<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>General News &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/category/general-news/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jun 2025 06:12:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>General News &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menilik Program Pendidikan Militer Ala Kang Dedi: Apa Kabar Anak-Anak di Barak?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ali Zaky Tamsin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 04:02:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[General News]]></category>
		<category><![CDATA[Barak]]></category>
		<category><![CDATA[Dedi Mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[In-depth news]]></category>
		<category><![CDATA[KDM]]></category>
		<category><![CDATA[Militer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3698</guid>

					<description><![CDATA[Depok (04/06) &#8211; Bagi Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di Bekasi, membuka ponsel dan membaca berita di media sosial beberapa bulan terakhir menyulut kecemasan baru dalam dirinya: anak nakal akan dikirim ke Barak Militer. “Emang beberapa dari kita ada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Deklarasi Penggunaan Kecerdasan Buatan</summary>
<p>Artikel ini ditulis dengan bantuan AI (ChatGPT oleh OpenAI) dalam tahap perumusan ide dan pengumpulan serta interpretasi data. Semua sumber dikonfirmasi berdasarkan dokumen yang diverifikasi dan transkrip wawancara aktual.</p>
</details>



<p>Depok (04/06) &#8211; Bagi Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di Bekasi, membuka ponsel dan membaca berita di media sosial beberapa bulan terakhir menyulut kecemasan baru dalam dirinya: anak nakal akan dikirim ke Barak Militer. “Emang beberapa dari kita ada yang ngerokok, cabut kelas, ya nakal-nakal biasa lah. Tapi kayaknya berlebihan kalo sampe dikirim ke barak, harusnya bisa didengerin aja masalahnya apa” ucap Maman merespon kebijakan baru Gubernur Jawa Barat yang viral akhir-akhir ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="700" height="394" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169.jpeg" alt="" class="wp-image-3707" style="width:840px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169.jpeg 700w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/program-pendidikan-karakter-dan-kedisiplinan-bagi-siswa-1746426671700_169-300x169.jpeg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Sumber: </strong><a href="https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7903885/mengintip-pendidikan-karakter-ala-militer-inisiatif-gubernur-jabar-dedi-mulyadi#google_vignette">Detik.com</a></figcaption></figure>



<p>Sejak bulan Mei 2025, program pengiriman ‘siswa bermasalah’ ke barak militer mulai dijalankan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sebagaimana yang dilansir pada <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250521065959-20-1231383/273-siswa-jabar-dipulangkan-usai-18-hari-program-barak-militer">CNN Indonesia</a>, sebanyak 273 siswa SMP/SMA di Bandung dikirim ke barak untuk mengikuti program pelatihan karakter dan kedisiplinan ala militer. Meskipun program pendidikan remaja nakal bukan lah sesuatu yang baru di dunia, kebijakan ini tetap menuai berbagai macam kontroversi dan diskusi di kalangan masyarakat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa program ini beresiko menimbulkan trauma dan melanggar hak asasi anak, sementara sebagian orang tua menilai program ini cukup efektif.</p>



<p>Namun, apakah benar pendidikan ala militer menjadi kunci untuk menangani kenakalan remaja di Indonesia?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kecemasan Baru Bagi Anak SMA</strong></h2>



<p>Bagi anak SMA, ketakutan akan dikirim ke barak militer menjadi momok kecemasan baru di tengah kegelisahan menentukan rencana studi lanjut setelah menamatkan SMA. Setidaknya itulah yang dirasakan Maman, seorang siswa SMA kelas 12 di salah satu SMA swasta di Bekasi. Awalnya, respon maman terhadap program tersebut cukup baik dan dirasa sebagai langkah yang cukup bagus. Namun demikian, mulai muncul kegelisahan jika ternyata dirinya lah yang dikirim ke barak militer. Dalam wawancara yang dilaksanakan pada hari Senin (02/06), Maman menyatakan kekhawatirannya “masa gua ngerokok2 kayak gini masuk barak militer”.</p>



<p>Menurut Maman, pendekatan militer dalam pendidikan remaja tidak bisa sepenuhnya diterima secara mentah-mentah. Maman menganggap bahwa beberapa remaja yang disebut ‘nakal’ pada dasarnya sedang mencari jati diri. “Banyak yang kayak gitu karena kesepian, kurang perhatian dari orang tua. Kadang guru juga udah enggak peduli. Lingkungan sosialnya juga berpengaruh.”</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-3704" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-1024x683.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-300x200.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7-768x512.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Gambar-WhatsApp-2025-06-04-pukul-10.17.58_54b71bd7.jpg 1296w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Siswa SMA dengan berbagai kegiatannya untuk mengisi waktu luang<br><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>



<p>Ia juga menekankan bahwa tidak semua bentuk kenakalan siswa perlu mendapatkan ‘hukuman militer’. “Kalo ngerokok? ya dikasih peringatan gitu. Baru kalo misalkan tawuran gitu, itu kan membahayakan berbagai pihak. Jadi mungkin bagi siswa-siswa yang gabut dan langsung tawuran, ya bisa dikirim” ucap Maman sambil tertawa sinis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Barak Bisa Jadi Solusi, Tapi Harus Ada Takarannya</strong></h2>



<p>Di sisi lain, Pak Ahmad sebagai guru SMA swasta di Bekasi yang merangkap sebagai bagian pendisiplinan, memilih untuk bersikap netral terkait program barak militer milik Dedi Mulyadi. Baginya, program tersebut bisa menjadi alternatif yang cukup berani dalam menangani persoalan kenakalan remaja, meski ia sendiri lebih suka menyebutnya dengan “rasa penasaran remaja”.</p>



<p>Pada wawancara yang dilaksanakan di hari Senin (02/06), Pak Ahmad menyatakan bahwa program barak militer merupakan langkah baru yang dapat dibilang cukup bagus. Ia mengatakan “Kita bisa lihat dari unggahan Kang Dedi sendiri, anak-anak di sana banyak yang terlihat nyaman, bertemu teman baru, dan bahkan ada yang sampai diundang ke TV. Kalau mereka bisa lulus, itu tandanya ada perubahan”.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img decoding="async" width="720" height="488" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1.jpeg" alt="" class="wp-image-3701" style="width:840px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1.jpeg 720w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/a_682ee8cbb24fe-1-300x203.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Instagram @<a href="https://www.instagram.com/dedimulyadi71/?hl=en#">dedimulyadi71</a></figcaption></figure>



<p>Namun demikian, sebagai seorang guru yang berhadapan langsung dengan pelanggaran-pelanggaran atau ‘rasa penasaran’ siswa di lingkungan sekolah, ia menyadari bahwa terdapat akar permasalahan yang lebih mendalam. Dalam wawancara ia mengatakan “Kita harus lihat dulu permasalahannya… pasti ada faktor internal atau eksternal nya. Bisa jadi kesepian atau kurang mendapat perhatian orangtua. Sehingga akhirnya mereka melakukan hal yang mereka mau aja gitu”. Ia mengatakan bahwa pernah mendengar percakapan antara Dedi Mulyadi dengan salah satu murid yang dikirim ke barak, “Ternyata emang kurang perhatian dan lingkup sosialnya begitu” ujarnya.</p>



<p>Menurut Pak Ahmad, solusi utama terkait fenomena kenakalan remaja di Indonsia seharusnya menyasar keluarga dan sekolah. Ia bahkan mengusulkan agar pendidikan bagi orang tua dalam membesarkan anak menjadi program wajib. “Edukasi antar orang tua untuk memiliki anak untuk mendidiknya, untuk mengetahui mana yang bener dan mana yang salah” saran Pak Ahmad.</p>



<p>Menurutnya, pengalaman semi-militer seperti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama 2-3 hari justru bisa menjadi bentuk pendisiplinan yang cukup tanpa harus mengisolasi anak selama periode waktu yang lama. “Kita kan pernah juga tuh masuk barak waktu LDKS. Apalagi yang ikut paskib. Ya keras, tapi masih wajar.”</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="720" style="aspect-ratio: 1280 / 720;" width="1280" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Dokumentasi-Paskib-1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Program Paskibra bisa menjadi alternatif penidikan kedisiplinan bagi remaja<br><strong>Sumber: </strong>Dokumentasi Pribadi</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari AS hingga Korea Selatan: Jejak Global <em>Military Boot Camp</em></strong></h2>



<p>Meskipun menuai berbagai kontroversi dan pandangan yang berbeda di kalangan masyarakat Indonesia, program pelatihan ala militer bagi remaja bermasalah bukanlah barang baru. Dilansir dari website resmi <a href="https://ojjdp.ojp.gov/sites/g/files/xyckuh176/files/pubs/reform2/ch2_g.html">Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention (OJJDP)</a>, Amerika Serikat telah mengembangkan program <em>juvenile boot camps </em>sejak tahun 1980-an. Hingga saat ini, program-program tersebut masih banyak dijalankan di berbagai negara bagian AS, salah satunya seperti yang bisa dilihat pada dokumenter singkat di bawah ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="The Brutal Correctional Facility for Naughty Kids" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/Hn7y6xXnteQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p>Adapun di Cina dan Korea Selatan, program serupa juga ditemukan untuk anak-anak yang dianggap ‘kecanduan internet’. Program ini dikelola otoritas militer atau bekerjasama dengan militer, berisi latihan fisik intensif dan tanpa akses gadget (digital detox) selama beberapa minggu. Program ini memiliki tujuan utama untuk mengubah kebiasaan negatif seperti kecanduan internet, menjadi gaya hidup lebih sehat dengan disiplin militer. Beberapa pihak melihat pendekatan ini sebagai metode yang kontroversial, meski beberapa lainnya memandangnya program ini sebagai inovasi penanganan masalah teknologi pada remaja.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="Internet-addicted South Korean children sent to digital detox boot camp" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/YuT_RAugJu0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="China&#039;s kids head to army-style boot camps" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/jksj4ZSBX-0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p>Meskipun telah dilaksanakan di berbagai negara, program pendidikan militer yang keras pada nyatanya tidak menyelesaikan permasalahan kenakalan remaja. <a href="https://youthendowmentfund.org.uk/toolkit/boot-camps/#:~:text=On%20average%2C%20boot%20camps%20are,violence%20and%20may%20cause%20harm">Youth Endowment Fund</a> menyatakan bahwa program semacam <em>boot camps </em>bagi remaja tidaklah efektif untuk menurunkan tingkat kekerasan dan justru berpotensi menyebabkan kekerasan. Riset yang dilakukan justru menemukan bahwa remaja yang berpartisipasi melalui program <em>boot camps</em> justru memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam aksi kekerasan dan kejahatan sebesar 6%.&nbsp;</p>



<p>Ahli pendidikan dan psikologi juga menyoroti banyak kekurangan. Pemilihan peserta yang hanya didasarkan pada rekomendasi sekolah dianggap tidak begitu tepat. Dilansir dari <a href="https://www.liputan6.com/health/read/6021996/gubernur-dedi-mulyadi-kirim-anak-bermasalah-ke-barak-militer-psikolog-ingatkan-dampaknya?page=4">Liputan6</a>, Psikolog anak dan remaja dari PION Clinician, Madasaina Putri, M.Psi menilai lingkungan pelatihan yang sangat militeristik dapat menimbulkan trauma, stres, dan memperkuat label negatif pada anak.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Langkah Selanjutnya: Antara Trauma dan Harapan</strong></h2>



<p>Di samping kritik yang terus datang, program pengiriman anak ke barak militer oleh Gubernur Jawa Barat tetap berjalan. Berdasarkan pandangan masyarakat dan para ahli, serta evaluasi dari program-program semisal di negara lain, diperlukan adanya pengawasan yang ketat terhadap jalannya program baru ini. Warga masyarakat Jawa Barat kini harus menunggu, apakah barak ini akan menjadi tempat pembinaan atau tempat penindasan baru bagi anak-anak bangsa?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/menilik-program-pendidikan-militer-ala-kang-dedi-apa-kabar-anak-anak-di-barak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Dokumentasi-Paskib-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Impor Kereta Listrik, Wajah Baru KRL yang Diselimuti Tanya</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/impor-kereta-listrik-wajah-baru-krl-yang-diselimuti-tanya/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/impor-kereta-listrik-wajah-baru-krl-yang-diselimuti-tanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Geofanny.Elizabeth]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:34:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General News]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Impor Kereta]]></category>
		<category><![CDATA[KRL Commuter Line]]></category>
		<category><![CDATA[Transportasi Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3665</guid>

					<description><![CDATA[Catatan penulis: Pencarian data dan riset artikel ini dibantu dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI), ChatGPT. Jakarta, 04/06/2025 – Sebuah rangkaian KRL (Kereta Rel Listrik) baru mulai melintasi jalur Jabodetabek. Desainnya lebih modern, interiornya lebih nyaman, dan fitur informasinya kini...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-small-font-size">Catatan penulis:</p>



<p class="has-small-font-size">Pencarian data dan riset artikel ini dibantu dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI), ChatGPT.</p>



<p style="font-size:16px">Jakarta, 04/06/2025 – Sebuah rangkaian KRL (Kereta Rel Listrik) baru mulai melintasi jalur Jabodetabek. Desainnya lebih modern, interiornya lebih nyaman, dan fitur informasinya kini ditampilkan secara digital. Namun, di balik peningkatan kualitas layanan tersebut, ada fakta yang mencuri perhatian dan membuat masyarakat berpikir kembali. Kereta ini bukan dibuat di dalam negeri, melainkan didatangkan dari Tiongkok. Pengadaan KRL terbaru oleh PT KAI Commuter dari produsen asal China menimbulkan pertanyaan, antara optimisme akan modernisasi dan kekhawatiran atas ketergantungan pada impor.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perjalanan KRL</h2>



<p style="font-size:16px">KRL Commuter Line telah menjadi tulang punggung transportasi publik di Jakarta dan sekitarnya.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Sejak era 1970-an, wajah KRL Jabodetabek didominasi oleh rangkaian bekas dari Jepang. Mulai dari seri Rheostatik hingga seri 205JR, gerbong-gerbong ini sudah menemani lintasan urban selama puluhan tahun.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Saat ini, sebagian besar dari mereka telah mencapai usia pensiun. Beberapa di antaranya bahkan telah melewati batas optimal operasional.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Dilansir dari <a href="http://kompas.com">kompas.com</a>, pertumbuhan penumpang KRL mencapai sekitar 6% per tahunnya, sehingga tak heran, PT KAI Commuter berpacu melawan waktu untuk memperbaharui dan menambah armada.</p>



<p style="font-size:16px">Langkah besar pun diambil. Awal tahun 2025, satu per satu kereta listrik baru berkelir merah-putih tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Bukan lagi dari Jepang, melainkan dari CRRC Qingdao Sifang, Tiongkok. Inilah generasi terbaru KRL Jabodetabek.</p>



<p style="font-size:16px">Dengan formasi 12 gerbong per rangkaian dan kapasitas angkut mencapai 3.400 penumpang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Memilih KRL?</h2>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-default is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:16px"><em>Kalo kereta, kan, gak kena macet, ya. Terus, dengan harga Rp 3.000 &#8211; Rp 6.000 udah bisa keliling Jabodetabek. Cuman, ya, memang, kenyamanan dan keamanan kereta perlu ditingkatin, sih.</em> &#8211; Ellena Maria (Pengguna KRL)</p>
</blockquote>



<p style="font-size:16px">Di tengah kemacetan lalu lintas, naik KRL bukan lagi pilihan alternatif, tetapi solusi dan kebutuhan. KRL adalah moda transportasi publik yang efisien di wilayah megapolitan Jabodetabek, baik dari segi kapasitas, waktu tempuh, maupun dampak lingkungan.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">KRL mampu memindahkan ribuan penumpang dalam satu waktu, jauh melebihi kapasitas bus maupun kendaraan pribadi.</p>



<p style="font-size:16px">Selain bebas hambatan lalu lintas, KRL juga lebih ramah lingkungan karena digerakkan oleh listrik. Dalam jangka panjang, KRL berpotensi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, menurunkan emisi karbon dan polusi udara yang menjadi masalah kronis kota-kota besar.</p>



<p style="font-size:16px">Bagi pekerja kantoran, pelajar, hingga pedagang kecil, KRL menjadi tulang punggung mobilitas. Meskipun, masalah kenyamanan dan keamanan tetap perlu dibenahi.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Bedanya yang Baru dan yang Lama?</h2>



<p style="font-size:16px">Kereta ini bukan sekadar pengganti rangkaian lama, tetapi membawa standar baru dalam hal teknologi, efisiensi, dan kapasitas.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Add-a-subheading-819x1024.png" alt="" class="wp-image-3676" style="aspect-ratio:1;object-fit:cover;width:500px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Add-a-subheading-819x1024.png 819w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Add-a-subheading-240x300.png 240w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Add-a-subheading-768x960.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Add-a-subheading.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p style="font-size:16px">Menurut <a href="http://liputan6.com">liputan6.com</a>, uji coba kerta baru ini telah dilaksanakan pada awal tahun 2025. Di tahun ini, KCI merencanakan pengoperasian bertahap hingga total 27 trainset baru (gabungan pesanan INKA dan China).</p>



<p style="font-size:16px">Salah satu pengguna setia KRL, Ellena Maria ikut menceritakan pengalamannya menggunakan kereta baru.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Sebagai pengguna KRL hampir setiap hari, ia merasa KRL adalah transportasi umum (transum) yang nyaman dan relatif cepat.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Hanya saja, pada beberapa rute kereta selalu penuh dan berdesakan sehingga kadang muncul rasa malas untuk menggunakan transum.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Namun, di tengah kehidupan elit dan ekonomi global sedang melemah ini, transum adalah moda transportasi yang efisien karena menawarkan harga yang murah. Selain murah, transum juga menjangkau banyak titik lokasi yang strategis.</p>



<p style="font-size:16px">Kehadiran kereta baru pada beberapa rute KRL merupakan sebuah kabar bahagia untuk Ellena. Selain menambah jumlah kereta yang beroperasi, kereta baru ini menawarkan pengalaman baru dalam transum khususnya kereta. Kenyamanan, kebersihan dan pengalaman layaknya menggunakan transum namun premium.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1080 / 1080;" width="1080" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/KRL.mp4"></video></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Mandiri atau Masih Bergantung?</h2>



<p style="font-size:16px">Di balik antusiasme menyambut armada baru, muncul pertanyaan mendasar: apakah pengadaan ini mencerminkan kemandirian atau justru ketergantungan?</p>



<p style="font-size:16px">Saat ini, Indonesia masih belum sepenuhnya mandiri dalam memproduksi KRL secara massal. PT Industri Kereta Api (INKA) memang mampu memproduksi KRL dan bahkan mengekspor ke luar negeri, namun belum bisa memenuhi kebutuhan KAI Commuter dalam jumlah dan waktu yang cepat.&nbsp;</p>



<p style="font-size:16px">Oleh karena itu, untuk kebutuhan mendesak, pengadaan dari luar negeri dianggap sebagai solusi tercepat dan murah.</p>



<p style="font-size:16px">Namun pilihan ini menyimpan risiko jangka panjang: ketergantungan terhadap teknologi asing. Dari sistem kelistrikan, kontrol kereta, hingga komponen teknis utama masih harus diimpor. Tanpa transfer teknologi dan penguatan industri lokal, modernisasi ini bisa berubah menjadi ketergantungan baru.</p>



<p style="font-size:16px">Pemerintah menyatakan akan meningkatkan peran INKA dalam proyek-proyek selanjutnya, namun hingga saat ini, jalur produksi lokal belum menjadi tulang punggung utama.</p>



<p style="font-size:16px">Ini bukan sekadar perbaikan teknis tapi menjadi salah satu perubahan makna. Transportasi umum tidak harus menjadi siksaan, tapi bagian dari gaya hidup yang lebih manusiawi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Masa Depan KRL</h2>



<p style="font-size:16px">Kontrak pengadaan ini sendiri merupakan hasil tender internasional yang ketat. CRRC dipilih karena menawarkan harga lebih kompetitif dan waktu pengiriman lebih cepat dibanding Jepang dan Korea Selatan. Keputusan ini juga membawa konsekuensi strategis dari sisi geopolitik, ekonomi, hingga arah industri transportasi nasional ke depan.</p>



<p style="font-size:16px">Namun satu pertanyaan masih menggantung sepanjang jalur rel: apakah Indonesia akan terus berada di posisi sebagai pengguna teknologi, atau mampu bertransformasi menjadi produsen?</p>



<p style="font-size:16px">Bagi jutaan pengguna KRL, yang terpenting mungkin hanyalah perjalanan yang lebih nyaman, cepat, dan tepat waktu. Sedangkan bagi negara, situasi ini seharusnya menjadi momen penting, bukan sekadar untuk membeli gerbong masa depan, tetapi juga turut berperan dalam mengarahkan lajunya.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/impor-kereta-listrik-wajah-baru-krl-yang-diselimuti-tanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/KRL.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
