<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ziya Ulhaq &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/lindgren-mpk-ii-kualitatif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jun 2025 10:27:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Ziya Ulhaq &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dilema Personal Branding Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI di LinkedIn: Antara Ideal dan Autentik</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ziya Ulhaq]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 10:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3869</guid>

					<description><![CDATA[Haura Zahra Zhafira, Jovanka Everlyn Valencia, Muhammad Ziya Ulhaq, Vania Galis Prasuma Hadi, Zhafirah Farsya. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. ABSTRAK LinkedIn menjadi platform strategis bagi para informan yang merupakan mahasiswa IlmuKomunikasi Universitas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Haura Zahra Zhafira, Jovanka Everlyn Valencia, Muhammad Ziya Ulhaq, Vania Galis Prasuma Hadi, Zhafirah Farsya. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.</p>



<p><strong>ABSTRAK</strong></p>



<p>LinkedIn menjadi platform strategis bagi para informan yang merupakan mahasiswa Ilmu<br>Komunikasi Universitas Indonesia dalam membangun citra profesional dan branding di<br>tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi<br>pengalaman mahasiswa dalam mempresentasikan diri di LinkedIn serta mendeskripsikan<br>strategi personal branding yang mereka gunakan. Dengan menggunakan pendekatan<br>kualitatif dan metode fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap<br>mahasiswa aktif yang telah konsisten menggunakan LinkedIn. Hasil penelitian menunjukkan<br>adanya pergeseran motivasi dan faktor eksternal seperti tuntutan akademik dan Fear of<br>Missing Out (FOMO). Mahasiswa memanfaatkan fitur seperti job search, analytics, dan<br>pengelolaan profil secara strategis untuk meningkatkan visibilitas. Namun, mereka juga<br>menghadapi tekanan sosial dalam menampilkan versi terbaik diri yang belum tentu<br>mencerminkan realitasnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa personal branding melalui<br>LinkedIn bukan hanya soal tampil profesional, tetapi juga proses negosiasi antara keaslian<br>diri dan ekspektasi publik. Implikasinya, informan perlu mengelola identitas digital secara<br>sadar dan berkelanjutan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi dunia kerja.<br><strong>Kata Kunci:</strong> Personal branding, self-presentation, pencarian kerja, media sosial, LinkedIn,<br>mahasiswa</p>



<p><br><strong>PENDAHULUAN</strong><br><strong>LinkedIn: Kunci Sukses Gen Z di Tengah Badai Pencarian Kerja?</strong><br>Pada era digital saat ini, media sosial tidak lagi menjadi sekedar tempat berbagi momen atau<br>menjalin pertemanan. Jauh lebih dari itu, platform digital kini menjelma sebagai panggung<br>strategis untuk membangun citra diri, atau yang kita kenal dengan istilah personal branding.<br>Hal ini tentu sangat berbeda dengan cara tradisional, media sosial memungkinkan kita untuk<br>merancang dan menyajikan profil diri secara lebih leluasa serta dapat menjangkau audiens<br>yang lebih luas. Di antara beraneka ragam platform media sosial yang ada, LinkedIn<br>menonjol sebagai arena para profesional unjuk gigi. Berbeda halnya dengan Instagram, X,<br>dan TikTok yang lebih santai, LinkedIn dirancang secara khusus untuk karir dan<br>pengembangan profesional. Maka dari itu, tidak heran jika selama lebih dari satu dekade,</p>



<p>LinkedIn telah menjadi alat krusial bagi para perekrut dan pencari kerja di seluruh dunia<br>(Weiss &amp; Glück, 2024). Generasi Z–generasi yang tumbuh di besar di hiruk pikuk teknologi digital–memiliki keunggulan tersendiri dalam menavigasi dunia maya. Mereka adalah “digital natives” sejati<br>yang secara alami memahami dinamika komunikasi digital, tidak terkecuali seni membangun<br>citra diri di platform seperti LinkedIn. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia<br>angkatan 2021–2023 merupakan contoh nyata dari Gen Z yang sangat akrab dengan<br>penggunaan teknologi dalam kesehariannya. Mereka berupaya untuk menampilkan diri secara<br>autentik di media sosial, termasuk dalam membangun personal branding yang berdampak<br>langsung pada peluang kerja (Trang et al., 2024). Konsistensi dalam komunikasi, baik lisan,<br>tulisan, maupun virtual, menjadi kunci untuk memperkuat citra daring dan memperbesar<br>peluang karir.</p>



<p><br>Namun, medan pertempuran kerja bagi gen Z saat ini tidak mudah. Survei Populix<br>pada Juni 2024 terhadap 1.330 pencari kerja menunjukkan bahwa sebesar 69% Gen Z di<br>Indonesia kesulitan mendapatkan pekerjaan, salah satunya disebabkan oleh tingginya<br>persyaratan pengalaman yang seringkali belum mereka miliki. Ditambah lagi dengan<br>perkembangan teknologi dan globalisasi pasar tenaga kerja yang semakin memperketat<br>persaingan tersebut. Di sinilah peran personal branding melalui LinkedIn menjadi penting.<br>Dengan membangun citra diri yang kuat dan profesional, bukan hal yang mustahil bagi Gen<br>Z untuk bisa menonjol di tengah kerumunan, memperlihatkan keterampilan, pengalaman<br>magang, proyek, hingga keterlibatan dalam komunitas profesional. Semua hal ini bertujuan<br>untuk meningkatkan visibilitas dan kredibilitas mereka di mata perekrut.<br>Meskipun demikian, masih ada tantangan tersendiri yang dihadapi dalam membangun<br>citra profesional di LinkedIn. Pengguna seringkali merasa tertekan untuk selalu menampilkan<br>versi terbaik dirinya, baik itu dalam hal pencapaian akademik maupun non-akademik. Hal ini<br>terkadang menciptakan citra yang mungkin berbeda dari realitas sebenarnya. Padahal,<br>penelitian oleh Trang et al. (2024) justru menunjukkan bahwa citra daring yang “tidak<br>sempurna” atau autentik lebih efektif bagi Gen Z. Mereka cenderung ingin menggabungkan<br>promosi diri dengan menunjukkan sisi asli mereka. Lantas, bagaimana sebenarnya mahasiswa<br>Ilmu Komunikasi UI memanfaatkan LinkedIn sebagai platform untuk membangun personal<br>branding mereka? Yuk, simak hasil penelitian kelompok kami!</p>



<p><br><strong>Apa Itu Self-Presentation dan Personal Branding?</strong><br>Teori self-presentation membahas bagaimana individu membentuk citra diri melalui isyarat<br>verbal dan nonverbal (Bahar, 2024) dan pertama kali dikenalkan oleh Goffman (1959) yang<br>mencakup konsep frontstage dan backstage. Di era digital, media sosial seperti LinkedIn<br>menjadi ruang baru untuk melakukan self-presentation secara strategis. Ruang digital ini<br>memungkinkan pengguna mengatur kesan melalui konten yang dapat dikurasi, sesuai dengan<br>konsep exhibition Hogan (2010). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengguna<br>LinkedIn menggunakan teknik self-presentation dan impression management untuk menarik<br>perhatian recruiter (Weisi &amp; Hajizadeh, 2025; Wu &amp; Carroll, 2024). Selain itu, Van Dijck<br>(2013) menekankan bahwa desain LinkedIn mendorong promosi diri, sementara Weiss &amp;<br>Glück (2024) menunjukkan adanya ketegangan antara keinginan tampil autentik dan ideal.<br>Sementara itu, personal branding sebagai konsep yang pertama kali diperkenalkan<br>oleh Kotler dan Levy (1969) merujuk kepada aktivitas manusia normal yang dilakukan<br>sebagai sarana untuk memberi kesan kepada orang lain. Saat ini, banyak orang yang<br>menggunakan personal branding untuk memasuki pasar kerja, mereka berlomba-lomba<br>menciptakan profil yang positif, khususnya dengan mengomunikasikan harapan, tujuan, dan<br>nilai-nilai (Ollington et al., 2013). Personal branding dapat digunakan oleh seseorang sebagai<br>aset untuk mencapai karir yang diinginkan, personal branding yang baik akan membantu seseorang lebih mudah mendapatkan karir yang cemerlang. Oleh karena itu, sudahkan kalian membangun personal branding yang baik?</p>



<p><br><strong>Mendengarkan Langsung dari Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI!</strong><br>Untuk memahami lebih dalam bagaimana mahasiswa Ilmu Komunikasi UI membentuk<br>personal branding mereka di LinkedIn, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif<br>melalui metode fenomenologi. Pendekatan ini dipilih agar kami sebagai peneliti bisa<br>benar-benar menyelami pengalaman dari para informan, bukan hanya melihat dari luar, tetapi<br>memahami makna di balik strategi mereka membangun citra profesional secara digital.<br>Siapa saja yang menjadi narasumber? Kami sengaja memilih informan dengan metode<br>purposive sampling, yang artinya kami tidak memilih sembarang mahasiswa. Hanya<br>mahasiswa Ilmu Komunikasi UI angkatan 2021, 2022, dan 2023 yang aktif menggunakan<br>LinkedIn dan rutin mengunggah konten dalam tiga bulan terakhir. Kenapa? Karena mereka<br>sedang berada dalam fase penting, yaitu mulai mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja, dan<br>tentu saja, sedang gencar membentuk personal branding!</p>



<p>Wawancaranya sendiri dilakukan secara mendalam atau in-depth interview. Dalam<br>proses ini, kami menggali cerita, strategi, hingga tantangan yang mereka hadapi dalam<br>mempresentasikan diri di LinkedIn. Hasil wawancara kemudian dianalisis menggunakan<br>teknik analisis tematik. Tujuannya adalah untuk menemukan pola, tema, dan makna yang<br>berulang dari tiap cerita yang dibagikan oleh para informan. Melalui pendekatan ini, kami<br>dapat menangkap lebih dari sekadar apa yang mereka tampilkan di profil LinkedIn, kami juga<br>dapat memahami alasan di balik setiap pilihan kata, gaya penyampaian, hingga dilema yang<br>mereka rasakan antara tampil ideal dan tetap menjadi diri sendiri. Menarik, ‘kan?</p>



<p><br><strong>HASIL DAN DISKUSI</strong><br><strong>Dari FOMO ke Kesadaran Profesional</strong><br>Menariknya, penelitian yang kelompok kami lakukan menemukan bahwa terdapat pergeseran<br>motivasi yang signifikan di balik penggunaan LinkedIn oleh beberapa informan. Awalnya,<br>mereka menggunakan platform ini karena faktor-faktor eksternal, seperti tugas kuliah hingga<br>fenomena yang akrab disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). Mereka tidak ingin<br>ketinggalan dari teman-temannya yang sudah terlebih dulu aktif di LinkedIn. Berikut ini<br>beberapa jawaban mereka saat kami menggali motivasi awal dalam penggunaan platform<br>LinkedIn.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3871" style="width:564px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bagaimana awal mula para informan<br>berinteraksi dengan LinkedIn karena faktor eksternal, seperti dorongan praktis dari kampus<br>terkait mata kuliah dan perasaan tidak mau tertinggal, menunjukkan adanya tekanan sosial di kalangan teman sebaya untuk memiliki kehadiran di LinkedIn. Hal ini menunjukkan bahwa<br>motivasi awal mereka dalam penggunaan LinkedIn bukan berasal dari kesadaran pribadi<br>terhadap manfaatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, motivasi tersebut pun ikut berubah.<br>Penggunaan LinkedIn beralih dari sekadar tuntutan menjadi sebuah kesadaran profesional<br>yang mendalam. Para informan mulai memahami pentingnya LinkedIn sebagai alat strategis<br>untuk membangun jaringan dan mengembangkan karier. “Kemudian bergeser menjadi lebih<br>rasional bahwa oke ini memang kebutuhan atau tuntutan pekerja profesional tuh memang<br>harus punya aplikasi ini,” jelas salah satu informan. Evolusi cara pandang ini menegaskan<br>bahwa pengalaman berinteraksi dengan LinkedIn secara bertahap menciptakan pemahaman<br>internal terkait nilai sebenarnya dari platform tersebut dalam dunia kerja.<br>Temuan ini selaras dengan penelitian Trang et al. (2024) yang menyebutkan bahwa<br>Gen Z seringkali membangun personal branding sebagai respons terhadap tekanan faktor<br>eksternal seperti persaingan kerja yang ketat. Namun, yang menarik dari temuan kami adalah<br>bagaimana tekanan awal ini berubah menjadi kesadaran pribadi terhadap pentingnya<br>proaktivitas dalam membangun karier di masa mendatang. Oleh karena itu, penggunaan<br>LinkedIn bagi mereka bukan lagi sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi langkah strategis untuk<br>mencapai tujuan profesional yang jelas.</p>



<p><br><strong>Fitur LinkedIn untuk Personal Branding: Apa Saja yang Digunakan?</strong><br>Pernah bertanya-tanya fitur LinkedIn apa saja yang digunakan untuk membangun personal<br>branding? Penelitian kami mengungkap bahwa para informan memanfaatkan berbagai fitur<br>dengan tujuan utama yang sama: meningkatkan visibilitas mereka di pasar kerja yang<br>kompetitif. Salah satu fitur utama yang digunakan adalah profil LinkedIn, yang terbagi<br>menjadi beberapa kolom, mulai dari nama, headline, about, activities, experience, volunteer,<br>dan kolom lainnya. Melalui profil, informan dapat memperkenalkan siapa mereka, apa yang<br>telah mereka capai, dan keahlian yang mereka miliki agar menarik perhatian para recruiter<br>dan perusahaan. Desain profil yang terstruktur dan pemanfaatannya sejalan dengan temuan<br>Van Dijck (2013), yang menjelaskan bahwa interface LinkedIn mendorong pengguna untuk<br>melakukan promosi diri secara strategis.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3872" style="width:606px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Masih dalam fitur profil, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan visibilitas<br>di LinkedIn adalah melalui keywords yang akan mempermudah perusahaan, recruiter,<br>maupun pengguna lainnya untuk menemukan kita. Contohnya, informan dalam penelitian<br>kami sering menggunakan kata-kata yang relevan dengan jenis pekerjaan yang dituju.</p>



<p>Fitur lainnya yang digunakan adalah job search. Perusahaan apa sih yang sedang open<br>recruitment? Posisi apa sih yang banyak dicari? Informan dalam penelitian kami<br>menyebutkan bahwa ia menggunakan fitur job search untuk mencari lowongan pekerjaan dari<br>perusahaan yang diminati. Dari hasil pencarian tersebut, mereka dapat menyesuaikan profil<br>mereka agar lebih mudah ditemukan dan memperluas peluang karier serta jaringan<br>profesional.</p>



<p>Terakhir, fitur analytics. Fitur analytics digunakan untuk memantau performa akun dan<br>tingkat engagement suatu unggahan. Menurut informan, terdapat perbedaan engagement<br>konten yang diunggah sendiri dengan konten repost. Ia memantau metrik impression,<br>komentar, dan likes, untuk menilai efektivitas konten dan visibilitas akun yang digunakan<br>untuk membangun personal branding.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3874" style="width:559px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ketiga fitur yang digunakan berhubungan dengan teori Edmiston (2014) tentang langkah<br>penting untuk membangun personal branding profesional melalui media sosial. Para<br>informan membangun identitas online melalui fitur profil, melengkapi deskripsi dari<br>komponen-komponen yang ada di dalamnya. Mereka juga memantau dan mengukur merek<br>(brand) online melalui fitur job search dan fitur analytics, sekaligus berjejaring dan terlibat<br>dengan audiens melalui fitur analytics.</p>



<p><br><strong>Ketika Personal Branding Bertemu Kejujuran Diri</strong><br>Personal branding bukan lagi sekadar milik para profesional. Mahasiswa kini semakin sadar<br>pentingnya membangun citra diri yang kuat, terutama di platform LinkedIn. Menariknya, cara<br>mereka membentuk citra diri bukan dengan menjadi orang lain, tetapi dengan menyesuaikan<br>bahasa dan gaya komunikasi tanpa harus meninggalkan keaslian. Ada usaha besar untuk tetap<br>menjadi diri sendiri, walau harus tampil dengan gaya bahasa yang lebih rapi dan profesional.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3875" style="width:621px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dari serangkaian wawancara yang dilakukan dalam penelitian kualitatif ini, terlihat<br>pola yang konsisten, yakni informan menyusun profil LinkedIn mereka dengan sangat sadar<br>dan strategis. Ditemukan bahwa informan menyusun profil mereka dengan cermat: dari<br>pilihan kata, nada bicara, sampai cara mereka menjelaskan pengalaman. Bahasa mereka<br>dirapikan agar terdengar profesional, tetapi tetap mencerminkan diri yang sebenarnya.<br>Konsep ini selaras dengan teori self-presentation oleh Erving Goffman (1959). LinkedIn<br>menjadi ‘panggung depan’ di mana mahasiswa harus tampil meyakinkan, sedangkan sisi<br>pribadi tetap dijaga di balik layar. Mereka menampilkan diri sesuai ekspektasi industri,<br>dengan tetap berusaha jujur dan autentik.<br></p>



<p>Konsistensi juga menjadi kunci. Seperti dijelaskan Dolan (2017), komunikasi yang<br>selaras baik verbal, tulisan, maupun digital dapat membangun kredibilitas. Informan pun<br>memahami bahwa personal branding bukan hanya soal isi, tetapi juga cara menyampaikan<br>pesan. Hal ini sejalan dengan prinsip Montoya (2002), personal branding yang kuat berasal<br>dari nilai diri, pesan yang jelas, dan penyampaian yang konsisten. Dari temuan ini, satu hal<br>yang jelas adalah membentuk citra profesional bukan soal menjadi orang lain. Ini soal jadi<br>versi terbaik dari diri sendiri yang rapi, tetapi tetap asli.</p>



<p><br><strong>Tekanan Untuk Tampil Ideal, Tapi Kok Nggak Jadi Diri Sendiri?</strong><br>Tidak semua proses membangun personal branding di LinkedIn berjalan mulus. Dalam<br>penelitian kami, muncul satu benang merah yang cukup kuat, yaitu tekanan sosial. Beberapa<br>informan mengaku bahwa mereka merasa terbebani ketika melihat pencapaian teman-teman<br>lainnya yang tampak lebih mentereng. Alhasil, muncul rasa minder, cemas, bahkan tidak<br>percaya diri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3873" style="width:622px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Perasaan ini menciptakan dorongan untuk menampilkan versi ideal dari diri mereka<br>yang sayangnya, tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Beberapa bahkan mengakui sempat<br>‘menaikkan’ sedikit informasi seputar kemampuan agar terlihat lebih profesional. Di sinilah<br>muncul dilema, yaitu ingin tampil autentik, tetapi juga ingin dianggap layak di mata audiens,<br>termasuk para perekrut.</p>



<p><br>Tekanan semacam ini sebetulnya bukan hal baru. Goffman, seorang sosiolog, pernah<br>menggambarkan bahwa dalam kehidupan sosial, kita seperti sedang berada di ‘panggung<br>teater’. Di LinkedIn, panggung itu menjadi sangat nyata, mahasiswa tampil &#8220;rapi&#8221;, percaya<br>diri, dan kompeten, walaupun mungkin di balik layar mereka masih merasa belum cukup.<br>Menariknya, fenomena ini bertolak belakang dengan harapan banyak Gen Z itu<br>sendiri. Studi oleh Trang et al. (2024) justru menunjukkan bahwa generasi ini cenderung<br>menyukai personal branding yang apa adanya, tidak melulu sempurna, dan memperlihatkan<br>proses jatuh-bangun dalam perjalanan karier. Namun, dalam konteks kampus yang kompetitif<br>seperti Ilmu Komunikasi UI, ekspektasi tinggi dan budaya performatif membuat informan<br>sering kali merasa harus tampil maksimal di ruang digital.</p>



<p><strong>Cari Kerja Lewat LinkedIn? Siapa Takut? </strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="586" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-1024x586.png" alt="" class="wp-image-3876" style="width:593px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-1024x586.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-300x172.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-768x439.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja.png 1142w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kamu masih semester awal kuliah dan belum punya pengalaman kerja? Bingung mulainya<br>dari mana? Tenang, kamu masih punya banyak waktu untuk membangun masa depan kamu<br>melalui LinkedIn. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang terbantu<br>dengan kehadiran Linkedin, platform profesional satu ini ternyata bukan hanya ditujukan bagi<br>orang-orang kantoran atau pencari kerja saja, tetapi juga buat kamu yang sedang mencari arah<br>karier untuk masa depan.</p>



<p>Tidak hanya itu, LinkedIn juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun<br>networking. Di LinkedIn, kamu bisa saja bertemu dengan kakak tingkat, alumni, atau<br>orang-orang yang sudah berpengalaman di dunia profesional. Hal ini dapat meningkatkan<br>peluang kamu untuk mendapatkan magang atau pekerjaan di perusahaan yang kamu<br>inginkan. Ini juga sesuai dengan apa yang disampaikan oleh salah satu informan kami,<br>“LinkedIn itu penting karena kita bisa banyak ketemu kakak-kakak alumni kita. Mau itu dari<br>sudah tahun lalu yang sudah berkecimpung di dunia professional ya, dimanapun itu, di<br>industri manapun”. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa untuk mencapai keberhasilan<br>itu semua, personal branding yang kamu bangun di LinkedIn harus sesuai realita, bukan<br>fatamorgana.</p>



<p><br><strong>KESIMPULAN DAN SARAN</strong><br>Dari penelitian ini, kita dapat memahami bahwa para informan yang merupakan mahasiswa<br>Ilmu Komunikasi UI menggunakan LinkedIn untuk menunjukkan siapa diri mereka dan apa<br>yang mereka bisa lakukan. Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan teman atau dipaksa tugas<br>kuliah, tetapi lama-lama mereka sadar, LinkedIn adalah platform penting untuk menunjang<br>karier mereka nantinya. Informan juga memanfaatkan fitur-fitur LinkedIn, mulai dari mencari<br>lowongan kerja, mengukur seberapa banyak orang yang melihat profil mereka, hingga<br>memilih kata-kata yang tepat agar mudah dicari oleh perusahaan. Namun, ada juga tekanan<br>untuk terlihat “sempurna” di LinkedIn. Hal ini membuat mereka ingin menampilkan sisi<br>terbaiknya, meskipun terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Di balik itu semua, LinkedIn<br>tetap membantu para informan. Mereka mendapatkan kesempatan magang, berjejaring<br>dengan orang-orang penting, dan menjadi lebih percaya diri dalam membangun karier. Jadi,<br>untuk mereka, LinkedIn sudah seperti senjata rahasia untuk masuk ke dunia kerja.<br>Oleh karena itu, disarankan agar mahasiswa Ilmu Komunikasi UI lebih proaktif dalam<br>membangun dan mengelola personal branding di LinkedIn dengan pendekatan yang<br>seimbang antara profesionalisme dan keaslian diri. Fitur-fitur yang tersedia sebaiknya<br>dimanfaatkan dengan baik untuk menampilkan narasi diri yang relevan dengan bidang<br>keahlian yang diminati. Penting pula untuk meningkatkan kesadaran terhadap tekanan sosial<br>yang dapat timbul karena perbandingan dengan pengguna lain dan menjadikannya sebagai<br>motivasi untuk refleksi diri. Selain itu, institusi pendidikan, yang dalam konteks penelitian ini<br>adalah Departemen Ilmu Komunikasi UI, dapat memberikan pelatihan tentang optimalisasi<br>LinkedIn agar mahasiswa memiliki bekal yang kuat dalam mempersiapkan diri menghadapi<br>dunia kerja secara digital dan profesional.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
