<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelompok 4 Data Journalism 2025 &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/kelompok4datajournalism2025/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2025 03:40:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Kelompok 4 Data Journalism 2025 &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>POTRET TREN “BUY NOW, PAY LATER” DI KALANGAN GEN-Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 04:26:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Gen-Z]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pay Later]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=4197</guid>

					<description><![CDATA[Sumber: GoodStats Kehadiran aplikasi belanja online saat ini telah banyak memunculkan kebiasaan baru di kalangan Gen-Z. Bayangkan, hanya dengan sentuhan tangan, barang yang diinginkan bisa langsung datang. Nggak punya uang? bukanlah sebuah halangan, fitur “Buy Now, Pay Later” hadir sebagai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="538" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-1024x538.webp" alt="" class="wp-image-3984" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-1024x538.webp 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-300x158.webp 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-768x403.webp 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew.webp 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://ik.imagekit.io/goodid/nyc/goodstats/uploads/articles/original/2022/06/09/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew.jpg?tr=w-1200,h-630,fo-center">GoodStats</a></p>



<p>Kehadiran aplikasi belanja <em>online</em> saat ini telah banyak memunculkan kebiasaan baru di kalangan Gen-Z. Bayangkan, hanya dengan sentuhan tangan, barang yang diinginkan bisa langsung datang. <em>Nggak</em> punya uang? bukanlah sebuah halangan, fitur <em>“Buy Now, Pay Later”</em> hadir sebagai solusi menggiurkan bagi sebagian orang yang mau <em>checkout</em> keranjang, tetapi terhalang dengan dompet yang pas-pasan. Penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia bukanlah hal asing.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z SUKA <em>NGUTANG</em>?</strong></p>



<p>Berdasarkan Data Kredivo 2024, penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor usia. Generasi muda bukan hanya mendominasi jumlah pengguna, tetapi juga memperlihatkan pola konsumsi yang berbeda dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.&nbsp; Jika melihat komposisi pengguna, kelompok usia 26-35 tahun menjadi pengguna <em>pay later </em>terbesar di Indonesia. Hal ini dikarenakan, mereka sedang berada pada fase aktif bekerja, membangun rumah tangga, dan memiliki frekuensi belanja digital yang sangat besar. Meskipun demikian, Gen-Z, yaitu mereka yang berusia 18-25 tahun tumbuh sebagai pasar potensial terkait penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="4184194b-5056-4dca-bc61-0d0c457fe02b" data-type="interactive" data-title="Data Proporsi Pengguna Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia di Indonesia (2021-2023)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/data-proporsi-pengguna-pay-later-berdasarkan-kelompok-usia-di-indonesia-2021-2023-1h0n25opxxlkz4p" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Data Proporsi Pengguna Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia di Indonesia (2021-2023)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Gen-Z merupakan pasar potensial <em>pay later</em> karena mereka adalah <em>digital native</em> yang tumbuh bersama internet dan berbagai perkembangan teknologi lainnya. Selain itu, data menunjukkan bahwa pada tahun 2024 Gen-Z menjadi kelompok dengan alokasi pengeluaran terbesar di <em>pay later</em> sebesar 6,4% dibandingkan dengan kelompok usia lainnya termasuk milenial yang hanya 6% setiap bulannya.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="ce2901cf-5aad-478d-b7ef-635e7043b15c" data-type="interactive" data-title="Data Persentase Alokasi Penggunaan Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/data-persentase-alokasi-penggunaan-pay-later-berdasarkan-kelompok-usia-1hnp27eqx1q0y4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Data Persentase Alokasi Penggunaan Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Tren ini memberikan sinyal kuat bahwa <em>&#8220;Buy Now, Pay Later&#8221;</em> bukanlah sekadar fitur pembayaran alternatif, melainkan menjadi fenomena baru di kalangan generasi muda. Tren ini memberikan cara baru kepada Gen-Z untuk memenuhi kebutuhan, mendukung gaya hidup, dan dalam banyak kasus, memberikan ilusi kemampuan finansial melalui cicilan ringan yang berakhir pada perilaku konsumtif di kalangan Gen-Z. Lantas, seperti apa dampak dari penggunaan <em>pay later</em> di kalangan Gen-Z yang ada di Indonesia?</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z BELANJA BUAT APA <em>SIH?</em></strong></p>



<p>Jika <em>pay later </em>sering diasosiasikan dengan pembelian barang mahal, pola belanja Gen-Z justru menunjukkan cerita yang berbeda. Data transaksi memperlihatkan bahwa Gen-Z tidak hanya menggunakan <em>pay later </em>untuk kebutuhan bernilai besar, tetapi juga untuk hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="f74835cb-2036-4b65-8099-673fa9c163e7" data-type="interactive" data-title="Persentase Jumlah Transaksi Berdasarkan Kategori Produk yang Sering Dibeli Gen-Z"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/persentase-jumlah-transaksi-berdasarkan-kategori-produk-yang-sering-dibeli-gen-z-1hnp27eqxqzoy4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Persentase Jumlah Transaksi Berdasarkan Kategori Produk yang Sering Dibeli Gen-Z</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Kategori seperti kebutuhan digital, makanan dan minuman, produk perawatan diri, hingga produk <em>fashion</em> menjadi yang paling sering muncul. Hal ini menunjukkan bahwa <em>pay later </em>tidak lagi diposisikan sebagai solusi darurat, melainkan sudah masuk ke dalam rutinitas belanja harian. Fitur “<em>pay later</em>” terasa praktis untuk kebutuhan kecil yang sering dilakukan, terutama ketika disertai promo atau potongan harga.</p>



<p>Menariknya, beberapa kategori yang sebelumnya dianggap “premium”, seperti <em>gadget </em>dan otomotif juga mulai masuk dalam daftar belanja Gen-Z. Dengan adanya cicilan dan diskon, barang-barang tersebut terasa lebih mudah dijangkau, meskipun nilainya tetap tidak kecil.</p>



<p>Pola ini sejalan dengan cerita para informan. Sebagian dari mereka mengaku menggunakan <em>pay later </em>bukan semata karena tidak memiliki uang, tetapi karena ingin memanfaatkan promo yang ditawarkan platform <em>e-commerce.</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Paling sering beli makanan karena diskonnya lebih besar. Dalam sebulan biasanya bisa 3–5 kali beli makanan pakai paylater.”</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Biasanya buat ShopeeFood atau barang sehari-hari, kayak keperluan kuliah. Sebenernya lebih ngincer promonya sih, karena kalau pakai paylater promonya lebih besar.”</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Pakai Shopee PayLater buat skincare sama perlengkapan anjing. Dalam sebulan bisa 2-3 kali belanja pakai paylater”</em></p>
</blockquote>



<p>Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa penggunaan<em> pay later</em> dipilih karena terasa praktis dan menawarkan keuntungan instan lewat promo. Namun, ketika digunakan berulang untuk kebutuhan kecil sehari-hari, batas antara kebutuhan dan keinginan perlahan menjadi semakin kabur.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>TAHUKAH KAMU? JAWA BARAT MENJADI PENGGUNA<em>PAY LATER</em> TERBESAR DI INDONESIA</strong>!</p>



<p>Fenomena <em>pay later</em> tidak hanya meningkat pada soal usia, tetapi juga wilayah. Data OJK menunjukkan bahwa penggunaan <em>pay later </em>di Indonesia memperlihatkan perbedaan yang cukup tajam antarprovinsi. Jumlah rekening aktif dan total pinjaman yang belum dilunasi membentuk gambaran yang lebih kompleks dari sekadar anggapan bahwa masyarakat “gemar berutang”.</p>



<p>Berdasarkan data terbaru OJK, kita dapat melihat bagaimana jumlah rekening aktif pengguna dan total pinjaman yang belum dibayar membentuk gambaran yang lebih kompleks, jauh lebih dari sekadar &#8220;orang suka berutang&#8221;. Setiap wilayah di Indonesia menunjukkan tingkat penggunaan <em>pay later</em> yang berbeda, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti karakteristik penduduk dan kondisi ekonomi setempat.</p>


<p><iframe title="Jumlah Rekening Penerima Pinjaman Aktif" aria-label="Choropleth map" id="datawrapper-chart-SNLVz" src="https://datawrapper.dwcdn.net/SNLVz/8/" scrolling="no" frameborder="0" style="width: 0; min-width: 100% !important; border: none;" height="328" data-external="1"></iframe><script type="text/javascript">window.addEventListener("message",function(a){if(void 0!==a.data["datawrapper-height"]){var e=document.querySelectorAll("iframe");for(var t in a.data["datawrapper-height"])for(var r,i=0;r=e[i];i++)if(r.contentWindow===a.source){var d=a.data["datawrapper-height"][t]+"px";r.style.height=d}}});</script></p>



<p>Pada peta ini, kita dapat melihat sebaran pengguna <em>pay later</em> berdasarkan jumlah rekening aktif di berbagai provinsi. Jawa Barat, dengan 39.419.321 rekening aktif, dan DKI Jakarta, dengan 15.937.365 rekening aktif, berada di posisi teratas, menunjukkan bahwa wilayah urban dan suburban dengan jumlah penduduk yang lebih besar serta tingkat konsumsi digital yang tinggi, mendominasi penggunaan layanan <em>pay later</em>. Sementara itu, provinsi dengan populasi yang lebih kecil, seperti Papua Pegunungan dengan 13.493 rekening aktif dan Papua Selatan dengan 31.487 rekening aktif, tercatat memiliki kontribusi yang jauh lebih rendah, mengindikasikan tingkat dan aktivitas penggunaan <em>pay later </em>yang lebih rendah.</p>


<p><iframe title="Jumlah Pinjaman Yang Masih Menggantung" aria-label="Choropleth map" id="datawrapper-chart-nK6C6" src="https://datawrapper.dwcdn.net/nK6C6/5/" scrolling="no" frameborder="0" style="width: 0; min-width: 100% !important; border: none;" height="328" data-external="1"></iframe><script type="text/javascript">window.addEventListener("message",function(a){if(void 0!==a.data["datawrapper-height"]){var e=document.querySelectorAll("iframe");for(var t in a.data["datawrapper-height"])for(var r,i=0;r=e[i];i++)if(r.contentWindow===a.source){var d=a.data["datawrapper-height"][t]+"px";r.style.height=d}}});</script></p>



<p>Selain itu, peta ini juga memperlihatkan total jumlah pinjaman yang masih menggantung, memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai beban ekonomi yang ditanggung oleh para pengguna. Jawa Barat, dengan total pinjaman yang masih menggantung sebesar 121.648,06 miliar rupiah, dan DKI Jakarta, dengan 75.626,89 miliar rupiah, memiliki nilai pinjaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya banyak orang yang menggunakan <em>pay later</em>, tetapi mereka juga memiliki pinjaman yang belum dilunasi dalam jumlah yang signifikan. Sebaliknya, provinsi dengan tingkat adopsi yang lebih rendah tercatat memiliki nilai pinjaman yang lebih kecil.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>PLATFORM <em>PAY LATER </em>APA <em>SIH</em> YANG PALING BANYAK DIGUNAKAN OLEH GEN-Z?</strong></p>



<p>Setelah melihat pola belanja mereka, muncul satu hal penting: Gen-Z sebenarnya paling sering pakai platform <em>pay later </em>yang mana? Ternyata, pilihan mereka sangat dipengaruhi oleh aplikasi yang sudah akrab dipakai sehari-hari.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="a77f4385-aff9-4df6-998c-710ed6794d30" data-type="interactive" data-title="Platform Paylater yang Paling Banyak digunakan Gen-Z"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/platform-paylater-yang-paling-banyak-digunakan-gen-z-1hxj48mqrwnkq2v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Platform Paylater yang Paling Banyak digunakan Gen-Z</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Dari data yang ada, Shopee PayLater jadi platform yang paling mendominasi. Buat banyak Gen-Z, Shopee sudah jadi tempat belanja utama dan ketika keinginan checkout muncul, fitur <em>pay later</em>-nya terasa sebagai solusi tercepat dan paling praktis. Di belakangnya, GoPay Later dan Traveloka PayLater juga menempati posisi yang kuat. Keduanya dianggap mudah diakses dan sudah menyatu dengan kebiasaan digital Gen-Z, mulai dari kebutuhan kecil hingga keperluan dadakan.</p>



<p>Sementara itu, Kredivo dan Akulaku digunakan oleh sebagian Gen-Z yang mengutamakan fitur pembayaran tertentu atau limit yang lebih fleksibel. Artinya, pilihan platform <em>pay later </em>tidak selalu soal cicilan paling murah, tetapi tentang layanan mana yang terasa paling nyaman dan paling mendukung gaya hidup mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>KENAPA HARUS <em>PAY LATER?</em></strong></p>



<p>Niatnya cuma lihat-lihat, tapi <em>pay later</em> bilang <em>&#8220;gas, nanti mikirnya belakangan&#8221;.</em></p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/trix-1.mp4"></video></figure>



<p>Para informan menceritakan bahwa mereka terdorong memakai <em>pay later </em>karena sering tergoda promosi dan <em>cashback </em>di <em>e-commerce,</em> terpapar tren belanja digital dari media sosial, serta dipengaruhi rasa FOMO dan impuls untuk terlihat <em>up-to-date</em> di lingkaran sosialnya.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>PAY LATER, </em>KEMUDAHAN ATAU UTANG DIGITAL?</strong></p>



<p>Pas <em>checkout </em>bahagia, pas jatuh tempo langsung jadi ahli matematika?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/triks-2.mp4"></video></figure>



<p>Terkadang, <em>nggak </em>bisa dihindari antara kebutuhan dengan keinginan. Para informan mengakui bahwa penggunaan <em>pay later</em> sering membuat mereka terbawa pola belanja yang lebih konsumtif dan bergantung pada kredit instan, yang dalam jangka panjang mulai mengganggu kestabilan keuangan mereka, sebagian dari mereka juga menyadari bahwa rendahnya literasi finansial ikut mendorong keputusan berutang digital tanpa pertimbangan matang.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z,<em>PAY LATER, </em>DAN KENYATAAN YANG PERLU KITA SADARI</strong>!</p>



<p>Melihat tren tersebut, satu hal yang jelas, <em>pay later</em> bukan lagi sekadar fitur tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari ritme hidup Gen-Z. Mereka menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan promo, dan mengikuti arus gaya hidup digital yang serba cepat. Pilihan platform yang mereka gunakan pun mengikuti kebiasaan: mana yang paling sering dipakai, itulah yang paling dipercaya.</p>



<p>Di balik kenyamanan dan fleksibilitasnya, ada realitas yang perlu disadari. Frekuensi penggunaan yang tinggi, ditambah limit yang mudah diakses, membuat batas antara “butuh” dan “ingin” semakin kabur. Banyak Gen-Z yang tanpa disadari terjebak dalam pola konsumsi impulsif, sementara angka pinjaman yang terus menggantung justru menunjukkan risiko finansial yang tidak terlihat di permukaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4065" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1024x683.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-300x200.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-768x512.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1536x1024.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-2048x1365.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://insights.masterworks.com/finance/the-20-10-rule-for-debt-management/">Masterworks</a></p>



<p>Di titik inilah literasi finansial menjadi penting, bukan untuk melarang penggunaan <em>pay later, </em>tetapi untuk membantu Gen-Z memahami konsekuensinya. Bahwa setiap klik “bayar nanti” adalah keputusan finansial yang punya dampak jangka panjang. Dan pada akhirnya,<em>pay later</em> bisa menjadi alat yang membantu, atau jebakan yang perlahan menyulitkan, tergantung bagaimana ia digunakan. Karena itu, mari mulai bertanya pada diri sendiri setiap kali hendak checkout: <strong><em>“Ini kebutuhan… atau cuma dorongan sesaat, ya?”</em></strong></p>



<p>Kalau generasi digital bisa menguasai pertanyaan sederhana itu, maka bukan hanya gaya hidup yang lebih teratur tercipta, tapi masa depan finansial yang jauh lebih sehat. Saatnya Gen-Z lebih sadar dalam setiap keputusan finansial, memahami risikonya, dan tidak menjadikan kemudahan <em>pay later</em> sebagai alasan untuk berutang tanpa perhitungan!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/trix-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />
<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/triks-2.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
