<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Research &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/category/research/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Dec 2025 07:26:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Research &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menabung Tanpa Mengorbankan Kebahagiaan: Praktik Soft Saving Pada Gen Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 1 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 16:10:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=4437</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup yang serba cepat, banyak Gen Z mulai mencari cara baru untuk mengelola keuangan mereka. Alih-alih mengikuti pola menabung generasi sebelumnya, mereka lebih memilih pendekatan yang lebih fleksibel, yaitu soft saving. Pendekatan ini menjadi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup yang serba cepat, banyak Gen Z mulai mencari cara baru untuk mengelola keuangan mereka. Alih-alih mengikuti pola menabung generasi sebelumnya, mereka lebih memilih pendekatan yang lebih fleksibel, yaitu <em>soft saving</em>. Pendekatan ini menjadi cara menabung untuk masa depan, sambil memberi ruang bagi kebahagiaan di masa kini.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Adib &amp; Nana, Duo Gen Z yang melakukan <em>Soft Saving</em> Demi Kebahagiaan Diri</strong></h2>



<p>Adib dan Nana, dua pekerja swasta yang tinggal dan bekerja di Ibukota Jakarta menjadi bagian dari Gen Z yang menerapkan praktik ini dalam keseharian mereka. Bagi keduanya, menabung bukan soal menahan diri sepenuhnya, melainkan tentang mengatur prioritas agar kebutuhan di masa mendatang tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas hidup saat ini.</p>



<p>Cerita Nana cukup unik. Ia memiliki dua sumber pendapatan, yakni dari pekerjaan utama dan <em>freelance</em> yang masing-masing dialokasikan berdasarkan kebutuhan. Pendapatan dari pekerjaan utama ia sisihkan untuk tabungan jangka panjang, sementara penghasilan dari <em>freelance</em> digunakan untuk konser, liburan, atau membeli <em>wishlist</em> yang telah lama ia incar. Bagi Nana, keseimbangan ini menjadi bagian dari gaya hidup—cara untuk bertahan sekaligus tetap merasa aman di tengah ketidakpastian ekonomi yang kian terasa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-a0d94e0f0e346598ef3bfe0884731ce6"><em>“Aku tetap nabung tapi jadi sekarang kan aku punya dua income ya&#8230; Income dari main job aku sama side job aku. Tapi, pemasukan side job itu adalah buat hal-hal yang aku senang-senang. ‘Main’ tabungan aku itu buat yang nanti&nbsp; jangka panjangnya nanti, yang masih nanti.”</em></p>



<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-6c5ebe163f7632f3307036974c3a8538">Nana (26), Pekerja swasta</p>
</blockquote>



<p>Cerita yang berbeda datang dari Adib. Ia memilih untuk mengatur pengeluaran dengan disiplin melalui <em>budgeting</em>. Sejak awal menerima gaji, Adib sudah menentukan porsi untuk kebutuhan harian, tabungan, dan pengeluaran personal. Baginya, menabung tidak hanya berarti menyimpan uang di tabungan, tetapi juga berinvestasi pada diri sendiri. Mulai dari <em>self care</em>, <em>self-reward</em>, hingga <em>self-development</em> seperti mengikuti kursus dan sertifikasi untuk menunjang karir.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-b8e258b80c5677182a618697314d09cb"><em>“Budgeting… misalnya aku budgeting untuk makan berapa, ojek kantor berapa, untuk hiburan berapa, yang untuk saving itu berapa. Oh platformnya, mungkin kayak nabung, bisa pakai bank Jago nih&#8230; kalau di bank Jago itu ada kayak pocket gitu lah”</em></p>



<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-cc02b9c010e2936925d14d51aefb73dd">Adib (25), Pekerja swasta</p>
</blockquote>



<p>Meski menjalani strategi yang berbeda, Nana dan Adib berbagi satu kesamaan: keduanya tidak memaknai menabung sebagai praktik yang menyulitkan. Justru sebaliknya, <em>soft saving</em> menjadi alternatif untuk tetap menabung demi masa depan tanpa sepenuhnya mengorbankan kebahagiaan saat ini. Keseimbangan inilah yang mereka anggap paling realistis.</p>



<p>Ternyata, tidak hanya Nana dan Adib yang memilih pendekatan <em>soft saving</em> dalam mengelola keuangan. Pola serupa kini semakin terlihat dalam perilaku finansial Gen Z secara lebih luas. Bagi banyak anak muda Indonesia, menabung tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya membangun rasa aman di masa depan, tetapi juga sebagai cara mempertahankan kendali di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Dalam konteks ini, kenyamanan hari ini dipandang sama pentingnya dengan kesiapan finansial jangka panjang (IDN Research Institute, 2025).</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Untuk Apa Gen Z menabung Hari ini?</strong></h2>



<p>Berdasarkan survei yang dilakukan penulis terhadap 50 responden Gen Z yang bekerja di Jakarta pada November 2025, sebanyak 52% responden menyebut bahwa menjaga keseimbangan antara kestabilan finansial dan menikmati hidup sama pentingnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang menyeimbangkan kebutuhan jangka panjang dan kenyamanan hari ini semakin relevan bagi anak muda.</p>



<p>Tujuan menabung Gen Z tidak lagi berfokus pada satu aspek saja. Investasi jangka panjang masih menjadi prioritas utama, namun kebutuhan akan self-reward dan dana darurat turut menempati posisi penting dalam perencanaan keuangan mereka.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/26573087/embed#?secret=viEGKKfBvd" data-secret="viEGKKfBvd" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong><em>Self-Reward</em> sebagai Sumber Kebahagiaan: Ke Mana Gen Z Mengalokasikan Pengeluaran?</strong></h2>



<p>Ketika berbicara tentang kebahagiaan, prioritas pengeluaran Gen Z bergantung pada kondisi finansial mereka. Gen Z dengan pendapatan di atas Rp 7.000.000 cenderung menghabiskan dana terbesar untuk <strong>hobi</strong> dan <strong><em>fashion</em></strong>. Berbeda dengan kelompok pendapatan Rp 3-4 juta yang lebih fokus pada <strong>makanan</strong> dan <strong>minuman</strong>. Sementara itu, bagi mereka dengan pendapatan di bawah Rp 3.000.000, alokasi dana terbesar justru ditujukan untuk <strong><em>fashion</em></strong>.</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26571925"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26571925/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Temuan tersebut tercermin lebih jelas pada pertanyaan terbuka terkait motivasi di balik praktik <em>soft saving</em>. Berdasarkan survei yang sama, mayoritas responden mengaitkan <em>soft</em> <em>saving</em> dengan kebutuhan akan <em>self-reward</em>. Jawaban yang muncul didominasi oleh <em>traveling</em> dan konser. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas tersebut menjadi salah satu cara untuk menikmati hidup</p>


<div class="infogram-embed" data-id="ac918a0f-33a4-4da7-984e-05fe3110a8fe" data-type="interactive" data-title=""></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Niat Hati ingin Menabung, Tapi…. Tantangan masih Menghampiri</strong></h2>



<p>Di atas kertas, <em>soft saving</em> mungkin terlihat sederhana: menabung tanpa sepenuhnya menekan diri. Namun kenyataannya, menjaga agar tetap konsisten bukan perkara yang mudah. Niat menabung sering kali berhadapan dengan realitas hidup yang penuh distraksi–pengeluaran kecil yang terasa wajar, keputusan spontan yang muncul di tengah rutinitas, hingga kebutuhan tak terduga yang menggeser rencana. Bagi banyak Gen Z, tantangan terbesar bukan terletak pada kemauan untuk menabung, melainkan pada kemampuan mengendalikan batas antara kebutuhan, keinginan, dan rasa ingin “hadiah kecil” untuk diri sendiri. Di titik inilah <em>soft saving</em> menjadi proses yang dinamis: terus dinegosiasikan, diuji, dan disesuaikan dengan kondisi nyata sehari-hari.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/26622313/embed#?secret=3lSzUF8CfE" data-secret="3lSzUF8CfE" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di benak Gen Z?</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>Mengapa mereka berusaha untuk menyeimbangkan tabungan dan gaya hidup meski tantangannya begitu berat?</strong></h3>



<p>Menurut Psikolog Dr. Dyah Triarini Indirasari, fenomena <em>soft saving</em> adalah respons adaptif Gen Z terhadap kondisi zaman sekarang. Praktik ini biasanya muncul ketika kebutuhan dasar, seperti makan dan tempat tinggal sudah terpenuhi. Di titik ini, fokus individu bergeser. Tidak lagi tentang bertahan hidup, tetapi mulai memikirkan cara agar emosional dan kesehatan mental tetap stabil.</p>



<p>Ia menyoroti bahwa bagi Gen Z, definisi “kemewahan” telah berubah. Kemewahan pada generasi ini bukan soal mengumpulkan aset yang mahal seperti generasi sebelumnya, melainkan tentang pengalaman dan kepuasan batin.</p>



<p>Lebih lanjut, terdapat dua dorongan psikologis utama di balik praktik soft saving yang dilakukan Gen Z, simak video berikut!</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Kenapa-Kita-1.mp4"></video></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Bagaimana Cara Soft Saving yang Sehat? Ini Kata Mereka!</strong></h2>



<p>Mencari titik temu antara menikmati saat ini dan mempersiapkan masa depan menjadi tantangan tersendiri. Agar <em>soft saving</em> tetap menjadi praktik yang sehat bagi mental dan finansial, berikut adalah cara yang dapat kamu ikuti!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-724x1024.png" alt="" class="wp-image-4442" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1.png 1587w" sizes="(max-width: 724px) 100vw, 724px" /></figure>



<p>Referensi <br>IDN Research Institute. (2025). Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Kenapa-Kita-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Scroll, Tertarik, Checkout: Pengalaman Impulse Buying Mahasiswa FISIP UI di Live TikTok Shop</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nefertiti Gayla Garibaldi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 19:24:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[Impulse Buying]]></category>
		<category><![CDATA[Live TikTok]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kamu menonton live TikTok yang awalnya hanya sekedar scroll FYP, lalu tiba-tiba terhenti pada live streaming penjual yang mempromosikan produknya–dan akhirnya, kamu melakukan pembelian secara spontan? Fenomena ini bukanlah hal yang asing, termasuk di kalangan mahasiswa. Belanja melalui fitur...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pernahkah kamu menonton <em>live </em>TikTok yang awalnya hanya sekedar <em>scroll</em> FYP, lalu tiba-tiba terhenti pada <em>live streaming </em>penjual yang mempromosikan produknya–dan akhirnya, kamu melakukan pembelian secara spontan? Fenomena ini bukanlah hal yang asing, termasuk di kalangan mahasiswa. Belanja melalui fitur <em>live streaming</em> TikTok Shop kini tidak lagi sekedar dipandang sebagai aktivitas transaksi, melainkan telah berkembang menjadi sebuah pengalaman yang bersifat emosional, interaktif, dan terkadang impulsif—yang meskipun disertai penyesalan, tetap membuat pengguna kembali melakukannya. Pengalaman ini bahkan kerap dianggap sebagai bagian dari rutinitas digital harian. Dalam konteks ini, aktivitas <em>scrolling</em> di TikTok bukan lagi sekadar pengisi waktu luang, melainkan proses konsumsi yang berlangsung secara intens dan kadang tanpa disadari. Penggunaan algoritma yang mengarahkan pengguna pada konten relevan membuat pengalaman belanja semakin personal dan menggoda.</p>



<p>Di era <em>society</em> 5.0, belanja <em>online</em> bukan lagi sekadar transaksi, melainkan telah berkembang menjadi sebuah pengalaman yang bersifat personal, emosional, dan interaktif. Salah satu inovasi yang paling menonjol dalam dunia <em>e-commerce</em> saat ini adalah <em>live streaming commerce, </em>di mana proses jual beli tidak hanya terjadi dalam diam, tetapi berlangsung secara <em>real-time</em>, interaktif, dan penuh dinamika sosial. TikTok Shop, sebagai salah satu pelopor <em>live streaming commerce</em>, menghadirkan pengalaman interaktif yang menggoda: promo terbatas waktu, <em>host</em> yang energik, dan visualisasi produk yang meyakinkan. Hal ini memicu fenomena <em>impulsive</em> <em>buying</em> atau tindakan pembelian yang tidak direncanakan, dilakukan secara spontan dan didorong oleh emosi atau dorongan sesaat tanpa pertimbangan rasional yang mendalam (Chan et al., 2017). Dengan pengguna TikTok di Indonesia mencapai 107 juta jiwa (Statista, 2025), tak heran jika mahasiswa pun jadi sasaran empuk.&nbsp;</p>



<p>Penelitian ini lahir dari keterbatasan temuan sebelumnya yang didominasi oleh pendekatan kuantitatif dan belum secara mendalam menggambarkan pengalaman subjektif konsumen dalam konteks pembelian impulsif melalui live streaming TikTok Shop. Untuk itu, penelitian ini akan menjawab pertanyaan utama yaitu <strong>apa alasan mahasiswa aktif FISIP UI melakukan </strong><strong><em>impulsive buying</em></strong><strong> melalui </strong><strong><em>live streaming</em></strong><strong> TikTok, serta bagaimana pengalaman mereka dalam melakukan pembelian tersebut?&nbsp;</strong></p>



<p>Konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model <em>Stimulus-Organism-Response (S-O-R)</em> (Mehrabian &amp; Russel, 1974). Konsep ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang merupakan hasil dari respons terhadap stimulus eksternal yang mempengaruhi kondisi internal (organism) individu, sebelum akhirnya menghasilkan suatu tindakan (response). Dalam konteks penelitian ini, <em>stimulus</em> dapat berupa konten <em>live streaming</em>; algoritma FYP, gaya komunikasi <em>host</em>, hingga promosi diskon terbatas; <em>organism</em> mencakup kondisi emosional dan kognitif seperti rasa penasaran, senang, atau FOMO; sementara <em>response</em> merujuk pada keputusan pembelian impulsif yang dilakukan mahasiswa. Model ini juga telah banyak digunakan dalam studi-studi terkini terkait <em>live commerce</em>, termasuk dalam penelitian oleh Zhu et al. (2020) yang menemukan bahwa elemen visual seperti pencahayaan, ekspresi<em> host</em>, hingga kecepatan respons terhadap komentar penonton memiliki pengaruh signifikan terhadap keterlibatan emosional pengguna. Dengan kata lain, TikTok Shop tidak hanya menyajikan produk, tetapi membungkusnya dalam pengalaman multi-indrawi yang terstruktur.</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan penelitian, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang memungkinkan untuk menggali lebih dalam pengalaman subjektif mahasiswa saat melakukan pembelian impulsif di TikTok Shop. Narasumber dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em> dengan kriteria sebagai berikut: mahasiswa aktif di FISIP UI, merupakan pengguna aktif TikTok, dan memiliki kebiasaan atau pengalaman berbelanja secara impulsif melalui fitur <em>live streaming</em> TikTok Shop. Penelitian diikuti oleh total 3 narasumber yang masing-masing berasal dari jurusan yang berbeda di FISIP UI, untuk memastikan keberagaman perspektif dalam melihat fenomena <em>impulse buying </em>melalui <em>live streaming</em> pada TikTok Shop. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah <em>in-depth interview </em>atau wawancara mendalam yang kemudian seluruh data hasil wawancara dianalisis menggunakan teknik analisis tematik, yang terdiri dari proses transkrip wawancara mendalam, pengkodean terbuka, <em>axial coding</em>, hingga <em>selective coding</em>. Untuk memperkuat visualisasi temuan, hasil <em>coding</em> yang telah diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam <em>platform</em> WordArt untuk melihat kata-kata atau konsep yang paling dominan muncul dari narasi informasi. Visualisasi ini membantu peneliti mengidentifikasi tema-tema kunci secara lebih intuitif dan komunikatif.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="617" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1024x617.png" alt="" class="wp-image-3892" style="width:612px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1024x617.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-300x181.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-768x463.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-1536x926.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-8-2048x1235.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 1. Hasil Coding</figcaption></figure>
</div>


<p><strong>Paparan yang Menjebak: Saat FYP Mengarahkan Jari ke &#8220;Keranjang Kuning&#8221;</strong></p>



<p>Sebagian besar narasumber mengakui bahwa mereka tidak berniat membeli ketika pertama kali membuka TikTok. Namun, kemunculan<em> live streaming</em> penjualan di <em>For You Page (FYP)</em> secara berkala menciptakan kebiasaan baru.<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Kalau muncul di FYP dan lagi relevan banget sama yang gue cari, pasti gue tontonin&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Bagi mereka, FYP bekerja seperti jalan masuk yang tak disadari menuju keputusan pembelian.</p>



<p><em>Host</em> yang enerjik, cara berbicara yang meyakinkan, dan visualisasi produk yang jelas menjadi kombinasi ampuh untuk membuat pengguna bertahan di live. Salah satu narasumber bahkan berkata,<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Host-nya lucu, jadi gue stay nonton padahal awalnya nggak niat beli.&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Dalam konteks model <em>Stimulus-Organism-Response (S-O-R)</em>, paparan terhadap konten<em> live </em>TikTok Shop merupakan stimulus yang mendorong keterlibatan emosional. Menurut Lee dan Chen (2021), stimulus seperti ini menimbulkan<em> pleasure dan arousal, </em>yang kemudian memperbesar kemungkinan terjadinya perilaku impulsif. Paparan yang menarik dan berulang memicu kondisi emosional yang terbuka terhadap pengaruh promosi.</p>



<p>Fenomena ini memperlihatkan bagaimana algoritma yang bekerja secara otomatis dapat membentuk pola perilaku baru pada pengguna, termasuk mahasiswa. TikTok bukan hanya platform hiburan, tetapi telah berevolusi menjadi mesin persuasi yang menyatu dalam rutinitas digital generasi muda. Tidak mengherankan jika aktivitas sekadar <em>scroll </em>FYP berubah menjadi pengalaman emosional yang intens dan berujung pada tindakan pembelian.</p>



<p><strong>Diskon dan Produk Relevan: Godaan yang Sulit Ditolak</strong></p>



<p>Narasumber sepakat bahwa diskon besar,<em> flash sale,</em> serta promo waktu terbatas adalah alasan utama mereka melakukan pembelian impulsif.<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue beli soalnya ada flash sale tengah malam. Harganya jadi jauh lebih murah dari biasanya&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Sementara narasumber lain menambahkan,<em> </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Satu barang 200 ribu, tapi di live bisa dapet tiga. Gila sih.&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Ketika produk yang ditampilkan juga relevan dengan minat atau kebutuhan mereka, dorongan untuk membeli semakin kuat. Hal ini menegaskan bahwa dalam kerangka <em>impulse buying behavior</em> (Chan et al., 2017), keputusan pembelian impulsif sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara kondisi emosional sesaat dan tawaran yang sulit ditolak.</p>



<p>Diskon dan relevansi menjadi <em>stimulus</em> kuat yang memicu keinginan mendadak <em>(organism)</em> dan mendorong tindakan membeli <em>(response)</em>. TikTok Shop, melalui<em> live streaming</em>-nya, telah merekayasa pengalaman belanja yang mampu mengaktifkan dorongan emosional secara instan.</p>



<p>Tak hanya harga, kombinasi strategi pemasaran digital seperti<em> urgency cues</em> (hitung mundur <em>flash sale</em>), <em>scarcity messages</em> (stok tinggal sedikit), dan testimoni pembeli lain juga memperkuat efek dorongan tersebut. Semua itu menjadikan pengalaman belanja terasa mendesak sekaligus memuaskan secara emosional.</p>



<p><strong>Pengalaman Belanja yang Emosional dan Kadang Nyesek</strong></p>



<p>Tidak semua pengalaman belanja impulsif berakhir bahagia. Narasumber mengalami berbagai emosi, mulai dari puas hingga penyesalan. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue beli jam 2 pagi BH tempel. Padahal gue nggak butuh. Tapi videonya lucu dan harganya murah.&#8221;</em> </p>
</blockquote>



<p>Ungkap salah satu informan dengan nada geli. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keputusan mereka bukan karena kebutuhan, tapi karena momen emosional yang muncul seketika.</p>



<p><em>Live streaming</em> menciptakan interaksi dua arah yang berbeda dari <em>e-commerce</em> konvensional. Beberapa informan menyebut pengalaman ini lebih <em>engaging</em> karena bisa langsung menanyakan detail produk ke host dan melihat barang secara <em>real-time. </em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Di TikTok tuh beda, karena bisa nanya langsung, jadi kayak lebih percaya aja gitu,&#8221; </em>ujar salah satu dari mereka.</p>
</blockquote>



<p>Namun, setelah pembelian, perasaan campur aduk muncul. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Jujur kadang nyesel sih, tapi ada juga yang gue puas banget karena kepake.&#8221; </em></p>
</blockquote>



<p>Kata seorang narasumber. Beberapa narasumber merasa mendapatkan nilai lebih, sementara yang lain merasa tertipu oleh ekspektasi yang dibangun selama <em>live.</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868.jpg" alt="" class="wp-image-3893" style="width:381px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773868-768x768.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 2. Ilustrasi Perasaan Kecewa Setelah Membeli </figcaption></figure>
</div>


<p>Temuan ini memperkuat tahap organism dalam model S-O-R, di mana emosi seperti penasaran, <em>excited,</em> bahkan FOMO <em>(fear of missing out)</em> menjadi bagian dari proses psikologis yang mendahului tindakan. Dalam penelitian Gulfraz et al. (2022), hal serupa juga ditemukan dalam pembelian impulsif yang sering kali merupakan hasil dari kombinasi emosi sesaat dan konteks sosial yang intens.</p>



<p><strong>Evaluasi Setelah Belanja: Antara Nyaman dan Kapok</strong></p>



<p>Setelah transaksi selesai, narasumber melakukan evaluasi terhadap produk dan fitur TikTok Shop. Pengalaman yang memuaskan membuat mereka cenderung kembali membeli. Namun, pengalaman buruk bisa langsung memutus ketertarikan mereka terhadap toko tertentu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Gue pernah beli dress 25 ribu, pas nyampe robek. Jadi kapok sih dari toko itu.&#8221;</em> </p>
</blockquote>



<p>Cerita salah satu informan. Sebaliknya, fitur-fitur seperti keranjang kuning, <em>banner</em> informasi, dan sistem pembayaran instan dianggap sangat membantu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em> &#8220;Gue suka fitur keranjang live-nya, jadi nggak ribet harus keluar aplikasi,&#8221;</em> ujar informan lain.</p>
</blockquote>



<p>Evaluasi ini menjadi penentu apakah pengalaman impulsif akan diulang atau dihentikan. Dalam konteks konsep S-O-R, fase ini adalah respons lanjutan: apakah akan terjadi <em>repeat buying </em>atau penghindaran.</p>



<p><strong>Pola Baru: Menanti Live Dulu Baru Beli</strong></p>



<p>Yang menarik, sebagian besar informan mengaku kini terbiasa mengecek apakah toko sedang <em>live</em> sebelum memutuskan membeli. Ini menunjukkan pergeseran pola konsumsi. Jika sebelumnya belanja dilakukan berdasarkan kebutuhan, kini keputusan muncul dari momentum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="683" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-683x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3894" style="width:287px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-683x1024.jpg 683w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-200x300.jpg 200w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869-768x1152.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/S__22773869.jpg 1024w" sizes="auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 3. Ilustrasi Menanti Live Sebelum Memutuskan Membeli Suatu Barang</figcaption></figure>
</div>


<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Awalnya coba-coba aja beli, tapi karena cocok, jadi gue beli lagi barang yang sama,&#8221;</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>&#8220;Kalau mau beli barang sekarang, gue suka tungguin dia live dulu, soalnya biasanya ada promo,&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p>Bahkan ada yang menyebut bahwa dirinya lebih percaya dengan <em>review</em> dan penawaran yang muncul di<em> live</em> dibanding platform lain.</p>



<p>Model S-O-R tidak hanya menjelaskan satu tindakan, tetapi juga proses berulang. Gulfraz et al. (2022) mencatat bahwa pengalaman menyenangkan dari belanja impulsif bisa menjadi kebiasaan yang membentuk loyalitas jangka panjang.</p>



<p>Hal ini juga mengisyaratkan pergeseran dari pola belanja berbasis kebutuhan menjadi belanja berbasis hiburan dan waktu senggang. Mahasiswa tidak sekadar berbelanja, tetapi mencari kesenangan, distraksi, dan interaksi dari pengalaman berbelanja itu sendiri.</p>



<p><strong>Di Balik Keranjang Kuning, Ada Psikologi Konsumsi yang Kompleks</strong></p>



<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan impulsif mahasiswa FISIP UI dalam membeli produk melalui TikTok Shop tidak terjadi secara acak. Ia merupakan hasil dari proses psikologis yang dipicu oleh rangsangan digital, yaitu dari algoritma FYP, interaksi dengan <em>host</em>, hingga diskon terbatas yang memancing emosi. Model <em>Stimulus-Organism-Response</em> dapat digunakan untuk<em> </em>menjelaskan bagaimana stimulus yang dirancang secara visual dan emosional dapat memicu kondisi psikologis yang akhirnya menghasilkan tindakan pembelian. Ketika pengalaman tersebut memuaskan, ia bisa berkembang menjadi kebiasaan baru yang bersifat situasional dan berulang.</p>



<p><strong>Apa yang Bisa Kita Pelajari?</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Konsumen, yang dalam hal ini merupakan mahasiswa, tidak lagi berperan sebagai aktor pasif. Mereka terlibat secara emosional dan kognitif dalam pengalaman belanja digital. Namun, paparan yang terus-menerus dan fitur interaktif bisa membentuk perilaku yang sulit dikendalikan secara rasional.</li>



<li>Saat ini, TikTok Shop bukan lagi sekedar <em>platform</em> untuk sarana jual beli, melainkan ruang hiburan sekaligus persuasi. Ia menyatukan hiburan dan transaksi, menciptakan pengalaman yang menggoda sekaligus mempengaruhi psikologi konsumen. Belanja kini menjadi bagian dari aktivitas rekreatif dan sosial.</li>



<li>Penting bagi konsumen untuk menyadari bagaimana pola algoritmik bekerja membentuk kebiasaan, dan mulai membangun kontrol serta kesadaran terhadap dorongan impulsif yang muncul dari pengalaman visual dan sosial yang diciptakan platform.&nbsp;</li>



<li>Temuan ini juga memberikan wawasan kepada pelaku bisnis bahwa pengalaman emosional yang positif dapat menciptakan loyalitas. Desain interaksi<em> live</em>, kredibilitas <em>host,</em> dan kecepatan transaksi memainkan peran kunci dalam membentuk keputusan impulsif.</li>
</ol>



<p>Pada akhirnya, penelitian ini membuka ruang refleksi, yaitu&nbsp;di balik kemudahan satu klik beli di keranjang kuning, ada sistem besar yang mempengaruhi cara kita merasa, berpikir, dan mengambil keputusan. Mengenali sistem adalah salah satu langkah yang bisa kita lakukan&nbsp;agar tetap jadi pengguna yang sadar, bukan korban dari impulsif semata. Barangkali dalam satu kali <em>scroll</em> di FYP dan klik di keranjang kuning, yang kita cari bukan cuma barang diskon. Tapi juga pengalihan dari tugas menumpuk, pelarian dari tekanan hidup kampus, atau sekadar rasa senang sesaat yang bisa dibeli murah.&nbsp;</p>



<p>TikTok Shop memang jago membungkus godaan dalam bentuk hiburan. Tapi sebagai konsumen, kita juga harus bisa belajar membungkus kesadaran dalam setiap klik.</p>



<p>Infografis:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3897" style="width:375px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Poster-MPK-Kualitatif-scaled.png 960w" sizes="auto, (max-width: 384px) 100vw, 384px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar 4. Infografis</figcaption></figure>
</div>


<p>Ditulis oleh:<br>Nefertiti Gayla Garibaldi (<a href="mailto:nefertiti.gayla@ui.ac.id">nefertiti.gayla@ui.ac.id</a>); Nadhira Aulia (<a href="mailto:nadhira.aulia@ui.ac.id">nadhira.aulia@ui.ac.id</a>); Farsya Alevia Khairunisa (<a href="mailto:farsya.alevia@ui.ac.id">farsya.alevia@ui.ac.id</a>); Rafflesya Aqila Mirzasis Yumna (<a href="mailto:rafflesya.aqila@ui.ac.id">rafflesya.aqila@ui.ac.id</a>); Wilhelmina Inara Nediva (<a href="mailto:wilhemina.inara@ui.ac.id">wilhelmina.inara@ui.ac.id</a>)<br>Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia</p>



<p>Daftar Pustaka:</p>



<p>Ceci, L. (2025). Countries with the largest TikTok audience as of February 2025. Statista. https://www.statista.com/statistics/1299807/number-of-monthly-unique-tiktok-users/</p>



<p>Chan, T. K. H., Cheung, C. M. K., &amp; Lee, Z. W. Y. (2017). The State of Online Impulse-Buying Research: A Literature Analysis. <em>Information &amp; Management</em>, <em>54</em>(2), 204-217.</p>



<p>Gulfraz, M. B., Sufyan, M., Mustak, M., Salminen, J., &amp; Srivastava, D. K. (2022). Understanding The Impact of Online Customers’ Shopping Experience on Online Impulsive Buying: A study on Two Leading E-commerce Platforms. Journal Retailing and Consumer Services, 68, 103000.</p>



<p>Lee, C. H., &amp; Chen, C. w. (2021). Impulse Buying Behaviors in Live Streaming Commerce Based on the Stimulus-Organism-Response Framework. Information, 12(6), 241.Zhu, L., Li, H., Wang, F. K., He, W., &amp; Tian, Z. (2020). How Online Reviews Affect Purchase Intention: A New Model Based On The Stimulus-Organism-Response (S-O-R) Framework. <em>Journal of Information Management</em>, <em>72</em>(4), 463-488.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/scroll-tertarik-checkout-pengalaman-impulse-buying-mahasiswa-fisip-ui-di-live-tiktok-shop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Instant Love, Instant Regret? Indonesia College Hookup Culture Unwrapped</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/instant-love-instant-regret-indonesia-college-hookup-culture-unwrapped/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/instant-love-instant-regret-indonesia-college-hookup-culture-unwrapped/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rivanya Zahrashaumi Yandri]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 16:51:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[hookup culture]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen privasi komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[normal sosial]]></category>
		<category><![CDATA[stigma sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3883</guid>

					<description><![CDATA[GEN-Z IS REWRITING THE “ROMANCE”&#8230;&#160; “No one’s gotta know, just us and the moon ‘til the sun starts wakin”— “Lowkey” oleh NIKI. Quarter life crisis mungkin adalah pengalaman yang brutal. Naasnya, nasib ini justru dialami oleh mereka yang baru mulai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-db1044bd9418bc5059ca2c1f8aab6369" style="color:#ac1c88"><strong><em>GEN-Z IS REWRITING THE “ROMANCE”&#8230;&nbsp;</em></strong></p>



<p class="has-text-align-center"><em>“No one’s gotta know, just us and the moon ‘til the sun starts wakin”</em><br>— <em>“Lowkey” </em>oleh NIKI.</p>



<p><em>Quarter life crisis </em>mungkin adalah pengalaman yang brutal. Naasnya, nasib ini justru dialami oleh mereka yang baru mulai “dewasa”, yang baru memasuki kuliah, yang baru mulai mencoba bereksplorasi. Masa kuliah dihiasi dengan tugas yang menumpuk, konflik pertemanan, dan… percintaan yang nggak jelas<em>. </em>Di balik gegap gempita percintaan di kehidupan kampus, muncul satu fenomena yang kerap diperbincangkan: <em>hookup culture.</em></p>



<p><em>Hookup culture,</em> atau hubungan seksual tanpa komitmen, perlahan mulai muncul di tengah kehidupan mahasiswa di kota-kota besar. Fenomena ini berkembang bersama dengan meningkatnya penggunaan <em>dating apps</em> populer, seperti Bumble, Tinder, dan sejenisnya<em>.</em> Perubahan nilai-nilai sosial juga turut memengaruhi batasan atas apa yang dianggap tabu. Di tengah pergeseran cara generasi muda membangun hubungan,<em> hookup culture </em>pun menjadi hal yang lumrah.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfEctTW_XGoq2rhj_g5yLWYOMzQ-zJmW-L6mtZaDy-ejpE_8hcJc7zdMtTnYYCzQzSzCBQL7VSufC7lozGeTGdbw3wtm8GW0oe65Zd_ZMFidDKDRpT1YwJso-CNxpEuJaE2H_K4Pw?key=3klzEV2PFyAkh2SLx_1U_Nuw" alt="" /></figure>



<p><em>Bumble Dating App. (Sumber foto: Kiss FM Medan via Google Images)</em></p>



<p>Akan tetapi, meskipun <em>hookup culture </em>mulai mendapat tempat, tren ini tetap menjadi isu sensitif di Indonesia. Norma sosial dan agama yang kuat membuat perbincangan mengenai seks bebas dianggap tabu. Di tengah tekanan sosial kampus, mereka yang terlibat dalam <em>hookup culture </em>cenderung selektif dalam mengontrol siapa saja yang boleh tahu—karena ini bukan cuma soal urusan pribadi, tapi juga soal reputasi.</p>



<p>Mahasiswa dengan keterlibatan <em>hookup culture </em>pun akhirnya membentuk “lingkaran aman”, tempat mereka bisa berbagi cerita tanpa takut untuk dihakimi. Melalui penelitian ini, kami ingin memahami: bagaimana mahasiswa mengelola informasi mengenai keterlibatan <em>hookup </em>di lingkungan kampus? Pertanyaan ini menjadi titik awal eksplorasi kami mengenai preferensi mahasiswa dalam mengelola informasi pribadi mereka, khususnya dalam konteks hubungan seksual nonkomitmen, agar tetap sesuai dengan aturan sosial yang berlaku.&nbsp;</p>



<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-4e9bbcd7b6f972cda7232f168921552c" style="color:#ac1c88"><strong><em>HOOKUP CULTURE </em></strong><strong>KADANG TENTANG “NGAKU NGGAK NGAKU”</strong></p>



<p>Sebelum masuk ke pembahasan <em>“ngaku nggak ngaku”, </em>penelitian ini dilakukan dengan berdasar pada teori <em>Communication Privacy Management </em>(CPM) dari Sandra Petronio. Teori CPM menjelaskan bahwa setiap individu memandang informasi pribadi sebagai sesuatu yang mereka miliki dan punya hak untuk mengatur siapa saja yang boleh mengetahui hal itu.&nbsp;</p>



<p>CPM berangkat dari tiga asumsi dasar: bahwa manusia adalah pengambil keputusan, pencipta aturan, dan makhluk sosial yang mempertimbangkan orang lain dalam setiap keputusan tentang informasi pribadi. Dengan kata lain, kapan seseorang memilih untuk “bercerita” atau “diam” bukanlah keputusan yang diambil sembarangan, melainkan hasil dari proses sosial yang kompleks. Teori ini terdiri dari lima konsep utama:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Ownership and Control of Private Information, </em>atau singkatnya: <em>“Ini rahasia gue…”. </em>Setiap orang punya hak penuh atas info pribadi mereka. Mereka yang pegang kendali, mereka yang atur siapa tahu apa.</li>



<li><em>Private Boundaries. </em>Orang punya batas: mana yang bisa dibagi ke luar, mana yang harus tetap privat.&nbsp;</li>



<li><em>Disclosure as Control. “Gue cerita bukan berarti lo boleh sebar.”. </em>Ngomong atau berbagi info sama dengan bentuk kontrol.&nbsp;</li>



<li><em>Boundary Turbulence. “Ups, bocor!”, </em>biasanya terjadi saat ada yang nyebarin info tanpa izin, atau aturan main soal jaga privasi nggak dipatuhi dan terjadilah kekacauan. <em>Trust </em>jadi taruhannya.</li>



<li><em>Dialetics. “Pengen cerita, tapi takut juga.” </em>Ada tarik-ulur batin: pengen terbuka biar lega tapi pengen tetap diam supaya nggak disalahpahami atau di-<em>judge. (Lingkungan kampus keras!)</em></li>
</ol>



<p><em>Hookup culture </em>muncul sebagai bagian dari pola hubungan modern. Berbeda dari <em>dating culture </em>yang fokus ke ikatan dan komitmen—dalam <em>hookup, </em>seks justru seringkali jadi pintu masuk. Hubungan dalam <em>hookup culture</em> cepat, sementara, dan tanpa ekspektasi akan berlanjut. Inti dari <em>hookup culture </em>bukan di jenis aktivitasnya, tapi di sifatnya yang nonkomitmen dan serba singkat.</p>



<p>Namun, kemunculannya tidak lepas dari tantangan, apalagi di masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi norma konservatif. Salah satu isu utama adalah stigma sosial. Di tengah standar ganda yang masih kuat, laki-laki sering dianggap <em>keren </em>dan <em>hebat </em>kalau punya teman <em>hookup, </em>sementara perempuan lebih banyak kena getahnya.</p>



<p>Di lingkungan kampus, mahasiswa yang terlibat dalam <em>hookup culture </em>harus bisa “main aman” dengan selektif dan penuh pertimbangan. Mereka membatasi siapa yang tahu demi menjaga reputasi di tengah norma sosial yang masih ketat. Di kampus-kampus Indonesia, tekanan ini jadi semakin kompleks karena nilai budaya yang kuat juga memperkuat stigma <em>hookup.</em></p>



<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-8f048397ab59b92ca16e015ee5318172" style="color:#ac1c88"><strong><em>IS THIS A NEW THING GOING ON?</em></strong></p>



<p>Meskipun <em>hookup culture </em>sudah banyak diteliti di luar negeri, penelitian yang membahas bagaimana mahasiswa Indonesia mengelola privasi dalam pengalaman <em>hookup </em>masih sangat terbatas. Penelitian ini merupakan salah satu kajian baru yang mengangkat topik tersebut.</p>



<p>Beberapa studi memang mencatat perubahan perilaku seksual di kalangan anak muda, tapi belum banyak yang menggali lebih dalam tentang bagaimana mahasiswa Indonesia menyusun strategi untuk mengontrol privasi atas pengalaman <em>hookup</em> mereka. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih banyak membahas perilaku atau dampak kesehatan, penelitian ini memberikan <em>insight </em>baru dengan melihat bagaimana mahasiswa mengatur privasi komunikasi mereka dalam menghadapi norma sosial, stigma, dan tekanan sosial di lingkungan kampus.</p>



<p>Jadi, ya, <em>this is </em>(uhuk)<em> not a new thing at all…&nbsp;</em></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdsu5wNdIa__bXttCSc6YyokMs3835l9leH9QTOtrfZMkmziQXMzDY4XHGirIH11WSKPhJ5NOFnXFJB4voJLXDRIHfa-Smpbm2YceBrG58tss_ScR_04_CUe5ORbOBmOLeVoCD_?key=3klzEV2PFyAkh2SLx_1U_Nuw" alt="" /></figure>



<p><em>Hookup Culture (Sumber foto: The New Yorker via Google Images)</em></p>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk memahami pengalaman mahasiswa dalam mengelola privasi terkait keterlibatan mereka dalam <em>hookup culture. </em>Fenomenologi dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam tentang bagaimana mahasiswa merasakan, menafsirkan, dan memaknai keputusan mereka dalam membagikan atau menyembunyikan pengalaman tersebut.</p>



<p>Informan dipilih melalui <em>purposive sampling,</em> lebih spesifiknya <em>homogeneous sampling, </em>yaitu mahasiswa aktif yang pernah atau sedang terlibat dalam <em>hookup culture</em>. Mereka diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai strategi komunikasi yang digunakan dalam mengungkapkan atau menyembunyikan pengalaman mereka.</p>



<p>Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Pendekatan ini memberi kebebasan bagi informan untuk berbicara terbuka, namun tetap relevan dengan topik. Wawancara berlangsung 45–60 menit, baik tatap muka maupun daring, tergantung kenyamanan informan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan <em>thematic analysis</em>, dimulai dari pembacaan transkrip, identifikasi kode, hingga pengelompokan kode. Hasil analisis diharapkan memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana mahasiswa mengelola privasi terkait <em>hookup culture </em>di lingkungan kampus.</p>



<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-593b24ed1895c33e3c6f28065ed4f3b4" style="color:#ac1c88"><strong><em>SO, WHAT WE FOUND: HOOKUP CULTURE IS A ROLLER-COASTER RIDE!</em></strong></p>



<p>Penelitian ini menemukan empat pola utama yang menggambarkan bagaimana mahasiswa mengelola privasi mereka dalam <em>hookup culture. </em>Lewat wawancara mendalam dengan tiga informan, terungkap beragam cara mereka “main aman”. Masing-masing punya strategi berbeda, tergantung konteks pergaulan, pengalaman pribadi, dan seberapa besar risiko yang mereka rasakan di lingkungan kampus.</p>



<p><strong></strong><strong>Mereka sama-sama setuju kalau ini bukan konsumsi publik. </strong><strong><br></strong><strong> </strong>Semua informan menunjukkan satu hal yang sama: mereka selektif dalam berbagi pengalaman <em>hookup </em>mereka. Nggak ada yang asal cerita ke sembarang orang, informasi ini dibagikan dengan sangat hati-hati hanya ke orang-orang yang mereka benar-benar percaya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Aku sangat selektif. Orang-orang yang aku dekat saja yang tahu.” </em>– Informan 2<br><em>“&#8230; lebih ke my smallest circle, sih, yang bener-bener tahu tentang private life dan pengalaman hookup-ku.</em>” – Informan 1</p>
</blockquote>



<p>Tapi yang menarik, strategi ini nggak statis. Salah satu informan mengaku, dulu sempat <em>overshare, </em>apa pun diceritain, tanpa filter. Tapi seiring waktu, makin sadar bahwa enggak semua orang perlu tahu urusan pribadi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Pas maba semua hal diceritain, oversharing, terus sekarang ketika sudah di masa-masa semester tua, aku mikir, harusnya nggak usah diceritain karena itu bukan hal yang orang-orang harus tahu.” –</em> Informan 1</p>
</blockquote>



<p>Di sini, kita bisa lihat bahwa pengelolaan privasi itu bukan cuma soal menyimpan rahasia, tapi juga soal belajar membatasi, memilah, dan menjaga kendali atas cerita yang menyangkut diri sendiri.</p>



<p><em>“</em><strong><em>Kalau mereka tahu gue pernah hookup, gue enggak bisa bayangin gimana mata mereka mandang gue”</em></strong></p>



<p>Sama seperti apa yang diomongin Chappell Roan lewat lagu “Casual”, <em>“I’ve heard so many rumors that I’m just a girl that you bang on your couch”</em>. Hubungan <em>hookup </em>sangat rentan soal stigma. Semua informan mengakui bahwa pengalaman <em>hookup</em> mereka disimpan rapat-rapat bukan tanpa alasan. Ada kekhawatiran besar: takut dihakimi, dipermalukan, atau dicap buruk oleh lingkungan sekitar, mulai dari teman sampai keluarga sendiri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Yang pasti dari anggota keluarga, ya. Bisa dibilang aku di keluarga tuh terlihat kayak orang yang nggak macem-macem gitu loh.”</em> – Informan 2<br><em>“Kalau misalnya, amit-amit, ada hal kayak spycam… Itu sampai nyangkut ke reputasi aku sebagai mahasiswa.”</em> – Informan 2</p>
</blockquote>



<p>Di mata mereka, menjaga privasi bukan cuma soal kenyamanan pribadi, tapi juga perlindungan terhadap citra diri. Risiko sosial yang dirasakan membuat para informan lebih hati-hati dalam berbagi cerita, bahkan membatasi diri dari sekadar <em>spill</em> di lingkaran pertemanan. Karena sekali reputasi rusak, efeknya bisa panjang.</p>



<p><strong>Lingkungan juga berpengaruh.</strong></p>



<p>Lingkungan sosial itu menentukan, dan <em>keras.</em> Norma kampus, budaya jurusan, sampai gaya pertemanan jadi faktor utama yang memengaruhi seberapa terbuka atau tertutupnya seseorang soal pengalaman <em>hookup</em>. Di ruang-ruang yang cenderung konservatif, informan memilih untuk diam dan menjaga jarak. Tapi ketika mereka merasa aman, dikelilingi orang-orang yang nggak nge-<em>judge</em>, cerita jadi lebih mudah mengalir.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Di lingkungan jurusan aku mungkin nggak terlalu yang menormalize hal itu sih, kayak kita rada-rada strict.”</em> – Informan 1<br><em>“Aku cerita ke temen yang bisa nerima, yang tahu cara nanggepin dan nggak nge-judge.”</em> – Informan 3</p>
</blockquote>



<p>Jelas bahwa dukungan sosial itu krusial. Bukan karena butuh validasi, tapi karena <em>sometimes, you just need someone to say: it’s okay, I get it.</em> Dan ruang-ruang yang aman semacam itu, walau cuma <em>circle </em>kecil, jadi tempat bernapas, apalagi ketika norma-norma besar di sekeliling terasa menekan.</p>



<p><strong><em>But, why did they do it? </em>(Bertanya dengan nada lembut)</strong></p>



<p>Cerita tentang <em>hookup culture </em>nggak selalu berat, penuh siksaan—atau bahkan, ringan, santai, dan penuh tawa. Ada motif di balik setiap keterlibatan: ada yang karena rasa penasaran dan pengen “coba-coba”, ada yang jadi pelarian dari luka emosional, bahkan ada yang terjadi karena tekanan atau trauma. Di balik kacamata kalau hubungan <em>hookup </em>itu selalu <em>“fun and wild”, </em>ada sisi gelap yang jarang dibicarakan. Bahkan, salah satu informan mengaku bahwa pengalaman <em>hookup-</em>nya dipicu oleh dendam karena hubungan sebelumnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Harusnya nggak melakukan hal itu karena dilandasi oleh dendam dengan hubungan sebelumnya…”</em> – Informan 1<br><em>“Ada juga yang mungkin pengalaman hookup-nya malah nggak konsensual… itu sih yang bikin aku dan teman-teman aku jarang ngebahas hal ini.” </em>– Informan 2</p>
</blockquote>



<p>Cerita-cerita seperti ini membuka kenyataan bahwa <em>hookup </em>bukan cuma soal kebebasan masa muda, tapi juga soal rasa bersalah, ketidaknyamanan, dan trauma. Di tengah itu semua, informan juga berhitung matang soal reputasi pasangan. Ada semacam kesepakatan diam atau <em>mutual deterrence</em> untuk saling menjaga privasi, terutama ketika pasangan adalah sosok publik atau cukup dikenal.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Kalaupun dia sampai membocorkan informasi, ya dia juga ikut rugi sih menurut aku.”</em> – Informan 3<br><em>“I respect partner aku karena ini bukan hal yang harus diumbar juga.” </em>– Informan 1</p>
</blockquote>



<p>Di sini, privasi bukan cuma tentang diri sendiri, tapi juga tentang saling melindungi, karena satu cerita bocor, bisa rusak dua sisi sekaligus.</p>



<p><strong><em>To sums up… </em></strong></p>



<p>Penelitian ini memperlihatkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam <em>hookup culture</em> di lingkungan kampus tidak bersikap pasif terhadap informasi pribadi mereka, justru sebaliknya, mereka menjalankan strategi komunikasi yang sangat selektif dan adaptif. Lewat kerangka teori CPM ditemukan bahwa <strong>mahasiswa memiliki kesadaran tinggi akan kepemilikan dan kontrol atas narasi personal mereka, serta membangun batasan yang ketat soal siapa yang boleh tahu dan siapa yang tidak.</strong></p>



<p>Keputusan ini banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran akan stigma sosial, tekanan lingkungan, dan risiko terhadap reputasi, terutama dalam masyarakat yang masih menjunjung norma konservatif. Pada saat yang sama, motif keterlibatan dalam <em>hookup culture </em>juga tidak bisa disederhanakan, ada yang berangkat dari eksplorasi diri, ada yang lahir dari luka, dan ada pula yang sekadar mengikuti arus sosial.</p>



<p>Temuan ini menegaskan bahwa teori CPM sangat relevan untuk memahami bagaimana mahasiswa Indonesia menavigasi privasi di tengah kompleksitas budaya dan sosial yang mereka hadapi. Lebih jauh, penelitian ini juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana gender, kekuasaan, dan kontrol atas identitas berperan dalam praktik komunikasi di tengah <em>hookup culture, </em>isu yang masih jarang disentuh dalam konteks mahasiswa Indonesia.</p>



<p><strong><em>Here’s what you should *note*!</em></strong></p>



<p> 1. <em>Try not to be judgmental… </em>setiap individu memiliki motif pribadi yang berbeda-beda dalam terlibat dalam <em>hookup culture. </em>Penting untuk tidak bersikap <em>judgmental</em>, karena apa yang dirasakan dan dipilih seseorang tidak selalu mudah untuk dipahami dari luar.<br>2. Kalau kamu terlibat dalam <em>hookup culture </em>yang toksik: penting untuk mempertimbangkan untuk keluar dari hubungan tersebut. Keputusan ini harus didasari oleh pemahaman yang matang, baik itu mengenai dampak emosional, kesehatan mental, atau tekanan sosial yang mungkin timbul.<br>3. <em>This is (not) a new case, so? </em>Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menggali lebih dalam dinamika sosial yang mempengaruhi keputusan mahasiswa dalam terlibat atau keluar dari <em>hookup culture, </em>serta untuk memahami lebih lanjut bagaimana gender dan kekuasaan berperan dalam membentuk pengalaman tersebut.</p>



<p><strong>Lihat analisis dan infografis di sini: </strong><a href="http://bit.ly/HookupCultureMPKKualitatif">bit.ly/HookupCultureMPKKualitatif</a></p>



<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-0286fdcbd5a28abfa45ce19c1352ba6a" style="color:#ac1c88"><strong>PENULIS: </strong></p>



<p>Andine Clorinda Riasty Anggoro, Annisa Ratnadewati Firmansyah, Dinda Naeva Anantri, Qanita Cahya Najmi, Rivanya Zahrashaumi Yandri, Syeni Setyawati Wowor. e-mail: <a href="mailto:andine.clorinda@ui.ac.id">andine.clorinda@ui.ac.id</a><a href="mailto:dinda.naeva@ui.ac.id">, </a><a href="mailto:annisa.ratnadewati@ui.ac.id">annisa.ratnadewati@ui.ac.id</a><a href="mailto:dinda.naeva@ui.ac.id">, &nbsp;dinda.naeva@ui.ac.id</a>, <a href="mailto:qanita.cahya@ui.ac.id">qanita.cahya@ui.ac.id</a>, <a href="mailto:rivanya.zahrashaumi@ui.ac.id">rivanya.zahrashaumi@ui.ac.id</a>, <a href="mailto:syeni.setyawati@ui.ac.id">syeni.setyawati@ui.ac.id</a></p>



<p class="has-text-color has-link-color wp-elements-0eb1371e8f5df942e10149983c6f0a86" style="color:#ac1c88"><strong>REFERENSI</strong></p>



<p>Al-Abri, N. K., Al-Sharji, R. F., Al-Arimi, M. S., Al-Fahdi, A. K., Al-Zadjal, M. M., &amp; Roy, N. (n.d.). Role of organizational psychology in dealing with human resources and the performance of the organizations. <em>Open Access Library Journal</em>.</p>



<p>Allison, R. (2019). Asking out and sliding in: Gendered relationship pathways in college hookup culture. <em>Qualitative Sociology, 42</em>(2), 199–217.<a href="https://doi.org/10.1007/s11133-019-09430-2"> https://doi.org/10.1007/s11133-019-09430-2</a></p>



<p>Braun, V., &amp; Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. <em>Qualitative Research in Psychology, 3</em>(2), 77–101. <a href="https://psycnet.apa.org/doi/10.1191/1478088706qp063oa">https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa</a></p>



<p>Bryman, A. (2012). <em>Social research methods</em> (4th ed.). Oxford University Press.</p>



<p>Child, J. T., &amp; Agyeman-Budu, E. A. (2010). Blogging privacy management rule development: The impact of self-monitoring skills, concern for appropriateness, and blogging frequency. <em>Computers in Human Behavior, 26</em>(5), 957–963.</p>



<p>Choi, K. W. Y., Choi, E. P. H., Chow, E. P. F., Wan, E. Y. F., Wong, W. C. W., Wong, J. Y. H., &amp; Fong, D. Y. T. (2021). The experience of using dating applications for sexual hook-ups: A qualitative exploration among HIV-negative men who have sex with men in Hong Kong. <em>The Journal of Sex Research, 58</em>(6), 785–794.<a href="https://doi.org/10.1080/00224499.2021.1886227"> https://doi.org/10.1080/00224499.2021.1886227</a></p>



<p>Christou, P. A. (2023). How to use thematic analysis in qualitative research. <em>Journal of Qualitative Research in Tourism</em>. Advance Access.<a href="https://doi.org/10.4337/jqrt.2023.0006"> https://doi.org/10.4337/jqrt.2023.0006</a></p>



<p>Dworkin, S. L., &amp; O&#8217;Sullivan, L. (2005). Actual versus desired initiation patterns among a sample of college men: Tapping disjunctures within traditional male sexual scripts. <em>Journal of Sex Research, 42</em>(2), 150–158.<a href="https://doi.org/10.1080/00224490509552268"> https://doi.org/10.1080/00224490509552268</a></p>



<p>Fielder RL, Carey MP. <em>Predictors and consequences of sexual &#8220;hookups&#8221; among college students: a short-term prospective study.</em> Arch Sex Behav. 2010 Oct;39(5):1105-19. doi: 10.1007/s10508-008-9448-4. Epub 2009 Jan 9. PMID: 19130207; PMCID: PMC2933280.</p>



<p>Garcia JR, Reiber C, Massey SG, Merriwether AM. <em>Sexual Hookup Culture: A Review. Rev Gen Psychol.</em> 2012 Jun 1;16(2):161-176. doi: 10.1037/a0027911. PMID: 23559846; PMCID: PMC3613286.</p>



<p>Glenn, N., &amp; Marquardt, E. (2001). <em>Hooking up, hanging out, and hoping for Mr. Right</em>. Institute for American Values.</p>



<p>Herrman, A. R., &amp; Tenzek, K. E. (2017). Communication privacy management: A thematic analysis of revealing and concealing eating disorders in an online community. <em>Qualitative Research Reports in Communication, 18</em>(1), 54–63.<a href="https://doi.org/10.1080/17459435.2017.1294617"> https://doi.org/10.1080/17459435.2017.1294617</a>&nbsp;</p>



<p>Hess, A. (2023). <em>Confronting the Toll of Hookup Culture</em>. Institute for Family Studies. Diakses pada 28 Maret 2025, dari<a href="https://ifstudies.org/blog/confronting-the-toll-of-hookup-culture"> https://ifstudies.org/blog/confronting-the-toll-of-hookup-culture</a></p>



<p>Järvinen, M., &amp; Mik-Meyer, N. (Eds.). (2020). <em>Qualitative analysis: Eight approaches for the social sciences</em>. Sage Publications.</p>



<p>Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). <em>Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Tahun 2022</em>. Diakses pada 28 Maret 2025, dari<a href="https://p2p.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2023/06/FINAL_6072023_Layout_HIVAIDS-1.pdf"> https://p2p.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2023/06/FINAL_6072023_Layout_HIVAIDS-1.pdf</a></p>



<p>Klinger, L. (2016). Hookup culture on college campuses: Centering college women, communication barriers, and negative outcomes. <em>College Student Affairs Leadership, 3</em>(2), Article 5.<a href="https://scholarworks.gvsu.edu/csal/vol3/iss2/5"> https://scholarworks.gvsu.edu/csal/vol3/iss2/5</a></p>



<p>Mason, J. (2017). <em>Qualitative researching</em> (3rd ed.). Sage.</p>



<p>Madarina, F. A. (2023). Budaya Hook-Up pada Online Dating Tinder. <em>Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial</em>, 4(2). <a href="https://doi.org/10.30762/asketik.v4i2.973">https://doi.org/10.30762/asketik.v4i2.973</a>&nbsp;</p>



<p>Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., &amp; Moules, N. J. (2017). Thematic Analysis: Striving to Meet the Trustworthiness Criteria. International <em>Journal of Qualitative Methods, </em>16(1). https://doi.org/10.1177/1609406917733847 (Original work published 2017)</p>



<p>Paul, E. L., McManus, B., &amp; Hayes, A. (2000). &#8220;Hookups&#8221;: Characteristics and correlates of college students&#8217; spontaneous and anonymous sexual experiences. <em>Journal of Sex Research, 37</em>(1), 76–88.<a href="https://doi.org/10.1080/00224490009552023"> https://doi.org/10.1080/00224490009552023</a>&nbsp;</p>



<p>Petronio, S. S. (2002). <em>Boundaries of privacy: Dialectics of disclosure</em>. State University of New York Press.<a href="https://www.jstor.org/stable/jj.18255126"> https://www.jstor.org/stable/jj.18255126</a></p>



<p>Petronio, S. S., &amp; Durham, W. T. (2008). Communication privacy management theory, significance for interpersonal communication. In L. Baxter &amp; D. Braithwaite (Eds.), <em>Engaging theories in interpersonal communication: Multiple perspectives</em> (pp. 309–322). Sage.</p>



<p>Ritchie, J., &amp; Lewis, J. (2003). <em>Qualitative research practice: A guide for social science students and researchers</em>. Sage.</p>



<p>Syakhrani, W. A. (2022). Budaya dan kebudayaan: Tinjauan dari berbagai pakar, wujud-wujud kebudayaan, 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal. <em>Jurnal IAIS Sambas, 5</em>(1), 782–791.</p>



<p>Wells, I., &amp; Giacco, D. (2024, Oktober 31). Theoretical frameworks used to inform qualitative mental health research: A focus on positivism, interpretivism and critical realism. <em>Cambridge University Press</em>.</p>



<p>West, Richard dan Turner, H. Lynn. 2013. <em>Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi.</em> Jakarta: Salemba Humanika</p>



<p>Yudha, A. T. (2021). Analisis communication privacy management kaum lesbian &#8220;femme&#8221; dengan masyarakat lingkungannya (Studi kasus di Kota Medan). <em>Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 4</em>(1), 39–40.<a href="https://ejurnal.stikpmedan.ac.id/index.php/JIKQ/article/view/59/48"> https://ejurnal.stikpmedan.ac.id/index.php/JIKQ/article/view/59/48</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/instant-love-instant-regret-indonesia-college-hookup-culture-unwrapped/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Suksesnya Regenerasi Organisasi, Begini Pentingnya Peran Kakak Tingkat</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/di-balik-suksesnya-regenerasi-organisasi-begini-pentingnya-peran-kakak-tingkat/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/di-balik-suksesnya-regenerasi-organisasi-begini-pentingnya-peran-kakak-tingkat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amin Rakil]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 13:45:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[bem]]></category>
		<category><![CDATA[dorongan]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[kakak tingkat]]></category>
		<category><![CDATA[kepengurusan]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[regenerasi]]></category>
		<category><![CDATA[struktur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3764</guid>

					<description><![CDATA[Apa, Sih Latar Belakangnya?&#160;&#160;Kelompok kami mencoba untuk meneliti alasan dibalik minimnya partisipasi mahasiswa dalam proses regenerasi BEM FISIP UI. Penelitian ini didasarkan oleh rasa keingintahuan kami ketika melihat sulitnyapergantian kepengurusan BEM FISIP UI pada tahun 2024. Padahal, organisasi mahasiswa di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Apa,<em> Sih</em> Latar Belakangnya?&nbsp;&nbsp;</strong><br>Kelompok kami mencoba untuk meneliti alasan dibalik minimnya partisipasi mahasiswa dalam proses  regenerasi BEM FISIP UI. Penelitian ini didasarkan oleh rasa keingintahuan kami ketika melihat sulitnya<br>pergantian kepengurusan BEM FISIP UI pada tahun 2024. Padahal, organisasi mahasiswa di perguruan tinggi itu memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan, meningkatkan keterampilan<br>sosial, serta memperluas jaringan akademik dan profesional bagi para anggotanya (Planas et al., 2011; Shahabul et al., 2021).</p>



<p>Lebih jauh, salah satu aspek krusial dalam menjaga keberlanjutan organisasi mahasiswa adalah proses regenerasi kepengurusan, yaitu perpindahan tanggung jawab dari satu angkatan ke angkatan berikutnya<br>guna memastikan keberlangsungan organisasi. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UI, sebagai salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia<br>(FISIP UI), menghadapi tantangan dalam mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam proses regenerasi kepengurusannya. Meskipun organisasi dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan<br>dan menawarkan berbagai manfaat bagi anggotanya, nyatanya tidak semua mahasiswa tertarik atau terdorong untuk terlibat dalam kepengurusan.</p>



<p>Berbeda dengan beberapa organisasi mahasiswa lain yang menerapkan sistem kaderisasi, BEM FISIP UI mengadopsi sistem regenerasi berbasis angkatan. Dalam struktur kepengurusannya, pengurus inti diisi oleh mahasiswa tahun ketiga, badan pengurus umum oleh mahasiswa tahun kedua, dan staf oleh mahasiswa tahun pertama. Setiap tahunnya, struktur ini mengalami pergeseran, setiap angkatan secara otomatis naik jabatan untuk menggantikan posisi kepengurusan sebelumnya. Sistem ini memberikan kejelasan dalam proses regenerasi, tetapi turut menghadirkan tantangan tersendiri, seperti kesiapan setiap angkatan dalam menghadapi tanggung jawab yang lebih besar serta efektivitas komunikasi lintas angkatan dalam memastikan kelancaran transisi kepengurusan. Menurut Shahabul et al., 2021 terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi partisipasi mahasiswa dalam regenerasi kepengurusan itu sendiri, seperti motivasi pribadi, budaya organisasi, pola komunikasi antar angkatan, serta dinamika sosial yang berkembang dalam lingkungan kampus. </p>



<p><em>Nah</em>, dari hal di atas kita udah punya gambaran, <em>dong</em> kalau ternyata banyak faktor yang mempengaruhi proses regenerasi itu sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk memahami bagaimana mahasiswa FISIP UI mengalami proses regenerasi kepengurusan di BEM, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong atau menghambat partisipasi mereka, serta bagaimana komunikasi antar angkatan memainkan peran dalam proses regenerasi ini.</p>



<p>Penelitian kami ini menggunakan pendekatan <em><strong>Grounded Theory</strong> </em>agar bisa mengeksplorasi pengalaman mahasiswa dalam proses regenerasi kepengurusan BEM FISIP UI, memahami motivasi dan tantangan yang mereka hadapi.</p>



<p><strong>Ada Tiga Tinjauan Literatur yang Digunakan</strong></p>



<p>● Organisasi Mahasiswa<br>Sebetulnya, definisi organisasi mahasiswa itu banyak. Dari jurnal yang kami dapatkan, organisasi mahasiswa itu bisa menjadi wadah pembentuk profesionalisme dalam hal pengambilan keputusan dan pembentukan sikap disiplin. Artinya, mahasiswa bisa berpartisipasi secara aktif melalui kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan diri, pembelajaran serta pengabdian masyarakat. Bahkan, organisasi mahasiswa juga merupakan tempat yang memfasilitasi mahasiswa untuk belajar dalam<br>membentuk sikap demokratis melalui kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan politik dan pengembangan karakter (Hidayah &amp; Sunarso, 2017).<br>Lebih jauh, organisasi mahasiswa ini diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 14 ayat 2. Ayat tersebut menjelaskan bahwa organisasi mahasiswa diharapkan mampu memenuhi beberapa hal, diantaranya adalah mewadahi kegiatan mahasiswa, pengembangan kreativitas, membantu mahasiswa dalam pemenuhan minat dan kesejahteraannya serta pengembangan tanggung jawab sosial.</p>



<p>Terdapat dua konsep dalam organisasi itu sendiri, yakni dinamis dan statis. Konsep statis menggambarkan bagaimana sebuah organisasi berjalan secara berkesinambungan, di dalamnya ada tugas atau pekerjaan, anggota organisasi itu sendiri dan sistem yang ada sehingga tercapai tujuan bersama. Sedangkan konsep statis adalah sebuah struktur dan jaringan hubungan yang digunakan untuk mengevaluasi konsistensi organisasi dalam waktu tertentu (Hidayah &amp; Sunarso, 2017). Kegiatan pengembangan mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan potensi dan mutu pengetahuan serta kemampuan sikap mahasiswa (Saputri et al., 2023). Organisasi secara signifikan mendukung pencapaian sebuah tujuan melalui pandangan-pandangan pengetahuan (Maroddah et al., 2023).</p>



<p>● Partisipasi Mahasiswa<br>Beragam kesempatan yang ditawarkan oleh perguruan tinggi atau kampus selanjutnya mengundang partisipasi mahasiswa dalam bidang akademik maupun non-akademik. Partisipasi mahasiswa dalam konteks organisasi kampus merupakan bentuk keterlibatan aktif mahasiswa dalam berbagai aktivitas yang dilakukan di dalam organisasi kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan komunitas di dalam kampus.</p>



<p>Lebih lanjut, dalam <em>Student Involvement Theory</em> oleh Astin (1984), partisipasi merujuk pada jumlah energi fisik dan psikologis yang diberikan mahasiswa untuk pengalaman akademik, sosial, dan keterampilan<br>kepemimpinan mereka yang akan mereka dapatkan kembali dalam pembelajaran (Roberts &amp; McNeese, 2010). Partisipasi mahasiswa dalam organisasi tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga bagi komunitas kampus secara keseluruhan. Seringkali, manfaat yang diberikan menjadi motivasi untuk bergabung dan berpartisipasi di dalam organisasi kampus seperti untuk pengembangan karier dan orientasi masa depan (Holzweiss &amp; Rahn, 2007). Terdapat pula sebuah studi yang menunjukkan<br>bahwa mahasiswa cenderung lebih aktif berpartisipasi dalam organisasi jika mereka merasa didukung oleh teman sebaya atau mentor yang memberi mereka dorongan dan bimbingan (Kitil &amp; Asgedom, 2025). Dalam partisipasi mahasiswa ini, terdapat dua teori yang kami jadikan acuan,<br>yaitu <em>Self Determination Theory</em> (Gagne &amp; Deci, 2005) dan <em>Expectancy Theory</em> (Munoz et al., 2015). </p>



<p><em>Self Determination Theory</em> (Gagne &amp; Deci, 2005) membedakan dua jenis motivasi yang memengaruhi partisipasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. SDT menyoroti motivasi intrinsik sebagai bentuk<br>motivasi yang ideal, dimana dorongan individu untuk berpartisipasi didorong karena minat pribadi dan rasa ingin tahu yang menarik dan memuaskan. Sedangkan motivasi ekstrinsik lebih menyoroti motivasi yang bersifat eksternal seperti regulasi yang teridentifikasi, penghargaan, pengakuan, atau tekanan sosial (Gagne &amp; Deci, 2005). Disisi lain, <em>Expectancy theory</em> mengusulkan bahwa individu akan cenderung mengalokasikan waktu dan energi mereka yang terbatas untuk tindakan yang diharapkan dapat menghasilkan hasil yang positif (Munoz et al., 2015). Jadi, motivasi intrinsik maupun ekstrinsik itu didorong oleh dukungan sosial dan budaya organisasi yang kondusif, serta keyakinan,nilai, dan tujuan individu memberikan gambaran mengenai alasan yang mendorong partisipasi mahasiswa dalam organisasi (Eccles &amp; Wigfield, 2002).</p>



<p>● Regenerasi<br>Konsep regenerasi menjadi penting tidak hanya untuk memastikan eksistensi organisasi yang berkelanjutan, tetapi juga untuk mengisi posisi kepemimpinan dengan orang yang tepat. Permatasari et al. (2024) menyebutkan bahwa regenerasi dalam konteks organisasi merujuk pada pembentukan susunan kepengurusan baru yang berkelanjutan dan bermanfaat. Dengan kata lain, regenerasi dapat dimaknai sebagai pembaruan generasi yang terjadi beriringan dengan suatu perubahan tertentu. Berangkat dari pemahaman ini, regenerasi dalam konteks organisasi mahasiswa berarti sebuah proses transisi yang memperbaharui generasi kepengurusan melalui pengelolaan sumber daya manusia demi keberlanjutan dan kebermanfaatan organisasi. Dalam hal ini, proses regenerasi meliputi perencanaan regenerasi atau suksesi yang komprehensif.</p>



<p>Menurut Rothwell (2001), tujuh tahap yang butuh dilakukan dalam perencanaan suksesi (<em>succession planning</em>) adalah membuat komitmen, menilai kebutuhan pekerjaan/orang saat ini, menilai kinerja individu, menilai kebutuhan pekerjaan/orang di masa mendatang, menilai potensi individu, menutup kesenjangan pengembangan, dan mengevaluasi program perencanaan dan pengelolaan suksesi. Berdasarkan model Seven-Pointed Star, benang merah dari proses regenerasi adalah komitmen dan<br>kebutuhan pengurus lama untuk menghadirkan pengurus baru yang potensial dalam melanjutkan semangat dan tanggung jawab organisasi.</p>



<p><strong>Metode yang Digunakan</strong><br>Kelompok kami menggunakan paradigma konstruktivis, dimana paradigma konstruktivis berpijak pada pemahaman dan makna individu yang dibangun atas pengalaman mereka melalui interaksi sosial (Charmaz, 2006). <em>Nah</em>, paradigma konstruktivis ini relevan untuk digunakan karena memungkinkan kami sebagai peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang fleksibel mengenai bagaimana mahasiswa secara aktif membangun makna dari proses regenerasi. Kelompok kami menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin fokus pada peran mahasiswa dalam memahami serta membentuk pola regenerasi kepemimpinan di lingkungan organisasi mahasiswa kampus. Oleh karena itu, kami menggunakan desain penelitian <em>Grounded Theory</em> yang bertujuan untuk mengembangkan teori baru berbasis data yang dihasilkan dari wawancara mendalam terhadap partisipan. Penelitian kami ini melakukan wawancara mendalam (<em>in-depth interview</em>) bersama dengan mahasiswa yang sesuai dengan kriteria, yakni<br>mereka yang pernah terlibat langsung dalam proses regenerasi kepengurusan BEM FISIP UI. Mulai dari Badan Pengurus Harian (BPH) inti maupun umum, staf yang dipersiapkan untuk melanjutkan kepengurusan ditahun berikutnya, mantan pengurus atau alumni yang telah mengalami proses regenerasi kepengurusan, serta mahasiswa yang pernah terlibat dalam seleksi regenerasi.</p>



<p>Teknik analisis penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu <em>open coding</em>, <em>axial coding</em>, dan <em>selective coding</em>. <em>Open coding</em> dilakukan dengan mengidentifikasi dan memberikan label pada konsep konsep utama dalam data wawancara, kemudian tahapan <em>axial coding</em> yaitu menganalisis hubungan antar kategori dan <em>selective coding </em>merumuskan inti teori yang menjelaskan bagaimana mahasiswa memaknai dan mengalami proses regenerasi kepengurusan di BEM FISIP UI (Charmaz, 2006). Kami memilih teknik ini karena sifatnya yang fleksibel dan sistematis sehingga memungkinkan kelompok kami untuk untuk memahami pengalaman mahasiswa secara lebih mendalam tanpa harus terikat pada teori yang sudah ada.</p>



<p><strong>Begini Hasilnya</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Temuan-MPK-Kualitatif.png" alt="" class="wp-image-3766" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Temuan-MPK-Kualitatif.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Temuan-MPK-Kualitatif-300x225.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Temuan-MPK-Kualitatif-768x576.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><strong><sub>(Bagan hasil kode proses<em> in-depth interview</em>)</sub></strong></p>



<p>Setelah melakukan<em> in-depth interview </em>kelompok kami memperoleh 34 kode yang kemudian dikategorikan menjadi lima kategori utama. Lima kategori ini didapatkan setelah melakukan <em>axial</em> dan <em>selective coding</em>. Dari keempat informan yang kami wawancara, mereka menyatakan bahwa terdapat tuntutan dari kakak tingkat dalam proses regenerasi BEM FISIP UI. Selain itu, faktor kedekatan ternyata juga memengaruhi bagaimana kelancaran proses regenerasi ini dapat terwujud.</p>



<p><em>Nah</em>, BEM FISIP UI sudah memiliki alur dalam proses regenerasi itu sendiri. Namun, tidak memiliki kaderisasi untuk pengurus selanjutnya. Informan kami juga menyampaikan bahwa linimasa yang padat dalam BEM FISIP UI juga memunculkan <em>workload</em> yang menumpuk sehingga membuat mereka trauma. Rasa trauma ini lalu menjadikan mereka enggan untuk meneruskan kepengurusan.</p>



<p>Lebih dari itu, rencana pribadi turut menjadi alasan utama mengapa fungsionaris tidak ingin berpartisipasi dalam regenerasi kepengurusan BEM FISIP UI karena terdapat prioritas yang perlu didahulukan. Hal-hal di atas kemudian membuat informan kami memikirkan kembali sebelum meneruskan kepengurusan BEM FISIP UI.</p>



<p>Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa regenerasi dalam konteks organisasi mahasiswa BEM FISIP UI tidak dapat dipahami sebagai proses administratif dan berkelanjutan semata (Permatasari et al, 2024), melainkan sebagai proses sosial yang kompleks. Kami mengidentifikasi tiga elemen penting yang akan menjadi pusat dinamika regenerasi, yaitu peran kakak tingkat yang bersifat ambivalen sebagai pendorong sekaligus sumber tekanan, regenerasi yang adaptif, dan dinamika internal organisasi.</p>



<p>Dari temuan utama tersebut, penelitian ini berhasil merumuskan sebuah konsep baru yang dinamakan <em><strong>senior reinforcement</strong></em>. Konsep ini menekankan pada temuan penelitian yang menggambarkan peran<br>ambivalen kakak tingkat dalam proses regenerasi kepengurusan. Peran kakak tingkat dalam proses regenerasi organisasi mahasiswa BEM FISIP UI dapat dilihat sebagai motivator, sumber inspirasi, dan informasi bagi adik tingkat selaku pelaku regenerasi organisasi.</p>



<p><em>Senior reinforcement</em> tidak hanya berfokus pada analisis peran struktural atau formal kakak tingkat, tetapi membantu mendefinisikan bahwa satu elemen terkuat keberhasilan regenerasi adalah dukungan interpersonal dari kakak tingkat atau senior organisasi. Hal ini dibuktikan dari banyaknya pengakuan bahwa peran kakak tingkat dalam pengambilan keputusan internal organisasi. Berkaitan dengan pernyataan tersebut, <em>senior reinforcement</em> juga memiliki implikasi yang penting dalam menciptakan<br>hubungan internal departemen atau biro yang suportif. Misalnya, para kakak tingkat dalam organisasi dapat mengupayakan hal ini dengan melanggengkan budaya organisasi, seperti TWTW (Tukar Wawasan<br>Tambah Wawasan) dan rapat regenerasi, yang menjadi perekat yang tertanam dalam hubungan antar pengurus.</p>



<p><strong>Ini Kesimpulannya</strong></p>



<p>Penelitian kami menunjukkan bahwa regenerasi kepengurusan dalam BEM FISIP UI bukan sekadar proses administratif belaka, lebih dari itu, terjadi sebuah proses sosial yang kompleks di dalamnya. Regenerasi dipengaruhi oleh interaksi antargenerasi, dinamika emosional, serta relasi interpersonal yang terbentuk dalam budaya organisasi. <em>Senior Reinforcement</em> menjadi temuan penting dalam penelitian ini, menjelaskan peran dualisme kakak tingkat sebagai pendorong sekaligus sumber tekanan dalam proses<br>regenerasi. Temuan ini memperluas pemahaman sebelumnya terkait partisipasi mahasiswa yang ternyata tidak hanya digerakkan oleh motivasi individu, seperti yang dijelaskan di dalam <em>self determination theory </em>(Gagné&amp; Deci, 2005), tetapi dipengaruhi oleh konteks sosial yang terjadi disekitarnya.</p>



<p>Lebih dalam, keterlibatan mahasiswa dalam regenerasi dipengaruhi oleh kombinasi antara dukungan interpersonal, motivasi internal dan sistem organisasi yang adaptif. Jika motivasi tidak ditopang oleh lingkungan yang suportif atau sistem yang jelas, maka partisipasi cenderung akan menurun. Oleh karena itu, regenerasi yang berhasil  tak hanya membutuhkan struktur formal, terdapat juga relasi yang sehat, ruang partisipasi yang terbuka serta sensitivitas terhadap kondisi kebutuhan antaranggota. Organisasi mahasiswa harusnya melihat regenerasi sebagai proses yang hidup dan berlapis, bukan sekadar produk teknis semata, agar keberlangsungan nilai dan kepemimpinan dalam organisasi dapat terus terjaga.</p>



<p><strong>Saran, <em>Nih </em></strong></p>



<p>Kami menyadari adanya keterbatasan dalam hal ruang lingkup pengamatan, terutama karena keterbatasan waktu yang kami miliki. Oleh karena itu, saran utama untuk pengembangan riset selanjutnya adalah memperluas eksplorasi terhadap karakteristik tiap departemen dan biro di dalam BEM FISIP UI. Masing-masing unit memiliki dinamika kerja, struktur internal, serta budaya yang unik yang berpotensi membentuk pengalaman regenerasi yang berbeda-beda. Melihat dari sisi-sisi tersebut secara lebih mendalam dapat memberikan gambaran yang lebih utuh dan kontekstual mengenai proses regenerasi dalam organisasi mahasiswa.</p>



<p>Selain itu, konsep <em>senior reinforcement</em> yang ditemukan dalam penelitian kami ini sebaiknya diuji lebih lanjut pada jenis organisasi mahasiswa lain di luar lingkup struktural seperti BEM atau himpunan, misalnya dalam komunitas atau perkumpulan yang berbasis pada minat dan bakat seperti unit kegiatan tari, <em>photography</em>, dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah pola relasi antar generasi yang serupa juga terbentuk dalam konteks yang lebih cair dan berbasis minat. Terakhir, jika memungkinkan, pendekatan kuantitatif juga dapat dilakukan untuk memperkuat temuan dan mengukur sejauh mana pengaruh faktor-faktor seperti relasi senior—junior, motivasi, dan dinamika komunikasi terhadap keberhasilan regenerasi organisasi mahasiswa secara lebih luas dan terukur.</p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p></p>



<p><sub>Kelompok Berlo- Metode Penelitian Komunikasi II (Kualitatif): <strong>Amin Rakil&nbsp;</strong>(<a href="mailto:amin.rakil@ui.ac.id">amin.rakil@ui.ac.id</a>)</sub>, <sub><strong>Fatyarastri Rasindrea Gantari</strong> (<a href="mailto:fatyarastri.rasindrea@ui.ac.id">fatyarastri.rasindrea@ui.ac.id</a>)</sub>, <sub><strong>Kezia Latifah Mumtaz&nbsp;</strong>(<a href="mailto:kezia.latifah@ui.ac.id"> kezia.latifah@ui.ac.id</a>)</sub>, <sub><strong>Mochammad Daffa Ghiffary&nbsp;</strong>(<a href="mailto:m.daffa22@ui.ac.id">m.daffa22@ui.ac.id</a>)</sub>, <sub><strong>Zefanya Putri Dinanti Djuwana</strong> (<a href="mailto:zefanya.putri@ui.ac.id">zefanya.putri@ui.ac.id</a>)</sub></p>



<ol class="wp-block-list">
<li></li>
</ol>
</div></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/di-balik-suksesnya-regenerasi-organisasi-begini-pentingnya-peran-kakak-tingkat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema Personal Branding Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI di LinkedIn: Antara Ideal dan Autentik</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ziya Ulhaq]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 10:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3869</guid>

					<description><![CDATA[Haura Zahra Zhafira, Jovanka Everlyn Valencia, Muhammad Ziya Ulhaq, Vania Galis Prasuma Hadi, Zhafirah Farsya. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. ABSTRAK LinkedIn menjadi platform strategis bagi para informan yang merupakan mahasiswa IlmuKomunikasi Universitas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Haura Zahra Zhafira, Jovanka Everlyn Valencia, Muhammad Ziya Ulhaq, Vania Galis Prasuma Hadi, Zhafirah Farsya. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.</p>



<p><strong>ABSTRAK</strong></p>



<p>LinkedIn menjadi platform strategis bagi para informan yang merupakan mahasiswa Ilmu<br>Komunikasi Universitas Indonesia dalam membangun citra profesional dan branding di<br>tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi<br>pengalaman mahasiswa dalam mempresentasikan diri di LinkedIn serta mendeskripsikan<br>strategi personal branding yang mereka gunakan. Dengan menggunakan pendekatan<br>kualitatif dan metode fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap<br>mahasiswa aktif yang telah konsisten menggunakan LinkedIn. Hasil penelitian menunjukkan<br>adanya pergeseran motivasi dan faktor eksternal seperti tuntutan akademik dan Fear of<br>Missing Out (FOMO). Mahasiswa memanfaatkan fitur seperti job search, analytics, dan<br>pengelolaan profil secara strategis untuk meningkatkan visibilitas. Namun, mereka juga<br>menghadapi tekanan sosial dalam menampilkan versi terbaik diri yang belum tentu<br>mencerminkan realitasnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa personal branding melalui<br>LinkedIn bukan hanya soal tampil profesional, tetapi juga proses negosiasi antara keaslian<br>diri dan ekspektasi publik. Implikasinya, informan perlu mengelola identitas digital secara<br>sadar dan berkelanjutan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi dunia kerja.<br><strong>Kata Kunci:</strong> Personal branding, self-presentation, pencarian kerja, media sosial, LinkedIn,<br>mahasiswa</p>



<p><br><strong>PENDAHULUAN</strong><br><strong>LinkedIn: Kunci Sukses Gen Z di Tengah Badai Pencarian Kerja?</strong><br>Pada era digital saat ini, media sosial tidak lagi menjadi sekedar tempat berbagi momen atau<br>menjalin pertemanan. Jauh lebih dari itu, platform digital kini menjelma sebagai panggung<br>strategis untuk membangun citra diri, atau yang kita kenal dengan istilah personal branding.<br>Hal ini tentu sangat berbeda dengan cara tradisional, media sosial memungkinkan kita untuk<br>merancang dan menyajikan profil diri secara lebih leluasa serta dapat menjangkau audiens<br>yang lebih luas. Di antara beraneka ragam platform media sosial yang ada, LinkedIn<br>menonjol sebagai arena para profesional unjuk gigi. Berbeda halnya dengan Instagram, X,<br>dan TikTok yang lebih santai, LinkedIn dirancang secara khusus untuk karir dan<br>pengembangan profesional. Maka dari itu, tidak heran jika selama lebih dari satu dekade,</p>



<p>LinkedIn telah menjadi alat krusial bagi para perekrut dan pencari kerja di seluruh dunia<br>(Weiss &amp; Glück, 2024). Generasi Z–generasi yang tumbuh di besar di hiruk pikuk teknologi digital–memiliki keunggulan tersendiri dalam menavigasi dunia maya. Mereka adalah “digital natives” sejati<br>yang secara alami memahami dinamika komunikasi digital, tidak terkecuali seni membangun<br>citra diri di platform seperti LinkedIn. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia<br>angkatan 2021–2023 merupakan contoh nyata dari Gen Z yang sangat akrab dengan<br>penggunaan teknologi dalam kesehariannya. Mereka berupaya untuk menampilkan diri secara<br>autentik di media sosial, termasuk dalam membangun personal branding yang berdampak<br>langsung pada peluang kerja (Trang et al., 2024). Konsistensi dalam komunikasi, baik lisan,<br>tulisan, maupun virtual, menjadi kunci untuk memperkuat citra daring dan memperbesar<br>peluang karir.</p>



<p><br>Namun, medan pertempuran kerja bagi gen Z saat ini tidak mudah. Survei Populix<br>pada Juni 2024 terhadap 1.330 pencari kerja menunjukkan bahwa sebesar 69% Gen Z di<br>Indonesia kesulitan mendapatkan pekerjaan, salah satunya disebabkan oleh tingginya<br>persyaratan pengalaman yang seringkali belum mereka miliki. Ditambah lagi dengan<br>perkembangan teknologi dan globalisasi pasar tenaga kerja yang semakin memperketat<br>persaingan tersebut. Di sinilah peran personal branding melalui LinkedIn menjadi penting.<br>Dengan membangun citra diri yang kuat dan profesional, bukan hal yang mustahil bagi Gen<br>Z untuk bisa menonjol di tengah kerumunan, memperlihatkan keterampilan, pengalaman<br>magang, proyek, hingga keterlibatan dalam komunitas profesional. Semua hal ini bertujuan<br>untuk meningkatkan visibilitas dan kredibilitas mereka di mata perekrut.<br>Meskipun demikian, masih ada tantangan tersendiri yang dihadapi dalam membangun<br>citra profesional di LinkedIn. Pengguna seringkali merasa tertekan untuk selalu menampilkan<br>versi terbaik dirinya, baik itu dalam hal pencapaian akademik maupun non-akademik. Hal ini<br>terkadang menciptakan citra yang mungkin berbeda dari realitas sebenarnya. Padahal,<br>penelitian oleh Trang et al. (2024) justru menunjukkan bahwa citra daring yang “tidak<br>sempurna” atau autentik lebih efektif bagi Gen Z. Mereka cenderung ingin menggabungkan<br>promosi diri dengan menunjukkan sisi asli mereka. Lantas, bagaimana sebenarnya mahasiswa<br>Ilmu Komunikasi UI memanfaatkan LinkedIn sebagai platform untuk membangun personal<br>branding mereka? Yuk, simak hasil penelitian kelompok kami!</p>



<p><br><strong>Apa Itu Self-Presentation dan Personal Branding?</strong><br>Teori self-presentation membahas bagaimana individu membentuk citra diri melalui isyarat<br>verbal dan nonverbal (Bahar, 2024) dan pertama kali dikenalkan oleh Goffman (1959) yang<br>mencakup konsep frontstage dan backstage. Di era digital, media sosial seperti LinkedIn<br>menjadi ruang baru untuk melakukan self-presentation secara strategis. Ruang digital ini<br>memungkinkan pengguna mengatur kesan melalui konten yang dapat dikurasi, sesuai dengan<br>konsep exhibition Hogan (2010). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengguna<br>LinkedIn menggunakan teknik self-presentation dan impression management untuk menarik<br>perhatian recruiter (Weisi &amp; Hajizadeh, 2025; Wu &amp; Carroll, 2024). Selain itu, Van Dijck<br>(2013) menekankan bahwa desain LinkedIn mendorong promosi diri, sementara Weiss &amp;<br>Glück (2024) menunjukkan adanya ketegangan antara keinginan tampil autentik dan ideal.<br>Sementara itu, personal branding sebagai konsep yang pertama kali diperkenalkan<br>oleh Kotler dan Levy (1969) merujuk kepada aktivitas manusia normal yang dilakukan<br>sebagai sarana untuk memberi kesan kepada orang lain. Saat ini, banyak orang yang<br>menggunakan personal branding untuk memasuki pasar kerja, mereka berlomba-lomba<br>menciptakan profil yang positif, khususnya dengan mengomunikasikan harapan, tujuan, dan<br>nilai-nilai (Ollington et al., 2013). Personal branding dapat digunakan oleh seseorang sebagai<br>aset untuk mencapai karir yang diinginkan, personal branding yang baik akan membantu seseorang lebih mudah mendapatkan karir yang cemerlang. Oleh karena itu, sudahkan kalian membangun personal branding yang baik?</p>



<p><br><strong>Mendengarkan Langsung dari Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI!</strong><br>Untuk memahami lebih dalam bagaimana mahasiswa Ilmu Komunikasi UI membentuk<br>personal branding mereka di LinkedIn, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif<br>melalui metode fenomenologi. Pendekatan ini dipilih agar kami sebagai peneliti bisa<br>benar-benar menyelami pengalaman dari para informan, bukan hanya melihat dari luar, tetapi<br>memahami makna di balik strategi mereka membangun citra profesional secara digital.<br>Siapa saja yang menjadi narasumber? Kami sengaja memilih informan dengan metode<br>purposive sampling, yang artinya kami tidak memilih sembarang mahasiswa. Hanya<br>mahasiswa Ilmu Komunikasi UI angkatan 2021, 2022, dan 2023 yang aktif menggunakan<br>LinkedIn dan rutin mengunggah konten dalam tiga bulan terakhir. Kenapa? Karena mereka<br>sedang berada dalam fase penting, yaitu mulai mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja, dan<br>tentu saja, sedang gencar membentuk personal branding!</p>



<p>Wawancaranya sendiri dilakukan secara mendalam atau in-depth interview. Dalam<br>proses ini, kami menggali cerita, strategi, hingga tantangan yang mereka hadapi dalam<br>mempresentasikan diri di LinkedIn. Hasil wawancara kemudian dianalisis menggunakan<br>teknik analisis tematik. Tujuannya adalah untuk menemukan pola, tema, dan makna yang<br>berulang dari tiap cerita yang dibagikan oleh para informan. Melalui pendekatan ini, kami<br>dapat menangkap lebih dari sekadar apa yang mereka tampilkan di profil LinkedIn, kami juga<br>dapat memahami alasan di balik setiap pilihan kata, gaya penyampaian, hingga dilema yang<br>mereka rasakan antara tampil ideal dan tetap menjadi diri sendiri. Menarik, ‘kan?</p>



<p><br><strong>HASIL DAN DISKUSI</strong><br><strong>Dari FOMO ke Kesadaran Profesional</strong><br>Menariknya, penelitian yang kelompok kami lakukan menemukan bahwa terdapat pergeseran<br>motivasi yang signifikan di balik penggunaan LinkedIn oleh beberapa informan. Awalnya,<br>mereka menggunakan platform ini karena faktor-faktor eksternal, seperti tugas kuliah hingga<br>fenomena yang akrab disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). Mereka tidak ingin<br>ketinggalan dari teman-temannya yang sudah terlebih dulu aktif di LinkedIn. Berikut ini<br>beberapa jawaban mereka saat kami menggali motivasi awal dalam penggunaan platform<br>LinkedIn.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3871" style="width:564px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bagaimana awal mula para informan<br>berinteraksi dengan LinkedIn karena faktor eksternal, seperti dorongan praktis dari kampus<br>terkait mata kuliah dan perasaan tidak mau tertinggal, menunjukkan adanya tekanan sosial di kalangan teman sebaya untuk memiliki kehadiran di LinkedIn. Hal ini menunjukkan bahwa<br>motivasi awal mereka dalam penggunaan LinkedIn bukan berasal dari kesadaran pribadi<br>terhadap manfaatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, motivasi tersebut pun ikut berubah.<br>Penggunaan LinkedIn beralih dari sekadar tuntutan menjadi sebuah kesadaran profesional<br>yang mendalam. Para informan mulai memahami pentingnya LinkedIn sebagai alat strategis<br>untuk membangun jaringan dan mengembangkan karier. “Kemudian bergeser menjadi lebih<br>rasional bahwa oke ini memang kebutuhan atau tuntutan pekerja profesional tuh memang<br>harus punya aplikasi ini,” jelas salah satu informan. Evolusi cara pandang ini menegaskan<br>bahwa pengalaman berinteraksi dengan LinkedIn secara bertahap menciptakan pemahaman<br>internal terkait nilai sebenarnya dari platform tersebut dalam dunia kerja.<br>Temuan ini selaras dengan penelitian Trang et al. (2024) yang menyebutkan bahwa<br>Gen Z seringkali membangun personal branding sebagai respons terhadap tekanan faktor<br>eksternal seperti persaingan kerja yang ketat. Namun, yang menarik dari temuan kami adalah<br>bagaimana tekanan awal ini berubah menjadi kesadaran pribadi terhadap pentingnya<br>proaktivitas dalam membangun karier di masa mendatang. Oleh karena itu, penggunaan<br>LinkedIn bagi mereka bukan lagi sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi langkah strategis untuk<br>mencapai tujuan profesional yang jelas.</p>



<p><br><strong>Fitur LinkedIn untuk Personal Branding: Apa Saja yang Digunakan?</strong><br>Pernah bertanya-tanya fitur LinkedIn apa saja yang digunakan untuk membangun personal<br>branding? Penelitian kami mengungkap bahwa para informan memanfaatkan berbagai fitur<br>dengan tujuan utama yang sama: meningkatkan visibilitas mereka di pasar kerja yang<br>kompetitif. Salah satu fitur utama yang digunakan adalah profil LinkedIn, yang terbagi<br>menjadi beberapa kolom, mulai dari nama, headline, about, activities, experience, volunteer,<br>dan kolom lainnya. Melalui profil, informan dapat memperkenalkan siapa mereka, apa yang<br>telah mereka capai, dan keahlian yang mereka miliki agar menarik perhatian para recruiter<br>dan perusahaan. Desain profil yang terstruktur dan pemanfaatannya sejalan dengan temuan<br>Van Dijck (2013), yang menjelaskan bahwa interface LinkedIn mendorong pengguna untuk<br>melakukan promosi diri secara strategis.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3872" style="width:606px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.13.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Masih dalam fitur profil, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan visibilitas<br>di LinkedIn adalah melalui keywords yang akan mempermudah perusahaan, recruiter,<br>maupun pengguna lainnya untuk menemukan kita. Contohnya, informan dalam penelitian<br>kami sering menggunakan kata-kata yang relevan dengan jenis pekerjaan yang dituju.</p>



<p>Fitur lainnya yang digunakan adalah job search. Perusahaan apa sih yang sedang open<br>recruitment? Posisi apa sih yang banyak dicari? Informan dalam penelitian kami<br>menyebutkan bahwa ia menggunakan fitur job search untuk mencari lowongan pekerjaan dari<br>perusahaan yang diminati. Dari hasil pencarian tersebut, mereka dapat menyesuaikan profil<br>mereka agar lebih mudah ditemukan dan memperluas peluang karier serta jaringan<br>profesional.</p>



<p>Terakhir, fitur analytics. Fitur analytics digunakan untuk memantau performa akun dan<br>tingkat engagement suatu unggahan. Menurut informan, terdapat perbedaan engagement<br>konten yang diunggah sendiri dengan konten repost. Ia memantau metrik impression,<br>komentar, dan likes, untuk menilai efektivitas konten dan visibilitas akun yang digunakan<br>untuk membangun personal branding.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3874" style="width:559px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ketiga fitur yang digunakan berhubungan dengan teori Edmiston (2014) tentang langkah<br>penting untuk membangun personal branding profesional melalui media sosial. Para<br>informan membangun identitas online melalui fitur profil, melengkapi deskripsi dari<br>komponen-komponen yang ada di dalamnya. Mereka juga memantau dan mengukur merek<br>(brand) online melalui fitur job search dan fitur analytics, sekaligus berjejaring dan terlibat<br>dengan audiens melalui fitur analytics.</p>



<p><br><strong>Ketika Personal Branding Bertemu Kejujuran Diri</strong><br>Personal branding bukan lagi sekadar milik para profesional. Mahasiswa kini semakin sadar<br>pentingnya membangun citra diri yang kuat, terutama di platform LinkedIn. Menariknya, cara<br>mereka membentuk citra diri bukan dengan menjadi orang lain, tetapi dengan menyesuaikan<br>bahasa dan gaya komunikasi tanpa harus meninggalkan keaslian. Ada usaha besar untuk tetap<br>menjadi diri sendiri, walau harus tampil dengan gaya bahasa yang lebih rapi dan profesional.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3875" style="width:621px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.15.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dari serangkaian wawancara yang dilakukan dalam penelitian kualitatif ini, terlihat<br>pola yang konsisten, yakni informan menyusun profil LinkedIn mereka dengan sangat sadar<br>dan strategis. Ditemukan bahwa informan menyusun profil mereka dengan cermat: dari<br>pilihan kata, nada bicara, sampai cara mereka menjelaskan pengalaman. Bahasa mereka<br>dirapikan agar terdengar profesional, tetapi tetap mencerminkan diri yang sebenarnya.<br>Konsep ini selaras dengan teori self-presentation oleh Erving Goffman (1959). LinkedIn<br>menjadi ‘panggung depan’ di mana mahasiswa harus tampil meyakinkan, sedangkan sisi<br>pribadi tetap dijaga di balik layar. Mereka menampilkan diri sesuai ekspektasi industri,<br>dengan tetap berusaha jujur dan autentik.<br></p>



<p>Konsistensi juga menjadi kunci. Seperti dijelaskan Dolan (2017), komunikasi yang<br>selaras baik verbal, tulisan, maupun digital dapat membangun kredibilitas. Informan pun<br>memahami bahwa personal branding bukan hanya soal isi, tetapi juga cara menyampaikan<br>pesan. Hal ini sejalan dengan prinsip Montoya (2002), personal branding yang kuat berasal<br>dari nilai diri, pesan yang jelas, dan penyampaian yang konsisten. Dari temuan ini, satu hal<br>yang jelas adalah membentuk citra profesional bukan soal menjadi orang lain. Ini soal jadi<br>versi terbaik dari diri sendiri yang rapi, tetapi tetap asli.</p>



<p><br><strong>Tekanan Untuk Tampil Ideal, Tapi Kok Nggak Jadi Diri Sendiri?</strong><br>Tidak semua proses membangun personal branding di LinkedIn berjalan mulus. Dalam<br>penelitian kami, muncul satu benang merah yang cukup kuat, yaitu tekanan sosial. Beberapa<br>informan mengaku bahwa mereka merasa terbebani ketika melihat pencapaian teman-teman<br>lainnya yang tampak lebih mentereng. Alhasil, muncul rasa minder, cemas, bahkan tidak<br>percaya diri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-3873" style="width:622px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1024x576.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-300x169.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-768x432.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14-1536x864.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-07-at-17.20.14.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Perasaan ini menciptakan dorongan untuk menampilkan versi ideal dari diri mereka<br>yang sayangnya, tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Beberapa bahkan mengakui sempat<br>‘menaikkan’ sedikit informasi seputar kemampuan agar terlihat lebih profesional. Di sinilah<br>muncul dilema, yaitu ingin tampil autentik, tetapi juga ingin dianggap layak di mata audiens,<br>termasuk para perekrut.</p>



<p><br>Tekanan semacam ini sebetulnya bukan hal baru. Goffman, seorang sosiolog, pernah<br>menggambarkan bahwa dalam kehidupan sosial, kita seperti sedang berada di ‘panggung<br>teater’. Di LinkedIn, panggung itu menjadi sangat nyata, mahasiswa tampil &#8220;rapi&#8221;, percaya<br>diri, dan kompeten, walaupun mungkin di balik layar mereka masih merasa belum cukup.<br>Menariknya, fenomena ini bertolak belakang dengan harapan banyak Gen Z itu<br>sendiri. Studi oleh Trang et al. (2024) justru menunjukkan bahwa generasi ini cenderung<br>menyukai personal branding yang apa adanya, tidak melulu sempurna, dan memperlihatkan<br>proses jatuh-bangun dalam perjalanan karier. Namun, dalam konteks kampus yang kompetitif<br>seperti Ilmu Komunikasi UI, ekspektasi tinggi dan budaya performatif membuat informan<br>sering kali merasa harus tampil maksimal di ruang digital.</p>



<p><strong>Cari Kerja Lewat LinkedIn? Siapa Takut? </strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="586" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-1024x586.png" alt="" class="wp-image-3876" style="width:593px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-1024x586.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-300x172.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja-768x439.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Cari-Kerja.png 1142w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kamu masih semester awal kuliah dan belum punya pengalaman kerja? Bingung mulainya<br>dari mana? Tenang, kamu masih punya banyak waktu untuk membangun masa depan kamu<br>melalui LinkedIn. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang terbantu<br>dengan kehadiran Linkedin, platform profesional satu ini ternyata bukan hanya ditujukan bagi<br>orang-orang kantoran atau pencari kerja saja, tetapi juga buat kamu yang sedang mencari arah<br>karier untuk masa depan.</p>



<p>Tidak hanya itu, LinkedIn juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun<br>networking. Di LinkedIn, kamu bisa saja bertemu dengan kakak tingkat, alumni, atau<br>orang-orang yang sudah berpengalaman di dunia profesional. Hal ini dapat meningkatkan<br>peluang kamu untuk mendapatkan magang atau pekerjaan di perusahaan yang kamu<br>inginkan. Ini juga sesuai dengan apa yang disampaikan oleh salah satu informan kami,<br>“LinkedIn itu penting karena kita bisa banyak ketemu kakak-kakak alumni kita. Mau itu dari<br>sudah tahun lalu yang sudah berkecimpung di dunia professional ya, dimanapun itu, di<br>industri manapun”. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa untuk mencapai keberhasilan<br>itu semua, personal branding yang kamu bangun di LinkedIn harus sesuai realita, bukan<br>fatamorgana.</p>



<p><br><strong>KESIMPULAN DAN SARAN</strong><br>Dari penelitian ini, kita dapat memahami bahwa para informan yang merupakan mahasiswa<br>Ilmu Komunikasi UI menggunakan LinkedIn untuk menunjukkan siapa diri mereka dan apa<br>yang mereka bisa lakukan. Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan teman atau dipaksa tugas<br>kuliah, tetapi lama-lama mereka sadar, LinkedIn adalah platform penting untuk menunjang<br>karier mereka nantinya. Informan juga memanfaatkan fitur-fitur LinkedIn, mulai dari mencari<br>lowongan kerja, mengukur seberapa banyak orang yang melihat profil mereka, hingga<br>memilih kata-kata yang tepat agar mudah dicari oleh perusahaan. Namun, ada juga tekanan<br>untuk terlihat “sempurna” di LinkedIn. Hal ini membuat mereka ingin menampilkan sisi<br>terbaiknya, meskipun terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Di balik itu semua, LinkedIn<br>tetap membantu para informan. Mereka mendapatkan kesempatan magang, berjejaring<br>dengan orang-orang penting, dan menjadi lebih percaya diri dalam membangun karier. Jadi,<br>untuk mereka, LinkedIn sudah seperti senjata rahasia untuk masuk ke dunia kerja.<br>Oleh karena itu, disarankan agar mahasiswa Ilmu Komunikasi UI lebih proaktif dalam<br>membangun dan mengelola personal branding di LinkedIn dengan pendekatan yang<br>seimbang antara profesionalisme dan keaslian diri. Fitur-fitur yang tersedia sebaiknya<br>dimanfaatkan dengan baik untuk menampilkan narasi diri yang relevan dengan bidang<br>keahlian yang diminati. Penting pula untuk meningkatkan kesadaran terhadap tekanan sosial<br>yang dapat timbul karena perbandingan dengan pengguna lain dan menjadikannya sebagai<br>motivasi untuk refleksi diri. Selain itu, institusi pendidikan, yang dalam konteks penelitian ini<br>adalah Departemen Ilmu Komunikasi UI, dapat memberikan pelatihan tentang optimalisasi<br>LinkedIn agar mahasiswa memiliki bekal yang kuat dalam mempersiapkan diri menghadapi<br>dunia kerja secara digital dan profesional.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/07/dilema-personal-branding-mahasiswa-ilmu-komunikasi-ui-di-linkedin-antara-ideal-dan-autentik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>A Dump Account: Ruang Digital Aman Tanpa Kritikan</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3797</guid>

					<description><![CDATA[Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Feeds harus estetik, caption harus...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi</strong></p>



<p>Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. <em>Feeds</em> harus estetik, <em>caption</em> harus <em>catchy</em>, dan citra diri pun seolah harus dijaga terus-menerus. Di tengah tekanan itu, muncul pertanyaan: bagaimana seseorang bisa mengekspresikan perasaannya dengan jujur jika media sosial justru menjadi ruang yang penuh tuntutan?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3837" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-scaled.png 960w" sizes="auto, (max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</div>


<p class="has-large-font-size"><strong>Instagram dan Dump Account</strong></p>



<p>Dalam era digital saat ini, media sosial bukan hanya sarana berbagi informasi atau foto, tapi juga ruang untuk membentuk identitas diri dan menyalurkan emosi. Bagi generasi Z, Instagram menjadi platform utama untuk mencurahkan cerita dan perasaan melalui konten visual. Namun, tekanan untuk selalu menampilkan “kehidupan ideal” di akun utama membuat banyak pengguna merasa tak lagi punya ruang aman untuk mengekspresikan sisi personal mereka. Beberapa hal di atas menjadi alasan banyak orang beralih dan menjadi lebih aktif di <em>dump account</em>. <em>Dump account</em> adalah akun alternatif Instagram yang digunakan secara lebih santai, bebas, dan spontan. Berbeda dari akun utama yang penuh pencitraan, <em>dump account</em> lebih menyerupai ruang pribadi di mana pengguna bisa unggah foto acak, refleksi pribadi, atau momen emosional tanpa merasa diawasi atau dinilai, meskipun akunnya tetap bisa dilihat masyarakat umum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png" alt="" class="wp-image-3809" style="width:442px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-768x644.png 768w" sizes="auto, (max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p><br>Menariknya, ini bukan fenomena yang jarang terjadi. Menurut data Goodstats.id (2024), <strong>57% pengguna Instagram di Indonesia memiliki akun kedua</strong>, termasuk <em>dump account.</em> Angka ini mencerminkan kebutuhan besar akan ruang ekspresi yang lebih autentik dan lepas dari tekanan sosial.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Fenomena ini menjadi titik awal dari penelitian kami,</strong></p>



<p>yang bertujuan menggali bagaimana penggunaan <em>dump account</em> sebagai bentuk jurnal foto digital dapat membantu generasi Z dalam meregulasi emosi mereka. Hal ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Scott et al. (2023) dan Pluta et al. (2021), terkait pemilihan media untuk mengekspresikan aspek emosional dan pribadi di ranah digital. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan teknik<em> photo elicitation interview</em>, kami mendalami pengalaman subjektif para pengguna <em>dump account</em>. Penelitian ini didukung oleh konsep-konsep seperti <em>online self-disclosure</em>, <em>social sharing of emotions</em>, dan <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT) untuk memahami lebih dalam relasi antara ekspresi diri di media sosial dan kesejahteraan emosional mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Di Balik Maraknya Penggunaan <em>Dump Account</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f9d1-200d-1f4bb.png" alt="🧑‍💻" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Untuk memahami lebih dalam bagaimana <em>dump account</em> digunakan sebagai bentuk jurnal foto digital atau media untuk ekspresi dan regulasi emosi, penelitian ini mengacu pada tiga konsep utama, yaitu <strong><em>online self-disclosure</em></strong><em>, </em><strong><em>social sharing of emotions</em></strong><em>, dan </em><strong><em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong>. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana individu memaknai penggunaan media sosial sebagai ruang ekspresi personal di tengah tekanan sosial digital.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>1. <em>Online Self-Disclosure</em></strong></p>



<p>Konsep <em>online self-disclosure</em> merujuk pada kecenderungan seseorang untuk secara sukarela membagikan informasi pribadi, pikiran, dan perasaannya melalui media online. Dibandingkan dengan interaksi langsung, komunikasi berbasis platform digital cenderung membuka ruang yang lebih leluasa untuk bersikap terbuka, terutama ketika pengguna merasa audiensnya terbatas atau tidak terlalu menghakimi.&nbsp;Dalam konteks <em>dump account</em>, praktik <em>self-disclosure</em> ini menjadi lebih mudah dilakukan. Informan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa mereka unggah di akun utama. Baik dalam bentuk foto, video, maupun caption reflektif, pengguna memanfaatkan <em>dump account</em> untuk membagikan sisi emosional mereka tanpa rasa takut dinilai atau dilihat oleh orang-orang yang tidak dekat secara personal.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>2. <em>Social Sharing of Emotions</em></strong></p>



<p>Berkaitan erat dengan konsep sebelumnya, <em>social sharing of emotions</em> menjelaskan bagaimana individu secara alami terdorong untuk membagikan pengalaman emosional baik yang menyenangkan maupun menyedihkan kepada orang lain, sebagai bentuk pencarian dukungan atau validasi. Menurut Rimé (2009), berbagi emosi bukan hanya soal curhat, tapi juga bagian dari proses mengelola dan memahami perasaan diri sendiri.<em>Dump account</em> menjadi media untuk itu. Pengguna sering membagikan konten yang berisi memori personal, suasana hati, bahkan momen-momen yang tidak sempat dibagikan di dunia nyata. Terkadang, mereka tidak mencari respons besar dari audiens, cukup dengan mengetahui bahwa unggahan tersebut ada yang melihat dan mengerti dengan postingan mereka saja sudah cukup untuk memberikan rasa lega.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>3. <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong></p>



<p>Teori ini membantu menjelaskan alasan mengapa seseorang memilih <em>dump account</em> dibandingkan akun utama. Dalam <em>Uses and Gratifications Theory</em> (Blumler &amp; Katz, 1974), individu secara aktif memilih media tertentu berdasarkan kebutuhan atau kepuasan yang ingin mereka dapatkan, seperti kebutuhan akan hiburan, ekspresi diri, pelarian emosional, atau hubungan sosial.Dalam konteks penelitian ini, <em>dump account</em> menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan akan ekspresi jujur dan regulasi emosi. Alih-alih menggunakan akun utama yang penuh tekanan dan ekspektasi sosial, pengguna lebih memilih dump account karena bisa mengunggah konten tanpa harus mempertimbangkan estetika, jumlah likes, atau citra diri yang harus dijaga.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kerangka Penelitian</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcKFgaKBwYu7rYqiDxs-v5bjdxoHklGvziHSsvxauAb2q7WmEsmDjbO22ug3PFI5zF251-AkRVoR696a9MnZcNEZFaTVMER41Wg8OzZ0gRTN3ZIgqFtkL9OrVdT3FwRsPgxZ-THbQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian</em></p>



<p>Penelitian ini ingin melihat bagaimana penggunaan <em>dump account</em> Instagram berperan sebagai sarana regulasi emosi bagi generasi Z. Ketiga teori dan konsep utama dalam penelitian ini saling terhubung dengan memberikan kerangka teoritis untuk memahami bagaimana aktivitas berbagi secara digital bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang bermakna. Ini memperkuat pemahaman bahwa <em>dump account</em> adalah bentuk jurnal foto digital, yang tidak hanya mendokumentasikan momen, tetapi juga membantu pengguna dalam proses regulasi emosi.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif pengguna dalam menggunakan <em>dump account</em> sebagai jurnal foto digital dalam proses regulasi emosi. Pendekatan fenomenologi dipilih karena mampu mengungkap makna terdalam dari pengalaman hidup partisipan, tidak hanya dari perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga dari refleksi personal yang melekat dalam tindakan mereka. Untuk menggali kompleksitas pengalaman tersebut, digunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data, yaitu observasi digital, wawancara mendalam, dan <em>photo elicitation interview</em>. Ketiga teknik ini tidak hanya digunakan secara terpisah, melainkan saling melengkapi melalui proses triangulasi metode, yaitu upaya membandingkan dan mengkonfirmasi data dari berbagai sumber untuk meningkatkan keabsahan dan kedalaman temuan.</p>



<p>Proses pengumpulan data diawali dengan observasi digital terhadap <em>dump account</em> partisipan. Observasi ini dilakukan dengan mengamati aktivitas autentik pengguna dalam ruang digital mereka. Fokus observasi meliputi pola unggahan, jenis konten visual yang dibagikan, gaya penulisan <em>caption</em>, serta bentuk interaksi yang terjadi antara pengguna dan pengikut mereka. Tahapan ini penting sebagai landasan awal untuk mengenali konteks penggunaan akun, membangun pemahaman terhadap kebiasaan pengguna, serta mengidentifikasi konten-konten yang berpotensi mengandung makna emosional. Informasi yang diperoleh dari observasi ini kemudian menjadi pijakan dalam menyusun pertanyaan yang lebih kontekstual dan spesifik pada tahap wawancara berikutnya.</p>



<p>Setelah mendapatkan pemahaman awal dari observasi digital, peneliti melanjutkan proses dengan melakukan wawancara mendalam terhadap partisipan yang telah memenuhi kriteria penelitian. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, memberikan ruang bagi partisipan untuk mengembangkan narasi pribadi mereka dengan bebas, sambil tetap diarahkan pada topik-topik utama yang ingin digali. Tujuan dari wawancara ini adalah mengeksplorasi bagaimana partisipan memaknai penggunaan <em>dump account</em>, apa yang mereka rasakan ketika mengunggah konten, serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap regulasi emosi mereka. Wawancara ini juga menjadi ruang aman bagi partisipan untuk mengekspresikan hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari unggahan mereka, termasuk latar belakang emosional di balik setiap tindakan digital yang dilakukan.</p>



<p>Dalam upaya memperdalam pemahaman terhadap aspek visual dan simbolik dari konten yang dibagikan, teknik <em>photo elicitation interview</em> digunakan sebagai pelengkap wawancara. Dalam sesi ini, partisipan diminta untuk memilih beberapa unggahan dari <em>dump account</em> mereka yang dianggap paling bermakna secara emosional. Foto-foto tersebut kemudian digunakan sebagai pemicu diskusi, mendorong partisipan untuk menggali kembali emosi, kenangan, atau refleksi yang mungkin sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Visual berperan sebagai jembatan antara pengalaman internal dan ekspresi luar, memunculkan dimensi pengalaman yang lebih dalam dan autentik. Teknik ini terbukti efektif untuk memunculkan narasi yang lebih kaya dan reflektif, karena citra visual mampu membangkitkan memori dan emosi yang bersifat personal dan tak jarang laten.</p>



<p>Ketiga teknik ini saling memperkuat dalam kerangka triangulasi metode. Observasi digital memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana pengguna mengekspresikan diri di ruang daring, wawancara mendalam membuka lapisan makna dan motivasi di balik tindakan tersebut, sementara <em>photo elicitation interview</em> menjembatani keduanya dengan eksplorasi visual yang bersifat emosional. Ketika temuan dari ketiga teknik ini saling mendukung, maka validitas data semakin kuat. Sebaliknya, jika terdapat ketidaksesuaian, hal tersebut justru menjadi peluang untuk menggali lebih dalam kompleksitas subjektivitas partisipan. Dengan demikian, proses pengumpulan data ini tidak hanya memberikan informasi deskriptif, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial digunakan sebagai ruang ekspresi emosional dan refleksi personal oleh generasi muda di era digital.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>Photo Elicitation Interview</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4f8.png" alt="📸" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Salah satu teknik utama dalam penelitian ini adalah <em>photo elicitation interview</em>, yaitu metode wawancara yang menggunakan foto atau unggahan visual sebagai pemantik wawancara atau memulai titik awal diskusi. Pendekatan <em>photo elicitation </em> kami pilih sebagai metode utama dengan harapan dapat menggali pengalaman, motivasi, serta dampak emosional dari penggunaan <em>dump account</em>. Selama wawancara, partisipan diminta memilih beberapa unggahan yang menurut mereka memiliki makna emosional atau yang paling merepresentasikan emosi tertentu. Foto-foto yang dipilih bisa berasal dari unggahan partisipan sendiri di <em>dump account</em> mereka. Dengan menunjuk dan menjelaskan langsung gambar-gambar tersebut, informan cenderung lebih terbuka, reflektif, dan bebas dalam mengungkapkan perasaan mereka. Dari sini, peneliti dapat mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara ekspresi visual dan proses regulasi emosi yang dialami. Teknik ini terbukti mampu menggali lapisan-lapisan makna yang tidak muncul dalam wawancara biasa, karena visual membangkitkan kenangan dan emosi yang mendalam (Harper, 2002).</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode Pengolahan Data</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4ca.png" alt="📊" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Setelah transkrip dari wawancara dan <em>Photo Elicitation Interview </em> lengkap,<strong> </strong>data dianalisis menggunakan aplikasi bantu bernama <strong>Taguette</strong>. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan <strong>coding</strong>, yaitu proses memberi label atau “tag” pada kutipan-kutipan penting dalam transkrip yang relevan dengan fokus penelitian. Kami membaca ulang setiap transkrip secara cermat, lalu menandai bagian-bagian yang mencerminkan tema seperti <em>regulasi emosi</em>, <em>kebebasan ekspresi</em>, atau <em>autentisitas</em>. Setiap kutipan diberi tag sesuai kategori tematik yang telah dirumuskan berdasarkan teori. Hasil dari proses ini membantu peneliti mengidentifikasi pola makna dan mengorganisasi temuan dengan lebih sistematis.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Pola Temuan</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeyTl6mfamtOolE1lwt2e_sWDYZsvvzsAWuCNNPxDpM5AWiWuGkCFi0bK1bGmY_PaNocyA045oyxnip2gcbYGk67PBqLrcAQP2b_VluWIXZUKr-zDCr55zQNXKGR8ASa9LrN6KYgA?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 2. Word-clouds</em></p>



<p class="has-text-align-left">Sebelum membahas temuan lebih lanjut, visualisasi word cloud berikut memberikan gambaran awal tentang tema-tema dominan yang muncul dari hasil analisis transkrip wawancara. Word cloud ini disusun berdasarkan frekuensi tag yang digunakan selama proses pengodean data. Terlihat bahwa istilah seperti <strong>“Kebebasan Ekspresi”</strong>, <strong>“Regulasi Emosi”</strong>, dan <strong>“Konten”</strong> paling sering muncul, menandakan bahwa dump account banyak dimaknai sebagai ruang untuk mengekspresikan diri secara jujur dan emosional. Kata-kata lain seperti <em>nyaman</em>, <em>bahagia</em>, dan <em>motivasi</em> memperkuat temuan bahwa dump account tidak sekadar tempat berbagi konten, melainkan juga alat bantu untuk menjaga kesehatan emosional pengguna.</p>



<p class="has-text-align-left has-large-font-size"><strong>Jurnal Foto Digital: Bukan Sekadar Foto, Tapi Juga Menyimpan Perasaan</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdZHSw7JKE2AS52NMkP_tGjjqc0a_rHk_1Mm_zzyHWCHOBh0FENvqzpsk8_L9nrunSWtc6X8wYK4vIajpW10K7I4nRezDFuVn-D1-DSe24yBBJj8wEwxqJuD9kr-wLz5odn4mCr1w?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:472px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3.</em> <em>Kutipan Temuan 1</em></p>



<p>Banyak partisipan menjadikan <em>dump account</em> sebagai semacam album digital pribadi yang mencatat perasaan dan momen emosional mereka. Setiap unggahan bukan hanya visual, tapi juga menyimpan kenangan, pemikiran, dan emosi yang mereka rasakan. <em>Dump account</em> menjadi tempat yang bisa mereka buka kembali saat ingin mengingat dan mengenang memori mereka.</p>



<p>“Jadi <em>dump account</em> ini sebagai album foto aku. Ketika nanti aku pengen ngeliat, tinggal buka aja.”<br>— <em>WI, 21 tahun, Wawancara 16 April 2025.</em></p>



<p>Konsep ini selaras dengan gagasan bahwa <em>dump account</em> bukan hanya tempat curhat sesaat, tapi bentuk dokumentasi emosional yang bermakna dan dekat secara personal. Temuan ini juga relevan dengan Uses and Gratifications Theory (UGT), di mana media sosial dipakai secara aktif untuk memenuhi kebutuhan ekspresi dan refleksi diri.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Gak Estetik, Gak Masalah, Yang Penting Jujur</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfOv1q4X43Ai8Wr-Jt6TAImkszLX22ild7-pLXbYgF83L8WyqY15RYqYpNkGFL1sq8wK3Xmplafs3WnVpzbVdHI7cmm_k71Ld8wz54paVoiW9fwU_ftaPXl98SsM7oVFed2_6UYpQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:477px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 2</em></p>



<p>Tidak seperti akun utama yang dipenuhi tuntutan estetik dan “branding diri”, dump account memberi kebebasan untuk unggah apa saja, meski fotonya <em>blur</em>, nggak nyambung, atau caption-nya cuma satu kata. Justru karena itu, tempat ini terasa lebih jujur dan personal.</p>



<p>“Kalau <em>main account</em> kan harus yang cantik, indah, bagus gitu ya. Kalau <em>dump</em> tuh aku bisa upload apa aja, dan aku gak harus mikirin orang ngeliat ini jelek atau enggak.”<br>— <em>FRD, 20 tahun, Wawancara 17 April 2025.</em>Dalam dunia digital yang penuh tuntutan estetika dan pencitraan, kehadiran ruang semacam ini menjadi penting untuk menjaga kewarasan emosional para pengguna muda. Temuan ini berhubungan erat dengan konsep <em>self-disclosure</em> dan <em>authenticity</em>, di mana pengguna merasa lebih lepas, jujur, dan bebas dalam menyampaikan diri secara apa adanya tanpa tekanan sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Validasi Emosi dari Lingkaran Kecil Tapi Berarti</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfS4qW2Ne-l0Lcr_E2Y17nnM_ujwc0Gc2_KRGqPp5n9soqW67aNfBzCw2uToTDNZQULxsXNZL8Orn-EEs8n6NupnBCUBmzdL6lNzq_f_wqpVdyy2TASOIehA3_syOfOFfnbmEnN?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:475px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 4</em></p>



<p>Walau <em>audiens dump</em> account terbatas, interaksi yang muncul seringkali jauh lebih bermakna. Komentar pendek atau like dari orang dekat bisa memberikan rasa diperhatikan, yang justru sangat dibutuhkan ketika sedang berada dalam kondisi emosional tertentu.</p>



<p>“Ada yang like, komen, <em>reply story</em>. Rasanya kayak, oh ada yang liat.”<br>— <em>AK, 21 tahun, Wawancara 15 April 2025.</em>Respons ini memberikan perasaan bahwa mereka tidak sendirian, ada orang lain yang melihat, mengerti, dan peduli. Hal ini mencerminkan konsep <em>social sharing of emotions</em> dan memperkuat gagasan bahwa ekspresi emosional secara daring bisa menjadi jembatan untuk menciptakan koneksi sosial yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan dan Rekomendasi</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Teoretis</strong></p>



<p>Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur komunikasi digital dan psikologi media, khususnya dalam konteks o<em>nline self-disclosure, social sharing of emotions, dan Uses and Gratifications Theory</em> dalam konteks lokal (Generasi Z di Indonesia). Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial, khususnya <em>dump account</em>, berperan dalam regulasi emosi di kalangan pengguna muda.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Praktis</strong></p>



<p>Penggunaan jurnal foto digital di <em>dump account</em> terbukti menjadi alat yang bermanfaat untuk refleksi diri dan pengelolaan emosi, yang pada gilirannya membantu kesejahteraan psikologis generasi muda. Dengan adanya ruang yang lebih privat dan aman, <em>dump account</em> dapat membantu pengguna mengekspresikan diri dan mengurangi stres.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Akademis</strong></p>



<p>Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan subjek yang memiliki latar belakang usia, jenis kelamin, dan konteks budaya yang lebih beragam untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang penggunaan <em>dump account</em> di berbagai demografi. Penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur secara objektif pengaruh penggunaan <em>dump account</em> terhadap pengelolaan stres atau kesehatan mental</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Praktis</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk Pengguna Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengguna <em>dump account</em> harus sadar akan pentingnya menjaga privasi dan memahami resiko berbagi informasi di ruang digital. Pengguna dapat memanfaatkan <em>dump account</em> sebagai alat yang positif untuk ekspresi diri dan pengelolaan emosi, namun dengan bijak dan bertanggung jawab.</li>



<li><strong>Untuk Pengembangan Platform Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengembang perlu meningkatkan fitur privasi dan keamanan untuk <em>dump account</em>, serta memberikan edukasi kepada pengguna tentang bagaimana menggunakan platform ini secara sehat, khususnya dalam hal kesehatan mental.</li>



<li><strong>Untuk Praktisi Kesehatan Mental dan Pendidikan</strong> <br>Mengintegrasikan pemahaman tentang penggunaan media sosial alternatif dalam program pendampingan psikologis dan edukasi digital, khususnya untuk remaja dan dewasa muda yang aktif di media sosial. Praktisi juga perlu mengajarkan pengguna tentang bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pengelolaan emosi yang sehat.</li>
</ol>



<p class="has-large-font-size"><strong>Visualisasi Observasi dan Wawancara</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="630" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png" alt="" class="wp-image-3830" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-300x184.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-768x472.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1536x945.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-2048x1259.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 5. Proses photo elicitation interview dengan pengguna dump account aktif (Foto di atas hanya sebagian informan)</em></p>



<p class="has-text-align-center"></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png" alt="" class="wp-image-3836" style="width:482px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-768x644.png 768w" sizes="auto, (max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 6. Contoh unggahan foto dan caption reflektif di dump account. (Foto di atas hanya sebagian dump account informan).</em></p>



<p></p>



<p class="has-text-align-left"><strong>Artikel ini ditulis oleh Kelompok 4 Mata Kuliah MPK Kualitatif D:</strong> Andrea Deflin (<a href="mailto:andreadeflin@gmail.com">andreadeflin@gmail.com</a>), Fariz Arsaputra (<a href="mailto:fariz.arsaputra@gmail.com">fariz.arsaputra@gmail.com</a>), Lutfia Munisa A (<a href="mailto:lutfiamunisaa@gmail.com">lutfiamunisaa@gmail.com</a>), M Dafa Ardhika (<a href="mailto:dafaardhika27@gmail.com">dafaardhika27@gmail.com</a>), Naila S. Khalisha (<a href="mailto:naila.khalisha03@gmail.com">naila.khalisha03@gmail.com</a>).</p>



<p></p>



<p><strong>Sumber Referensi</strong></p>



<p>Goodstats.id. (2024). Laporan penggunaan akun kedua di media sosial di Indonesia. <em>Goodstats.id</em>. <a href="https://www.goodstats.id/">https://www.goodstats.id</a></p>



<p>Pluta, A., Ulrich, G., &amp; Kappes, A. (2021). Emotional disclosure on social media: The role of social support and positive feedback. <em>Journal of Affective Disorders, 292</em>, 32-39. <a href="https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098">https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098</a>&nbsp;</p>



<p>Andreassen dkk., (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. <em>Addictive Behaviors, 64</em>, 287-293. <a href="https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006">https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006</a>&nbsp;</p>



<p>Glaw dkk., (2017). Visual methodologies in qualitative research: Autophotography and photo elicitation applied to mental health research. International journal of qualitative methods, 16(1), 1609406917748215.&nbsp;​​Papacharissi dkk., (2000). Predictors of Internet use. <em>Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media, 44</em>(2), 175-196. <a href="https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2">https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2</a></p>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe8fKpkbGPyUn_pUIObEpaZlkvJIclVszDIw3OoMSnDkiGLUcxcj51hHbDZjlDrbMh7VMlZBQci2hmL8CIRVv9G1EcI7hbFWC-_MM70d197VnWXHSKMA-7RpBK2Kiuv1VIAdFcP?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:148px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Sumber Referensi selengkapnya&nbsp;dapat diakses di QR Code berikut ini.</p>



<p class="has-large-font-size"><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Glorifikasi Produktivitas dalam Konten Short-Video dan Beragam Efeknya pada Mahasiswa</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/glorifikasi-produktivitas-konten-short-video-dan-beragam-efeknya-pada-mahasiswa/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/glorifikasi-produktivitas-konten-short-video-dan-beragam-efeknya-pada-mahasiswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 6 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:11:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitatif]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3746</guid>

					<description><![CDATA[Profil peneliti : Azri Tryas Muqita (azrimuqita@gmail.com), Mutiara Gracia Diramoti Purba (mutiarapurba03@gmail.com), Muhamad Ichsan Febrian (ichsanfebrian298@gmail.com), Olivia Rosilia Putri (oliviarosilia@gmail.com), Putri Rizki Herdiana (putririzkiherdiana@gmail.com) Ternyata, mayoritas mahasiswa merasakan ambivalensi ketika mengonsumsi tren &#8216;produktivitas&#8217; di media sosial. Di satu sisi, mereka...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Profil peneliti : Azri Tryas Muqita (azrimuqita@gmail.com), Mutiara Gracia Diramoti Purba (mutiarapurba03@gmail.com), Muhamad Ichsan Febrian (ichsanfebrian298@gmail.com), Olivia Rosilia Putri (oliviarosilia@gmail.com), Putri Rizki Herdiana (putririzkiherdiana@gmail.com)</p>
</blockquote>



<p>Ternyata, mayoritas mahasiswa merasakan <strong>ambivalensi</strong> ketika mengonsumsi tren &#8216;produktivitas&#8217; di media sosial. Di satu sisi, mereka mengalami kecemasan, perasaan tertinggal, dan tekanan untuk terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Namun di sisi lain, mereka juga merasa terdorong dan termotivasi untuk tidak tertinggal, sehingga tetap mengikuti arus produktivitas tersebut, meski kerap disertai beban emosional.</p>



<p>Apakah kamu pernah membuka TikTok ketika malam hari sebelum tidur? Lalu tak terasa waktumu telah terbuang. Kamu menonton satu demi satu video yang memperlihatkan orang-orang berkegiatan sejak pagi, berangkat kuliah, lalu lanjut bekerja hingga malam. Kamu juga tanpa sengaja menonton seorang kreator yang berbagi segudang pencapaiannya di usiamu. Semua terlihat produktif, semua tampak sempurna. Di ujung sesi <em>scrolling</em>-mu yang hampir berjam-jam, alih-alih merasa termotivasi, kamu justru menutup aplikasi dengan perasaan bersalah dan bertanya kepada dirimu sendiri</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kenapa aku nggak bisa seproduktif itu, ya?”</p>
</blockquote>



<p>Kondisi seperti ini kerap dialami oleh sebagian dari kita, para mahasiswa, yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan transisi menuju dunia profesional. Perasaan tertinggal, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, hingga munculnya keraguan terhadap kemampuan diri sendiri menjadi bagian dari pergulatan yang tidak jarang dialami. Renungan atas pengalaman tersebut menjadi titik tolak kami dalam menyusun penelitian ini.</p>



<p>Berdasarkan refleksi tersebut, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dampak <em>short-video</em> bertema produktivitas terhadap kehidupan akademik mahasiswa.</p>



<p>Lebih lanjut, kami merumuskan pertanyaan utama penelitian: Bagaimana mahasiswa <strong>menerima konten produktivitas</strong> yang mereka konsumsi dalam<strong> platform</strong><em><strong> short-video</strong>.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Fenomena Short-Video Bertema Produktivitas di Media Sosial</h2>



<p>Beberapa tahun terakhir, tren <em>short-video</em> bertema produktivitas membanjiri platform media sosial TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Video-video berdurasi singkat ini sering menampilkan cuplikan kehidupan yang tampak sempurna, dimana meja kerja rapi, jadwal harian terjadwal dengan baik, dan narasi berbumbu <em>“self-improvement”</em>. Bagi sebagian mahasiswa, konten seperti ini bisa mendorong semangat untuk menjadi lebih produktif. Namun, tidak sedikit pula yang justru merasa kewalahan karenanya. Seperti munculnya rasa bersalah saat tidak bisa seproduktif yang ditampilkan, lalu berujung pada perasaan tertekan, perbandingan sosial, bahkan kecemasan produktivitas.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="691" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px-691x1024.png" alt="" class="wp-image-3753" style="width:301px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px-691x1024.png 691w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px-203x300.png 203w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px-768x1138.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px-1037x1536.png 1037w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/templates-1080-x-1600-px.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 691px) 100vw, 691px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konten bernarasi produktivitas.</figcaption></figure>
</div>


<p>Fenomena ini memperlihatkan wajah lain dari media sosial, bukan lagi sekadar ruang hiburan, melainkan ladang subur bagi munculnya standar-standar baru tentang hidup ideal. Narasi seperti <strong><em>toxic productivity</em></strong> dan <strong><em>hustle culture</em></strong> diam-diam bekerja di balik algoritma. Mahasiswa, sebagai salah satu kelompok konsumen utama, berada di garis depan dalam menghadapi paparan ini. Di satu sisi, mereka mencari inspirasi untuk mengelola waktu dan tugas. Namun di sisi lain, muncul tekanan untuk menyesuaikan diri dengan “<em>template sukses</em>” yang mereka tonton setiap hari.</p>



<p>Karena penelitian ini berfokus kepada audiens, kami memilih teori <em>Individual Differences Perspective</em>. Teori ini menyatakan bahwa sikap dan organisasi individu (psikologi individu) memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan menentukan bagaimana rangsangan lingkungannya berfungsi, serta bagaimana rangsangan tersebut memberikan makna atau respons (Defleur &amp; Ball-Rokeach, 1988). Hal ini sesuai karena penelitian ini ingin melihat dari sudut pandang audiens apakah video pendek tentang produktivitas benar-benar memberikan motivasi yang bermanfaat atau justru menciptakan standar yang tidak realistis, yang pada akhirnya berdampak buruk pada kesehatan mental audiens.</p>



<p>Selain itu, kami memilih teori <strong>efek media</strong>. Valkenburg (2019) Efek media adalah teori yang mencoba menjelaskan bagaimana media digunakan dan berdampak pada seseorang, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana pesan media memengaruhi dan bagaimana orang mengonsumsi konten, terutama di platform media sosial.<br></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfPIXkDMX7iI1P_LPJxsfE72NHF0nAgUNRr17ReJkKQyClICbCgqIvwpWA6X7iOznSmOex9vXJe_1mO7zLUcvMmYb5Z7tYMG8vpGh3xV7Cf-dkBWayslghv6IMMqaffdSdDq5fH2g?key=FdvMKfs4WvMMZ7h7pFBhxA" alt="" style="width:604px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Kerangka Konsep hasil olahan peneliti.</figcaption></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading">Metodologi Penelitian</h2>



<p>Sebagai upaya menggali lebih dalam realitas terkait fenomena konten <em>short-video</em> tentang produktivitas ini, dilakukan studi kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritis. Yang mengkaji bagaimana konten <em>short-video</em> bertema produktivitas mempengaruhi motivasi dan kecemasan mahasiswa, bukan hanya dari sisi permukaan, tapi juga melalui lensa struktur sosial dan algoritma yang melatarbelakanginya.</p>



<p>Penelitian ini dilakukan dengan strategi <em>multiple case study</em>, yang memungkinkan untuk memahami perbedaan karakteristik antar platform short-video dalam penyebaran konten produktivitas. Informan dipilih secara <em>purposive</em> yaitu mahasiswa usia 19–21 tahun, aktif di media sosial, serta rutin terpapar konten produktivitas dalam format <em>short-video</em>. Selama sekita dua minggu, data dikumpulkan melalui tiga metode utama, yaitu, studi diari harian yang mencatat pengalaman mereka dalam mengonsumsi konten tersebut, observasi terhadap interaksi informan dengan konten produktivitas yang ditonton, serta wawancara mendalam untuk menggali makna subjektif dari interaksi mereka dan bagaimana reaksi mereka ketika menonton konten <em>short-video</em> produktivitas. Untuk mengolah data kami menggunakan dua <em>tools</em> yakni <em>Taguette</em> dan <em>WordArt</em>, untuk kemudian kami lakukan interpretasi datanya berdasarkan tag apa saja yang muncul dari data yang diperoleh dari seluruh informan.</p>



<p>Lebih lanjut, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan tiga pendekatan. Pertama, triangulasi metode melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis diari. Kedua, triangulasi data yang mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, serta diari partisipan. Ketiga, triangulasi peneliti, di mana data telah diverifikasi oleh minimal tiga peneliti untuk menjamin validitas.</p>



<p>Penggunaan tiga pendekatan teknik triangulasi diharapkan memberikan pandangan yang utuh, bukan hanya tentang apa yang mereka tonton, tapi juga bagaimana perasaan mereka setelahnya, bagaimana mereka merespons, dan sejauh mana tekanan dari layar bisa mengintervensi kehidupan nyata para informan. Hasilnya membuka diskusi penting</p>



<p><strong>Apakah konten yang tampak “sehat” ini benar-benar memberi motivasi, atau justru mengglorifikasi produktivitas yang memperkuat fenomena <em>hustle culture?</em></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Hasil Temuan</h2>



<h3 class="wp-block-heading">Di Mana Biasanya Mereka Menemui Konten Produktivitas? Adakah Perbedaannya?</h3>



<p>Platform untuk menonton <em>short-video</em> kini semakin beragam, dan masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda. Beberapa platform populer seperti TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga Pinterest memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan konten <em>short-video.</em> Berikut kami sajikan perbandingan beberapa media sosial yang umum digunakan untuk menonton <em>short-video</em>, lengkap dengan keunikan dari masing-masing platform.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfAQSVnIccKY62Do9EqHyyeyn7Icms6lmqYcetnoZ3PWzwwJQ_FGR4yd10DiT69HrE0qmvOEkDKRI5qF_Sn86jZXqnvtdemVAp2Phsc6KcplKGCSfTS3oL6BUUcZDIxkSxUwLEMig?key=FdvMKfs4WvMMZ7h7pFBhxA" alt="" style="width:329px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Hasil temuan karakteristik masing-masing media sosial. </figcaption></figure>
</div>


<p>Dari perbandingan ini, terlihat bahwa setiap platform memiliki karakteristik unik dalam menyajikan konten short-video, baik dari sisi algoritma, suasana, hingga gaya penyampaian. Pemilihan platform oleh pengguna pun biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing individu.&nbsp;Temuan ini diperkuat oleh teori Uses and Gratifications (Katz, Blumler, &amp; Gurevitch, 1974), yang menjelaskan bahwa audiens secara aktif memilih media yang sesuai dengan kebutuhan mereka, termasuk kebutuhan akan pengembangan diri dan produktivitas. Perbedaan media ini juga sesuai dengan konsep Media Richness Theory (Daft &amp; Lengel, 1986), yang menyatakan bahwa setiap media memiliki tingkat “kekayaan informasi” yang berbeda.<br></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Efek Kecemasan Produktivitas yang Timbul</strong></h3>



<p>Di balik popularitas konten produktivitas, sebagian mahasiswa justru merasakan tekanan psikologis setelah terpapar konten tersebut. Sejumlah informan kami menyatakan bahwa konten seperti itu secara tidak langsung menciptakan standar produktivitas yang tinggi sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman, cemas, bahkan merasa tertinggal ketika menontonnya. Sebagian dari mereka pernah mengalami <em>burnout</em> karena merasa gagal memenuhi standar produktivitas yang tidak realistis.&nbsp;</p>



<p>Seperti apa yang dialami oleh IU (21 tahun, Ilmu Komunikasi) menggambarkan pengalamannya. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center">“kadang aku suka ngebandingin sama diri aku”. </p>



<p class="has-text-align-center">Wawancara, 28 april 2025</p>
</blockquote>



<p>Ia merasakan dampak negatif emosional akibat konsumsi konten produktivitas, seperti <em>insecurity </em>dan kelelahan mental. Hal ini diperkuat oleh Teori <em>Individual Differences Perspective</em> (Defleur &amp; Ball-Rokeach, 1988), yang menekankan bahwa respon individu terhadap media sangat tergantung pada karakteristik psikologis masing-masing.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Motivasi dan Inspirasi dari Konten Produktivitas</strong></h3>



<p>Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang mengakui bahwa konten short-video ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi positif.&nbsp;Seperti yang diungkapkan NCF (21 tahun, jurusan Ilmu Ekonomi Islam)</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center"><em>sometimes </em>ngerasa tertinggal, tapi kayak itu jadi penggerak bagi diri gue gitu loh. Bukannya kayak ngerasa gue kurang tapi justru malah bikin balikin semangat</p>



<p class="has-text-align-center">Wawancara, 22 april 2025</p>
</blockquote>



<p>&nbsp;Bagi NCF, konten seperti <em>A Day in My Life</em> yang sering ia temui di TikTok dan Instagramnya bermanfaat karena memberikan inspirasi kegiatan baru serta dorongan untuk lebih produktif dan terorganisasi.</p>



<p>Kondisi yang dialami oleh NCF sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wu di tahun 2017, di mana konten produktivitas yang ada di media sosial dapat memberikan efek positif bagi audiens berupa dorongan motivasi akademik. Fenomena ini juga diperkuat dengan <em>Audience Theory</em> (Fleur dan Rokeach, 1988), khususnya <em>Individual Differences Perspective</em> dengan menjelaskan bahwa setiap individu memiliki caranya sendiri dalam merespons dan memanfaatkan konten yang mereka konsumsi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Bagaimana Mereka Menyikapinya?</strong></h3>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfj27UbLlstupTdjA1jEbEI-ACym9pZ4YeOmfa82xOQMVEZ9EofpMx7dNpy3nZIWjgnYeRF9hGVnrU2hVYSSxcOuxWTjsP744JAG1Wk4Dnb413Oun8ooE3-a7uYWIrsvuj8sXsIyw?key=FdvMKfs4WvMMZ7h7pFBhxA" alt="" style="width:446px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Hasil coding menggunakan WordCloud berdasarkan kode dominan. </figcaption></figure>
</div>


<p>Meskipun memiliki potensi efek negatif, mahasiswa saat ini menunjukkan sikap <strong>Reflektif </strong>yang tinggi terhadap konten yang mereka konsumsi.&nbsp;ARP (21 tahun jurusan ilmu komunikasi) salah satu informan memberikan pandangannya terkait hal ini.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center"><em>nonton tetap harus kritis, atau mikir secara logik, kalau itu cuma konten.</em></p>



<p class="has-text-align-center">Wawancara, 7 mei 2025</p>
</blockquote>



<p>Hal ini menunjukkan bahwa mereka sekarang tidak serta-merta menerima konten yang mereka lihat, melainkan menyaring terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan dan relevansi pribadi mereka. Kondisi seperti ini didukung oleh literatur sebelumnya yang menegaskan bahwa kemampuan literasi media menjadi semakin penting, membantu individu muda untuk lebih bijak dalam memilih dan merespons paparan media sosial (Livingstone, 2018).&nbsp;<br></p>



<p>Sebagai tahap akhir dari siklus konsumsi konten, kami ingin mengetahui refleksi diri partisipan setelah menonton konten produktivitas selama seminggu menggunakan studi diari. Refleksi diri ini menjadi bagian yang sangat penting dalam penggunaan media sosial. Seperti refleksi AHF (mahasiswa, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi). </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center">Dibanding bikin gue nyerah atau mikir ‘gue nggak bakal bisa’, gue mikir yaudah lah, gue terima aja nih konten, jangan terlalu sedih atau apa, yaudah sekarang kerja keras aja, apa yang gue lakuin.</p>



<p class="has-text-align-center">Wawancara, 7 mei 2025</p>
</blockquote>



<p>Ia semakin sadar untuk harus mengambil kontrol atas pengaruh media sosial terhadap kesejahteraan mentalnya.<br></p>



<p>Sikap reflektif ini memperlihatkan bagaimana teori efek media bekerja secara nyata. Pengguna tidak hanya menerima pesan media secara pasif, tetapi juga secara aktif memproses dan menghubungkan pesan tersebut dengan realitas mereka (Potter, 2011). Refleksi diri ini membantu mahasiswa menghindari dampak negatif dan mengoptimalkan manfaat positif dari konten produktivitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Tiga Aspek yang Membuat Konten Produktivitas Lebih Disukai Mahasiswa</strong><br></h3>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcskUp_5PGm0Z-6-XtxRU2iwQ2GBpJw9wSeUKRNakIof7yq_Rw2rJIipoWcEk84_LJ9jmcUAnk-WwK930HwfQcFxYFcNAZ5GfV0arzsBVWjQpm9DHssXU36Thv-CnDFxBFh9FcJ?key=FdvMKfs4WvMMZ7h7pFBhxA" alt="" style="width:277px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Kutipan wawancara dengan informan.</figcaption></figure>
</div>


<p>Dari hasil penelitian kami, terdapat tiga hal penting yang membuat konten produktivitas di media sosial disukai oleh banyak mahasiswa. Ketiga hal ini bukan hanya berperan penting dari sisi pengalaman pengguna, tetapi juga didukung oleh teori dan kajian akademik yang relevan.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Keterkaitan dengan kebutuhan pribadi (<em>Relatability</em>)</strong></li>
</ul>



<p>Konten yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi personal audiens cenderung lebih efektif dan menarik. Dalam konteks<em> short-video</em>, keterkaitan ini mencakup kesesuaian pesan dengan pengalaman sehari-hari, tantangan, dan aspirasi pengguna. Secara akademis, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep <em>audience reception </em>dalam Audience Theory, yang menegaskan bawa interpretasi pesan media sangat dipengaruhi oleh latar belakang psikologis dan sosial individu (Defleur &amp; Ball-Rokeach, 1988).</p>



<p>Ketika konten produktivitas relevan dengan kebutuhan audiens, mereka tidak hanya mengkonsumsinya secara pasif, tetapi juga mengalami proses internalisasi yang bisa memotivasi perubahan perilaku atau <em>mindset</em>. Misalnya adalah kondisi pada salah satu informan, yaitu NCF (21 tahun, Ilmu Ekonomi Islam) yang bercerita bahwa saat ini ia sedang membutuhkan informasi terkait magang. Kemudian dengan adanya konten-konten ‘<em>tips and trick dapet tempat magang</em>’&nbsp; yang lewat di Instagramnya, ia merasa sangat terhubung dan termotivasi untuk mengikuti saran yang ada dalam video.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Tone Bahasa yang Tepat</strong></li>
</ul>



<p>Bahasa dalam penyampaian pesan juga menjadi faktor penting dalam menarik dan mempertahankan perhatian mahasiswa. Tone yang digunakan dalam konten produktivitas yang disukai biasanya bersifat ringan, santai, empatik, dan penuh perhatian sehingga menciptakan suasana yang nyaman dan akrab bagi pengguna. Menurut mereka, bahasa yang efektif membantu mereka merasa lebih dekat dan termotivasi adalah menggunakan narasi yang positif dan tidak berusaha memaksakan mereka untuk produktif.&nbsp;</p>



<p>Bahasa yang empatik dan penuh pengertian seperti </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>you’re doing good</em>” </p>
</blockquote>



<p>memberikan kepastian emosional, yang membuat audiens merasa tenang dan percaya diri menjalani aktivitas mereka. Bahasa yang empatik ini penting untuk menghindari kesan menghakimi atau membebani, sehingga audiens merasa didukung tanpa tekanan.</p>



<p>Salah satu informan, IU (21 tahun, Ilmu Komunikasi) juga menjelaskan bahwa ia lebih tertarik saat konten tersebut menyisipkan cerita kegagalan atau kesulitan dari kreator. Hal itu justru membuat ia merasa lebih terhubung dan tidak sendiri dalam menghadapi tantangan. Informan IU mengaku bahwa cerita-cerita tersebut membuat konten terasa lebih manusiawi dan jujur, sehingga audiens tidak hanya melihat sisi suksesnya saja, tetapi juga proses dan perjuangan yang realistis. Hal ini membantu kita lebih percaya dan termotivasi karena tahu bahwa kegagalan itu bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Cara Penyampaian Pesan yang Kreatif dan Menarik</strong></li>
</ul>



<p>Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa informan, kami mendapatkan bahwa pendekatan yang kreatif memegang peranan krusial. Contohnya seperti penggunaan elemen visual yang menarik, pengambilan gambar yang <em>aesthetically pleasing </em>dan menenangkan, hingga penyisipan humor atau <em>meme</em>, dapat meningkatkan minat dan keterlibatan penonton. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa konten yang dikemas secara menarik mampu meningkatkan <em>mood</em> positif dan motivasi, sekaligus mengurangi kejenuhan saat mengonsumsi informasi yang bersifat edukatif atau motivasional (Gao et al., 2023)</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jadi, Apa Kesimpulannya?</strong></h2>



<p>Hasil temuan menarik kami menunjukkan bahwa konten produktivitas di media sosial yang disukai oleh mahasiswa sangat dipengaruhi oleh keterkaitan konten dengan kebutuhan pribadi, bahasa yang digunakan, dan cara penyampaiannya. </p>



<p>Dari sisi praktis, pemahaman mendalam terhadap aspek-aspek ini dapat menjadi pedoman bagi pembuat konten dan platform media sosial untuk menciptakan narasi produktivitas yang lebih seimbang, inspiratif, dan berkelanjutan. Pendekatan yang efektif tidak hanya mendukung keterlibatan audiens secara emosional dan kognitif, tetapi juga membantu mengurangi risiko dampak negatif seperti kecemasan yang mungkin muncul akibat konsumsi media yang berlebihan.</p>



<p>Dalam ranah akademis, penelitian kami juga memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai bagaimana media sosial dapat mempengaruhi psikologis audiens, serta mempengaruhi kebiasaan mahasiswa meskipun tidak signifikan. Selain itu, juga membantu menambahkan input akademis mengenai pemahaman konten video pendek bertemakan produktivitas serta pengaruhnya terhadap mahasiswa, termasuk respons pesan yang disampaikan, baik itu dengan narasi yang lebih rentan menimbulkan kecemasan atau motivasi, sesuai dengan <em>Audience Theory (Individual Differences Perspective) </em>dan<em> Media Effect Theory</em>.</p>



<p>Akses infografis kami melalui tautan di bawah ini!</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link wp-element-button" href="https://drive.google.com/file/d/1bQBRMwFSFRQMfvs-Ll_I-WLT3Ge__G-3/view">Infografis Kelompok 6 MPK Kualitatif D</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Daftar Pustaka</summary>
<p>Assariy, M. Z., Hersari, N. I., Sitorus, N. A., Arifin, S., &amp; Faisal, F. (2024). Literature review: The Influence of Hustle Culture on Mental Health. AIP Conference Proceedings, 3067, 020024.<a href="https://doi.org/10.1063/5.0201952"> https://doi.org/10.1063/5.0201952</a></p>



<p>Perić, Novela. (2024). Hustle culture and mental health. ORCID: 0009-0008-8967-1770</p>



<p>Langlais, M., Thaler, A., &amp; West, E. (2024). TikTok Too Much? A Qualitative Investigation of Adolescent TikTok Use, Motivation, and Consequences. <em>Youth &amp; Society</em>, <em>1</em>(22).</p>



<p>Feltner, Madeline E., &#8220;Toxic Positivity and Perceptions of Mental Health&#8221; (2023). Senior Theses. 607.</p>



<p>Gao, Y., Liu, F., &amp; Gao, L. (2023). Echo chamber effects on short-video platforms. Scientific Reports, 13(1).<a href="https://doi.org/10.1038/s41598-023-33370-1"> https://doi.org/10.1038/s41598-023-33370-1</a></p>



<p>Hermann, E., Morgan, M., &amp; Shanahan, J. (2023). Cultivation and social media: A meta-analysis. New Media &amp;amp; Society, 25(9), 2492–2511.<a href="https://doi.org/10.1177/14614448231180257"> https://doi.org/10.1177/14614448231180257</a></p>



<p>Zhang, N., Hazarika, B., Chen, K., &amp; Shi, Y. (2023). A cross-national study on the excessive use of short-video applications among college students. Computers in Human Behavior, 145, 107752.<a href="https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107752"> https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107752</a></p>



<p>Zhu Z, Liu S, Zhang R Examining the Persuasive Effects of Health Communication in short-videos: Systematic Review J Med Internet Res 2023;25:e48508 URL:<a href="https://www.jmir.org/2023/1/e48508"> https://www.jmir.org/2023/1/e48508</a> DOI: 10.2196/48508</p>



<p>Most downloaded apps worldwide 2024 | statista. (n.d.-a).<a href="https://www.statista.com/statistics/1285960/top-downloaded-mobile-apps-worldwide/"> https://www.statista.com/statistics/1285960/top-downloaded-mobile-apps-worldwide/</a></p>



<p>Lecompte-Van Poucke, M. (2022). ‘you got this!’: A critical discourse analysis of toxic positivity as a discursive construct on Facebook. Applied Corpus Linguistics, 2(1), 100015.<a href="https://doi.org/10.1016/j.acorp.2022.100015"> https://doi.org/10.1016/j.acorp.2022.100015</a></p>



<p>Valkenburg, P.M. &amp; Oliver, M. B. (2019). Media effects: An overview. In J. Bryant, A. Raney, &amp; M. B. Oliver. Media effects: Advances in Theory and Research, 4th edition (pp. 16-35) New York: Routledge.</p>



<p>Barrow, J. M., Brannan, G. D., &amp; Khandhar, P. B. (2017). Research ethics.</p>



<p>Creswell, J. W., &amp; Creswell, J. D. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications.</p>



<p>Kuss, D. J., &amp; Griffiths, M. D. (2017). Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned. <em>International Journal of Environmental Resarch and Public Health</em>, <em>14</em>(3), 311.</p>



<p>Wu, J. (2017). Why is music social short-video software popular? Taking the douyin app as an example. <em>New Media Research</em>, <em>3</em>(18), 88-89.</p>



<p>Christine Milligan, &amp; Ruth Bartlett. (2015). What is diary method? Bloomsbury Publishing.</p>



<p>Neuman, W. L. (2013). <em>Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches</em>. Pearson.</p>



<p>Daymon, C., &amp; Holloway, I. (2011). <em>Qualitative research methods in public relations and marketing communications</em> (2nd ed.). Routledge.</p>



<p>Potter, W. J. (2011). Conceptualizing mass media effect. Journal of Communication, 61(5), 896- 915. doi:10.1111/j.1460-2466.2011.01586.x</p>



<p>Hancock, B. (2002). <em>An introduction to qualitative research.</em> Trent Focus Group, Division of General Practice, University of Nottingham.</p>



<p>Defleur, M. L., &amp; Ball-Rokeach, S. J. (1988). Theories of Mass Communication. New York: Logman.</p>



<p>Daft, R.L. and Lengel, R.H. (1986) Organizational Information Requirements, Media Richness and Structural Design. Management Science, 32, 554-571.</p>



<p>Katz, E., Blumler, J. G., &amp; Gurevitch, M. (1974). Utilization of Mass Communication by the Individual. In J. G. Blumler, &amp; E. Katz (Eds.), The Uses of Mass Communications: Current Perspectives on Gratifications Research (pp. 19-31). Beverly Hills: Sage Publications.</p>
</details>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/glorifikasi-produktivitas-konten-short-video-dan-beragam-efeknya-pada-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Satu, Dua, tapi Tiga: Rahasia Gen Z Gunakan Banyak Akun Instagram Sekaligus</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 1 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:10:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[gen z]]></category>
		<category><![CDATA[Intagram]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitatif]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3771</guid>

					<description><![CDATA[Memahami Pengelolaan Privasi Daring di Akun Instagram Ganda pada Kalangan Generasi Z Athar Hisyam Fadhilah (2206814614) atharhisyamf@gmail.com Esther Maura Berlianta Simanjuntak&#160; (2206814450) estersimajuntak10@gmail.com Hafizh Muhammad Ghiffari (2206078451) hafizhstoem174@gmail.com Kyara Angkasa (2206039192) kyara.angkasa@gmail.com Muhammad Ihsan (2206033226) djojodiwirjo@gmail.com&#160; Zheva Theodora Rodja (2206078804)...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading"><strong>Memahami Pengelolaan Privasi Daring di Akun Instagram Ganda pada Kalangan Generasi Z</strong></h2>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Athar Hisyam Fadhilah (2206814614) <a href="mailto:atharhisyamf@gmail.com">atharhisyamf@gmail.com</a></p>



<p>Esther Maura Berlianta Simanjuntak&nbsp; (2206814450) <a href="mailto:estersimajuntak10@gmail.com">estersimajuntak10@gmail.com</a></p>



<p>Hafizh Muhammad Ghiffari (2206078451) <a href="mailto:hafizhstoem174@gmail.com">hafizhstoem174@gmail.com</a></p>



<p>Kyara Angkasa (2206039192) <a href="mailto:kyara.angkasa@gmail.com">kyara.angkasa@gmail.com</a></p>



<p>Muhammad Ihsan (2206033226) <a href="mailto:djojodiwirjo@gmail.com">djojodiwirjo@gmail.com</a>&nbsp;</p>



<p>Zheva Theodora Rodja (2206078804) <a href="mailto:zheva.rodja789@gmail.com">zheva.rodja789@gmail.com</a>&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Dewasa ini, semua orang selalu pakai media sosial setiap harinya. Terutama Gen Z yang jadi tumbuh besar dengan media sosial, salah satunya Instagram. Tapi, teman-teman sudah tahu belum kalau Gen Z banyak yang memiliki akun-akun rahasia yang tidak dibuka untuk publik? Artikel ini mengulas bagaimana mereka mengelola privasi mereka di Instagram dengan memiliki banyak akun sekaligus, disimak ya!</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="384" height="1024" data-id="3848" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3848" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-scaled.png 960w" sizes="auto, (max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Infografis</em></p>



<p><strong>ABSTRAK</strong></p>



<p>Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Generasi Z di Indonesia mengelola batasan privasi melalui strategi multi-akun di Instagram, menggunakan teori <em>Communication Privacy Management</em> (Petronio, 2002) sebagai kerangka utama. Melalui pendekatan kualitatif terhadap 12 mahasiswa berusia 18–24 tahun yang dipilih dengan teknik snowball sampling, ditemukan bahwa pembagian akun (Rinsta, Finsta, dan third account) mencerminkan segmentasi identitas dan kepemilikan informasi berdasarkan tingkat kedekatan, kepercayaan, dan risiko sosial. Privasi digital tidak hanya dikendalikan secara rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika emosional seperti rasa malu, takut, dan tekanan sopan santun digital. Penelitian ini memperluas teori CPM dengan menambahkan dimensi afeksi dan performativitas identitas sebagai faktor krusial dalam pengelolaan privasi daring, serta menunjukkan bahwa renegosiasi batasan bisa melahirkan sistem baru melalui penciptaan akun tambahan.</p>



<p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em>: Generasi Z, Instagram, privasi digital, multi-akun, Communication Privacy Management</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>FENOMENA AKUN 2ND, 3RD, DAN SETERUSNYA DI INSTAGRAM GEN Z&nbsp;</strong></h2>



<p>Instagram telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital Gen Z di Indonesia. Platform ini menempati posisi kedua sebagai media sosial paling banyak digunakan di Indonesia (We Are Social, 2024), dengan lebih dari separuh Gen Z—53% laki-laki dan 52% perempuan—mengaku menjadikannya sebagai platform utama (IDN Times, 2024).</p>



<p>Namun di balik penggunaan sehari-hari yang terlihat biasa, muncul pola perilaku yang jauh lebih kompleks, yaitu praktik multi-akun. Gen Z tidak hanya mengelola satu identitas daring, tetapi dua, tiga, bahkan lebih. Direktur Kemitraan Global Meta untuk Asia Tenggara, Revie Sylviana, menyebut bahwa banyak pengguna Gen Z kini memiliki hingga lima atau enam akun Instagram yang berbeda (Mediana, 2024).</p>



<p>Dari sinilah muncul istilah Rinsta (Real Instagram) dan Finsta (Fake Instagram). Rinsta digunakan sebagai akun utama yang terbuka untuk publik, sementara Finsta bersifat privat dan hanya dapat diakses oleh lingkaran terdekat (Lorenz, 2017). Praktik ini menunjukkan bahwa Gen Z membangun sistem pengelolaan privasi yang sangat kontekstual—berbasis kepercayaan, audiens, dan tujuan konten. Namun, fenomena ini juga menunjukkan keberadaan finsta yang lebih dari satu.Penelitian ini berupaya memahami bagaimana strategi multi-akun digunakan Gen Z untuk membedakan audiens, membatasi akses, dan menjaga rasa aman di ruang digital. Dalam era ketika <strong><em>keterbukaan digital </em></strong>kian meningkat pemahaman terhadap praktik ini penting bukan hanya bagi pengguna muda itu sendiri.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>LANDASAN TEORI/KONSEP</strong> (yang kami jadiin arahan)</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Instagram</li>
</ul>



<p>Instagram merupakan platform media sosial berbasis visual yang sangat populer di Indonesia, khususnya di kalangan Generasi Z. Platform ini mendukung ekspresi diri dan pembentukan identitas digital melalui berbagai format konten seperti foto, video, stories, dan reels. Instagram populer di kalangan Gen Z karena fleksibilitasnya dalam mengelola audiens dan konten sesuai konteks (Dari, 2025).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Generasi Z</li>
</ul>



<p>Gen Z (kelahiran 1997–2012) adalah generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital dan sangat mahir menggunakan teknologi. Ketergantungan mereka terhadap media sosial membentuk pola komunikasi, cara memperoleh informasi, dan ekspresi diri mereka (Arum et al., 2023; Zamzami, 2023). Media sosial menjadi ruang penting dalam membangun identitas dan validasi sosial (Ramadhani &amp; Khoirunisa, 2025).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Finsta vs Rinsta</li>
</ul>



<p>Finsta (fake Instagram) dan Rinsta (real Instagram) mencerminkan strategi pengguna dalam memisahkan persona daring. Rinsta bersifat publik dan dikurasi untuk membentuk citra positif, sedangkan Finsta bersifat lebih privat dan digunakan untuk ekspresi yang lebih jujur. Meskipun Finsta bisa menjadi ruang aman, penggunaannya juga menyimpan risiko seperti penyalahgunaan identitas dan pelanggaran privasi.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Privasi dan Teori CPM</li>
</ul>



<p>Privasi adalah hak individu untuk mengontrol informasi pribadi mereka (Yuwinanto, 2015; Suari &amp; Sarjana, 2023). Teori Communication Privacy Management (CPM) yang dikembangkan oleh Petronio (2002) menjelaskan bahwa pengelolaan privasi melibatkan negosiasi antara kebutuhan untuk membuka dan menutup informasi dalam hubungan interpersonal. Ketegangan dialektis ini menciptakan dinamika dalam menetapkan batasan privasi (Yasir, 2012).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Finsta dalam Kerangka CPM</li>
</ul>



<p>Penggunaan Finsta dapat dipahami sebagai penerapan prinsip CPM, di mana pengguna menetapkan batas akses berdasarkan tingkat kepercayaan. Mereka menerapkan strategi sosial dan teknis, seperti fitur Close Friends atau kontrol followers, untuk menjaga privasi. Namun, pelanggaran batas dan risiko kepercayaan tetap menjadi tantangan yang mendorong renegosiasi privasi secara dinamis.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>KERANGKA KONSEP DAN METODE</strong> (yang kami pakai untuk cari tahu)</p>



<p class="has-text-align-center">Gambar 2. Kerangka Konsep</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="582" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA.png" alt="" class="wp-image-3829" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA.png 1600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-300x109.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-1024x372.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-768x279.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-1536x559.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami dinamika pengelolaan privasi daring di kalangan Generasi Z dalam penggunaan multi-akun Instagram. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif dan strategi personal yang digunakan partisipan dalam menetapkan batasan privasi digital mereka.</p>



<p>Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: observasi digital, penulisan diari partisipan, dan wawancara mendalam. Partisipan terdiri dari 12 mahasiswa program sarjana (usia 18–24 tahun) yang memenuhi kriteria sebagai pengguna aktif Instagram dengan lebih dari dua akun. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik <em>snowball sampling</em>, mempertimbangkan sensitivitas topik dan keterbatasan akses terhadap akun-akun pribadi. Hasil dari ketiga triangulasi diolah menggunakan software taguette untuk mencari pola.</p>



<p>Untuk menjaga validitas dan memperkuat kredibilitas data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi dalam tiga bentuk berikut:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Triangulasi Metode<br>Penelitian ini mengombinasikan tiga metode pengumpulan data yang saling melengkapi. Observasi digital dilakukan untuk mencermati bagaimana partisipan mengelola pengaturan akun, visibilitas unggahan, dan pembagian audiens. Diari partisipan ditulis dalam kurun waktu tertentu untuk merekam refleksi pribadi, keputusan privasi, dan pengalaman emosional terkait interaksi digital. Sementara itu, wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali narasi yang lebih dalam terkait strategi privasi, dinamika kepercayaan, serta alasan di balik penggunaan akun-akun ganda.</li>



<li>Triangulasi Data<br>Sumber data yang digunakan berasal dari transkrip wawancara, catatan observasi digital, dan dokumentasi diari partisipan. Seluruh data dianalisis secara tematik dan dibandingkan untuk mengidentifikasi konsistensi serta pola temuan yang muncul. Perbandingan antar sumber ini digunakan untuk memvalidasi interpretasi dan memperkaya pemahaman mengenai praktik boundary management dalam konteks penggunaan multi-akun oleh Gen Z.</li>



<li>Triangulasi Peneliti<br>Seluruh proses analisis data dilakukan secara kolaboratif dan diverifikasi oleh minimal tiga anggota tim peneliti. Setiap hasil pengkodean dan temuan awal dibahas secara terbuka dalam diskusi tim untuk memastikan interpretasi yang objektif dan menghindari bias individual. Verifikasi silang antar peneliti dilakukan sebagai upaya menjaga transparansi serta akurasi dalam merumuskan kesimpulan teoretis dan empiris.</li>
</ol>



<p>Dengan menerapkan pendekatan triangulasi ini, penelitian ini berupaya menyajikan gambaran yang komprehensif mengenai strategi manajemen privasi digital Generasi Z, serta memperkuat kontribusi terhadap pengembangan teori Communication Privacy Management (CPM) dalam ranah praktik media sosial kontemporer.&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>APA RAHASIA MEREKA? (Temuan dan Diskusi)</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Banyak Akun, Banyak Fungsi</strong></h3>



<p>Fenomena Gen Z punya banyak akun Instagram mencerminkan cara mereka menjaga privasi dengan cerdas. Satu akun saja nggak cukup. Biasanya mereka punya tiga: akun utama, akun kedua, dan kadang akun ketiga. Akun utama dipakai untuk tampil sempurna. Isinya foto-foto terbaik, caption yang dipikirin, dan konten yang aman dilihat banyak orang. Ini versi publik mereka. Akun kedua lebih personal. Isinya bisa curhat, meme, atau hal-hal yang cuma bisa dipahami orang-orang dekat. Follower-nya terbatas. Kadang masih ada akun ketiga yang lebih kecil lagi lingkupnya. Hanya sahabat dekat yang tahu. Dengan membagi akun seperti ini, Gen Z bisa atur siapa yang lihat apa. Mereka tahu kapan harus jaga citra, dan kapan bisa jadi diri sendiri. Buat mereka, ini bukan cuma soal gaya. Ini cara untuk tetap punya ruang aman di tengah dunia digital yang serba terbuka.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg.png" alt="" class="wp-image-3826" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.1</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Membentuk Batasan, tapi Sering Goyah.</strong></h3>



<p>Meski pembagian audiens sudah dirancang, batasan ini tidak selalu berjalan mulus. Beberapa informan mengalami tekanan sosial seperti permintaan akses <em>follow</em> dari orang yang kurang dekat yang menyebabkan ketidaknyamanan dan <em>boundary turbulence.&nbsp;</em></p>



<p>Namun, saat strategi ini masih dirasa kurang aman, beberapa informan membuat akun ketiga yang lebih tersembunyi, hanya untuk lingkaran terdekat. Temuan ini memperluas konsep boundary turbulence (Petronio, 2002), dengan menunjukkan bahwa renegosiasi batas saja tidak cukup, dan kadang perlu sistem baru demi menjaga kenyamanan emosional dan kontrol atas identitas digital.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA.png" alt="" class="wp-image-3827" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.2</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Takut? Khawatir? Gak Nyaman? Itu Sudah Biasa dan Jadi Penting!</strong></h3>



<p>Ternyata, mayoritas  Informan kami mengaku bahwa perasaan tidak nyaman, khawatir, dan keraguan sudah menjadi hal yang normal dalam menggunakan akun Instagram. Namun, Perasaan-perasaan negatif ini menjadi salah satu strategi penting dalam mereka mengelola akun yang berganda.&nbsp;</p>



<p>Hal ini berkaitan dengan perbedaan tingkat kenyamanan pada audiens di masing-masing akun yang berbeda dengan batasan dan audiens yang berbeda. Alhasil, ketakutan, ketidaknyamanan, atau kewaspadaan ini menjadi pendorong para Gen Z untuk selalu mempertimbangkan orang yang mendapatkan akses kepada akun kedua dan ketiga mereka. Mereka juga menjadi lebih berhati-hati untuk menghindari mengunggah sesuatu pada akun yang salah dan juga akhirnya&nbsp; memanfaatkan akun yang lebih tertutup untuk informasi yang lebih rahasia. Emosi negatif ini menjadi penentu Boundary Permeability di setiap akun yang mereka miliki. Boundary Permeability (Petronio, 2002) menjelaskan bagaimana ketika batasan semakin tertutup maka informasi semakin rahasia.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q.png" alt="" class="wp-image-3824" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.3</em><br></p>



<p>Pernyataan informan kami di atas menunjukkan bagaimana ada perasaan ketakutan dalam penggunaan akun Instagram, yang mendorong pengelolaan akun dalam bentuk membatasi akses atau memilih menggunakan akun yang lebih privat. Misalnya, informan A bilang <em>“Kalo upload keluarga di first (publik) jadi konsumsi agak risky, takut disalahgunakan orang jahat”. </em>Ketakutan ini mendorong A untuk menyaring unggahannya dan memilih mengunggah perihal keluarga di akun ketiga. Singkatnya, emosi negatif ini menjadi pemicu mereka untuk menjaga dan menentukan batasan audiens dan unggahan mereka di setiap akun mereka. Penelitian Dianiya (2021) juga&nbsp; menjelaskan alasan serupa yaitu ketakutan dihakimi yang mendorong batasan dengan penggunaan <em>fitur close-friend.</em></p>



<p>Dalam memilih siapa yang boleh mengikuti akun kedua atau ketiga mereka, Gen Z tidak hanya mempertimbangkan interaksi digital, tapi juga kedekatan nyata di kehidupan sehari-hari. Hubungan <em>offline</em> seperti kepercayaan, pengalaman bersama, dan ikatan emosional jadi dasar utama pemberian akses ke sisi pribadi mereka di Instagram.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Dekat di <em>Real Life</em>, Baru Boleh Masuk Akun Privat Instagram.</strong></h3>



<p>Namun, praktiknya tidak selalu mudah. Beberapa informan mengaku merasa sungkan atau tidak enak saat menerima permintaan follow dari orang yang sebenarnya tidak dekat. Karena tekanan sosial ini, mereka seringkali tetap menerima, lalu menyaring konten, atau bahkan membuat akun baru lagi yang lebih tersembunyi.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg.png" alt="" class="wp-image-3828" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.4</em></p>



<p>Temuan ini memperkuat konsep <em>co-ownership</em> dalam teori Communication Privacy Management (Petronio, 2002), bahwa akses terhadap informasi pribadi seringkali diberikan kepada orang-orang yang dianggap &#8220;memiliki&#8221; kedekatan emosional. Tapi batasan ini tak lepas dari pengaruh sosial yang membuat pengelolaan privasi digital terasa lebih kompleks.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Privasi sebagai Narasi Diri: Beda Akun Beda Tampilan</strong></h3>



<p>Penelitian kami menemukan bahwa pengelolaan konten di media sosial sering dilakukan dengan membedakan tema, kedalaman, dan tingkat keintiman di setiap akun. Akun utama biasanya berisi konten yang “siap konsumsi publik” sementara akun lainnya menampilkan ekspresi diri yang lebih jujur, lucu, atau bahkan impulsif. Pola ini menunjukkan bahwa selain melindungi informasi pribadi, pengelolaan konten juga berfungsi untuk membangun versi diri yang berbeda sesuai audiensnya.</p>



<p>Menurut teori <em>Communication Privacy Management </em>(CPM), manajemen privasi tidak hanya soal membatasi akses informasi, tapi juga menjadi bentuk kurasi identitas dan performa naratif. Misalnya, salah satu informan berkata,<em> “Gua posting foto pemandangan di story pertama, video kegiatan di story kedua, dan cerita lucu di story ketiga,”</em> yang menggambarkan penyusunan konten berdasarkan kedalaman personal dan karakter audiens. Temuan ini menegaskan CPM sebagai proses dinamis yang menggabungkan aspek protektif dan ekspresif dalam komunikasi digital.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw.png" alt="" class="wp-image-3825" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.5</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Perempuan dan Laki-Laki, Ada Beda Polanya Tidak Ya?</strong></h3>



<p>Jawaban dari informan kami menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dari strategi pengelolaan multi akun Instagram perempuan dan laki-laki. Namun, dalam proses snowball sampling, kami menemukan ternyata fenomena penggunaan akun Instagram yang lebih dari 2 secara aktif ini lebih banyak terjadi di kelompok perempuan.&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">IMPLIKASI DAN REKOMENDASI</h3>



<p><strong>Implikasi Teoritis</strong><br>Strategi multi-akun mencerminkan upaya Gen Z dalam membagi dan mengatur batas privasi mereka (<em>boundary segmentation</em> dan <em>ownership</em>), di mana emosi seperti takut dan tekanan sosial berperan besar dalam pengambilan keputusan. Ini memperluas teori CPM yang selama ini dianggap hanya bersifat kognitif. Saat renegosiasi batas gagal, mereka membentuk sistem baru demi rasa aman, sekaligus menjadikan manajemen privasi sebagai bagian dari ekspresi identitas yang performatif.</p>



<p><strong>Implikasi Sosial</strong><br>Gen Z sadar betul pentingnya mengatur siapa yang bisa melihat apa di media sosial. Namun, relasi digital mereka tetap dipengaruhi hubungan <em>offline</em> kepercayaan dan sopan santun masih jadi pertimbangan utama. Tekanan untuk menerima permintaan akses kadang membuat batas privasi terganggu. Menariknya, perempuan terlihat lebih aktif dalam mengelola privasi berlapis, menunjukkan adanya pengaruh gender dalam praktik ini.</p>



<p><strong>Implikasi Praktis</strong><br>Gen Z perlu didorong untuk menerapkan strategi privasi yang sehat tanpa merasa tertekan secara sosial. Platform seperti Instagram bisa mengembangkan fitur yang mendukung manajemen multi-akun secara lebih nyaman dan fleksibel. Di sisi lain, sekolah dan kampus sebaiknya mulai memasukkan topik identitas digital dan literasi privasi ke dalam kurikulum untuk mendukung kesehatan psikososial anak muda.</p>



<p><strong>Rekomendasi</strong><br>Peneliti ke depan bisa menggali lebih dalam soal peran gender, melakukan studi jangka panjang, dan memakai pendekatan etnografi digital. Gen Z disarankan untuk lebih selektif memberi akses ke akun pribadi demi kenyamanan dan keamanan. Pengembang platform perlu menghadirkan fitur multi-akun dan pengaturan audiens yang lebih rinci. Sementara itu, institusi pendidikan dan pemerintah bisa menyediakan program literasi digital yang menyentuh aspek emosional dan identitas digital, serta ruang diskusi untuk mengatasi tekanan sosial di dunia maya.</p>



<p><strong>Hasil </strong><strong><em>WordCloud</em></strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="800" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg.png" alt="" class="wp-image-3823" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg.png 1600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-300x150.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-1024x512.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-768x384.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-1536x768.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-600x300.png 600w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3. Wordcloud</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading">INTINYA (Kesimpulan)</h2>



<p>Strategi multi-akun di Instagram menjadi cara cermat Gen Z mengelola privasi dan membentuk persona sosial. Lebih dari sekadar memiliki akun tambahan, pembagian menjadi Rinsta, Finsta, hingga akun ketiga mencerminkan negosiasi batas—berdasarkan kepercayaan, kedekatan, dan risiko.</p>



<p>Temuan ini menunjukkan bahwa privasi digital bukan semata urusan teknis, tapi juga emosional. Rasa malu, cemas, dan kebutuhan untuk merasa aman menjadi faktor penentu dalam mengatur siapa melihat apa. Dalam kerangka <em>Communication Privacy Management</em> (Petronio, 2002), pengaturan informasi tampil sebagai bentuk perawatan diri di tengah ruang publik yang terus terbuka.</p>



<p>Meski berangkat dari konteks mahasiswa Gen Z, riset ini menggarisbawahi bahwa privasi digital kini adalah keterampilan sosial. Penghapusan followers, perpindahan konten, hingga penciptaan akun baru adalah respons terhadap ketidaknyamanan, tekanan sosial, dan pengalaman pelanggaran batas. Privasi, hari ini, bukan lagi sekadar kontrol atas informasi, tetapi soal menjaga rasa aman dalam inflasi keterbukaan yang terus meningkat.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong><em>Glosarium Istilah</em></strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Akun Ganda (Multi-Akun)</strong><strong><br></strong>Kepemilikan lebih dari satu akun Instagram oleh satu pengguna untuk tujuan dan audiens berbeda.</li>



<li><strong>Boundary Coordination</strong><strong><br></strong>Proses mengatur siapa yang boleh tahu apa dalam informasi pribadi.</li>



<li><strong>Boundary Permeability</strong><strong><br></strong>Tingkat keterbukaan batas privasi terhadap orang lain.</li>



<li><strong>Boundary Turbulence</strong><strong><br></strong>Gangguan saat batas privasi dilanggar atau aturan tak diikuti.</li>



<li><strong>Close Friends</strong><strong><br></strong>Fitur Instagram untuk membatasi audiens story hanya ke orang-orang terpilih.</li>



<li><strong>Co-Ownership</strong><strong><br></strong>Status ketika orang lain ikut bertanggung jawab menjaga informasi yang dibagikan.</li>



<li><strong>Communication Privacy Management (CPM)</strong><strong><br></strong>Teori yang menjelaskan cara orang mengatur dan membagi informasi pribadi.</li>



<li><strong>Finsta (Fake Instagram)</strong><strong><br></strong>Akun pribadi yang lebih tertutup, biasanya untuk ekspresi lebih jujur.</li>



<li><strong>Rinsta (Real Instagram)<br></strong>Akun utama yang bersifat publik dan merepresentasikan citra sosial.</li>



<li><strong>Persona Daring</strong><strong><br></strong>Identitas digital yang ditampilkan kepada publik atau kelompok tertentu.</li>



<li><strong>Privasi Digital</strong><strong><br></strong>Kendali atas informasi pribadi di ruang online.</li>
</ul>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>



<p>Arum, L. S., Zahrani, A., &amp; Duha, N. A. (2023). Karakteristik Generasi Z dan Kesiapannya dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030. <em>Accounting Student Research Journal</em>, <em>2</em>(1), 59-72.2</p>



<p>​​Dari, S. W. (2025). Pengelolaan media sosial Facebook dan Instagram sebagai media promosi di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Fadhilah Pekanbaru (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).</p>



<p>Dianiya, V. (2021, MARCH). Management privacy dalam penggunaan fitur “close friend” di Instagram. <em>JURNAL STUDI KOMUNIKASI</em>, <em>5</em>(1), 249-266.</p>



<p>IDN Times. (2024). <em>Indonesia Gen Z Report 2024</em>. IDN Times. <a href="https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf">https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf</a></p>



<p>Lorenz, T. (2017). The secret Instagram accounts teens use to share their realest, most intimate moments. <em>Mic</em>. <a href="https://www.mic.com/articles/175936/the-secret-instagram-accounts-teens-use-to-share-their-realest-most-intimate-moments">https://www.mic.com/articles/175936/the-secret-instagram-accounts-teens-use-to-share-their-realest-most-intimate-moments</a></p>



<p>Mediana. (2024, Maret 27). <em>Generasi Z Bikin 5-6 Akun di Instagram</em>. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2024/03/27/generasi-muda-suka-membuat-multi-akun-di-satu-aplikasi-media-sosial</p>



<p>Petronio, S. (2002). <em>Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure</em>. State University of New York Press.</p>



<p>Ramadhani, O., &amp; Khoirunisa, K. (2025). Generasi Z dan Teknologi: Gaya Hidup Generasi Z di Era Digital. <em>JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS)</em>, <em>3</em>(1), 323-331.<a href="https://doi.org/10.54066/jupendis.v3i1.2916">https://doi.org/10.54066/jupendis.v3i1.2916</a></p>



<p>We Are Social. (2024). <em>Digital 2024: Indonesia</em>. Retrieved from <a href="https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia">https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia</a></p>



<p>Yasir. (2012, Maret 6). <em>Teori manajemen privasi komunikasi</em>. Universitas Riau. <a href="https://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/06/teori-manajemen-privasi-komunikasi/">https://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/06/teori-manajemen-privasi-komunikasi/</a>&nbsp;</p>



<p>Yoanita, D., Chertian, V. G., &amp; Ayudia, P. D. (2022). Understanding Gen Z&#8217;s online self-presentation on multiple Instagram accounts. <em>Jurnal Studi Komunikasi, 6</em>(2), 603-616. repository.petra.ac.id</p>



<p>Yuwinanto, H. P. (2015). Privasi online dan keamanan data. <em>Palimpsest</em>, <em>31</em>(11).</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Detoks Video Pendek (SFV) pada Kesejahteraan Mahasiswa: Baik atau Buruk?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rusydi.Alkhalifah]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 05:36:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3779</guid>

					<description><![CDATA[Ananda Putri Susanto, Nayla Carissa Setiawan, Nurul Tsabita Ihsani, Rusydi Alkhalifah, Sayed Alif Fahrezi Fenomena Di Balik Scroll Tanpa Henti di Kalangan Mahasiswa “Scroll TikTok sebentar dulu deh, tiba-tiba sudah satu jam.” Tanpa sadar, kita sudah menonton puluhan video dengan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdmst0oT86F06WJKFxV6XwZ4UTrEpvTHXbdWHrbunmxNNf3S8zx6P2e4oofoph47Rj9UKSzZpcs37LkQSFv39JjLexqYyGLD5lJu2KP3bkJ4Wg-aFF7QYpy_SDsV55bhZGKKy0k6A?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:480px;height:auto" /></figure>
</div>


<h4 class="wp-block-heading"><strong>Ananda Putri Susanto, Nayla Carissa Setiawan, Nurul Tsabita Ihsani, Rusydi Alkhalifah, Sayed Alif Fahrezi</strong><br></h4>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Fenomena Di Balik Scroll Tanpa Henti di Kalangan Mahasiswa</strong></h3>



<p>“Scroll TikTok sebentar dulu deh, tiba-tiba sudah satu jam.” Tanpa sadar, kita sudah menonton puluhan video dengan durasi tak lebih dari semenit. Fenomena ini bukan hal baru, terutama bagi Generasi Z di Indonesia. Dalam sehari mereka dapat menghabiskan waktu 1–6 jam per hari di media sosial, menjadikannya sumber utama informasi berita terkini (Yonatan, 2024; Muhammad, 2024). Selain itu aktivitas yang dilakukan di media sosial juga beragam, misalnya mengunggah postingan, memberikan komentar atau <em>like</em>, atau sekadar melakukan scrolling video tanpa henti.</p>



<p>Menurut laporan Indonesia Gen Z Research tahun 2022, sebanyak 75% Gen Z lebih memilih konten video dibandingkan jenis konten lainnya (Hasya, 2023). Popularitas platform media sosial yang berbasis video seperti Instagram, TikTok, dan YouTube membuat pola konsumsi digital semakin didominasi oleh konten visual berdurasi pendek atau yang disebut sebagai Short Form Video. Di balik popularitas konsumsi SFV ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai potensi dampak negatif yang dihasilkan. Durasi video yang singkat dan sistem rekomendasi otomatis mendorong pengguna untuk menonton video secara berurutan (Park &amp; Jung, 2024). Fenomena ini menunjukkan potensi penggunaan berlebihan yang memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga penurunan fokus.&nbsp;</p>



<p>Dampak negatif SFV menjadi perhatian serius, terutama bagi generasi muda, yang lebih rentan mengalami gangguan mental akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Sebagai respons terhadap dampak negatif tersebut, konsep detoksifikasi media sosial mulai diperkenalkan sebagai solusi untuk mengurangi tekanan sosial dan efek negatif dari platform digital. Studi terdahulu menemukan bahwa detoks media sosial dapat meningkatkan kualitas well-being, memperkuat koneksi sosial, menurunkan FOMO, dan meningkatkan produktivitas (Booker dalam Nguyen, 2022; Nguyen, 2022; El-Khoury <em>et al</em>., 2021; Brown &amp; Kuss, 2020).</p>



<p>Namun, praktik detoksifikasi media sosial tidaklah mudah, algoritma membuat pengguna sulit berhenti mengonsumsi konten. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa detoks dapat menyebabkan perasaan terputus dari lingkungan sosial yang berpotensi menurunkan kualitas <em>well-being</em> seseorang (Brown &amp; Kuss, 2020). Meskipun terlihat adanya dampak negatif dari detoksifikasi media sosial terhadap kesejahteraan individu, studi terbaru menyatakan bahwa temuan yang didapat oleh banyak studi terdahulu belum menunjukkan hasil yang konsisten daripada dampak detoksifikasi media sosial terhadap kualitas <em>well-being</em> seseorang (Lemahieu <em>et al</em>., 2025).</p>



<p>Untuk menjawab fenomena ini, kami melakukan penelitian kualitatif terhadap 10 mahasiswa S1 dengan rentang usia 19–23 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak detoksifikasi SFV terhadap <em>well-being</em> mahasiswa. Dengan menggunakan pendekatan <em>multiple case study</em> dan triangulasi data melalui observasi, diari harian, dan wawancara mendalam, kami menemukan dinamika psikologis yang menarik selama proses detoksifikasi SFV yang dilakukan informan kami.&nbsp;</p>



<p>Oleh karena itu, yuk, simak hasil penelitian kami untuk melihat dampak yang dihasilkan dari detoksifikasi konsumsi SFV!&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Hubungan Antara Pola Konsumsi Short Form Video, Detoksifikasi, dan Well-Being</strong></h3>



<p>Penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya konsumsi SFV di <em>platform</em> seperti Instagram, Tiktok, dan Youtube di kalangan mahasiswa. Beberapa penelitian terdahulu telah menjelaskan fenomena ini secara umum. Berdasarkan penelitian oleh Mursyid dan Dewi (2024), algoritma SFV yang adaptif terhadap preferensi pengguna menciptakan ilusi bahwa ada video menarik berikutnya yang harus ditonton sehingga sulit bagi pengguna untuk menghentikan konsumsi SFV mereka. Dalam jangka panjang, pola konsumsi SFV tertentu dapat berkontribusi pada ketergantungan terhadap SFV dan mengurangi kontrol diri dalam mengatur waktu penggunaan media sosial.</p>



<p>SFV adalah video digital yang berdurasi singkat, biasanya kurang dari satu menit dan dirancang agar mudah dikonsumsi secara cepat. SFV sering kali memanfaatkan kombinasi visual yang menarik, seperti teks, gambar, dan musik untuk menyampaikan informasi atau hiburan dalam waktu yang terbatas. Keunggulan utama dari SFV adalah kemampuannya dalam menarik perhatian audiens dalam waktu singkat dan memfasilitasi konsumsi konten secara terus-menerus (Xie <em>et al</em>., 2023).&nbsp;</p>



<p>Pola konsumsi SFV yang intensif ini mengarah pada dampak negatif terhadap <em>well-being</em>. Sebagaimana ditunjukkan oleh Dodemaide <em>et al</em>. (2022) dan Glaser <em>et al</em>. (2018), penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan kecanduan, memperburuk kesehatan mental, dan meningkatkan risiko depresi, kesepian, serta gangguan psikologis lainnya. Hal serupa juga ditemukan oleh Zhu <em>et al</em>. (2024), yang menyatakan bahwa ketergantungan pada SFV berkorelasi dengan stres akademik dan penurunan kontrol atensi.&nbsp;</p>



<p>Sebagai respon terhadap dampak tersebut, muncul praktik detoksifikasi media sosial, yaitu upaya mengurangi atau menghentikan konsumsi media sosial, dalam hal ini SFV untuk mengembalikan keseimbangan mental dan emosional (Seekis <em>et al</em>., 2025; Nguyen, 2023). Detoksifikasi menjadi bagian penting dalam memitigasi efek negatif dari konsumsi digital, dengan harapan meningkatkan kembali kualitas <em>well-being</em> individu.</p>



<p>Dalam konteks ini, penelitian ini ingin mengkaji peran detoksifikasi terhadap pengalaman subjektif mahasiswa, khususnya bagaimana proses ini berdampak pada kondisi psikologis mereka sebelum, selama, dan setelah detoksifikasi. Detoksifikasi dipandang berpotensi menjadi intervensi yang relevan untuk meningkatkan <em>well-being</em>, sebagaimana dikemukakan oleh Hunt <em>et al</em>. (2018) bahwa pembatasan penggunaan media sosial dapat menurunkan perasaan kesepian dan depresi.</p>



<p>Adapun konsep <em>well-being</em> yang dimaksud mengacu pada kesejahteraan mental, emosional, dan sosial individu (Popat dan Tarrant, 2023; CDC, 2018). Dalam kajian literatur Popat dan Tarrant (2023), terdapat lima tema yang menunjukkan adanya korelasi antara media sosial yang berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan, yaitu ekspresi diri dan validasi, perbandingan penampilan dan cita-cita tubuh, tekanan untuk tetap terhubung, keterlibatan sosial dan dukungan teman sebaya, dan paparan terhadap perundungan dan konten berbahaya. Masa remaja dan dewasa muda menjadi periode krusial dalam pembentukan identitas dan stabilitas psikologis, sehingga sangat rentan terhadap tekanan yang berasal dari konsumsi media digital (Grant &amp; Potenza, 2009).</p>



<p>Dengan demikian, tujuan penelitian ini akan menganalisis lebih lanjut hubungan antara pola konsumsi SFV, dampak negatif terhadap <em>well-being</em>, dan upaya detoksifikasi terhadap pengalaman subjektif sebagai strategi untuk mengatasi tantangan kesejahteraan di kalangan mahasiswa.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Self Regulation Theory</strong></h4>



<p>Pilihan untuk melakukan detoksifikasi SFV dan strategi yang diterapkan ketika melakukan detoks dapat dikaji melalui Self Regulation Theory. Bandura (1991) menyatakan bahwa teori ini merujuk pada proses individu mengaktifkan dan mempertahankan pola pikir, perilaku, serta emosi untuk mencapai tujuan pribadi. <em>Self regulation</em> terbagi menjadi tiga tahap, yaitu <em>monitoring</em>, <em>evaluation</em>, dan<em> reaction</em>.&nbsp;</p>



<p>Dalam konteks detoksifikasi SFV, individu umumnya mengalami ketiga tahapan dalam mengambil keputusan. Pada tahap <em>monitoring</em>,<em> </em>individu menyadari bahwa konsumsi SFV berlebihan telah berpengaruh kepada kesejahteraan mental dan produktivitas. Pada tahapan <em>evaluation</em>, individu menilai bahwa konsumsi SFV bertentangan dengan nilai pribadi, seperti keseimbangan digital dan fokus. Berdasarkan evaluasi ini, individu kemudian mengambil tindakan detoksifikasi SFV dan menerapkan strategi sesuai kebutuhan masing-masing (<em>self-reaction</em>).</p>



<p>Tindakan ini didukung oleh <em>self efficacy</em>, yakni keyakinan individu untuk menyesuaikan diri dengan perilaku baru. Ketika berhadapan dengan situasi baru, individu akan menemukan cara dalam mengatasi situasi tersebut. Di penelitian terdahulu, Keller <em>et al</em>. (2021) menunjukkan bahwa <em>self efficacy </em>menjadi mekanisme penting dalam mengurangi penggunaan <em>smartphone</em> bermasalah.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="171" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1024x171.jpg" alt="" class="wp-image-3784" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1024x171.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-300x50.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-768x128.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1536x256.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-2048x341.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.1 Theoritical Framework</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Metodologi Penelitian</strong></h3>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sudut pandang fenomenologi untuk menggali secara mendalam pengalaman mahasiswa dalam menjalani detoksifikasi konten SFV dari tiga pilihan platform, yaitu Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts. Fokus utama penelitian ini adalah memahami perubahan psikologis, kognitif, dan perilaku yang dialami mahasiswa selama menjalani detoks.</p>



<p>Partisipan dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>, yaitu pemilihan secara sengaja berdasarkan relevansi dengan fokus penelitian. Dalam hal ini, peneliti memilih mahasiswa angkatan 2021-2023 yang aktif menggunakan dan mengonsumsi SFV minimal dua platform, serta bersedia menjalani proses detoks selama lima hari. Ketentuan detoks meliputi pengurangan durasi tontonan SFV maksimal 30 menit per hari, penggunaan aplikasi pemantau <em>screen time</em> (Stay Free), dan komitmen untuk mencatat perubahan selama detoks berlangsung. Kriteria ini dirancang agar partisipan benar-benar mengalami dinamika digital yang menjadi inti penelitian.</p>



<p>Untuk menjamin kedalaman dan validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan tiga pendekatan. Pertama, triangulasi metode, yaitu penggabungan tiga teknik pengumpulan data: refleksi diari, observasi digital, dan wawancara mendalam. Selama lima hari masa detoks, partisipan diminta menulis refleksi harian yang merekam perasaan, hambatan, dan strategi pengendalian diri. Pertanyaan utama dalam diari adalah: <em>“Bagaimana perasaan dan tantangan yang Anda hadapi hari ini terkait upaya mengurangi konsumsi SFV? Jelaskan perubahan emosional, hambatan yang terjadi, atau strategi yang digunakan.”</em> Selain itu, peneliti melakukan observasi terhadap perilaku digital dan aspek <em>well-being</em> partisipan sebelum dan selama masa detoks. Observasi ini berguna untuk menangkap perubahan non-verbal atau perilaku tidak sadar yang mungkin tidak terekam dalam narasi peserta. Setelah detoks selesai, wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pemaknaan subjektif partisipan terhadap pengalaman mereka, mencakup tema-tema seperti perasaan selama detoks, dinamika pengendalian diri, perubahan dalam relasi sosial, dan dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis. Kedua, triangulasi data, dengan membandingkan dan mengontraskan hasil dari berbagai sumber data seperti transkrip wawancara, catatan lapangan hasil observasi, dan diari reflektif partisipan. Pendekatan ini memastikan bahwa interpretasi temuan tidak bersifat parsial atau bias dari satu jenis data saja. Ketiga, triangulasi peneliti, dilakukan dengan cara memverifikasi dan mereview data oleh minimal tiga peneliti untuk menjamin objektivitas dan konsistensi dalam proses analisis. Setiap peneliti melakukan pembacaan silang terhadap transkrip dan kode tematik, serta berdiskusi dalam forum analisis untuk mencapai kesepakatan makna.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1001" height="499" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart.jpg" alt="" class="wp-image-3790" style="width:493px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart.jpg 1001w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-300x150.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-768x383.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-600x300.jpg 600w" sizes="auto, (max-width: 1001px) 100vw, 1001px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.2 Visualisasi WordArt</figcaption></figure>
</div>


<p>Untuk mendukung proses analisis data secara sistematis, tim peneliti menggunakan Taguette, sebuah perangkat lunak bantu kualitatif berbasis digital yang memfasilitasi proses <em>open coding</em>, kategorisasi, dan penemuan tema-tema kunci. Selain itu, <em>word cloud</em> digunakan sebagai alat visualisasi untuk mengidentifikasi kata-kata yang paling sering muncul dalam narasi partisipan, yang memberikan gambaran awal mengenai fokus emosi, tantangan, atau strategi yang dominan selama masa detoks. Visualisasi ini tidak hanya membantu dalam menginterpretasikan pola tematik secara eksploratif, tetapi juga berperan dalam validasi awal sebelum dilakukan analisis mendalam berbasis tematik.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Lebih Fokus dan Produktivitas Meningkat</strong>&nbsp;</h4>



<p>Bagi mayoritas informan, detoksifikasi SFV memberikan dampak signifikan kepada produktivitas mereka. Dampak tersebut meliputi kemampuan menyelesaikan tugas secara cepat tanpa adanya distraksi media sosial, pola tidur yang lebih teratur, dan peningkatan melakukan aktivitas fisik.&nbsp;</p>



<p>Salah satu informan, Sep (Laki-laki, 23 tahun, Jurusan Sosiologi), menggambarkan bagaimana detoksifikasi membantunya lebih fokus dalam mengerjakan tugas:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Untuk menyelesaikan pekerjaan gua dan itu jadi lebih terarah dan terfokus gitu.” (Wawancara, 29 April 2025)&nbsp;</p>
</blockquote>



<p>Hal senada diungkapkan oleh Qon (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi), yang merasakan manfaat pada pola tidurnya sehingga tidak mengantuk di kelas:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Jam tidur jadi lebih teratur. Jadi di kelas juga gak ngantuk.” (Wawancara, 29 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu, Ami (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi), melalui refleksi diarinya, mengungkapkan bahwa detoksifikasi mendorongnya untuk menggunakan media sosial secara lebih bijak dan meningkatkan aktivitas fisiknya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Detoks membuat saya membuka media sosial seperlunya dan lebih banyak melakukan aktivitas fisik, seperti bersepeda dan bersih-bersih kamar.” (Refleksi Diari, 22 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Perubahan perilaku Ami (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) ini juga terkonfirmasi melalui observasi digital yang dilakukan oleh peneliti. Selama periode detoks media sosial, Ami menunjukkan kebiasaan baru berupa aktivitas fisik, yaitu bersepeda. Hal ini terlihat dari unggahan konten video informatif di akun Instagram miliknya yang mendokumentasikan kegiatannya melakukan tantangan bersepeda ke kampus selama 10 hari.</p>



<p>Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan detoks media sosial dapat meningkatkan kualitas well-being, memperkuat koneksi sosial, menurunkan FOMO, dan meningkatkan produktivitas (El-Khoury dkk., 2021).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Scroll yang Berujung Tekanan Mental</strong></h4>



<p>Sebelum menjalani detoksifikasi, banyak informan mengaku mengalami tekanan mental akibat mengonsumsi SFV. Kondisi seperti <em>overthinking</em>, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, hingga rasa tidak berharga kerap muncul saat mereka menyaksikan pencapaian dan kehidupan orang lain di media sosial.</p>



<p>Aud (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menggambarkan bagaimana konsumsi SFV memicu FOMO dan rasa iri terhadap pencapaian teman-temannya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau aku malah sekarang lebih ke FOMO dan akhirnya jatuhnya iri. Karena di media sosial aku bisa ngeliat temen-temen aku tuh banyak banget yang lomba. Jadi yang kayak.. Kok gue nggak bisa ya?” (Wawancara, 28 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Hal ini selaras dengan dampak buruk internet bahwa efeknya secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan (Glaser dkk., 2018).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Gelisah, Tertekan, dan Cemas</strong></h4>



<p>Detoksifikasi SFV memiliki pengaruh negatif kepada sisi emosional informan. Empat dari sepuluh informan merasa gelisah, cemas, atau bingung ketika awal melakukan detoks. Hal ini tergambar dari berbagai tanggapan informan berikut: </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXda1X1qEyuPgkZueigTL6f3H7-hHGYJQ9QCHTlDqNnvsO_0Pxn_sO1w3Ye8wTfVxB9Fqnpzl3e1boXRXqr0JzK2w45WdjCXEjnNI600CrfK3lDQ8uyB5xwEVGgSAon19a-hayvkmQ?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:316px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.3 Kutipan Wawancara &amp; Refleksi Diari</figcaption></figure>
</div>


<p><br></p>



<p>Temuan ini sejalan dengan studi Stieger &amp; Lewetz (2018) yang menyatakan bahwa detoks media sosial dapat menimbulkan <em>craving</em>, kecemasan, bahkan rasa kesepian.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Strategi Detoks Ala Mahasiswa: Dari Merajin hingga Menulis Puisi</strong></h4>



<p>Dalam menjalankan detoksifikasi, masing-masing informan mengembangkan strategi yang sangat personal dan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Berbagai aktivitas pengganti dilakukan, mulai dari olahraga, masak, membuat <em>beads</em>, menulis puisi, hingga bermain dengan saudara.</p>



<p>Qon (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menjelaskan strateginya dengan mengganti kebiasaan <em>scroll </em>SFV dengan aktivitas yang lebih menenangkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas lain yang lebih tenang, seperti menulis diari atau puisi dan membaca buku.” (Wawancara, 29 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Senada dengan itu, Pin (Perempuan, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) berbagi pengalamannya dalam mengisi waktu luang selama detoks:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Aku kemarin sempat buat beads karena gak ada kegiatan untuk media sosial.” (Wawancara, 30 April 2025)</p>
</blockquote>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%"></div>
</div>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdAHvPhOGJlG13Cejrlqj2DGjRYIOg4cBvMtVYDaVF9m5hXTgujFNx8aRuvDnviGbQLptpPanjFvVLVGeeu3Bqggou9hfUJB61DYm60h9qgOrJ6abAGW_pRtCoyK1GblCmcZpez?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:276px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.4 Strategi Detoks Menulis Puisi</figcaption></figure>
</div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcgwzV5oFsew3eDbAVU2_wHwdtCMVuN3Rcqyy5yhn-bts7XqWk83EhdP25XpIt7z5DEKsEb_gxVIphLWlAMIK-oXwIGvH11gbMCAn7qHSVU9-wyb9xjyA1kLn8lWxgrQBhXv6H5?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:274px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.5 Strategi Detoks Membuat Kerajinan</figcaption></figure>
</div>


<p>Temuan ini memperkuat Teori Self Regulation, tepatnya dalam tahapan <em>self-reaction</em> bahwa mahasiswa mampu menciptakan cara mereka sendiri untuk melawan kebiasaan <em>scroll</em> SFV yang berlebihan. Akan tetapi, hal ini berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang melihat bahwa detoks media sosial dapat menimbulkan <em>kebosanan </em>(Stieger &amp; Lewetz, 2018).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Pengalihan Fokus ke Platform Lain</strong></h4>



<p>Alih-alih menjadi lebih produktif, sejumlah informan justru mengalihkan fokus ke platform lain selama menjalani detoksifikasi. Strategi detoks yang dilakukan cenderung berdampak negatif dan mengganggu manajemen waktu selama periode detoks. Beberapa informan mengaku ketagihan memainkan permainan atau membuka Twitter hingga berjam-jam.</p>



<p>Tho (Laki-laki, 22 tahun, Jurusan Manajemen Pendidikan) mengungkapkan bahwa ia justru menjadi ketagihan memainkan permainan hingga larut malam:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya malah jadi ketagihan main game sampai larut malam.” (Wawancara, 2 Mei 2025)</p>
</blockquote>



<p>Senada dengan itu, Ath (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menceritakan bagaimana pengalihan ke Twitter justru menimbulkan stres baginya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Gue kayak ngerasa kok jadi banyak buka Twitter ya terus malah bikin gue stres.” (Wawancara, 25 April 2025)</p>
</blockquote>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdkotmiX7XtS61G4sMh2ZRI-HJRW6qlD3lFwdz0ISonhqoKRA_Qll86Bp6HFyYQATveFTJSM2l-TEm1uzOEW5_V7998Jf0XOoM0S8MYw6StezWXxtd8gC3qQBudEE6BT65UqSx1WQ?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:529px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.6 Screenshot StayFree (Aplikasi Limit Screentime)</figcaption></figure>
</div>


<p>Disamping itu berdasarkan hasil observasi digital yang dilakukan terhadap informan Tho, 22 tahun. Terlihat pada cuplikan layar <em>screen time </em>ketika melakukan detoksifikasi ia mengalihkan fokus ke platform lain yaitu game <em>The Walking Zombie 2</em> yang ia mainkan selama 7 jam 22 menit pada hari kedua proses detoksifikasi.</p>



<p>Strategi ini merupakan reaksi negatif dari <em>self regulation </em>individu dalam menghadapi kebiasaan baru, yakni detoksifikasi SFV.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Detoks SFV?</strong></h4>



<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa detoksifikasi SFV bukan hanya upaya mengurangi <em>screen</em> <em>time</em>, tetapi proses reflektif yang membawa mahasiswa pada pemahaman baru soal hubungan mereka dengan teknologi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h3>



<p>Penelitian ini menyimpulkan bahwa detoksifikasi <em>short form video</em> (SFV) membawa dampak yang kompleks bagi <em>well-being</em> mahasiswa, mulai dari peningkatan fokus dan produktivitas hingga munculnya kecemasan dan kompensasi digital di platform lain. Temuan ini memperkuat relevansi teori Self Regulation dan memperkaya literatur tentang keseimbangan digital di kalangan dewasa muda. Implikasi akademiknya menunjukkan perlunya studi lanjutan yang lebih mendalam terhadap faktor psikologis dan sosial dalam keberhasilan detoks. Secara praktis, hasil ini mendorong perguruan tinggi untuk merancang program detoks yang tidak hanya membatasi <em>screen time</em>, tapi juga menyediakan dukungan emosional, serta mendorong pengembang platform digital untuk menghadirkan fitur pengingat yang ramah mental dan mendukung <em>well-being </em>pengguna.</p>



<h4 class="wp-block-heading">Infografis kelompok</h4>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3841" style="width:155px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1024x1024.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-768x768.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1536x1536.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis.jpg 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Daftar Pustaka</h3>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="697" height="706" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1.jpeg" alt="" class="wp-image-3792" style="width:165px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1.jpeg 697w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1-296x300.jpeg 296w" sizes="auto, (max-width: 697px) 100vw, 697px" /></figure>



<p></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Capek Scroll, Kerja, dan Kuliah: Di Mana Letak Produktivitas Mahasiswa?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Armania Rachmadhani Rizki Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 05:05:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3774</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kamu merasa waktumu habis begitu saja antara kelas, pekerjaan, dan scroll media sosial? Kamu tidak sendiri. Banyak mahasiswa saat ini menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja, sembari terus terhubung ke dunia digital. Akan tetapi, apakah media sosial membantu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="483" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-483x1024.png" alt="" class="wp-image-3785" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-483x1024.png 483w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-141x300.png 141w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-768x1629.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-724x1536.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6.png 943w" sizes="auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px" /></figure>
</div>


<p>Pernahkah kamu merasa waktumu habis begitu saja antara kelas, pekerjaan, dan <em>scroll </em>media sosial? Kamu tidak sendiri. Banyak mahasiswa saat ini menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja, sembari terus terhubung ke dunia digital. Akan tetapi, apakah media sosial membantu mereka jadi lebih produktif, atau justru semakin stres?</p>



<p>Di era digital ini, media sosial sudah menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Dimulai dari mencari informasi tugas, promosi bisnis kecil-kecilan, sampai membangun jaringan kerja, semuanya bisa dilakukan lewat layar ponsel. Data menunjukkan bahwa pada awal 2025, ada lebih dari 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan 143 juta di antaranya aktif menggunakan media sosial (Kemp, 2025). Jumlah yang menakjubkan ini menunjukkan betapa besarnya peran media sosial dalam keseharian kita. Sementara itu, bekerja sambil kuliah juga makin umum. Menurut data Badan Pusat Statistik, hampir 7% pelajar usia 10–24 tahun di Indonesia menjalani dua peran ini sekaligus (Databoks, 2021). Bahkan, lebih dari 25% mahasiswa di Yogyakarta saja sudah bekerja sambil kuliah. Banyak dari mereka yang berwirausaha atau magang (Zulfikar, n.d.).</p>



<p>Kemudahan akses teknologi ini seperti pisau bermata dua. Media sosial memang bisa membantu produktivitas, misalnya untuk mencari informasi cepat, diskusi tugas, atau membangun jaringan kerja. Tapi, di sisi lain, penggunaannya yang berlebihan bisa menyebabkan gangguan seperti stres, susah fokus, hingga <strong><em>Fear of Missing Out</em> (FoMO)</strong> dan kecanduan media sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Teori dan Konsep</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXePeNk9jt1A-BWD8LgSDUyrRI-Fz5lD3GMnbccGGDxwS9-qC18m3MfPjREZSXkjxJyHWxSFzhSBblDUA326W_q3V2HDI4WCHoTIuGNG0-j1UbS5upiQYjfy4oZPGD7FVTsaeskhyg?key=X79UXu1nepCLYfezX_YxC77y" alt=""/></figure>



<p>Kerangka teoritis dalam penelitian ini dibentuk dari tiga teori utama dan satu teori pendukung yang saling melengkapi untuk menjelaskan hubungan antara <strong>media sosial dan produktivitas mahasiswa yang kuliah sambil bekerja</strong>.</p>



<p>Pertama, <strong>Uses and Gratification Theory (UGT)</strong> dipakai sebagai fondasi untuk memahami <em>mengapa</em> mahasiswa menggunakan media sosial. Dalam konteks ini, media sosial bukan sekadar hiburan, tapi jadi alat untuk memenuhi kebutuhan informasi, komunikasi, dan profesional. Ini menjelaskan sisi positif dan fungsional media sosial bagi mahasiswa pekerja.</p>



<p>Namun, UGT tidak cukup untuk menjelaskan sisi gelapnya. Karena itu, <strong>Digital Distraction Theory (DDT)</strong> masuk sebagai <strong>penyeimbang</strong>. DDT membantu memahami bagaimana media sosial bisa jadi sumber gangguan: bikin terdistraksi, susah fokus, bahkan lelah mental. Jadi, kalau UGT menjelaskan &#8220;kenapa digunakan&#8221;, DDT menjawab &#8220;apa risikonya&#8221;.</p>



<p>Lalu, di tengah tarik menarik antara manfaat dan distraksi, <strong>Moral Responsibility Theory (MRT)</strong> menjelaskan <strong>peran aktif mahasiswa</strong> dalam mengatur diri sendiri. Teori ini menekankan bahwa mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk mengendalikan penggunaan media sosial mereka, bukan hanya mengikuti arus digital secara pasif.</p>



<p>Terakhir, semua dinamika ini diikat oleh <strong>Model of Media Multitasking (MMM)</strong>, yang menjelaskan bahwa mahasiswa sering berpindah antara dua mode:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Eksploitasi</strong> (penggunaan media sosial yang produktif)<br></li>



<li><strong>Eksplorasi</strong> (penggunaan impulsif tanpa arah)<br></li>
</ul>



<p>Model ini memberi kerangka untuk membaca pola-pola perilaku mahasiswa dalam realitasnya: terkadang mereka fokus, kadang juga terdistraksi, dan itu berubah-ubah tergantung konteks dan strategi pribadi.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Bagaimana Penelitiannya Dilakukan?</strong></h3>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif. Artinya, peneliti tidak sekadar mencari angka atau data statistik, tetapi lebih tertarik memahami makna di balik pengalaman mahasiswa FISIP UI yang menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menggali bagaimana media sosial berperan, sebagai pendukung atau justru penghambat dalam produktivitas mereka.</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan penelitian, data dikumpulkan melalui tiga metode utama. Pertama, wawancara mendalam dilakukan untuk mengeksplorasi pandangan, kebiasaan, serta strategi para mahasiswa dalam menggunakan media sosial. Dari sini, peneliti mendapatkan gambaran yang kaya tentang bagaimana media sosial digunakan, baik untuk keperluan akademik maupun pekerjaan. Lalu wawancara kedua dilaksanakan secara online untuk menggali perspektif para narasumber mengenai dampak media sosial untuk kesehatan mental.&nbsp;</p>



<p>Kedua, dilakukan observasi langsung di lingkungan kampus untuk melihat bagaimana mahasiswa membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan bermain media sosial dalam kehidupan nyata. Ketiga, peneliti juga melakukan observasi digital terhadap aktivitas para informan di media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok. Observasi ini membantu memperkuat atau membandingkan data dari wawancara, sekaligus memberi konteks yang lebih utuh tentang pola penggunaan media sosial.</p>



<p>Untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar dapat dipercaya dan tidak bias, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah cara memverifikasi kebenaran data dengan membandingkan informasi dari berbagai metode dan sumber. Dalam hal ini, informasi dari wawancara dicocokkan dengan transkrip wawancara, catatan observasi langsung, serta dokumentasi digital, termasuk foto tangkapan layar dari unggahan media sosial informan dan dokumentasi saat proses wawancara berlangsung. Triangulasi ini membantu memperkuat temuan, menghindari bias, dan memastikan bahwa interpretasi peneliti benar-benar mencerminkan kenyataan yang dialami narasumber. Hasil dari wawancara sudah diverifikasi oleh tiga peneliti dengan temuan observasi lapangan dan aktivitas digital informan. Ketika data dari ketiga metode ini menunjukkan pola yang konsisten, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa temuan tersebut akurat. Sebaliknya, jika ada perbedaan, maka hal itu justru membuka ruang refleksi dan interpretasi yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Banyak Sosok, Satu Realita</strong></p>



<p>Dalam penelitian ini, kami tidak hanya mencari narasumber sembarangan. Kami memilih sekelompok mahasiswa FISIP UI yang menjalani peran ganda: sebagai pelajar dan pekerja di tengah derasnya arus digital. Mereka adalah representasi nyata dari generasi <em>multitasking</em> yang harus membagi fokus antara kelas Zoom, kerjaan deadline, dan notifikasi media sosial yang tak pernah berhenti. Meski berasal dari berbagai program studi, mulai dari Ilmu Komunikasi hingga Kriminologi, para narasumber ini punya satu kesamaan utama: mereka semua adalah mahasiswa yang kuliah sambil bekerja dan aktif menggunakan media sosial. Ada yang magang di agensi public relations, menjadi presenter, menangani sosial media untuk festival musik, hingga menjalani usaha sendiri sebagai makeup artist dan event organizer. Beberapa dari mereka bekerja dengan jadwal tetap seperti WFO atau <em>hybrid,</em> sementara lainnya mengambil pekerjaan lepas yang waktunya dinamis dan kadang tak terduga. </p>



<p>Para narasumber ini dipilih secara selektif menggunakan metode <em>purposive random sampling</em>. Artinya, mereka dipilih karena memiliki kriteria pengalaman yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu aktif kuliah sambil bekerja, serta intens menggunakan media sosial. Selain itu, mereka juga terbuka untuk berbagi cerita dan refleksi secara mendalam. Mereka bukan hanya informan, tetapi juga <em>storyteller</em> yang membawa kita memahami lebih jauh bagaimana generasi mahasiswa hari ini mengelola waktu, tekanan, dan distraksi digital dalam keseharian mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Ritme Hidup dalam Gambar</strong></p>



<p>Gambar pertama di sebelah kiri merupakan hasil dokumentasi observasi kami terhadap salah satu narasumber di lingkungan kampus, yang diambil dari unggahan Instagram Story miliknya. Gambar di tengah memperlihatkan momen wawancara bersama narasumber lain, sementara gambar ketiga menggambarkan hasil observasi digital terhadap gaya hidup narasumber lain di tengah kesibukannya bekerja, yang juga dibagikan melalui Instagram Story.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="997" height="552" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26.png" alt="" class="wp-image-3776" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26.png 997w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26-300x166.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26-768x425.png 768w" sizes="auto, (max-width: 997px) 100vw, 997px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Media Sosial: Kawan Sekaligus Lawan Produktivitas?</strong></h2>



<p>Jawabannya: media sosial bisa menjadi penyelamat sekaligus jebakan. Tetapi yang menentukan, bukan teknologinya, melainkan penggunanya.</p>



<p>Penelitian kami menemukan bahwa mahasiswa yang memegang dua peran sekaligus (kuliah dan bekerja) tidak hanya rentan terhadap distraksi digital, tetapi juga menunjukkan upaya aktif dalam mengelola penggunaan media sosial secara sadar dan strategis. Mereka bukan sekadar korban notifikasi, tetapi juga aktor yang sadar tujuan.</p>



<p>Hal ini sejalan dengan <em>Uses and Gratification Theory </em>(UGT), yang menjelaskan bahwa individu menggunakan media sosial secara aktif untuk memenuhi kebutuhannya—baik akademik, profesional, hingga relasi (Rubin, 2002). Kami menemukan bahwa sebagian mahasiswa menggunakan media sosial untuk mencari informasi magang, membangun personal branding, hingga mengakses materi kuliah dari komunitas digital.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Kerja di marketing agency bikin aku harus scroll TikTok setiap hari.”<br>— <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Namun, sejalan dengan <em>Digital Distraction Theory</em> (DDT), media sosial juga terbukti bisa mengganggu fokus kerja dan belajar. Mahasiswa mengaku bahwa tanpa kontrol diri, mereka bisa terjebak scrolling tanpa henti, yang menyebabkan kelelahan kognitif, gangguan tidur, dan penurunan kualitas pekerjaan.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Gampang banget capek padahal gak ngapa-ngapain, cuma scroll medsos doang.”<br>— <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Penggunaan media sosial oleh mahasiswa pekerja tidak selalu berjalan lurus. Ada saat di mana mereka menggunakannya untuk tujuan spesifik seperti mencari referensi tugas atau pekerjaan. Namun, dalam hitungan detik, mereka bisa saja terdistraksi oleh konten yang tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang sedang mereka kerjakan.</p>



<p>Fenomena ini sangat relevan dengan <em>Model of Media Multitasking</em> (MMM) (Wiradhany, 2021), yang menjelaskan bahwa individu terus-menerus berpindah antara dua mode penggunaan media: eksploitasi (penggunaan terarah, produktif) dan eksplorasi (penggunaan impulsif, tanpa tujuan).</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size"><br>“Sering, kadang gue mulai dari buka sosmed buat kerjaan, tapi lama-lama jadi lihat konten yang nggak ada hubungannya sama kerjaan.”<br>— <em>Informan RAMY Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Strategi Cerdas Mahasiswa Menjinakkan Sosial Media</strong></h2>



<p>Daripada tunduk pada distraksi, para mahasiswa justru menciptakan strategi kreatif dan aplikatif agar tetap produktif. Inilah bentuk nyata dari <em>Moral Responsibility Theory</em><strong> </strong>(MRT), bahwa individu bertanggung jawab atas bagaimana ia menggunakan media, termasuk bagaimana mengendalikan diri demi menjaga produktivitas (Strawson, 1962).</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png" alt="" class="wp-image-3780" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4-300x225.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4-768x576.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>1. Aktifkan Mode DND (</strong><strong><em>Do Not Disturb</em></strong><strong>)</strong></h3>



<p>Fitur yang terlihat sepele ini justru jadi “tameng utama” para mahasiswa agar tetap fokus, baik saat belajar maupun bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“HP gue tuh selalu DND. Supaya gak ke-distract sama notif atau chat yang gak penting.”&nbsp;                                                                                   — <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Langkah ini menjadi refleksi kontrol diri yang konkret dalam membatasi akses media sosial secara<em> real time</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>2. Teknik Pomodoro</strong></h3>



<p>Bekerja 25 menit, istirahat 5 menit. Metode ini menjadi jurus andalan banyak informan untuk menghindari godaan scrolling berjam-jam.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Kalau lo mau coba, coba aja Pomodoro. Jujur otak gue lebih fokus kalau kayak gitu.”                                                                                          – <em>Informan CHH, Mahasiswi Ilmu Politik </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<p>Dengan membagi waktu kerja dalam interval pendek, mahasiswa dapat menyelesaikan tugas lebih efisien dan terhindar dari godaan <em>multitasking</em> digital.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>3. Batasi Waktu Media Sosial</strong></h3>



<p>Beberapa informan secara sadar mengatur waktu maksimal penggunaan TikTok atau Instagram agar tidak kebablasan.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“TikTok cuma 3 jam sehari. Lebih dari itu, gue stop.”                                                                                                                                                     – <em>Informan SA, Mahasiswi Antropologi </em>(Wawancara, 12 April 2025)</p>



<p>Langkah ini merupakan bentuk kedisiplinan digital yang bertujuan melindungi ritme produktivitas harian.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>4. </strong><strong><em>To-Do List </em></strong><strong>&amp; Skala Prioritas</strong></h3>



<p>Daftar tugas dan skala prioritas bukan hanya membantu fokus, tapi juga menyadarkan mereka kapan harus berhenti dari dunia digital.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">                                                   “Gue baca lagi catatan prioritas gue biar sadar harusnya gak buka TikTok terus.”                                                                                                 &nbsp;– <em>Informan BW, Mahasiswa Sosiologi </em>(Wawancara, 28 April 2025)</p>



<p><em>To-do list</em> menjadi alat sederhana namun efektif untuk memperkuat kontrol diri.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>5. Jadwal Harian &amp; Agenda Digital</strong></h3>



<p>Google Calendar atau agenda manual digunakan untuk menetapkan jam khusus buka media sosial, tanpa mengganggu agenda utama.&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Gue set waktu buat buka media sosial, malam hari aja setelah semua kegiatan kelar.”&nbsp;                                                                                         – <em>Informan AKD, Mahasiswa Ilmu Politik</em></p>



<p>Pengelolaan waktu ini menunjukkan pendekatan strategis dalam menyeimbangkan produktivitas dan relaksasi digital.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>6. Pisahkan Diri dari Smartphone</strong></h3>



<p>Beberapa memilih langkah ekstrem tapi efektif: mengunci atau menyembunyikan HP.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">                                                                     “Kadang gue tutup HP pakai bantal aja biar gak kepegang.”                                                                                                                                      &nbsp;– <em>Informan YS, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Hasil observasi lapangan (FISIP UI, 16 April) juga menunjukkan bahwa Informan YS konsisten tidak menggunakan HP-nya selama kuliah dan justru fokus penuh pada diskusi kelas.</p>



<p>Yang menarik, topik seperti <em>self-control</em>, <em>media sosial positif</em>, dan <em>mental health</em> lebih sering disuarakan oleh mahasiswa perempuan, menunjukkan adanya kesadaran emosional yang lebih ekspresif. Sebaliknya, mahasiswa laki-laki<strong> </strong>cenderung menekankan isu seperti <em>manajemen waktu</em> dan <em>konsumsi jenis konten</em>, mengindikasikan pendekatan yang lebih sistematis terhadap produktivitas digital.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Tantangan Mental Health</strong></h2>



<p>Menjalani dua peran secara bersamaan tentu penuh tantangan. Studi dari UIC School of Health Sciences (2019) menyebutkan bahwa mahasiswa pekerja rentan stres, kelelahan, dan penurunan performa akademik. Temuan kami mendukung hal ini, terutama dalam isu tekanan mental dan manajemen emosi.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Konten media sosial juga bisa trigger insecurity.”<br>— <em>Informan KA</em><em> </em><em>Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<p>Penggunaan media sosial secara intensif, terutama dalam rutinitas padat, ternyata bukan tanpa risiko. Beberapa informan menyebut mengalami <em>burn out</em> digital, yaitu kelelahan akibat terlalu lama berada dalam ekosistem media sosial.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Main sosial media tuh capek, jadi gue tidur. Karena pasti capek.”&nbsp;                                                                                                                          – &nbsp;<em>Informan CHH, </em><em>Mahasiswi Ilmu Politik</em><em> </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-1024x1024.png" alt="" class="wp-image-3783" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-1024x1024.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-300x300.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-150x150.png 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-768x768.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Gejala burnout juga muncul dalam bentuk gangguan pola tidur, kebiasaan bolak-balik aplikasi, dan menurunnya motivasi, seperti yang disampaikan oleh informan BW dan RAMY. Kondisi ini memperlihatkan sisi gelap dari multitasking digital, di mana kelelahan tetap bisa muncul meski mahasiswa merasa &#8220;tidak melakukan apa-apa.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan&nbsp;</strong></p>



<p>Berdasarkan penelitian ini, media sosial memiliki peran ganda dalam kehidupan mahasiswa yang menjalani peran sebagai pelajar sekaligus pekerja. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi alat yang membantu dalam mencari informasi, membangun jaringan, dan mendukung produktivitas melalui strategi pengelolaan waktu dan kontrol diri seperti penggunaan <em>to-do list</em>, penjadwalan, serta memisahkan diri dari smartphone saat fokus. Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai risiko seperti gangguan pola tidur, kelelahan digital (<em>burnout</em>), stres, kecemasan, serta fenomena FOMO yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa.&nbsp;</p>



<p>Penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan manajemen digital dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial agar tetap dapat memanfaatkan manfaatnya secara maksimal sekaligus meminimalisasi dampak negatifnya. Pendekatan strategis seperti mengatur waktu penggunaan, membatasi akses, serta disiplin digital menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas dan relaksasi di era digital ini. Berikut implikasi dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya:</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi:</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Teori Uses and Gratification, Digital Distraction, dan Moral Responsibility efektif menjelaskan perilaku digital mahasiswa, dengan Model Media Multitasking membantu pahami pergeseran antara penggunaan produktif dan impulsif. Mahasiswa pekerja perlu keterampilan manajemen digital untuk mengatur penggunaan media sosial agar tetap produktif, memanfaatkan media sosial secara strategis, serta mengelola waktu dan kesadaran emosional yang seimbang untuk menghindari digital overload dan FOMO.</li>
</ul>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi:</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mahasiswa, kampus, dan perusahaan perlu bekerjasama mengatur penggunaan media sosial dan membangun budaya kerja yang sehat secara digital. Penelitian selanjutnya disarankan memakai metode campuran untuk memahami kontrol diri, emosi, dan identitas digital secara lebih mendalam.</li>
</ul>



<p class="has-large-font-size"><strong>REFERENSI</strong></p>



<p>Abenoja, R., Accion, N., Aguilar, J., Alcasid, M., Amoguis, A., Buraquit, D., &#8230; &amp; Pame, J. (2019). The experiences of working while studying: A phenomenological study of senior high school students. <em>University of Immaculate Conception</em>.</p>



<p>Databoks.katadata.co.id. (2021). <em>Sebanyak 6,98% Pelajar di Indonesia sekolah sambil Kerja: Databoks</em>. Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/ketenagakerjaan/statistik/9b4fdfb71fe22df/sebanyak-698-pelajar-di-indonesia-sekolah-sambil-kerja?</p>



<p>Gunawan, W., Arisanty, M., &amp; Budiman, R. (2023). <em>Preferensi dan perilaku pemanfaatan media mahasiswa perguruan tinggi jarak jauh</em>. <em>BRICOLAGE: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi</em>, 21(2).</p>



<p>Kemp, S. (2025, Feb. 25). <em>Digital 2025: Indonesia – DataReportal – Global Digital Insights</em>.<br><a href="https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia">https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia</a></p>



<p>McCoy, B. R. (2016). <em>Digital distractions in the classroom phase II: Student classroom use of digital devices for non-class related purposes</em>. <em>Journal of Media Education</em>, 7(1), 5–32.</p>



<p>Mukhayer, R., &amp; Bennett-Gillison, F. (2021). <em>The implications of social media use by employees on organizational reputation and productivity</em>.<a href="https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e23326">https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e23326</a>&nbsp;</p>



<p>Rubin, A. M. (2002). <em>The uses-and-gratifications perspective of media effects</em>. In J. Bryant &amp; D. Zillmann (Eds.), <em>Media Effects: Advances in Theory and Research</em> (pp. 525–548). Lawrence Erlbaum Associates.</p>



<p>Strawson, P. F. (1962). <em>Freedom and resentment</em>. <em>Proceedings of the British Academy</em>, 48, 1–25.Zulfikar, F. (n.d.). <em>Mahasiswa Jogja Banyak Yang Kuliah Sambil Kerja: 43 persen Jadi Wirausahawan</em>. Detikedu. <a href="https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-7488439/mahasiswa-jogja-banyak-yang-kuliah-sambil-kerja-43-persen-jadi-wirausahawan">https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-7488439/mahasiswa-jogja-banyak-yang-kuliah-sambil-kerja-43-persen-jadi-wirausahawan</a></p>



<p></p>



<p></p>


<div class="has-text-align-center wp-block-post-author"><div class="wp-block-post-author__avatar"><img alt='' src='https://secure.gravatar.com/avatar/06e7d91c4772542c7e4fc608f98e156751d392e6fd3c0e9ade07ec4fa91f251d?s=48&#038;d=mm&#038;r=g' srcset='https://secure.gravatar.com/avatar/06e7d91c4772542c7e4fc608f98e156751d392e6fd3c0e9ade07ec4fa91f251d?s=96&#038;d=mm&#038;r=g 2x' class='avatar avatar-48 photo' height='48' width='48' /></div><div class="wp-block-post-author__content"><p class="wp-block-post-author__name">Armania Rachmadhani Rizki Putri</p></div></div>


<h6 class="wp-block-heading"><strong>Kelompok 5 MPK Kualitatif Kelas D (Armania Rachmadhani Rizki Putri, Alayya Btari Setyaputri, Adrian Isnadi Kamaruddin, Tsabitah Zhurifa Syakhshiyah, &amp; Nina Naifahani)</strong></h6>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
