<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nefertiti Gayla Garibaldi &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/author/nefertitigaribaldi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jun 2025 19:45:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Nefertiti Gayla Garibaldi &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Scroll, Tertarik, Checkout: Pengalaman Impulse Buying Mahasiswa FISIP UI di Live TikTok Shop</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nefertiti Gayla Garibaldi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 19:24:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[Impulse Buying]]></category>
		<category><![CDATA[Live TikTok]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kamu menonton live TikTok yang awalnya hanya sekedar scroll FYP, lalu tiba-tiba terhenti pada live streaming penjual yang mempromosikan produknya–dan akhirnya, kamu melakukan pembelian secara spontan? Fenomena ini bukanlah hal yang asing, termasuk di kalangan mahasiswa. Belanja melalui fitur...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pernahkah kamu menonton <em>live </em>TikTok yang awalnya hanya sekedar <em>scroll</em> FYP, lalu tiba-tiba terhenti pada <em>live streaming </em>penjual yang mempromosikan produknya–dan akhirnya, kamu melakukan pembelian secara spontan? Fenomena ini bukanlah hal yang asing, termasuk di kalangan mahasiswa. Belanja melalui fitur <em>live streaming</em> TikTok Shop kini tidak lagi sekedar dipandang sebagai aktivitas transaksi, melainkan telah berkembang menjadi sebuah pengalaman yang bersifat emosional, interaktif, dan terkadang impulsif—yang meskipun disertai penyesalan, tetap membuat pengguna kembali melakukannya. Pengalaman ini bahkan kerap dianggap sebagai bagian dari rutinitas digital harian. Dalam konteks ini, aktivitas <em>scrolling</em> di TikTok bukan lagi sekadar pengisi waktu luang, melainkan proses konsumsi yang berlangsung secara intens dan kadang tanpa disadari. Penggunaan algoritma yang mengarahkan pengguna pada konten relevan membuat pengalaman belanja semakin personal dan menggoda.</p>



<p>Di era <em>society</em> 5.0, belanja <em>online</em> bukan lagi sekadar transaksi, melainkan telah berkembang menjadi sebuah pengalaman yang bersifat personal, emosional, dan interaktif. Salah satu inovasi yang paling menonjol dalam dunia <em>e-commerce</em> saat ini adalah <em>live streaming commerce, </em>di mana proses jual beli tidak hanya terjadi dalam diam, tetapi berlangsung secara <em>real-time</em>, interaktif, dan penuh dinamika sosial. TikTok Shop, sebagai salah satu pelopor <em>live streaming commerce</em>, menghadirkan pengalaman interaktif yang menggoda: promo terbatas waktu, <em>host</em> yang energik, dan visualisasi produk yang meyakinkan. Hal ini memicu fenomena <em>impulsive</em> <em>buying</em> atau tindakan pembelian yang tidak direncanakan, dilakukan secara spontan dan didorong oleh emosi atau dorongan sesaat tanpa pertimbangan rasional yang mendalam (Chan et al., 2017). Dengan pengguna TikTok di Indonesia mencapai 107 juta jiwa (Statista, 2025), tak heran jika mahasiswa pun jadi sasaran empuk.&nbsp;</p>



<p>Penelitian ini lahir dari keterbatasan temuan sebelumnya yang didominasi oleh pendekatan kuantitatif dan belum secara mendalam menggambarkan pengalaman subjektif konsumen dalam konteks pembelian impulsif melalui live streaming TikTok Shop. Untuk itu, penelitian ini akan menjawab pertanyaan utama yaitu <strong>apa alasan mahasiswa aktif FISIP UI melakukan </strong><strong><em>impulsive buying</em></strong><strong> melalui </strong><strong><em>live streaming</em></strong><strong> TikTok, serta bagaimana pengalaman mereka dalam melakukan pembelian tersebut?&nbsp;</strong></p>



<p>Konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model <em>Stimulus-Organism-Response (S-O-R)</em> (Mehrabian &amp; Russel, 1974). Konsep ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang merupakan hasil dari respons terhadap stimulus eksternal yang mempengaruhi kondisi internal (organism) individu, sebelum akhirnya menghasilkan suatu tindakan (response). Dalam konteks penelitian ini, <em>stimulus</em> dapat berupa konten <em>live streaming</em>; algoritma FYP, gaya komunikasi <em>host</em>, hingga promosi diskon terbatas; <em>organism</em> mencakup kondisi emosional dan kognitif seperti rasa penasaran, senang, atau FOMO; sementara <em>response</em> merujuk pada keputusan pembelian impulsif yang dilakukan mahasiswa. Model ini juga telah banyak digunakan dalam studi-studi terkini terkait <em>live commerce</em>, termasuk dalam penelitian oleh Zhu et al. (2020) yang menemukan bahwa elemen visual seperti pencahayaan, ekspresi<em> host</em>, hingga kecepatan respons terhadap komentar penonton memiliki pengaruh signifikan terhadap keterlibatan emosional pengguna. Dengan kata lain, TikTok Shop tidak hanya menyajikan produk, tetapi membungkusnya dalam pengalaman multi-indrawi yang terstruktur.</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan penelitian, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang memungkinkan untuk menggali lebih dalam pengalaman subjektif mahasiswa saat melakukan pembelian impulsif di TikTok Shop. Narasumber dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em> dengan kriteria sebagai berikut: mahasiswa aktif di FISIP UI, merupakan pengguna aktif TikTok, dan memiliki kebiasaan atau pengalaman berbelanja secara impulsif melalui fitur <em>live streaming</em> TikTok Shop. Penelitian diikuti oleh total 3 narasumber yang masing-masing berasal dari jurusan yang berbeda di FISIP UI, untuk memastikan keberagaman perspektif dalam melihat fenomena <em>impulse buying </em>melalui <em>live streaming</em> pada TikTok Shop. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah <em>in-depth interview </em>atau wawancara mendalam yang kemudian seluruh data hasil wawancara dianalisis menggunakan teknik analisis tematik, yang terdiri dari proses transkrip wawancara mendalam, pengkodean terbuka, <em>axial coding</em>, hingga <em>selective coding</em>. Untuk memperkuat visualisasi temuan, hasil <em>coding</em> yang telah diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam <em>platform</em> WordArt untuk melihat kata-kata atau konsep yang paling dominan muncul dari narasi informasi. Visualisasi ini membantu peneliti mengidentifikasi tema-tema kunci secara lebih intuitif dan komunikatif.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="617" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1024x617.png" alt="" class="wp-image-3892" style="width:612px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1024x617.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-300x181.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-768x463.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1536x926.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-2048x1235.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 1. Hasil Coding</figcaption></figure>
</div>


<p><strong>Paparan yang Menjebak: Saat FYP Mengarahkan Jari ke &#8220;Keranjang Kuning&#8221;</strong></p>



<p>Sebagian besar narasumber mengakui bahwa mereka tidak berniat membeli ketika pertama kali membuka TikTok. Namun, kemunculan<em> live streaming</em> penjualan di <em>For You Page (FYP)</em> secara berkala menciptakan kebiasaan baru.<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Kalau muncul di FYP dan lagi relevan banget sama yang gue cari, pasti gue tontonin&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Bagi mereka, FYP bekerja seperti jalan masuk yang tak disadari menuju keputusan pembelian.</p>



<p><em>Host</em> yang enerjik, cara berbicara yang meyakinkan, dan visualisasi produk yang jelas menjadi kombinasi ampuh untuk membuat pengguna bertahan di live. Salah satu narasumber bahkan berkata,<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Host-nya lucu, jadi gue stay nonton padahal awalnya nggak niat beli.&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Dalam konteks model <em>Stimulus-Organism-Response (S-O-R)</em>, paparan terhadap konten<em> live </em>TikTok Shop merupakan stimulus yang mendorong keterlibatan emosional. Menurut Lee dan Chen (2021), stimulus seperti ini menimbulkan<em> pleasure dan arousal, </em>yang kemudian memperbesar kemungkinan terjadinya perilaku impulsif. Paparan yang menarik dan berulang memicu kondisi emosional yang terbuka terhadap pengaruh promosi.</p>



<p>Fenomena ini memperlihatkan bagaimana algoritma yang bekerja secara otomatis dapat membentuk pola perilaku baru pada pengguna, termasuk mahasiswa. TikTok bukan hanya platform hiburan, tetapi telah berevolusi menjadi mesin persuasi yang menyatu dalam rutinitas digital generasi muda. Tidak mengherankan jika aktivitas sekadar <em>scroll </em>FYP berubah menjadi pengalaman emosional yang intens dan berujung pada tindakan pembelian.</p>



<p><strong>Diskon dan Produk Relevan: Godaan yang Sulit Ditolak</strong></p>



<p>Narasumber sepakat bahwa diskon besar,<em> flash sale,</em> serta promo waktu terbatas adalah alasan utama mereka melakukan pembelian impulsif.<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue beli soalnya ada flash sale tengah malam. Harganya jadi jauh lebih murah dari biasanya&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Sementara narasumber lain menambahkan,<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Satu barang 200 ribu, tapi di live bisa dapet tiga. Gila sih.&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Ketika produk yang ditampilkan juga relevan dengan minat atau kebutuhan mereka, dorongan untuk membeli semakin kuat. Hal ini menegaskan bahwa dalam kerangka <em>impulse buying behavior</em> (Chan et al., 2017), keputusan pembelian impulsif sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara kondisi emosional sesaat dan tawaran yang sulit ditolak.</p>



<p>Diskon dan relevansi menjadi <em>stimulus</em> kuat yang memicu keinginan mendadak <em>(organism)</em> dan mendorong tindakan membeli <em>(response)</em>. TikTok Shop, melalui<em> live streaming</em>-nya, telah merekayasa pengalaman belanja yang mampu mengaktifkan dorongan emosional secara instan.</p>



<p>Tak hanya harga, kombinasi strategi pemasaran digital seperti<em> urgency cues</em> (hitung mundur <em>flash sale</em>), <em>scarcity messages</em> (stok tinggal sedikit), dan testimoni pembeli lain juga memperkuat efek dorongan tersebut. Semua itu menjadikan pengalaman belanja terasa mendesak sekaligus memuaskan secara emosional.</p>



<p><strong>Pengalaman Belanja yang Emosional dan Kadang Nyesek</strong></p>



<p>Tidak semua pengalaman belanja impulsif berakhir bahagia. Narasumber mengalami berbagai emosi, mulai dari puas hingga penyesalan. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue beli jam 2 pagi BH tempel. Padahal gue nggak butuh. Tapi videonya lucu dan harganya murah.&#8221;</em> </p>
</blockquote>



<p>Ungkap salah satu informan dengan nada geli. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keputusan mereka bukan karena kebutuhan, tapi karena momen emosional yang muncul seketika.</p>



<p><em>Live streaming</em> menciptakan interaksi dua arah yang berbeda dari <em>e-commerce</em> konvensional. Beberapa informan menyebut pengalaman ini lebih <em>engaging</em> karena bisa langsung menanyakan detail produk ke host dan melihat barang secara <em>real-time. </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Di TikTok tuh beda, karena bisa nanya langsung, jadi kayak lebih percaya aja gitu,&#8221; </em>ujar salah satu dari mereka.</p>
</blockquote>



<p>Namun, setelah pembelian, perasaan campur aduk muncul. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Jujur kadang nyesel sih, tapi ada juga yang gue puas banget karena kepake.&#8221; </em></p>
</blockquote>



<p>Kata seorang narasumber. Beberapa narasumber merasa mendapatkan nilai lebih, sementara yang lain merasa tertipu oleh ekspektasi yang dibangun selama <em>live.</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868.jpg" alt="" class="wp-image-3893" style="width:381px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-768x768.jpg 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 2. Ilustrasi Perasaan Kecewa Setelah Membeli </figcaption></figure>
</div>


<p>Temuan ini memperkuat tahap organism dalam model S-O-R, di mana emosi seperti penasaran, <em>excited,</em> bahkan FOMO <em>(fear of missing out)</em> menjadi bagian dari proses psikologis yang mendahului tindakan. Dalam penelitian Gulfraz et al. (2022), hal serupa juga ditemukan dalam pembelian impulsif yang sering kali merupakan hasil dari kombinasi emosi sesaat dan konteks sosial yang intens.</p>



<p><strong>Evaluasi Setelah Belanja: Antara Nyaman dan Kapok</strong></p>



<p>Setelah transaksi selesai, narasumber melakukan evaluasi terhadap produk dan fitur TikTok Shop. Pengalaman yang memuaskan membuat mereka cenderung kembali membeli. Namun, pengalaman buruk bisa langsung memutus ketertarikan mereka terhadap toko tertentu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue pernah beli dress 25 ribu, pas nyampe robek. Jadi kapok sih dari toko itu.&#8221;</em> </p>
</blockquote>



<p>Cerita salah satu informan. Sebaliknya, fitur-fitur seperti keranjang kuning, <em>banner</em> informasi, dan sistem pembayaran instan dianggap sangat membantu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em> &#8220;Gue suka fitur keranjang live-nya, jadi nggak ribet harus keluar aplikasi,&#8221;</em> ujar informan lain.</p>
</blockquote>



<p>Evaluasi ini menjadi penentu apakah pengalaman impulsif akan diulang atau dihentikan. Dalam konteks konsep S-O-R, fase ini adalah respons lanjutan: apakah akan terjadi <em>repeat buying </em>atau penghindaran.</p>



<p><strong>Pola Baru: Menanti Live Dulu Baru Beli</strong></p>



<p>Yang menarik, sebagian besar informan mengaku kini terbiasa mengecek apakah toko sedang <em>live</em> sebelum memutuskan membeli. Ini menunjukkan pergeseran pola konsumsi. Jika sebelumnya belanja dilakukan berdasarkan kebutuhan, kini keputusan muncul dari momentum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img decoding="async" width="683" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-683x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3894" style="width:287px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-683x1024.jpg 683w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-200x300.jpg 200w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-768x1152.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869.jpg 1024w" sizes="(max-width: 683px) 100vw, 683px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 3. Ilustrasi Menanti Live Sebelum Memutuskan Membeli Suatu Barang</figcaption></figure>
</div>


<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Awalnya coba-coba aja beli, tapi karena cocok, jadi gue beli lagi barang yang sama,&#8221;</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Kalau mau beli barang sekarang, gue suka tungguin dia live dulu, soalnya biasanya ada promo,&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Bahkan ada yang menyebut bahwa dirinya lebih percaya dengan <em>review</em> dan penawaran yang muncul di<em> live</em> dibanding platform lain.</p>



<p>Model S-O-R tidak hanya menjelaskan satu tindakan, tetapi juga proses berulang. Gulfraz et al. (2022) mencatat bahwa pengalaman menyenangkan dari belanja impulsif bisa menjadi kebiasaan yang membentuk loyalitas jangka panjang.</p>



<p>Hal ini juga mengisyaratkan pergeseran dari pola belanja berbasis kebutuhan menjadi belanja berbasis hiburan dan waktu senggang. Mahasiswa tidak sekadar berbelanja, tetapi mencari kesenangan, distraksi, dan interaksi dari pengalaman berbelanja itu sendiri.</p>



<p><strong>Di Balik Keranjang Kuning, Ada Psikologi Konsumsi yang Kompleks</strong></p>



<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan impulsif mahasiswa FISIP UI dalam membeli produk melalui TikTok Shop tidak terjadi secara acak. Ia merupakan hasil dari proses psikologis yang dipicu oleh rangsangan digital, yaitu dari algoritma FYP, interaksi dengan <em>host</em>, hingga diskon terbatas yang memancing emosi. Model <em>Stimulus-Organism-Response</em> dapat digunakan untuk<em> </em>menjelaskan bagaimana stimulus yang dirancang secara visual dan emosional dapat memicu kondisi psikologis yang akhirnya menghasilkan tindakan pembelian. Ketika pengalaman tersebut memuaskan, ia bisa berkembang menjadi kebiasaan baru yang bersifat situasional dan berulang.</p>



<p><strong>Apa yang Bisa Kita Pelajari?</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Konsumen, yang dalam hal ini merupakan mahasiswa, tidak lagi berperan sebagai aktor pasif. Mereka terlibat secara emosional dan kognitif dalam pengalaman belanja digital. Namun, paparan yang terus-menerus dan fitur interaktif bisa membentuk perilaku yang sulit dikendalikan secara rasional.</li>



<li>Saat ini, TikTok Shop bukan lagi sekedar <em>platform</em> untuk sarana jual beli, melainkan ruang hiburan sekaligus persuasi. Ia menyatukan hiburan dan transaksi, menciptakan pengalaman yang menggoda sekaligus mempengaruhi psikologi konsumen. Belanja kini menjadi bagian dari aktivitas rekreatif dan sosial.</li>



<li>Penting bagi konsumen untuk menyadari bagaimana pola algoritmik bekerja membentuk kebiasaan, dan mulai membangun kontrol serta kesadaran terhadap dorongan impulsif yang muncul dari pengalaman visual dan sosial yang diciptakan platform.&nbsp;</li>



<li>Temuan ini juga memberikan wawasan kepada pelaku bisnis bahwa pengalaman emosional yang positif dapat menciptakan loyalitas. Desain interaksi<em> live</em>, kredibilitas <em>host,</em> dan kecepatan transaksi memainkan peran kunci dalam membentuk keputusan impulsif.</li>
</ol>



<p>Pada akhirnya, penelitian ini membuka ruang refleksi, yaitu&nbsp;di balik kemudahan satu klik beli di keranjang kuning, ada sistem besar yang mempengaruhi cara kita merasa, berpikir, dan mengambil keputusan. Mengenali sistem adalah salah satu langkah yang bisa kita lakukan&nbsp;agar tetap jadi pengguna yang sadar, bukan korban dari impulsif semata. Barangkali dalam satu kali <em>scroll</em> di FYP dan klik di keranjang kuning, yang kita cari bukan cuma barang diskon. Tapi juga pengalihan dari tugas menumpuk, pelarian dari tekanan hidup kampus, atau sekadar rasa senang sesaat yang bisa dibeli murah.&nbsp;</p>



<p>TikTok Shop memang jago membungkus godaan dalam bentuk hiburan. Tapi sebagai konsumen, kita juga harus bisa belajar membungkus kesadaran dalam setiap klik.</p>



<p>Infografis:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3897" style="width:375px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-scaled.png 960w" sizes="auto, (max-width: 384px) 100vw, 384px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 4. Infografis</figcaption></figure>
</div>


<p>Ditulis oleh:<br>Nefertiti Gayla Garibaldi (<a href="mailto:nefertiti.gayla@ui.ac.id">nefertiti.gayla@ui.ac.id</a>); Nadhira Aulia (<a href="mailto:nadhira.aulia@ui.ac.id">nadhira.aulia@ui.ac.id</a>); Farsya Alevia Khairunisa (<a href="mailto:farsya.alevia@ui.ac.id">farsya.alevia@ui.ac.id</a>); Rafflesya Aqila Mirzasis Yumna (<a href="mailto:rafflesya.aqila@ui.ac.id">rafflesya.aqila@ui.ac.id</a>); Wilhelmina Inara Nediva (<a href="mailto:wilhemina.inara@ui.ac.id">wilhelmina.inara@ui.ac.id</a>)<br>Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia</p>



<p>Daftar Pustaka:</p>



<p>Ceci, L. (2025). Countries with the largest TikTok audience as of February 2025. Statista. https://www.statista.com/statistics/1299807/number-of-monthly-unique-tiktok-users/</p>



<p>Chan, T. K. H., Cheung, C. M. K., &amp; Lee, Z. W. Y. (2017). The State of Online Impulse-Buying Research: A Literature Analysis. <em>Information &amp; Management</em>, <em>54</em>(2), 204-217.</p>



<p>Gulfraz, M. B., Sufyan, M., Mustak, M., Salminen, J., &amp; Srivastava, D. K. (2022). Understanding The Impact of Online Customers’ Shopping Experience on Online Impulsive Buying: A study on Two Leading E-commerce Platforms. Journal Retailing and Consumer Services, 68, 103000.</p>



<p>Lee, C. H., &amp; Chen, C. w. (2021). Impulse Buying Behaviors in Live Streaming Commerce Based on the Stimulus-Organism-Response Framework. Information, 12(6), 241.Zhu, L., Li, H., Wang, F. K., He, W., &amp; Tian, Z. (2020). How Online Reviews Affect Purchase Intention: A New Model Based On The Stimulus-Organism-Response (S-O-R) Framework. <em>Journal of Information Management</em>, <em>72</em>(4), 463-488.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
