fenomena Joki SIAK WAR</strong></p>



<p>Penggunaan joki adalah strategi yang digunakan mahasiswa untuk mengatasi stres dan ketidakpastian selama SIAK War. Joki membantu mahasiswa yang mengalami kendala teknis seperti masalah sinyal atau ketidakmampuan mengakses sistem tepat waktu. Narasumber 3 menggunakan jasa joki karena masalah sinyal, dan merasa tenang karena bot memastikan kelas terpilih dengan cepat. Narasumber 2 juga merasa lebih tenang menggunakan bot karena persaingan ketat di FASILKOM yang sudah melibatkan bot.</p>



<p>Dari seluruh hasil penelitian dan diskusi, kita bisa menyimpulkan bahwa Interaksi antara <em>social learning</em> dan <em>groupthink</em> menciptakan strategi pendaftaran mata kuliah yang seragam namun tidak selalu optimal bagi kepentingan akademis individual. Penggunaan joki menambah dimensi lain dalam dinamika ini, menggambarkan upaya mahasiswa dalam menghadapi tantangan teknis dan tekanan sosial selama SIAK War. Penelitian ini memperlihatkan kompleksitas sosial yang mempengaruhi proses pendaftaran mata kuliah di universitas.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Referensi</strong></p>



<p>Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.</p>



<p>Herlambang, M. R., &amp; Fauzi, A. M. (2024). Fenomena Joki Pantarlih pada Persiapan Pemilu 2024 di Kecamatan Wonokromo Kota Surabaya. Paradigma: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 13 (1), 41-50.</p>



<p>Misra, R., &amp; McKean, M. (2000). College students&#8217; academic stress and its relation to their anxiety, time management, and leisure satisfaction. American Journal of Health Studies, 16(1), 41-51.&nbsp;</p>



<p>NASA. (2014). Watch Out for Groupthink. Diambil dari https://sma.nasa.gov&nbsp;</p>



<p>Pink, et al., (2016). Digital Ethnography: Principles and practice. SAGE.&nbsp;</p>



<p>Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&amp;D. Bandung: PT Alfabet.&nbsp;</p>



<p>West, R. L., &amp; Turner, L. H. (2019). Introducing communication theory: Analysis and application (6th ed.). McGraw-Hill Education.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/06/04/bedah-strategi-siak-war-pada-mahasiswa-fisip-dan-fasilkom-ui-2022/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
