<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lifestyle &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/category/feature/lifestyle/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2025 04:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Lifestyle &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Langkah Hijau Coldplay melalui Music of the Spheres Tour</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 5 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 14:26:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Coldplay]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Sustanability]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan Music of the Spheres...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.</p>



<p>Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan <em>Music of the Spheres Tour </em>pada 14 Oktober 2021, antusiasme publik tidak hanya datang dari penggemar musik, tetapi juga mereka yang penasaran: <strong>&#8220;Bisakah tur stadion berskala global menjadi lebih ramah lingkungan?&#8221;</strong></p>



<p>Tur ini kemudian berkembang menjadi lebih dari 130 pertunjukan di berbagai negara. Melalui <em>Music of the Spheres Tour</em>, Coldplay menjadikannya sebagai arena eksperimen besar tentang bagaimana elemen hiburan dan berkelanjutan dapat berjalan secara berdampingan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Persebaran Music of the Spheres Tour (2022-2025)" src="https://datawrapper.dwcdn.net/Jgu0G/3/#?secret=8IckfWG28g" data-secret="8IckfWG28g" scrolling="no" frameborder="0" height="413"></iframe></div>
</div></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_Spheres_World_Tour#Tour_dates">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay mulai dikenal luas lewat album <em>Parachutes</em> (2000) dengan <em>single</em> “Yellow.” Popularitas mereka mencapai puncak di era <em>Viva la Vida </em>(2008). Dalam dekade berikutnya, Coldplay membangun identitas baru sebagai <em>band</em> stadion dengan visual penuh warna, kembang api, dan gelang LED (<em>xyloband</em>). Transformasi ini memperkuat posisi Coldplay sebagai salah satu <em>band</em> paling berpengaruh di dunia.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe title="Spotify Embed: Parachutes" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/6ZG5lRT77aJ3btmArcykra?si=2qj4kL9-QeeOnPLBKn4kdg&amp;utm_source=oembed"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Skala <em>Music of the Spheres Tour</em> membuatnya nyaris mustahil diabaikan. Tercatat hingga tahun 2025, lebih dari 10,3 juta orang telah menonton tur ini, membuatnya menduduki peringkat pertama dalam daftar konser yang paling banyak dihadiri sepanjang masa.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="7238e9ce-4671-433e-bfbc-846b209e5b3c" data-type="interactive" data-title="Tur Konser Paling Banyak Didatangi"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/tur-konser-paling-banyak-didatangi-1hxj48mq7gmoq2v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Tur Konser Paling Banyak Didatangi</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most-attended_concert_tours">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Apa yang membuat tur ini berbeda bukan hanya dari kemegahannya, melainkan komitmen untuk merancang ulang bagaimana konser berskala stadion dengan visual megah tetap dapat dijalankan dengan prinsip keberlanjutan tanpa mengorbankan pengalaman penonton.<br><br>Coldplay merancang tur ini dengan tiga prinsip utama:&nbsp;</p>



<p><strong>1. <em>Reduce</em></strong><em> </em>→ Mengurangi konsumsi dan emisi CO₂ hingga 50% serta daur ulang secara ekstensif.</p>



<p><strong>2. <em>Reinvent</em></strong><em> </em>→ Mendukung teknologi hijau terbarukan dan mengembangkan metode tur berkelanjutan yang sangat rendah karbon.</p>



<p><strong>3. <em>Restore</em></strong><em> </em>→ Mendanai proyek berbasis alam dan teknologi yang dapat menyerap CO₂.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>1. Reduce</strong></p>



<p>Coldplay secara terbuka menyatakan target pengurangan emisi CO₂ sebesar 50% dibandingkan tur sebelumnya, <em>A Head Full of Dreams Tour</em> (2016–2017). Prinsip <em>reduce </em>menjadi langkah pertama dengan mengurangi konsumsi energi dan material sejak tahap perancangan.</p>



<p>Pada level produksi, tim tur menata ulang sistem energi dan logistik untuk menghemat konsumsi listrik, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, serta mengoptimalkan rute pengiriman peralatan.</p>



<p>Komponen ikonik seperti gelang LED atau <em>xyloband </em>diproduksi untuk dapat dipakai berulang kali. Coldplay juga menampilkan persentase pengembalian <em>xyloband </em>di layar stadion, menciptakan elemen kompetitif yang positif bagi penonton di setiap negara.</p>


<div class="flourish-embed flourish-bar-chart-race" data-src="visualisation/25786470"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/25786470/thumbnail" width="100%" alt="bar-chart-race visualization" /></noscript></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.instagram.com/p/C4cxQMKynhD/?img_index=2">Eventori.id</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“… jadi kayak trigger gitu loh buat setiap negara, kayak biar masuk di ranking yang bagus gitu, walaupun Indonesia kayak kemarin kurang sih, karena banyak yang nggak balikin (xyloband) juga kan.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p>Selain itu, tim produksi juga beralih ke material berbasis tanaman dan komponen yang dapat dikompos atau didaur ulang. Strategi ini mendukung tingginya angka <em>diversion rate </em>(sampah yang dialihkan dari TPA) di laporan keberlanjutan.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="20308377-a2ff-4647-89f5-91938c2a612f" data-type="interactive" data-title="Air Isi Ulang (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/air-isi-ulang-coldplay-1h9j6q758k79v4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Air Isi Ulang (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center" style="font-size:13px">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Di setiap penyelenggaraan konser, Coldplay menghimbau penonton untuk membawa botol isi ulang sendiri karena tempat pengisian air minum disediakan di tiap sudut guna menghindari penumpukan sampah botol.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>2. Reinvent</strong></p>



<p>Prinsip <em>reinvent </em>menyoroti cara baru memproduksi dan memanfaatkan energi dalam konser. Kebutuhan energi untuk menghidupkan teknologi dihubungkan oleh Coldplay dengan aktivitas penonton yang dapat berpartisipasi mengisi pasokan energi panggung.</p>



<p>Di area <em>standing</em>, penonton dapat menemukan <em>kinetic dance floor </em>yang dirancang khusus untuk memproses tekanan dan gerakan kaki menjadi energi listrik. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="682" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-4278" style="aspect-ratio:1.5014809041309432;width:430px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x200.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-768x512.png 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Billboard.com</a></p>



<p>Di titik lain, tersedia <em>power bikes</em> yang memungkinkan penonton menghasilkan energi sambil mengayuh. Kedua instalasi ini menunjukkan bahwa gerakan tubuh penonton dapat diubah menjadi listrik.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png" alt="" class="wp-image-4280" style="width:423px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png 600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3-300x200.png 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Coldplay</a></p>



<p>Coldplay juga membawa panel surya portabel untuk membantu pasokan energi, serta sistem baterai yang berasal dari baterai bekas mobil listrik BMW i3 yang didaur ulang. Teknologi ini menunjukkan bahwa konser tidak harus bergantung pada generator diesel, tetapi dapat didukung oleh energi terbarukan.<br><br>Tahap <em>reinvent </em>membuat <em>green concept </em>dapat dialami penonton selama konser. Lebih dari sekadar menghadirkan panggung yang megah, Coldplay menunjukkan bahwa konser dapat berlangsung dengan pilihan energi yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>3. Restore</strong></p>



<p>Prinsip <em>restore </em>menegaskan komitmen Coldplay dalam menempatkan tur sebagai sumber dana bagi pemulihan lingkungan. Target utamanya adalah penanaman tujuh juta pohon, satu untuk setiap penonton konser. Program ini berkolaborasi dengan organisasi seperti One Tree Planted dan mendukung proyek restorasi sekitar 10.000 hektare di 24 negara.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="1c8ece3d-45d0-4ad7-bfbc-1e8612c5fe1f" data-type="interactive" data-title="7 Juta Pohon (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/7-juta-pohon-coldplay-1h984wv105gzz2p" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">7 Juta Pohon (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay juga bermitra dengan organisasi lingkungan lainnya, seperti ClientEarth yang berfokus pada advokasi hukum, The Ocean Cleanup dan Project Seagrass yang bekerja di ranah laut, dan Climeworks yang mengembangkan teknologi penangkapan karbon. Di Jakarta, penonton mengenal restorasi ini melalui kapal <em>interceptor</em> yang mengumpulkan sampah sungai.</p>



<p><em>Coldplay Sustainability Report </em>(2024) menjadi dasar untuk menilai efektivitas prinsip-prinsip tersebut. Dibandingkan tur sebelumnya, <em>Music of the Spheres Tour </em>melaporkan pengurangan emisi sekitar 59% CO₂e. Energi yang digunakan rata-rata sekitar 17 kWh energi per konser, bersumber dari panel surya, <em>kinetic dance floor</em>, dan <em>power bikes</em>.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 93.86% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/a29b6324-4279-4c0a-b19f-574053dc9ef3?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan kWh (Coldplay)" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-kwh-coldplay-1h984wv1nmpoz2p" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan kWh (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Sekitar 72% sampah konser berhasil dialihkan dari TPA melalui daur ulang, kompos, dan sistem pengelolaan lain. Di sektor transportasi, Coldplay melaporkan penghematan sekitar 3.000 tCO₂e dari penggunaan <em>Sustainable Aviation Fuel </em>(SAF) untuk sebagian perjalanan udara, serta penurunan sekitar 33% dampak <em>freight </em>akibat pengurangan volume dan berat peralatan yang diangkut.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="bf64bf1d-9d5e-4fab-b814-cc6ccdf1340e" data-type="interactive" data-title="Sisa Sampah"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/sisa-sampah-1hxj48mq7g0752v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Sisa Sampah</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:30px"><strong>Apa yang dapat diperbaiki?</strong></p>



<p>Dari perspektif penonton, <em>Music of the Spheres Tour</em> dianggap berhasil menggabungkan konser stadion yang magis dengan pesan-pesan keberlanjutan lingkungan. Namun, terdapat beberapa catatan yang menunjukkan ruang perbaikan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“Cuma mungkin ada beberapa hal yang kayak F&amp;B-nya itu lumayan antre panjang banget dan susah banget buat nyari makan di dalam.”&nbsp;– Ayesha</em><br><br><em>“&#8230;kita tuh diwajibkan untuk ngembaliin gelang kan, cuma kemarin tuh pengawasannya (kru konser) kurang banget. Jadi makanya banyak orang yang lost nggak ngembaliin ini (xyloband).” – Annisa</em></p>
</blockquote>



<p>Di Jakarta, antrean F&amp;B dan <em>water station</em> yang terbatas membuat penonton kesulitan mengakses makanan dan minuman. Titik pengembalian <em>xyloband </em>juga dinilai kurang jelas dan pengawasannya minim, sehingga masih banyak gelang LED yang tidak dikembalikan.</p>



<p>Salah satu penonton konser di Singapura juga mengusulkan agar informasi visual mengenai data <em>real-time </em>ditampilkan lebih banyak sebelum konser dimulai, seperti berapa energi yang dihasilkan <em>kinetic dance floor</em>, berapa persen gelang yang sudah kembali, atau dampak proyek restorasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;mungkin bisa disediakan lebih banyak info yang visual gitu jadi misalnya layar khusus sebelum konsernya dimulai jadi kayak ngejelasin data real time-nya tuh gimana, terus juga mungkin kemarin karena tempat refill airnya tuh juga sedikit gitu kan jadi menurut aku mendingan banyak supaya ngantrinya nggak terlalu panjang gitu di setiap tempat itu nih refill airnya.” – Naura</em></p>
</blockquote>



<p>Meskipun demikian, para informan sepakat bahwa konser seperti ini efektif sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan. Skala internasional, figur ternama, dan kehadiran jutaan penonton membuat pesan keberlanjutan tersebar jauh melampaui stadion.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;konser musik ini kan skalanya internasional ya, dan artisnya pun juga artis besar banget. Jadi orang-orang pun, baik yang nonton maupun gak nonton jadi punya kesadaran terhadap isu lingkungan itu sendiri sih.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p><em>Music of the Spheres Tour</em> menunjukkan bahwa konser tidak akan pernah sepenuhnya “hijau”, tetapi dapat bergerak ke arah yang lebih bertanggung jawab. Melalui kombinasi desain tur, teknologi, data, dan pengalaman penonton.</p>



<p>Coldplay membuka kemungkinan baru: <strong>konser sebagai petualangan musik yang tidak hanya menyatukan jutaan suara, tetapi juga menyatukan langkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan</strong>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe title="Coldplay: Sustainability Video [2022]" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/y89U96H6AgU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lifestyle Wellness Gen Z: Tren atau Konsisten?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Qanita Cahya Najmi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3595</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta (04/06/2025) &#8211; Belakangan ini olahraga seperti padel, pilates, yoga, gym, tenis, marathon, dan lainnya ramai diikuti Gen Z dan milenial akhir. Banyak tren olahraga viral bermunculan lewat media sosial. Peneliti FISIP Unair bahkan menyebut fenomena ini sebagai “FOMO positivity”...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Jakarta (04/06/2025) &#8211;</strong> Belakangan ini olahraga seperti padel, pilates, yoga, gym, tenis, marathon, dan lainnya ramai diikuti Gen Z dan milenial akhir. Banyak tren olahraga viral bermunculan lewat media sosial. Peneliti FISIP Unair bahkan menyebut fenomena ini sebagai <a href="https://fisip.unair.ac.id/fisip-statement-memandang-tren-olahraga-di-kalangan-gen-z-milenial-sebagai-fenomena-fomo-positivity/"><em>“FOMO positivity”</em></a> – ketakutan ketinggalan tren, namun justru memotivasi Gen Z ikut berolahraga demi kesehatan. Misalnya, anak muda saat ini menjadi takut melewatkan gaya hidup sehat dan akhirnya <a href="https://www.idntimes.com/opinion/social/zulfa-ayu-rohmatul-kholiqi/gen-z-dan-fomo-lari-olahraga-atau-ajang-pamer-c1c2#:~:text=mengalaminya%20tanpa%20sadar,ikut%20lagi%20dengan%20tujuan%20kesehatan">rutin lari</a> atau ikut kelas kebugaran.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1024x576.png" alt="" class="wp-image-3638" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/cover-jurnalonline.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beberapa media telah memberitakan topik ini, dan sejumlah riset juga dilakukan untuk menelusuri gaya hidup sehat dan kebugaran di kalangan Gen Z.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Wellness </em></strong><strong>Jadi Prioritas Utama Belanja Gen Z</strong></h2>



<p>Yuk, berkenalan dahulu dengan istilah “<em>Wellness</em>”! Menurut Debbie L. Stoewen dari <em>Dimension of Wellness: Change Your Habits, Change Your Life</em>, <em>Wellness</em> adalah proses aktif untuk mencapai kesehatan di berbagai aspek hidup (fisik, mental, spiritual, sosial, dan lingkungan) yang pada akhirnya mendorong upaya berkelanjutan untuk hidup seimbang dan berkualitas.</p>



<p>Menurut <a href="https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/email/genz/2024/01/2024-01-23d.html#:~:text=Gen%20Zers%20and%20millennials%20are,Kingdom%2C%20and%20the%20United%20States">McKinsey,</a> Gen Z dan milenial menghabiskan lebih banyak untuk produk dan layanan <em>wellness</em> dibanding generasi lain. Fokus pembelanjaan mereka adalah penampilan dan kesehatan; misalnya Gen Z tertarik pada produk kecantikan dan gizi yang mendukung kesehatan tubuh. Bahkan <a href="https://www.entrepreneur.com/business-news/bank-of-america-analysts-wellness-industry-expected-to-boom/489386">Bank of America</a> mencatat rumah tangga Gen Z mengeluarkan rata-rata 2,8 kali lipat anggaran <em>fitness </em>dibanding baby boomer, menggambarkan betapa ambisiusnya generasi muda untuk membagi pengeluaran demi gaya hidup sehat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Distribusi Pengeluaran Gen Z untuk Wellness" src="https://datawrapper.dwcdn.net/EGyJ7/1/#?secret=Ye0ycavJtK" data-secret="Ye0ycavJtK" scrolling="no" frameborder="0" height="400"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Gaya hidup wellness Gen Z juga dibantu teknologi.<a href="https://www.nutraingredients-usa.com/Article/2025/04/17/gen-zs-healthy-habits-explained-5-charts-exploring-the-attitudes-of-a-growing-consumer-demographic/#:~:text=Image%3A%20The%20data%20shows%20that,in%20individuals%20aged%2065"> Sebanyak 79%</a> Gen Z menggunakan aplikasi atau perangkat digital untuk memantau kesehatan dan kebugaran mereka. Kebiasaan ini menunjukkan generasi muda memanfaatkan gadget untuk mencapai tujuan sehat. Pola belanja mereka pun berubah: mulai dari membeli suplemen via e-commerce hingga aplikasi <em>food tracking</em> untuk diet tertentu.</p>



<p>Data terbaru menunjukkan sekitar<a href="https://foodinsight.org/spotlight-generation-z/#:~:text=Eating%20Patterns"> 72% Gen Z </a>mengikuti pola makan khusus dalam setahun terakhir, lebih tinggi dibanding generasi lebih tua. Pola yang populer ini mencakup diet bersih (<em>clean eating</em>) atau <em>plant-based</em> demi kesehatan dan penampilan. Hal ini juga sejalan dengan minat Gen Z pada produk kesehatan, meski banyak fokus pada penampilan, kesadaran makan sehat juga meningkat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Faktor Pendorong: FOMO atau Kesadaran Kesehatan?</strong></h2>



<p>Apa yang sebenarnya mendorong gaya hidup wellness Gen Z? Sebagian terdorong oleh FOMO: rasa takut ketinggalan tren membuat mereka ikut olahraga agar tidak merasa tertinggal, dan malah menjadi rutinitas positif. Di sisi lain, kesadaran kesehatan juga tinggi. <a href="https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/email/genz/2024/01/2024-01-23d.html#:~:text=Our%20research%2C%20by%20McKinsey%20senior,Z%E2%80%99s%20mental%20health%20challenges">McKinsey</a> mencatat Gen Z memprioritaskan kesehatan fisik dan penampilan secara keseluruhan, bukan sekadar ikut-ikutan saja. Kedua faktor ini sering kali bersinergi: FOMO membuat olahraga terasa seru, sedangkan manfaat kesehatan membuatnya berkelanjutan.</p>



<p>Faradilla, 20 tahun, salah satu Gen Z yang aktif, mengaku termotivasi menjaga stamina dan semangat. “Aku olahraga karena ingin tubuh lebih sehat dan fit,” kata Faradilla. <strong>“Biasanya aku yoga dua kali seminggu dan main tenis satu kali seminggu,”</strong> tambahnya. Dia juga menjelaskan mengapa ikut olahraga tertentu: keikutsertaannya di olahraga (misal padel) dipicu ajakan teman. <strong>“Tren padel lagi hits, jadi aku coba sekali. Tapi yoga dan tenis tetap rutin aku lakukan karena itu gaya hidup sehatku</strong>.&#8221;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3620" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/faradilla.jpg 960w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Faradilla (kanan) bermain tenis bersama ibunya di sebuah lapangan di Jakarta. Tenis menjadi salah satu rutinitas akhir pekan mereka untuk tetap aktif dan menjaga kesehatan.</figcaption></figure>



<p>Annisa, 20 tahun, mengaku mengikuti kelas pilates karena viral di TikTok. <strong>“Jujur, aku ikut pilates karena lewat di TikTok aku tentang konten pilates,”</strong> katanya. Ia menambahkan, <strong>“Sekarang ini ikut sebulan dua kali cukup. Pastinya dengan tujuan biar badan aku gerak sih, tapi untuk sekarang aku belum konsisten dan belum join </strong><strong><em>members </em></strong><strong>karena masih penasaran sama olahraga lain kayak muaythai, yoga, sama gym.”</strong> Buat Annisa, <em>wellness sometimes is a mood.</em></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-768x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3663" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-768x1024.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__119119890.jpg 1108w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lari bersama teman juga meningkatkan semangat dan <em>mood</em> Annisa untuk berolahraga.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Konsistensi atau Tren Berganti?</strong></h2>



<p>Gen Z tampak sering mencoba olahraga baru, tapi sebagian juga konsisten. Menurut Faradilla, meski padel sempat coba-coba, Ia tetap kembali ke yoga dan tenis. Banyak anak muda Gen Z tidak punya rencana jangka panjang secara pasti; mereka berolahraga sesuai mood, komunitas, atau tren terkini. Namun karena kesadaran kesehatan, olahraga itu sering berlanjut. Faradilla menekankan pentingnya konsistensi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Senang sih coba <em>sport</em> baru, tapi yang penting aku tetap gerak tiap minggu.&#8221;</p>
</blockquote>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1108" height="1477" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0.jpg" alt="" class="wp-image-3616" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0.jpg 1108w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0-225x300.jpg 225w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22888454_0-768x1024.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1108px) 100vw, 1108px" /><figcaption class="wp-element-caption">Faradilla mengaku memilih olahraga lari karena fleksibel dilakukan sendiri saat merasa stres juga fleksibel terhadap waktu yang tersedia di sisa kesibukannya.</figcaption></figure>



<p>Sementara itu, Annisa merasa olahraga belum menjadi hal yang bisa konsisten. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Belum nemu satu yang bikin aku betah. Setelah coba beberapa sesi olahraga dan sudah nggak penasaran, biasanya aku mau coba yang lainnya. Kemarin sempat ikut tenis, lalu ganti pilates, sekarang marathon. Mungkin <em>next</em> mau coba gym atau muaythai.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Padahal beberapa analis berpendapat preferensi Gen Z ini bisa jadi bertahan. <a href="https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/future-of-wellness-trends">McKinsey</a> bahkan memperkirakan, kebiasaan-kebiasaan ini bisa menjadi standar baru yang menular ke generasi berikutnya. Mulai dari penggunaan aplikasi kesehatan, bergabung komunitas pilates, sampai pilihan makanan yang bernutrisi, semuanya dijalankan bukan karena hanya ikut-ikutan, namun karena manfaatnya dalam jangka panjang.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Wellness</em> sebagai Gaya Hidup yang Lebih Dari Tren Sesaat</strong></h2>



<p>Melihat data dan tren saat ini, gaya hidup <em>wellness </em>Gen Z lebih dari sekadar tren sesaat. Mereka semakin serius soal olahraga, makan sehat, sampai penggunaan teknologi untuk menjaga tubuh, menunjukkan budaya baru mulai terbentuk. <a href="https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/future-of-wellness-trends">McKinsey</a> menilai preferensi wellness Gen Z bisa menjadi <em>mainstream</em> saat mereka beranjak dewasa. Dari kebiasaan pakai aplikasi kesehatan hingga memilih produk kecantikan yang sehat, semua itu perlahan-lahan menjadi bagian dari budaya hidup sehat versi Gen Z.</p>



<p></p>



<p>Penggunaan AI: sebagai <em>data compiling</em> dan interpretasi, penyusunan outline, dan menyunting kaidah bahasa KBBI dan tanda baca.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/lifestyle-wellness-gen-z-tren-atau-konsisten/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibadah Standar TikTok: Kontroversi di Balik Gaya Kajian Kekinian</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Luthfiah.Ningrum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 02:36:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Standar Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Kekinian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3374</guid>

					<description><![CDATA[Bogor (04/06/25)—Media sosial tak hanya mengubah cara anak muda berkomunikasi, tapi juga mempengaruhi cara mereka menjalani kehidupan beragama. Kajian yang dulunya dikenal sebagai ruang memperdalam nilai keislaman, kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup digital anak muda. Istilah “Ibadah Standar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Bogor (04/06/25)</strong>—Media sosial tak hanya mengubah cara anak muda berkomunikasi, tapi juga mempengaruhi cara mereka menjalani kehidupan beragama. Kajian yang dulunya dikenal sebagai ruang memperdalam nilai keislaman, kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup digital anak muda. Istilah “Ibadah Standar TikTok” pun mencuat sebagai gambaran bagaimana spiritualitas kini ikut dibentuk oleh tren dan pola konsumsi konten daring.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Fenomena Kajian Kekinian yang Semakin Populer</strong></h2>



<p>Perkembangan media sosial membuka ruang baru bagi anak muda untuk menjadikan aktivitas kajian sebagai bagian dari identitas sosial mereka. Kehadiran media sosial mendorong kajian tampil lebih dinamis, menarik, dan mudah dijangkau oleh siapa saja.</p>



<p>Dalam konteks ini, sejumlah tokoh agama muda mulai mendapatkan perhatian luas berkat pendekatan mereka yang dianggap lebih dekat dengan kehidupan anak muda.</p>



<p>Salah satunya adalah Ustadz Hanan Attaki (UHA), dai muda asal Aceh yang dikenal dengan gaya dakwah yang santai serta membahas topik-topik yang relevan bagi anak muda, seperti cinta, pergaulan, dan kesehatan mental. </p>



<p>Ia sering menggelar kajian bertajuk &#8220;Sharing Time&#8221; yang diselenggarakan oleh <em>event organizer</em> Ayah Amanah. Acara ini rutin diadakan di <em>ballroom</em> hotel-hotel besar dan berhasil menarik ribuan peserta di berbagai kota.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="608" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-1024x608.png" alt="" class="wp-image-3391" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-1024x608.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-300x178.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3-768x456.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-3.png 1122w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kajian juga kerap dihadiri oleh artis dan<em> influencer</em> muda seperti Syifa Hadju dan Febby Rastanti. <br>(sumber: unggahan akun Instagram <em>official</em> <em>@ayahamanah)</em><br></figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Ibadah Standar Tiktok?</h2>



<p>Istilah “Ibadah Standar TikTok” muncul sebagai sindiran terhadap tren sebagian peserta kajian yang lebih memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan eksistensi di media sosial dibandingkan mendalami isi kajian. </p>



<p>Fenomena ini terlihat dari banyaknya unggahan yang menampilkan busana syar’i, suasana acara, hingga cuplikan ceramah dengan sentuhan estetika ala TikTok, seperti video “OOTD Kajian” atau klip motivasional berbalut <em>backsound</em> sendu yang viral dan sering dibagikan ulang ribuan kali.</p>



<p>Kondisi ini memicu beragam tanggapan dari warganet, yang mengkritik tren tersebut karena berpotensi mengurangi makna ritual keagamaan menjadi sekadar konten konsumsi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="525" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1024x525.png" alt="" class="wp-image-3392" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-1024x525.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-300x154.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2-768x394.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/2.png 1298w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Contoh sindiran warganet soal &#8220;ibadah standar TikTok&#8221;. <br>(Sumber: dokumentasi pribadi, diambil dari unggahan akun TikTok <em>@dartreith</em> dan <em>@hendyhilzan</em>)<br></figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kajian Kekinian: Kajian atau Ajang Sosial?</strong></h2>



<p>Fenomena kajian kekinian yang dikemas dengan visual yang modern dan menarik tidak lepas dari sorotan publik. Meski berhasil menarik minat anak muda, sebagian pihak mulai mempertanyakan apakah semangat menuntut ilmu masih menjadi tujuan utama. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="598" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-1024x598.png" alt="" class="wp-image-3571" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-1024x598.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-300x175.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7-768x449.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Untitled-design-7.png 1157w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kumpulan tudingan dan kritik warganet terhadap kajian kekinian.<br>(Sumber: Tangkapan layar pribadi &amp; Kompasiana.co)</figcaption></figure>



<p>Tak sedikit warganet yang menilai bahwa sebagian peserta hanya datang untuk tampil maksimal dengan pakaian terbaik, mencari pasangan, atau hanya ikut-ikutan karena tren di media sosial.</p>



<p>Tak hanya itu, akun Instagram @ayahamanah, yang menjadi kanal promosi utama kajian ini, juga turut menjadi sorotan karena sering menampilkan foto-foto candid peserta perempuan dengan penampilan menarik.</p>



<p>Namun di balik kritik tersebut, ada juga suara yang menyatakan pengalaman spiritual tidak bisa diukur hanya dari visual dan kemasan luar.</p>



<p>Sebagai salah satu peserta kajian yang pernah hadir sebanyak dua kali, Khalisa justru menyayangkan berbagai kritik yang muncul. Baginya, tidak ada salahnya jika seseorang mengikuti kajian karena tren, sebab pada dasarnya hal itu merupakan hal positif.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Menurutku gaada salahnya untuk FOMO dalam hal kebaikan. Kajiannya juga gak cuma bahas cinta-cintaan aja, kok. Apalagi soal outfit, mungkin itu memang ikhtiar atau usaha jamaah untuk memakai baju terbaiknya. bingung juga sih salahnya dimana&#8230;,” Ujar Khalisah saat ditemui pada (30/05/25).</p>
</blockquote>



<p>Ia juga menambahkan bahwa meskipun sebagian peserta merekam kajian, suasana kajian tetap kondusif karena rekaman yang dilakukan peserta hanya berlangsung sesaat di awal, sehingga fokus dan ketenangan acara tetap terjaga.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dituding Dangkal dan Komersil</strong></h2>



<p>Kritik berikutnya datang dari topik dan kedalaman materi kajian. Sebagian menilai isi kajian terkesan terlalu ringan karena sering mengangkat tema cinta dan jodoh, sementara sebagian lainnya mempertanyakan alasan di balik format kajian yang berbayar.</p>



<p>Penulis M. Afiqul Adib, dalam artikel di<a href="https://mojok.co/terminal/unpopular-opinion-kajian-ustaz-hanan-attaki-itu-bukanlah-pengajian-agama/"> Mojok.co</a> mengungkapkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya cukup asing dengan kajian agama yang berbayar. Di desa saya, pengajian itu gratis, meskipun dengan konsumsi seadanya.” tulisnya dalam opini yang diterbitkan Mojok.co, (06/10/24).</p>
</blockquote>



<p>Di sisi lain, pengguna TikTok @lsmailldris melalui <a href="https://vt.tiktok.com/ZSkFFnkqu/">unggahannya</a> pada (20/05/25) menyuarakan kekhawatiran terhadap aspek komersialisasi dan visualisasi dalam kajian semacam ini.&nbsp;</p>



<p>Ia menilai bahwa panitia kerap menaikkan harga tiket secara berlebihan, menghadirkan <em>influencer</em> dakwah yang belum matang secara keilmuan sebagai wajah promosi, serta mengemas dakwah menjadi <em>event</em> eksklusif yang lebih menjual sensasi daripada nilai-nilai Islam.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Yang dijual bukanlah ilmu, melainkan gaya hidup religius yang instan dan sedang tren di kalangan muda,” tulis <a href="https://vt.tiktok.com/ZSkFFnkqu/">@lsmailldris</a> melalui unggahan di TikTok, (04/05/25).</p>
</blockquote>



<p>Kritik-kritik ini membuka diskusi lebih luas tentang apakah dakwah modern perlu dikemas layaknya produk hiburan agar menarik perhatian generasi muda, ataukah justru harus menjaga esensi keagamaan yang lebih mendalam dan sakral.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ustadz Hanan Attaki: Fokus pada Kehidupan Sehari-hari</strong></h2>



<p>Menanggapi kritik terhadap topik kajian yang dinilai terlalu ringan dan bertema cinta-cintaan, Ustadz Hanan Attaki memberikan penjelasan lewat sebuah video yang diunggah oleh EO resmi penyelenggara kajian, Ayah Amanah. Ia menjelaskan bahwa setiap dai memiliki pendekatan dakwah yang berbeda, disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan jamaah.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="720" style="aspect-ratio: 960 / 720;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_8247A397-D8A2-4DDA-95A6-A6CCA13A02E1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Cuplikan tanggapan Ustadz Hanaan Attaki terkait tudingan kajian bertema cinta yang kontoversial.&nbsp;<br>(Sumber: Tiktok @am.event Instagram @ayah_amanah)</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kajian Berbayar: Sekadar Komersialisasi atau Kebutuhan Operasional?</strong></h2>



<p>Meski ada stigma negatif terhadap kajian berbayar, tidak semua pihak memandangnya secara negatif. Ustadz Khalid Basalamah, Lc., M.A, dalam kanal YouTube <a href="https://youtu.be/PenMc0-K7d0?si=I0XFkSwE3QnF57t5">Muslim Creative Media</a> menjelaskan bahwa kajian berbayar dapat dibenarkan jika untuk menutup kebutuhan operasional.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau kajian di masjid kita sepakat gratis, tapi dalam beberapa kondisi seperti dauroh atau seminar yang memerlukan biaya sewa hotel atau ballroom, biaya berbayar itu diperuntukkan untuk hal tersebut. Hal ini diperbolehkan karena tujuannya untuk syiar dan bersifat positif.” ujar Ustadz Khalid Basalamah melalui video di kanal YouTube Muslim Creative Media, (10/02/25).</p>
</blockquote>



<p>Lebih lanjut, Saat dikonfirmasi pada Jumat (23/05/25), Ayah Amanah, penyelenggara resmi kajian terkait, menjelaskan bahwa tiket yang dijual sudah termasuk fasilitas seperti akses kajian di <em>ballroom</em>, e-sertifikat, <em>blok note</em>, pulpen, dan air mineral.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bukan Satu-satunya Jalan, Tapi Bisa Jadi Gerbang Awal</strong></h2>



<p>Bagi banyak orang, justru kajian semacam inilah yang menjadi titik tolak untuk mengenal Islam lebih jauh. Akbar Rayhan Sulaeman, salah satu konten kreator Muslim di TikTok, mengakui bahwa proses hijrahnya dimulai dari mengikuti kajian populer yang berbayar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau saat itu saya tidak memulainya, mungkin sampai hari ini saya belum menginjakkan kaki untuk mengenal Islam lebih jauh, mengenal sunnah, bahkan benar-benar keliru,” tulis Akbar melalui unggahannya di Tiktok pada (02/03/25).</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dukungan dari Tokoh Agama</strong></h2>



<p>Tak hanya itu, dukungan pun datang dari berbagai tokoh agama. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), mengapresiasi potensi dakwah yang menyasar kalangan muda.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya melihat Ustadz Hanan Attaki sangat potensial sebagai dai yang memiliki banyak pengikut di media sosial, dan dakwah beliau menyasar kalangan milenial yang cukup banyak meminati.” ujar Gus Aab kepada <a href="https://khazanah.republika.co.id/berita/rulh2w430/pbnu-nilai-hanan-attaki-potensial-untuk-akomodasi-pemuda-hijrah">Republika.co.id</a>, (13/05/2023).</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu, Ustadz Mahardika, pembina Gerakan Dakwah Muda Bogor, menyatakan bahwa  proses  hijrah adalah perjalanan yang bertahap dan pendekatan yang ringan memang dibutuhkan bagi mereka yang baru mulai belajar tentang islam.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Pendekatan yang ringan memang dibutuhkan untuk kalangan yang baru mulai belajar. Dakwah itu bertahap. Kita tidak bisa paksa semua orang langsung terjun ke materi akidah yang berat. Yang penting semangatnya terus tumbuh,”&nbsp;ujar Ustadz Mahardika, dalam wawancara pada (02/06/23).</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Estetika Menuju Esensi</strong></h2>



<p>Fenomena kajian kekinian dan tren “Ibadah Standar TikTok” menunjukkan bahwa spiritualitas kini berjalan seiring dengan budaya digital.&nbsp;</p>



<p>Di satu sisi, pendekatan visual dan gaya kekinian mampu menjangkau audiens baru dan membuka pintu untuk pemahaman Islam yang lebih dalam. Di sisi lain, kekhawatiran soal komersialisasi dan dangkalnya substansi menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara kemasan dan esensi.</p>



<p>Pada akhirnya, keberagamaan di era digital tidak bisa dinilai dari tampilan luar semata. Setiap individu memiliki proses spiritualnya masing-masing. Alih-alih saling menyalahkan, kini saatnya kita mulai membuka ruang untuk saling memahami.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/ibadah-standar-tiktok-kontroversi-di-balik-gaya-kajian-kekinian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_8247A397-D8A2-4DDA-95A6-A6CCA13A02E1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>FOMO dan Hustle Culture: Mahasiswa dalam Bayang-Bayang Produktivitas</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/fomo-dan-hustle-culture-mahasiswa-dalam-bayang-bayang-produktivitas/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/fomo-dan-hustle-culture-mahasiswa-dalam-bayang-bayang-produktivitas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Andine Clorinda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 01:20:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[burnout akademik]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[hustle culture]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial dan tekanan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3435</guid>

					<description><![CDATA[Penggunaan AI: Digunakan secara terbatas untuk perapian bahasa dan struktur kalimat (ChatGPT), serta pembuatan ilustrasi visual (OpenAI Image Generator). Bekasi, 3 Juni 2025—Di era digital yang dibanjiri unggahan prestasi, mahasiswa tidak lagi hanya bersaing di ruang kelas, tetapi juga di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penggunaan AI: Digunakan secara terbatas untuk perapian bahasa dan struktur kalimat (ChatGPT), serta pembuatan ilustrasi visual (OpenAI Image Generator).</p>



<p><strong>Bekasi, 3 Juni 2025—</strong>Di era digital yang dibanjiri unggahan prestasi, mahasiswa tidak lagi hanya bersaing di ruang kelas, tetapi juga di media sosial. LinkedIn memamerkan pencapaian magang, lomba, dan organisasi. Instagram<em> Story</em> menampilkan seminar, <em>workshop</em>, dan kegiatan sosial. Tapi di balik citra produktif itu, tak sedikit mahasiswa yang merasa lelah, tertinggal, bahkan tidak cukup.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Jujur, pasti ada rasa kayak ke-<em>pressure</em>. Soalnya gue ngeliatnya jadi yang kayak, ‘ih kok dia udah sampai sini, sedangkan gue masih&nbsp;<em>stuck</em>&nbsp;di sini aja.’”<br>— Annisa, mahasiswa FISIP UI.</p>
</blockquote>



<p>Fenomena ini dikenal sebagai&nbsp;<em>hustle culture</em>, pola pikir di mana seseorang merasa harus terus bekerja dan terlihat produktif demi validasi, baik dari lingkungan maupun dunia digital. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Indrayanti, M.Si., Ph.D., menyebut&nbsp;<em>hustle culture</em>&nbsp;sebagai pergeseran dari&nbsp;<em>workaholic</em>&nbsp;menuju&nbsp;<em>toxic productivity</em>, di mana individu merasa bersalah jika tidak bekerja keras atau lembur.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau orang lain kaya gitu, berarti produktif itu yang kerja keras, lembur sampai malam, bawa laptop sampai tiga. Jika tidak melakukan hal seperti itu, lantas menjadi&nbsp;<em>insecure</em>,” jelasnya.</p>
</blockquote>



<p>Ia juga menekankan peran media sosial sebagai pemicu utama. Ketika orang terus membagikan prestasi di platform seperti LinkedIn atau Instagram, kecenderungan untuk membandingkan diri jadi semakin tinggi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Apalagi dengan&nbsp;<em>medsos</em>, orang&nbsp;<em>posting</em>&nbsp;prestasi jadi mudah membandingkan diri dengan orang lain. Dampaknya ke isu kesehatan mental,” tambahnya <a href="https://ugm.ac.id/id/berita/23335-psikolog-ugm-paparkan-bahaya-hustle-culture/">dalam rilis resmi UGM</a>.</p>
</blockquote>


<div class="wp-block-image is-style-default">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-724x1024.png" alt="" class="wp-image-3489" style="width:688px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gejala-Hustle-Culture-FOMO-di-Kalangan-Mahasiswa-1.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Infografik ini dirancang oleh penulis berdasarkan kesimpulan hasil riset dan wawancara, untuk merangkum gejala umum <em>hustle culture</em> dan <em>FOMO</em> di kalangan mahasiswa.</strong><br><em>(Ilustrasi dan desain oleh penulis. Sumber: Kompas, IDN Times, Unair.)</em></figcaption></figure>
</div>


<h3 class="wp-block-heading">Standar Mahasiswa Ideal: Nyata atau Ilusi?</h3>



<p>Menurut artikel <a href="https://kumparan.com/nailalusefy150505/hustle-culture-dan-fomo-tekanan-sosial-bagi-generasi-muda-242zqtDFJZL">Kumparan</a>,&nbsp;<em>hustle culture</em>&nbsp;membuat mahasiswa merasa gagal jika tidak tampak sibuk. Namun, tak semua mahasiswa merasa perlu ikut dalam arus itu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Nggak merasa perlu banget untuk membagikan pencapaian di media sosial karena aku juga nggak terlalu aktif di sana. Tapi kalau di LinkedIn, masih aku pertimbangkan karena lebih relevan untuk hal-hal profesional dan bisa mendukung portofolio juga.”<br>— Dinda, mahasiswa FISIP UI yang aktif ikut lomba.</p>
</blockquote>



<p>Walau jarang unggah, Dinda mengaku sering mendapat dukungan saat berbagi prestasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Banyak yang kasih ucapan selamat atau respon positif kayak ‘<em>congrats</em>’ dan sebagainya, walaupun aku nggak sering&nbsp;<em>upload</em>&nbsp;juga.”</p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Dampak Psikologis:&nbsp;<em>Insecure</em>,&nbsp;<em>Burnout</em>, dan Tekanan Tak Terlihat</h3>



<p>Berbeda dengan Dinda, Annisa mengakui tekanan sosial digital itu nyata. Ia bahkan pernah memaksakan ikut lomba demi terlihat aktif.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Waktu itu sebenernya gue ngerasa&nbsp;<em>timing</em>&nbsp;gue tuh nggak pas buat ikut lomba. Kita lagi kejar-kejaran waktu. Tapi gue maksain ikut karena ngeliat temen-temen gue udah menang lomba sana-sini. Jadi gue ngerasa kayak, masa iya udah mau lulus tapi belum pernah menang lomba sama sekali?”</p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Cuma gue paham, waktu itu sebenernya gue ngejalaninnya juga nggak&nbsp;<em>enjoy</em>, dan nggak maksimal juga karena emang kurang dari segi waktu dan tenaga.”</p>
</blockquote>



<p>Annisa menambahkan, standar &#8220;mahasiswa ideal&#8221; di media sosial sering kali tidak relevan dengan realitas kampus.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Sebenernya kalau sekarang, gue nggak terlalu bisa mendefinisikan ‘mahasiswa ideal’ itu seperti apa. Karena temen-temen gue, lingkungan sekitar gue tuh, masing-masing punya <em>passion</em>&nbsp;di bidangnya masing-masing.”</p>
</blockquote>



<p>Di balik tekanan itu, banyak mahasiswa justru menjadikan media sosial sebagai alat untuk membentuk citra profesional.</p>


<div class="wp-block-image is-style-default">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/ChatGPT-Image-Jun-3-2025-10_42_25-AM-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-3478" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/ChatGPT-Image-Jun-3-2025-10_42_25-AM-1-1024x683.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/ChatGPT-Image-Jun-3-2025-10_42_25-AM-1-300x200.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/ChatGPT-Image-Jun-3-2025-10_42_25-AM-1-768x512.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/ChatGPT-Image-Jun-3-2025-10_42_25-AM-1.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Seorang mahasiswa tampak cemas melihat layar laptop yang menampilkan unggahan prestasi temannya. Ilustrasi ini merepresentasikan tekanan sosial digital yang kini kerap dirasakan mahasiswa.</strong><br><em>(Ilustrasi gambar ini dihasilkan menggunakan teknologi AI dari OpenAI.)</em></figcaption></figure>
</div>


<h3 class="wp-block-heading">Media Sosial: Alat&nbsp;<em>Branding</em>&nbsp;atau Perang Citra?</h3>



<p>Annisa memandang media sosial sebagai kebutuhan profesional.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Menurut gue sekarang tuh media sosial udah jadi platform gue untuk nge-<em>branding</em>&nbsp;diri. Jadi gue ngerasa wajib buat nge-<em>post</em>&nbsp;tentang&nbsp;<em>achievement</em>&nbsp;atau kegiatan-kegiatan yang gue ikutin.”</p>
</blockquote>



<p>Namun, ia juga mengkritisi narasi “produktif = keren” yang justru menekan mental mahasiswa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Intinya jangan sampai merasa tertekan. Jangan karena ngeliat orang nge-<em>post</em>&nbsp;ini-itu, lo jadi maksa buat ikut-ikutan&nbsp;<em>posting</em>&nbsp;juga. Padahal sebenernya itu terlalu dipaksain.&nbsp;<em>Just be yourself</em>, nikmatin prosesnya, dan jalanin aja&nbsp;<em>step by step</em>.”</p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Tekanan dari Luar: Kampus atau Persepsi Sosial?</h3>



<p>Tekanan untuk tampil produktif tak hanya datang dari media sosial, tapi juga lingkungan kampus. Annisa menceritakan pengalamannya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Iya banget menurut gue. Soalnya kalau di SMA dulu masih ada yang perhatiin, kayak BK atau wali kelas. Tapi kalau di kuliah, kita udah dianggap gede, jadi lebih individualis. Dan gue ngerasa lingkungan kampus tuh lebih nge-<em>push</em>&nbsp;kita buat magang atau aktif, daripada mikirin kesehatan mental.”</p>
</blockquote>



<p>Sementara Dinda merasa tekanan lebih berasal dari luar kampus.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Tekanan untuk produktif menurutku nggak datang dari kampus atau dosen secara langsung, khususnya di Komunikasi UI. Tapi karena membawa nama UI, ada ekspektasi dari luar bahwa kita harus aktif dan berprestasi.”</p>
</blockquote>



<p>Di sisi lain, banyak mahasiswa kini memandang magang sebagai tiket utama untuk melamar pekerjaan setelah lulus. Mereka percaya bahwa gelar saja tidak cukup. Kuliah dianggap hanya berisi teori dan omongan dosen, sedangkan “pengalaman lapangan” dipandang sebagai nilai jual sesungguhnya di mata industri.</p>



<p>Akibatnya, muncul anggapan bahwa semakin banyak pengalaman, semakin tinggi peluang menjadi&nbsp;<em>fresh graduate</em>&nbsp;yang diutamakan. Maka tak jarang mahasiswa mengambil banyak peran sekaligus: magang, kepanitiaan, lomba,&nbsp;<em>freelance</em>, bahkan sambil kerja. Dari sinilah&nbsp;<em>hustle culture</em>&nbsp;mulai tumbuh dan makin diperkuat oleh ekspektasi lingkungan serta standar industri.</p>



<p>Ironisnya, fenomena ini justru menciptakan&nbsp;<em>paradoks</em>&nbsp;berkelanjutan. Lowongan magang kini juga mensyaratkan “pengalaman sebelumnya.” Mahasiswa yang belum pernah magang menjadi kesulitan masuk, sementara yang sudah berpengalaman terus berusaha menambah portofolio agar “lebih dari yang lain.” Kompetisi tak sehat ini menjebak mahasiswa dalam lingkaran produktivitas berlebih yang justru rentan menyebabkan kelelahan mental.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Solusi: Revisi Makna Sukses dan Fokus pada Diri Sendiri</h3>



<p>Menurut psikolog klinis Infanti Wisnu Wardani, mahasiswa perlu sadar terhadap kondisi dirinya sendiri dan menetapkan tujuan yang realistis agar tidak terus terjebak dalam kompetisi digital (<a href="https://www.idntimes.com/life/inspiration/adyaning-raras-anggita-kumara-1/jenius-ajak-hidup-mindful-di-era-hustle">IDN Times</a>).</p>



<p>Dinda mengatasi ekspektasi dengan realisme:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Aku berusaha tetap realistis dan tahu kapasitas diri, jadi nggak terlalu membebani diri sendiri.”</p>
</blockquote>



<p>Sedangkan Annisa menekankan pentingnya fokus pada jalan hidup sendiri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Menurut gue, caranya adalah tetap fokus sama diri sendiri. Karena tiap orang punya jalannya masing-masing. Jadi fokus aja sama apa yang dimau, dan jangan terlalu&nbsp;<em>FOMO</em>. Intinya, jangan&nbsp;<em>FOMO</em>—fokus sama diri sendiri.”</p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Sukses Tidak Selalu Bersuara Keras</h3>



<p><em>Hustle culture</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>FOMO</em>&nbsp;adalah cerminan masyarakat digital yang menuntut produktivitas sebagai bukti eksistensi. Tapi tidak semua perjalanan butuh panggung. Kadang, tumbuh dalam diam jauh lebih damai daripada bersinar dalam tekanan.</p>



<p>Di tengah budaya banding-banding di media sosial, penting bagi mahasiswa menyadari bahwa setiap orang punya kecepatan dan kapasitas yang berbeda. Tidak ada gunanya berlomba jika akhirnya kehilangan diri sendiri.</p>



<p>Karena pada akhirnya, nilai seorang mahasiswa bukan diukur dari seberapa sering ia tampil di LinkedIn, tapi dari seberapa baik ia mengenal, merawat, dan menerima dirinya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/fomo-dan-hustle-culture-mahasiswa-dalam-bayang-bayang-produktivitas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wizard Liz dan Realita Pahit di Balik Kisah Cinta yang Terlihat Sempurna</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/wizard-liz-dan-realita-pahit-di-balik-kisah-cinta-yang-terlihat-sempurna/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/wizard-liz-dan-realita-pahit-di-balik-kisah-cinta-yang-terlihat-sempurna/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aliya.Shakira]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 01:19:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[percintaan]]></category>
		<category><![CDATA[perselingkuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3441</guid>

					<description><![CDATA[Depok (03/06) &#8211; Pada akhir Mei 2025, dunia maya dihebohkan oleh kabar mengejutkan dari pasangan influencer terkenal, Wizard Liz dan Landon Nickerson. Wizard Liz, seorang influencer yang dikenal lewat pesan-pesan motivasi pemberdayaan diri dan saran seputar percintaan, mengumumkan bahwa ia...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-small-font-size"><strong>Depok (03/06) &#8211;</strong> Pada akhir Mei 2025, dunia maya dihebohkan oleh kabar mengejutkan dari pasangan influencer terkenal, Wizard Liz dan Landon Nickerson. Wizard Liz, seorang influencer yang dikenal lewat pesan-pesan motivasi pemberdayaan diri dan saran seputar percintaan, mengumumkan bahwa ia membatalkan pertunangannya dengan YouTuber Landon Nickerson di saat ia tengah hamil empat bulan, setelah mengetahui bahwa tunangannya berselingkuh.&nbsp;</p>



<p class="has-small-font-size">Kabar ini tak hanya mengguncang jutaan pengikutnya, tetapi juga memantik diskusi soal cinta dan kepercayaan.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Siapa, sih Wizard Liz?</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="785" height="785" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/785-0-635ad4afe6b43-1.jpeg" alt="" class="wp-image-3472" style="width:840px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/785-0-635ad4afe6b43-1.jpeg 785w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/785-0-635ad4afe6b43-1-300x300.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/785-0-635ad4afe6b43-1-150x150.jpeg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/785-0-635ad4afe6b43-1-768x768.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 785px) 100vw, 785px" /><figcaption class="wp-element-caption">Source: <a href="https://images.app.goo.gl/ksqiskLnqxPedmT26">https://images.app.goo.gl/ksqiskLnqxPedmT26 </a></figcaption></figure>



<p class="has-small-font-size">Wizard Liz, yang memiliki nama asli Lize Dzjabrailova, adalah influencer asal Antwerp, Belgia yang dikenal luas melalui konten-konten kesehatan mental, <em>healing</em>, dan pemberdayaan diri.&nbsp;</p>



<p class="has-small-font-size">Tipe kontennya yang simpel, namun berbobot berhasil menarik jutaan penggemar dari berbagai belahan dunia. Saat ini, ia memiliki lebih dari 8 juta pengikut di TikTok, 5,4 juta di Instagram, dan lebih dari 8 juta subscriber di YouTube yang mayoritas adalah perempuan muda.</p>



<p class="has-small-font-size">Bagi banyak penggemarnya, Liz bukan sekadar <em>content creator</em>, tapi telah menjadi sosok kakak perempuan digital yang dapat diandalkan, seorang “<em>girls girl”</em> yang membela dan menguatkan sesama perempuan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://youtu.be/_qJVM0RQsIA?si=rYhNw2Hdrcz1gmdm "><img loading="lazy" decoding="async" width="989" height="703" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-1172.png" alt="" class="wp-image-3474" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-1172.png 989w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-1172-300x213.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-1172-768x546.png 768w" sizes="auto, (max-width: 989px) 100vw, 989px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Konten-kontennya sederhana, terkadang bahkan hanya konten berbicara ke kamera dengan pesan motivasional seperti pengingat untuk menetapkan standar tinggi atau sekadar ajakan untuk tidak mentoleransi perlakuan buruk.<br>source: <a href="https://youtu.be/_qJVM0RQsIA?si=rYhNw2Hdrcz1gmdm">https://youtu.be/_qJVM0RQsIA?si=rYhNw2Hdrcz1gmdm </a></figcaption></figure>



<p class="has-small-font-size">Konten sederhana yang ia buat, membuat banyak perempuan merasa terhubung dengan pesannya, terutama mereka yang sedang mencari dorongan untuk lebih percaya diri atau bangkit dari permasalahan seperti hubungan yang toxic.</p>



<p class="has-small-font-size">Liz menawarkan sesuatu yang Gen Z suka dari seorang figur publik, <a href="https://www.ibtimes.co.uk/quick-facts-about-wizard-liz-real-name-how-she-became-popular-breakup-more-1734612">yaitu keaslian, estetika visual yang konsisten, dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.</a></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Kisah cinta Liz dan Landon yang terlihat “sempurna”</strong></p>



<p class="has-small-font-size">Liz dan Landon awalnya berkenalan secara online, lalu mereka bertemu dengan cara yang tak terduga. Dalam sebuah video, Liz bercerita bahwa saat itu ia sedang dalam perjalanan liburan ke Santorini bersama temannya. Saat transit di Bandara Athena, seorang pria asing memanggilnya. Pria itu ternyata adalah Landon.</p>



<p class="has-small-font-size">Landon, yang saat itu sedang menghadapi situasi kurang menyenangkan karena menjadi korban penipuan perjalanan, menghampiri Liz dan menceritakan apa yang terjadi. Liz, yang awalnya hanya berlibur bersama temannya mengajak Landon untuk ikut bergabung dalam perjalanannya. Sejak saat itu, mereka menjadi “tak terpisahkan.”</p>



<p class="has-small-font-size">Hubungan mereka berkembang cepat. Pada September 2024, keduanya mengumumkan bahwa mereka telah bertunangan. Tidak lama setelah itu, Liz membagikan kabar bahwa ia tengah mengandung anak pertama mereka dengan usia kandungan empat bulan.&nbsp;</p>



<p class="has-small-font-size">Setelah resmi bersama, Liz dan Landon kerap membagikan momen kebersamaan mereka lewat media sosial. Mereka sering muncul dalam video-video yang memperlihatkan hubungan yang sempurna, tampak sehat, suportif, dan penuh kasih sayang.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3480" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9-1024x1024.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9-768x768.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-00.58.28_f4a3fee9.jpg 1179w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Momen manis Liz dan Landon kerap mendapat respons positif. Banyak penggemar menganggap mereka sebagai pasangan impian, bahkan menjadikan hubungan Liz dan Landon sebagai manifestasi ideal dari sebuah <em>healthy relationship</em>.<br>source: <a href="https://vt.tiktok.com/ZSk61USuY/">https://vt.tiktok.com/ZSk61USuY/</a></figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Bagaimana hubungan “sempurna” Liz dan Landon berakhir?</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="391" height="783" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-02.47.57_9f9687f8.jpg" alt="" class="wp-image-3487" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-02.47.57_9f9687f8.jpg 391w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-02.47.57_9f9687f8-150x300.jpg 150w" sizes="auto, (max-width: 391px) 100vw, 391px" /><figcaption class="wp-element-caption">Hubungan “sempurna” Liz dan Landon akhirnya berakhir dengan cara yang mengejutkan. Dalam unggahan panjang di media sosial, Liz membagikan berita memilukan bahwa Landon telah berselingkuh.<br>Source: instagram.com/thewizardliz</figcaption></figure>



<p class="has-small-font-size">Perselingkuhan Landon terjadi hanya beberapa hari setelah mereka berpisah jarak untuk sementara. Liz mengungkapkan bahwa Landon membuat akun Snapchat baru dan menghubungi perempuan lain. Landon bahkan menyebut hubungannya dengan Liz sebagai hubungan yang “palsu.”</p>



<p class="has-small-font-size">Perempuan yang dihubungi Landon ternyata adalah penggemar lama Liz dan akhirnya kabar tersebut sampai ke kuping Liz. Tidak tinggal diam, Liz langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Landon.</p>



<p class="has-small-font-size">Selain mengakhiri hubungannya, Liz juga mengatakan bahwa ia akan menjual cincin tunangannya dan menyumbangkan uangnya untuk para ibu tunggal.</p>



<p class="has-small-font-size">Liz mengaku merasa ditipu, seolah tidak pernah benar-benar mengenal Landon. “Aku merasa bodoh karena mengabaikan firasat dan mimpi yang sebenarnya sudah memperingatkanku.&#8221; Dan menutupnya dengan pesan bagi para perempuan untuk mendengar intuisi mereka.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Kenapa Kisah Perselingkuhan Wizard Liz Sangat “Viral”</strong></p>



<p class="has-small-font-size">Kabar perselingkuhan Landon terhadap Wizard Liz langsung menyebar luas di media sosial. Kisah ini menjadi viral bukan sekadar karena skandalnya, tetapi juga karena siapa Liz itu sendiri dan bagaimana Landon dilihat sebagai laki-laki yang “ideal”.</p>



<p class="has-small-font-size">Perlakuan Landon terhadap Liz yang romantis seperti mengirimkan ratusan bunga dan bahkan menulis buku mengenai Liz, membuat para penggemar menganggap bahwa Landon adalah gambaran laki-laki <em>greenflag </em>idaman yang tidak akan selingkuh.</p>



<p class="has-small-font-size">Selain itu, Liz adalah seorang <em>content creator </em>yang dikagumi dengan konten-konten <em>self-love</em> dan dianggap memiliki hubungan percintaan yang sehat, sehingga saat Liz diselingkuhi reaksi yang banyak bermunculan adalah pertanyaan reflektif seperti <em>“Kalau Liz aja bisa diselingkuhi, bagaimana aku?”.</em></p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1024" style="aspect-ratio: 576 / 1024;" width="576" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Video-2025-06-04-at-02.52.41_b8207ad4.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Penggemar merasa percintaan Liz yang terlihat ideal bahkan tidak bisa terhindar dari perselingkuhan.<br>source: <a href="https://vt.tiktok.com/ZSk6JaSDK/">https://vt.tiktok.com/ZSk6JaSDK/</a></figcaption></figure>



<p class="has-small-font-size"><a href="https://www.forbes.com/sites/traversmark/2025/06/02/2-reasons-why-wizard-lizs-story-is-breaking-the-internet-by-a-psychologist/">Dalam artikel <em>Forbes</em>, psikolog Mark Travers menjelaskan bahwa kisah Liz menjadi viral karena dua alasan utama,</a> yaitu karena kisah ini mengguncang keyakinan mengenai penyembuhan rasa sakit dan cinta, dan yang kedua karena kisah ini menghancurkan ilusi mengenai “pasangan yang aman”.</p>



<p class="has-small-font-size">Hal ini diperkuat oleh studi dari <em>Psychology of Popular Media</em> (2024) yang menemukan bahwa mereka yang memiliki kepercayaan romantis idealis (seperti percaya pada cinta sempurna) merespons perselingkuhan selebritas dengan emosi yang lebih intens.</p>



<p class="has-small-font-size">Studi dari <em>Journal of Business Research</em> (2022) yang memperkenalkan istilah para-loveshock, yaitu trauma emosional yang dialami penggemar ketika melihat idola mereka mengalami atau melakukan pengkhianatan dalam konteks parasosial juga ikut memperkuat alasan mengapa kisah ini menjadi viral.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Bagaimana kisah Wizard Liz mengubah pandangan mengenai “cinta”</strong></p>



<p class="has-small-font-size">Kisah perselingkuhan yang menimpa Wizard Liz bukan hanya menjadi konsumsi publik, tetapi juga merubah cara sebagian orang memandang cinta dan hubungan.&nbsp;</p>



<p class="has-small-font-size">Bagi banyak penggemarnya, hubungan Liz yang selama ini terlihat sehat telah menjadi manifestasi ideal dari cinta. Maka, ketika hubungan tersebut berakhir karena perselingkuhan, tak sedikit yang merasa kecewa hingga mempertanyakan kembali kepercayaannya terhadap cinta dan hubungan.</p>



<p class="has-small-font-size">Salah satu informan, Salsabila, merasa bahwa kisah ini membuatnya semakin skeptis terhadap percintaan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-small-font-size">“Jujur, gue tuh ngefans banget sama Wizard Liz. Dia keliatan selektif banget kalau cari pasangan. Tapi ternyata pacarnya, cowok yang kelihatannya green flag banget bisa juga selingkuh. Jadi sekarang gue mikir, siapa sih yang bisa dipercaya? Kayaknya emang gak ada cowok yang bener-bener green flag.”</p>
</blockquote>



<p class="has-small-font-size">Namun, tidak semua orang merespons dengan kekecewaan yang sama. Informan lain, Nadia, justru punya pandangan berbeda. Ia menilai bahwa kisah cinta siapa pun, termasuk selebritas, tidak bisa dijadikan patokan mutlak sebuah hubungan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-small-font-size">“Buat aku pribadi, kisah Liz sama Landon nggak mengubah cara pandang aku soal cinta, sih. Setiap hubungan beda-beda, dan pengalaman satu orang nggak bisa digeneralisir ke semua laki-laki atau ke semua hubungan.”</p>
</blockquote>



<p class="has-small-font-size">Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa reaksi terhadap peristiwa publik seperti ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, harapan individu, dan seberapa dalam seseorang terhubung dengan figur publik yang bersangkutan.</p>



<p class="has-small-font-size">Meski kisah Liz dan Landon meninggalkan luka bagi sebagian penggemar, kisah ini juga membuka ruang diskusi tentang realitas cinta dan hubungan.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Oleh karena itu…</strong></p>



<p class="has-small-font-size">Kisah Wizard Liz menjadi pengingat penting bahwa tidak ada hubungan yang kebal dari luka atau benar-benar sempurna. Bahkan hubungan yang terlihat ideal di mata publik pun bisa hancur.</p>



<p class="has-small-font-size">Pada akhirnya, pengalaman Liz bisa menjadi refleksi mengenai pentingnya tetap memilih diri sendiri dan tidak kehilangan jati diri demi siapa pun. Seperti yang Liz tunjukkan, keberanian untuk melepaskan seseorang yang tidak sejalan dengan prinsip hidup adalah bentuk cinta pada diri sendiri yang paling utuh.</p>



<p class="has-small-font-size"><strong>Penggunaan AI</strong></p>



<p class="has-small-font-size">Karya artikel ini menggunakan AI Chat GPT dalam pembuatannya untuk <em>ideas prompting</em> dan penerjemahan.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/wizard-liz-dan-realita-pahit-di-balik-kisah-cinta-yang-terlihat-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Video-2025-06-04-at-02.52.41_b8207ad4.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Fashion Masa Kini dengan Kain Tradisional </title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/02/fashion-masa-kini-dengan-kain-tradisional/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/02/fashion-masa-kini-dengan-kain-tradisional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amin Rakil]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2025 08:43:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[kaintradisional]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3379</guid>

					<description><![CDATA[Pajangan kain tertata rapi di sebuah instalasi dalam pameran mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI. Tampil dengan nuansa budaya yang mencolok, sekelompok mahasiswa mengangkat kampanye tentang kain tradisional Indonesia. Inisiasi ini hadir atas kesadaran terhadap kain tradisional yang mulai terpinggirkan oleh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pajangan kain tertata rapi di sebuah instalasi dalam pameran mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI. Tampil dengan nuansa budaya yang mencolok, sekelompok mahasiswa mengangkat kampanye tentang kain tradisional Indonesia. Inisiasi ini hadir atas kesadaran terhadap kain tradisional yang mulai terpinggirkan oleh hadirnya pakaian-pakaian modern.&nbsp;</p>



<p>Suara tawa pengunjung yang hadir memenuhi hampir seluruh ruangan. Instalasi tak hanya dibuat dengan visualnya yang berwarna melalui kain-kain yang ditampilkan, tetapi juga ada pendekatan personal dengan mengajak mahasiswa untuk mengenal pakaian Indonesia melalui permainan tebak pakaian.&nbsp;</p>



<p>Salah satu pengunjung, Muhammad Ziya Ulhaq menuturkan bahwa penyampaian pesan begitu menarik melalui permainan dan pengenalan melalui audio maupun visual. &#8220;Kita juga diperkenalkan dengan budaya Indonesia, yaitu berkain dan memperkenalkan berbagai macam jenis kain yang ada&#8221;, ujarnya. </p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_6771-1.mov"></video></figure>



<p>Dengan mengenakan kain batik, atasan putih dan melilitkan kain dilengan maupun dipinggang. Mereka begitu antusias menjelaskan makna dan pesan di balik instalasi yang mereka tampilkan. Meski suara mereka sesekali terpendam oleh ramainya suasana gedung komunikasi.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_7061BB8B-C5FE-400E-956B-30CAFB4769AA-2.mov"></video></figure>



<p>Dalam pameran ujian akhir mata kuliah transmedia storytelling pada Selasa, 27 Mei 2024 ini. Mereka ingin menyampaikan kepada pengunjung untuk melihat kain tradisional sebagai bagian dari cara berpakaian yang <em>fashionable</em>. Melihat budaya khususnya kain atau pakaian tradisional sesuatu yang berharga dan sangat layak dipadukan dengan pakaian masa kini. </p>



<p>Melalui kegiatan yang mereka bawa. Najwa Adelia Naila berharap orang yang hadir bisa belajar untuk lebih mengenal wastra Indonesia dengan cara yang menyenangkan. &#8220;bisa berkreasi dengan <em>fashion</em> yang mereka gunakan sehari-hari menggunakan wastra-wastra Indonesia.&#8221; lanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/02/fashion-masa-kini-dengan-kain-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_6771-1.mov" length="0" type="video/quicktime" />
<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_7061BB8B-C5FE-400E-956B-30CAFB4769AA-2.mov" length="0" type="video/quicktime" />

			</item>
		<item>
		<title>Lewat Pameran, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI Soroti Krisis Lingkungan </title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/02/lewat-pameran-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-soroti-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/02/lewat-pameran-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-soroti-krisis-lingkungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amin Rakil]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2025 08:40:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[krisislingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3375</guid>

					<description><![CDATA[“Hidup mahasiswa,” teriak seorang perempuan di atas panggung. Suara itu menembus keramaian gedung yang penuh sesak. Beberapa orang melirik, lalu membalas “Hidup mahasiswa.”  Di tengah hiruk pikuk gedung komunikasi FISIP UI, terdengar langkah kaki lalu lalang, bak suara hujan yang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>“Hidup mahasiswa,” teriak seorang perempuan di atas panggung. Suara itu menembus keramaian gedung yang penuh sesak. Beberapa orang melirik, lalu membalas “Hidup mahasiswa.” </p>



<p>Di tengah hiruk pikuk gedung komunikasi FISIP UI, terdengar langkah kaki lalu lalang, bak suara hujan yang jatuh dari atap, gaduh. Terdengar pula dengan jelas suara tumpang tindih, sesekali terdengar gelak tawa dan suara ajakan untuk mengunjungi instalasi yang ada, membuat kondisi semakin berisik.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1200/1*aET7NA2khmguqQYL1jO6AQ.jpeg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1200/1*3BS85-XnE_sTps5mjX9yiA.jpeg" alt=""/></figure>



<p>Tepat ditengah panggung gedung, dikelilingi bendera makara jingga khas FISIP UI, berdiri beberapa perempuan memakai baju APD, seragam putih yang biasa dipakai petugas kesehatan saat pandemi. Salah satu dari mereka menenteng toa dipinggangnya, sementara yang lain sibuk menyapa pengunjung yang hadir.&nbsp;</p>



<p>Di bagian belakang terdapat instalasi yang dipenuhi gambar dan plastik berwarna kuning hitam mencolok seperti garis polisi, membentuk gantungan yang menutupi pintu dengan tulisan<em> time machine</em>.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1600/1*DfAYEU0FEHXC9zj_iw8LZg.jpeg" alt=""/></figure>



<p>Begitu kaki melewati garis kuning dan memasuki ruangan kecil itu, dunia seakan berubah. Cahaya meredup kelam, hiruk-pikuk meredam, digantikan sunyi senyap yang menusuk. Di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah laptop yang berisi video refleksi untuk orang-orang yang masuk ke dalamnya. Setelah merasakan apa yang ada di balik tirai mencolok itu, pengunjung keluar dengan ekspresi yang beragam, ada yang tertawa kaku, seolah mencoba menepis kegelisahan. Ada pula yang diam seribu bahasa, mungkin sedang menata pikirannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang mereka pikirkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1200/1*Al_Leh7MpaJwBSSxKCv_gw.jpeg" alt=""/></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1200/1*rQ7e8EZX7arT7xaKOOeLIA.jpeg" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Angelica Nelvina, Mahasiswa Komunikasi sekaligus salah satu inisiator kampanye</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Revatria-Andhiravilia-1.mp3"></audio></figure>



<p><sub>Revatria Andhiravilia &#8211; Mahasiswa Ilmu Komunikasi.</sub></p>



<p>Kegiatan yang berlangsung pada 27 Mei 2025 ini bukan sekadar pameran, tapi sebuah peringatan. Inisiasi ini muncul dari kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan saat ini. Narasi yang diangkat memang merupakan sebuah kisah fiktif kelam, menggambarkan situasi tahun 2075 saat lingkungan Universitas Indonesia memburuk karena kampus mengizinkan pembuangan limbah oleh perusahaan. Namun, pesan yang berusaha disampaikan dalam pameran terlihat nyata dan menggambarkan bagaimana kondisi lingkungan saat ini.<a href="https://1f42008e3fd84e0ba448581ff7a999e2.elf.site/"></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/02/lewat-pameran-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-soroti-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Revatria-Andhiravilia-1.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />

			</item>
		<item>
		<title>Kondangan Meriah: Menyambut Jamming Budaya Pertama 2024</title>
		<link>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilma Rayhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 03:38:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[fib ui]]></category>
		<category><![CDATA[jamming budaya]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=1410</guid>

					<description><![CDATA[Udara malam yang berembun membuat kerumunan mahasiswa berkostum formal terasa pengap. Namun, mereka tidak tampak begitu peduli. Payung, pusat perkumpulan mahasiswa FIB UI, telah disulap menjadi panggung. Di atasnya, musisi menerima sorakan riuh saat bergantian menaiki panggung. Kampus terasa begitu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Udara malam yang berembun membuat kerumunan mahasiswa berkostum formal terasa pengap. Namun, mereka tidak tampak begitu peduli. Payung, pusat perkumpulan mahasiswa FIB UI, telah disulap menjadi panggung. Di atasnya, musisi menerima sorakan riuh saat bergantian menaiki panggung. Kampus terasa begitu hidup dan berwarna, dipenuhi gelak tawa dan dentuman <em>bass</em>. Inilah yang terjadi setiap diadakan Jamming Budaya.</p>



<figure class="wp-block-video aligncenter"><video height="538" style="aspect-ratio: 960 / 538;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Suasana-Jambud2.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Suasana Payung ketika Jamming Budaya (Sumber video: Rafi Abid Wibisono)</figcaption></figure>



<p>Jamming Budaya, kerap disebut Jambud, merupakan acara musik yang diselenggarakan Irama Bahana Sastra (Mantra) UI. Mantra UI sendiri merupakan badan otonom mahasiswa FIB UI yang berfokus di bidang musik. Sebagai penyelenggara, Mantra UI memberikan wadah bagi para musisi untuk menunjukkan kemampuan bermusiknya, baik musisi internal maupun eksternal FIB. Tak hanya memberikan panggung bagi musisi, Jambud juga hadir sebagai ajang mahasiswa untuk melepas penat di tengah wara-wiri perkuliahan.</p>



<p>Pada edisi ketujuh ini, Jambud membawakan tema “Kondangan”. Tema tersebut disambut baik dengan rasa antusiasme dari para pengunjungnya. Mayoritas pengunjung yang hadir pada Jambud kali ini datang dengan mengenakan batik, kebaya, jas, atau pakaian kondangan lainnya. Acara yang diadakan setiap sebulan sekali tersebut telah kembali diadakan untuk pertama kalinya di tahun 2024, lebih tepatnya pada tanggal 31 Mei 2024 kemarin.</p>



<p>Jambud edisi ini diisi oleh penampilan band yang kebanyakan merupakan band internal FIB, seperti <em>homeband</em> Mantra, Mothersoul, Fuzzy Lads, Lokadipocere, dan DJ Ali. Penampil eksternal diisi oleh band Harum Manis yang pada acara ini menampilkan debut album barunya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdE73tNCvNPSIVpAAqTXsdhVVjGaYtg7kzGpnHohAm_GtT-Q5PoPa_Yngvug8Jsz6uYcORjz8RNF9xLPiWfzwoPvb_kDSlNOCc3tvAe80LhpqlBH3rw55Z0x12q1Jhe-HC-Ru37xkzNIUQCjcS_UZUExDU?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Pertunjukan di Jamming Budaya (Sumber foto: Rafi Abid Wibisono)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Antusiasme tersebut dirasakan oleh sejumlah pengunjung yang mendatangi Jambud kali ini. Salah satunya adalah Millie, mahasiswa UI angkatan 2022. “Kali ini, aku ingin nonton <em>debut performance-</em>nya Harum Manis. Terbayar tunai, ternyata mereka <em>nyanyi </em>se-album!” ujarnya sambil tertawa.</p>



<p>Keempat kalinya datang ke Jambud, Millie selalu bersemangat untuk melihat dekorasi dan lingkungan yang “menggemakan <em>youth</em>” baginya. Millie merasa bahwa di Jambud, mahasiswa dapat berkegiatan layaknya mahasiswa biasa, bebas melepas penat. Selain itu, acara ini menjadi mediumnya bertemu teman-temannya dari media sosial X.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeJlPHOw0ZuUQjjMEw5Rfi1u1ea7IKVV-z96h1sQexspj99FJp11UiZZP_-zLQwR3MNngxrdn_s4TIFk2HlX-QCNoxH7-fA6B8Ge3T9PTGpqTRehPoGfSgoztq-I53Bvvst-AE7CpjJApTRaRwMPRLH2xwQ?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Millie di Jamming Budaya (Sumber foto: Millie)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Salah seorang pengunjung yang juga merupakan mahasiswa FIB, Mamul, telah menghadiri Jambud sejak acara tersebut pertama kali diadakan. Hal yang paling ia tunggu dari Jambud adalah momen <em>bonding</em> dengan teman-teman sefakultas, kakak tingkat, dan alumni yang jarang ditemui di hari biasa perkuliahan. Jumat sore setiap akhir bulan menjadi waktu yang dinantikan Mamul untuk bisa seru-seruan bersama teman di akhir pekan.</p>



<p>Mamul menilai Jambud berbeda dari acara musik kampus lainnya. Menurutnya, Jambud spesial dan selalu membuat hidupnya lebih berwarna. &#8220;Spesial karena rutin diadakan dengan konsep-konsep menarik dan unik, salah satu contohnya, <em>ya,</em> <em>dresscode</em> (kondangan) ini yang <em>bikin</em> suasana jadi semakin seru.&#8221; Lokasi yang sempit dan kostum yang pengap tidak menghalangi niat Mamul untuk datang ke Jambud, selama tiket masuknya gratis dan dapat menjadi ajang seru-seruan.</p>



<p>Fadhil juga memberikan opininya terkait penyelenggaraan Jambud kali ini. Fadhil telah mengikuti Jambud lebih dari 6 kali, banyaknya mahasiswa UI yang memilih Jambud sebagai tempat berkumpul adalah alasan utamanya dalam mengikuti Jambud. “Karena banyak yang dikenal jadi tambah asik lagi, terus juga karena banyak orang dari fakultas lain kita jadi bisa kenalan sama orang-orang baru,” kata Fadhil.</p>



<p>Namun, menurut Fadhil, Jambud pertama 2024 ini memiliki kekurangan spesifik dibanding Jambud sebelumnya. Yaitu, pertunjukan musik yang hanya diadakan sampai pukul 10 malam. Hal ini tidak seperti penyelenggaraan Jambud yang umumnya dilaksanakan hingga pukul 11-12 malam.</p>



<p>Opini para pengunjung bahwa Jambud sebagai tempat melepas penat, unik, serta tempat bermain dan berkumpul bersama teman tampaknya didukung oleh ramainya pengunjung yang datang. Fakta bahwa pengunjung yang berasal dari berbagai fakultas dan diselenggarakan pada akhir minggu Ujian Akhir Semester (UAS), menunjukkan bahwa Jambud tidak hanya ditujukan untuk kalangan mahasiswa tertentu, melainkan untuk seluruh kalangan mahasiswa yang ingin mengisi waktu kosong mereka dengan diiringi seni musik.</p>



<p>Di tengah-tengah para hadirin <em>kondangan</em>, tentunya banyak cerita baru yang muncul dalam Jambud edisi ke-7 ini. Acara yang selalu diramaikan dengan audiens dari berbagai kalangan ini selalu menyuguhkan keramaian yang berbeda dari acara musik lain, khususnya di FIB UI. Suasana seperti itu pun dirasakan kemarin ketika salah satu band penampil. Fuzzy Lads, membawakan persembahan untuk Alm. Adrian, mahasiswa FIB UI yang belum lama ini meninggal dunia.&nbsp;</p>



<p>Penampilan dari Fuzzy Lads dilengkapi dengan puisi ciptaan Rae, mahasiswa Sastra Indonesia, yang dibuat khusus untuk mengenang Adrian. Persembahan itu pun membuat Jambud edisi kali ini terasa lebih dekat bagi para mahasiswa FIB UI dengan penampilan persembahan yang dibumbui dengan perasaan hangat dan haru. Sebagai acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak dari mahasiswa internal FIB UI, bahkan mahasiswa eksternal sekalipun, tentunya penyelenggara acara selalu mempersiapkan <em>gebrakan</em> pada setiap Jambud.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfqhQzAuvbe69_GSVbZgTM4sX59MHB3_cFubBJ6vdD4SVY1g1pNR1vxRcM0ouV2XhBVjd83sSfJC2ZlJTGvC5exm5oaGqfulv0tWe618w8Yl5zjEdElqL6xsNw0-4dTRU6h8aHoxXgwMbTLNMUownAv83Vh?key=y7WJxTreBr4W-3h3DVsX7w" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Penonton menikmati penampilan <em>band</em>. (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Dari hiasan ala acara pernikahan yang biasa kita jumpai di lingkungan rumah, hingga lagu-lagu dangdut yang melantun, dan orang-orang yang mengikuti <em>dresscode</em>. Atasan kebaya yang dipadukan dengan kain batik, kemeja dengan jas formal khas undangan pernikahan, bahkan beberapa penonton yang datang berpakaian sebagai pengantin. Dalam setiap pelaksanaannya, Jambud selalu dijadikan sebagai ajang mengekspresikan diri melalui dandanan sesuai <em>dresscode</em> dan gaya masing-masing. Selain pakaian, antusiasme dan euforia yang tinggi selalu ditunjukkan oleh para audiens Jambud yang memenuhi Payung, tempat para pengunjung duduk, yang turut bernyanyi dan menari di depan panggung.&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Penulis: </strong>Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Vanya Annisa Shizuka, Yoga Al Kemal</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/06/05/kondangan-meriah-menyambut-jamming-budaya-pertama-2024/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/Suasana-Jambud2.mp4" length="1872324" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Menjajal Jajanan dan Spot Berfoto di Tebet Eco Park</title>
		<link>https://journalight.com/2024/05/24/menjajal-jajanan-dan-spot-berfoto-di-tebet-eco-park/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/05/24/menjajal-jajanan-dan-spot-berfoto-di-tebet-eco-park/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 2 Social Media Journalism]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 May 2024 06:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Spot Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tebet Eco Park]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=1075</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah kepadatan Kota Jakarta, Tebet Eco Park menjadi sebuah oase hijau yang menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk berolahraga dan bersantai. Dengan kehadiran beragam pilihan jajanan di sekitarnya, kini taman ini bukan hanya menjadi tempat bagi para pecinta alam,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di tengah kepadatan Kota Jakarta, Tebet Eco Park menjadi sebuah oase hijau yang menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk berolahraga dan bersantai. Dengan kehadiran beragam pilihan jajanan di sekitarnya, kini taman ini bukan hanya menjadi tempat bagi para pecinta alam, tetapi juga menjadi destinasi kuliner yang diminati oleh warga kota. </p>



<p>Dari makanan tradisional hingga kuliner internasional, Tebet Eco Park menawarkan pengalaman kuliner yang menarik di tengah keramaian ibu kota, menjadikannya destinasi wajib bagi siapa pun yang mencari alternatif segar di tengah kesibukan perkotaan. Berikut merupakan rekomendasi kuliner yang bisa kamu coba:</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jagung Susu Keju&nbsp;</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/LpIsWvUYOeIL0KYzyq3KoldY2WGMWB4y4xiqqRjW3XaDm72HBmaZLBjR6me5QZtm9mGGqZvpBlw-wiPVY_RBgSvd1VYasth_eSHtVmRbJGANfEuQyifEkD49y6WdcxhVZdZdggvssaC91qz3j6rEE-U" alt="" style="width:434px;height:auto" /></figure>
</div>


<p>Menikmati segenggam hidangan sederhana berbahan dasar jagung merupakan pilihan kuliner yang tepat sembari menikmati suasana taman di tengah-tengah kepadatan lalu lintas ibu kota. Siapa sangka, perpaduan sederhana; jagung, margarin, susu, dan keju menjadi perpaduan yang serasi ketika semuanya bersatu.  </p>



<p>Di balik kelezatannya, camilan jasuke menjadi salah satu camilan yang belum padam popularitasnya hingga sekarang. Meskipun terdapat banyak kuliner kekinian baru, camilan ini tetap menjadi perbincangan di media sosial. Salah satunya perdebatan mengenai julukan jajanan manis berbahan jagung ini, ada yang menyebutnya ini <strong>gungsuju </strong>atau <strong>jasuke</strong>.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedai Mie Aceh Barokah</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/LiLY9mL8w7bgffarUfQteRtMjSr9lVv2W2MdtG4JGn3H9aMyggd_ybm4dh-VPDnHk89XX6gRq1kCaQBitNz3ByYW_6fy3buESY7wlDlnjcyZHgICMyYxAOd7WCzhPEB4tY0__hakf8ec21xGLvjy8Kk" alt="" style="width:356px;height:auto" /></figure>
</div>


<p>Kedai Mie Aceh Barokah merupakan kedai yang menjual kuliner khas berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Disajikan dengan kuah kari kental yang bercita rasa rempah-rempah, kuliner mie ini memadukan beberapa protein; daging sapi, ayam, dan aneka hewan laut. Tidak perlu khawatir soal cita rasa, Kedai Mie Aceh Barokah menggunakan aneka rempah-rempah khas Aceh seperti cabai, lada, jinten, kapulaga, dan kunyit yang menjadi bumbu dasar pembuatan kuah kari kuliner ini, sehingga kuliner ini memiliki rasa yang kompleks. Oleh karena itu, Mie Aceh berbeda dengan mie pada umumnya. </p>



<p>Selain dari cita rasa, tekstur mie pada hidangan ini lebih kenyal dan warna mie pada hidangan ini cenderung kuning cerah, sehingga menambah cita rasa pada hidangan Kedai Mie Aceh Barokah. Selain itu, kuliner ini bisa disajikan dalam tiga jenis, yakni mie goreng (kering), mie kuah, dan mie goreng basah. Sebagai pelengkap, satu piring mie Aceh akan diberi taburan bawang goreng, kerupuk emping, mentimun dan juga jeruk nipis.</p>



<p>Selain mie Aceh, kedai ini juga menjual menu andalannya, roti canai. Disajikan dengan susu kental manis dengan tambahan <em>topping</em> keju di atasnya. Hidangan ini cocok menjadi makanan pencuci mulut setelah menyantap mie aceh sebelumnya.&nbsp;  </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/Mnsl6KeNWPeCPkWxmC61wgTI9AT_9c9wiXXwheKiYgX64kuinUWrjK2QVDJy0Uh6TQo0z6LLNO7xCDZuORamPk6PIkuZ4a69mvyX7cXKooMl8cnzxMyIuW6cfVA40Oehwf0dK7rzJg2japU5hyPEFro" alt="" style="width:340px;height:auto" /></figure>
</div>


<p>Dengan kehadiran berbagai pilihan kuliner tersebut, Tebet Eco Park menawarkan lebih dari sekadar makanan, tetapi juga menjadi destinasi wajib bagi para pencari petualangan kuliner di ibu kota.</p>



<p>Selain beragam kuliner yang ada, Tebet Eco Park juga menyediakan banyak spot foto yang menarik, baik untuk foto bersama keluarga, teman, maupun untuk foto profil pribadi. Berikut merupakan rekomendasi spot foto yang bisa kamu coba saat berkunjung ke Tebet Eco Park:</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tulisan “Tebet Eco Park” di Pintu Masuk</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><a href="https://travel.kompas.com/image/2022/04/26/090900127/7-spot-foto-instagramable-di-tebet-eco-park-ada-jembatan-estetik?page=2"><img loading="lazy" decoding="async" width="750" height="500" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/tebet-eco-park.jpeg" alt="" class="wp-image-1096" style="width:366px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/tebet-eco-park.jpeg 750w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/05/tebet-eco-park-300x200.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Kompas.com</figcaption></figure>
</div>


<p>Spot foto pertama yang dapat dijumpai adalah tulisan “Tebet Eco Park”. Terletak di pintu masuk Gerbang Utara Tebet Eco Park, terdapat sebuah tulisan berwarna oranye mencolok yang menyambut mata kita. Pastinya spot foto ini menjadi salah satu <em>icon</em> Tebet Eco Park.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Infinity Link Bridge</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><a href="https://bumijourney.com/experience/tebet-eco-park-where-nature-and-people-coexist-in-perfect-harmony/"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/Xc0CyH2A9pls1jXzYOeep8fhh33az0bKLuo7wb2pUHwH-r8AWDkGxmXuZExFiPGh0aw-KLI3XNtT_Vq9tNeStjqdQCuTcRqgsWpemDWgwcZQvDQrRsqIsfIRjBLYvP0yK16-IIw88Def9MwLDhhW3UY" alt="" style="width:376px;height:auto" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Bumijourney.com</figcaption></figure>
</div>


<p>Selanjutnya, ada satu spot ikonik yang banyak dikenal nih, baik oleh mereka yang sebelumnya pernah mengunjungi Tebet Eco Park, maupun yang belum pernah. Spot ini merupakan jembatan panjang penghubung taman sisi selatan dan utara yang berwarna merah-oranye dengan desain unik, dikenal sebagai Infinity Link Bridge. Untuk hasil foto yang maksimal, pengunjung direkomendasikan untuk berfoto saat siang menuju sore hari di sini karena jembatan akan terlihat sangat indah dengan pemandangan langit biru dan pepohonan sebagai latar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Thematic garden</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><a href="https://id.theasianparent.com/tebet-eco-park"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/V6bfF-w8GPd-7YNsx1bnrMQxqaHgvK6ZPkkh4hW5t8LJ0K3e9rFs6C8oa0SPVR3nSngNEgJLYRCS6MeTS65VOTRebCEbUHlm8IWEiatDdmuBf1_8c_b-wF6-w4_KkD-dV9JXgpCzST31ohtZHMaMB2M" alt="" style="width:376px;height:auto" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Id.theasianparent.com</figcaption></figure>
</div>


<p>Ada juga area Thematic Garden yang masih menyambung dari Infinity Link Bridge. Thematic Garden diperuntukan untuk instalasi seni oleh seniman lokal, sehingga dapat menjadi pilihan spot area berfoto yang menarik bagi para pengunjung Tebet Eco Park.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Area Bermain Anak</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><a href="https://www.urbanasia.com/style/lagi-hits-di-jakarta-yuk-intip-8-zona-seru-di-tebet-eco-park-U57728"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/C50aTYlMdq9fb2zx-cE6F-koPMfCZaF5NPNyZbg8MdwxdBh32vPDWOqImbC3edoffNotG_p7Zrcy3ZRdilpyJ-tx6P54HpBIBAgKti7ewlEF8QV2LIjAL_RnhToghfNfY9ctKtsXDXBOv_cEHaMOrMw" alt="" style="width:386px;height:auto" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Urbanasia.com</figcaption></figure>
</div>


<p>Area ini memiliki instalasi permainan yang tidak hanya menyenangkan bagi anak-anak, tetapi juga memiliki tampilan menarik. Terowongan buaya menjadi salah satu <em>icon</em> memikat mata untuk dijadikan spot berfoto yang tidak boleh ketinggalan!</p>



<p>Dengan berbagai pilihan kuliner yang lezat dan spot berfoto yang <em>instagrammable</em>, Tebet Eco Park adalah destinasi yang sempurna untuk menghabiskan waktu sendiri atapun bersama teman dan keluarga. Jadi, jangan ragu untuk datang dan nikmati pengalaman tak terlupakan di tengah jantung kota Jakarta. Ayo kunjungi Tebet Eco Park!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/05/24/menjajal-jajanan-dan-spot-berfoto-di-tebet-eco-park/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
