<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fashion &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/tag/fashion/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jun 2025 02:18:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>fashion &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Modest Wear Bukan Lagi Soal Agama: Gaya Tertutup Jadi Tren Inklusif di Indonesia</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/03/modest-wear-bukan-lagi-soal-agama-gaya-tertutup-jadi-tren-inklusif-di-indonesia/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/03/modest-wear-bukan-lagi-soal-agama-gaya-tertutup-jadi-tren-inklusif-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 1 Etnografi Digital]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2025 18:30:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Mode]]></category>
		<category><![CDATA[Modest Wear]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3456</guid>

					<description><![CDATA[Penggunaan AI: Inspirasi topik, idea’s prompting, (ChatGPT) Jakarta, Indonesia — Dalam beberapa tahun terakhir, industri modest wear di Indonesia berkembang pesat dengan hadirnya jenama lokal yang menawarkan koleksi modis dan inklusif. Tidak hanya digemari perempuan berhijab, trend ini juga menarik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penggunaan AI: Inspirasi topik, <em>idea’s prompting,</em> (ChatGPT)</p>



<p><strong>Jakarta, Indonesia — </strong>Dalam beberapa tahun terakhir, industri<em> modest wear</em> di Indonesia berkembang pesat dengan hadirnya jenama lokal yang menawarkan koleksi modis dan inklusif. Tidak hanya digemari perempuan berhijab, <em>trend</em> ini juga menarik minat perempuan nonhijab dan nonmuslim, menjadikan modest wear bagian dari <em>pop culture</em> dan industri mode yang dinamis berkat dukungan media sosial dan teknologi digital.</p>



<p>Perkembangan tren <em>modest wear</em> yang semakin inovatif dan ekspresif memunculkan pertanyaan: Sejauh mana eksplorasi gaya ini masih selaras dengan nilai-nilai berpakaian dalam Islam?<br><br>Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di Indonesia yang membuat pasar pakaian muslim atau <em>modest wear</em> berkembang pesat. Saat ini, banyak jenama <em>modest wear</em> baru yang bermunculan di Indonesia secara masif. Bahkan menurut data Global Islamic Economy Indicator Score yang dikutip dari <a href="https://www.shafiq.id/berita/429/indonesia-peringkat-tiga-dalam-indikator-modest-fashion-sgie-report-2023/baca"><em>Shafiq.id</em></a><em> </em>, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan industri<em> modest fashion</em> terbaik di dunia mengalahkan Singapore dan Italia.&nbsp;<br></p>



<p><img fetchpriority="high" decoding="async" width="602" height="339" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdVPW5xmym2eYVoWKtI5fdRx_1dXspX78zsj3a3yZbns3aH0BaslWjt7njmbu9qYRzQMBg4xxEbSskMo_Yn9FKfaDYMJLrFDUJIWhqcdMN09JrqXjsKLW7eg_hUwAMhpozfIhXhGA?key=2VSEGbBeAe9W1FfjQfa3FRQg"><br>Toko <em>offline store</em> Buttonscarves di Pondok Indah Mall. <em>Modest wear</em> dapat ditemukan di pusat perbelanjaan ternama di Jakarta <em>(Source: Google Photos)</em></p>



<p>Hal tersebut tentu menjadi angin segar untuk industri <em>modest wear</em> di Indonesia, mereka membawa inovasi dan pesan yang <em>trendy</em> dan relevan sehingga menjadikanya bagian dari <em>pop culture</em> baru. Bahkan dalam pergelaran Jakarta Fashion Week 2025, <em>modest wear</em> menjadi sorotan tersendiri dengan lebih dari tiga peragaan busana khusus yang menampilkan karya desainer lokal Indonesia di segmen tersebut.<br><br>Mulai dari Sabamodest dengan koleksi modest wear yang minimalis, Buttonscarves dan Nada Puspita yang menampilkan nuansa kemewahan, Kienka dengan ciri khasnya bunga-bunga menambah feminitas bagi penggunanya hingga Ayu Dyah Andari dengan desain elegan dan glamor. Tak hanya mereka, sejumlah jenama<em> modest wear </em>lainnya juga turut merilis koleksi yang modis dan relevan dengan tren saat ini. <em>Sumber: </em><a href="https://www.jakartafashionweek.co.id/jfw-2025/trend-forecast-2025-ragam-gaya-busana-modest-terkini"><em>Jakarta Fashion Week 2025: Modest Wear</em></a><em>&nbsp;</em></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="1600" height="1065" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw.jpg" alt="" class="wp-image-3462" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw.jpg 1600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw-300x200.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw-1024x682.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw-768x511.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcTMr06xp2ud4Wq1BrimIJjUDFgmZ993a-2geV2IgbTC10FjoQyTqDmtL4nrKEhjDvwBO53qweUql2lSRLM3gRYsewn1kbEOA6zZwT9xL0tpRU6vbb31Q93b-SjFdIfhku5bM18Sw-1536x1022.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p>Jenama Ayu Dyah Andari menunjukkan koleksi modest wear dengan tema&nbsp; Roseraie Éternelle. Sebagai gabungan dari Budaya lokal dan sentuhan internasional yang elegan.<em> (Sumber: Getty Image, Jakarta Fashion Week 2025)</em></p>



<p>Jenama tersebut, meluaskan pasarnya sehingga tidak hanya menjadi daya tarik untuk kalangan muslim, tetapi juga perempuan muslim nonhijab hingga nonmuslim.</p>



<p>“Suka banget karena nyaman, tampilan nya juga sekarang<em> elegant </em>dan <em>classy, </em>sesuai sama baju-baju yang sering aku pake”, ujar Kezia Trixie seorang nonmuslim pengguna <em>modest wear.</em></p>



<p><em>Modest fashion</em> sendiri mengalami perluasan makna. Bila sebelumnya, pakaian <em>modest</em> kerap dihubungkan dengan suatu agama, yaitu muslim atau diasosiasikan dengan penggunaan hijab. Saat ini, batas penggunaan <em>modest wear</em> seakan kabur dan berkembang lebih inklusif tanpa memandang agama atau keyakinan.</p>



<p>Berbagai macam kategori gaya seperti <em>playful, kasual</em>, santai, hingga formal hadir dengan versi yang tertutup, tetapi tetap modis dan nyaman untuk digunakan.</p>



<p>Gaya berpakaian terutup, tidak lagi terbatas pada suatu kelompok tertentu, tetapi menjadi pilihan gaya inklusif yang menyesuaikan karakter dan preferensi setiap individu. Gaya seperti <em>streetwear </em>yang <em>edgy</em>, <em>officewear </em>yang memberikan kesan professional hingga <em>eveningwear </em>yang dikenal elegan dapat dieksplorasi dalam nuansa <em>modest wear </em>yang modis tanpa meninggalkan nilai kesopanan..</p>



<p>Dalam eksekusinya,<em> modest wear</em> sendiri identik dengan potongan yang longgar, lengan panjang, kerah tinggi, <em>layering-friendly </em>(agar nyaman jika dipadupadankan dengan hijab), dan meminimalkan area kulit yang terlihat. Potongan-potongan tersebut menjadi tantangan untuk para desainer untuk menghadirkan koleksi yang menutup tubuh, tetapi tetap memberikan estetika.<em><br><br></em>Meningkatnya kreativitas dari desainer-desainer di Indonesia merespon dengan menghadirkan koleksi <em>modest wear,</em> tidak hanya untuk kebutuhan muslimah, tetapi juga pasar yang luas. Awalnya <em>modest wear </em>selalu dikaitkan dengan suatu agama yang dinilai “<em>tidak stylish</em>” atau “agamis”, tetapi dengan adanya inovasi-inovasi baru, persepsi tersebut berubah terbalik. Penggunaan <em>modest wear</em> menjadi lebih inklusif khususnya di kota-kota besar Indonesia</p>



<p>Menjawab pertanyaan dalam narasi ini, Meluasnya pasar dari <em>modest wear</em>, apakah jadi menghilangkan esensi dari <em>modest wear </em>yang seharusnya tertutup sesuatu dengan syariat agama tertentu?</p>



<p>Inaya sebagai selaku pengamat fashion di Indonesia menjelaskan, “Penggunaan <em>modest wear </em>memang tidak seharusnya terestriksi oleh agama atau asal kalangan.”<br><br>“Memperlakukan tren berbusana yang mungkin belum sepenuhnya sesuai syariat sebagai sebuah epidemi menurutku tidak pada tempatnya. Ini bukan sekadar tren<em> pop culture</em>, melainkan lebih dekat ke ranah ideologi,” ujarnya.<br><br>Tidak hanya pengamat, tetapi Ia juga memiliki clothing line <em>modest wear </em>sendiri hasil dari ide dan kreativitasnya. “Objektif dalam desainku adalah membuat <em>modest wear </em>dapat diterima secara lebih universal oleh kalangan yang lebih luas, tidak terkhusus pada orang yang sudah berhijab, tapi juga untuk orang-orang yang sedang belajar dan terutama yang menyukai dunia <em>fashion </em>di luar spektrum <em>modest.”<br><br></em>Masih jauh dari pandangan Inaya, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia kerap memandang industri mode melalui dua segmen utama: modest dan <em>non-modest</em>.</p>



<p>Klasifikasi ini secara tidak langsung membentuk stereotip bahwa modest wear identik dengan perempuan Muslim, sementara non<em>modest</em> diasosiasikan dengan perempuan nonmuslim. Padahal, dalam praktiknya, pilihan gaya berpakaian tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh latar belakang agama, melainkan oleh preferensi pribadi, nilai, dan ekspresi diri masing-masing individu.<br><br>Tanpa adanya stereotipe, jenama <em>fashion</em> kemungkinan besar akan lebih terbuka dalam merancang koleksi modest wear yang<em> hijab-friendly</em>, tanpa harus memberikan label &#8220;khusus muslimah&#8221;.<br><br>Alifa Diva, mahasiswa Antropologi Universitas Indonesiapengguna <em>modest fashion</em> menjelaskan bahwa “<em>Modest wear </em>itu<em> </em>suatu medium kesakralan atau subjektif yang <em>co-exist </em>bersamaan dengan fashion. Terutama generasi muda untuk punya <em>urge creative,</em> dengan menegosiasikan <em>modest wear</em> agar bisa confirm ke <em>fashion, tapi</em> menjujung nilai-nilai yang mereka pahami mengenai seharusnya berpakaian.”</p>



<p>Kedepannya diharapkan lebih banyak lagi jenama yang menjual koleksi dengan potongan khas <em>modest wear</em> agar wanita muslim berhijab bukan jadi hambatan sosial terutama dalam mengekspresikan diri. Artinya, <em>modest wear </em>tidak lagi eksklusif, tetapi inklusif.<br><br>Media sosial turut berperan besar dalam mendorong perkembangan <em>modest wear</em> yang lebih inklusif. Kehadiran perempuan Muslim berhijab yang tampil percaya diri membagikan gaya berpakaian modis mereka di berbagai platform membuka mata banyak orang bahwa berhijab bukanlah halangan untuk tampil <em>stylish </em>dan ekspresif.<br><br>Kebebasan berekspresi di media sosial turut mendorong munculnya kreator-kreator konten berhijab yang aktif menampilkan gaya modest wear mereka. Mulai dari membagikan OOTD (<em>outfit of the day</em>) hingga me-<em>review</em> berbagai jenama lokal. Seperti @pamelagatha_, @martabakcheeseadalahkeju, @safsafyy, dan masih banyak lagi. Para kreator ini ikut membentuk persepsi baru bahwa<em> modest fashion</em> bisa tampil modern, variatif, dan relevan dengan tren masa kini lewat media sosial TikTok. </p>



<p>Akibatnya muncul juga, kreator-kreator TikTok nonhijab menggunakan <em>modest wear </em>yang membuatnya semakin inklusif. Seperti @kharisjournal, @themorbenzo, @tapi.upit, dan masih banyak lagi.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="1050" height="600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcE8ynOzw4n69_yxzG14nVPnzrpCso1oogTEz7o3Gr1yd3Kdn05YcaoQgzzqW1w-wogKMIdaMg2a5dljPkGo_AYoOgUNwgFrVWg-3T1GaYIiACgF1HCF2JcP1y5OCqFyYOosyms.png" alt="" class="wp-image-3463" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcE8ynOzw4n69_yxzG14nVPnzrpCso1oogTEz7o3Gr1yd3Kdn05YcaoQgzzqW1w-wogKMIdaMg2a5dljPkGo_AYoOgUNwgFrVWg-3T1GaYIiACgF1HCF2JcP1y5OCqFyYOosyms.png 1050w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcE8ynOzw4n69_yxzG14nVPnzrpCso1oogTEz7o3Gr1yd3Kdn05YcaoQgzzqW1w-wogKMIdaMg2a5dljPkGo_AYoOgUNwgFrVWg-3T1GaYIiACgF1HCF2JcP1y5OCqFyYOosyms-300x171.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcE8ynOzw4n69_yxzG14nVPnzrpCso1oogTEz7o3Gr1yd3Kdn05YcaoQgzzqW1w-wogKMIdaMg2a5dljPkGo_AYoOgUNwgFrVWg-3T1GaYIiACgF1HCF2JcP1y5OCqFyYOosyms-1024x585.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXcE8ynOzw4n69_yxzG14nVPnzrpCso1oogTEz7o3Gr1yd3Kdn05YcaoQgzzqW1w-wogKMIdaMg2a5dljPkGo_AYoOgUNwgFrVWg-3T1GaYIiACgF1HCF2JcP1y5OCqFyYOosyms-768x439.png 768w" sizes="(max-width: 1050px) 100vw, 1050px" /></figure>



<p>Konten Kreator TikTok, @themorbenzo, @tapi.upit, dan @kharisjournal melakukan mix &amp; match pakaian <em>modest wear</em>. Meskipun tidak menggunakan hijab, modest wear tetap tampak menarik dan modis pada perempuan non hijab. <em>(Sumber: TikTok)</em></p>



<p>Generasi muda, melalui konten yang mereka bagikan di media sosial, menunjukkan kecenderungan dan dorongan kreatif untuk menegosiasikan <em>modest wear</em> agar tetap selaras dengan tren<em> fashion,</em> tanpa meninggalkan nilai-nilai kesopanan dalam berpakaian.<br><br>&#8220;Orang-orang <em>encouraging</em> dan<em> empowering each other</em> untuk lebih ekspresif, tanpa melihat <em>modesty</em> dan <em>expression fashion</em> sebagai dua hal yang saling bertentangan&#8221; ujar Alifa lagi.<br><br>Menurutnya, media sosial memiliki peran besar dalam perkembangan <em>modest wear,</em> khususnya di Indonesia. Platform digital <em>tak</em> hanya memengaruhi preferensi gaya berbusana masyarakat, tetapi juga membentuk cara individu memahami dan mengeksplorasi penampilan mereka. Melalui konten <em>video</em> yang kian beragam dari segi format dan penyampaian, teknologi digital turut membuka ruang baru bagi ekspresi diri dalam berbusana.<br><br><em>Modest wear</em> di Indonesia masih terlihat jelas mencerminkan antara nilai tradisional, agama, dan modern yang saling berdampingan. Adanya arus globalisasi, bukan menjadi tantangan untuk para desainer dari <em>modest wear</em>, tetapi batu loncatan baru dalam menghasilkan karya-karyanya yang lebih variatif lagi.</p>



<p>Dengan ruang yang semakin luas dan stereotipe yang mulai terkikis, <em>modest wear</em> berpotensi menjadi bagian krusial dari industri mode global, di mana pakaian tertutup bukan lagi soal batasan, tetapi pilihan gaya yang merayakan keberagaman dan kebebasan berekspresi.<br><br><br><br><br></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/03/modest-wear-bukan-lagi-soal-agama-gaya-tertutup-jadi-tren-inklusif-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
