<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Feature &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2025 04:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Feature &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Langkah Hijau Coldplay melalui Music of the Spheres Tour</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 5 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 14:26:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Coldplay]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Sustanability]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan Music of the Spheres...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.</p>



<p>Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan <em>Music of the Spheres Tour </em>pada 14 Oktober 2021, antusiasme publik tidak hanya datang dari penggemar musik, tetapi juga mereka yang penasaran: <strong>&#8220;Bisakah tur stadion berskala global menjadi lebih ramah lingkungan?&#8221;</strong></p>



<p>Tur ini kemudian berkembang menjadi lebih dari 130 pertunjukan di berbagai negara. Melalui <em>Music of the Spheres Tour</em>, Coldplay menjadikannya sebagai arena eksperimen besar tentang bagaimana elemen hiburan dan berkelanjutan dapat berjalan secara berdampingan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Persebaran Music of the Spheres Tour (2022-2025)" src="https://datawrapper.dwcdn.net/Jgu0G/3/#?secret=8IckfWG28g" data-secret="8IckfWG28g" scrolling="no" frameborder="0" height="413"></iframe></div>
</div></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_Spheres_World_Tour#Tour_dates">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay mulai dikenal luas lewat album <em>Parachutes</em> (2000) dengan <em>single</em> “Yellow.” Popularitas mereka mencapai puncak di era <em>Viva la Vida </em>(2008). Dalam dekade berikutnya, Coldplay membangun identitas baru sebagai <em>band</em> stadion dengan visual penuh warna, kembang api, dan gelang LED (<em>xyloband</em>). Transformasi ini memperkuat posisi Coldplay sebagai salah satu <em>band</em> paling berpengaruh di dunia.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe title="Spotify Embed: Parachutes" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/6ZG5lRT77aJ3btmArcykra?si=2qj4kL9-QeeOnPLBKn4kdg&amp;utm_source=oembed"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Skala <em>Music of the Spheres Tour</em> membuatnya nyaris mustahil diabaikan. Tercatat hingga tahun 2025, lebih dari 10,3 juta orang telah menonton tur ini, membuatnya menduduki peringkat pertama dalam daftar konser yang paling banyak dihadiri sepanjang masa.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="7238e9ce-4671-433e-bfbc-846b209e5b3c" data-type="interactive" data-title="Tur Konser Paling Banyak Didatangi"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/tur-konser-paling-banyak-didatangi-1hxj48mq7gmoq2v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Tur Konser Paling Banyak Didatangi</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most-attended_concert_tours">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Apa yang membuat tur ini berbeda bukan hanya dari kemegahannya, melainkan komitmen untuk merancang ulang bagaimana konser berskala stadion dengan visual megah tetap dapat dijalankan dengan prinsip keberlanjutan tanpa mengorbankan pengalaman penonton.<br><br>Coldplay merancang tur ini dengan tiga prinsip utama:&nbsp;</p>



<p><strong>1. <em>Reduce</em></strong><em> </em>→ Mengurangi konsumsi dan emisi CO₂ hingga 50% serta daur ulang secara ekstensif.</p>



<p><strong>2. <em>Reinvent</em></strong><em> </em>→ Mendukung teknologi hijau terbarukan dan mengembangkan metode tur berkelanjutan yang sangat rendah karbon.</p>



<p><strong>3. <em>Restore</em></strong><em> </em>→ Mendanai proyek berbasis alam dan teknologi yang dapat menyerap CO₂.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>1. Reduce</strong></p>



<p>Coldplay secara terbuka menyatakan target pengurangan emisi CO₂ sebesar 50% dibandingkan tur sebelumnya, <em>A Head Full of Dreams Tour</em> (2016–2017). Prinsip <em>reduce </em>menjadi langkah pertama dengan mengurangi konsumsi energi dan material sejak tahap perancangan.</p>



<p>Pada level produksi, tim tur menata ulang sistem energi dan logistik untuk menghemat konsumsi listrik, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, serta mengoptimalkan rute pengiriman peralatan.</p>



<p>Komponen ikonik seperti gelang LED atau <em>xyloband </em>diproduksi untuk dapat dipakai berulang kali. Coldplay juga menampilkan persentase pengembalian <em>xyloband </em>di layar stadion, menciptakan elemen kompetitif yang positif bagi penonton di setiap negara.</p>


<div class="flourish-embed flourish-bar-chart-race" data-src="visualisation/25786470"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/25786470/thumbnail" width="100%" alt="bar-chart-race visualization" /></noscript></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.instagram.com/p/C4cxQMKynhD/?img_index=2">Eventori.id</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“… jadi kayak trigger gitu loh buat setiap negara, kayak biar masuk di ranking yang bagus gitu, walaupun Indonesia kayak kemarin kurang sih, karena banyak yang nggak balikin (xyloband) juga kan.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p>Selain itu, tim produksi juga beralih ke material berbasis tanaman dan komponen yang dapat dikompos atau didaur ulang. Strategi ini mendukung tingginya angka <em>diversion rate </em>(sampah yang dialihkan dari TPA) di laporan keberlanjutan.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="20308377-a2ff-4647-89f5-91938c2a612f" data-type="interactive" data-title="Air Isi Ulang (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/air-isi-ulang-coldplay-1h9j6q758k79v4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Air Isi Ulang (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center" style="font-size:13px">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Di setiap penyelenggaraan konser, Coldplay menghimbau penonton untuk membawa botol isi ulang sendiri karena tempat pengisian air minum disediakan di tiap sudut guna menghindari penumpukan sampah botol.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>2. Reinvent</strong></p>



<p>Prinsip <em>reinvent </em>menyoroti cara baru memproduksi dan memanfaatkan energi dalam konser. Kebutuhan energi untuk menghidupkan teknologi dihubungkan oleh Coldplay dengan aktivitas penonton yang dapat berpartisipasi mengisi pasokan energi panggung.</p>



<p>Di area <em>standing</em>, penonton dapat menemukan <em>kinetic dance floor </em>yang dirancang khusus untuk memproses tekanan dan gerakan kaki menjadi energi listrik. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="682" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-4278" style="aspect-ratio:1.5014809041309432;width:430px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x200.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-768x512.png 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Billboard.com</a></p>



<p>Di titik lain, tersedia <em>power bikes</em> yang memungkinkan penonton menghasilkan energi sambil mengayuh. Kedua instalasi ini menunjukkan bahwa gerakan tubuh penonton dapat diubah menjadi listrik.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png" alt="" class="wp-image-4280" style="width:423px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png 600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3-300x200.png 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Coldplay</a></p>



<p>Coldplay juga membawa panel surya portabel untuk membantu pasokan energi, serta sistem baterai yang berasal dari baterai bekas mobil listrik BMW i3 yang didaur ulang. Teknologi ini menunjukkan bahwa konser tidak harus bergantung pada generator diesel, tetapi dapat didukung oleh energi terbarukan.<br><br>Tahap <em>reinvent </em>membuat <em>green concept </em>dapat dialami penonton selama konser. Lebih dari sekadar menghadirkan panggung yang megah, Coldplay menunjukkan bahwa konser dapat berlangsung dengan pilihan energi yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>3. Restore</strong></p>



<p>Prinsip <em>restore </em>menegaskan komitmen Coldplay dalam menempatkan tur sebagai sumber dana bagi pemulihan lingkungan. Target utamanya adalah penanaman tujuh juta pohon, satu untuk setiap penonton konser. Program ini berkolaborasi dengan organisasi seperti One Tree Planted dan mendukung proyek restorasi sekitar 10.000 hektare di 24 negara.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="1c8ece3d-45d0-4ad7-bfbc-1e8612c5fe1f" data-type="interactive" data-title="7 Juta Pohon (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/7-juta-pohon-coldplay-1h984wv105gzz2p" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">7 Juta Pohon (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay juga bermitra dengan organisasi lingkungan lainnya, seperti ClientEarth yang berfokus pada advokasi hukum, The Ocean Cleanup dan Project Seagrass yang bekerja di ranah laut, dan Climeworks yang mengembangkan teknologi penangkapan karbon. Di Jakarta, penonton mengenal restorasi ini melalui kapal <em>interceptor</em> yang mengumpulkan sampah sungai.</p>



<p><em>Coldplay Sustainability Report </em>(2024) menjadi dasar untuk menilai efektivitas prinsip-prinsip tersebut. Dibandingkan tur sebelumnya, <em>Music of the Spheres Tour </em>melaporkan pengurangan emisi sekitar 59% CO₂e. Energi yang digunakan rata-rata sekitar 17 kWh energi per konser, bersumber dari panel surya, <em>kinetic dance floor</em>, dan <em>power bikes</em>.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 93.86% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/a29b6324-4279-4c0a-b19f-574053dc9ef3?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan kWh (Coldplay)" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-kwh-coldplay-1h984wv1nmpoz2p" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan kWh (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Sekitar 72% sampah konser berhasil dialihkan dari TPA melalui daur ulang, kompos, dan sistem pengelolaan lain. Di sektor transportasi, Coldplay melaporkan penghematan sekitar 3.000 tCO₂e dari penggunaan <em>Sustainable Aviation Fuel </em>(SAF) untuk sebagian perjalanan udara, serta penurunan sekitar 33% dampak <em>freight </em>akibat pengurangan volume dan berat peralatan yang diangkut.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="bf64bf1d-9d5e-4fab-b814-cc6ccdf1340e" data-type="interactive" data-title="Sisa Sampah"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/sisa-sampah-1hxj48mq7g0752v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Sisa Sampah</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:30px"><strong>Apa yang dapat diperbaiki?</strong></p>



<p>Dari perspektif penonton, <em>Music of the Spheres Tour</em> dianggap berhasil menggabungkan konser stadion yang magis dengan pesan-pesan keberlanjutan lingkungan. Namun, terdapat beberapa catatan yang menunjukkan ruang perbaikan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“Cuma mungkin ada beberapa hal yang kayak F&amp;B-nya itu lumayan antre panjang banget dan susah banget buat nyari makan di dalam.”&nbsp;– Ayesha</em><br><br><em>“&#8230;kita tuh diwajibkan untuk ngembaliin gelang kan, cuma kemarin tuh pengawasannya (kru konser) kurang banget. Jadi makanya banyak orang yang lost nggak ngembaliin ini (xyloband).” – Annisa</em></p>
</blockquote>



<p>Di Jakarta, antrean F&amp;B dan <em>water station</em> yang terbatas membuat penonton kesulitan mengakses makanan dan minuman. Titik pengembalian <em>xyloband </em>juga dinilai kurang jelas dan pengawasannya minim, sehingga masih banyak gelang LED yang tidak dikembalikan.</p>



<p>Salah satu penonton konser di Singapura juga mengusulkan agar informasi visual mengenai data <em>real-time </em>ditampilkan lebih banyak sebelum konser dimulai, seperti berapa energi yang dihasilkan <em>kinetic dance floor</em>, berapa persen gelang yang sudah kembali, atau dampak proyek restorasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;mungkin bisa disediakan lebih banyak info yang visual gitu jadi misalnya layar khusus sebelum konsernya dimulai jadi kayak ngejelasin data real time-nya tuh gimana, terus juga mungkin kemarin karena tempat refill airnya tuh juga sedikit gitu kan jadi menurut aku mendingan banyak supaya ngantrinya nggak terlalu panjang gitu di setiap tempat itu nih refill airnya.” – Naura</em></p>
</blockquote>



<p>Meskipun demikian, para informan sepakat bahwa konser seperti ini efektif sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan. Skala internasional, figur ternama, dan kehadiran jutaan penonton membuat pesan keberlanjutan tersebar jauh melampaui stadion.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;konser musik ini kan skalanya internasional ya, dan artisnya pun juga artis besar banget. Jadi orang-orang pun, baik yang nonton maupun gak nonton jadi punya kesadaran terhadap isu lingkungan itu sendiri sih.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p><em>Music of the Spheres Tour</em> menunjukkan bahwa konser tidak akan pernah sepenuhnya “hijau”, tetapi dapat bergerak ke arah yang lebih bertanggung jawab. Melalui kombinasi desain tur, teknologi, data, dan pengalaman penonton.</p>



<p>Coldplay membuka kemungkinan baru: <strong>konser sebagai petualangan musik yang tidak hanya menyatukan jutaan suara, tetapi juga menyatukan langkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan</strong>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe title="Coldplay: Sustainability Video [2022]" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/y89U96H6AgU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nazar Lulus UTBK, Kurban Pertama dari Uang Jajan Lima Ribu Rupiah</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amin Rakil]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 15:42:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[masukptn]]></category>
		<category><![CDATA[utbk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3914</guid>

					<description><![CDATA[BOGOR, 6 Juni 2025 —&#160; Di tengah deretan hewan kurban yang berjajar rapi menanti, ada seekor domba yang tampak biasa saja. Tapi pemiliknya tidak. Domba itu dibeli dari hasil menabung seorang remaja perempuan, Nurul Khatimah Hariyanto, 18 tahun. Bukan orang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>BOGOR, 6 Juni 2025</strong> —&nbsp; Di tengah deretan hewan kurban yang berjajar rapi menanti, ada seekor domba yang tampak biasa saja. Tapi pemiliknya tidak. Domba itu dibeli dari hasil menabung seorang remaja perempuan, Nurul Khatimah Hariyanto, 18 tahun. Bukan orang dewasa dengan penghasilan tetap dan bukan pula pejabat atau tokoh masyarakat. Nurul membeli domba itu sendiri dari uang jajan yang ia kumpulkan sejak duduk di bangku SMK.</p>



<p>Nurul baru saja diterima di Program Studi Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui jalur Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) 2025. Latar belakang pendidikannya ini sempat membuatnya ragu, bahkan pesimis menghadapi seleksi UTBK.&nbsp;&#8220;Aku dari SMK, <em>kan</em>. Jadi mikir <em>gitu</em>, kayak <em>enggak </em>mungkin lulusan SMK bisa keterima UTBK,” ujarnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3918" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3915" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Lokasi penjualan hewan kurban di Bogor. Domba-domba putih dan hitam tertata rapi, dipisahkan oleh potongan bambu.</sub></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3917" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Seekor domba putih yang dipilih oleh Nurul dan siap untuk dikurbankan.</sub></p>



<p>Namun, keraguan itu kini terbayar lunas. Ia berhasil lulus ke perguruan tinggi yang ia pilih dengan jurusan yang disukai. Di tengah kegembiraannya menyambut pengumuman kelulusan, Nurul memutuskan menunaikan satu niat yang sudah ia simpan sejak lama yaitu berkurban dengan uang hasil tabungan sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3919" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Proses pemotongan daging yang dibantu oleh para panitia kurban.</sub></p>



<p>Sejak masih duduk di bangku SMK, Nurul terbiasa menyisihkan sebagian uang jajannya setiap hari. Jumlahnya tidak besar, sekitar lima ribu rupiah atau bahkan kurang. Ia tidak pernah menetapkan target jumlah tertentu. Awalnya, tabungan itu ia kumpulkan untuk keperluan mendesak. Namun, setelah mengikuti UTBK dan menjelang pengumuman, niat itu berubah. Ia berjanji dalam hati, jika diterima, ia akan membeli hewan kurban dari uang tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="685" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1024x685.jpeg" alt="" class="wp-image-3921" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1024x685.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-300x201.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-768x514.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1536x1028.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-2048x1370.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Nurul sedang menyaksikan langsung pemotongan dan perhitungan daging yang ia kurbankan. </sub><br><br>Tahun ini, orang tua Nurul juga ikut berkurban. Meski demikian, Nurul tetap bersikeras untuk melakukannya secara mandiri. Teddy Hariyanto selaku ayah Nurul menyampaikan bahwa dirinya tidak menyangka anak pertamanya tersebut benar-benar akan berkurban. Teddy sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Nurul. Mereka begitu bersyukur karena Nurul berhasil lulus UTBK dan lebih bangga lagi karena Nurul dengan tulus mau berkurban.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_0CCB10D2-2A87-4B9C-8B9F-757DA8F4411B.mov"></video></figure>



<p><sub>Pesan Nurul untuk orang-orang yang masih ragu atau tidak yakin untuk berkurban.</sub></p>



<p>Tak banyak remaja seusia Nurul yang memilih cara ini untuk merayakan pencapaian seperti ini. Usia di mana kebanyakan remaja mungkin akan memilih merayakan kelulusan dengan hal-hal yang bersifat konsumtif atau hiburan semata. Baginya, berkurban bukan sekadar wujud nazar atau janji pribadi, melainkan bentuk syukur atas kelulusan, penyucian rezeki, dan simbol kemandirian yang selama ini ia upayakan secara perlahan, sedikit demi sedikit, dari saku sendiri. </p>



<p>Panitia kurban, Deden Nurodin berharap hal ini bisa menginspirasi bukan hanya seusia Nurul tapi juga orang banyak. Menurut Deden, semangat berkurban bukan ditentukan oleh besar kecilnya uang, tetapi oleh niat yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh. &#8220;Walaupun cuma dengan uang lima ribu, seseorang tetap bisa ikut berkurban,&#8221; lanjutnya.</p>



<p><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_0CCB10D2-2A87-4B9C-8B9F-757DA8F4411B.mov" length="0" type="video/quicktime" />

			</item>
		<item>
		<title>Bebas atau Hidup Terbatas: Cerita dari Pekerja Freelance di Jakarta</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 13:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[freelance]]></category>
		<category><![CDATA[freelancer]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3071</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Makanya sebagai freelancer itu tuh in my opinion kayaknya gak bisa cuman depend on one income aja. Harus 2, at least 2 ya. 3 is fine gitu.&#8220; Pernah menyangka, gak, sih, kalau seorang freelancer di Jakarta ternyata harus mengambil lebih...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>&#8220;<em>Makanya sebagai freelancer itu tuh in my opinion kayaknya gak bisa cuman depend on one income aja. Harus 2, at least 2 ya. 3 is fine gitu.</em>&#8220;</p>



<p>Pernah menyangka, <em>gak</em>, <em>sih</em>, kalau seorang <em>freelancer</em> di Jakarta ternyata harus mengambil lebih dari satu <em>gig</em> untuk bisa bertahan? Di kota metropolitan yang penuh dengan peluang dan tantangan, ternyata makin banyak generasi muda memilih untuk bekerja sebagai <em>freelance</em> demi fleksibilitas dan kebebasan. Namun, apakah bekerja tanpa ikatan kontrak selalu menjanjikan penghidupan layak?</p>



<p>Seiring dengan meningkatnya biaya hidup di Jakarta, fenomena <em>gig economy </em>semakin meluas di berbagai wilayah. Berdasarkan Gandini (2019) dalam Hasan dkk. (2024), <strong><em>gig economy</em> mengacu pada pergeseran kondisi ekonomi dari pekerja yang biasanya berstatus permanen menuju pekerja dengan kontrak jangka pendek, non-permanen, atau independen</strong>. Fenomena ini tercermin dari semakin bertambahnya jumlah pekerja <em>freelancer</em>. Sistem kerja <em>freelance</em> yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan waktu ini <strong>semakin diminati oleh generasi milenial dan Gen Z</strong> (Hasan dkk., 2024). Namun, di balik daya tarik tersebut, tak dapat disangkal bahwa sistem kerja <em>freelance</em> diikuti berbagai ketidakpastian dan persaingan ketat, karena <strong>sifat pekerjaan yang berbasis pada proyek dan tidak bersifat permanen</strong> (Hikmawati, 2023).</p>



<p>Lantas, bagaimana sebenarnya kehidupan para <em>freelancer</em> muda di Jakarta? Untuk menjawabnya, kami berbincang dengan tiga <em>freelancer</em> muda yang menjalani keseharian mereka di Jakarta dan sekitarnya. Yuk, simak kisah mereka!</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/23422669/embed#?secret=n13uf7KEE2" data-secret="n13uf7KEE2" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Aura, Adjie, dan Paundra sama-sama melihat pekerjaan <em>freelance </em>sebagai <strong>kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan perasaan bebas dan bahagia</strong>. <em>“Aku punya prinsip mengutamakan kebahagiaan terlebih dahulu jadi pengen bekerja di mana aja kapan aja gitu, ya. Jadi, karena aku jadi </em>freelancer content creator<em>, aku bisa kerja lagi di luar negeri bisa sambil liburan gitu sih jadi gak ada aturan yang mengikat aja sih bagi aku,”</em> ujar Paundra.</p>



<p>Namun, bagi Aura, <em>freelance</em> menjadi pilihan tepat baginya karena baginya, <strong>pekerjaan yang ia tekuni sesuai dengan apa yang ia gemari</strong>. Baginya, mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan ketertarikannya cenderung membuatnya <em>lose interest</em>. Sebaliknya, kini ia merasa bahagia membagikan apa yang ia sukai kepada orang lain melalui pekerjaannya sebagai instruktur yoga. Sebagai<em> freelancer graphic designer,</em> jawaban Adjie menjadi campuran dari isi hati Paundra dan Aura,<strong> fleksibilitas waktu dan tempat bekerja serta kesempatan untuk bisa bekerja sesuai dengan <em>passion</em></strong> menjadi alasan mengapa Adjie memilih untuk terjun ke dunia <em>freelance</em>.</p>



<p>Lalu, dengan segala kebebasan tersebut, bagaimana rutinitas mereka dalam bekerja?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3073" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Rutinitas yang cukup menarik, ya. Kalau dibandingkan dengan rutinitas pekerja kantoran tentunya rutinitas mereka sangat jauh berbeda. Namun, apakah dengan rutinitas seperti itu mereka tetap mendapatkan penghasilan yang mampu menyokong kehidupan mereka sehari-hari?</p>



<p><em>Well</em>, jawaban ketiganya cukup variatif. Untuk Adjie sendiri, ia bercerita bahwa pendapatannya tergantung dengan banyaknya proyek yang ia ambil serta tingkat kesulitan dari proyek-proyek tersebut. Sebagai seorang <em>freelancer graphic designer,</em> Adjie memperoleh pendapatan sekitar <strong>2 hingga 4 juta rupiah per bulannya</strong>. Namun, baginya itu <strong>sudah cukup untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari, terlebih ketika Ia masih tinggal bersama dengan orangtuanya</strong>. Oleh karena itu, pendapatan yang Ia peroleh dari pekerjaan <em>freelance</em>-nya digunakan untuk kebutuhan seperti makan, transportasi, dan pengeluaran hiburan personal.</p>



<p>Di lain sisi, Aura mengungkapkan bahwa pendapatannya cukup stabil. Ia memilih untuk tidak mengungkapkan angka secara spesifik, tapi dalam satu bulan, ia menyebutkan bahwa ia mampu mendapatkan sekitar <strong>puluhan juta rupiah dari ketiga pekerjaannya</strong>. Undangan untuk datang ke acara <em>brand </em>dan <em>community </em>menjadi pendapatan tambahan bagi pemasukan bulanannya. Dengan jumlah pemasukannya itu, Ia tetap berusaha untuk <strong>menabung dan menjaga pengeluarannya untuk berada di bawah setengah pendapatannya</strong>.</p>



<p>Namun, bagi Paundra yang sudah membiayai berbagai kebutuhan dirinya, mulai dari pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari seperti tempat tinggal, pendapatannya sebagai <em>freelancer content creator</em> sangat fluktuatif. Dengan membatasi diri untuk <strong>mengambil 7 hingga 8 projek saja per bulan</strong>, ia berupaya untuk mempertahankan pendapatan<strong> puluhan juta rupiah setiap bulannya</strong>. Tak hanya untuk kebutuhan pokok, pendapatannya tersebut juga ia gunakan untuk mendukung hobi sekaligus tema konten yang ia bawakan, yaitu untuk menonton konser dan liburan.</p>



<p>Lalu, apa, sih, keuntungan dan tantangan yang Aura, Paundra, dan Adjie rasakan selama menjadi <em>freelancer</em>?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3075" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/VISUALISASI-2-1.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kini, ketiganya <strong>tetap berpegang teguh terhadap keputusan mereka untuk menjadi seorang <em>freelancer</em></strong> dan bahkan menetapkan goal untuk lebih berkembang kedepannya. Dengan pengalaman dan lika-liku yang mereka hadapi selama menjadi <em>freelancer</em>, Aura, Paundra, dan Adjie memiliki beberapa rekomendasi dan saran, <em>nih</em>, buat para anak muda yang tertarik untuk terjun di dunia <em>freelance</em>!</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Cari tahu </strong><strong><em>passion </em></strong><strong>kamu!&nbsp;</strong></li>
</ol>



<p>Lakukan ini untuk benar-benar memilih bidang <em>freelance</em> yang memang sesuai dengan minat dan bakatmu.&nbsp;</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li><strong>Pelajari kebiasaan waktu dan kegiatanmu.</strong></li>
</ol>



<p>Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah kamu tipe orang yang suka dan mampu menghadapi jadwal yang sangat sibuk? Dan, apakah kamu sesuai dengan jam kerja “<em>9 to 5” </em>seperti di kantoran? Jika kamu merasa tidak cocok dengan kedua itu, maka pilihan bekerja sebagai freelance mungkin patut kamu coba.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li><strong>Pertimbangkan pilihanmu dengan baik-baik.</strong></li>
</ol>



<p>Perhitungkan kemungkinan-kemungkinan risiko serta perbandingannya dengan opsi pekerjaan lainnya. Memilih untuk menjadi seorang <em>freelancer</em> bukan merupakan proses yang mudah. Pertimbangkan juga latar belakang, tujuan yang ingin kamu kejar, juga perasaan serta prinsip hidupmu.&nbsp;</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li><strong>Jangan bergantung pada satu sumber pemasukan saja!</strong></li>
</ol>



<p>Pendapatan yang tidak pasti membuat seorang <em>freelancer</em> perlu mencari alternatif lain. Kamu bisa menambah jenis <em>freelance</em> lain yang masih sesuai dengan keahlianmu ataupun membuka diri terhadap peluang pekerjaan tambahan agar tetap memiliki penghasilan yang stabil.</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li><strong>Terakhir, perbanyak koneksi.</strong></li>
</ol>



<p>Sebagai seorang <em>freelancer</em>, sangat mungkin untuk proyek-proyek dan pekerjaan yang kamu dapatkan berasal dari teman atau kenalan di sekitarmu. Oleh karena itu, perbanyaklah koneksimu dengan orang-orang baru.</p>



<p>Gimana? Apakah kamu makin tertarik untuk menjadi <em>freelancer</em>, atau justru sebaliknya?</p>



<p style="font-size:15px">Ditulis oleh Bernadette Moureen Natalia Indra, Elaine Keisha, Nefertiti Gayla Garibaldi, Wilhelmina Inara Nediva, dan Marcelina Andika Putri.  </p>



<p class="has-small-font-size">Referensi:</p>



<p class="has-small-font-size">Hasan, D., Nuraeni, Nursyirwan, V. I., Tantri, M., &amp; Kinasih, D. H. P. (2023). Gig Economy: What is the Impact on Top Talent Recruitment and Labour Skill Market for Freelance Workers in the Millennial Generation in DKI Jakarta. <em>Scientific Journal of Reflection: Economic, Accounting, Management, and Business</em>, <em>7</em>(1), 1-11.</p>



<p class="has-small-font-size">Hikmawati, U. N. (2023). Di Ambang Kegairahan dan Kerentanan (Fleksibilitas Freelance Industri Kreatif Desain di Yogyakarta). <em>Jurnal Studi Pemuda</em>, <em>12</em>(1), 50-62.<br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/bebas-atau-hidup-terbatas-cerita-dari-pekerja-freelance-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Homeless media bisa menggantikan media Konvensional</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhamad Ichsan Febrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 04:13:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[News media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3705</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA — Perkembangan teknologi telah mengubah cara audiens mengonsumsi berita. Dulu, informasi didapatkan melalui koran, radio, atau televisi. Sekarang, dengan dominasi media sosial, audiens dapat dengan mudah memilih dan mengakses berita langsung dari perangkat seluler mereka. Menurut laporan Katadata Insight...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>JAKARTA</strong> — Perkembangan teknologi telah mengubah cara audiens mengonsumsi berita. Dulu, informasi didapatkan melalui koran, radio, atau televisi. Sekarang, dengan dominasi media sosial, audiens dapat dengan mudah memilih dan mengakses berita langsung dari perangkat seluler mereka.</p>



<p>Menurut laporan Katadata Insight Center (KIC), pada tahun 2020-2021, sebanyak 73% masyarakat Indonesia mengonsumsi berita atau informasi melalui media sosial. Angka ini menunjukan adanya pergeseran signifikan dalam kebiasaan masyarakat untuk mengakses berita. Pergeseran lanskap media ini telah memunculkan fenomena baru dalam dunia jurnalisme, yang dikenal dengan istilah <strong><em>homeless media</em></strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa itu <em>Homeless media</em> ?&nbsp;</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="819" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1024x819.png" alt="" class="wp-image-3484" style="width:493px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1024x819.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-300x240.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-768x614.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1536x1229.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3.png 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><kbd>Beberapa contoh <em>Homeless Media. </em></kbd></figcaption></figure>
</div>


<p>Dilansir dari Remotivi, <em>Homeless media</em> merujuk pada outlet berita yang awalnya hanya mendistribusikan informasi melalui media sosial, dengan sebagian besar kini berbasis di Instagram. </p>



<p>Disebut &#8220;<em>homeless</em>” bukan karena tanpa arah, melainkan karena media ini tidak memiliki &#8220;rumah&#8221; dalam bentuk fisik seperti kantor redaksi atau domain website.&nbsp;Biasanya juga homeless media dijalankan secara informal, dengan tim kecil dan sumber daya terbatas.</p>



<p>Di antara <em>homeless media</em> sendiri, terdapat perbedaan signifikan: sebagian tetap berpegang pada nilai-nilai jurnalistik seperti verifikasi dan keberimbangan, sementara sebagian lainnya lebih longgar dan cenderung mengutamakan opini atau aktivisme tanpa standar editorial yang ketat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Jika kita bicara praktik jurnalisme dalam homeless media, saya pikir kembali<br>apakah yang di lakukan homeless media sebuah praktik jurnalisme atau tidak.<br>Kita harus kembali ke hakikat kerja jurnalistik. Misalnya, apakah disana ada<br>pencarian berita, apakah ada orang-orang disana yang mencari berita atau<br>menuliskan berita dan menyebarkan berita tersebut melalui media digital. &#8221; </p>



<p>&#8211; Reza, Opini.id</p>
</blockquote>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="537" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-1024x537.png" alt="" class="wp-image-3457" style="width:588px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-1024x537.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-300x157.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-768x403.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram.png 1240w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p>Berdasarkan data berikut dapat dilihat bahwa homeless media memiliki potensi besar untuk mengganggu bisnis dan praktik jurnalisme konvensional. Mereka mampu menarik perhatian publik secara dengan modal yang jauh lebih kecil dibandingkan media arus utama.<br></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Membuat <em>Homeless Media</em> Menarik</h2>



<p>Dilansir dari kajian Remotivi terkait <em>Homeless media</em>, ada beberapa faktor yang membuat <em>Homeless Media</em> lebih diminati:</p>



<p><strong>1. Bersifat <em>Hyperlocal</em></strong><br><em>Homeless media</em> sering kali mengangkat isu-isu yang dekat dengan keseharian masyarakat, terutama di lingkup lokal yang kerap luput dari liputan media arus utama. </p>



<p><strong>2. Penyajian Berita yang Spesifik</strong><br>Berbeda dengan media konvensional yang menyasar spektrum isu lebih luas, <em>homeless media</em> justru unggul dalam penyampaian informasi yang lebih spesifik (contoh : berita maling di suatu daerah).</p>



<p><strong>3. Responsif dan Cepat</strong><br>Karena tak terikat pada struktur redaksi yang panjang, <em>homeless media</em> dapat merespons isu dengan lebih cepat. Namun, kecepatan ini juga disertai risiko yaitu rawannya <strong>misinformasi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tantangan <em>Homeless Media</em></h2>



<p>Mengutip dari detik.com, meski <em>homeless media</em> dapat mendorong partisipasi publik, keberadaannya juga berpotensi menghambat praktik jurnalisme yang mendalam dan komprehensif.</p>



<p><strong>Kecepatan dan Aktualitas</strong><br>Homeless media unggul dalam kecepatan penyampaian informasi karena beroperasi di platform media sosial. Sedangkan Konvensional cenderung lebih hati-hati dalam kecepatan demi akurasi. </p>



<p><strong>Kredibilitas</strong><br>Struktur redaksi yang tidak jelas serta informasi yang disajikan yang sering kali belum terverifikasi membuat homeless media rentan dipertanyakan akurasinya.</p>



<p><strong>Rentan Misinformasi</strong><br>Karena berfokus pada kecepatan, homeless media rentan menyebarkan informasi yang keliru, terutama jika data yang digunakan hanya bersumber dari konten yang sedang viral tanpa verifikasi lebih lanjut.</p>



<p><strong>Permasalahan Hukum</strong><br>Meski berperan sebagai penyebar informasi, <em>homeless media</em> bukan bagian dari Dewan Pers. Akibatnya, perlindungan hukum terhadap mereka terbatas, sehingga rawan intimidasi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas Apakah Media Konvensional akan ditinggalkan ? </h2>



<p>Meski<em> Homeless Media</em> semakin diminati masyarakat, bukan berarti <em>Homeless Media</em> bisa menjadi pengganti penuh dan mutlak bagi media konvensional. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>Media berita (Konvensional) akan selalu dibutuhkan masyarakat &#8211; Bernadette Moureen</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>Saya tetap melihat kalau media konvensional ini masih berperan penting untuk masyarakat. Khususnya, mereka yang belum melek digital atau punya akses jaringan internet yang memadai. Jangkauan informasinya tetep (memerlukan dukungan) media konvensional &#8211; Geofanny Elizabeth</em></p>
</blockquote>



<p>Dan, bagi mereka yang ingin menekuni bidang jurnalistik secara profesional, media konvensional tetap menjadi pilihan utama.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>(Aku) masih tertarik untuk bekerja di media konvensional karena menurut ku untuk membangun karir  di langkah awal (sebagai jurnalis), akan lebih baik untuk mulai di perusahaan media yg udah punya nama &#8211; Elaine Keisha</em></p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan : Potensi untuk berkembang tetapi perlu pengawasan</h2>



<p>Homeless media di Indonesia punya potensi besar untuk terus tumbuh, terutama karena cepat dan relevan bagi audiens digital. Namun, potensi ini datang dengan tantangan serius yang butuh pengawasan. Tanpa standar editorial dan verifikasi yang jelas, <em>homeless media</em> rentan untuk menyebarkan misinformasi dan hoaks. Oleh sebab itu,<em> Homeless media</em> perlu memutar otak untuk meningkatkan akurasi dan kredibilitasnya tanpa mengorbankan kecepatan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menilik Program Pendidikan Militer Ala Kang Dedi: Apa Kabar Anak-Anak di Barak?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ali Zaky Tamsin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 04:02:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[General News]]></category>
		<category><![CDATA[Barak]]></category>
		<category><![CDATA[Dedi Mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[In-depth news]]></category>
		<category><![CDATA[KDM]]></category>
		<category><![CDATA[Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3698</guid>

					<description><![CDATA[Depok (04/06) &#8211; Bagi Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di Bekasi, membuka ponsel dan membaca berita di media sosial beberapa bulan terakhir menyulut kecemasan baru dalam dirinya: anak nakal akan dikirim ke Barak Militer. “Emang beberapa dari kita ada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Deklarasi Penggunaan Kecerdasan Buatan</summary>
<p>Artikel ini ditulis dengan bantuan AI (ChatGPT oleh OpenAI) dalam tahap perumusan ide dan pengumpulan serta interpretasi data. Semua sumber dikonfirmasi berdasarkan dokumen yang diverifikasi dan transkrip wawancara aktual.</p>
</details>



<p>Depok (04/06) &#8211; Bagi Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di Bekasi, membuka ponsel dan membaca berita di media sosial beberapa bulan terakhir menyulut kecemasan baru dalam dirinya: anak nakal akan dikirim ke Barak Militer. “Emang beberapa dari kita ada yang ngerokok, cabut kelas, ya nakal-nakal biasa lah. Tapi kayaknya berlebihan kalo sampe dikirim ke barak, harusnya bisa didengerin aja masalahnya apa” ucap Maman merespon kebijakan baru Gubernur Jawa Barat yang viral akhir-akhir ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="700" height="394" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169.jpeg" alt="" class="wp-image-3707" style="width:840px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169.jpeg 700w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169-300x169.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Sumber: </strong><a href="https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7903885/mengintip-pendidikan-karakter-ala-militer-inisiatif-gubernur-jabar-dedi-mulyadi#google_vignette">Detik.com</a></figcaption></figure>



<p>Sejak bulan Mei 2025, program pengiriman ‘siswa bermasalah’ ke barak militer mulai dijalankan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sebagaimana yang dilansir pada <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250521065959-20-1231383/273-siswa-jabar-dipulangkan-usai-18-hari-program-barak-militer">CNN Indonesia</a>, sebanyak 273 siswa SMP/SMA di Bandung dikirim ke barak untuk mengikuti program pelatihan karakter dan kedisiplinan ala militer. Meskipun program pendidikan remaja nakal bukan lah sesuatu yang baru di dunia, kebijakan ini tetap menuai berbagai macam kontroversi dan diskusi di kalangan masyarakat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa program ini beresiko menimbulkan trauma dan melanggar hak asasi anak, sementara sebagian orang tua menilai program ini cukup efektif.</p>



<p>Namun, apakah benar pendidikan ala militer menjadi kunci untuk menangani kenakalan remaja di Indonesia?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kecemasan Baru Bagi Anak SMA</strong></h2>



<p>Bagi anak SMA, ketakutan akan dikirim ke barak militer menjadi momok kecemasan baru di tengah kegelisahan menentukan rencana studi lanjut setelah menamatkan SMA. Setidaknya itulah yang dirasakan Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di salah satu SMA swasta di Bekasi. Awalnya, respon maman terhadap program tersebut cukup baik dan dirasa sebagai langkah yang cukup bagus. Namun demikian, mulai muncul kegelisahan jika ternyata dirinya lah yang dikirim ke barak militer. Dalam wawancara yang dilaksanakan pada hari Senin (02/06), Maman menyatakan kekhawatirannya “masa gua ngerokok2 kayak gini masuk barak militer”.</p>



<p>Menurut Maman, pendekatan militer dalam pendidikan remaja tidak bisa sepenuhnya diterima secara mentah-mentah. Maman menganggap bahwa beberapa remaja yang disebut ‘nakal’ pada dasarnya sedang mencari jati diri. “Banyak yang kayak gitu karena kesepian, kurang perhatian dari orang tua. Kadang guru juga udah enggak peduli. Lingkungan sosialnya juga berpengaruh.”</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-3704" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-1024x683.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-300x200.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-768x512.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7.jpg 1296w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Siswa SMA dengan berbagai kegiatannya untuk mengisi waktu luang<br><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>



<p>Ia juga menekankan bahwa tidak semua bentuk kenakalan siswa perlu mendapatkan ‘hukuman militer’. “Kalo ngerokok? ya dikasih peringatan gitu. Baru kalo misalkan tawuran gitu, itu kan membahayakan berbagai pihak. Jadi mungkin bagi siswa-siswa yang gabut dan langsung tawuran, ya bisa dikirim” ucap Maman sambil tertawa sinis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Barak Bisa Jadi Solusi, Tapi Harus Ada Takarannya</strong></h2>



<p>Di sisi lain, Pak Ahmad sebagai guru SMA swasta di Bekasi yang merangkap sebagai bagian pendisiplinan, memilih untuk bersikap netral terkait program barak militer milik Dedi Mulyadi. Baginya, program tersebut bisa menjadi alternatif yang cukup berani dalam menangani persoalan kenakalan remaja, meski ia sendiri lebih suka menyebutnya dengan “rasa penasaran remaja”.</p>



<p>Pada wawancara yang dilaksanakan di hari Senin (02/06), Pak Ahmad menyatakan bahwa program barak militer merupakan langkah baru yang dapat dibilang cukup bagus. Ia mengatakan “Kita bisa lihat dari unggahan Kang Dedi sendiri, anak-anak di sana banyak yang terlihat nyaman, bertemu teman baru, dan bahkan ada yang sampai diundang ke TV. Kalau mereka bisa lulus, itu tandanya ada perubahan”.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="488" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1.jpeg" alt="" class="wp-image-3701" style="width:840px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1.jpeg 720w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1-300x203.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Instagram @<a href="https://www.instagram.com/dedimulyadi71/?hl=en#">dedimulyadi71</a></figcaption></figure>



<p>Namun demikian, sebagai seorang guru yang berhadapan langsung dengan pelanggaran-pelanggaran atau ‘rasa penasaran’ siswa di lingkungan sekolah, ia menyadari bahwa terdapat akar permasalahan yang lebih mendalam. Dalam wawancara ia mengatakan “Kita harus lihat dulu permasalahannya… pasti ada faktor internal atau eksternal nya. Bisa jadi kesepian atau kurang mendapat perhatian orangtua. Sehingga akhirnya mereka melakukan hal yang mereka mau aja gitu”. Ia mengatakan bahwa pernah mendengar percakapan antara Dedi Mulyadi dengan salah satu murid yang dikirim ke barak, “Ternyata emang kurang perhatian dan lingkup sosialnya begitu” ujarnya.</p>



<p>Menurut Pak Ahmad, solusi utama terkait fenomena kenakalan remaja di Indonsia seharusnya menyasar keluarga dan sekolah. Ia bahkan mengusulkan agar pendidikan bagi orang tua dalam membesarkan anak menjadi program wajib. “Edukasi antar orang tua untuk memiliki anak untuk mendidiknya, untuk mengetahui mana yang bener dan mana yang salah” saran Pak Ahmad.</p>



<p>Menurutnya, pengalaman semi-militer seperti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama 2-3 hari justru bisa menjadi bentuk pendisiplinan yang cukup tanpa harus mengisolasi anak selama periode waktu yang lama. “Kita kan pernah juga tuh masuk barak waktu LDKS. Apalagi yang ikut paskib. Ya keras, tapi masih wajar.”</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="720" style="aspect-ratio: 1280 / 720;" width="1280" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Dokumentasi-Paskib-1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Program Paskibra bisa menjadi alternatif penidikan kedisiplinan bagi remaja<br><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari AS hingga Korea Selatan: Jejak Global <em>Military Boot Camp</em></strong></h2>



<p>Meskipun menuai berbagai kontroversi dan pandangan yang berbeda di kalangan masyarakat Indonesia, program pelatihan ala militer bagi remaja bermasalah bukanlah barang baru. Dilansir dari website resmi <a href="https://ojjdp.ojp.gov/sites/g/files/xyckuh176/files/pubs/reform2/ch2_g.html">Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention (OJJDP)</a>, Amerika Serikat telah mengembangkan program <em>juvenile boot camps </em>sejak tahun 1980-an. Hingga saat ini, program-program tersebut masih banyak dijalankan di berbagai negara bagian AS, salah satunya seperti yang bisa dilihat pada dokumenter singkat di bawah ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="The Brutal Correctional Facility for Naughty Kids" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/Hn7y6xXnteQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p>Adapun di Cina dan Korea Selatan, program serupa juga ditemukan untuk anak-anak yang dianggap ‘kecanduan internet’. Program ini dikelola otoritas militer atau bekerjasama dengan militer, berisi latihan fisik intensif dan tanpa akses gadget (digital detox) selama beberapa minggu. Program ini memiliki tujuan utama untuk mengubah kebiasaan negatif seperti kecanduan internet, menjadi gaya hidup lebih sehat dengan disiplin militer. Beberapa pihak melihat pendekatan ini sebagai metode yang kontroversial, meski beberapa lainnya memandangnya program ini sebagai inovasi penanganan masalah teknologi pada remaja.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="Internet-addicted South Korean children sent to digital detox boot camp" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/YuT_RAugJu0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="China&#039;s kids head to army-style boot camps" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/jksj4ZSBX-0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p>Meskipun telah dilaksanakan di berbagai negara, program pendidikan militer yang keras pada nyatanya tidak menyelesaikan permasalahan kenakalan remaja. <a href="https://youthendowmentfund.org.uk/toolkit/boot-camps/#:~:text=On%20average%2C%20boot%20camps%20are,violence%20and%20may%20cause%20harm">Youth Endowment Fund</a> menyatakan bahwa program semacam <em>boot camps </em>bagi remaja tidaklah efektif untuk menurunkan tingkat kekerasan dan justru berpotensi menyebabkan kekerasan. Riset yang dilakukan justru menemukan bahwa remaja yang berpartisipasi melalui program <em>boot camps</em> justru memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam aksi kekerasan dan kejahatan sebesar 6%.&nbsp;</p>



<p>Ahli pendidikan dan psikologi juga menyoroti banyak kekurangan. Pemilihan peserta yang hanya didasarkan pada rekomendasi sekolah dianggap tidak begitu tepat. Dilansir dari <a href="https://www.liputan6.com/health/read/6021996/gubernur-dedi-mulyadi-kirim-anak-bermasalah-ke-barak-militer-psikolog-ingatkan-dampaknya?page=4">Liputan6</a>, Psikolog anak dan remaja dari PION Clinician, Madasaina Putri, M.Psi menilai lingkungan pelatihan yang sangat militeristik dapat menimbulkan trauma, stres, dan memperkuat label negatif pada anak.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Langkah Selanjutnya: Antara Trauma dan Harapan</strong></h2>



<p>Di samping kritik yang terus datang, program pengiriman anak ke barak militer oleh Gubernur Jawa Barat tetap berjalan. Berdasarkan pandangan masyarakat dan para ahli, serta evaluasi dari program-program semisal di negara lain, diperlukan adanya pengawasan yang ketat terhadap jalannya program baru ini. Warga masyarakat Jawa Barat kini harus menunggu, apakah barak ini akan menjadi tempat pembinaan atau tempat penindasan baru bagi anak-anak bangsa?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Dokumentasi-Paskib-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Antara Realita dan Impian Gen Z untuk Rumah Pertamanya</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/antara-realita-dan-impian-gen-z-untuk-rumah-pertamanya/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/antara-realita-dan-impian-gen-z-untuk-rumah-pertamanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elaine Keisha]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:13:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[finansial gen z]]></category>
		<category><![CDATA[gen z]]></category>
		<category><![CDATA[rumah gen z]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3605</guid>

					<description><![CDATA[Artikel ini menggunakan kecerdasan pembuatan (ChatGPT) untuk melakukan kalkulasi dana tahunan, kenaikan nilai aset A dan B, serta total nilai aset setelah investasi pada Tabel 1 dan Tabel 2. “Jujur, sih, aku mau banget. Tapi, aku juga punya kekhawatiran. Kalau...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Artikel ini menggunakan kecerdasan pembuatan (ChatGPT) untuk melakukan kalkulasi dana tahunan, kenaikan nilai aset A dan B, serta total nilai aset setelah investasi pada Tabel 1 dan Tabel 2.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Jujur, sih, aku mau banget. Tapi, aku juga punya kekhawatiran. Kalau kita lihat, kan, harga tanah aja mahal, rumah apalagi, dan aku mau bangun rumah dari nol.</em>”</p>
</blockquote>



<p>BOGOR, (04/06/2025) — Ucapan ini memiliki mimpi sederhana, punya rumah sendiri, katanya. Tapi, impian itu harus berdampingan dengan realitas yang berbeda. Layaknya awan yang terlihat dekat tapi sulit digapai, harga tempat tinggal kian melambung, membuat mimpi sederhana terasa menjauh.</p>



<p>Faktanya, angka-angka di lapangan tak banyak memberi ruang untuk sekedar berharap. Badai pemutusan hubungan kerja (PHK), harga bahan pokok yang naik, kebutuhan yang menumpuk, upah minimum regional (UMR) yang tidak merata, menjadi empat dari ribuan alasan mengapa masyarakat Indonesia banyak yang mengkhawatirkan kondisi finansial di masa depan.&nbsp;</p>



<p>Menurut, Andy Nugroho dari Advisors Alliance Group Indonesia pada <a href="https://www.detik.com/properti/berita/d-7056107/berapa-ya-harga-rumah-paling-murah-di-jakarta-ini-jawabannya">Detik Properti</a>, seseorang yang ingin membeli rumah seharga Rp1 miliar idealnya memiliki penghasilan Rp30 juta per bulan. Sebenarnya, harga rumah bersifat tentatif pula berdasarkan lokasi dan fasilitas. Misalnya, di pasaran masih ada harga rumah pada kisaran Rp175 juta–Rp500 juta.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__318046216_0-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-3656" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__318046216_0-1024x768.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__318046216_0-300x225.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__318046216_0-768x576.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__318046216_0.jpg 1477w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Perumahan cluster tidak berpagar di CitraGran Cibubur yang dikembangkan oleh pengembang swasta, yaitu Ciputra Group. Berdasarkan Laporan BPS Indeks Harga Properti Perumahan Tahun 2024, rumah tipe cluster tidak berpagar mengalami kenaikan indeks sebesar 4,83 persen (Foto: Dokumentasi Pribadi/Elaine Keisha)</figcaption></figure>



<p>Meskipun begitu, dikutip dari <a href="https://ekonomi.bisnis.com/read/20241023/9/1810032/suram-2-dari-3-gen-z-pesimistis-mampu-beli-rumah">Bisnis.com</a>, survei Inventure bertajuk Indonesia Industry Outlook 2025 mengungkap 65% dari Gen Z yang berada di kelas menengah merasa tidak yakin bahwa dalam tiga tahun ke depan bisa mencicil atau membeli rumah pertamanya. Alasan terbesar tercatat dikarenakan harga rumah yang melambung tinggi. Bagaimana tidak, berdasarkan <a href="https://www.bps.go.id/id/publication/2024/12/20/adf684ebfadf6b11627eaac9/indeks-harga-properti-perumahan-2024.html">Badan Pusat Statistik (BPS)</a>, indeks harga properti perumahan pada tahun 2024 menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya. Harga rumah meningkat sebesar 2,97 persen, diiringi dengan peningkatan harga apartemen sebesar 1,03 persen. Jika dikalkulasi dari tahun 2019, terjadi kenaikan sebesar 11,19 persen dan 5,52 persen untuk harga rumah dan apartemen.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Perbandingan UMR dan Kebutuhan Hidup Per Tahun" src="https://datawrapper.dwcdn.net/sBwk1/2/#?secret=Vdvk8CX537" data-secret="Vdvk8CX537" scrolling="no" frameborder="0" height="400"></iframe></div>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Grafik 1. Harga tempat tinggal diasumsikan sebesar Rp1,200,000 pada tahun 2020 dan mengalami kenaikan sebesar Rp1 juta per tahunnya. Konsumsi diasumsikan sebesar Rp600,000 dengan kenaikan yang sama. Sedangkan, transportasi diasumsikan stabil sebesar Rp500,000 (Grafik: Elaine Keisha)</figcaption></figure>



<p>Bayangkan, jika untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar hampir menghabiskan setengah penghasilan, maka untuk membeli tempat tinggal membuat Generasi Z harus berupaya lebih keras untuk mengejarnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rencana Serupa, Dua Pikiran: Apa Kata Gen Z?</strong></h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Pertama beli apartemen dulu karena tinggalnya masih sendiri. Nanti baru apartemen ngumpulin buat beli rumah. Kalau apartemen kira-kira di usia 23–24 tahun, kalau rumah 27–28 tahun,”</em></p>
</blockquote>



<p>Ujar Paul Johannes, seorang mahasiswa berumur 25 tahun yang sudah berpenghasilan Rp1,5 juta per bulan dari pekerjaan sampingan. Di sisi lain, dengan impian yang serupa, seorang mahasiswa bernama Karmel Yoyada (20) menuturkan,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Aku mau punya tempat tinggal sendiri, yaitu rumah. Kalau ditanya usia berapa, sih, aku enggak pasang target yang rinci, tapi aku bakal jawab sebelum usia 40 tahun.”</em></p>
</blockquote>



<p>Di waktu yang sekarang, Karmel mengaku bahwa dirinya belum memiliki rencana yang matang untuk mempersiapkan tabungan membeli rumah. Sebatas memikirkan rencana pekerjaan tetap dan sampingan dalam benak, membuatnya cukup khawatir dengan impiannya. “Agak pesimis, <em>sih,</em> karena aku pun belum punya penghasilan dan belum menyisihkan uang jajan untuk <em>savings</em>,” jelasnya.</p>



<p>Berbeda dengan Karmel, Jojo justru memandang impiannya dengan lebih optimis. “Optimis karena <em>income </em>pasti akan semakin naik. Semakin tingginya pengalaman kerja, kita punya <em>value </em>masing-masing yang akan dibayarkan,” tuturnya. Namun, optimismenya tidak datang tanpa konsiderasi. Sama halnya dengan Karmel, keduanya menyadari bahwa kesempatan untuk bekerja dengan gaji yang besar tidak dapat dipastikan. Pun jika penghasilan kian bertambah, inflasi juga meroket. Maka dari itu, Jojo mulai mengatur dan menjalankan strategi.</p>



<p>“Kalau yang aku lakuin sekarang bukan soal nabung, tapi investasi leher ke atas,” ucap Jojo. Dirinya telah belajar secara mandiri tentang saham, <em>cryptocurrency, </em>dan cara kerja dunia keuangan. Latar belakangnya sebagai mahasiswa keuangan turut mendorong kegigihannya dalam belajar. Menurutnya, uang yang hanya diam di rekening tidak akan mampu mengejar harga tempat tinggal yang terus naik. Jika tak ada yang dia lakukan dengan tabungan yang stagnan, probabilitasnya untuk membeli tempat tinggal akan semakin rendah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Terkepung Di Ruang yang Sempit Untuk Menabung</strong></h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Jujur untuk saat ini boros, terutama soal makanan. Impulsif dan FOMO, sih. Jadi kalau temen aku beli apa, aku ikutan. Apalagi, kalau ada embel-embel self reward.” </em>&#8211; Karmel<br><em>“Gaya hidup masih belum stabil. Kadang bisa press, kadang boros tergantung kondisi. Masih banyak pengeluaran yang harus dibayar, sedangkan pendapatan belum banyak.” </em>&#8211; Jojo</p>
</blockquote>



<p>Fenomena ini tak asing di kalangan Gen Z. Meskipun kesadaran finansial sudah mulai tumbuh, tekanan dan konsumsi menjadi tantangan yang besar. Menurut <a href="https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf">Indonesia Gen Z Report 2024</a> yang dirilis oleh IDN Times, Gen Z menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan dasar. Kondisi ini menyisakan ruang yang sempit untuk menabung, apalagi investasi.&nbsp;</p>



<p>Padahal, mereka menyimpan impian yang besar. Berdasarkan laporan yang sama, membeli tempat tinggal menjadi salah satu target Gen Z, selain menyimpan uang untuk pendidikan atau menjadi pengusaha. Namun, keterbatasan finansial membuat ekspektasi mereka tak melambung tinggi. Hanya di garis realistis. Sebanyak 52.5% membatasi anggaran untuk membeli tempat tinggal di angka kurang dari Rp400 juta. Menjadi masuk akal ketika kita melirik pendapatan rata-rata mereka yang masih berkisar di angka Rp2,5 juta. Dibandingkan dengan generasi milenial, Gen Z dinilai memiliki pendapatan<em> </em>yang lebih rendah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Buat Uangmu Lebih Bernilai&nbsp;</strong></h2>



<p>Sama halnya dengan Karmel, menabung tentu bukan menjadi suatu hal yang dapat dilakukan dengan mudah. Hanya dengan sejentik jari, pemasukan yang didapatkan bisa hilang begitu saja. Menutupi segala keperluan yang harus dibayarkan. Atau, kamu sebenarnya semangat untuk menabung tempat tinggal, tetapi harapan dijatuhkan karena melihat harga tempat tinggal yang sulit digapai di tengah krisis ekonomi? Hal ini tidak hanya perihal pengeluaran, tetapi nilai uang yang semakin tergerus karena adanya inflasi. Bayangkan, harga mie ayam yang tadinya senilai Rp2.000 pada tahun 2000, kini menjadi Rp20.000 ke atas.&nbsp;</p>



<p>Situasi demikian dikenal sebagai <em>time value of money</em> yang dimana nilai uang dimasa sekarang akan lebih berharga daripada nilai uang dimasa depan. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk melakukan investasi untuk mempertahankan nilai uang tersebut. Berikut adalah beberapa taktik yang dapat diaplikasikan setelah bekerja dan memiliki tabungan yang cukup stabil.&nbsp;</p>



<p><strong><em>Compounding</em></strong></p>



<p>Dalam buku Principles of Managerial Finance, <em>compounding </em>atau “bunga berbunga” adalah proses di mana uang yang diinvestasikan bisa tumbuh lebih cepat seiring waktu. Ini terjadi karena bunga yang didapatkan dari investasi tidak hanya menambah jumlah awal, tapi juga ikut menghasilkan bunga baru di periode berikutnya. Semakin sering proses ini terjadi, hasil akhirnya akan semakin besar. Mengutip dari Zutter dan Scott Smart, jika bunga terus-menerus dikalikan tanpa henti (<em>continuous compounding</em>) nilai investasi di masa depan bisa menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan metode lainnya. Warren Buffett, pengusaha, investor, sekaligus filantropis asal Amerika Serikat menyebut compounding sebagai kunci utama kekayaannya. Katanya, “<em>My wealth has come from a combination of living in America, some lucky genes, and compound interest.</em>”</p>



<p><strong><em>Margin of Safety</em></strong></p>



<p>Tokoh investor sukses di dunia, Seth Klarman dalam bukunya Margin of Safety: Risk-Averse Value Investing Strategies for the Thoughtful Investor, menekankan pentingnya membeli aset dengan harga yang jauh di bawah nilai wajarnya. Atau, dengan kata lain, “tahan beli aset kalau harganya belum diskon besar.” Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kerugian. Bagi Gen Z yang mau mengejar rumah di tengah harga yang terus melambung, strategi ini dapat menjadi pertimbangan.</p>



<p><strong>Diversifikasi Aset</strong></p>



<p>Diversifikasi adalah cara mengurangi resiko dengan membagi uang ke berbagai jenis investasi. Mengutip dari buku Principles of Managerial Finance, penyimpanan uang di satu jenis tempat akan memberikan resiko kerugian yang lebih tinggi, sehingga sangat disarankan untuk menyebarkannya ke berbagai bentuk. Bisa dalam emas, obligasi, atau saham, atau bentuk investasi lainnya. Jika sudah memiliki modal yang besar, strategi ini menjadi lebih optimal. Pengelolaan yang baik tentu bisa menjadi langkah awal menuju hal besar, seperti membeli rumah yang nilainya bahkan melebihi ekspektasi awal.</p>



<p>Berikut adalah skema yang dapat memberikan gambaran terkait taktik <em>compounding </em>dan diversifikasi Aset. Angka investasi tahunan diperoleh dari selisih rata-rata UMR dan rata-rata kebutuhan hidup per tahun pada Grafik 1.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="724" data-id="3624" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1024x724.png" alt="" class="wp-image-3624" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1024x724.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-300x212.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-768x543.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1536x1086.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice.png 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tabel 1</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="724" data-id="3623" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1-1024x724.png" alt="" class="wp-image-3623" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1-1024x724.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1-300x212.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1-768x543.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1-1536x1086.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Black-and-White-Monochrome-landscape-Business-Invoice-1.png 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tabel 2</figcaption></figure>
</figure>



<p></p>



<p>Tabel 1 menunjukkan gambaran jika sisa uang per bulan yang dapat ditabung, diinvestasikan pada suatu aset yang memiliki tingkat pengembalian 30% per tahun. Ketika dilakukan strategi compounding, maka hasil dari compounding selama 6 tahun adalah Rp299.180.524. Sedangkan, tabel 2 menunjukkan gambaran jika dilakukan diversifikasi aset pada jumlah sisa uang yang sama, maka hasilnya sebesar Rp207.588.811. Konsep diverisikasi memang kurang cocok untuk dilakukan jika modal yang dimiliki masih sedikit, sehingga lebih efektif untuk menggunakan strategi <em>compounding </em>dahulu. Perlu dicatat, kedua tabel tidak termasuk perhitungan kerugian yang mungkin diperoleh.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Akhir Kata</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Kalau harapan sebenarnya enggak bisa berharap ke siapa-siapa. Tapi, kita harus memperhatikan diri sendiri untuk meningkatkan kapabilitas dalam melakukan manajemen keuangan</em>.”</p>
</blockquote>



<p>Faktor eksternal yang bertubi-tubi memang berada di<strong> </strong>luar kendali seseorang. Layaknya bencana yang datang pada perjalanan kita secara tiba-tiba, kita tak bisa memilih dan mengendalikannya. Tapi yang bisa dipastikan adalah bagaimana persiapan kita atau tentang cara kita menyikapinya, sama halnya dalam konteks strategi finansial.&nbsp;</p>



<p>Ingat, stigma Gen Z tidak bisa beli rumah bisa dibantah, jadi punya rumah bukan sekedar mimpi, <em>kok!</em><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/antara-realita-dan-impian-gen-z-untuk-rumah-pertamanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Makara Book Club, Komunitas Baca Buku di Tengah Rendahnya Minat Baca di Indonesia</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/makara-book-club-komunitas-baca-buku-di-tengah-rendahnya-minat-baca-di-indonesia/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/makara-book-club-komunitas-baca-buku-di-tengah-rendahnya-minat-baca-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhamad Rafi Firmansyah Harun]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:10:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Makara Book Club]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3650</guid>

					<description><![CDATA[DEPOK, (04/06/2025) &#8211; Indonesia masih memiliki permasalahan dalam tingkat minat baca. UNESCO pada tahun 2024 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya berkisar di angka 0,001%, dengan kata lain, bila terdapat 1000 orang Indonesia, hanya satu yang gemar membaca....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20241113-WA0011-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-3662" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20241113-WA0011-1024x768.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20241113-WA0011-300x225.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20241113-WA0011-768x576.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20241113-WA0011.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kegiatan Membaca di Kalangan Mahasiswa<br>(Sumber: Dokumentasi Pribadi Komunitas Makara Book Club)</figcaption></figure>



<p>DEPOK, (04/06/2025) &#8211; Indonesia masih memiliki permasalahan dalam tingkat minat baca. UNESCO pada tahun 2024 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya berkisar di angka 0,001%, dengan kata lain, bila terdapat 1000 orang Indonesia, hanya satu yang gemar membaca.</p>



<p>Dilansir dari <a href="https://www.rri.co.id/daerah/649261/unesco-sebut-minat-baca-orang-indonesia-masih-rendah" data-type="link" data-id="https://www.rri.co.id/daerah/649261/unesco-sebut-minat-baca-orang-indonesia-masih-rendah">RRI</a>, Prof. Mochamad Nursalim, seorang dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebutkan bahwa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia bersifat general, tetapi ini juga terjadi di kalangan mahasiswa.</p>



<p>Di tengah fenomena ini, komunitas membaca dapat menjadi satu wadah untuk menambah minat baca. Seperti di Universitas Indonesia (UI), terdapat satu komunitas bernama “Makara Book Club”, yang menjadi wadah bagi para anggotanya dalam menyalurkan hobi membaca dan berdiskusi terkait buku apa yang telah dibaca.</p>



<p>Makara Book Club didirikan oleh Raka Yuda Priyangga dan Azzam Dieter Mahardhikan pada tahun 2023. Berikut ini adalah cerita singkat dari narasumber tentang bagaimana didirikannya komunitas ini:</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/lv_0_20250604094346.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Raka Yuda Priyangga &amp; Azzam Dieter Hamardhikan terkait awal dibentuknya Makara Book Club<br>(Sumber: Hasil Wawancara Penulis)</figcaption></figure>



<p>Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Makara Book Club memiliki tajuk <em>Kobam </em>(Kongkow Baca Makara), yaitu kegiatan berkumpul antar anggota, biasanya berlokasi di sekitar wilayah UI. Dalam kegiatan tersebut, para anggota selain berkumpul, juga membaca buku selama waktu yang ditentukan, dan setelahnya menceritakan apa yang sudah mereka baca serta berdiskusi. Tak jarang, diskusi bahan bacaan juga dilakukan dalam bentuk presentasi menggunakan <em>PowerPoint.</em></p>



<p>Kegiatan lainnya yang dilaksanakan Makara Book Club adalah <em>Baca Pulang Kuliah</em>, yang difokuskan untuk mewadahi anggota yang ingin bersantai setelah menjalani kegiatan perkuliahan. Dalam kegiatan ini, anggota akan membaca buku tanpa diskusi.</p>



<p>Linda Darmajanti, seorang dosen di Universitas Indonesia mengungkapkan pandangannya terkait komunitas ini menurut sosiologi:</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/lv_0_20250604093128.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">dra. Linda Darmajanti terkait kehadiran Makara Book Club dalam perspektif sosiologi<br>(Sumber: Hasil Wawancara Penulis)</figcaption></figure>



<p>Maka dengan kehadiran Makara Book Club, mereka bukan hanya sekadar komunitas membaca. Komunitas ini juga menjadi penting dalam segi sosiologis dengan membuat langkah konkret untuk mewadahi minat membaca dan juga berdiskusi, khususnya untuk mahasiswa dan lingkungan Universitas Indonesia.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/makara-book-club-komunitas-baca-buku-di-tengah-rendahnya-minat-baca-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/lv_0_20250604094346.mp4" length="0" type="video/mp4" />
<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/lv_0_20250604093128.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Lifestyle Wellness Gen Z: Tren atau Konsisten?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Qanita Cahya Najmi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3595</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta (04/06/2025) &#8211; Belakangan ini olahraga seperti padel, pilates, yoga, gym, tenis, marathon, dan lainnya ramai diikuti Gen Z dan milenial akhir. Banyak tren olahraga viral bermunculan lewat media sosial. Peneliti FISIP Unair bahkan menyebut fenomena ini sebagai “FOMO positivity”...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Jakarta (04/06/2025) &#8211;</strong> Belakangan ini olahraga seperti padel, pilates, yoga, gym, tenis, marathon, dan lainnya ramai diikuti Gen Z dan milenial akhir. Banyak tren olahraga viral bermunculan lewat media sosial. Peneliti FISIP Unair bahkan menyebut fenomena ini sebagai <a href="https://fisip.unair.ac.id/fisip-statement-memandang-tren-olahraga-di-kalangan-gen-z-milenial-sebagai-fenomena-fomo-positivity/"><em>“FOMO positivity”</em></a> – ketakutan ketinggalan tren, namun justru memotivasi Gen Z ikut berolahraga demi kesehatan. Misalnya, anak muda saat ini menjadi takut melewatkan gaya hidup sehat dan akhirnya <a href="https://www.idntimes.com/opinion/social/zulfa-ayu-rohmatul-kholiqi/gen-z-dan-fomo-lari-olahraga-atau-ajang-pamer-c1c2#:~:text=mengalaminya%20tanpa%20sadar,ikut%20lagi%20dengan%20tujuan%20kesehatan">rutin lari</a> atau ikut kelas kebugaran.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3638" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beberapa media telah memberitakan topik ini, dan sejumlah riset juga dilakukan untuk menelusuri gaya hidup sehat dan kebugaran di kalangan Gen Z.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Wellness </em></strong><strong>Jadi Prioritas Utama Belanja Gen Z</strong></h2>



<p>Yuk, berkenalan dahulu dengan istilah “<em>Wellness</em>”! Menurut Debbie L. Stoewen dari <em>Dimension of Wellness: Change Your Habits, Change Your Life</em>, <em>Wellness</em> adalah proses aktif untuk mencapai kesehatan di berbagai aspek hidup (fisik, mental, spiritual, sosial, dan lingkungan) yang pada akhirnya mendorong upaya berkelanjutan untuk hidup seimbang dan berkualitas.</p>



<p>Menurut <a href="https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/email/genz/2024/01/2024-01-23d.html#:~:text=Gen%20Zers%20and%20millennials%20are,Kingdom%2C%20and%20the%20United%20States">McKinsey,</a> Gen Z dan milenial menghabiskan lebih banyak untuk produk dan layanan <em>wellness</em> dibanding generasi lain. Fokus pembelanjaan mereka adalah penampilan dan kesehatan; misalnya Gen Z tertarik pada produk kecantikan dan gizi yang mendukung kesehatan tubuh. Bahkan <a href="https://www.entrepreneur.com/business-news/bank-of-america-analysts-wellness-industry-expected-to-boom/489386">Bank of America</a> mencatat rumah tangga Gen Z mengeluarkan rata-rata 2,8 kali lipat anggaran <em>fitness </em>dibanding baby boomer, menggambarkan betapa ambisiusnya generasi muda untuk membagi pengeluaran demi gaya hidup sehat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Distribusi Pengeluaran Gen Z untuk Wellness" src="https://datawrapper.dwcdn.net/EGyJ7/1/#?secret=Ye0ycavJtK" data-secret="Ye0ycavJtK" scrolling="no" frameborder="0" height="400"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Gaya hidup wellness Gen Z juga dibantu teknologi.<a href="https://www.nutraingredients-usa.com/Article/2025/04/17/gen-zs-healthy-habits-explained-5-charts-exploring-the-attitudes-of-a-growing-consumer-demographic/#:~:text=Image%3A%20The%20data%20shows%20that,in%20individuals%20aged%2065"> Sebanyak 79%</a> Gen Z menggunakan aplikasi atau perangkat digital untuk memantau kesehatan dan kebugaran mereka. Kebiasaan ini menunjukkan generasi muda memanfaatkan gadget untuk mencapai tujuan sehat. Pola belanja mereka pun berubah: mulai dari membeli suplemen via e-commerce hingga aplikasi <em>food tracking</em> untuk diet tertentu.</p>



<p>Data terbaru menunjukkan sekitar<a href="https://foodinsight.org/spotlight-generation-z/#:~:text=Eating%20Patterns"> 72% Gen Z </a>mengikuti pola makan khusus dalam setahun terakhir, lebih tinggi dibanding generasi lebih tua. Pola yang populer ini mencakup diet bersih (<em>clean eating</em>) atau <em>plant-based</em> demi kesehatan dan penampilan. Hal ini juga sejalan dengan minat Gen Z pada produk kesehatan, meski banyak fokus pada penampilan, kesadaran makan sehat juga meningkat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Faktor Pendorong: FOMO atau Kesadaran Kesehatan?</strong></h2>



<p>Apa yang sebenarnya mendorong gaya hidup wellness Gen Z? Sebagian terdorong oleh FOMO: rasa takut ketinggalan tren membuat mereka ikut olahraga agar tidak merasa tertinggal, dan malah menjadi rutinitas positif. Di sisi lain, kesadaran kesehatan juga tinggi. <a href="https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/email/genz/2024/01/2024-01-23d.html#:~:text=Our%20research%2C%20by%20McKinsey%20senior,Z%E2%80%99s%20mental%20health%20challenges">McKinsey</a> mencatat Gen Z memprioritaskan kesehatan fisik dan penampilan secara keseluruhan, bukan sekadar ikut-ikutan saja. Kedua faktor ini sering kali bersinergi: FOMO membuat olahraga terasa seru, sedangkan manfaat kesehatan membuatnya berkelanjutan.</p>



<p>Faradilla, 20 tahun, salah satu Gen Z yang aktif, mengaku termotivasi menjaga stamina dan semangat. “Aku olahraga karena ingin tubuh lebih sehat dan fit,” kata Faradilla. <strong>“Biasanya aku yoga dua kali seminggu dan main tenis satu kali seminggu,”</strong> tambahnya. Dia juga menjelaskan mengapa ikut olahraga tertentu: keikutsertaannya di olahraga (misal padel) dipicu ajakan teman. <strong>“Tren padel lagi hits, jadi aku coba sekali. Tapi yoga dan tenis tetap rutin aku lakukan karena itu gaya hidup sehatku</strong>.&#8221;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3620" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla.jpg 960w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Faradilla (kanan) bermain tenis bersama ibunya di sebuah lapangan di Jakarta. Tenis menjadi salah satu rutinitas akhir pekan mereka untuk tetap aktif dan menjaga kesehatan.</figcaption></figure>



<p>Annisa, 20 tahun, mengaku mengikuti kelas pilates karena viral di TikTok. <strong>“Jujur, aku ikut pilates karena lewat di TikTok aku tentang konten pilates,”</strong> katanya. Ia menambahkan, <strong>“Sekarang ini ikut sebulan dua kali cukup. Pastinya dengan tujuan biar badan aku gerak sih, tapi untuk sekarang aku belum konsisten dan belum join </strong><strong><em>members </em></strong><strong>karena masih penasaran sama olahraga lain kayak muaythai, yoga, sama gym.”</strong> Buat Annisa, <em>wellness sometimes is a mood.</em></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3663" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890.jpg 1108w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lari bersama teman juga meningkatkan semangat dan <em>mood</em> Annisa untuk berolahraga.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Konsistensi atau Tren Berganti?</strong></h2>



<p>Gen Z tampak sering mencoba olahraga baru, tapi sebagian juga konsisten. Menurut Faradilla, meski padel sempat coba-coba, Ia tetap kembali ke yoga dan tenis. Banyak anak muda Gen Z tidak punya rencana jangka panjang secara pasti; mereka berolahraga sesuai mood, komunitas, atau tren terkini. Namun karena kesadaran kesehatan, olahraga itu sering berlanjut. Faradilla menekankan pentingnya konsistensi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Senang sih coba <em>sport</em> baru, tapi yang penting aku tetap gerak tiap minggu.&#8221;</p>
</blockquote>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1108" height="1477" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0.jpg" alt="" class="wp-image-3616" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0.jpg 1108w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0-768x1024.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1108px) 100vw, 1108px" /><figcaption class="wp-element-caption">Faradilla mengaku memilih olahraga lari karena fleksibel dilakukan sendiri saat merasa stres juga fleksibel terhadap waktu yang tersedia di sisa kesibukannya.</figcaption></figure>



<p>Sementara itu, Annisa merasa olahraga belum menjadi hal yang bisa konsisten. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Belum nemu satu yang bikin aku betah. Setelah coba beberapa sesi olahraga dan sudah nggak penasaran, biasanya aku mau coba yang lainnya. Kemarin sempat ikut tenis, lalu ganti pilates, sekarang marathon. Mungkin <em>next</em> mau coba gym atau muaythai.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Padahal beberapa analis berpendapat preferensi Gen Z ini bisa jadi bertahan. <a href="https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/future-of-wellness-trends">McKinsey</a> bahkan memperkirakan, kebiasaan-kebiasaan ini bisa menjadi standar baru yang menular ke generasi berikutnya. Mulai dari penggunaan aplikasi kesehatan, bergabung komunitas pilates, sampai pilihan makanan yang bernutrisi, semuanya dijalankan bukan karena hanya ikut-ikutan, namun karena manfaatnya dalam jangka panjang.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Wellness</em> sebagai Gaya Hidup yang Lebih Dari Tren Sesaat</strong></h2>



<p>Melihat data dan tren saat ini, gaya hidup <em>wellness </em>Gen Z lebih dari sekadar tren sesaat. Mereka semakin serius soal olahraga, makan sehat, sampai penggunaan teknologi untuk menjaga tubuh, menunjukkan budaya baru mulai terbentuk. <a href="https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/future-of-wellness-trends">McKinsey</a> menilai preferensi wellness Gen Z bisa menjadi <em>mainstream</em> saat mereka beranjak dewasa. Dari kebiasaan pakai aplikasi kesehatan hingga memilih produk kecantikan yang sehat, semua itu perlahan-lahan menjadi bagian dari budaya hidup sehat versi Gen Z.</p>



<p></p>



<p>Penggunaan AI: sebagai <em>data compiling</em> dan interpretasi, penyusunan outline, dan menyunting kaidah bahasa KBBI dan tanda baca.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibadah Standar TikTok: Kontroversi di Balik Gaya Kajian Kekinian</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Luthfiah.Ningrum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 02:36:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Standar Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Kekinian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3374</guid>

					<description><![CDATA[Bogor (04/06/25)—Media sosial tak hanya mengubah cara anak muda berkomunikasi, tapi juga mempengaruhi cara mereka menjalani kehidupan beragama. Kajian yang dulunya dikenal sebagai ruang memperdalam nilai keislaman, kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup digital anak muda. Istilah “Ibadah Standar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Bogor (04/06/25)</strong>—Media sosial tak hanya mengubah cara anak muda berkomunikasi, tapi juga mempengaruhi cara mereka menjalani kehidupan beragama. Kajian yang dulunya dikenal sebagai ruang memperdalam nilai keislaman, kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup digital anak muda. Istilah “Ibadah Standar TikTok” pun mencuat sebagai gambaran bagaimana spiritualitas kini ikut dibentuk oleh tren dan pola konsumsi konten daring.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Fenomena Kajian Kekinian yang Semakin Populer</strong></h2>



<p>Perkembangan media sosial membuka ruang baru bagi anak muda untuk menjadikan aktivitas kajian sebagai bagian dari identitas sosial mereka. Kehadiran media sosial mendorong kajian tampil lebih dinamis, menarik, dan mudah dijangkau oleh siapa saja.</p>



<p>Dalam konteks ini, sejumlah tokoh agama muda mulai mendapatkan perhatian luas berkat pendekatan mereka yang dianggap lebih dekat dengan kehidupan anak muda.</p>



<p>Salah satunya adalah Ustadz Hanan Attaki (UHA), dai muda asal Aceh yang dikenal dengan gaya dakwah yang santai serta membahas topik-topik yang relevan bagi anak muda, seperti cinta, pergaulan, dan kesehatan mental. </p>



<p>Ia sering menggelar kajian bertajuk &#8220;Sharing Time&#8221; yang diselenggarakan oleh <em>event organizer</em> Ayah Amanah. Acara ini rutin diadakan di <em>ballroom</em> hotel-hotel besar dan berhasil menarik ribuan peserta di berbagai kota.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="608" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-1024x608.png" alt="" class="wp-image-3391" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-1024x608.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-300x178.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-768x456.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3.png 1122w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kajian juga kerap dihadiri oleh artis dan<em> influencer</em> muda seperti Syifa Hadju dan Febby Rastanti. <br>(sumber: unggahan akun Instagram <em>official</em> <em>@ayahamanah)</em><br></figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Ibadah Standar Tiktok?</h2>



<p>Istilah “Ibadah Standar TikTok” muncul sebagai sindiran terhadap tren sebagian peserta kajian yang lebih memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan eksistensi di media sosial dibandingkan mendalami isi kajian. </p>



<p>Fenomena ini terlihat dari banyaknya unggahan yang menampilkan busana syar’i, suasana acara, hingga cuplikan ceramah dengan sentuhan estetika ala TikTok, seperti video “OOTD Kajian” atau klip motivasional berbalut <em>backsound</em> sendu yang viral dan sering dibagikan ulang ribuan kali.</p>



<p>Kondisi ini memicu beragam tanggapan dari warganet, yang mengkritik tren tersebut karena berpotensi mengurangi makna ritual keagamaan menjadi sekadar konten konsumsi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="525" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1024x525.png" alt="" class="wp-image-3392" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1024x525.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-300x154.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-768x394.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2.png 1298w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Contoh sindiran warganet soal &#8220;ibadah standar TikTok&#8221;. <br>(Sumber: dokumentasi pribadi, diambil dari unggahan akun TikTok <em>@dartreith</em> dan <em>@hendyhilzan</em>)<br></figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kajian Kekinian: Kajian atau Ajang Sosial?</strong></h2>



<p>Fenomena kajian kekinian yang dikemas dengan visual yang modern dan menarik tidak lepas dari sorotan publik. Meski berhasil menarik minat anak muda, sebagian pihak mulai mempertanyakan apakah semangat menuntut ilmu masih menjadi tujuan utama. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="598" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-1024x598.png" alt="" class="wp-image-3571" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-1024x598.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-300x175.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-768x449.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7.png 1157w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kumpulan tudingan dan kritik warganet terhadap kajian kekinian.<br>(Sumber: Tangkapan layar pribadi &amp; Kompasiana.co)</figcaption></figure>



<p>Tak sedikit warganet yang menilai bahwa sebagian peserta hanya datang untuk tampil maksimal dengan pakaian terbaik, mencari pasangan, atau hanya ikut-ikutan karena tren di media sosial.</p>



<p>Tak hanya itu, akun Instagram @ayahamanah, yang menjadi kanal promosi utama kajian ini, juga turut menjadi sorotan karena sering menampilkan foto-foto candid peserta perempuan dengan penampilan menarik.</p>



<p>Namun di balik kritik tersebut, ada juga suara yang menyatakan pengalaman spiritual tidak bisa diukur hanya dari visual dan kemasan luar.</p>



<p>Sebagai salah satu peserta kajian yang pernah hadir sebanyak dua kali, Khalisa justru menyayangkan berbagai kritik yang muncul. Baginya, tidak ada salahnya jika seseorang mengikuti kajian karena tren, sebab pada dasarnya hal itu merupakan hal positif.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Menurutku gaada salahnya untuk FOMO dalam hal kebaikan. Kajiannya juga gak cuma bahas cinta-cintaan aja, kok. Apalagi soal outfit, mungkin itu memang ikhtiar atau usaha jamaah untuk memakai baju terbaiknya. bingung juga sih salahnya dimana&#8230;,” Ujar Khalisah saat ditemui pada (30/05/25).</p>
</blockquote>



<p>Ia juga menambahkan bahwa meskipun sebagian peserta merekam kajian, suasana kajian tetap kondusif karena rekaman yang dilakukan peserta hanya berlangsung sesaat di awal, sehingga fokus dan ketenangan acara tetap terjaga.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dituding Dangkal dan Komersil</strong></h2>



<p>Kritik berikutnya datang dari topik dan kedalaman materi kajian. Sebagian menilai isi kajian terkesan terlalu ringan karena sering mengangkat tema cinta dan jodoh, sementara sebagian lainnya mempertanyakan alasan di balik format kajian yang berbayar.</p>



<p>Penulis M. Afiqul Adib, dalam artikel di<a href="https://mojok.co/terminal/unpopular-opinion-kajian-ustaz-hanan-attaki-itu-bukanlah-pengajian-agama/"> Mojok.co</a> mengungkapkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya cukup asing dengan kajian agama yang berbayar. Di desa saya, pengajian itu gratis, meskipun dengan konsumsi seadanya.” tulisnya dalam opini yang diterbitkan Mojok.co, (06/10/24).</p>
</blockquote>



<p>Di sisi lain, pengguna TikTok @lsmailldris melalui <a href="https://vt.tiktok.com/ZSkFFnkqu/">unggahannya</a> pada (20/05/25) menyuarakan kekhawatiran terhadap aspek komersialisasi dan visualisasi dalam kajian semacam ini.&nbsp;</p>



<p>Ia menilai bahwa panitia kerap menaikkan harga tiket secara berlebihan, menghadirkan <em>influencer</em> dakwah yang belum matang secara keilmuan sebagai wajah promosi, serta mengemas dakwah menjadi <em>event</em> eksklusif yang lebih menjual sensasi daripada nilai-nilai Islam.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Yang dijual bukanlah ilmu, melainkan gaya hidup religius yang instan dan sedang tren di kalangan muda,” tulis <a href="https://vt.tiktok.com/ZSkFFnkqu/">@lsmailldris</a> melalui unggahan di TikTok, (04/05/25).</p>
</blockquote>



<p>Kritik-kritik ini membuka diskusi lebih luas tentang apakah dakwah modern perlu dikemas layaknya produk hiburan agar menarik perhatian generasi muda, ataukah justru harus menjaga esensi keagamaan yang lebih mendalam dan sakral.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ustadz Hanan Attaki: Fokus pada Kehidupan Sehari-hari</strong></h2>



<p>Menanggapi kritik terhadap topik kajian yang dinilai terlalu ringan dan bertema cinta-cintaan, Ustadz Hanan Attaki memberikan penjelasan lewat sebuah video yang diunggah oleh EO resmi penyelenggara kajian, Ayah Amanah. Ia menjelaskan bahwa setiap dai memiliki pendekatan dakwah yang berbeda, disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan jamaah.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="720" style="aspect-ratio: 960 / 720;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_8247A397-D8A2-4DDA-95A6-A6CCA13A02E1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Cuplikan tanggapan Ustadz Hanaan Attaki terkait tudingan kajian bertema cinta yang kontoversial.&nbsp;<br>(Sumber: Tiktok @am.event Instagram @ayah_amanah)</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kajian Berbayar: Sekadar Komersialisasi atau Kebutuhan Operasional?</strong></h2>



<p>Meski ada stigma negatif terhadap kajian berbayar, tidak semua pihak memandangnya secara negatif. Ustadz Khalid Basalamah, Lc., M.A, dalam kanal YouTube <a href="https://youtu.be/PenMc0-K7d0?si=I0XFkSwE3QnF57t5">Muslim Creative Media</a> menjelaskan bahwa kajian berbayar dapat dibenarkan jika untuk menutup kebutuhan operasional.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau kajian di masjid kita sepakat gratis, tapi dalam beberapa kondisi seperti dauroh atau seminar yang memerlukan biaya sewa hotel atau ballroom, biaya berbayar itu diperuntukkan untuk hal tersebut. Hal ini diperbolehkan karena tujuannya untuk syiar dan bersifat positif.” ujar Ustadz Khalid Basalamah melalui video di kanal YouTube Muslim Creative Media, (10/02/25).</p>
</blockquote>



<p>Lebih lanjut, Saat dikonfirmasi pada Jumat (23/05/25), Ayah Amanah, penyelenggara resmi kajian terkait, menjelaskan bahwa tiket yang dijual sudah termasuk fasilitas seperti akses kajian di <em>ballroom</em>, e-sertifikat, <em>blok note</em>, pulpen, dan air mineral.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bukan Satu-satunya Jalan, Tapi Bisa Jadi Gerbang Awal</strong></h2>



<p>Bagi banyak orang, justru kajian semacam inilah yang menjadi titik tolak untuk mengenal Islam lebih jauh. Akbar Rayhan Sulaeman, salah satu konten kreator Muslim di TikTok, mengakui bahwa proses hijrahnya dimulai dari mengikuti kajian populer yang berbayar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau saat itu saya tidak memulainya, mungkin sampai hari ini saya belum menginjakkan kaki untuk mengenal Islam lebih jauh, mengenal sunnah, bahkan benar-benar keliru,” tulis Akbar melalui unggahannya di Tiktok pada (02/03/25).</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dukungan dari Tokoh Agama</strong></h2>



<p>Tak hanya itu, dukungan pun datang dari berbagai tokoh agama. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), mengapresiasi potensi dakwah yang menyasar kalangan muda.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya melihat Ustadz Hanan Attaki sangat potensial sebagai dai yang memiliki banyak pengikut di media sosial, dan dakwah beliau menyasar kalangan milenial yang cukup banyak meminati.” ujar Gus Aab kepada <a href="https://khazanah.republika.co.id/berita/rulh2w430/pbnu-nilai-hanan-attaki-potensial-untuk-akomodasi-pemuda-hijrah">Republika.co.id</a>, (13/05/2023).</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu, Ustadz Mahardika, pembina Gerakan Dakwah Muda Bogor, menyatakan bahwa  proses  hijrah adalah perjalanan yang bertahap dan pendekatan yang ringan memang dibutuhkan bagi mereka yang baru mulai belajar tentang islam.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Pendekatan yang ringan memang dibutuhkan untuk kalangan yang baru mulai belajar. Dakwah itu bertahap. Kita tidak bisa paksa semua orang langsung terjun ke materi akidah yang berat. Yang penting semangatnya terus tumbuh,”&nbsp;ujar Ustadz Mahardika, dalam wawancara pada (02/06/23).</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Estetika Menuju Esensi</strong></h2>



<p>Fenomena kajian kekinian dan tren “Ibadah Standar TikTok” menunjukkan bahwa spiritualitas kini berjalan seiring dengan budaya digital.&nbsp;</p>



<p>Di satu sisi, pendekatan visual dan gaya kekinian mampu menjangkau audiens baru dan membuka pintu untuk pemahaman Islam yang lebih dalam. Di sisi lain, kekhawatiran soal komersialisasi dan dangkalnya substansi menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara kemasan dan esensi.</p>



<p>Pada akhirnya, keberagamaan di era digital tidak bisa dinilai dari tampilan luar semata. Setiap individu memiliki proses spiritualnya masing-masing. Alih-alih saling menyalahkan, kini saatnya kita mulai membuka ruang untuk saling memahami.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_8247A397-D8A2-4DDA-95A6-A6CCA13A02E1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Merakyat Lewat Digital: Kenapa Politisi Semakin Gencar Kampanye Melalui Sosial Media?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 02:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kang dedi mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3439</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong. Apa, sih, yang membuat media sosial begitu “menggoda” bagi para politisi di berbagai belahan dunia?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1920" style="aspect-ratio: 1080 / 1920;" width="1080" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Video kompilasi perbedaan pendekatan konten media sosial dari tiga politisi dari Indonesia, Singapura, dan India.<br>Visual: Unsplash dan Instagram @dedimulyadi71@lawrencewongst dan @narendramodi</figcaption></figure>



<p>Lanskap politik dalam negeri baru-baru ini dihebohkan dengan aktivitas digital Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, yang dijuluki “gubernur konten”. Berkat konten-konten sosial medianya, KDM kini berhasil meraup 4.6 juta pengikut dengan rata-rata puluhan ribu <em>likes </em>pada setiap postingannya di Instagram. Konten-kontennya ini berhasil menangkap perhatian dan sorotan dari tak hanya masyarakat Jawa Barat, tetapi juga masyarakat lintas daerah.</p>



<p>Namun, fenomena politisi yang ‘social media savvy’ tidak hanya terjadi di Indonesia. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan kebijakan pemmerintah dan memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah pusat. Dengan angle kamera yang sinematik, penyuntingan video yang dinamis, serta gaya bicara yang lugas, Lawrence mencuri perhatian dan simpati masyarakat Singapura, bahkan dipuji oleh masyarakat negara tetangga.</p>



<p>India pun tidak ketinggalan dalam tren ini. Perdana Menteri Narendra Modi, dengan 95.9 juta pengikut di Instagram, memiliki kehadiran digital yang luar biasa. Melalui <em>feed</em>-nya, ia membagikan cuplikan perbincangan di <em>podcast</em>, konten ceramah, hingga aktivitas sehari-hari yang dikemas secara menarik. Setiap unggahannya mampu meraup jutaan <em>likes </em>dan memiliki <em>engagement </em>tinggi untuk seorang politisi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png" alt="" class="wp-image-3589" style="width:724px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Infografik <em>insights</em> media sosial tiga politisi internasional.<br>Foto: ANTARA</figcaption></figure>
</div>


<p>KDM, Lawrence Wong, hingga Narendra Modi adalah tiga dari sekian banyaknya politisi internasional yang gencar menggunakan sosial media. <em>Well</em>, keputusan mereka ini bukan sebatas karena ingin saja, tetapi karena memang sistem politik kini sangat dipengaruhi dan disesuaikan dengan demand dari media massa selayaknya yang diungkapkan oleh Hjarvard (2008) dalam Croteau &amp; Hoynes (2019). Fenomena ini kerap disebut dengan<strong> <em>the mediatization of politics </em>atau mediatisasi politik.</strong></p>



<p>Pengaruh media terhadap dunia politik ini secara jelasnya bisa kita lihat melalui bagaimana para politisi melakukan kampanye di sosial media maupun memimpin daerahnya dengan bantuan media. Politisi yang semakin terdorong untuk jago <em>ngonten</em> dan tampil santai di depan kamera juga balik lagi, karena efek mediatisasi politik itu sendiri.</p>



<p>Aktivitas sosial media politisi tidak lepas dari campur tangan tim konten, sosial media, ataupun hubungan masyarakat mereka. Melansir <a href="https://www.tempo.co/politik/dedi-mulyadi-punya-tim-konten-dengan-7-videografer-1483721">Tempo </a>(04/16/2025), KDM memiliki tim kontennya sendiri yang terdiri dari 7 orang videografer yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan Dedi dari berbagai sisi.</p>



<p>Konten media sosial berperan penting dalam lanskap politik modern, terutama karena pertimbangan individu dalam menentukan pilihan politik telah berubah. Croteau &amp; Hoynes (2019) dalam buku Media/Society mengungkapkan bahwa pergeseran ini terjadi ketika pola pemilihan yang sebelumnya didasarkan pada afiliasi partai kini justru lebih berdasarkan kepribadian sang kandidat.</p>



<p>Penggunaan sosial media memberikan keuntungan signifikan bagi politisi. Alih-alih bergantung pada media berita untuk menyebarkan informasi kampanye atau pesan komunikasi mereka, media sosial memungkinkan politisi memproduksi dan mendistribusikan konten secara mandiri. Dengan itu, mereka memiliki kendali penuh atas pesan yang ingin disampaikan. Tak hanya itu, konten di media sosial pun lebih berpotensi untuk viral karena mudah dibagikan antar masyarakat sehingga memperluas jangkauan pesan yang secara sekilas tampak, organik dan otentik.</p>



<p>Namun, benarkah konten media sosial politisi itu organik dan otentik? Ya, selayaknya iklan, konten media sosial politisi sebenarnya merupakan hasil orkestrasi tim yang telah dirancang secara cermat. Konten-konten ini tentunya sudah dikalkulasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dari sang politisi, entah itu mengkomunikasikan kebijakan, mempengaruhi pilihan politik, dan sebagainya.</p>



<p>Kami bertanya kepada masyarakat Jawa Barat terkait tanggapan mereka terhadap aktivitas digital KDM. Bagaimana pandangan mereka terhadap fenomena ini dan terhadap julukan “gubernur konten” yang disematkan kepada Dedi Mulyadi?</p>



<p><em>Turns out</em>, mereka cukup pro dan kontra, <em>lho</em>. Misalnya, Dimas Muhammad Diariefaundra, kerap disapa dengan nama Dimas, mengungkapkan kalau ia cukup senang karena setidaknya ia bisa mengetahui seluk beluk kegiatan yang dilakukan seorang pejabat publik di Jawa Barat. Menurutnya, <em>fair enough</em>, <em>kok</em>, kalo KDM disebut-sebut sebagai “gubernur konten” karena memang ia sudah <em>ngonten </em>jauh sebelum mencalonkan diri sebagai gubernur. “KDM itu menurut gue memang sosok gubernur yang cocok sama karakteristik masyarakat Jawa Barat, dari mulai ia pakai bahasa pengantar Sunda, suka dialog sama rakyat, dan ya jadi lebih deket sama masyarakatnya,” ujar Dimas.</p>



<p>Lain hal dengan Rafi Firmansyah. Sebagai seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang seumur hidupnya tinggal di Jawa Barat, Rafi sudah banyak mendengar tentang KDM. Di satu sisi, ia mendengar dari sesama warga Jawa Barat lainnya bahwa konten KDM membuatnya terasa dekat dengan masyarakat. Namun, di sisi lain, ia menganggap semua konten KDM tidak lebih dari sekedar pencitraan. &#8220;Bukan berarti gue bilang cara yang dia pake ini jelek, tapi ada kekhawatiran bahwa manuver politik ini sebatas cari dukungan untuk maju ke pemilihan aja, jadi gue skeptis dan merasa lebih baik untuk terus mengkritisi aksi KDM,&#8221; ungkapnya. </p>



<p>Ketika Rafi melihat konten ini sebagai pencitraan, Naila Sitti Khalisha atau Naila menyebutnya sebagai gimik.  &#8220;Kalau dari aku sendiri ngeliatnya kayak <em>he&#8217;s full of gimmicks</em> jadi<em> i can&#8217;t take him seriously</em>. Menurut aku, seorang gubernur Jawa Barat itu gak seharusnya tampil di publik dengan citra seperti ini,&#8221; ujar Naila. Naila tak menampis bahwa memang ini sebuah taktik untuk lebih relevan dan dekat dengan masyarakat, tetapi, ia melihat bahwa konten seperti ini sangat dibalut dengan sensasi dramatis layaknya sinetron. Terlebih, Naila mengungkit klaim netizen bahwa salah satu konten KDM itu <em>settingan. </em>Ini yang mendorong Naila untuk cenderung mendiskreditkan konten yang dibuat KDM dan melihatnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat dan bukan benar-benar yang terjadi di lapangan.  </p>



<p>Nah, oleh karena itu, apa, <em>sih</em>, sebenarnya yang perlu kamu awasi dan kamu lakukan jika ketemu konten-konten media sosial politisi? Secara umumnya, tak ada yang salah kok dengan politisi yang melek media sosial. Justru, itu bisa jadi salah satu cara bagi kita untuk mengenal para politisi yang bertanggung jawab atas kesejahteraan hidup masyarakat suatu daerah. Jadi, tenang saja, konten-konten tersebut tak perlu kamu jauhi, tapi jangan pula ditelan mentah-mentah, ya.</p>



<p>Melainkan, <strong>coba untuk lebih kritis terhadap konten-konten tersebut</strong>. <em>Take it with a grain of salt </em>alias terima informasi dan pesannya dengan hati-hati. Tonton dengan kesadaran bahwa konten yang dipublikasikan itu merupakan hasil rancangan dan penyusunan yang terkalkulasi oleh sang politisi dan timnya. Cek kembali fakta yang disampaikan oleh sang politisi dan tentukan pilihan politikmu jangan hanya berdasarkan kepribadian mereka yang kamu lihat di sosial media, tapi, yuk telusuri kembali seluk beluk dan kebijakan yang mereka canangkan!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
