<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Identitas Sosial &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/tag/identitas-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Jul 2025 03:20:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>Identitas Sosial &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>A Dump Account: Ruang Digital Aman Tanpa Kritikan</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3797</guid>

					<description><![CDATA[Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Feeds harus estetik, caption harus...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi</strong></p>



<p>Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. <em>Feeds</em> harus estetik, <em>caption</em> harus <em>catchy</em>, dan citra diri pun seolah harus dijaga terus-menerus. Di tengah tekanan itu, muncul pertanyaan: bagaimana seseorang bisa mengekspresikan perasaannya dengan jujur jika media sosial justru menjadi ruang yang penuh tuntutan?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3837" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-scaled.png 960w" sizes="(max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</div>


<p class="has-large-font-size"><strong>Instagram dan Dump Account</strong></p>



<p>Dalam era digital saat ini, media sosial bukan hanya sarana berbagi informasi atau foto, tapi juga ruang untuk membentuk identitas diri dan menyalurkan emosi. Bagi generasi Z, Instagram menjadi platform utama untuk mencurahkan cerita dan perasaan melalui konten visual. Namun, tekanan untuk selalu menampilkan “kehidupan ideal” di akun utama membuat banyak pengguna merasa tak lagi punya ruang aman untuk mengekspresikan sisi personal mereka. Beberapa hal di atas menjadi alasan banyak orang beralih dan menjadi lebih aktif di <em>dump account</em>. <em>Dump account</em> adalah akun alternatif Instagram yang digunakan secara lebih santai, bebas, dan spontan. Berbeda dari akun utama yang penuh pencitraan, <em>dump account</em> lebih menyerupai ruang pribadi di mana pengguna bisa unggah foto acak, refleksi pribadi, atau momen emosional tanpa merasa diawasi atau dinilai, meskipun akunnya tetap bisa dilihat masyarakat umum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png" alt="" class="wp-image-3809" style="width:442px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-768x644.png 768w" sizes="(max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p><br>Menariknya, ini bukan fenomena yang jarang terjadi. Menurut data Goodstats.id (2024), <strong>57% pengguna Instagram di Indonesia memiliki akun kedua</strong>, termasuk <em>dump account.</em> Angka ini mencerminkan kebutuhan besar akan ruang ekspresi yang lebih autentik dan lepas dari tekanan sosial.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Fenomena ini menjadi titik awal dari penelitian kami,</strong></p>



<p>yang bertujuan menggali bagaimana penggunaan <em>dump account</em> sebagai bentuk jurnal foto digital dapat membantu generasi Z dalam meregulasi emosi mereka. Hal ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Scott et al. (2023) dan Pluta et al. (2021), terkait pemilihan media untuk mengekspresikan aspek emosional dan pribadi di ranah digital. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan teknik<em> photo elicitation interview</em>, kami mendalami pengalaman subjektif para pengguna <em>dump account</em>. Penelitian ini didukung oleh konsep-konsep seperti <em>online self-disclosure</em>, <em>social sharing of emotions</em>, dan <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT) untuk memahami lebih dalam relasi antara ekspresi diri di media sosial dan kesejahteraan emosional mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Di Balik Maraknya Penggunaan <em>Dump Account</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f9d1-200d-1f4bb.png" alt="🧑‍💻" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Untuk memahami lebih dalam bagaimana <em>dump account</em> digunakan sebagai bentuk jurnal foto digital atau media untuk ekspresi dan regulasi emosi, penelitian ini mengacu pada tiga konsep utama, yaitu <strong><em>online self-disclosure</em></strong><em>, </em><strong><em>social sharing of emotions</em></strong><em>, dan </em><strong><em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong>. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana individu memaknai penggunaan media sosial sebagai ruang ekspresi personal di tengah tekanan sosial digital.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>1. <em>Online Self-Disclosure</em></strong></p>



<p>Konsep <em>online self-disclosure</em> merujuk pada kecenderungan seseorang untuk secara sukarela membagikan informasi pribadi, pikiran, dan perasaannya melalui media online. Dibandingkan dengan interaksi langsung, komunikasi berbasis platform digital cenderung membuka ruang yang lebih leluasa untuk bersikap terbuka, terutama ketika pengguna merasa audiensnya terbatas atau tidak terlalu menghakimi.&nbsp;Dalam konteks <em>dump account</em>, praktik <em>self-disclosure</em> ini menjadi lebih mudah dilakukan. Informan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa mereka unggah di akun utama. Baik dalam bentuk foto, video, maupun caption reflektif, pengguna memanfaatkan <em>dump account</em> untuk membagikan sisi emosional mereka tanpa rasa takut dinilai atau dilihat oleh orang-orang yang tidak dekat secara personal.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>2. <em>Social Sharing of Emotions</em></strong></p>



<p>Berkaitan erat dengan konsep sebelumnya, <em>social sharing of emotions</em> menjelaskan bagaimana individu secara alami terdorong untuk membagikan pengalaman emosional baik yang menyenangkan maupun menyedihkan kepada orang lain, sebagai bentuk pencarian dukungan atau validasi. Menurut Rimé (2009), berbagi emosi bukan hanya soal curhat, tapi juga bagian dari proses mengelola dan memahami perasaan diri sendiri.<em>Dump account</em> menjadi media untuk itu. Pengguna sering membagikan konten yang berisi memori personal, suasana hati, bahkan momen-momen yang tidak sempat dibagikan di dunia nyata. Terkadang, mereka tidak mencari respons besar dari audiens, cukup dengan mengetahui bahwa unggahan tersebut ada yang melihat dan mengerti dengan postingan mereka saja sudah cukup untuk memberikan rasa lega.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>3. <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong></p>



<p>Teori ini membantu menjelaskan alasan mengapa seseorang memilih <em>dump account</em> dibandingkan akun utama. Dalam <em>Uses and Gratifications Theory</em> (Blumler &amp; Katz, 1974), individu secara aktif memilih media tertentu berdasarkan kebutuhan atau kepuasan yang ingin mereka dapatkan, seperti kebutuhan akan hiburan, ekspresi diri, pelarian emosional, atau hubungan sosial.Dalam konteks penelitian ini, <em>dump account</em> menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan akan ekspresi jujur dan regulasi emosi. Alih-alih menggunakan akun utama yang penuh tekanan dan ekspektasi sosial, pengguna lebih memilih dump account karena bisa mengunggah konten tanpa harus mempertimbangkan estetika, jumlah likes, atau citra diri yang harus dijaga.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kerangka Penelitian</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcKFgaKBwYu7rYqiDxs-v5bjdxoHklGvziHSsvxauAb2q7WmEsmDjbO22ug3PFI5zF251-AkRVoR696a9MnZcNEZFaTVMER41Wg8OzZ0gRTN3ZIgqFtkL9OrVdT3FwRsPgxZ-THbQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian</em></p>



<p>Penelitian ini ingin melihat bagaimana penggunaan <em>dump account</em> Instagram berperan sebagai sarana regulasi emosi bagi generasi Z. Ketiga teori dan konsep utama dalam penelitian ini saling terhubung dengan memberikan kerangka teoritis untuk memahami bagaimana aktivitas berbagi secara digital bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang bermakna. Ini memperkuat pemahaman bahwa <em>dump account</em> adalah bentuk jurnal foto digital, yang tidak hanya mendokumentasikan momen, tetapi juga membantu pengguna dalam proses regulasi emosi.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif pengguna dalam menggunakan <em>dump account</em> sebagai jurnal foto digital dalam proses regulasi emosi. Pendekatan fenomenologi dipilih karena mampu mengungkap makna terdalam dari pengalaman hidup partisipan, tidak hanya dari perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga dari refleksi personal yang melekat dalam tindakan mereka. Untuk menggali kompleksitas pengalaman tersebut, digunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data, yaitu observasi digital, wawancara mendalam, dan <em>photo elicitation interview</em>. Ketiga teknik ini tidak hanya digunakan secara terpisah, melainkan saling melengkapi melalui proses triangulasi metode, yaitu upaya membandingkan dan mengkonfirmasi data dari berbagai sumber untuk meningkatkan keabsahan dan kedalaman temuan.</p>



<p>Proses pengumpulan data diawali dengan observasi digital terhadap <em>dump account</em> partisipan. Observasi ini dilakukan dengan mengamati aktivitas autentik pengguna dalam ruang digital mereka. Fokus observasi meliputi pola unggahan, jenis konten visual yang dibagikan, gaya penulisan <em>caption</em>, serta bentuk interaksi yang terjadi antara pengguna dan pengikut mereka. Tahapan ini penting sebagai landasan awal untuk mengenali konteks penggunaan akun, membangun pemahaman terhadap kebiasaan pengguna, serta mengidentifikasi konten-konten yang berpotensi mengandung makna emosional. Informasi yang diperoleh dari observasi ini kemudian menjadi pijakan dalam menyusun pertanyaan yang lebih kontekstual dan spesifik pada tahap wawancara berikutnya.</p>



<p>Setelah mendapatkan pemahaman awal dari observasi digital, peneliti melanjutkan proses dengan melakukan wawancara mendalam terhadap partisipan yang telah memenuhi kriteria penelitian. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, memberikan ruang bagi partisipan untuk mengembangkan narasi pribadi mereka dengan bebas, sambil tetap diarahkan pada topik-topik utama yang ingin digali. Tujuan dari wawancara ini adalah mengeksplorasi bagaimana partisipan memaknai penggunaan <em>dump account</em>, apa yang mereka rasakan ketika mengunggah konten, serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap regulasi emosi mereka. Wawancara ini juga menjadi ruang aman bagi partisipan untuk mengekspresikan hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari unggahan mereka, termasuk latar belakang emosional di balik setiap tindakan digital yang dilakukan.</p>



<p>Dalam upaya memperdalam pemahaman terhadap aspek visual dan simbolik dari konten yang dibagikan, teknik <em>photo elicitation interview</em> digunakan sebagai pelengkap wawancara. Dalam sesi ini, partisipan diminta untuk memilih beberapa unggahan dari <em>dump account</em> mereka yang dianggap paling bermakna secara emosional. Foto-foto tersebut kemudian digunakan sebagai pemicu diskusi, mendorong partisipan untuk menggali kembali emosi, kenangan, atau refleksi yang mungkin sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Visual berperan sebagai jembatan antara pengalaman internal dan ekspresi luar, memunculkan dimensi pengalaman yang lebih dalam dan autentik. Teknik ini terbukti efektif untuk memunculkan narasi yang lebih kaya dan reflektif, karena citra visual mampu membangkitkan memori dan emosi yang bersifat personal dan tak jarang laten.</p>



<p>Ketiga teknik ini saling memperkuat dalam kerangka triangulasi metode. Observasi digital memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana pengguna mengekspresikan diri di ruang daring, wawancara mendalam membuka lapisan makna dan motivasi di balik tindakan tersebut, sementara <em>photo elicitation interview</em> menjembatani keduanya dengan eksplorasi visual yang bersifat emosional. Ketika temuan dari ketiga teknik ini saling mendukung, maka validitas data semakin kuat. Sebaliknya, jika terdapat ketidaksesuaian, hal tersebut justru menjadi peluang untuk menggali lebih dalam kompleksitas subjektivitas partisipan. Dengan demikian, proses pengumpulan data ini tidak hanya memberikan informasi deskriptif, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial digunakan sebagai ruang ekspresi emosional dan refleksi personal oleh generasi muda di era digital.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>Photo Elicitation Interview</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4f8.png" alt="📸" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Salah satu teknik utama dalam penelitian ini adalah <em>photo elicitation interview</em>, yaitu metode wawancara yang menggunakan foto atau unggahan visual sebagai pemantik wawancara atau memulai titik awal diskusi. Pendekatan <em>photo elicitation </em> kami pilih sebagai metode utama dengan harapan dapat menggali pengalaman, motivasi, serta dampak emosional dari penggunaan <em>dump account</em>. Selama wawancara, partisipan diminta memilih beberapa unggahan yang menurut mereka memiliki makna emosional atau yang paling merepresentasikan emosi tertentu. Foto-foto yang dipilih bisa berasal dari unggahan partisipan sendiri di <em>dump account</em> mereka. Dengan menunjuk dan menjelaskan langsung gambar-gambar tersebut, informan cenderung lebih terbuka, reflektif, dan bebas dalam mengungkapkan perasaan mereka. Dari sini, peneliti dapat mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara ekspresi visual dan proses regulasi emosi yang dialami. Teknik ini terbukti mampu menggali lapisan-lapisan makna yang tidak muncul dalam wawancara biasa, karena visual membangkitkan kenangan dan emosi yang mendalam (Harper, 2002).</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode Pengolahan Data</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4ca.png" alt="📊" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Setelah transkrip dari wawancara dan <em>Photo Elicitation Interview </em> lengkap,<strong> </strong>data dianalisis menggunakan aplikasi bantu bernama <strong>Taguette</strong>. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan <strong>coding</strong>, yaitu proses memberi label atau “tag” pada kutipan-kutipan penting dalam transkrip yang relevan dengan fokus penelitian. Kami membaca ulang setiap transkrip secara cermat, lalu menandai bagian-bagian yang mencerminkan tema seperti <em>regulasi emosi</em>, <em>kebebasan ekspresi</em>, atau <em>autentisitas</em>. Setiap kutipan diberi tag sesuai kategori tematik yang telah dirumuskan berdasarkan teori. Hasil dari proses ini membantu peneliti mengidentifikasi pola makna dan mengorganisasi temuan dengan lebih sistematis.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Pola Temuan</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeyTl6mfamtOolE1lwt2e_sWDYZsvvzsAWuCNNPxDpM5AWiWuGkCFi0bK1bGmY_PaNocyA045oyxnip2gcbYGk67PBqLrcAQP2b_VluWIXZUKr-zDCr55zQNXKGR8ASa9LrN6KYgA?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 2. Word-clouds</em></p>



<p class="has-text-align-left">Sebelum membahas temuan lebih lanjut, visualisasi word cloud berikut memberikan gambaran awal tentang tema-tema dominan yang muncul dari hasil analisis transkrip wawancara. Word cloud ini disusun berdasarkan frekuensi tag yang digunakan selama proses pengodean data. Terlihat bahwa istilah seperti <strong>“Kebebasan Ekspresi”</strong>, <strong>“Regulasi Emosi”</strong>, dan <strong>“Konten”</strong> paling sering muncul, menandakan bahwa dump account banyak dimaknai sebagai ruang untuk mengekspresikan diri secara jujur dan emosional. Kata-kata lain seperti <em>nyaman</em>, <em>bahagia</em>, dan <em>motivasi</em> memperkuat temuan bahwa dump account tidak sekadar tempat berbagi konten, melainkan juga alat bantu untuk menjaga kesehatan emosional pengguna.</p>



<p class="has-text-align-left has-large-font-size"><strong>Jurnal Foto Digital: Bukan Sekadar Foto, Tapi Juga Menyimpan Perasaan</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdZHSw7JKE2AS52NMkP_tGjjqc0a_rHk_1Mm_zzyHWCHOBh0FENvqzpsk8_L9nrunSWtc6X8wYK4vIajpW10K7I4nRezDFuVn-D1-DSe24yBBJj8wEwxqJuD9kr-wLz5odn4mCr1w?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:472px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3.</em> <em>Kutipan Temuan 1</em></p>



<p>Banyak partisipan menjadikan <em>dump account</em> sebagai semacam album digital pribadi yang mencatat perasaan dan momen emosional mereka. Setiap unggahan bukan hanya visual, tapi juga menyimpan kenangan, pemikiran, dan emosi yang mereka rasakan. <em>Dump account</em> menjadi tempat yang bisa mereka buka kembali saat ingin mengingat dan mengenang memori mereka.</p>



<p>“Jadi <em>dump account</em> ini sebagai album foto aku. Ketika nanti aku pengen ngeliat, tinggal buka aja.”<br>— <em>WI, 21 tahun, Wawancara 16 April 2025.</em></p>



<p>Konsep ini selaras dengan gagasan bahwa <em>dump account</em> bukan hanya tempat curhat sesaat, tapi bentuk dokumentasi emosional yang bermakna dan dekat secara personal. Temuan ini juga relevan dengan Uses and Gratifications Theory (UGT), di mana media sosial dipakai secara aktif untuk memenuhi kebutuhan ekspresi dan refleksi diri.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Gak Estetik, Gak Masalah, Yang Penting Jujur</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfOv1q4X43Ai8Wr-Jt6TAImkszLX22ild7-pLXbYgF83L8WyqY15RYqYpNkGFL1sq8wK3Xmplafs3WnVpzbVdHI7cmm_k71Ld8wz54paVoiW9fwU_ftaPXl98SsM7oVFed2_6UYpQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:477px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 2</em></p>



<p>Tidak seperti akun utama yang dipenuhi tuntutan estetik dan “branding diri”, dump account memberi kebebasan untuk unggah apa saja, meski fotonya <em>blur</em>, nggak nyambung, atau caption-nya cuma satu kata. Justru karena itu, tempat ini terasa lebih jujur dan personal.</p>



<p>“Kalau <em>main account</em> kan harus yang cantik, indah, bagus gitu ya. Kalau <em>dump</em> tuh aku bisa upload apa aja, dan aku gak harus mikirin orang ngeliat ini jelek atau enggak.”<br>— <em>FRD, 20 tahun, Wawancara 17 April 2025.</em>Dalam dunia digital yang penuh tuntutan estetika dan pencitraan, kehadiran ruang semacam ini menjadi penting untuk menjaga kewarasan emosional para pengguna muda. Temuan ini berhubungan erat dengan konsep <em>self-disclosure</em> dan <em>authenticity</em>, di mana pengguna merasa lebih lepas, jujur, dan bebas dalam menyampaikan diri secara apa adanya tanpa tekanan sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Validasi Emosi dari Lingkaran Kecil Tapi Berarti</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfS4qW2Ne-l0Lcr_E2Y17nnM_ujwc0Gc2_KRGqPp5n9soqW67aNfBzCw2uToTDNZQULxsXNZL8Orn-EEs8n6NupnBCUBmzdL6lNzq_f_wqpVdyy2TASOIehA3_syOfOFfnbmEnN?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:475px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 4</em></p>



<p>Walau <em>audiens dump</em> account terbatas, interaksi yang muncul seringkali jauh lebih bermakna. Komentar pendek atau like dari orang dekat bisa memberikan rasa diperhatikan, yang justru sangat dibutuhkan ketika sedang berada dalam kondisi emosional tertentu.</p>



<p>“Ada yang like, komen, <em>reply story</em>. Rasanya kayak, oh ada yang liat.”<br>— <em>AK, 21 tahun, Wawancara 15 April 2025.</em>Respons ini memberikan perasaan bahwa mereka tidak sendirian, ada orang lain yang melihat, mengerti, dan peduli. Hal ini mencerminkan konsep <em>social sharing of emotions</em> dan memperkuat gagasan bahwa ekspresi emosional secara daring bisa menjadi jembatan untuk menciptakan koneksi sosial yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan dan Rekomendasi</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Teoretis</strong></p>



<p>Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur komunikasi digital dan psikologi media, khususnya dalam konteks o<em>nline self-disclosure, social sharing of emotions, dan Uses and Gratifications Theory</em> dalam konteks lokal (Generasi Z di Indonesia). Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial, khususnya <em>dump account</em>, berperan dalam regulasi emosi di kalangan pengguna muda.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Praktis</strong></p>



<p>Penggunaan jurnal foto digital di <em>dump account</em> terbukti menjadi alat yang bermanfaat untuk refleksi diri dan pengelolaan emosi, yang pada gilirannya membantu kesejahteraan psikologis generasi muda. Dengan adanya ruang yang lebih privat dan aman, <em>dump account</em> dapat membantu pengguna mengekspresikan diri dan mengurangi stres.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Akademis</strong></p>



<p>Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan subjek yang memiliki latar belakang usia, jenis kelamin, dan konteks budaya yang lebih beragam untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang penggunaan <em>dump account</em> di berbagai demografi. Penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur secara objektif pengaruh penggunaan <em>dump account</em> terhadap pengelolaan stres atau kesehatan mental</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Praktis</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk Pengguna Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengguna <em>dump account</em> harus sadar akan pentingnya menjaga privasi dan memahami resiko berbagi informasi di ruang digital. Pengguna dapat memanfaatkan <em>dump account</em> sebagai alat yang positif untuk ekspresi diri dan pengelolaan emosi, namun dengan bijak dan bertanggung jawab.</li>



<li><strong>Untuk Pengembangan Platform Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengembang perlu meningkatkan fitur privasi dan keamanan untuk <em>dump account</em>, serta memberikan edukasi kepada pengguna tentang bagaimana menggunakan platform ini secara sehat, khususnya dalam hal kesehatan mental.</li>



<li><strong>Untuk Praktisi Kesehatan Mental dan Pendidikan</strong> <br>Mengintegrasikan pemahaman tentang penggunaan media sosial alternatif dalam program pendampingan psikologis dan edukasi digital, khususnya untuk remaja dan dewasa muda yang aktif di media sosial. Praktisi juga perlu mengajarkan pengguna tentang bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pengelolaan emosi yang sehat.</li>
</ol>



<p class="has-large-font-size"><strong>Visualisasi Observasi dan Wawancara</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="630" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png" alt="" class="wp-image-3830" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-300x184.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-768x472.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1536x945.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-2048x1259.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 5. Proses photo elicitation interview dengan pengguna dump account aktif (Foto di atas hanya sebagian informan)</em></p>



<p class="has-text-align-center"></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png" alt="" class="wp-image-3836" style="width:482px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-768x644.png 768w" sizes="auto, (max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 6. Contoh unggahan foto dan caption reflektif di dump account. (Foto di atas hanya sebagian dump account informan).</em></p>



<p></p>



<p class="has-text-align-left"><strong>Artikel ini ditulis oleh Kelompok 4 Mata Kuliah MPK Kualitatif D:</strong> Andrea Deflin (<a href="mailto:andreadeflin@gmail.com">andreadeflin@gmail.com</a>), Fariz Arsaputra (<a href="mailto:fariz.arsaputra@gmail.com">fariz.arsaputra@gmail.com</a>), Lutfia Munisa A (<a href="mailto:lutfiamunisaa@gmail.com">lutfiamunisaa@gmail.com</a>), M Dafa Ardhika (<a href="mailto:dafaardhika27@gmail.com">dafaardhika27@gmail.com</a>), Naila S. Khalisha (<a href="mailto:naila.khalisha03@gmail.com">naila.khalisha03@gmail.com</a>).</p>



<p></p>



<p><strong>Sumber Referensi</strong></p>



<p>Goodstats.id. (2024). Laporan penggunaan akun kedua di media sosial di Indonesia. <em>Goodstats.id</em>. <a href="https://www.goodstats.id/">https://www.goodstats.id</a></p>



<p>Pluta, A., Ulrich, G., &amp; Kappes, A. (2021). Emotional disclosure on social media: The role of social support and positive feedback. <em>Journal of Affective Disorders, 292</em>, 32-39. <a href="https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098">https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098</a>&nbsp;</p>



<p>Andreassen dkk., (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. <em>Addictive Behaviors, 64</em>, 287-293. <a href="https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006">https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006</a>&nbsp;</p>



<p>Glaw dkk., (2017). Visual methodologies in qualitative research: Autophotography and photo elicitation applied to mental health research. International journal of qualitative methods, 16(1), 1609406917748215.&nbsp;​​Papacharissi dkk., (2000). Predictors of Internet use. <em>Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media, 44</em>(2), 175-196. <a href="https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2">https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2</a></p>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe8fKpkbGPyUn_pUIObEpaZlkvJIclVszDIw3OoMSnDkiGLUcxcj51hHbDZjlDrbMh7VMlZBQci2hmL8CIRVv9G1EcI7hbFWC-_MM70d197VnWXHSKMA-7RpBK2Kiuv1VIAdFcP?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:148px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Sumber Referensi selengkapnya&nbsp;dapat diakses di QR Code berikut ini.</p>



<p class="has-large-font-size"><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebih dari Sekadar Fashion: Bagaimana Mahasiswa FISIP UI Membangun Identitas lewat Gaya Berpakaian</title>
		<link>https://journalight.com/2025/05/29/lebih-dari-sekadar-fashion-bagaimana-mahasiswa-fisip-ui-membangun-identitas-lewat-gaya-berpakaian/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/05/29/lebih-dari-sekadar-fashion-bagaimana-mahasiswa-fisip-ui-membangun-identitas-lewat-gaya-berpakaian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif Kelas C]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 May 2025 11:08:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Berpakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Internalisasi Nilai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3108</guid>

					<description><![CDATA[ABSTRAK Penelitian ini menggunakan Social Identity Theory (Tajfel,1979) untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa FISIP UI mengekspresikan dan menginternalisasi identitas sosial mereka melalui gaya berpakaian yang dinilai lebih ekspresif dibandingkan mahasiswa dari fakultas lain. Lewat pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-medium-font-size"><strong>ABSTRAK</strong></p>



<p class="has-text-align-left">Penelitian ini menggunakan <em>Social Identity Theory </em> (Tajfel,1979) untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa FISIP UI mengekspresikan dan menginternalisasi identitas sosial mereka melalui gaya berpakaian yang dinilai lebih ekspresif dibandingkan mahasiswa dari fakultas lain. Lewat pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memahami makna di balik gaya berpakaian mahasiswa dan interaksi sosial yang memengaruhinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>fashion</em> bukan sekadar ekspresi pribadi, tetapi juga memuat nilai sosial yang terbentuk lewat interaksi sehari-hari, seperti aktivitas organisasi, kehidupan jurusan, dan budaya nonverbal di FISIP UI . Aspek <em>self-categorization</em> dalam konteks penelitian ini menegaskan bahwa berpakaian bukan sekadar tindakan fungsional atau estetika, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas sosial. Lingkungan sosial FISIP UI juga turut memainkan peran krusial dalam membentuk gaya berpakaian mahasiswa. Perbedaan mencolok dengan fakultas lain menciptakan dinamika <em>in-group favoritism</em> dan <em>out-group differentiation</em>, di mana mahasiswa FISIP UI mengasosiasikan gaya mereka sebagai lebih bebas dan ekspresif, sementara gaya fakultas lain sering dianggap lebih formal dan kaku.</p>



<p class="has-small-font-size"><strong>Kata kunci:</strong> Identitas Sosial, Internalisasi Nilai, Gaya Berpakaian, Fenomenologi, Mahasiswa FISIP UI</p>



<p></p>



<p><strong>LATAR BELAKANG</strong></p>



<p>Kampus bukanlah saja tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga mencari jati diri untuk mahasiswanya. Salah satu cara untuk mereka mencari jati diri adalah lewat gaya berpakaian. Pakaian atau <em>fashion</em> sendiri adalah bagian dari komunikasi nonverbal yang disampaikan oleh penggunanya (Barnard, 1996). Lewat pakaian, mahasiswa dapat mengekspresikan diri dengan gaya berpakaian yang beragam. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa ilmu sosial, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia yang memiliki gaya berpakaian yang cenderung ekspresif ketimbang fakultas lainnya.<br>Mahasiswa FISIP UI sering dinilai dengan <em>fashion</em> yang terkesan tidak formal dalam berpakaian sehari-hari dalam perkuliahan. Berbeda dengan fakultas lainnya, seperti Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi     (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT) yang berpakaian cenderung formal. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi awal dan merasakan bahwa ketika berada di fakultas lain, seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), identitasnya sebagai mahasiswa FISIP UI terlihat dari pakaian yang cenderung berwarna mencolok. Fenomena tersebut tentu menunjukkan ekspektasi sosial terhadap cara berpakaian berdasarkan fakultas yang menimbulkan stereotip tertentu.</p>



<p>Gaya berpakaian dalam dunia akademik bukan hanya kebutuhan praktis, tetapi juga mencerminkan identitas sosial seseorang dengan menunjukkan siapa diri orang tersebut yang bisa dikategorikan dalam kelompok berdasarkan pandangan (Laksmi, 2017). FISIP UI tidak memiliki aturan mengikat terkait gaya berpakaian, mahasiswa bebas menggunakan pakaian apa pun, tanpa batas. Mulai dari yang sedang <em>trend </em>di internet atau sesuai dengan selera. Hal tersebut memicu banyaknya gaya berpakaian yang terlihat di FISIP UI sendiri. Banyak dari mahasiswanya berpakaian menyesuaikan dengan lingkunganya. Akibatnya, muncul perkataan seperti <em>“Lo kok FISIP, tapi enggak kelihatan FISIP?&#8221;</em> kepada mahasiswa yang berpakaian formal atau rapi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" width="636" height="356" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/AD_4nXda_6p-_1GO7PT3sxX1PzEeHIbzFvANDKtudEXfrA_tfhdpDxo2s1gBBWuzBwR9AN0a5uSCRRYUG2JGjFSZwjdIcm4jfZj3AQfOxny6aYJkuWS_NI5gOyQJRfQVbg3hLQFUhNOKYg.png" alt="" class="wp-image-3273" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/AD_4nXda_6p-_1GO7PT3sxX1PzEeHIbzFvANDKtudEXfrA_tfhdpDxo2s1gBBWuzBwR9AN0a5uSCRRYUG2JGjFSZwjdIcm4jfZj3AQfOxny6aYJkuWS_NI5gOyQJRfQVbg3hLQFUhNOKYg.png 636w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/AD_4nXda_6p-_1GO7PT3sxX1PzEeHIbzFvANDKtudEXfrA_tfhdpDxo2s1gBBWuzBwR9AN0a5uSCRRYUG2JGjFSZwjdIcm4jfZj3AQfOxny6aYJkuWS_NI5gOyQJRfQVbg3hLQFUhNOKYg-300x168.png 300w" sizes="auto, (max-width: 636px) 100vw, 636px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Source : Pinterest</em></figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Social Identity Theory </em>  (Tajfel, 1979) pada Praktik Berbusana di Kalangan Mahasiswa FISIP UI</strong></p>



<p>Penelitian ini menggunakan <em>Social Identity Theory</em> (Tajfel, 1979) untuk melihat bagaimana mahasiswa FISIP UI mengekspresikan dan menginternalisasi identitas sosial mereka melalui gaya berpakaian yang cenderung lebih ekspresif dan nonformal dibanding mahasiswa dari fakultas lain. Menurut teori ini, identitas individu terbentuk melalui lima aspek : <em>social categorization</em>, <em>social identification</em>, <em>social comparison</em>, <em>in-group favoritism </em>dan<em> out-group differentiation</em>, serta <em>norm internalization</em>. Dalam konteks kampus, proses <em>social categorization</em> terlihat ketika mahasiswa FISIP mengelompokkan diri sebagai bagian dari <em>“anak FISIP UI”</em>, yaitu identitas yang terwakili lewat <em>fashion</em> yang santai, unik, dan bebas dari aturan formal.</p>



<p>Selanjutnya, pada tahap <em>social identification</em>, mahasiswa mulai mengadopsi nilai-nilai khas FISIP UI, termasuk gaya berpakaian yang menjadi simbol afiliasi kelompok. Identitas ini diperkuat melalui <em>social comparison</em>, di mana proses membandingkan diri dengan mahasiswa dari fakultas lain yang sering diasosiasikan dengan tampilan lebih formal dan kaku. Dari perbandingan ini, muncul <em>in-group favoritism</em>, yaitu kecenderungan memberikan penilaian positif terhadap gaya kelompok sendiri, sekaligus <em>out-group differentiation</em>, ditandai dengan komentar seperti <em>“Enggak kelihatan anak FISIP”</em> terhadap mahasiswa yang tampil terlalu formal. Hal ini menunjukkan adanya ekspektasi sosial yang membentuk norma berpakaian. Lambat laun, norma tersebut tidak lagi terasa sebagai tekanan eksternal. Dalam tahap <em>norm internalization</em>, mahasiswa merasa tidak nyaman ketika harus mengenakan pakaian formal karena hal itu bertentangan dengan citra diri yang telah melekat kuat sebagai bagian dari<em> “anak FISIP UI”</em>.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424656_0-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3246" style="width:454px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424656_0-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424656_0-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424656_0-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424656_0.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p class="has-medium-font-size"><strong>METODOLOGI</strong> <strong>PENELITIAN</strong></p>



<p>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dipadukan dengan pendekatan fenomenologi dalam paradigma konstruktivisme. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan yang tepat karena fokus utamanya adalah menggali pengalaman hidup mahasiswa dalam memaknai gaya berpakaian mereka sebagai bagian dari proses identifikasi sosial. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa FISIP UI angkatan 2022 karena mereka telah menjalani proses sosialisasi kampus secara daring dan luring, terpapar budaya FISIP UI, serta masih berada dalam pertengahan studi yang memungkinkan adanya refleksi akan perubahan gaya berpakaian dalam konteks identitas sosial dari masa awal perkuliahan hingga saat ini. Subjek penelitian dipilih dengan metode <em>purposive sampling </em>dengan kriteria mahasiswa aktif FISIP UI angkatan 2022, memiliki minat terhadap topik gaya berpakaian, dan dapat merefleksikan pengalamannya secara verbal.&nbsp;</p>



<p>Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sebanyak tiga informan diwawancarai secara mendalam dan dilakukan secara daring melalui aplikasi  <em>zoom </em> untuk mendapatkan variasi pengalaman mahasiswa terkait proses internalisasi identitas sosial mereka. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan secara langsung di FISIP UI untuk melihat gaya berpakaian mahasiswa, interaksi sosial yang memengaruhinya, kemudian dibandingkan dengan gaya berpakaian mahasiswa dari fakultas lainnya sebagai bentuk dari <em>in-group </em>dan <em>out-group differentiation.</em></p>



<p>Data dianalisis secara tematik melalui coding manual, melalui tiga tahapan utama proses coding: <em>open coding, axial coding, </em>dan <em>selective coding </em>(narasi axial). Kemudian untuk menjamin keabsahan serta kredibilitas penelitian, peneliti menggunakan kriteria <em>trustworthiness </em>dan <em>authenticity. </em>Penelitian ini memiliki kriteria <em>trustworthiness </em>karena dijaga melalui triangulasi<em> </em>data dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi partisipatif <em>(credibility), </em>dijamin dengan penyajian konteks penelitian secara rinci <em>(transferability), </em>dan<em> </em>dicapai dengan menjaga objektivitas dan meminimalkan bias peneliti <em>(confirmability). </em>Sementara itu, kriteria <em>authenticity</em> terpenuhi karena penelitian ini mampu menggambarkan pengalaman dan perspektif informan secara jujur dan utuh. Peneliti berupaya menangkap makna subjektif yang mereka alami, serta bagaimana identitas sosial mereka terbentuk dan diekspresikan melalui<em> fashion </em>dalam lingkungan kampus.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424657_0-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3247" style="width:452px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424657_0-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424657_0-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424657_0-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424657_0.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p><br></p>



<p><strong>DISCUSSION</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Self-Categorization</em> melalui Gaya Berpakaian sebagai Pembentuk Identitas Sosial Mahasiswa FISIP UI</strong> </p>



<p>Dalam kerangka <em>Social Identity Theory</em>, aspek<em> self-categorization</em> merujuk pada proses ketika individu secara sadar atau tidak sadar mulai mengelompokkan dirinya ke dalam identitas sosial tertentu. Dalam konteks mahasiswa FISIP UI angkatan 2022, gaya berpakaian menjadi ekspresi identitas penting dari proses ini</p>



<p>Salah satu informan, S (Antropologi 2022) dan Y (Kriminologi 2022)  menyatakan : </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424658_0-1-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3257" style="width:388px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424658_0-1-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424658_0-1-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424658_0-1-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424658_0-1.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p>Pernyataan dari informan S (Antropologi 2022) ini mencerminkan proses internal dari pencarian identitas sosial melalui pakaian. Meskipun Ia tidak bisa mendefinisikan gayanya secara spesifik menurut kategori <em>fashion </em>populer, Ia tetap mengasosiasikan penampilannya sebagai “FISIP”, yang menunjukkan bahwa Ia telah mengkategorikan dirinya ke dalam identitas sosial berbasis fakultas melalui simbol visual.</p>



<p>Sementara pernyataan dari informan Y (Kriminologi 20220) dapat dilihat, bahwa mahasiswa FISIP UI tidak hanya memilih&nbsp; pakaian karena kenyamanan atau tren, tetapi juga karena ia ingin dikategorikan sebagai pribadi yang <em>“rapi dan friendly”</em>. Ini menunjukkan bahwa Ia secara sadar mengonstruksi citra sosial dirinya berdasarkan kategori ideal dalam lingkungan sosial kampus. Gaya berpakaian menjadi alat untuk memetakan dirinya ke dalam kelompok yang dianggap cocok dengan nilai-nilai FISIP UI : santun, estetik, dan komunikatif.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-3258" style="width:588px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4-768x432.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4-1536x864.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-4.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Source : Pinterest</em></figcaption></figure>
</div>


<p><br>Dengan demikian, aspek <em>self-categorization</em> dalam konteks penelitian ini menegaskan bahwa berpakaian bukan sekadar tindakan fungsional atau estetika, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas sosial yang memungkinkan mahasiswa mengenali diri mereka sebagai bagian dari kelompok tertentu di kampus baik melalui citra<em> &#8220;anak FISIP UI&#8221;</em>, gaya <em>“rapi dan presentable”</em>, atau penyesuaian terhadap label sosial yang berkembang dalam lingkup pergaulan akademik.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Internalisasi Norma Sosial dan Ekspresi Identitas: Dinamika Gaya Berpakaian di Lingkungan FISIP UI</strong></p>



<p>Lingkungan sosial FISIP UI memainkan peran krusial dalam membentuk gaya berpakaian mahasiswa. Gaya ini tidak hanya muncul dari preferensi pribadi, tetapi juga terkait erat dengan pengalaman berelasi dalam organisasi, jurusan, serta budaya nonverbal yang berkembang di FISIP UI. Budaya jurusan turut membentuk norma tidak tertulis yang akhirnya diinternalisasi oleh mahasiswa. Seiring waktu, norma ini tidak lagi terasa sebagai tekanan eksternal, melainkan menjadi bagian dari cara berpikir dan merasakan diri sebagai bagian dari komunitas.</p>



<p>Salah satu informan, Y (Kriminologi 2022), menjelaskan bahwa warna hitam yang identik dengan jurusannya menjadi semacam <em>dresscode</em> informal:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424660_0-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3259" style="width:434px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424660_0-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424660_0-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424660_0-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424660_0.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p>Pernyataan ini menunjukkan bagaimana norma-norma sosial internal jurusan bisa mendorong mahasiswa untuk menyesuaikan gaya sebagai bentuk sosialisasi identitas kelompok. Selain norma dari jurusan, interaksi di organisasi juga berkontribusi besar. Aktivitas cepat dan padat dalam organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UI&nbsp; mendorong mahasiswa memilih gaya yang lebih fungsional tanpa kehilangan ciri khas mereka.&nbsp;</p>



<p><br>Y (Kriminologi 2022), yang merupakan badan pengurus harian BEM FISIP UI 2024, menyatakan,</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424661_0-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3260" style="width:427px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424661_0-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424661_0-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424661_0-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424661_0.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p>Penyesuaian ini menunjukkan bagaimana gaya berpakaian menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang fleksibel dan adaptif terhadap konteks sosial. Di sinilah pentingnya pemahaman akan identitas sosial dari penampilan: dengan membaca gaya berpakaian, mahasiswa dapat menangkap dinamika kelompok dan menyesuaikan cara berkomunikasi yang lebih sesuai, misalnya dalam pemilihan bahasa, topik, atau ekspresi diri. Terlebih lagi, FISIP UI sendiri dilihat sebagai ruang yang sangat terbuka terhadap ekspresi personal, dan suasana ini juga berkontribusi pada internalisasi norma kebebasan berekspresi.</p>



<p>Salah satu informan, S (Antropologi 2022), mengungkapkan bahwa anak Antropologi sudah terbiasa dengan stereotip <em>“funky”</em> yang malah memperkuat kepercayaan diri mereka:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424662_0-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3263" style="width:485px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424662_0-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424662_0-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424662_0-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/S__45424662_0.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p>Di sini terlihat bahwa norma kebebasan itu sendiri menjadi nilai yang dihidupi secara sadar oleh mahasiswa. Ketika norma sosial kampus sudah begitu terinternalisasi, gaya berpakaian bukan lagi sesuatu yang ‘dipikirkan’, tapi menjadi bagian dari tubuh dan identitas sosial mereka sehari-hari. Hal ini memungkinkan komunikasi nonverbal yang lebih otentik sekaligus menjadi alat untuk menavigasi hubungan sosial antarkelompok mahasiswa secara lebih cermat.<br></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong><em>Social Comparison</em> Gaya Berpakaian Antarfakultas dalam Perspektif </strong><em><strong>In-group Favouritism &amp; Out-group</strong> <strong>Differentiation</strong></em></p>



<p>Seperti yang dijelaskan di awal, FISIP UI cenderung memiliki pakaian yang lebih ekspresif dibandingkan fakultas lainnya. FISIP UI memiliki beragam gaya sehingga bagi fakultas lain yang datang akan melihat bahwa mahasiswa FISIP UI menunjukkan ekspresi diri lewat pakaian.&nbsp; Perbedaan gaya berpakaian ini menciptakan dinamika <em>in-group favoritism</em> dan <em>out-group differentiation</em>, di mana mahasiswa FISIP UI cenderung menganggap gaya mereka sebagai bentuk kebebasan dan ekspresi diri dibandingkan fakultas lain.</p>



<p>Salah satu dari narasumber kami, O (Ilmu Komunikasi, 2022) menanggapi akan gaya berpakaian yang ada di FISIP UI.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="860" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/210644-860x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3271" style="width:415px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/210644-860x1024.jpg 860w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/210644-252x300.jpg 252w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/210644-768x914.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/210644.jpg 1173w" sizes="auto, (max-width: 860px) 100vw, 860px" /></figure>
</div>


<p>Gaya berpakaian ini tidak hanya dianggap sebagai ekspresi personal, tetapi juga sebagai ciri khas kolektif yang memperkuat identitas sosial kelompok setiap fakultasnya. O (Ilmu Komunikasi, 2022) juga menegaskan kembali bahwa <em>style</em> tersebut hanya Ia lihat di lingkungan FISIP UI saja.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-3118" style="width:620px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1-1024x576.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1-300x169.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1-768x432.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1-1536x864.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Source : pinterest</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Pakaian yang ditunjukkan melalui gambar diatas adalah pakaian yang akan ditemukan di Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT). Gaya terlihat lebih ke <em>casual formal look</em>. Sementara pakaian yang lebih ekspresif seperti yang dikatakan oleh informan terlihat pada gambar di bawah ini dan cenderung ditemukan di FISIP UI.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="561" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel-1024x561.jpg" alt="" class="wp-image-3265" style="width:597px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel-1024x561.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel-300x164.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel-768x421.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel-1536x842.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/05/ACUBI-STYLE-1970-x-1080-piksel.jpg 1970w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Source : Pinterest</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Stereotip juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi ini. Contohnya, mahasiswa Antropologi dikenal aktif menggunakan kain seperti turban sehingga menciptakan citra “berbudaya” yang kuat, bahkan dianggap sebagai identitas ikonik dari FISIP UI sendiri. Hal ini memperkuat konstruksi bahwa FISIP UI memiliki subkultur tersendiri yang membedakannya dari fakultas lain, dan mempertegas batas antara <em>in-group favoritism </em>dan <em>out-group differentiation</em>.</p>



<p>Lewat konsep <em>in-group favoritism</em>, mahasiswa FISIP UI memberikan nilai kebebasan berekspresi melalui keberagaman gaya berpakaian yang mereka tampilkan. Para informan menyoroti bagaimana pakaian mahasiswa FISIP UI kerap dianggap “skena”, “unik”, dan mencerminkan keberanian dalam berekspresi. Dibandingkan dengan fakultas lain, FISIP UI dinilai memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswanya untuk menampilkan identitas diri lewat busana. Kebebasan ini mendorong munculnya berbagai gaya berpakaian yang trendi, variatif, dan mencerminkan perkembangan mode serta identitas personal masing-masing individu.</p>



<p><br>Sementara itu, dalam konteks <em>out-group differentiation</em>, terdapat kecenderungan mahasiswa FISIP UI untuk menekankan perbedaan antara gaya berpakaian di fakultasnya dengan fakultas lain. Hal ini berpotensi membentuk stereotip terhadap kelompok luar. Salah satu contohnya terlihat ketika informan secara tidak langsung membandingkan gaya berpakaian mahasiswa FISIP UI dengan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT) yang diasosiasikan dengan kesan lebih “formal” dan kurang ekspresif.</p>



<p><br>Dinamika ini juga berkaitan erat dengan konsep <em>social comparison</em>, yaitu proses di mana individu menilai diri dan kelompoknya dengan membandingkannya terhadap kelompok lain. Dalam konteks ini, mahasiswa FISIP UI melakukan perbandingan sosial dengan cara menilai gaya berpakaian mereka lebih bebas dan ekspresif, sementara gaya dari fakultas lain diasosiasikan dengan kekakuan, keseragaman, atau formalitas. Perbandingan ini tidak hanya memperkuat citra positif terhadap kelompok sendiri, tetapi juga menciptakan stereotip terhadap kelompok luar.</p>



<p></p>



<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>



<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya berpakaian mahasiswa FISIP UI bukan hanya soal selera pribadi, tetapi menjadi bagian penting dari proses pembentukan identitas sosial. Aspek <em>self-categorization</em> tampak jelas ketika mahasiswa menyesuaikan gaya mereka agar selaras dengan norma dan budaya yang hidup di lingkungan FISIP UI. Interaksi dalam jurusan, organisasi, dan kehidupan kampus membentuk cara mereka berpakaian sekaligus memperkuat rasa afiliasi atau keanggotaan terhadap kelompok. Perbedaan gaya dengan fakultas lain juga menumbuhkan dinamika <em>in-group favoritism</em> dan <em>out-group differentiation</em>, yaitu gaya FISIP UI yang ekspresif dianggap sebagai simbol kebebasan, sementara gaya dari fakultas lain sering dilihat lebih formal dan kaku. Hal ini menunjukkan bahwa<em> fashion </em>menjadi sarana penting untuk menegaskan posisi dalam komunitas kampus.</p>



<p><br>Temuan ini dapat memperkaya studi sosiologi pakaian, komunikasi nonverbal, dan kajian identitas di lingkungan pendidikan tinggi. Dalam praktiknya, hasil penelitian ini bisa membantu pihak kampus atau organisasi mahasiswa memahami bagaimana norma sosial terbentuk dan memengaruhi ekspresi diri mahasiswa, terutama dalam hal inklusivitas dan penerimaan terhadap keragaman gaya berpakaian.</p>



<p></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Referensi</strong></p>



<p>Abisya, N. D. (2022). <em>FASHION AS A FORM OF SELF-IDENTITY ON STUDENTS OF THE STATE UNIVERSITY OF SURABAYA</em>: fashion, identity formation, students. The Commercium, 5(3), 68–78. https://doi.org/10.26740/tc.v5i3.48259.</p>



<p>Barnard, M. (1996). <em>Fashion as communication. London: routledg</em>e.</p>



<p>Entwistle, J. (2000). <em>The Fashioned Body: Fashion, Dress, and Social Theory. Polity Press</em>.</p>



<p>Laksmi, 2017. Teori Interaksionisme Simbolik dalam Kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Indonesia.</p>



<p>Qorib, F., Oktarina, R. A., Ermelinda, J. (2023). Penggunaan Busana Sebagai Bentuk Ekspresi dan Identitas Mahasiswa di Media Sosial. Jurnal Komunikasi Nusantara, 5(2), 236-251.</p>



<p>Syarafa, D. A., Adhrianti, L., &amp; Sari, E. V. (2020). Fashion Sebagai Komunikasi Identitas Sosial Mahasiswa FISIP Universitas Bengkulu. <em>Jurnal Kaganga: Jurnal Ilmiah Sosial Dan Humaniora</em>, <em>4</em>(2), 20–29.</p>



<p>Trisnawati, T. Y. (2011). Fashion sebagai Bentuk Ekspresi Diri dalam Komunikasi. The Messenger, 3(1), 36-47.</p>



<p>Romadona, M. R., &amp; Setiawan, S. (2020). <em>Communication of organizations in organizations change’s phenomenon in research and development institution</em>. Jurnal Pekommas, 5(1), 91–104. <a href="https://doi.org/10.30818/jpkm.2020.2050110">https://doi.org/10.30818/jpkm.2020.2050110</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/05/29/lebih-dari-sekadar-fashion-bagaimana-mahasiswa-fisip-ui-membangun-identitas-lewat-gaya-berpakaian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
