<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Dec 2025 07:26:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menabung Tanpa Mengorbankan Kebahagiaan: Praktik Soft Saving Pada Gen Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 1 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 16:10:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Research]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=4437</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup yang serba cepat, banyak Gen Z mulai mencari cara baru untuk mengelola keuangan mereka. Alih-alih mengikuti pola menabung generasi sebelumnya, mereka lebih memilih pendekatan yang lebih fleksibel, yaitu soft saving. Pendekatan ini menjadi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup yang serba cepat, banyak Gen Z mulai mencari cara baru untuk mengelola keuangan mereka. Alih-alih mengikuti pola menabung generasi sebelumnya, mereka lebih memilih pendekatan yang lebih fleksibel, yaitu <em>soft saving</em>. Pendekatan ini menjadi cara menabung untuk masa depan, sambil memberi ruang bagi kebahagiaan di masa kini.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Adib &amp; Nana, Duo Gen Z yang melakukan <em>Soft Saving</em> Demi Kebahagiaan Diri</strong></h2>



<p>Adib dan Nana, dua pekerja swasta yang tinggal dan bekerja di Ibukota Jakarta menjadi bagian dari Gen Z yang menerapkan praktik ini dalam keseharian mereka. Bagi keduanya, menabung bukan soal menahan diri sepenuhnya, melainkan tentang mengatur prioritas agar kebutuhan di masa mendatang tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas hidup saat ini.</p>



<p>Cerita Nana cukup unik. Ia memiliki dua sumber pendapatan, yakni dari pekerjaan utama dan <em>freelance</em> yang masing-masing dialokasikan berdasarkan kebutuhan. Pendapatan dari pekerjaan utama ia sisihkan untuk tabungan jangka panjang, sementara penghasilan dari <em>freelance</em> digunakan untuk konser, liburan, atau membeli <em>wishlist</em> yang telah lama ia incar. Bagi Nana, keseimbangan ini menjadi bagian dari gaya hidup—cara untuk bertahan sekaligus tetap merasa aman di tengah ketidakpastian ekonomi yang kian terasa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-a0d94e0f0e346598ef3bfe0884731ce6"><em>“Aku tetap nabung tapi jadi sekarang kan aku punya dua income ya&#8230; Income dari main job aku sama side job aku. Tapi, pemasukan side job itu adalah buat hal-hal yang aku senang-senang. ‘Main’ tabungan aku itu buat yang nanti&nbsp; jangka panjangnya nanti, yang masih nanti.”</em></p>



<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-6c5ebe163f7632f3307036974c3a8538">Nana (26), Pekerja swasta</p>
</blockquote>



<p>Cerita yang berbeda datang dari Adib. Ia memilih untuk mengatur pengeluaran dengan disiplin melalui <em>budgeting</em>. Sejak awal menerima gaji, Adib sudah menentukan porsi untuk kebutuhan harian, tabungan, dan pengeluaran personal. Baginya, menabung tidak hanya berarti menyimpan uang di tabungan, tetapi juga berinvestasi pada diri sendiri. Mulai dari <em>self care</em>, <em>self-reward</em>, hingga <em>self-development</em> seperti mengikuti kursus dan sertifikasi untuk menunjang karir.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-b8e258b80c5677182a618697314d09cb"><em>“Budgeting… misalnya aku budgeting untuk makan berapa, ojek kantor berapa, untuk hiburan berapa, yang untuk saving itu berapa. Oh platformnya, mungkin kayak nabung, bisa pakai bank Jago nih&#8230; kalau di bank Jago itu ada kayak pocket gitu lah”</em></p>



<p class="has-very-dark-gray-color has-text-color has-link-color wp-elements-cc02b9c010e2936925d14d51aefb73dd">Adib (25), Pekerja swasta</p>
</blockquote>



<p>Meski menjalani strategi yang berbeda, Nana dan Adib berbagi satu kesamaan: keduanya tidak memaknai menabung sebagai praktik yang menyulitkan. Justru sebaliknya, <em>soft saving</em> menjadi alternatif untuk tetap menabung demi masa depan tanpa sepenuhnya mengorbankan kebahagiaan saat ini. Keseimbangan inilah yang mereka anggap paling realistis.</p>



<p>Ternyata, tidak hanya Nana dan Adib yang memilih pendekatan <em>soft saving</em> dalam mengelola keuangan. Pola serupa kini semakin terlihat dalam perilaku finansial Gen Z secara lebih luas. Bagi banyak anak muda Indonesia, menabung tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya membangun rasa aman di masa depan, tetapi juga sebagai cara mempertahankan kendali di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Dalam konteks ini, kenyamanan hari ini dipandang sama pentingnya dengan kesiapan finansial jangka panjang (IDN Research Institute, 2025).</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Untuk Apa Gen Z menabung Hari ini?</strong></h2>



<p>Berdasarkan survei yang dilakukan penulis terhadap 50 responden Gen Z yang bekerja di Jakarta pada November 2025, sebanyak 52% responden menyebut bahwa menjaga keseimbangan antara kestabilan finansial dan menikmati hidup sama pentingnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang menyeimbangkan kebutuhan jangka panjang dan kenyamanan hari ini semakin relevan bagi anak muda.</p>



<p>Tujuan menabung Gen Z tidak lagi berfokus pada satu aspek saja. Investasi jangka panjang masih menjadi prioritas utama, namun kebutuhan akan self-reward dan dana darurat turut menempati posisi penting dalam perencanaan keuangan mereka.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/26573087/embed#?secret=viEGKKfBvd" data-secret="viEGKKfBvd" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong><em>Self-Reward</em> sebagai Sumber Kebahagiaan: Ke Mana Gen Z Mengalokasikan Pengeluaran?</strong></h2>



<p>Ketika berbicara tentang kebahagiaan, prioritas pengeluaran Gen Z bergantung pada kondisi finansial mereka. Gen Z dengan pendapatan di atas Rp 7.000.000 cenderung menghabiskan dana terbesar untuk <strong>hobi</strong> dan <strong><em>fashion</em></strong>. Berbeda dengan kelompok pendapatan Rp 3-4 juta yang lebih fokus pada <strong>makanan</strong> dan <strong>minuman</strong>. Sementara itu, bagi mereka dengan pendapatan di bawah Rp 3.000.000, alokasi dana terbesar justru ditujukan untuk <strong><em>fashion</em></strong>.</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26571925"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26571925/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Temuan tersebut tercermin lebih jelas pada pertanyaan terbuka terkait motivasi di balik praktik <em>soft saving</em>. Berdasarkan survei yang sama, mayoritas responden mengaitkan <em>soft</em> <em>saving</em> dengan kebutuhan akan <em>self-reward</em>. Jawaban yang muncul didominasi oleh <em>traveling</em> dan konser. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas tersebut menjadi salah satu cara untuk menikmati hidup</p>


<div class="infogram-embed" data-id="ac918a0f-33a4-4da7-984e-05fe3110a8fe" data-type="interactive" data-title=""></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Niat Hati ingin Menabung, Tapi…. Tantangan masih Menghampiri</strong></h2>



<p>Di atas kertas, <em>soft saving</em> mungkin terlihat sederhana: menabung tanpa sepenuhnya menekan diri. Namun kenyataannya, menjaga agar tetap konsisten bukan perkara yang mudah. Niat menabung sering kali berhadapan dengan realitas hidup yang penuh distraksi–pengeluaran kecil yang terasa wajar, keputusan spontan yang muncul di tengah rutinitas, hingga kebutuhan tak terduga yang menggeser rencana. Bagi banyak Gen Z, tantangan terbesar bukan terletak pada kemauan untuk menabung, melainkan pada kemampuan mengendalikan batas antara kebutuhan, keinginan, dan rasa ingin “hadiah kecil” untuk diri sendiri. Di titik inilah <em>soft saving</em> menjadi proses yang dinamis: terus dinegosiasikan, diuji, dan disesuaikan dengan kondisi nyata sehari-hari.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/26622313/embed#?secret=3lSzUF8CfE" data-secret="3lSzUF8CfE" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di benak Gen Z?</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>Mengapa mereka berusaha untuk menyeimbangkan tabungan dan gaya hidup meski tantangannya begitu berat?</strong></h3>



<p>Menurut Psikolog Dr. Dyah Triarini Indirasari, fenomena <em>soft saving</em> adalah respons adaptif Gen Z terhadap kondisi zaman sekarang. Praktik ini biasanya muncul ketika kebutuhan dasar, seperti makan dan tempat tinggal sudah terpenuhi. Di titik ini, fokus individu bergeser. Tidak lagi tentang bertahan hidup, tetapi mulai memikirkan cara agar emosional dan kesehatan mental tetap stabil.</p>



<p>Ia menyoroti bahwa bagi Gen Z, definisi “kemewahan” telah berubah. Kemewahan pada generasi ini bukan soal mengumpulkan aset yang mahal seperti generasi sebelumnya, melainkan tentang pengalaman dan kepuasan batin.</p>



<p>Lebih lanjut, terdapat dua dorongan psikologis utama di balik praktik soft saving yang dilakukan Gen Z, simak video berikut!</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Kenapa-Kita-1.mp4"></video></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Bagaimana Cara Soft Saving yang Sehat? Ini Kata Mereka!</strong></h2>



<p>Mencari titik temu antara menikmati saat ini dan mempersiapkan masa depan menjadi tantangan tersendiri. Agar <em>soft saving</em> tetap menjadi praktik yang sehat bagi mental dan finansial, berikut adalah cara yang dapat kamu ikuti!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-724x1024.png" alt="" class="wp-image-4442" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/aving-1.png 1587w" sizes="(max-width: 724px) 100vw, 724px" /></figure>



<p>Referensi <br>IDN Research Institute. (2025). Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/menabung-tanpa-mengorbankan-kebahagiaan-praktik-soft-saving-pada-gen-z/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Kenapa-Kita-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Roblox: Tempat “Kabur” Paling Pas Ketika Sedang Capek dengan Dunia Nyata</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/roblox-tempat-kabur-paling-pas-ketika-sedang-capek-dengan-dunia-nyata/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/roblox-tempat-kabur-paling-pas-ketika-sedang-capek-dengan-dunia-nyata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 7 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 12:54:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3963</guid>

					<description><![CDATA[Bayangkan sebuah negara dengan populasi lebih dari 72 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan total penduduk negara Thailand atau Inggris. Namun, negara ini tidak memiliki tanah, bendera fisik, atau batas wilayah. Negara ini bernama Roblox. Ibarat Roblox adalah sebuah negara...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bayangkan sebuah negara dengan populasi lebih dari 72 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan total penduduk negara Thailand atau Inggris. Namun, negara ini tidak memiliki tanah, bendera fisik, atau batas wilayah. Negara ini bernama Roblox.<br></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1280" height="720" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WUdnquJWWuu73Mbt6Ek3KW.jpg" alt="" class="wp-image-3989" style="width:482px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WUdnquJWWuu73Mbt6Ek3KW.jpg 1280w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WUdnquJWWuu73Mbt6Ek3KW-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WUdnquJWWuu73Mbt6Ek3KW-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WUdnquJWWuu73Mbt6Ek3KW-768x432.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Roblox.com</figcaption></figure>
</div>


<p>Ibarat Roblox adalah sebuah negara yang nyata, maka <strong><em>role playing</em></strong> (RP) adalah kota terbesarnya. Data popularitas <em>game role playing </em>menunjukkan bahwa <em>game</em> yang paling sering dimainkan bukanlah <em>game</em> kompetisi atau adu refleks, tetapi <em>game</em> simulasi seperti <strong>Brookhaven RP</strong> dan <strong>Adopt Me!</strong>.&nbsp;</p>



<p>Kedua <em>game</em> ini memiliki kesamaan, yaitu mereka tidak ditujukan untuk memiliki pemenang. Para pemain justru memainkan <em>game </em>ini untuk menjalani kehidupan virtual, seperti memilih rumah, mengobrol, mengadopsi hewan peliharaan, atau sekedar berjalan-jalan tanpa ada tujuan yang jelas.&nbsp;<br></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/ecbb0079-cf77-4ad6-bd4e-6e898dd9adcc?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Untitled" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/untitled-1hmr6g8jwx7yo2n" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Untitled</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Tingginya minat terhadap genre <em>role playing</em> menunjukkan bahwa Roblox telah bergeser dari sebuah <em>game</em> menjadi apa yang disebut para sosiolog sebagai <strong><em>third place</em> atau tempat ketiga</strong>.</p>



<p>Jika rumah adalah tempat pertama dan sekolah/kantor adalah tempat kedua, maka Roblox adalah tempat ketiga, sebuah ruang digital tempat para pemain dapat berkumpul tanpa harus keluar rumah.</p>



<p>Hal tersebut didukung oleh pernyataan langsung dari para pemainnya. Salah satu narasumber menjelaskan bahwa Roblox menjadi tempat kembali ketika dunia nyata terasa melelahkan:&nbsp;</p>



<p><mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color"><em>“Kalo nongkrong sama temen itu capek, ada waktunya capek main dan energinya capek. Nah, kalau lagi capek-capeknya dan enggak mau diganggu itu waktunya gue main Roblox.”</em></mark></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="441" height="517" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__6619470.jpg" alt="" class="wp-image-4401" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__6619470.jpg 441w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__6619470-256x300.jpg 256w" sizes="auto, (max-width: 441px) 100vw, 441px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salma, 20 tahun.</figcaption></figure>
</div>


<p>Tidak adanya tujuan akhir yang harus dikejar membuat para pemain tidak merasa terburu-buru. Mereka bisa main sebebas mereka, baik hanya masuk sebentar maupun bermain selama mungkin. Pola ini perlahan membentuk sebuah kebiasaan yang lebih dari hanya sesi bermain sesaat.&nbsp;</p>



<p>Kebiasaan ini terlihat jelas pada data keterlibatan pengguna Roblox dari akhir tahun 2018 hingga pertengahan 2025. Jumlah pengguna aktif telah menunjukkan pola yang stabil dari waktu ke waktu.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/534bee0d-1045-4e58-97f3-0414e343bf99?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Untitled" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/untitled-1h0n25opmqkpl4p" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Untitled</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-left">Data ini menunjukkan bahwa Roblox telah menjadi bagian dari rutinitas para pemainnya. Hal ini sesuai dengan jawaban salah satu narasumber kami:&nbsp;<br><em><mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color">“Setiap hari gue main Roblox. gue suka banget game yang namanya Grow a Garden yang selalu ada event berbeda setiap minggunya Setiap main Grow a Garden itu gue main sama temen dan sepupu yang masih kecil jadi sekali main bisa sampe 1-2 jam, tapi kalo cuman ngecek tanamannya sih 30 menit aja. Kalau game lain gue cuma main 2 kali seminggu,” </mark></em><strong><mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color">ujar Salma.</mark></strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="alignleft size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="352" height="352" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/roblox-avatar-zavi-1.png" alt="" class="wp-image-4408" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/roblox-avatar-zavi-1.png 352w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/roblox-avatar-zavi-1-300x300.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/roblox-avatar-zavi-1-150x150.png 150w" sizes="auto, (max-width: 352px) 100vw, 352px" /><figcaption class="wp-element-caption">Zavi, 9 tahun. </figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Bahkan pemain yang masih anak-anak pun ikut menyusun jadwal untuk bermain Roblox. </p>



<p><mark style="background-color:#fbdfcfcf" class="has-inline-color">“<em>Aku main setiap weekend pas dibolehin sama mami, biasanya 1-2 jam”.</em></mark></p>



<p></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Semakin lama berada di Roblox, beberapa pemain bahkan merasa tidak lagi sekedar main <em>game</em>, tetapi benar-benar berada di dunia tersebut. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="alignright size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="954" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__30081029-954x1024.jpg" alt="" class="wp-image-4410" style="aspect-ratio:0.9316511853597671;width:216px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__30081029-954x1024.jpg 954w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__30081029-280x300.jpg 280w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__30081029-768x824.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/S__30081029.jpg 1235w" sizes="auto, (max-width: 954px) 100vw, 954px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kath, 20 tahun.</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p>Misalnya seperti <strong>Kath, 20 tahun</strong>, yang bercerita bahwa </p>



<p><em><mark style="background-color:#f6f5bb" class="has-inline-color">&#8220;Kalau udah setengah jam, aku ngerasa aku udah masuk di dunia itu karena udah fokus dan enggak aware sama dunia sekitar” </mark></em></p>



<p></p>



<p>Dari cerita para pemain, bisa disimpulkan bahwa Roblox menjadi lebih ramai karena memberi ruang yang nyaman kepada para pemainnya untuk berkumpul, berinteraksi, dan hadir tanpa adanya tekanan sosial.</p>



<p>Kebiasaan ini tidak hanya terbentuk pada satu kelompok tertentu. Data demografi menunjukkan bahwa populasi Roblox semakin beragam. Secara gender, pemain laki-laki (52%) dan perempuan (39%) memiliki proporsi yang relatif berimbang, mematahkan stereotipe lama bahwa dunia <em>game</em> hanya didominasi oleh laki-laki.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 70.68% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/16f03ed8-b7a7-4e6a-83f1-8f7b14536324?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Untitled" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/untitled-1h0r6rzw3ypxl4e" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Untitled</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Tidak hanya itu, Roblox kini juga sudah tidak menjadi “mainan orang Barat” saja. Populasi terbesarnya justru berada di kawasan Asia Pasifik (35,7%), melampaui Amerika Serikat dan Kanada (19%). Keragaman ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang ketiga dalam ruang lingkup digital dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh dunia.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-4393" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7-768x432.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7-1536x864.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/UTS-Jurnalisme-Data_Visualisasi-Data-Kelompok-7.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Selama ini, Roblox sering dianggap sebagai <em>game</em> anak-anak. Namun, data berkata lain. Sejak kuartal ketiga tahun 2021, pengguna aktif harian Roblox justru didominasi oleh pengguna berusia 13 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa Roblox tidak hanya dipenuhi oleh anak-anak yang mencari hiburan singkat, tetapi juga remaja dan dewasa yang berada dalam fase paling sosial dalam hidupnya.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 70.68% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/1a38f8a6-f582-4c79-b0c0-a6f7f1ad2ba5?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="robloxia" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: medium; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top-width: 1px; border-top-style: solid; border-top-color: rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/robloxia-1h9j6q75y90g54g" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">robloxia</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Dominasi kelompok usia ini juga menjelaskan mengapa <em>genre role playing</em> menjadi begitu populer. Bagi pemain berusia di atas 13 tahun, daya tarik utamanya terletak pada keberadaan ruang untuk menghabiskan waktu bersama tanpa harus bertemu secara langsung.</p>



<p>Dalam keseharian, Roblox sering digunakan sebagai tempat singgah digital. Aplikasi ini dibuka berulang kali dan sering digunakan dalam durasi panjang, serupa dengan kebiasaan mampir ke tempat nongkrong di dunia nyata. <mark style="background-color:#f6f5bb" class="has-inline-color">Kath bercerita bahwa ia biasanya bermain Roblox 4–5 kali dalam seminggu dan dapat menghabiskan waktu hingga enam jam sehari saat bermain bersama teman-temannya.&nbsp;</mark></p>



<p>Bagi pengguna lain, Roblox berperan sebagai tempat singgah yang lebih singkat, tetapi tetap dibuka secara rutin. Persis seperti <mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color">pengalaman Salma yang menghabiskan waktunya untuk mengecek <em>game </em>Grow a Garden secara rutin setiap harinya</mark>.&nbsp;Pengalaman kedua narasumber menunjukkan bahwa Roblox telah sukses membuat penggunanya betah untuk berlama-lama di dalamnya.</p>



<p>Pada titik ini, Roblox telah melampaui fungsinya sebagai <em>game </em>dan mulai berperan sebagai ruang sosial secara virtual. Oleh karena itu, <em>game</em> simulasi kehidupan menjadi aktivitas yang paling sering dimainkan oleh para penggunanya.</p>



<p>Seperti halnya nongkrong di dunia nyata, cara menampilkan diri menjadi bagian penting dari interaksi sosial tersebut. Di Roblox, hal ini terwujud melalui <strong>avatar </strong>yang memungkinkan pengguna menampilkan identitas diri mereka ataupun versi diri yang mereka bayangkan di hadapan orang lain.</p>



<p>Penampilan avatar menjadi &#8220;wajah pertama&#8221; yang dilihat pemain lain sebelum melakukan interaksi. <mark style="background-color:#eee6f4" class="has-inline-color"><strong>Aira, 15 tahun</strong>, menyebutkan bahwa avatarnya di Roblox merupakan bentuk ekspresi dari gaya yang ia idamkan, tetapi sulit diterapkan di dunia nyata.</mark> Sementara itu,<mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color"> Salma melihat avatar sebagai sosok yang dapat ia dandani sesuai seleranya.</mark></p>



<p>Seiring waktu, pemain menyadari bahwa penampilan avatar memengaruhi dinamika sosial. <mark style="background-color:#deeff9" class="has-inline-color">Salma menyinggung adanya stigma terhadap avatar <em>default</em> atau <em>ava bacon </em>yang sering dianggap pemain baru dan kurang relevan di <em>game </em>tertentu.</mark> <mark style="background-color:#eee6f4" class="has-inline-color">Aira juga melihat bahwa pemain dengan avatar yang sudah dikustomisasi lebih mudah untuk diajak berinteraksi.</mark> Hal ini menunjukkan bahwa sebagaimana di dunia nyata, penampilan di ruang virtual secara tidak sadar juga ikut membentuk sebuah hierarki sosial. Kesadaran ini kemudian mendorong praktik konsumsi oleh para pemainnya. Beberapa pemain membeli <em>item avatar </em>untuk memperkaya pengalaman bermain mereka. Misalnya seperti <mark style="background-color:#eee6f4" class="has-inline-color">Aira yang rela mengeluarkan lebih dari 700 ribu rupiah untuk mempercantik penampilan avatarnya.</mark> Dalam konteks ini, Robux menjadi komponen penting dalam melancarkan proses interaksi di dunia virtual.</p>



<p><sub>*Robux adalah mata uang dalam Roblox yang digunakan untuk membeli <em>item </em>dalam <em>game</em>.</sub></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/e0162e67-198a-4272-a8a3-5db12fdf8aa3?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="y" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/y-1h7v4pd09ly584k" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">y</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Pertumbuhan pendapatan dari penjualan<em> item </em>avatar menggambarkan bagaimana kebutuhan akan representasi diri diterjemahkan menjadi nilai ekonomi yang signifikan. Data ini memperlihatkan bahwa investasi pada avatar merupakan praktik yang dilakukan oleh jutaan pengguna. Semakin lama pemain menghabiskan waktu di Roblox sebagai ruang sosial, semakin penting avatar sebagai simbol kehadiran dan identitas.</p>



<p>Pada akhirnya, Roblox telah berkembang menjadi tempat ketiga yang hadir di tengah penatnya dunia nyata. Di sini, jutaan orang dari berbagai usia tidak lagi mengejar skor atau kemenangan layaknya <em>game </em>lain, tetapi mereka mencari tempat untuk berhubungan dengan pemain lainnya. Dengan <em>role playing</em> sebagai aktivitas utama, Roblox menjadi tempat singgah yang paling tepat untuk para pemainnya.</p>



<p>Identitas virtual melalui avatar juga menjadi cara baru untuk mengekspresikan diri dan membangun status sosial. Pertumbuhan ekonomi di dalamnya membuktikan pula bahwa investasi waktu dan perasaan di dunia virtual sudah sama pentingnya dengan dunia nyata. Lebih dari sekadar aplikasi bermain, Roblox adalah ruang yang menyatukan kehidupan digital dan nyata bagi siapa saja.</p>



<p><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/roblox-tempat-kabur-paling-pas-ketika-sedang-capek-dengan-dunia-nyata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saat Lowongan Naik, Pengangguran Tetap Tinggi?! Eh, Talenta Malah Pergi!</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/saat-lowongan-naik-pengangguran-tetap-tinggi-eh-talenta-malah-pergi/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/saat-lowongan-naik-pengangguran-tetap-tinggi-eh-talenta-malah-pergi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 6 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 10:39:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3960</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Kelompok 6 Journalism Data Sumber: Freepik.com Indonesia memasuki periode yang ganjil dalam dunia ketenagakerjaannya. Di satu sisi, jumlah lowongan kerja resmi yang tercatat pemerintah meningkat dalam tiga tahun terakhir. Namun di sisi lain, jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi justru...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h6 class="wp-block-heading"><strong><em>Oleh: Kelompok 6 Journalism Data</em></strong></h6>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-4105" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3-768x432.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3-1536x864.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Untitled-design-3.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sumber: <a href="https://www.freepik.com/free-photo/young-businessman-holding-his-head-desk_11800285.htm#fromView=search&amp;page=2&amp;position=18&amp;uuid=5fafcb2b-ae76-467e-9a45-06fa09b203d6&amp;query=pengangguran" data-type="link" data-id="https://www.freepik.com/free-photo/young-businessman-holding-his-head-desk_11800285.htm#fromView=search&amp;page=2&amp;position=18&amp;uuid=5fafcb2b-ae76-467e-9a45-06fa09b203d6&amp;query=pengangguran">Freepik.com</a></p>



<p>Indonesia memasuki periode yang ganjil dalam dunia ketenagakerjaannya. Di satu sisi, jumlah lowongan kerja resmi yang tercatat pemerintah meningkat dalam tiga tahun terakhir. Namun di sisi lain, jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi justru ikut naik dan mencapai lebih dari 800.000 orang pada Februari 2024. Di tengah paradoks itu, semakin banyak fresh graduate memilih bekerja di luar negeri, sebuah tren yang kini populer dengan tagar #KaburAjaDulu.</p>



<p>Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa peluang kerja meningkat, tetapi lulusan berpendidikan tinggi justru pergi meninggalkan Indonesia?</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/d3b637e1-1b8a-41e1-9d3e-2785c6fb69c4?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan pengguran dan lowongan kerja" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-pengguran-dan-lowongan-kerja-1hnp27eqxdxjn4g" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan pengguran dan lowongan kerja</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penganggur lulusan diploma dan sarjana sempat membaik pada 2022, turun hingga 673 ribu orang. Namun tren itu tidak bertahan lama. Setelahnya, angka pengangguran kembali naik dan mencapai puncak 1,01 juta orang pada Februari 2025. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perbaikan sementara pada 2022 tidak berlanjut, dan lulusan berpendidikan justru semakin tertekan memasuki tahun 2024.</p>



<p>Di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, angka tersebut memperlihatkan bahwa pasar kerja belum mampu menyerap tenaga terdidik secara optimal.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Lowongan Kerja Naik Drastis, Tapi Siapa yang Mengisinya?</strong></h4>



<p>Berbeda dengan tren penganggur sarjana, jumlah lowongan kerja resmi yang tercatat Kementerian Ketenagakerjaan justru meningkat cepat. Data 2022–2024 memperlihatkan lonjakan ekstrem:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>2022: 59.276 lowongan</strong></li>



<li><strong>2023: 216.972 lowongan</strong></li>



<li><strong>2024: 630.672 lowongan</strong></li>
</ul>



<p>Dalam tiga tahun, jumlah lowongan bertambah lebih dari sepuluh kali lipat. Angka ini memberi kesan positif bahwa kesempatan kerja terbuka lebar. Namun data pengangguran terdidik menunjukkan bahwa peluang tersebut tidak otomatis terisi oleh lulusan perguruan tinggi, menandakan adanya mismatch keterampilan, ekspektasi gaji, atau kualitas pekerjaan yang ditawarkan.</p>



<p><strong>Preferensi Kerja Lulusan Muda, Dalam Negeri atau Luar Negeri?</strong></p>



<p>Di balik angka lowongan kerja yang terus naik di dalam negeri, persepsi lulusan muda justru bergerak ke arah sebaliknya. Bagi banyak Gen Z dan fresh graduate, pasar kerja global terlihat lebih <em>worth it </em>bukan cuma soal gaji, tapi juga soal kepastian hidup dan kualitas kerja.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 60% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/4134a41b-7721-440a-b7b5-b77cba65d7b5?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Pemilihan kerja di Luar negeri dan di dalam negeri" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/pemilihan-kerja-di-luar-negeri-dan-di-dalam-negeri-1h0r6rzww5jgl4e" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Pemilihan kerja di Luar negeri dan di dalam negeri</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Untuk melihat kecenderungan ini lebih dekat, kami menyebarkan kuesioner singkat kepada responden Gen Z mengenai rencana mereka setelah lulus kuliah. Hasilnya menunjukkan bahwa 89 persen responden menyatakan lebih memilih bekerja di luar negeri, sementara hanya 11 persen yang memilih bekerja di dalam negeri. Temuan ini memang tidak dimaksudkan sebagai gambaran nasional, tetapi cukup untuk menunjukkan arah persepsi lulusan muda terhadap pasar kerja yang mereka hadapi.</p>



<p>Preferensi tersebut tidak muncul tanpa alasan. Ketika responden diminta menjelaskan faktor yang mendorong pilihan bekerja ke luar negeri, jawaban yang muncul menunjukkan pola yang relatif seragam.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/ef94bdf6-1303-4fe9-a53f-0b20401997b1?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Alasan bekerja di luar negeri" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/alasan-bekerja-di-luar-negeri-1hmr6g8jjvddz2n" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Alasan bekerja di luar negeri</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Alasan yang paling banyak muncul dalam jawaban responden terkait pilihan bekerja ke luar negeri berkaitan dengan gaji yang lebih besar dan benefit kerja yang lebih banyak. Kedua alasan ini terlihat paling menonjol dibandingkan faktor lainnya, sehingga menjadi pertimbangan yang paling sering disebut oleh responden.</p>



<p>Di luar aspek tersebut, responden juga menyinggung keinginan untuk tinggal di luar negeri, diikuti oleh alasan mengenai fasilitas kerja yang dinilai lebih baik serta peluang karier yang lebih tinggi. Faktor-faktor ini tetap muncul dalam jawaban responden, meskipun dengan frekuensi yang lebih rendah dibandingkan alasan terkait kompensasi.</p>



<p>Pola jawaban ini memberikan gambaran mengenai hal-hal yang dipertimbangkan lulusan muda ketika melihat peluang kerja di luar negeri. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk menarik kesimpulan kausal, tetapi untuk menunjukkan kecenderungan alasan yang paling sering disebut dalam konteks preferensi kerja responden.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Ketika Peluang Dalam Negeri Tak Lagi Menggoda</strong></h4>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/157ee3a0-1ab9-4d73-a6de-de608c119959?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Realisasi PMI" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/realisasi-pmi-1hmr6g8jyx3do2n" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Realisasi PMI</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p>Sementara pasar kerja nasional bergerak dengan dua wajah, tren lain berkembang di kalangan anak muda: bekerja ke luar negeri. Berdasarkan data BP2MI, jumlah penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) kembali naik sejak 2022 dan diproyeksikan mencapai angka tertinggi sepanjang 2015–2026 pada tahun 2026 nanti.</p>



<p>Pascapandemi, minat bekerja di luar negeri meningkat tajam, terutama dari kalangan muda terdidik yang melihat negara lain sebagai tempat membangun CV, mengumpulkan modal, atau sekadar mencari lingkungan kerja yang dianggap lebih profesional.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Suara Lulusan Muda: “Kalau Kesempatan Nggak Ada di Sini, Ya Cari di Luar.”</strong></h4>



<p>Untuk melihat sisi manusianya, kami mewawancarai seorang fresh graduate berinisial A, yang mUntuk melihat sisi manusianya, kami mewawancarai seorang fresh graduate berinisial A, yang memutuskan mengikuti program kerja luar negeri. Ia mengaku sempat melamar di banyak perusahaan dalam negeri namun justru menemukan lebih banyak kepastian dari peluang luar negeri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau di sini gajinya kecil, prosesnya lama, dan saingannya banyak. Di luar negeri, meski berat, setidaknya jelas jalurnya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keputusan itu bukan sekadar ikut-ikutan tren, tetapi refleksi dari rasa frustrasi terhadap pasar kerja domestik.</p>
</blockquote>



<p>Pengalaman seperti ini bukan kasus tunggal. Di TikTok, Instagram, dan YouTube, semakin banyak konten yang mendorong generasi muda mencoba peruntungan ke luar negeri, bahkan sebelum menghabiskan satu semester mencari kerja di Indonesia.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Antara Peluang Global dan Risiko Brain Drain</strong></h4>



<p>Di satu sisi, meningkatnya mobilitas tenaga kerja terdidik dapat memperluas pengalaman profesional anak muda Indonesia. Mereka mendapatkan exposure internasional, gaji lebih tinggi, dan kemampuan baru yang kelak dapat dibawa pulang.</p>



<p>Namun ada sisi lain yang perlu diwaspadai: <em><strong>brain drain</strong></em>, yaitu berkurangnya SDM unggul di dalam negeri akibat arus tenaga terampil yang memilih bekerja di luar. Bila tren ini terus naik sementara pasar kerja domestik tidak membaik, Indonesia dapat menghadapi kekurangan talenta di berbagai sektor strategis.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Ke Mana Indonesia Harus Melangkah?</strong></h4>



<p>Untuk keluar dari paradoks ini, ada tiga rekomendasi utama:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Perbaiki kualitas pekerjaan dalam negeri</strong>, terutama transparansi gaji, jenjang karier, dan kondisi kerja.</li>



<li><strong>Perkuat jembatan antara pendidikan dan industri</strong>, agar lulusan tidak sekadar terdidik, tetapi siap kerja.</li>



<li><strong>Bangun ekosistem talent retention</strong>, sehingga anak muda melihat Indonesia sebagai tempat karier yang prospektif.</li>
</ol>



<p>Banyaknya lowongan tidak cukup bila tidak dibarengi kualitas dan kesesuaian yang dibutuhkan lulusan berpendidikan. Di tengah globalisasi peluang kerja, Indonesia perlu menciptakan alasan kuat bagi talenta mudanya untuk tetap berkembang di dalam negeri.</p>



<p>Fenomena ini lebih dari sekadar angka: ia adalah cerita tentang harapan, kekecewaan, dan pilihan hidup generasi muda Indonesia. Dan selama pemilik gelar masih merasa bahwa “masa depan lebih cerah di luar negeri”, paradoks ini akan terus berulang, meski lowongan kerja di dalam negeri bertambah setiap tahun.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/saat-lowongan-naik-pengangguran-tetap-tinggi-eh-talenta-malah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghabiskan Uang Rp100,000 di Blok M: Potret Pola Konsumsi Gen Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z-2/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 8 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 08:44:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=4360</guid>

					<description><![CDATA[Blok M kini telah menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kalangan anak muda khususnya Gen Z. Popularitas ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Semenjak revitalisasi, Blok M tidak lagi dikenal sebagai pusat perbelanjaan lama Jakarta, melainkan telah bertransformasi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1024x576.png" alt="" class="wp-image-4343" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-2048x1152.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Blok M kini telah menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kalangan anak muda <strong>khususnya Gen Z. </strong>Popularitas ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Semenjak revitalisasi, Blok M tidak lagi dikenal sebagai pusat perbelanjaan lama Jakarta, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang berkumpul yang “<em>hits</em>”<em> </em>bagi anak muda alias Gen Z.&nbsp;</p>



<p>Blok M mampu menawarkan kombinasi yang sulit untuk diabaikan. Akses transportasi yang mudah dari berbagai daerah, <strong>berbagai pilihan</strong> tempat <em>nongkrong</em>, tempat kuliner yang berdekatan dan bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Kulinernya, mulai dari makanan berat, minuman kekinian, hingga <em>dessert </em>viral, semuanya hadir dalam satu kawasan yang sama dan <strong>terus bertambah</strong>. Hal ini membuat orang-orang yang datang ke Blok M untuk satu tujuan saja seringkali berakhir pada beberapa tujuan pemberhentian lainnya.&nbsp;</p>



<p>Dengan itu, timbul suatu pertanyaan menarik, apakah uang Rp100.000 yang sebenarnya merupakan nominal cukup besar, akan terasa cepat habis jika berkunjung ke Blok M? Lalu, bagaimana sebenarnya nilai uang Rp100.000 digunakan oleh Gen Z saat berkunjung ke Blok M?&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26825192"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26825192/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>





<p>Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 40–44 tahun memiliki rata-rata pendapatan tertinggi, yaitu sekitar Rp3.700.000 per bulan. Sementara itu, pendapatan terendah terdapat pada kelompok Gen Z usia 15–19 tahun dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp2.300.000 per bulan. Kelompok dengan pendapatan terendah kedua juga masih berasal dari Gen Z, yakni rentang usia 20–24 tahun dengan pendapatan sekitar Rp2.900.000 per bulan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa saat ini Gen Z merupakan kelompok generasi dengan tingkat pendapatan <strong>paling rendah </strong>dibandingkan kelompok usia lainnya.&nbsp;</p>



<p>Berangkat dari data tersebut, tim kemudian melakukan wawancara bersama dengan 4 Gen Z yang aktif mengunjungi Blok M untuk memahami lebih jauh berapa pendapatan bulanan mereka dan bagaimana uang tersebut dihabiskan saat berkunjung ke Blok M.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4327" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber S ketika ditanyakan terkait kunjungannya berapa kali dalam sebulan ke Blok M. </p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Sebulan tuh sebenarnya tergantung, kalo liburan, tuh biasanya aku bisa tiga sampai empat kali, bahkan pernah waktu itu aku ke Blok M lima kali dalam sebulan. Tapi kalau misalnya kayak hari-hari udah masuk kuliah gitu minimal sebulan tuh kayak sekali atau dua kali gitu.”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dari hasil keempat wawancara menunjukkan bahwa Blok M bukan sekadar destinasi sesekali. Mereka bisa datang ke Blok M sebanyak 2-4 kali dalam sebulan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4328" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber S dan S ketika ditanyakan terkait pemasukannya dalam sebulan.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Kalau rangenya sih Rp1.500.000 sampai Rp2.000.000/bulan, dan dari uang jajan itu pengeluaran dalam sebulan sekitar kayaknya bisa satu jutaan lah ya.”&nbsp;</em></p>



<p><em>“Rp3.000.000, pengeluaran sama”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dari sisi pemasukan, narasumber rata-rata memiliki pendapatan sekitar Rp3.000.000 per bulan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4329" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber C dan R ketika ditanyakan terkait berapa uang jajan yang dihabiskan sekali berkunjung ke Blok M.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Biasanya nyiapin minimal Rp500.000, sih, tapi itu udah kayak mencakup semuanya, kayak transportasi, dan emergency, dan lain lain.”&nbsp;</em></p>



<p><em>“Rp300.000 buat aman bcos me a muncher, dan biasanya kakak-kakak pada nitip makanan”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dalam satu kunjungan ke Blok M, mereka rata-rata menghabiskan Rp200.000 hingga Rp300.000. Jika dikalkulasikan, dengan intensitas kunjungan 2–4 kali per bulan, total pengeluaran mereka di Blok M bisa mencapai Rp600.000 hingga Rp1.200.000 per bulan. Artinya, <strong>hampir setengah</strong> dari pendapatan bulanan mereka habis hanya untuk aktivitas di Blok M. Berdasarkan pengakuan narasumber, pengeluaran tersebut belum termasuk kebutuhan harian lain seperti transportasi, makan sehari-hari, hingga pengeluaran rutin lainnya</p>



<p>Temuan ini menunjukkan bahwa pengeluaran Gen Z di Blok M tergolong cukup besar, bahkan melampaui uang Rp100.000 yang dibahas pada awal artikel ini. Di tengah pendapatan mereka yang relatif terbatas, Blok M tetap menjadi magnet yang sulit ditinggalkan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Gen Z terus datang, berkali-kali, dan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit di kawasan ini?</p>


<p><iframe loading="lazy" src="https://www.google.com/maps/d/embed?mid=1amx7Srv7AbBFdlqw9IaLLsUCBMvqErM&#038;ehbc=2E312F&#038;noprof=1" width="640" height="480"></iframe></p>



<p>Salah satu faktor utama yang menjelaskan tingginya minat Gen Z terhadap Blok M adalah kemudahan akses transportasi umum. Kawasan ini terhubung dengan berbagai moda transportasi, menjadikannya <strong>mudah dijangkau </strong>dari banyak titik di wilayah Jabodetabek.</p>



<p>Berdasarkan visualisasi rute menuju Blok M, terlihat bahwa kawasan ini menawarkan beragam pilihan transportasi dari berbagai wilayah, mulai dari Bogor, Alam Sutera, hingga Rangkasbitung. Moda yang tersedia pun beragam, seperti TransJakarta, KRL, MRT, hingga JakLingko. Dari seluruh opsi tersebut, TransJakarta menjadi moda yang paling banyak rutenya, dengan <strong>total 23 rute yang mengarah ke Blok M.</strong></p>



<p>Kemudahan akses ini semakin diperkuat oleh tata kawasan yang <strong>mendukung mobilitas pejalan kaki</strong>. Jarak antara titik pemberhentian transportasi, seperti stasiun, halte, dan terminal, dengan area kuliner di sekitar Blok M relatif dekat. Kondisi ini membuat Blok M terasa ramah bagi pejalan kaki dan memudahkan pengunjung<strong> </strong>untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu membawa kendaraan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4330" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Salah satu narasumber mengungkapkan bahwa Blok M menjadi pilihannya karena kemudahan akses transportasi umum, <strong>terutama MRT</strong>. Faktor inilah yang menjadi daya tarik utama dan mendorongnya untuk terus kembali ke Blok M.&nbsp;</p>


<p><iframe loading="lazy" src="https://www.google.com/maps/d/u/0/embed?mid=1gXltbJoj2UDQsoE-UGcUtP2UFVkBgkU&#038;ehbc=2E312F&#038;noprof=1" width="640" height="480"></iframe></p>



<p>Selain kemudahan <strong>akses transportasi</strong>, daya tarik lain yang membuat kawasan Blok M terus ramai dikunjungi adalah beragamnya pilihan kuliner. Visualisasi peta diatas menunjukkan persebaran tempat kuliner di Blok M. Terdapat 52 titik kuliner yang jaraknya sangat berdekatan, dengan jarak antar lokasi rata-rata hanya <strong>sekitar 200 hingga 400 meter</strong>.&nbsp; Jarak yang relatif dekat ini membuat kawasan Blok M terasa sangat ramah bagi pejalan kaki.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4331" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber C ketika ditanyakan terkait alasan pergi ke Blok M</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Sebenernya kayak karena udah kenal aja sih sama tempatnya, dan dia juga kayak banyak spot, gak cuma satu gitu spot buat nongkrong, ngumpul-ngumpul gitu, jadi kayak lebih betah aja sih di.. Blok.. M, dan dia juga ada ditengah gitu, kayak dijaksel, jadi kadang tuh titik yang paling tengah itu Blok M”</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Banyaknya tempat yang dapat dikunjungi secara berdekatan menjadi salah satu alasan utama narasumber untuk datang ke Blok M. Deretan tempat makan <em>viral </em>yang terus bertambah membuat pengunjung <strong>tidak akan pernah kehabisan pilihan. </strong>Tanpa disadari, aktivitas berjalan sambil “melihat-lihat” mendorong orang-orang yang datang untuk mencoba berbagai tempat yang dilihat. Pola inilah yang secara perlahan membuat pengunjung <strong>menghabiskan lebih banyak uang</strong> setiap kali berkunjung ke Blok M.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4332" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit.png 1500w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Keempat narasumber juga menyebutkan memiliki setidaknya tiga tempat favorit yang mereka kunjungi setiap kali datang ke Blok M, sehingga kecil kemungkinan mereka hanya singgah di satu tempat tiap ke Blok M.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26893052"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26893052/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Jika dilihat dari data di atas, kisaran harga yang paling umum di Blok M berada di rentang Rp50.000 hingga Rp75.000 per menu. Dengan standar harga tersebut, tidak mengherankan jika para narasumber dapat menghabiskan <strong>lebih dari Rp100.000</strong> hanya untuk jajan di tiga tempat berbeda. Dalam konteks ini, uang sebesar Rp100.000 rasanya akan cepat habis saat berkunjung ke Blok M. Untuk standar makanan harian di DKI Jakarta, angka tersebut jelas tergolong cukup tinggi karena bagi sebagian orang bisa setara dengan biaya makan untuk beberapa hari.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26837956"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26837956/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran makanan per bulan di DKI Jakarta tercatat sekitar Rp1.100.000, atau setara dengan kurang lebih Rp36.000 per hari. Jika angka ini dijadikan acuan, satu kali kunjungan ke Blok M saja sudah dapat menghabiskan jatah makan harian tersebut. Bahkan, ketika pengunjung mencoba <strong>lebih dari satu tempat</strong>, total pengeluaran tentu akan jauh lebih besar.</p>



<p>Namun, tingginya harga makanan di Blok M tidak semata-mata disebabkan oleh pola konsumsi Gen Z. Faktor struktural seperti inflasi juga turut berperan.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26904184"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26904184/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Berdasarkan grafik di atas yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bahan makanan di Indonesia pada periode November 2024 hingga November 2025 berada di kisaran 4%. Kenaikan ini secara langsung memengaruhi harga bahan pangan. Peningkatan harga bahan pangan tersebut turut memengaruhi pelaku usaha kuliner, termasuk pelaku usaha kuliner di Blok M. </p>



<p>Inflasi menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong kenaikan harga makanan dari waktu ke waktu. Untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka, para pelaku usaha harus <strong>menyesuaikan harga jual</strong> <strong>kepada konsumen</strong>. Di sisi lain, gaya konsumsi Gen Z yang gemar mencoba banyak tempat dalam satu kunjungan turut <strong>memperbesar total pengeluaran</strong> saat berada di Blok M.</p>



<p>Lantas, apakah uang Rp100.000 terasa cepat habis di Blok M? Jawabannya: ya. Cukup dengan satu kunjungan saja mampu menghabiskan dua hingga tiga kali lipat dari nominal tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa <strong>Rp100.000 bukan lagi jumlah yang besar</strong> saat berkunjung ke kawasan Blok M, yang kini telah bertransformasi menjadi destinasi pilihan tiap akhir pekan favorit anak muda Jakarta.</p>



<p>Meski begitu, tingginya pengeluaran di Blok M bukanlah hasil dari keputusan konsumsi yang murni irasional. Berbagai faktor turut berperan dibaliknya, mulai dari inflasi, desain kawasannya yang mendorong eksplorasi, hingga dorongan gaya hidup perkotaan yang mendukung perilaku konsumtif tersebut.&nbsp;Kondisi ini menjadi <strong>dilema tersendiri</strong> bagi anak muda, khususnya Gen Z. Dengan <em>purchasing power</em> yang terbatas yaitu pendapatan rata-rata di bawah generasi lainnya, Blok M tetap menjadi magnet yang sulit ditolak.<strong> Kalau kamu, bagaimana? Apakah akan hanya membawa uang Rp100.000 saat berkunjung ke Blok M? </strong></p>



<p><strong>Referensi:</strong><br>Badan Pusat Statistik Indonesia. (28 Desember 2023). <em>Rata-rata Upah/Gaji Bersih Sebulan Buruh/Karyawan/Pegawai Menurut Kelompok Umur dan Jenis Pekerjaan, 2024</em>. Diakses pada 8 November 2025, dari <a href="https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MjIzMiMx/rata-rata-upah-gaji-bersih-sebulan-buruh-karyawan-pegawai-menurut-kelompok-umur-dan-jenis-pekerjaan--2024.html">https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MjIzMiMx/rata-rata-upah-gaji-bersih-sebulan-buruh-karyawan-pegawai-menurut-kelompok-umur-dan-jenis-pekerjaan&#8211;2024.html</a>&nbsp;</p>



<p>Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. <em>Rata-rata Pengeluaran per Kapita Sebulan Makanan dan Bukan Makanan di Daerah Perkotaan dan Perdesaan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi DKI Jakarta (rupiah), 2024</em>. Diakses pada 20 November 2025, dari <a href="https://jakarta.bps.go.id/id/statistics-table/3/V1ZKMWVrSTNOek5ZZUZOcVZEZGFValJvV0hWalFUMDkjMw==/rata-rata-pengeluaran-per-kapita-sebulan-makanan-dan-bukan-makanan-di-daerah-perkotaan-dan-perdesaan-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-dki-jakarta--rupiah---2024.html?year=2024">https://jakarta.bps.go.id/id/statistics-table/3/V1ZKMWVrSTNOek5ZZUZOcVZEZGFValJvV0hWalFUMDkjMw==/rata-rata-pengeluaran-per-kapita-sebulan-makanan-dan-bukan-makanan-di-daerah-perkotaan-dan-perdesaan-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-dki-jakarta&#8211;rupiah&#8212;2024.html?year=2024</a>&nbsp;</p>



<p>Badan Pusat Statistik Indonesia. (1 Desember 2025). <em>Inflasi year-on-year (y-on-y) pada November 2025 sebesar 2,72 persen</em>. Diakses pada 3 Desember 2025, dari <a href="https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/12/01/2486/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-november-2025-sebesar-2-72-persen.html">https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/12/01/2486/inflasi-year-on-year&#8211;y-on-y&#8211;pada-november-2025-sebesar-2-72-persen.html</a></p>



<p>Transjakarta. (n.d.). Menghubungkan Kehidupan Jakarta. <a href="https://www.transjakarta.co.id/">Diakses pada 20 November 2025, dari https://www.transjakarta.co.id/</a> <br></p>



<p></p>



<p class="has-very-light-gray-to-cyan-bluish-gray-gradient-background has-background has-small-font-size"></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Pola Kecelakaan Mahasiswa dan Pelajar di DKI Jakarta 2023–2025</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/mengungkap-pola-kecelakaan-mahasiswa-dan-pelajar-di-dki-jakarta-2023-2025/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/mengungkap-pola-kecelakaan-mahasiswa-dan-pelajar-di-dki-jakarta-2023-2025/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 2 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 06:40:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu Lintas]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3962</guid>

					<description><![CDATA[Kamu seorang mahasiswa atau pelajar sat-set dengan tingkat mobilitas tinggi? Sering bertarung di tengah lalu lintas Jakarta yang ingar-bingar? Sering gak sih liat orang kebut-kebutan di jalan, nyelip kanan-kiri, bahkan sampai menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan ngerugiin orang lain? Angka...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Sound-Effect-Kemacetan-Jalan-Raya.mp3" autoplay></audio></figure>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1920" height="1080" class="wp-block-cover__image-background wp-image-4128 size-full" alt="" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1.png" style="object-position:34% 66%" data-object-fit="cover" data-object-position="34% 66%" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1.png 1920w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Your-paragraph-text-1-1536x864.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim-10 has-background-dim" style="background-color:#514d40"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size"></p>
</div></div>



<p>Kamu seorang mahasiswa atau pelajar <em>sat-set</em> dengan tingkat mobilitas tinggi? Sering bertarung di tengah lalu lintas Jakarta yang ingar-bingar? Sering <em>gak sih</em> liat orang kebut-kebutan di jalan, <em>nyelip </em>kanan-kiri, bahkan sampai menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan <em>ngerugiin</em>  orang lain?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" autoplay controls loop muted src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Video-2025-12-12-at-22.20.45.mp4" playsinline></video></figure>



<p>Angka di atas, bukan sekedar nominal… Tapi, jumlah kecelakaan lalu lintas di Jakarta dari tahun 2023 &#8211; 2025. Coba <em>bayangin</em>, setiap kali kamu lewat jalanan Jakarta, ada kemungkinan besar seseorang, di jam yang sama, di ruas yang nggak jauh berbeda, lagi mengalami kecelakaan.&nbsp;</p>



<p>Dengan skala sebesar ini, dampaknya bukan sekadar catatan statistik. Ia berubah jadi cermin bahwa keselamatan di jalan raya Jakarta sedang berada di titik yang perlu perhatian serius, terutama bagi mereka yang mobilitas hariannya tinggi. Dan di antara semua kelompok, mahasiswa adalah salah satu yang paling aktif bolak-balik menembus lalu lintas kota. Kuliah, kegiatan organisasi, kerja sambilan, sampai urusan nongkrong membuat mereka hampir selalu berada di jalan pada jam-jam paling padat.</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Siapa yang Paling Sering Terlibat Kecelakaan?</h2>


<div class="flourish-embed flourish-pictogram" data-src="visualisation/26913185"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26913185/thumbnail" width="100%" alt="pictogram visualization" /></noscript></div>



<p>Kalau dilihat berdasarkan jenis pekerjaan, kelompok yang paling banyak terlibat kecelakaan adalah pegawai swasta. Masuk akal, karena mayoritas dari mereka punya jam kerja tetap yang memaksa mereka turun ke jalan pada puncak kepadatan. Di posisi berikutnya ada para wiraswasta. Aktivitas mereka lebih fleksibel, tapi justru karena dinamika pekerjaan yang menuntut mobilitas sepanjang hari, antar barang, ketemu klien, ke pasar, ke lokasi usaha, intensitas mereka di jalan tetap tinggi.</p>



<p>Kemudian muncul mahasiswa sebagai kelompok ketiga terbanyak. Meski mahasiswa bukan pekerja penuh waktu, pola mobilitasnya padat dan tidak kalah intens. Jadwal kuliah yang berpencar, kegiatan kampus yang berlapis, kerja <em>part-time</em>, hingga aktivitas sosial membuat mereka berkali-kali keluar masuk jalanan dalam sehari. Mobilitas harian yang tidak bisa ditunda, ditambah preferensi memakai motor karena cepat dan terjangkau, menempatkan mereka dalam ritme perjalanan yang tinggi, sehingga wajar kalau tingkat keterlibatannya signifikan dalam data kecelakaan di Jakarta.</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Ketika Motor Jadi Moda Utama</h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Gue waktu itu dua kali pernah kecelakaan. Dua-duanya itu masih TK, masih kecil. Yang pertama itu gue lagi naik motor sama mbak.”</em> &#8211; S, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Mobilitas saya selama ini tuh pergi-pergi kemana-mana ya saya kurang lebih setiap minggunya pulang pergi kampus menggunakan motor gitu”</em> &#8211; D, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<p>Cerita dari teman kita diatas, menunjukan bahwa mereka sering menggunakan motor sebagai transportasi. Bukan sekedar alat transportasi, motor sudah menjadi kuda besi yang menemani mereka di kerasnya jalanan Jakarta. Menembus kemacetan, opsi ekonomis, dan penyelamat di tengah kemacetan menuju kelas pagi.</p>



<p>Dan pola penggunaan ini terlihat jelas ketika kita melihat datanya. Motor menempati posisi paling&nbsp; sebagai kendaraan yang paling sering terlibat kecelakaan. Dominasi ini bukan kebetulan, ketika sebagian besar mahasiswa menggantungkan mobilitasnya pada roda dua, otomatis eksposur mereka terhadap risiko di jalan pun meningkat. Motor memberi kebebasan bergerak, tapi juga posisi yang lebih rentan dalam lalu lintas yang padat.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="b7fd1ad7-7c0b-476b-b095-264f3fec7072" data-type="interactive" data-title="JENIS KENDARAAN"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/jenis-kendaraan-1h9j6q75y9q554g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">JENIS KENDARAAN</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Tingginya frekuensi pengemudi roda dua yang mengalami kecelakaan lalu lintas sejalan dengan frekuensi penggunaan kendaraan roda dua di Jakarta, terutama oleh mahasiswa dan pelajar. Dominasi motor dalam kehidupan mahasiswa dan pelajar menjelaskan mengapa roda dua muncul begitu besar dalam data keterlibatan kecelakaan, sebuah cerminan langsung dari bagaimana mereka bergerak setiap hari di kota.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Dampak yang Tak Sekadar Luka di Jalanan</h2>



<p>Kecelakaan bagi mahasiswa tidak hanya berdampak secara materil, dampaknya merembet ke banyak sisi kehidupan mahasiswa, mulai dari kesehatan fisik hingga kesehatan mental yang mengganggu aktivitas kuliah. Dampak yang dirasakan nyata, terasa, dan sering kali mengubah rutinitas mereka dalam hitungan detik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Helmnya juga baret-baret dan luka-luka juga</em>” &#8211; D, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em> Muka gue tuh udah pada berdarah</em> waktu itu” &#8211; S, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<p>Dari pengalaman tersebut, terlihat bagaimana kerugian fisik pada korban bisa langsung memberikan dampak langsung kepada aktivitas sehari-hari para mahasiswa. Berbagai bentuk luka dari yang ringan sampai berat, dapat memberikan efek nyata seperti trauma yang di alami salah satu mahasiswa yang kami wawancara, ia mengatakan</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Kalau misalnya ada pilihan naik mobil gue pasti akan naik mobil. Gue ga suka naik motor</em>”                                &#8211; S, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<p>Ia mengatakan hal tersebut karena pernah beberapa kali terlibat dalam kecelakaan motor sehingga sekarang memiliki trauma ketika harus naik motor. Pengalaman itu memberikan perspektif baru tentang dampak dari kecelakaan yang bisa merantai ke berbagai aspek seperti, absen kuliah atau tidak bisa mengikuti kegiatan kampus. Pemulihan yang memakan waktu juga menambah tekanan, terutama ketika tanggung jawab akademik tetap berjalan.</p>



<p style="font-style:normal;font-weight:600">Dari sini, dampaknya mengalir ke sisi lain yang tak kalah berat: kerugian material.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="5746e7e2-13be-4149-9d51-f49f21e35689" data-type="interactive" data-title="Untitled"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/untitled-1hnq41opqz1kp23" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Untitled</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Data menunjukkan bahwa Jakarta Timur muncul sebagai wilayah dengan kerugian tertinggi, memperlihatkan bahwa intensitas insiden di sana berdampak langsung terhadap besarnya biaya yang harus ditanggung.</p>



<p>Bagi mahasiswa, kerugian material ini sangat terasa. Motor yang rusak berarti hilangnya akses mobilitas utama, dan biaya perbaikan yang tidak murah sering kali harus ditanggung dari uang bulanan atau tabungan yang terbatas. Akhirnya, kecelakaan tidak hanya meninggalkan bekas luka, tetapi juga beban finansial yang memaksa mereka mengubah rencana, menunda pengeluaran, dan menata ulang keseharian yang sudah padat sejak awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Mengurai Akar Masalah di Balik Insiden Jalan Raya</h2>



<p>Jika dampak kecelakaan terasa hingga kesehatan dan finansial mahasiswa, maka penyebabnya pun tidak bisa dilihat sebagai satu faktor tunggal. Cerita para korban menunjukkan bahwa kecelakaan di jalanan Jakarta, lahir dari banyak risiko yang hadir bersamaan, mulai dari kondisi jalan, dinamika lalu lintas, hingga respons pengendara itu sendiri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Waktu itu kayaknya jalanannya tuh bener-bener baru dan licin, kayaknya bahkan harusnya belum bisa dilewatin.” &#8211; S, Mahasiswa.</p>
</blockquote>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26795181"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26795181/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Berdasarkan data, faktor manusia tercatat sebagai penyebab yang berkontribusi paling besar pada kecelakaan lalu lintas. Di bawahnya, infrastruktur muncul sebagai kontributor signifikan, kombinasi dua faktor ini memperlihatkan bahwa risiko tidak berdiri sendiri; ia saling menguatkan dan memperbesar peluang kecelakaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Pas lagi bawa kenceng, itu di depan saya tuh ada udah ada sekitar dua motor yang jatuh. Karena keadaan lagi kenceng banget, sulit tuh untuk menghindar dari mereka, akhirnya saya ikut jatuh juga.” &#8211; D, Mahasiswa.</p>
</blockquote>



<p>Pengalaman teman kita ini memperlihatkan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kelalaian individu. Ia merupakan hasil dari interaksi antara pengendara yang terus dikejar waktu, kondisi jalan yang belum aman, serta lalu lintas Jakarta yang bergerak cepat dan tak memberi banyak ruang untuk salah langkah.</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Di Mana Titik Paling Rawan?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/26557776/embed#?secret=5ds3MzlCap" data-secret="5ds3MzlCap" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Heatmap lokasi kecelakaan memberi gambaran yang jauh lebih tegas tentang bagaimana risiko tersebar di Jakarta. Warna yang semakin pekat menandakan wilayah dengan intensitas kecelakaan tertinggi, dan di peta ini, Jakarta Timur tampak mencolok sebagai wilayah yang paling “biru”</p>



<p>Dominasi warna tersebut bukan sekadar visual yang kontras, ia mencerminkan tingginya frekuensi insiden yang terjadi di kawasan tersebut. Mobilitas penduduk yang besar, jaringan jalan yang berlapis antara permukiman dan jalur utama, serta pergerakan harian yang padat membuat wilayah ini menjadi salah satu pusat aktivitas yang penuh tekanan. Semakin banyak pergerakan, semakin besar pula peluang terjadinya kecelakaan.</p>



<p>Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa risiko keselamatan tidak tersebar merata. Ada area yang menyimpan tingkat kerawanan jauh lebih tinggi, dan Jakarta Timur adalah salah satu contohnya. Melihat pola ini membantu kita memahami bahwa upaya penanganan tidak bisa generik, wilayah dengan kontras warna tertinggi memerlukan perhatian, intervensi, dan pembenahan yang lebih terfokus agar risiko dapat ditekan secara nyata.</p>



<h2 class="wp-block-heading" style="font-style:normal;font-weight:700">Mengapa Keselamatan Mahasiswa Tak Bisa Lagi Dianggap Sepele</h2>



<p>Kecelakaan lalu lintas di Jakarta merupakan bagian dari mobilitas kota yang padat dan serba cepat. Bagi mahasiswa, jalanan adalah ruang yang harus ditembus setiap hari, dengan motor sebagai pilihan utama. Frekuensi perjalanan yang tinggi, tekanan waktu, dan kondisi jalan yang belum aman membuat risiko kecelakaan melekat pada rutinitas mereka.</p>



<p>Meski perbaikan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak, mahasiswa tetap perlu lebih waspada. Mengurangi kecepatan, menjaga jarak, dan berhati-hati di area gelap atau jalan tidak rata bisa menjadi langkah kecil yang mencegah konsekuensi besar. Di tengah ritme kota yang cepat, sedikit kehati-hatian sering kali cukup untuk menyelamatkan perjalanan.</p>



<p><a href="https://pusiknas.polri.go.id/laka_lantas">https://pusiknas.polri.go.id/laka_lantas</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/mengungkap-pola-kecelakaan-mahasiswa-dan-pelajar-di-dki-jakarta-2023-2025/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Sound-Effect-Kemacetan-Jalan-Raya.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp-Video-2025-12-12-at-22.20.45.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Menghabiskan Uang Rp100,000 di Blok M:  Potret Pola Konsumsi Gen Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 8 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 04:37:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3971</guid>

					<description><![CDATA[Blok M kini telah menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kalangan anak muda khususnya Gen Z. Popularitas ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Semenjak revitalisasi, Blok M tidak lagi dikenal sebagai pusat perbelanjaan lama Jakarta, melainkan telah bertransformasi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1024x576.png" alt="" class="wp-image-4343" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1024x576.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-300x169.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-768x432.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-1536x864.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Blue-Green-Gradient-Avatars-Diversity-Motivational-Poster-3-2048x1152.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Blok M kini telah menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kalangan anak muda <strong>khususnya Gen Z. </strong>Popularitas ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Semenjak revitalisasi, Blok M tidak lagi dikenal sebagai pusat perbelanjaan lama Jakarta, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang berkumpul yang “<em>hits” </em>bagi anak muda alias Gen Z.&nbsp;</p>



<p>Blok M mampu menawarkan kombinasi yang sulit untuk diabaikan. Akses transportasi yang mudah dari berbagai daerah, <strong>berbagai pilihan</strong> tempat <em>nongkrong</em>, tempat kuliner yang berdekatan dan bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Kulinernya, mulai dari makanan berat, minuman kekinian, hingga <em>dessert </em>viral, semuanya hadir dalam satu kawasan yang sama dan <strong>terus bertambah</strong>. Hal ini membuat orang-orang yang datang ke Blok M untuk satu tujuan saja seringkali berakhir pada beberapa tujuan pemberhentian lainnya.&nbsp;</p>



<p>Dengan itu, timbul suatu pertanyaan menarik, apakah uang Rp100.000 yang sebenarnya merupakan nominal cukup besar, akan terasa cepat habis jika berkunjung ke Blok M? Lalu, bagaimana sebenarnya nilai uang Rp100.000 digunakan oleh Gen Z saat berkunjung ke Blok M?&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26825192"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26825192/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>





<p>Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 40–44 tahun memiliki rata-rata pendapatan tertinggi, yaitu sekitar Rp3.700.000 per bulan. Sementara itu, pendapatan terendah terdapat pada kelompok Gen Z usia 15–19 tahun dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp2.300.000 per bulan. Kelompok dengan pendapatan terendah kedua juga masih berasal dari Gen Z, yakni rentang usia 20–24 tahun dengan pendapatan sekitar Rp2.900.000 per bulan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa saat ini Gen Z merupakan kelompok generasi dengan tingkat pendapatan<strong> paling rendah </strong>dibandingkan kelompok usia lainnya.&nbsp;</p>



<p>Berangkat dari data tersebut, tim kemudian melakukan wawancara bersama dengan 4 Gen Z yang aktif mengunjungi Blok M untuk memahami lebih jauh berapa pendapatan bulanan mereka dan bagaimana uang tersebut dihabiskan saat berkunjung ke Blok M.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4327" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-kali-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber S ketika ditanyakan terkait kunjungannya berapa kali dalam sebulan ke Blok M. </p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Sebulan tuh sebenarnya tergantung, kalo liburan, tuh biasanya aku bisa tiga sampai empat kali, bahkan pernah waktu itu aku ke Blok M lima kali dalam sebulan. Tapi kalau misalnya kayak hari-hari udah masuk kuliah gitu minimal sebulan tuh kayak sekali atau dua kali gitu.”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dari hasil keempat wawancara menunjukkan bahwa Blok M bukan sekadar destinasi sesekali. Mereka bisa datang ke Blok M sebanyak 2-4 kali dalam sebulan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4328" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/brp-pemasukan-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber S dan S ketika ditanyakan terkait pemasukannya dalam sebulan.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Kalau rangenya sih Rp1.500.000 sampai Rp2.000.000/bulan, dan dari uang jajan itu pengeluaran dalam sebulan sekitar kayaknya bisa satu jutaan lah ya.”&nbsp;</em></p>



<p><em>“Rp3.000.000, pengeluaran sama”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dari sisi pemasukan, narasumber rata-rata memiliki pendapatan sekitar Rp3.000.000 per bulan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4329" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/abis-brp-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber C dan R ketika ditanyakan terkait berapa uang jajan yang dihabiskan sekali berkunjung ke Blok M.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Biasanya nyiapin minimal Rp500.000, sih, tapi itu udah kayak mencakup semuanya, kayak transportasi, dan emergency, dan lain lain.”&nbsp;</em></p>



<p><em>“Rp300.000 buat aman bcos me a muncher, dan biasanya kakak-kakak pada nitip makanan”&nbsp;</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Dalam satu kunjungan ke Blok M, mereka rata-rata menghabiskan Rp200.000 hingga Rp300.000.</p>



<p>Jika dikalkulasikan, dengan intensitas kunjungan 2–4 kali per bulan, total pengeluaran mereka di Blok M bisa mencapai Rp600.000 hingga Rp1.200.000 per bulan. Artinya, <strong>hampir setengah</strong> dari pendapatan bulanan mereka habis hanya untuk aktivitas di Blok M. Berdasarkan pengakuan narasumber, pengeluaran tersebut belum termasuk kebutuhan harian lain seperti transportasi, makan sehari-hari, hingga pengeluaran rutin lainnya</p>



<p>Temuan ini menunjukkan bahwa pengeluaran Gen Z di Blok M tergolong cukup besar, bahkan melampaui uang Rp100.000 yang dibahas pada awal artikel ini. Di tengah pendapatan mereka yang relatif terbatas, Blok M tetap menjadi magnet yang sulit ditinggalkan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Gen Z terus datang, berkali-kali, dan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit di kawasan ini?</p>


<p><iframe loading="lazy" src="https://www.google.com/maps/d/embed?mid=1amx7Srv7AbBFdlqw9IaLLsUCBMvqErM&#038;ehbc=2E312F&#038;noprof=1" width="640" height="480"></iframe></p>



<p>Salah satu faktor utama yang menjelaskan tingginya minat Gen Z terhadap Blok M adalah kemudahan akses transportasi umum. Kawasan ini terhubung dengan berbagai moda transportasi, menjadikannya <strong>mudah dijangkau </strong>dari banyak titik di wilayah Jabodetabek.</p>



<p>Berdasarkan visualisasi rute menuju Blok M, terlihat bahwa kawasan ini menawarkan beragam pilihan transportasi dari berbagai wilayah, mulai dari Bogor, Alam Sutera, hingga Rangkasbitung. Moda yang tersedia pun beragam, seperti TransJakarta, KRL, MRT, hingga JakLingko. Dari seluruh opsi tersebut, TransJakarta menjadi moda yang paling banyak rutenya, dengan total 23 rute yang mengarah ke Blok M.</p>



<p>Kemudahan akses ini semakin diperkuat oleh tata kawasan yang <strong>mendukung mobilitas pejalan kaki</strong>. Jarak antara titik pemberhentian transportasi, seperti stasiun, halte, dan terminal, dengan area kuliner di sekitar Blok M relatif dekat. Kondisi ini membuat Blok M terasa ramah bagi pejalan kaki dan memudahkan pengunjung<strong> </strong>untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu membawa kendaraan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4330" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/sam-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Salah satu narasumber mengungkapkan bahwa Blok M menjadi pilihannya karena kemudahan akses transportasi umum, <strong>terutama MRT</strong>. Faktor inilah yang menjadi daya tarik utama dan mendorongnya untuk terus kembali ke Blok M.&nbsp;</p>


<p><iframe loading="lazy" src="https://www.google.com/maps/d/u/0/embed?mid=1gXltbJoj2UDQsoE-UGcUtP2UFVkBgkU&#038;ehbc=2E312F&#038;noprof=1" width="640" height="480"></iframe></p>



<p>Selain kemudahan<strong> akses transportasi</strong>, daya tarik lain yang membuat kawasan Blok M terus ramai dikunjungi adalah beragamnya pilihan kuliner. Visualisasi peta diatas menunjukkan persebaran tempat kuliner di Blok M. Terdapat 52 titik kuliner yang jaraknya sangat berdekatan, dengan jarak antar lokasi rata-rata hanya <strong>sekitar 200 hingga 400 meter</strong>.&nbsp; Jarak yang relatif dekat ini membuat kawasan Blok M terasa sangat ramah bagi pejalan kaki.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4331" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-1536x512.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/alasan-pergi-2048x683.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Narasumber C ketika ditanyakan terkait alasan pergi ke Blok M</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Sebenernya kayak karena udah kenal aja sih sama tempatnya, dan dia juga kayak banyak spot, gak cuma satu gitu spot buat nongkrong, ngumpul-ngumpul gitu, jadi kayak lebih betah aja sih di.. Blok.. M, dan dia juga ada ditengah gitu, kayak dijaksel, jadi kadang tuh titik yang paling tengah itu Blok M”</em></p>
</blockquote>
</div>
</div>



<p>Banyaknya tempat yang dapat dikunjungi secara berdekatan menjadi salah satu alasan utama narasumber untuk datang ke Blok M. Deretan tempat makan <em>viral </em>yang terus bertambah membuat pengunjung <strong>tidak akan pernah kehabisan pilihan. </strong>Tanpa disadari, aktivitas berjalan sambil “melihat-lihat” mendorong orang-orang yang datang untuk mencoba berbagai tempat yang dilihat. Pola inilah yang secara perlahan membuat pengunjung <strong>menghabiskan lebih banyak uang</strong> setiap kali berkunjung ke Blok M.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="341" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-1024x341.png" alt="" class="wp-image-4332" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit-768x256.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/3-tempat-favorit.png 1500w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Keempat narasumber juga menyebutkan memiliki setidaknya tiga tempat favorit yang mereka kunjungi setiap kali datang ke Blok M, sehingga kecil kemungkinan mereka hanya singgah di satu tempat tiap ke Blok M.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26893052"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26893052/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Jika dilihat dari data di atas, kisaran harga yang paling umum di Blok M berada di rentang Rp50.000 hingga Rp75.000 per menu. Dengan standar harga tersebut, tidak mengherankan jika para narasumber dapat menghabiskan <strong>lebih dari Rp100.000</strong> hanya untuk jajan di tiga tempat berbeda. Dalam konteks ini, uang sebesar Rp100.000 rasanya akan cepat habis saat berkunjung ke Blok M. Untuk standar makanan harian di DKI Jakarta, angka tersebut jelas tergolong cukup tinggi karena bagi sebagian orang bisa setara dengan biaya makan untuk beberapa hari.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26837956"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26837956/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran makanan per bulan di DKI Jakarta tercatat sekitar Rp1.100.000, atau setara dengan kurang lebih Rp36.000 per hari. Jika angka ini dijadikan acuan, satu kali kunjungan ke Blok M saja sudah dapat menghabiskan jatah makan harian tersebut. Bahkan, ketika pengunjung mencoba <strong>lebih dari satu tempat</strong>, total pengeluaran tentu akan jauh lebih besar.</p>



<p>Namun, tingginya harga makanan di Blok M tidak semata-mata disebabkan oleh pola konsumsi Gen Z. Faktor struktural seperti inflasi juga turut berperan.&nbsp;</p>


<div class="flourish-embed flourish-chart" data-src="visualisation/26904184"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26904184/thumbnail" width="100%" alt="chart visualization" /></noscript></div>



<p>Berdasarkan grafik di atas yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bahan makanan di Indonesia pada periode November 2024 hingga November 2025 berada di kisaran 4%. Kenaikan ini secara langsung memengaruhi harga bahan pangan.</p>



<p>Peningkatan harga bahan pangan tersebut turut memengaruhi pelaku usaha kuliner, termasuk pelaku usaha kuliner di Blok M. Untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka, para pelaku usaha harus <strong>menyesuaikan harga jual</strong> <strong>kepada konsumen</strong>.</p>



<p>Inflasi menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong kenaikan harga makanan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, gaya konsumsi Gen Z yang gemar mencoba banyak tempat dalam satu kunjungan turut <strong>memperbesar total pengeluaran</strong> saat berada di Blok M.</p>



<p>Lantas, apakah uang Rp100.000 terasa cepat habis di Blok M? Jawabannya: ya. Cukup dengan satu kunjungan saja mampu menghabiskan dua hingga tiga kali lipat dari nominal tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa <strong>Rp100.000 bukan lagi jumlah yang besar</strong> saat berkunjung ke kawasan Blok M, yang kini telah bertransformasi menjadi destinasi pilihan tiap akhir pekan favorit anak muda Jakarta.</p>



<p>Meski begitu, tingginya pengeluaran di Blok M bukanlah hasil dari keputusan konsumsi yang murni irasional. Berbagai faktor turut berperan dibaliknya, mulai dari inflasi, desain kawasannya yang mendorong eksplorasi, hingga dorongan gaya hidup perkotaan yang mendukung perilaku konsumtif tersebut.&nbsp;Kondisi ini menjadi <strong>dilema tersendiri</strong> bagi anak muda, khususnya Gen Z. Dengan <em>purchasing power</em> yang terbatas yaitu pendapatan rata-rata di bawah generasi lainnya, Blok M tetap menjadi magnet yang sulit ditolak. <strong>Kalau kamu, bagaimana? tertarik untuk berkunjung ke Blok M hanya dengan uang Rp100.000?</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/menghabiskan-uang-rp100000-di-blok-m-potret-pola-konsumsi-gen-z/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Raksasa, Anggaran Luar Biasa:      Makan Bergizi Gratis</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/20/program-raksasa-anggaran-luar-biasa-makan-bergizi-gratis/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/20/program-raksasa-anggaran-luar-biasa-makan-bergizi-gratis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 3 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 02:46:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Explainer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3965</guid>

					<description><![CDATA[Pada tanggal 22 September 2025, 1.333 orang siswa di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus ini menjadi satu dari alasan banyaknya skeptisisme masyarakat terkait salah satu program...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="1500" height="500" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Visual-Banner.png" alt="" class="wp-image-4272" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Visual-Banner.png 1500w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Visual-Banner-300x100.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Visual-Banner-1024x341.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/Visual-Banner-768x256.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px" /></figure>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"><sub>Pada tanggal 22 September 2025, 1.333 orang siswa di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus ini menjadi satu dari alasan banyaknya skeptisisme masyarakat terkait salah satu program utama pemerintahan Prabowo-Gibran pada tahun pertama pelaksanaannya ini.</sub></p>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"><sub>Semenjak tahun 2006, gagasan program MBG telah mulai dicetuskan oleh Prabowo Subianto, yang pada kala itu berfokus pada pemberian susu gratis dan sempat dikenal sebagai Revolusi Putih. Meskipun begitu, sejak awal perkembangannya MBG memang telah dimaksudkan untuk meningkatkan gizi anak sebagai bentuk solusi stunting. Program MBG terinspirasi dari beberapa program makan untuk anak sekolah di luar negeri, seperti program makan siang di Amerika yang memang menyediakan makan siang bagi anak-anak sekolah. Selain itu, pelaksanaan MBG juga diharapkan membawa dampak positif bagi ekonomi UMKM di daerah tersebut.&nbsp;</sub></p>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"><sub>Pada masa kampanye, Prabowo seringkali menyebutkan program MBG sebagai solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Program MBG juga menjadi ‘wajah’ dari kampanye pasangan Prabowo-Gibran selama proses pemilu 2024. Terpilihnya pasangan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI semakin meningkatkan atensi masyarakat terhadap program MBG. Puncaknya, program ini pun resmi bergulir pada 6 Januari 2025.&nbsp;</sub></p>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"><sub>Pada tahun pertama pelaksanaannya ini, program ini memicu diskusi beserta pandangan pro kontra masyarakat. Masyarakat yang pro, melihat MBG sebagai langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi siswa, sekaligus membantu ekonomi masyarakat. Masyarakat yang kontra, mempertanyakan apakah apakah MBG benar-benar diperlukan. Mereka juga mempertanyakan kualitas dari makanan yang disediakan pada program ini, mulai dari sanitasi hingga nilai gizi dalam makan siang yang dihidangkan.&nbsp;</sub></p>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"><sub>Terlepas dari pro dan kontra yang hadir di masyarakat, bertambahnya anggaran program yang mencapai 335 Triliun untuk tahun 2026 menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melanjutkan MBG. Namun, seberapa besar sebenarnya angka 335 Triliun yang dialokasikan pemerintah tersebut? jika angka anggaran ini dibandingkan dengan program-program pemerintah lainnya? Bagaimana jika anggaran ini dibandingkan dengan program lain di bidang Pendidikan? Atau sektor-sektor krusial lainnya? Untuk mengetahui lebih dalam,&nbsp; berikut beberapa perbandingan anggaran MBG dengan program pemerintah lainnya.</sub></p>



<p class="has-text-align-left" style="font-size:19px"></p>



<p></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/2bf68a49-20f8-477b-800a-a7f648b905e1?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan Anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan tahun" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-anggaran-makan-bergizi-gratis-mbg-berdasarkan-tahun-1hnq41op985ep23" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan Anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan tahun</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p style="font-size:19px"><sub>Pada tahun pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperoleh alokasi anggaran sebesar sekitar Rp71 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025. Pada APBN tahun yang sama, sejumlah sektor mengalami efisiensi anggaran, seperti pada sektor pendidikan yang mengalami pemangkasan anggaran sebesar 10,3%.&nbsp; Pelaksanaan tahun pertama program MBG menghadapi sejumlah permasalahan seperti isu pemenuhan standar gizi, kasus keracunan makanan, serta persoalan kebersihan dapur produksi.</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Penambahan alokasi dana pada RAPBN 2026 sebesar 335 Triliun menunjukkan kenaikan sekitar 371,83% dibandingkan dengan alokasi anggaran MBG pada tahun 2025. Rencana peningkatan anggaran tersebut menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam melanjutkan MBG serta memperkuat posisi program MBG sebagai salah satu program prioritas pemerintah.</sub></p>



<p style="font-size:16px"></p>



<p></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/12e34002-027f-4953-ac83-fef175349fa2?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Untitled" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/untitled-1hnp27eqzpzny4g" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Untitled</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p style="font-size:19px"><sub>Dengan peningkatan anggaran yang fantastis, lantas, darimana asal sumber pendanaan program MBG untuk tahun 2026. RAPBN 2026 menunjukan alokasi dana MBG diendapkan ke dalam 4 pos meliputi dana endapan sebesar 67 triliun Rupiah, fungsi ekonomi 19,7 triliun Rupiah, fungsi kesehatan 24,7 triliun Rupiah, dan fungsi pendidikan 226,3 triliun Rupiah. Alokasi anggaran ini menunjukkan bahwa mayoritas pembiayaan program MBG dibebankan pada pos pendidikan (67%), sementara sisanya ditopang oleh anggaran kesehatan (10,1%), ekonomi (2,4%), serta dana cadangan pemerintah. Pembagian porsi anggaran hingga 4 sektor berbeda tersebut menunjukkan sekali lagi bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program prioritas pemerintahan RI saat ini.</sub></p>



<p style="font-size:19px"></p>



<p></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/a33c1d44-cd30-49ea-a63f-4a475298a6d7?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan anggaran dengan program lain" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-anggaran-dengan-program-lain-1h0n25opmqy9l4p" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan anggaran dengan program lain</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p style="font-size:19px"><sub>Besarnya alokasi anggaran MBG tersebut menjadi semakin menonjol apabila dibandingkan dengan program-program pemerintah lain di sektor pendidikan. Pasalnya program-program sektor pendidikan seperti KIP Kuliah/Bidikmisi, beasiswa LPDP,&nbsp; dan PIP (Program Indonesia Pintar) memiliki anggaran yang relatif kecil jika dibandingkan dengan dana MBG. Anggaran APBN 2025 KIP Kuliah/Bidikmisi berjumlah 17 Triliun Rupiah, LPDP 25 Triliun Rupiah, dan PIP 15 Triliun Rupiah. Jika ketiga program strategis tersebut digabungkan, totalnya hanya mencapai sekitar 57 triliun rupiah, atau hanya 17% dari total anggaran MBG.&nbsp;</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Anggaran tersebut juga menunjukkan bagaimana MBG merupakan 83% dari total anggaran pendidikan tahun 2026 untuk penerima siswa. Dibandingkan dengan tiga program pendidikan lainnya, dana MBG hampir enam kali lipat lebih besar daripada gabungan tiga program tersebut. Ketiga program tersebut tentunya memiliki jumlah dan kategori penerima yang berbeda dibanding MBG. Namun, besarnya angka MBG yang mencapai 83% dari total anggaran pendidikan penerima manfaat siswa tetap menunjukkan bagaimana MBG merupakan prioritas besar isu pendidikan pemerintah saat ini.</sub></p>



<p style="font-size:19px"></p>



<p></p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 100% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/96f9b2d0-011f-4dbf-bd85-a8d4df44037d?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan Anggaran MBG dengan program pemerintah Kesehatan" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-anggaran-mbg-dengan-program-pemerintah-kesehatan-1h9j6q75mw9qv4g" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan Anggaran MBG dengan program pemerintah Kesehatan</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p style="font-size:19px"><sub>Di luar sektor pendidikan, pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada RAPBN 2026 juga ditopang oleh anggaran sektor kesehatan. Pada sektor kesehatan, pemerintah memiliki program-program kesehatan seperti Jaminan Akses Kesehatan TNI/Polri, Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan + PBPU (Pekerja Bukan Penerima Upah) BP (Bukan Pekerja), dan DAU (Dana Alokasi Umum). Sama seperti program sektor pendidikan, pendanaan dalam program-program Kesehatan ini memiliki alokasi pendanaan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan besarnya dana MBG pada tahun tersebut. Jika digabungkan, total dananya hanya berada di kisaran 124 Triliun Rupiah, atau setara dengan 58,3% dari total anggaran MBG yang mencapai 335 Triliun Rupiah.</sub></p>



<p style="font-size:19px"></p>



<p></p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained"></div></div>


<div class="flourish-embed flourish-pictogram" data-src="visualisation/26535356"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/26535356/thumbnail" width="100%" alt="pictogram visualization" /></noscript></div>



<p style="font-size:19px"><sub>Selain sektor kesehatan dan pendidikan, masyarakat menyoroti besarnya anggaran MBG dibanding institusi-institusi penting di sektor bencana. Kekhawatiran ini berangkat dari bencana banjir, longsor, angin kencang yang tengah melanda Sumatera saat ini. Perbandingan anggaran MBG terhadap lembaga–lembaga penanganan bencana dan mitigasi risiko alam menunjukkan betapa skala MBG jauh melampaui prioritas tradisional untuk mitigasi dan tanggap darurat.&nbsp;</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Untuk 2026, MBG telah dialokasikan sebesar Rp 335 triliun. Sebaliknya, BMKG, lembaga yang bertugas memantau cuaca, gempa, tsunami, dan potensi bencana iklim, hanya mendapat alokasi sekitar Rp 2,67 triliun.<a href="https://www.antaranews.com/berita/5234869/anggaran-bmkg-2026-naik-jadi-rp267-triliun?utm_source=chatgpt.com"></a>&nbsp;Sementara itu, Basarnas, badan SAR dan penyelamatan, menerima pagu indikatif hanya ± Rp 1,01 triliun untuk 2026 (meskipun kebutuhan diajukan lebih besar). Untuk BNPB, yang menangani penanggulangan bencana nasional, laporan publik menyebut anggaran turun drastis, dengan pagu tahun 2026 dilaporkan hanya sekitar Rp 491 miliar.<a href="https://portal-islam.id/perbandingan-anggaran-mbg-vs-bmkg-basarnas-bnpb/?utm_source=chatgpt.com"></a>Jika dijumlahkan, BMKG, Basarnas, dan BNPB,&nbsp; total anggarannya tidak melebihi ± Rp 5 triliun, jauh di bawah anggaran MBG. Artinya, anggaran MBG bisa jadi lebih dari 73 kali total anggaran ketiga lembaga kebencanaan tersebut.</sub></p>



<p style="font-size:19px"></p>



<p></p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="Pendapat Mengenai Anggaran MBG" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/aS0ltplN9FI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
</div>
</div>



<p style="font-size:19px"><sub>Melihat keseluruhan data, jelas bahwa MBG adalah program sosial terbesar yang pernah dijalankan Indonesia dalam satu tahun anggaran. Dengan nilai Rp335 triliun, cakupan nasional, dan kebutuhan logistik harian, pemerintah Prabowo menjadikan MBG sebagai simbol perubahan arah kebijakan: pembangunan manusia menjadi pusat strategi negara. Pemerintah menilai bahwa gizi adalah fondasi kualitas SDM, sehingga investasi besar di awal akan membawa dampak jangka panjang pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang.</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kritik masyarakat, menu yang dianggap monoton, porsi yang tidak merata, hingga beberapa kasus keracunan siswa menjadi perbincangan. Beberapa orang tua juga menilai bahwa makanan yang disajikan belum sepenuhnya memenuhi standar gizi ideal menurut ahli nutrisi, yang biasanya mencakup karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran segar, sumber lemak baik, serta buah-buahan. Dalam praktiknya, MBG kadang hanya menyajikan menu simpel seperti nasi, telur, tempe, dan sayuran terbatas, menyebabkan publik mempertanyakan apakah besarnya anggaran sudah berbanding lurus dengan kualitas pangan.&nbsp;</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Walau begitu, tidak semua perbincangan di masyarakat berupa kritik dan pandangan kontra. Ada juga pihak-pihak yang mendukung kehadiran program Makan Bergizi Gratis ini dan merasa terbantu serta berterima kasih kepada inisiatif pemerintah lewat MBG. Manfaat untuk siswa serta untuk orang tua dari segi ekonomi menjadi alasannya.&nbsp;</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Terlepas dari pro dan kontra masyarakat saat ini, ada satu hal yang pasti: Pemerintah RI akan meneruskan program MBG dan menganggap program ini sebagai program raksasa yang pantas mendapatkan anggaran luar biasa. Besarnya MBG membuat program ini terasa seperti “eksperimen kebijakan terbesar” dalam sejarah Indonesia. Keberhasilan atau kegagalannya akan menjadi patokan bagaimana negara mengelola program masif berbasis gizi dan pendidikan di masa depan. Pada akhirnya, MBG membuka perdebatan sehat: seberapa berani negara berinvestasi pada manusia, dan seberapa siap sistem kita dapat mengeksekusinya dengan baik.</sub></p>



<p style="font-size:19px"><sub>Mengetahui besarnya anggaran MBG, masyarakat perlu memahami dan mengikuti isu ini dengan cermat. Transparansi dan pengawasan publik menjadi kunci agar program benar-benar tepat sasaran, dijalankan efisien, dan tidak mengabaikan hak dasar anak. Karena pada akhirnya, ini bukan hanya soal angka di APBN, tetapi soal masa depan gizi, pendidikan, dan kualitas generasi Indonesia berikutnya.</sub></p>



<p></p>



<p></p>



<p></p>
</div></div>



<p></p>



<p></p>



<p></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p></p>



<p><strong>Daftar Referensi</strong></p>



<p>AntaraNews. (2025). <em>Anggaran BMKG 2026 naik jadi Rp 267 triliun</em>. AntaraNews.<a href="https://www.antaranews.com/berita/5234869/anggaran-bmkg-2026-naik-jadi-rp267-triliun"> https://www.antaranews.com/berita/5234869/anggaran-bmkg-2026-naik-jadi-rp267-triliun</a></p>



<p>Basarnas. (2025). <em>Komisi V DPR setujui pagu anggaran Basarnas tahun 2026</em>. Basarnas.<a href="https://www.basarnas.go.id/berita/komisi-v-dpr-setujui-pagu-anggaran-basarnas-tahun-2026"> https://www.basarnas.go.id/berita/komisi-v-dpr-setujui-pagu-anggaran-basarnas-tahun-2026</a></p>



<p>Darun Nun. (2024). <em>Pro-kontra program MBG (Makan Bergizi Gratis)</em>.<a href="https://darun-nun.com/pro-kontra-progam-mbg-makan-bergizi-gratis/"> https://darun-nun.com/pro-kontra-progam-mbg-makan-bergizi-gratis/</a></p>



<p>Katadata. (2025). <em>Infografik anggaran MBG 2026: Besar dan tersebar di empat pos</em>. <a href="https://katadata.co.id/infografik/68ae96ad67ba2/infografik-anggaran-mbg-2026-besar-dan-tersebar-di-empat-pos">https://katadata.co.id/infografik/68ae96ad67ba2/infografik-anggaran-mbg-2026-besar-dan-tersebar-di-empat-pos</a></p>



<p>Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). <em>Buku II Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026</em>. <a href="https://media.kemenkeu.go.id/getmedia/0d55974c-45ad-48f4-8db3-3804b37d195e/Buku-II-Nota-Keuangan-RAPBN-TA-2026.pdf">https://media.kemenkeu.go.id/getmedia/0d55974c-45ad-48f4-8db3-3804b37d195e/Buku-II-Nota-Keuangan-RAPBN-TA-2026.pdf</a></p>



<p>Kontan. (2025). <em>Prabowo naikkan anggaran MBG 9476 di 2026, tembus Rp 335 triliun</em>. Kontan.<a href="https://nasional.kontan.co.id/news/prabowo-naikkan-anggaran-mbg-9476-di-2026-tembus-rp-335-triliun"> https://nasional.kontan.co.id/news/prabowo-naikkan-anggaran-mbg-9476-di-2026-tembus-rp-335-triliun</a></p>



<p>Portal-Islam.id. (2025). <em>Perbandingan anggaran MBG vs BMKG, Basarnas, BNPB</em>. Portal-Islam.id.<a href="https://portal-islam.id/perbandingan-anggaran-mbg-vs-bmkg-basarnas-bnpb">https://portal-islam.id/perbandingan-anggaran-mbg-vs-bmkg-basarnas-bnpb</a>Ralali. (2024). </p>



<p><em>Sejarah dan latar belakang program Makan Bergizi Gratis (MBG): Dari gagasan Prabowo hingga gerakan nasional lawan stunting</em>.<a href="https://www.ralali.com/blog/mbg/sejarah-dan-latar-belakang-program-makan-bergizi-gratis-mbg-dari-gagasan-prabowo-hingga-gerakan-nasional-lawan-stunting/">https://www.ralali.com/blog/mbg/sejarah-dan-latar-belakang-program-makan-bergizi-gratis-mbg-dari-gagasan-prabowo-hingga-gerakan-nasional-lawan-stunting/</a></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/20/program-raksasa-anggaran-luar-biasa-makan-bergizi-gratis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langkah Hijau Coldplay melalui Music of the Spheres Tour</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 5 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 14:26:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Coldplay]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Sustanability]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3969</guid>

					<description><![CDATA[Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan Music of the Spheres...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Konser musik kini tidak lagi hanya sekadar panggung raksasa, pesta cahaya, dan riuh suara penonton yang menggema di stadion. Konser juga dapat membawa dampak besar, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.</p>



<p>Itulah sebabnya ketika Coldplay mengumumkan <em>Music of the Spheres Tour </em>pada 14 Oktober 2021, antusiasme publik tidak hanya datang dari penggemar musik, tetapi juga mereka yang penasaran: <strong>&#8220;Bisakah tur stadion berskala global menjadi lebih ramah lingkungan?&#8221;</strong></p>



<p>Tur ini kemudian berkembang menjadi lebih dari 130 pertunjukan di berbagai negara. Melalui <em>Music of the Spheres Tour</em>, Coldplay menjadikannya sebagai arena eksperimen besar tentang bagaimana elemen hiburan dan berkelanjutan dapat berjalan secara berdampingan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-datawrapper wp-block-embed-datawrapper"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Persebaran Music of the Spheres Tour (2022-2025)" src="https://datawrapper.dwcdn.net/Jgu0G/3/#?secret=8IckfWG28g" data-secret="8IckfWG28g" scrolling="no" frameborder="0" height="413"></iframe></div>
</div></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_Spheres_World_Tour#Tour_dates">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay mulai dikenal luas lewat album <em>Parachutes</em> (2000) dengan <em>single</em> “Yellow.” Popularitas mereka mencapai puncak di era <em>Viva la Vida </em>(2008). Dalam dekade berikutnya, Coldplay membangun identitas baru sebagai <em>band</em> stadion dengan visual penuh warna, kembang api, dan gelang LED (<em>xyloband</em>). Transformasi ini memperkuat posisi Coldplay sebagai salah satu <em>band</em> paling berpengaruh di dunia.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe title="Spotify Embed: Parachutes" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/6ZG5lRT77aJ3btmArcykra?si=2qj4kL9-QeeOnPLBKn4kdg&amp;utm_source=oembed"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Skala <em>Music of the Spheres Tour</em> membuatnya nyaris mustahil diabaikan. Tercatat hingga tahun 2025, lebih dari 10,3 juta orang telah menonton tur ini, membuatnya menduduki peringkat pertama dalam daftar konser yang paling banyak dihadiri sepanjang masa.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="7238e9ce-4671-433e-bfbc-846b209e5b3c" data-type="interactive" data-title="Tur Konser Paling Banyak Didatangi"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/tur-konser-paling-banyak-didatangi-1hxj48mq7gmoq2v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Tur Konser Paling Banyak Didatangi</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most-attended_concert_tours">Wikipedia</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Apa yang membuat tur ini berbeda bukan hanya dari kemegahannya, melainkan komitmen untuk merancang ulang bagaimana konser berskala stadion dengan visual megah tetap dapat dijalankan dengan prinsip keberlanjutan tanpa mengorbankan pengalaman penonton.<br><br>Coldplay merancang tur ini dengan tiga prinsip utama:&nbsp;</p>



<p><strong>1. <em>Reduce</em></strong><em> </em>→ Mengurangi konsumsi dan emisi CO₂ hingga 50% serta daur ulang secara ekstensif.</p>



<p><strong>2. <em>Reinvent</em></strong><em> </em>→ Mendukung teknologi hijau terbarukan dan mengembangkan metode tur berkelanjutan yang sangat rendah karbon.</p>



<p><strong>3. <em>Restore</em></strong><em> </em>→ Mendanai proyek berbasis alam dan teknologi yang dapat menyerap CO₂.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>1. Reduce</strong></p>



<p>Coldplay secara terbuka menyatakan target pengurangan emisi CO₂ sebesar 50% dibandingkan tur sebelumnya, <em>A Head Full of Dreams Tour</em> (2016–2017). Prinsip <em>reduce </em>menjadi langkah pertama dengan mengurangi konsumsi energi dan material sejak tahap perancangan.</p>



<p>Pada level produksi, tim tur menata ulang sistem energi dan logistik untuk menghemat konsumsi listrik, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, serta mengoptimalkan rute pengiriman peralatan.</p>



<p>Komponen ikonik seperti gelang LED atau <em>xyloband </em>diproduksi untuk dapat dipakai berulang kali. Coldplay juga menampilkan persentase pengembalian <em>xyloband </em>di layar stadion, menciptakan elemen kompetitif yang positif bagi penonton di setiap negara.</p>


<div class="flourish-embed flourish-bar-chart-race" data-src="visualisation/25786470"><script src="https://public.flourish.studio/resources/embed.js"></script><noscript><img decoding="async" src="https://public.flourish.studio/visualisation/25786470/thumbnail" width="100%" alt="bar-chart-race visualization" /></noscript></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.instagram.com/p/C4cxQMKynhD/?img_index=2">Eventori.id</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“… jadi kayak trigger gitu loh buat setiap negara, kayak biar masuk di ranking yang bagus gitu, walaupun Indonesia kayak kemarin kurang sih, karena banyak yang nggak balikin (xyloband) juga kan.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p>Selain itu, tim produksi juga beralih ke material berbasis tanaman dan komponen yang dapat dikompos atau didaur ulang. Strategi ini mendukung tingginya angka <em>diversion rate </em>(sampah yang dialihkan dari TPA) di laporan keberlanjutan.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="20308377-a2ff-4647-89f5-91938c2a612f" data-type="interactive" data-title="Air Isi Ulang (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/air-isi-ulang-coldplay-1h9j6q758k79v4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Air Isi Ulang (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center" style="font-size:13px">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Di setiap penyelenggaraan konser, Coldplay menghimbau penonton untuk membawa botol isi ulang sendiri karena tempat pengisian air minum disediakan di tiap sudut guna menghindari penumpukan sampah botol.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>2. Reinvent</strong></p>



<p>Prinsip <em>reinvent </em>menyoroti cara baru memproduksi dan memanfaatkan energi dalam konser. Kebutuhan energi untuk menghidupkan teknologi dihubungkan oleh Coldplay dengan aktivitas penonton yang dapat berpartisipasi mengisi pasokan energi panggung.</p>



<p>Di area <em>standing</em>, penonton dapat menemukan <em>kinetic dance floor </em>yang dirancang khusus untuk memproses tekanan dan gerakan kaki menjadi energi listrik. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="682" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-4278" style="aspect-ratio:1.5014809041309432;width:430px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x200.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-2-768x512.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Billboard.com</a></p>



<p>Di titik lain, tersedia <em>power bikes</em> yang memungkinkan penonton menghasilkan energi sambil mengayuh. Kedua instalasi ini menunjukkan bahwa gerakan tubuh penonton dapat diubah menjadi listrik.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="600" height="400" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png" alt="" class="wp-image-4280" style="width:423px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3.png 600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/image-3-300x200.png 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.billboard.com/business/touring/coldplay-pearl-jam-sustainability-science-experts-initiatives-1235643012/">Coldplay</a></p>



<p>Coldplay juga membawa panel surya portabel untuk membantu pasokan energi, serta sistem baterai yang berasal dari baterai bekas mobil listrik BMW i3 yang didaur ulang. Teknologi ini menunjukkan bahwa konser tidak harus bergantung pada generator diesel, tetapi dapat didukung oleh energi terbarukan.<br><br>Tahap <em>reinvent </em>membuat <em>green concept </em>dapat dialami penonton selama konser. Lebih dari sekadar menghadirkan panggung yang megah, Coldplay menunjukkan bahwa konser dapat berlangsung dengan pilihan energi yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.</p>



<p style="font-size:30px"><strong>3. Restore</strong></p>



<p>Prinsip <em>restore </em>menegaskan komitmen Coldplay dalam menempatkan tur sebagai sumber dana bagi pemulihan lingkungan. Target utamanya adalah penanaman tujuh juta pohon, satu untuk setiap penonton konser. Program ini berkolaborasi dengan organisasi seperti One Tree Planted dan mendukung proyek restorasi sekitar 10.000 hektare di 24 negara.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="1c8ece3d-45d0-4ad7-bfbc-1e8612c5fe1f" data-type="interactive" data-title="7 Juta Pohon (Coldplay)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/7-juta-pohon-coldplay-1h984wv105gzz2p" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">7 Juta Pohon (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:10px"><em>*Klik gambar untuk melihat informasi selengkapnya</em></p>



<p>Coldplay juga bermitra dengan organisasi lingkungan lainnya, seperti ClientEarth yang berfokus pada advokasi hukum, The Ocean Cleanup dan Project Seagrass yang bekerja di ranah laut, dan Climeworks yang mengembangkan teknologi penangkapan karbon. Di Jakarta, penonton mengenal restorasi ini melalui kapal <em>interceptor</em> yang mengumpulkan sampah sungai.</p>



<p><em>Coldplay Sustainability Report </em>(2024) menjadi dasar untuk menilai efektivitas prinsip-prinsip tersebut. Dibandingkan tur sebelumnya, <em>Music of the Spheres Tour </em>melaporkan pengurangan emisi sekitar 59% CO₂e. Energi yang digunakan rata-rata sekitar 17 kWh energi per konser, bersumber dari panel surya, <em>kinetic dance floor</em>, dan <em>power bikes</em>.</p>


<div style="position: relative; width: 100%; height: 0px; padding: 93.86% 0px 0px; overflow: hidden; will-change: transform;"><iframe loading="lazy" src="https://e.infogram.com/a29b6324-4279-4c0a-b19f-574053dc9ef3?src=embed&amp;embed_type=responsive_iframe" title="Perbandingan kWh (Coldplay)" allowfullscreen="" allow="fullscreen" style="position: absolute; width: 100%; height: 100%; top: 0px; left: 0px; border: none; padding: 0px; margin: 0px;"></iframe></div>
<div style="padding: 8px 0px; font-family: Arial; font-size: 13px; line-height: 15px; text-align: center; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin: 0px 30px;"><a href="https://infogram.com/perbandingan-kwh-coldplay-1h984wv1nmpoz2p" target="_blank" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Perbandingan kWh (Coldplay)</a><br /><a href="https://infogram.com" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(152, 152, 152); text-decoration: none;">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p>Sekitar 72% sampah konser berhasil dialihkan dari TPA melalui daur ulang, kompos, dan sistem pengelolaan lain. Di sektor transportasi, Coldplay melaporkan penghematan sekitar 3.000 tCO₂e dari penggunaan <em>Sustainable Aviation Fuel </em>(SAF) untuk sebagian perjalanan udara, serta penurunan sekitar 33% dampak <em>freight </em>akibat pengurangan volume dan berat peralatan yang diangkut.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="bf64bf1d-9d5e-4fab-b814-cc6ccdf1340e" data-type="interactive" data-title="Sisa Sampah"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/sisa-sampah-1hxj48mq7g0752v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Sisa Sampah</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://www.coldplay.com/emissions-update/">Coldplay</a></p>



<p style="font-size:30px"><strong>Apa yang dapat diperbaiki?</strong></p>



<p>Dari perspektif penonton, <em>Music of the Spheres Tour</em> dianggap berhasil menggabungkan konser stadion yang magis dengan pesan-pesan keberlanjutan lingkungan. Namun, terdapat beberapa catatan yang menunjukkan ruang perbaikan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“Cuma mungkin ada beberapa hal yang kayak F&amp;B-nya itu lumayan antre panjang banget dan susah banget buat nyari makan di dalam.”&nbsp;– Ayesha</em><br><br><em>“&#8230;kita tuh diwajibkan untuk ngembaliin gelang kan, cuma kemarin tuh pengawasannya (kru konser) kurang banget. Jadi makanya banyak orang yang lost nggak ngembaliin ini (xyloband).” – Annisa</em></p>
</blockquote>



<p>Di Jakarta, antrean F&amp;B dan <em>water station</em> yang terbatas membuat penonton kesulitan mengakses makanan dan minuman. Titik pengembalian <em>xyloband </em>juga dinilai kurang jelas dan pengawasannya minim, sehingga masih banyak gelang LED yang tidak dikembalikan.</p>



<p>Salah satu penonton konser di Singapura juga mengusulkan agar informasi visual mengenai data <em>real-time </em>ditampilkan lebih banyak sebelum konser dimulai, seperti berapa energi yang dihasilkan <em>kinetic dance floor</em>, berapa persen gelang yang sudah kembali, atau dampak proyek restorasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;mungkin bisa disediakan lebih banyak info yang visual gitu jadi misalnya layar khusus sebelum konsernya dimulai jadi kayak ngejelasin data real time-nya tuh gimana, terus juga mungkin kemarin karena tempat refill airnya tuh juga sedikit gitu kan jadi menurut aku mendingan banyak supaya ngantrinya nggak terlalu panjang gitu di setiap tempat itu nih refill airnya.” – Naura</em></p>
</blockquote>



<p>Meskipun demikian, para informan sepakat bahwa konser seperti ini efektif sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan. Skala internasional, figur ternama, dan kehadiran jutaan penonton membuat pesan keberlanjutan tersebar jauh melampaui stadion.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p style="font-size:15px"><em>“&#8230;konser musik ini kan skalanya internasional ya, dan artisnya pun juga artis besar banget. Jadi orang-orang pun, baik yang nonton maupun gak nonton jadi punya kesadaran terhadap isu lingkungan itu sendiri sih.”</em> <em>– Ayesha</em></p>
</blockquote>



<p><em>Music of the Spheres Tour</em> menunjukkan bahwa konser tidak akan pernah sepenuhnya “hijau”, tetapi dapat bergerak ke arah yang lebih bertanggung jawab. Melalui kombinasi desain tur, teknologi, data, dan pengalaman penonton.</p>



<p>Coldplay membuka kemungkinan baru: <strong>konser sebagai petualangan musik yang tidak hanya menyatukan jutaan suara, tetapi juga menyatukan langkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan</strong>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" title="Coldplay: Sustainability Video [2022]" width="1000" height="563" src="https://www.youtube.com/embed/y89U96H6AgU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/19/langkah-hijau-coldplay-melalui-music-of-the-spheres-tour/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>POTRET TREN “BUY NOW, PAY LATER” DI KALANGAN GEN-Z</title>
		<link>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 Data Journalism 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 04:26:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Gen-Z]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pay Later]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=4197</guid>

					<description><![CDATA[Sumber: GoodStats Kehadiran aplikasi belanja online saat ini telah banyak memunculkan kebiasaan baru di kalangan Gen-Z. Bayangkan, hanya dengan sentuhan tangan, barang yang diinginkan bisa langsung datang. Nggak punya uang? bukanlah sebuah halangan, fitur “Buy Now, Pay Later” hadir sebagai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="538" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-1024x538.webp" alt="" class="wp-image-3984" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-1024x538.webp 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-300x158.webp 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew-768x403.webp 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew.webp 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://ik.imagekit.io/goodid/nyc/goodstats/uploads/articles/original/2022/06/09/mengapa-paylater-kian-digandrungi-masyarakat-zGIlGN31ew.jpg?tr=w-1200,h-630,fo-center">GoodStats</a></p>



<p>Kehadiran aplikasi belanja <em>online</em> saat ini telah banyak memunculkan kebiasaan baru di kalangan Gen-Z. Bayangkan, hanya dengan sentuhan tangan, barang yang diinginkan bisa langsung datang. <em>Nggak</em> punya uang? bukanlah sebuah halangan, fitur <em>“Buy Now, Pay Later”</em> hadir sebagai solusi menggiurkan bagi sebagian orang yang mau <em>checkout</em> keranjang, tetapi terhalang dengan dompet yang pas-pasan. Penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia bukanlah hal asing.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z SUKA <em>NGUTANG</em>?</strong></p>



<p>Berdasarkan Data Kredivo 2024, penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor usia. Generasi muda bukan hanya mendominasi jumlah pengguna, tetapi juga memperlihatkan pola konsumsi yang berbeda dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.&nbsp; Jika melihat komposisi pengguna, kelompok usia 26-35 tahun menjadi pengguna <em>pay later </em>terbesar di Indonesia. Hal ini dikarenakan, mereka sedang berada pada fase aktif bekerja, membangun rumah tangga, dan memiliki frekuensi belanja digital yang sangat besar. Meskipun demikian, Gen-Z, yaitu mereka yang berusia 18-25 tahun tumbuh sebagai pasar potensial terkait penggunaan <em>pay later</em> di Indonesia.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="4184194b-5056-4dca-bc61-0d0c457fe02b" data-type="interactive" data-title="Data Proporsi Pengguna Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia di Indonesia (2021-2023)"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/data-proporsi-pengguna-pay-later-berdasarkan-kelompok-usia-di-indonesia-2021-2023-1h0n25opxxlkz4p" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Data Proporsi Pengguna Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia di Indonesia (2021-2023)</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Gen-Z merupakan pasar potensial <em>pay later</em> karena mereka adalah <em>digital native</em> yang tumbuh bersama internet dan berbagai perkembangan teknologi lainnya. Selain itu, data menunjukkan bahwa pada tahun 2024 Gen-Z menjadi kelompok dengan alokasi pengeluaran terbesar di <em>pay later</em> sebesar 6,4% dibandingkan dengan kelompok usia lainnya termasuk milenial yang hanya 6% setiap bulannya.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="ce2901cf-5aad-478d-b7ef-635e7043b15c" data-type="interactive" data-title="Data Persentase Alokasi Penggunaan Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/data-persentase-alokasi-penggunaan-pay-later-berdasarkan-kelompok-usia-1hnp27eqx1q0y4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Data Persentase Alokasi Penggunaan Pay Later Berdasarkan Kelompok Usia</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Tren ini memberikan sinyal kuat bahwa <em>&#8220;Buy Now, Pay Later&#8221;</em> bukanlah sekadar fitur pembayaran alternatif, melainkan menjadi fenomena baru di kalangan generasi muda. Tren ini memberikan cara baru kepada Gen-Z untuk memenuhi kebutuhan, mendukung gaya hidup, dan dalam banyak kasus, memberikan ilusi kemampuan finansial melalui cicilan ringan yang berakhir pada perilaku konsumtif di kalangan Gen-Z. Lantas, seperti apa dampak dari penggunaan <em>pay later</em> di kalangan Gen-Z yang ada di Indonesia?</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z BELANJA BUAT APA <em>SIH?</em></strong></p>



<p>Jika <em>pay later </em>sering diasosiasikan dengan pembelian barang mahal, pola belanja Gen-Z justru menunjukkan cerita yang berbeda. Data transaksi memperlihatkan bahwa Gen-Z tidak hanya menggunakan <em>pay later </em>untuk kebutuhan bernilai besar, tetapi juga untuk hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="f74835cb-2036-4b65-8099-673fa9c163e7" data-type="interactive" data-title="Persentase Jumlah Transaksi Berdasarkan Kategori Produk yang Sering Dibeli Gen-Z"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/persentase-jumlah-transaksi-berdasarkan-kategori-produk-yang-sering-dibeli-gen-z-1hnp27eqxqzoy4g" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Persentase Jumlah Transaksi Berdasarkan Kategori Produk yang Sering Dibeli Gen-Z</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Kategori seperti kebutuhan digital, makanan dan minuman, produk perawatan diri, hingga produk <em>fashion</em> menjadi yang paling sering muncul. Hal ini menunjukkan bahwa <em>pay later </em>tidak lagi diposisikan sebagai solusi darurat, melainkan sudah masuk ke dalam rutinitas belanja harian. Fitur “<em>pay later</em>” terasa praktis untuk kebutuhan kecil yang sering dilakukan, terutama ketika disertai promo atau potongan harga.</p>



<p>Menariknya, beberapa kategori yang sebelumnya dianggap “premium”, seperti <em>gadget </em>dan otomotif juga mulai masuk dalam daftar belanja Gen-Z. Dengan adanya cicilan dan diskon, barang-barang tersebut terasa lebih mudah dijangkau, meskipun nilainya tetap tidak kecil.</p>



<p>Pola ini sejalan dengan cerita para informan. Sebagian dari mereka mengaku menggunakan <em>pay later </em>bukan semata karena tidak memiliki uang, tetapi karena ingin memanfaatkan promo yang ditawarkan platform <em>e-commerce.</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Paling sering beli makanan karena diskonnya lebih besar. Dalam sebulan biasanya bisa 3–5 kali beli makanan pakai paylater.”</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Biasanya buat ShopeeFood atau barang sehari-hari, kayak keperluan kuliah. Sebenernya lebih ngincer promonya sih, karena kalau pakai paylater promonya lebih besar.”</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Pakai Shopee PayLater buat skincare sama perlengkapan anjing. Dalam sebulan bisa 2-3 kali belanja pakai paylater”</em></p>
</blockquote>



<p>Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa penggunaan<em> pay later</em> dipilih karena terasa praktis dan menawarkan keuntungan instan lewat promo. Namun, ketika digunakan berulang untuk kebutuhan kecil sehari-hari, batas antara kebutuhan dan keinginan perlahan menjadi semakin kabur.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>TAHUKAH KAMU? JAWA BARAT MENJADI PENGGUNA<em>PAY LATER</em> TERBESAR DI INDONESIA</strong>!</p>



<p>Fenomena <em>pay later</em> tidak hanya meningkat pada soal usia, tetapi juga wilayah. Data OJK menunjukkan bahwa penggunaan <em>pay later </em>di Indonesia memperlihatkan perbedaan yang cukup tajam antarprovinsi. Jumlah rekening aktif dan total pinjaman yang belum dilunasi membentuk gambaran yang lebih kompleks dari sekadar anggapan bahwa masyarakat “gemar berutang”.</p>



<p>Berdasarkan data terbaru OJK, kita dapat melihat bagaimana jumlah rekening aktif pengguna dan total pinjaman yang belum dibayar membentuk gambaran yang lebih kompleks, jauh lebih dari sekadar &#8220;orang suka berutang&#8221;. Setiap wilayah di Indonesia menunjukkan tingkat penggunaan <em>pay later</em> yang berbeda, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti karakteristik penduduk dan kondisi ekonomi setempat.</p>


<p><iframe title="Jumlah Rekening Penerima Pinjaman Aktif" aria-label="Choropleth map" id="datawrapper-chart-SNLVz" src="https://datawrapper.dwcdn.net/SNLVz/8/" scrolling="no" frameborder="0" style="width: 0; min-width: 100% !important; border: none;" height="328" data-external="1"></iframe><script type="text/javascript">window.addEventListener("message",function(a){if(void 0!==a.data["datawrapper-height"]){var e=document.querySelectorAll("iframe");for(var t in a.data["datawrapper-height"])for(var r,i=0;r=e[i];i++)if(r.contentWindow===a.source){var d=a.data["datawrapper-height"][t]+"px";r.style.height=d}}});</script></p>



<p>Pada peta ini, kita dapat melihat sebaran pengguna <em>pay later</em> berdasarkan jumlah rekening aktif di berbagai provinsi. Jawa Barat, dengan 39.419.321 rekening aktif, dan DKI Jakarta, dengan 15.937.365 rekening aktif, berada di posisi teratas, menunjukkan bahwa wilayah urban dan suburban dengan jumlah penduduk yang lebih besar serta tingkat konsumsi digital yang tinggi, mendominasi penggunaan layanan <em>pay later</em>. Sementara itu, provinsi dengan populasi yang lebih kecil, seperti Papua Pegunungan dengan 13.493 rekening aktif dan Papua Selatan dengan 31.487 rekening aktif, tercatat memiliki kontribusi yang jauh lebih rendah, mengindikasikan tingkat dan aktivitas penggunaan <em>pay later </em>yang lebih rendah.</p>


<p><iframe title="Jumlah Pinjaman Yang Masih Menggantung" aria-label="Choropleth map" id="datawrapper-chart-nK6C6" src="https://datawrapper.dwcdn.net/nK6C6/5/" scrolling="no" frameborder="0" style="width: 0; min-width: 100% !important; border: none;" height="328" data-external="1"></iframe><script type="text/javascript">window.addEventListener("message",function(a){if(void 0!==a.data["datawrapper-height"]){var e=document.querySelectorAll("iframe");for(var t in a.data["datawrapper-height"])for(var r,i=0;r=e[i];i++)if(r.contentWindow===a.source){var d=a.data["datawrapper-height"][t]+"px";r.style.height=d}}});</script></p>



<p>Selain itu, peta ini juga memperlihatkan total jumlah pinjaman yang masih menggantung, memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai beban ekonomi yang ditanggung oleh para pengguna. Jawa Barat, dengan total pinjaman yang masih menggantung sebesar 121.648,06 miliar rupiah, dan DKI Jakarta, dengan 75.626,89 miliar rupiah, memiliki nilai pinjaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya banyak orang yang menggunakan <em>pay later</em>, tetapi mereka juga memiliki pinjaman yang belum dilunasi dalam jumlah yang signifikan. Sebaliknya, provinsi dengan tingkat adopsi yang lebih rendah tercatat memiliki nilai pinjaman yang lebih kecil.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>PLATFORM <em>PAY LATER </em>APA <em>SIH</em> YANG PALING BANYAK DIGUNAKAN OLEH GEN-Z?</strong></p>



<p>Setelah melihat pola belanja mereka, muncul satu hal penting: Gen-Z sebenarnya paling sering pakai platform <em>pay later </em>yang mana? Ternyata, pilihan mereka sangat dipengaruhi oleh aplikasi yang sudah akrab dipakai sehari-hari.</p>


<div class="infogram-embed" data-id="a77f4385-aff9-4df6-998c-710ed6794d30" data-type="interactive" data-title="Platform Paylater yang Paling Banyak digunakan Gen-Z"></div>
<p><script>!function(e,n,i,s){var d="InfogramEmbeds";var o=e.getElementsByTagName(n)[0];if(window[d]&&window[d].initialized)window[d].process&&window[d].process();else if(!e.getElementById(i)){var r=e.createElement(n);r.async=1,r.id=i,r.src=s,o.parentNode.insertBefore(r,o)}}(document,"script","infogram-async","https://e.infogram.com/js/dist/embed-loader-min.js");</script></p>
<div style="padding:8px 0;font-family:Arial!important;font-size:13px!important;line-height:15px!important;text-align:center;border-top:1px solid #dadada;margin:0 30px"><a href="https://infogram.com/platform-paylater-yang-paling-banyak-digunakan-gen-z-1hxj48mqrwnkq2v" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank">Platform Paylater yang Paling Banyak digunakan Gen-Z</a><br /><a href="https://infogram.com" style="color:#989898!important;text-decoration:none!important;" target="_blank" rel="nofollow">Infogram</a></div>



<p>Dari data yang ada, Shopee PayLater jadi platform yang paling mendominasi. Buat banyak Gen-Z, Shopee sudah jadi tempat belanja utama dan ketika keinginan checkout muncul, fitur <em>pay later</em>-nya terasa sebagai solusi tercepat dan paling praktis. Di belakangnya, GoPay Later dan Traveloka PayLater juga menempati posisi yang kuat. Keduanya dianggap mudah diakses dan sudah menyatu dengan kebiasaan digital Gen-Z, mulai dari kebutuhan kecil hingga keperluan dadakan.</p>



<p>Sementara itu, Kredivo dan Akulaku digunakan oleh sebagian Gen-Z yang mengutamakan fitur pembayaran tertentu atau limit yang lebih fleksibel. Artinya, pilihan platform <em>pay later </em>tidak selalu soal cicilan paling murah, tetapi tentang layanan mana yang terasa paling nyaman dan paling mendukung gaya hidup mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>KENAPA HARUS <em>PAY LATER?</em></strong></p>



<p>Niatnya cuma lihat-lihat, tapi <em>pay later</em> bilang <em>&#8220;gas, nanti mikirnya belakangan&#8221;.</em></p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/trix-1.mp4"></video></figure>



<p>Para informan menceritakan bahwa mereka terdorong memakai <em>pay later </em>karena sering tergoda promosi dan <em>cashback </em>di <em>e-commerce,</em> terpapar tren belanja digital dari media sosial, serta dipengaruhi rasa FOMO dan impuls untuk terlihat <em>up-to-date</em> di lingkaran sosialnya.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>PAY LATER, </em>KEMUDAHAN ATAU UTANG DIGITAL?</strong></p>



<p>Pas <em>checkout </em>bahagia, pas jatuh tempo langsung jadi ahli matematika?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="540" style="aspect-ratio: 960 / 540;" width="960" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/triks-2.mp4"></video></figure>



<p>Terkadang, <em>nggak </em>bisa dihindari antara kebutuhan dengan keinginan. Para informan mengakui bahwa penggunaan <em>pay later</em> sering membuat mereka terbawa pola belanja yang lebih konsumtif dan bergantung pada kredit instan, yang dalam jangka panjang mulai mengganggu kestabilan keuangan mereka, sebagian dari mereka juga menyadari bahwa rendahnya literasi finansial ikut mendorong keputusan berutang digital tanpa pertimbangan matang.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>GEN-Z,<em>PAY LATER, </em>DAN KENYATAAN YANG PERLU KITA SADARI</strong>!</p>



<p>Melihat tren tersebut, satu hal yang jelas, <em>pay later</em> bukan lagi sekadar fitur tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari ritme hidup Gen-Z. Mereka menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan promo, dan mengikuti arus gaya hidup digital yang serba cepat. Pilihan platform yang mereka gunakan pun mengikuti kebiasaan: mana yang paling sering dipakai, itulah yang paling dipercaya.</p>



<p>Di balik kenyamanan dan fleksibilitasnya, ada realitas yang perlu disadari. Frekuensi penggunaan yang tinggi, ditambah limit yang mudah diakses, membuat batas antara “butuh” dan “ingin” semakin kabur. Banyak Gen-Z yang tanpa disadari terjebak dalam pola konsumsi impulsif, sementara angka pinjaman yang terus menggantung justru menunjukkan risiko finansial yang tidak terlihat di permukaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4065" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1024x683.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-300x200.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-768x512.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-1536x1024.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/iStock-1355229268-2048x1365.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">Sumber: <a href="https://insights.masterworks.com/finance/the-20-10-rule-for-debt-management/">Masterworks</a></p>



<p>Di titik inilah literasi finansial menjadi penting, bukan untuk melarang penggunaan <em>pay later, </em>tetapi untuk membantu Gen-Z memahami konsekuensinya. Bahwa setiap klik “bayar nanti” adalah keputusan finansial yang punya dampak jangka panjang. Dan pada akhirnya,<em>pay later</em> bisa menjadi alat yang membantu, atau jebakan yang perlahan menyulitkan, tergantung bagaimana ia digunakan. Karena itu, mari mulai bertanya pada diri sendiri setiap kali hendak checkout: <strong><em>“Ini kebutuhan… atau cuma dorongan sesaat, ya?”</em></strong></p>



<p>Kalau generasi digital bisa menguasai pertanyaan sederhana itu, maka bukan hanya gaya hidup yang lebih teratur tercipta, tapi masa depan finansial yang jauh lebih sehat. Saatnya Gen-Z lebih sadar dalam setiap keputusan finansial, memahami risikonya, dan tidak menjadikan kemudahan <em>pay later</em> sebagai alasan untuk berutang tanpa perhitungan!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/12/19/potret-tren-buy-now-pay-later-di-kalangan-gen-z-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/trix-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />
<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/12/triks-2.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Nazar Lulus UTBK, Kurban Pertama dari Uang Jajan Lima Ribu Rupiah</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Amin Rakil]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 15:42:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[masukptn]]></category>
		<category><![CDATA[utbk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3914</guid>

					<description><![CDATA[BOGOR, 6 Juni 2025 —&#160; Di tengah deretan hewan kurban yang berjajar rapi menanti, ada seekor domba yang tampak biasa saja. Tapi pemiliknya tidak. Domba itu dibeli dari hasil menabung seorang remaja perempuan, Nurul Khatimah Hariyanto, 18 tahun. Bukan orang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>BOGOR, 6 Juni 2025</strong> —&nbsp; Di tengah deretan hewan kurban yang berjajar rapi menanti, ada seekor domba yang tampak biasa saja. Tapi pemiliknya tidak. Domba itu dibeli dari hasil menabung seorang remaja perempuan, Nurul Khatimah Hariyanto, 18 tahun. Bukan orang dewasa dengan penghasilan tetap dan bukan pula pejabat atau tokoh masyarakat. Nurul membeli domba itu sendiri dari uang jajan yang ia kumpulkan sejak duduk di bangku SMK.</p>



<p>Nurul baru saja diterima di Program Studi Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui jalur Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) 2025. Latar belakang pendidikannya ini sempat membuatnya ragu, bahkan pesimis menghadapi seleksi UTBK.&nbsp;&#8220;Aku dari SMK, <em>kan</em>. Jadi mikir <em>gitu</em>, kayak <em>enggak </em>mungkin lulusan SMK bisa keterima UTBK,” ujarnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3918" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7350-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3915" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7366-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Lokasi penjualan hewan kurban di Bogor. Domba-domba putih dan hitam tertata rapi, dipisahkan oleh potongan bambu.</sub></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3917" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7301-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Seekor domba putih yang dipilih oleh Nurul dan siap untuk dikurbankan.</sub></p>



<p>Namun, keraguan itu kini terbayar lunas. Ia berhasil lulus ke perguruan tinggi yang ia pilih dengan jurusan yang disukai. Di tengah kegembiraannya menyambut pengumuman kelulusan, Nurul memutuskan menunaikan satu niat yang sudah ia simpan sejak lama yaitu berkurban dengan uang hasil tabungan sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-3919" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1024x768.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-300x225.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-768x576.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-1536x1152.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7328-2048x1536.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Proses pemotongan daging yang dibantu oleh para panitia kurban.</sub></p>



<p>Sejak masih duduk di bangku SMK, Nurul terbiasa menyisihkan sebagian uang jajannya setiap hari. Jumlahnya tidak besar, sekitar lima ribu rupiah atau bahkan kurang. Ia tidak pernah menetapkan target jumlah tertentu. Awalnya, tabungan itu ia kumpulkan untuk keperluan mendesak. Namun, setelah mengikuti UTBK dan menjelang pengumuman, niat itu berubah. Ia berjanji dalam hati, jika diterima, ia akan membeli hewan kurban dari uang tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="685" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1024x685.jpeg" alt="" class="wp-image-3921" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1024x685.jpeg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-300x201.jpeg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-768x514.jpeg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-1536x1028.jpeg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG_7364-1-2048x1370.jpeg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><sub>Nurul sedang menyaksikan langsung pemotongan dan perhitungan daging yang ia kurbankan. </sub><br><br>Tahun ini, orang tua Nurul juga ikut berkurban. Meski demikian, Nurul tetap bersikeras untuk melakukannya secara mandiri. Teddy Hariyanto selaku ayah Nurul menyampaikan bahwa dirinya tidak menyangka anak pertamanya tersebut benar-benar akan berkurban. Teddy sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Nurul. Mereka begitu bersyukur karena Nurul berhasil lulus UTBK dan lebih bangga lagi karena Nurul dengan tulus mau berkurban.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1080" style="aspect-ratio: 1920 / 1080;" width="1920" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_0CCB10D2-2A87-4B9C-8B9F-757DA8F4411B.mov"></video></figure>



<p><sub>Pesan Nurul untuk orang-orang yang masih ragu atau tidak yakin untuk berkurban.</sub></p>



<p>Tak banyak remaja seusia Nurul yang memilih cara ini untuk merayakan pencapaian seperti ini. Usia di mana kebanyakan remaja mungkin akan memilih merayakan kelulusan dengan hal-hal yang bersifat konsumtif atau hiburan semata. Baginya, berkurban bukan sekadar wujud nazar atau janji pribadi, melainkan bentuk syukur atas kelulusan, penyucian rezeki, dan simbol kemandirian yang selama ini ia upayakan secara perlahan, sedikit demi sedikit, dari saku sendiri. </p>



<p>Panitia kurban, Deden Nurodin berharap hal ini bisa menginspirasi bukan hanya seusia Nurul tapi juga orang banyak. Menurut Deden, semangat berkurban bukan ditentukan oleh besar kecilnya uang, tetapi oleh niat yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh. &#8220;Walaupun cuma dengan uang lima ribu, seseorang tetap bisa ikut berkurban,&#8221; lanjutnya.</p>



<p><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/10/nazar-lulus-utbk-kurban-pertama-dari-uang-jajan-lima-ribu-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/copy_0CCB10D2-2A87-4B9C-8B9F-757DA8F4411B.mov" length="0" type="video/quicktime" />

			</item>
	</channel>
</rss>
