<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>media sosial &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/tag/media-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Jul 2025 03:20:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>media sosial &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>A Dump Account: Ruang Digital Aman Tanpa Kritikan</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 4 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3797</guid>

					<description><![CDATA[Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Feeds harus estetik, caption harus...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Media Sosial, Identitas, dan Kebutuhan Ekspresi Emosi</strong></p>



<p>Instagram sudah jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Tapi, alih-alih menjadi tempat bebas berbagi momen, banyak pengguna justru merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna. <em>Feeds</em> harus estetik, <em>caption</em> harus <em>catchy</em>, dan citra diri pun seolah harus dijaga terus-menerus. Di tengah tekanan itu, muncul pertanyaan: bagaimana seseorang bisa mengekspresikan perasaannya dengan jujur jika media sosial justru menjadi ruang yang penuh tuntutan?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="384" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3837" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Group-4_Draf-Infografik-2-scaled.png 960w" sizes="(max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</div>


<p class="has-large-font-size"><strong>Instagram dan Dump Account</strong></p>



<p>Dalam era digital saat ini, media sosial bukan hanya sarana berbagi informasi atau foto, tapi juga ruang untuk membentuk identitas diri dan menyalurkan emosi. Bagi generasi Z, Instagram menjadi platform utama untuk mencurahkan cerita dan perasaan melalui konten visual. Namun, tekanan untuk selalu menampilkan “kehidupan ideal” di akun utama membuat banyak pengguna merasa tak lagi punya ruang aman untuk mengekspresikan sisi personal mereka. Beberapa hal di atas menjadi alasan banyak orang beralih dan menjadi lebih aktif di <em>dump account</em>. <em>Dump account</em> adalah akun alternatif Instagram yang digunakan secara lebih santai, bebas, dan spontan. Berbeda dari akun utama yang penuh pencitraan, <em>dump account</em> lebih menyerupai ruang pribadi di mana pengguna bisa unggah foto acak, refleksi pribadi, atau momen emosional tanpa merasa diawasi atau dinilai, meskipun akunnya tetap bisa dilihat masyarakat umum.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png" alt="" class="wp-image-3809" style="width:442px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-768x644.png 768w" sizes="(max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p><br>Menariknya, ini bukan fenomena yang jarang terjadi. Menurut data Goodstats.id (2024), <strong>57% pengguna Instagram di Indonesia memiliki akun kedua</strong>, termasuk <em>dump account.</em> Angka ini mencerminkan kebutuhan besar akan ruang ekspresi yang lebih autentik dan lepas dari tekanan sosial.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Fenomena ini menjadi titik awal dari penelitian kami,</strong></p>



<p>yang bertujuan menggali bagaimana penggunaan <em>dump account</em> sebagai bentuk jurnal foto digital dapat membantu generasi Z dalam meregulasi emosi mereka. Hal ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Scott et al. (2023) dan Pluta et al. (2021), terkait pemilihan media untuk mengekspresikan aspek emosional dan pribadi di ranah digital. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan teknik<em> photo elicitation interview</em>, kami mendalami pengalaman subjektif para pengguna <em>dump account</em>. Penelitian ini didukung oleh konsep-konsep seperti <em>online self-disclosure</em>, <em>social sharing of emotions</em>, dan <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT) untuk memahami lebih dalam relasi antara ekspresi diri di media sosial dan kesejahteraan emosional mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Di Balik Maraknya Penggunaan <em>Dump Account</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f9d1-200d-1f4bb.png" alt="🧑‍💻" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Untuk memahami lebih dalam bagaimana <em>dump account</em> digunakan sebagai bentuk jurnal foto digital atau media untuk ekspresi dan regulasi emosi, penelitian ini mengacu pada tiga konsep utama, yaitu <strong><em>online self-disclosure</em></strong><em>, </em><strong><em>social sharing of emotions</em></strong><em>, dan </em><strong><em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong>. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana individu memaknai penggunaan media sosial sebagai ruang ekspresi personal di tengah tekanan sosial digital.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>1. <em>Online Self-Disclosure</em></strong></p>



<p>Konsep <em>online self-disclosure</em> merujuk pada kecenderungan seseorang untuk secara sukarela membagikan informasi pribadi, pikiran, dan perasaannya melalui media online. Dibandingkan dengan interaksi langsung, komunikasi berbasis platform digital cenderung membuka ruang yang lebih leluasa untuk bersikap terbuka, terutama ketika pengguna merasa audiensnya terbatas atau tidak terlalu menghakimi.&nbsp;Dalam konteks <em>dump account</em>, praktik <em>self-disclosure</em> ini menjadi lebih mudah dilakukan. Informan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa mereka unggah di akun utama. Baik dalam bentuk foto, video, maupun caption reflektif, pengguna memanfaatkan <em>dump account</em> untuk membagikan sisi emosional mereka tanpa rasa takut dinilai atau dilihat oleh orang-orang yang tidak dekat secara personal.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>2. <em>Social Sharing of Emotions</em></strong></p>



<p>Berkaitan erat dengan konsep sebelumnya, <em>social sharing of emotions</em> menjelaskan bagaimana individu secara alami terdorong untuk membagikan pengalaman emosional baik yang menyenangkan maupun menyedihkan kepada orang lain, sebagai bentuk pencarian dukungan atau validasi. Menurut Rimé (2009), berbagi emosi bukan hanya soal curhat, tapi juga bagian dari proses mengelola dan memahami perasaan diri sendiri.<em>Dump account</em> menjadi media untuk itu. Pengguna sering membagikan konten yang berisi memori personal, suasana hati, bahkan momen-momen yang tidak sempat dibagikan di dunia nyata. Terkadang, mereka tidak mencari respons besar dari audiens, cukup dengan mengetahui bahwa unggahan tersebut ada yang melihat dan mengerti dengan postingan mereka saja sudah cukup untuk memberikan rasa lega.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>3. <em>Uses and Gratifications Theory</em> (UGT)</strong></p>



<p>Teori ini membantu menjelaskan alasan mengapa seseorang memilih <em>dump account</em> dibandingkan akun utama. Dalam <em>Uses and Gratifications Theory</em> (Blumler &amp; Katz, 1974), individu secara aktif memilih media tertentu berdasarkan kebutuhan atau kepuasan yang ingin mereka dapatkan, seperti kebutuhan akan hiburan, ekspresi diri, pelarian emosional, atau hubungan sosial.Dalam konteks penelitian ini, <em>dump account</em> menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan akan ekspresi jujur dan regulasi emosi. Alih-alih menggunakan akun utama yang penuh tekanan dan ekspektasi sosial, pengguna lebih memilih dump account karena bisa mengunggah konten tanpa harus mempertimbangkan estetika, jumlah likes, atau citra diri yang harus dijaga.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kerangka Penelitian</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcKFgaKBwYu7rYqiDxs-v5bjdxoHklGvziHSsvxauAb2q7WmEsmDjbO22ug3PFI5zF251-AkRVoR696a9MnZcNEZFaTVMER41Wg8OzZ0gRTN3ZIgqFtkL9OrVdT3FwRsPgxZ-THbQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian</em></p>



<p>Penelitian ini ingin melihat bagaimana penggunaan <em>dump account</em> Instagram berperan sebagai sarana regulasi emosi bagi generasi Z. Ketiga teori dan konsep utama dalam penelitian ini saling terhubung dengan memberikan kerangka teoritis untuk memahami bagaimana aktivitas berbagi secara digital bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang bermakna. Ini memperkuat pemahaman bahwa <em>dump account</em> adalah bentuk jurnal foto digital, yang tidak hanya mendokumentasikan momen, tetapi juga membantu pengguna dalam proses regulasi emosi.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4dd.png" alt="📝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif pengguna dalam menggunakan <em>dump account</em> sebagai jurnal foto digital dalam proses regulasi emosi. Pendekatan fenomenologi dipilih karena mampu mengungkap makna terdalam dari pengalaman hidup partisipan, tidak hanya dari perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga dari refleksi personal yang melekat dalam tindakan mereka. Untuk menggali kompleksitas pengalaman tersebut, digunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data, yaitu observasi digital, wawancara mendalam, dan <em>photo elicitation interview</em>. Ketiga teknik ini tidak hanya digunakan secara terpisah, melainkan saling melengkapi melalui proses triangulasi metode, yaitu upaya membandingkan dan mengkonfirmasi data dari berbagai sumber untuk meningkatkan keabsahan dan kedalaman temuan.</p>



<p>Proses pengumpulan data diawali dengan observasi digital terhadap <em>dump account</em> partisipan. Observasi ini dilakukan dengan mengamati aktivitas autentik pengguna dalam ruang digital mereka. Fokus observasi meliputi pola unggahan, jenis konten visual yang dibagikan, gaya penulisan <em>caption</em>, serta bentuk interaksi yang terjadi antara pengguna dan pengikut mereka. Tahapan ini penting sebagai landasan awal untuk mengenali konteks penggunaan akun, membangun pemahaman terhadap kebiasaan pengguna, serta mengidentifikasi konten-konten yang berpotensi mengandung makna emosional. Informasi yang diperoleh dari observasi ini kemudian menjadi pijakan dalam menyusun pertanyaan yang lebih kontekstual dan spesifik pada tahap wawancara berikutnya.</p>



<p>Setelah mendapatkan pemahaman awal dari observasi digital, peneliti melanjutkan proses dengan melakukan wawancara mendalam terhadap partisipan yang telah memenuhi kriteria penelitian. Wawancara ini bersifat semi-terstruktur, memberikan ruang bagi partisipan untuk mengembangkan narasi pribadi mereka dengan bebas, sambil tetap diarahkan pada topik-topik utama yang ingin digali. Tujuan dari wawancara ini adalah mengeksplorasi bagaimana partisipan memaknai penggunaan <em>dump account</em>, apa yang mereka rasakan ketika mengunggah konten, serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap regulasi emosi mereka. Wawancara ini juga menjadi ruang aman bagi partisipan untuk mengekspresikan hal-hal yang mungkin tidak terlihat dari unggahan mereka, termasuk latar belakang emosional di balik setiap tindakan digital yang dilakukan.</p>



<p>Dalam upaya memperdalam pemahaman terhadap aspek visual dan simbolik dari konten yang dibagikan, teknik <em>photo elicitation interview</em> digunakan sebagai pelengkap wawancara. Dalam sesi ini, partisipan diminta untuk memilih beberapa unggahan dari <em>dump account</em> mereka yang dianggap paling bermakna secara emosional. Foto-foto tersebut kemudian digunakan sebagai pemicu diskusi, mendorong partisipan untuk menggali kembali emosi, kenangan, atau refleksi yang mungkin sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Visual berperan sebagai jembatan antara pengalaman internal dan ekspresi luar, memunculkan dimensi pengalaman yang lebih dalam dan autentik. Teknik ini terbukti efektif untuk memunculkan narasi yang lebih kaya dan reflektif, karena citra visual mampu membangkitkan memori dan emosi yang bersifat personal dan tak jarang laten.</p>



<p>Ketiga teknik ini saling memperkuat dalam kerangka triangulasi metode. Observasi digital memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana pengguna mengekspresikan diri di ruang daring, wawancara mendalam membuka lapisan makna dan motivasi di balik tindakan tersebut, sementara <em>photo elicitation interview</em> menjembatani keduanya dengan eksplorasi visual yang bersifat emosional. Ketika temuan dari ketiga teknik ini saling mendukung, maka validitas data semakin kuat. Sebaliknya, jika terdapat ketidaksesuaian, hal tersebut justru menjadi peluang untuk menggali lebih dalam kompleksitas subjektivitas partisipan. Dengan demikian, proses pengumpulan data ini tidak hanya memberikan informasi deskriptif, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial digunakan sebagai ruang ekspresi emosional dan refleksi personal oleh generasi muda di era digital.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong><em>Photo Elicitation Interview</em></strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4f8.png" alt="📸" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Salah satu teknik utama dalam penelitian ini adalah <em>photo elicitation interview</em>, yaitu metode wawancara yang menggunakan foto atau unggahan visual sebagai pemantik wawancara atau memulai titik awal diskusi. Pendekatan <em>photo elicitation </em> kami pilih sebagai metode utama dengan harapan dapat menggali pengalaman, motivasi, serta dampak emosional dari penggunaan <em>dump account</em>. Selama wawancara, partisipan diminta memilih beberapa unggahan yang menurut mereka memiliki makna emosional atau yang paling merepresentasikan emosi tertentu. Foto-foto yang dipilih bisa berasal dari unggahan partisipan sendiri di <em>dump account</em> mereka. Dengan menunjuk dan menjelaskan langsung gambar-gambar tersebut, informan cenderung lebih terbuka, reflektif, dan bebas dalam mengungkapkan perasaan mereka. Dari sini, peneliti dapat mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara ekspresi visual dan proses regulasi emosi yang dialami. Teknik ini terbukti mampu menggali lapisan-lapisan makna yang tidak muncul dalam wawancara biasa, karena visual membangkitkan kenangan dan emosi yang mendalam (Harper, 2002).</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Metode Pengolahan Data</strong> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f4ca.png" alt="📊" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Setelah transkrip dari wawancara dan <em>Photo Elicitation Interview </em> lengkap,<strong> </strong>data dianalisis menggunakan aplikasi bantu bernama <strong>Taguette</strong>. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan <strong>coding</strong>, yaitu proses memberi label atau “tag” pada kutipan-kutipan penting dalam transkrip yang relevan dengan fokus penelitian. Kami membaca ulang setiap transkrip secara cermat, lalu menandai bagian-bagian yang mencerminkan tema seperti <em>regulasi emosi</em>, <em>kebebasan ekspresi</em>, atau <em>autentisitas</em>. Setiap kutipan diberi tag sesuai kategori tematik yang telah dirumuskan berdasarkan teori. Hasil dari proses ini membantu peneliti mengidentifikasi pola makna dan mengorganisasi temuan dengan lebih sistematis.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Pola Temuan</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeyTl6mfamtOolE1lwt2e_sWDYZsvvzsAWuCNNPxDpM5AWiWuGkCFi0bK1bGmY_PaNocyA045oyxnip2gcbYGk67PBqLrcAQP2b_VluWIXZUKr-zDCr55zQNXKGR8ASa9LrN6KYgA?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 2. Word-clouds</em></p>



<p class="has-text-align-left">Sebelum membahas temuan lebih lanjut, visualisasi word cloud berikut memberikan gambaran awal tentang tema-tema dominan yang muncul dari hasil analisis transkrip wawancara. Word cloud ini disusun berdasarkan frekuensi tag yang digunakan selama proses pengodean data. Terlihat bahwa istilah seperti <strong>“Kebebasan Ekspresi”</strong>, <strong>“Regulasi Emosi”</strong>, dan <strong>“Konten”</strong> paling sering muncul, menandakan bahwa dump account banyak dimaknai sebagai ruang untuk mengekspresikan diri secara jujur dan emosional. Kata-kata lain seperti <em>nyaman</em>, <em>bahagia</em>, dan <em>motivasi</em> memperkuat temuan bahwa dump account tidak sekadar tempat berbagi konten, melainkan juga alat bantu untuk menjaga kesehatan emosional pengguna.</p>



<p class="has-text-align-left has-large-font-size"><strong>Jurnal Foto Digital: Bukan Sekadar Foto, Tapi Juga Menyimpan Perasaan</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdZHSw7JKE2AS52NMkP_tGjjqc0a_rHk_1Mm_zzyHWCHOBh0FENvqzpsk8_L9nrunSWtc6X8wYK4vIajpW10K7I4nRezDFuVn-D1-DSe24yBBJj8wEwxqJuD9kr-wLz5odn4mCr1w?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:472px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3.</em> <em>Kutipan Temuan 1</em></p>



<p>Banyak partisipan menjadikan <em>dump account</em> sebagai semacam album digital pribadi yang mencatat perasaan dan momen emosional mereka. Setiap unggahan bukan hanya visual, tapi juga menyimpan kenangan, pemikiran, dan emosi yang mereka rasakan. <em>Dump account</em> menjadi tempat yang bisa mereka buka kembali saat ingin mengingat dan mengenang memori mereka.</p>



<p>“Jadi <em>dump account</em> ini sebagai album foto aku. Ketika nanti aku pengen ngeliat, tinggal buka aja.”<br>— <em>WI, 21 tahun, Wawancara 16 April 2025.</em></p>



<p>Konsep ini selaras dengan gagasan bahwa <em>dump account</em> bukan hanya tempat curhat sesaat, tapi bentuk dokumentasi emosional yang bermakna dan dekat secara personal. Temuan ini juga relevan dengan Uses and Gratifications Theory (UGT), di mana media sosial dipakai secara aktif untuk memenuhi kebutuhan ekspresi dan refleksi diri.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Gak Estetik, Gak Masalah, Yang Penting Jujur</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfOv1q4X43Ai8Wr-Jt6TAImkszLX22ild7-pLXbYgF83L8WyqY15RYqYpNkGFL1sq8wK3Xmplafs3WnVpzbVdHI7cmm_k71Ld8wz54paVoiW9fwU_ftaPXl98SsM7oVFed2_6UYpQ?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:477px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 2</em></p>



<p>Tidak seperti akun utama yang dipenuhi tuntutan estetik dan “branding diri”, dump account memberi kebebasan untuk unggah apa saja, meski fotonya <em>blur</em>, nggak nyambung, atau caption-nya cuma satu kata. Justru karena itu, tempat ini terasa lebih jujur dan personal.</p>



<p>“Kalau <em>main account</em> kan harus yang cantik, indah, bagus gitu ya. Kalau <em>dump</em> tuh aku bisa upload apa aja, dan aku gak harus mikirin orang ngeliat ini jelek atau enggak.”<br>— <em>FRD, 20 tahun, Wawancara 17 April 2025.</em>Dalam dunia digital yang penuh tuntutan estetika dan pencitraan, kehadiran ruang semacam ini menjadi penting untuk menjaga kewarasan emosional para pengguna muda. Temuan ini berhubungan erat dengan konsep <em>self-disclosure</em> dan <em>authenticity</em>, di mana pengguna merasa lebih lepas, jujur, dan bebas dalam menyampaikan diri secara apa adanya tanpa tekanan sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Validasi Emosi dari Lingkaran Kecil Tapi Berarti</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfS4qW2Ne-l0Lcr_E2Y17nnM_ujwc0Gc2_KRGqPp5n9soqW67aNfBzCw2uToTDNZQULxsXNZL8Orn-EEs8n6NupnBCUBmzdL6lNzq_f_wqpVdyy2TASOIehA3_syOfOFfnbmEnN?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:475px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 4.</em> <em>Kutipan Temuan 4</em></p>



<p>Walau <em>audiens dump</em> account terbatas, interaksi yang muncul seringkali jauh lebih bermakna. Komentar pendek atau like dari orang dekat bisa memberikan rasa diperhatikan, yang justru sangat dibutuhkan ketika sedang berada dalam kondisi emosional tertentu.</p>



<p>“Ada yang like, komen, <em>reply story</em>. Rasanya kayak, oh ada yang liat.”<br>— <em>AK, 21 tahun, Wawancara 15 April 2025.</em>Respons ini memberikan perasaan bahwa mereka tidak sendirian, ada orang lain yang melihat, mengerti, dan peduli. Hal ini mencerminkan konsep <em>social sharing of emotions</em> dan memperkuat gagasan bahwa ekspresi emosional secara daring bisa menjadi jembatan untuk menciptakan koneksi sosial yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan dan Rekomendasi</strong></p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Teoretis</strong></p>



<p>Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur komunikasi digital dan psikologi media, khususnya dalam konteks o<em>nline self-disclosure, social sharing of emotions, dan Uses and Gratifications Theory</em> dalam konteks lokal (Generasi Z di Indonesia). Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana media sosial, khususnya <em>dump account</em>, berperan dalam regulasi emosi di kalangan pengguna muda.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi Praktis</strong></p>



<p>Penggunaan jurnal foto digital di <em>dump account</em> terbukti menjadi alat yang bermanfaat untuk refleksi diri dan pengelolaan emosi, yang pada gilirannya membantu kesejahteraan psikologis generasi muda. Dengan adanya ruang yang lebih privat dan aman, <em>dump account</em> dapat membantu pengguna mengekspresikan diri dan mengurangi stres.</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Akademis</strong></p>



<p>Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan subjek yang memiliki latar belakang usia, jenis kelamin, dan konteks budaya yang lebih beragam untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang penggunaan <em>dump account</em> di berbagai demografi. Penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur secara objektif pengaruh penggunaan <em>dump account</em> terhadap pengelolaan stres atau kesehatan mental</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi Praktis</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk Pengguna Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengguna <em>dump account</em> harus sadar akan pentingnya menjaga privasi dan memahami resiko berbagi informasi di ruang digital. Pengguna dapat memanfaatkan <em>dump account</em> sebagai alat yang positif untuk ekspresi diri dan pengelolaan emosi, namun dengan bijak dan bertanggung jawab.</li>



<li><strong>Untuk Pengembangan Platform Media Sosial</strong><strong><br></strong>Pengembang perlu meningkatkan fitur privasi dan keamanan untuk <em>dump account</em>, serta memberikan edukasi kepada pengguna tentang bagaimana menggunakan platform ini secara sehat, khususnya dalam hal kesehatan mental.</li>



<li><strong>Untuk Praktisi Kesehatan Mental dan Pendidikan</strong> <br>Mengintegrasikan pemahaman tentang penggunaan media sosial alternatif dalam program pendampingan psikologis dan edukasi digital, khususnya untuk remaja dan dewasa muda yang aktif di media sosial. Praktisi juga perlu mengajarkan pengguna tentang bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pengelolaan emosi yang sehat.</li>
</ol>



<p class="has-large-font-size"><strong>Visualisasi Observasi dan Wawancara</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="630" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png" alt="" class="wp-image-3830" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1024x630.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-300x184.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-768x472.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-1536x945.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-7-2048x1259.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 5. Proses photo elicitation interview dengan pengguna dump account aktif (Foto di atas hanya sebagian informan)</em></p>



<p class="has-text-align-center"></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="940" height="788" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png" alt="" class="wp-image-3836" style="width:482px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2.png 940w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-300x251.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Jumlah-Pengguna-Instagram-di-Indonesia-yang-Memiliki-Akun-Alternatif-2-768x644.png 768w" sizes="auto, (max-width: 940px) 100vw, 940px" /></figure>
</div>


<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 6. Contoh unggahan foto dan caption reflektif di dump account. (Foto di atas hanya sebagian dump account informan).</em></p>



<p></p>



<p class="has-text-align-left"><strong>Artikel ini ditulis oleh Kelompok 4 Mata Kuliah MPK Kualitatif D:</strong> Andrea Deflin (<a href="mailto:andreadeflin@gmail.com">andreadeflin@gmail.com</a>), Fariz Arsaputra (<a href="mailto:fariz.arsaputra@gmail.com">fariz.arsaputra@gmail.com</a>), Lutfia Munisa A (<a href="mailto:lutfiamunisaa@gmail.com">lutfiamunisaa@gmail.com</a>), M Dafa Ardhika (<a href="mailto:dafaardhika27@gmail.com">dafaardhika27@gmail.com</a>), Naila S. Khalisha (<a href="mailto:naila.khalisha03@gmail.com">naila.khalisha03@gmail.com</a>).</p>



<p></p>



<p><strong>Sumber Referensi</strong></p>



<p>Goodstats.id. (2024). Laporan penggunaan akun kedua di media sosial di Indonesia. <em>Goodstats.id</em>. <a href="https://www.goodstats.id/">https://www.goodstats.id</a></p>



<p>Pluta, A., Ulrich, G., &amp; Kappes, A. (2021). Emotional disclosure on social media: The role of social support and positive feedback. <em>Journal of Affective Disorders, 292</em>, 32-39. <a href="https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098">https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.05.098</a>&nbsp;</p>



<p>Andreassen dkk., (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. <em>Addictive Behaviors, 64</em>, 287-293. <a href="https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006">https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006</a>&nbsp;</p>



<p>Glaw dkk., (2017). Visual methodologies in qualitative research: Autophotography and photo elicitation applied to mental health research. International journal of qualitative methods, 16(1), 1609406917748215.&nbsp;​​Papacharissi dkk., (2000). Predictors of Internet use. <em>Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media, 44</em>(2), 175-196. <a href="https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2">https://doi.org/10.1207/s15506878jobem4402_2</a></p>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe8fKpkbGPyUn_pUIObEpaZlkvJIclVszDIw3OoMSnDkiGLUcxcj51hHbDZjlDrbMh7VMlZBQci2hmL8CIRVv9G1EcI7hbFWC-_MM70d197VnWXHSKMA-7RpBK2Kiuv1VIAdFcP?key=UW-54Pv2wJPfQuBLcyGAbw" alt="" style="width:148px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Sumber Referensi selengkapnya&nbsp;dapat diakses di QR Code berikut ini.</p>



<p class="has-large-font-size"><br><br></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/a-dump-account-ruang-digital-aman-tanpa-kritikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Satu, Dua, tapi Tiga: Rahasia Gen Z Gunakan Banyak Akun Instagram Sekaligus</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 1 MPK Kualitatif D]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 06:10:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[gen z]]></category>
		<category><![CDATA[Intagram]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitatif]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3771</guid>

					<description><![CDATA[Memahami Pengelolaan Privasi Daring di Akun Instagram Ganda pada Kalangan Generasi Z Athar Hisyam Fadhilah (2206814614) atharhisyamf@gmail.com Esther Maura Berlianta Simanjuntak&#160; (2206814450) estersimajuntak10@gmail.com Hafizh Muhammad Ghiffari (2206078451) hafizhstoem174@gmail.com Kyara Angkasa (2206039192) kyara.angkasa@gmail.com Muhammad Ihsan (2206033226) djojodiwirjo@gmail.com&#160; Zheva Theodora Rodja (2206078804)...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading"><strong>Memahami Pengelolaan Privasi Daring di Akun Instagram Ganda pada Kalangan Generasi Z</strong></h2>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Athar Hisyam Fadhilah (2206814614) <a href="mailto:atharhisyamf@gmail.com">atharhisyamf@gmail.com</a></p>



<p>Esther Maura Berlianta Simanjuntak&nbsp; (2206814450) <a href="mailto:estersimajuntak10@gmail.com">estersimajuntak10@gmail.com</a></p>



<p>Hafizh Muhammad Ghiffari (2206078451) <a href="mailto:hafizhstoem174@gmail.com">hafizhstoem174@gmail.com</a></p>



<p>Kyara Angkasa (2206039192) <a href="mailto:kyara.angkasa@gmail.com">kyara.angkasa@gmail.com</a></p>



<p>Muhammad Ihsan (2206033226) <a href="mailto:djojodiwirjo@gmail.com">djojodiwirjo@gmail.com</a>&nbsp;</p>



<p>Zheva Theodora Rodja (2206078804) <a href="mailto:zheva.rodja789@gmail.com">zheva.rodja789@gmail.com</a>&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Dewasa ini, semua orang selalu pakai media sosial setiap harinya. Terutama Gen Z yang jadi tumbuh besar dengan media sosial, salah satunya Instagram. Tapi, teman-teman sudah tahu belum kalau Gen Z banyak yang memiliki akun-akun rahasia yang tidak dibuka untuk publik? Artikel ini mengulas bagaimana mereka mengelola privasi mereka di Instagram dengan memiliki banyak akun sekaligus, disimak ya!</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="384" height="1024" data-id="3848" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-384x1024.png" alt="" class="wp-image-3848" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-384x1024.png 384w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-113x300.png 113w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-768x2048.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-576x1536.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Draf-Infografik_Kelompok-1-4-scaled.png 960w" sizes="auto, (max-width: 384px) 100vw, 384px" /></figure>
</figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 1. Infografis</em></p>



<p><strong>ABSTRAK</strong></p>



<p>Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Generasi Z di Indonesia mengelola batasan privasi melalui strategi multi-akun di Instagram, menggunakan teori <em>Communication Privacy Management</em> (Petronio, 2002) sebagai kerangka utama. Melalui pendekatan kualitatif terhadap 12 mahasiswa berusia 18–24 tahun yang dipilih dengan teknik snowball sampling, ditemukan bahwa pembagian akun (Rinsta, Finsta, dan third account) mencerminkan segmentasi identitas dan kepemilikan informasi berdasarkan tingkat kedekatan, kepercayaan, dan risiko sosial. Privasi digital tidak hanya dikendalikan secara rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika emosional seperti rasa malu, takut, dan tekanan sopan santun digital. Penelitian ini memperluas teori CPM dengan menambahkan dimensi afeksi dan performativitas identitas sebagai faktor krusial dalam pengelolaan privasi daring, serta menunjukkan bahwa renegosiasi batasan bisa melahirkan sistem baru melalui penciptaan akun tambahan.</p>



<p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em>: Generasi Z, Instagram, privasi digital, multi-akun, Communication Privacy Management</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>FENOMENA AKUN 2ND, 3RD, DAN SETERUSNYA DI INSTAGRAM GEN Z&nbsp;</strong></h2>



<p>Instagram telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital Gen Z di Indonesia. Platform ini menempati posisi kedua sebagai media sosial paling banyak digunakan di Indonesia (We Are Social, 2024), dengan lebih dari separuh Gen Z—53% laki-laki dan 52% perempuan—mengaku menjadikannya sebagai platform utama (IDN Times, 2024).</p>



<p>Namun di balik penggunaan sehari-hari yang terlihat biasa, muncul pola perilaku yang jauh lebih kompleks, yaitu praktik multi-akun. Gen Z tidak hanya mengelola satu identitas daring, tetapi dua, tiga, bahkan lebih. Direktur Kemitraan Global Meta untuk Asia Tenggara, Revie Sylviana, menyebut bahwa banyak pengguna Gen Z kini memiliki hingga lima atau enam akun Instagram yang berbeda (Mediana, 2024).</p>



<p>Dari sinilah muncul istilah Rinsta (Real Instagram) dan Finsta (Fake Instagram). Rinsta digunakan sebagai akun utama yang terbuka untuk publik, sementara Finsta bersifat privat dan hanya dapat diakses oleh lingkaran terdekat (Lorenz, 2017). Praktik ini menunjukkan bahwa Gen Z membangun sistem pengelolaan privasi yang sangat kontekstual—berbasis kepercayaan, audiens, dan tujuan konten. Namun, fenomena ini juga menunjukkan keberadaan finsta yang lebih dari satu.Penelitian ini berupaya memahami bagaimana strategi multi-akun digunakan Gen Z untuk membedakan audiens, membatasi akses, dan menjaga rasa aman di ruang digital. Dalam era ketika <strong><em>keterbukaan digital </em></strong>kian meningkat pemahaman terhadap praktik ini penting bukan hanya bagi pengguna muda itu sendiri.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>LANDASAN TEORI/KONSEP</strong> (yang kami jadiin arahan)</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Instagram</li>
</ul>



<p>Instagram merupakan platform media sosial berbasis visual yang sangat populer di Indonesia, khususnya di kalangan Generasi Z. Platform ini mendukung ekspresi diri dan pembentukan identitas digital melalui berbagai format konten seperti foto, video, stories, dan reels. Instagram populer di kalangan Gen Z karena fleksibilitasnya dalam mengelola audiens dan konten sesuai konteks (Dari, 2025).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Generasi Z</li>
</ul>



<p>Gen Z (kelahiran 1997–2012) adalah generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital dan sangat mahir menggunakan teknologi. Ketergantungan mereka terhadap media sosial membentuk pola komunikasi, cara memperoleh informasi, dan ekspresi diri mereka (Arum et al., 2023; Zamzami, 2023). Media sosial menjadi ruang penting dalam membangun identitas dan validasi sosial (Ramadhani &amp; Khoirunisa, 2025).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Finsta vs Rinsta</li>
</ul>



<p>Finsta (fake Instagram) dan Rinsta (real Instagram) mencerminkan strategi pengguna dalam memisahkan persona daring. Rinsta bersifat publik dan dikurasi untuk membentuk citra positif, sedangkan Finsta bersifat lebih privat dan digunakan untuk ekspresi yang lebih jujur. Meskipun Finsta bisa menjadi ruang aman, penggunaannya juga menyimpan risiko seperti penyalahgunaan identitas dan pelanggaran privasi.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Privasi dan Teori CPM</li>
</ul>



<p>Privasi adalah hak individu untuk mengontrol informasi pribadi mereka (Yuwinanto, 2015; Suari &amp; Sarjana, 2023). Teori Communication Privacy Management (CPM) yang dikembangkan oleh Petronio (2002) menjelaskan bahwa pengelolaan privasi melibatkan negosiasi antara kebutuhan untuk membuka dan menutup informasi dalam hubungan interpersonal. Ketegangan dialektis ini menciptakan dinamika dalam menetapkan batasan privasi (Yasir, 2012).</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Finsta dalam Kerangka CPM</li>
</ul>



<p>Penggunaan Finsta dapat dipahami sebagai penerapan prinsip CPM, di mana pengguna menetapkan batas akses berdasarkan tingkat kepercayaan. Mereka menerapkan strategi sosial dan teknis, seperti fitur Close Friends atau kontrol followers, untuk menjaga privasi. Namun, pelanggaran batas dan risiko kepercayaan tetap menjadi tantangan yang mendorong renegosiasi privasi secara dinamis.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>KERANGKA KONSEP DAN METODE</strong> (yang kami pakai untuk cari tahu)</p>



<p class="has-text-align-center">Gambar 2. Kerangka Konsep</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="582" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA.png" alt="" class="wp-image-3829" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA.png 1600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-300x109.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-1024x372.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-768x279.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXepvoe7QkZb3DfUFcEQM3xaWWtvNwRSJuXlEbSLlryScZtQcuk2z4BtL00ocy-e92yzSXZCS85FXi6WWi_h2Aws93Y-_lpNttfU2biQ4TZowYkn-bQ7GdFW5SGa_Bm_G-8RyMeIA-1536x559.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami dinamika pengelolaan privasi daring di kalangan Generasi Z dalam penggunaan multi-akun Instagram. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif dan strategi personal yang digunakan partisipan dalam menetapkan batasan privasi digital mereka.</p>



<p>Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: observasi digital, penulisan diari partisipan, dan wawancara mendalam. Partisipan terdiri dari 12 mahasiswa program sarjana (usia 18–24 tahun) yang memenuhi kriteria sebagai pengguna aktif Instagram dengan lebih dari dua akun. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik <em>snowball sampling</em>, mempertimbangkan sensitivitas topik dan keterbatasan akses terhadap akun-akun pribadi. Hasil dari ketiga triangulasi diolah menggunakan software taguette untuk mencari pola.</p>



<p>Untuk menjaga validitas dan memperkuat kredibilitas data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi dalam tiga bentuk berikut:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Triangulasi Metode<br>Penelitian ini mengombinasikan tiga metode pengumpulan data yang saling melengkapi. Observasi digital dilakukan untuk mencermati bagaimana partisipan mengelola pengaturan akun, visibilitas unggahan, dan pembagian audiens. Diari partisipan ditulis dalam kurun waktu tertentu untuk merekam refleksi pribadi, keputusan privasi, dan pengalaman emosional terkait interaksi digital. Sementara itu, wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali narasi yang lebih dalam terkait strategi privasi, dinamika kepercayaan, serta alasan di balik penggunaan akun-akun ganda.</li>



<li>Triangulasi Data<br>Sumber data yang digunakan berasal dari transkrip wawancara, catatan observasi digital, dan dokumentasi diari partisipan. Seluruh data dianalisis secara tematik dan dibandingkan untuk mengidentifikasi konsistensi serta pola temuan yang muncul. Perbandingan antar sumber ini digunakan untuk memvalidasi interpretasi dan memperkaya pemahaman mengenai praktik boundary management dalam konteks penggunaan multi-akun oleh Gen Z.</li>



<li>Triangulasi Peneliti<br>Seluruh proses analisis data dilakukan secara kolaboratif dan diverifikasi oleh minimal tiga anggota tim peneliti. Setiap hasil pengkodean dan temuan awal dibahas secara terbuka dalam diskusi tim untuk memastikan interpretasi yang objektif dan menghindari bias individual. Verifikasi silang antar peneliti dilakukan sebagai upaya menjaga transparansi serta akurasi dalam merumuskan kesimpulan teoretis dan empiris.</li>
</ol>



<p>Dengan menerapkan pendekatan triangulasi ini, penelitian ini berupaya menyajikan gambaran yang komprehensif mengenai strategi manajemen privasi digital Generasi Z, serta memperkuat kontribusi terhadap pengembangan teori Communication Privacy Management (CPM) dalam ranah praktik media sosial kontemporer.&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>APA RAHASIA MEREKA? (Temuan dan Diskusi)</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Banyak Akun, Banyak Fungsi</strong></h3>



<p>Fenomena Gen Z punya banyak akun Instagram mencerminkan cara mereka menjaga privasi dengan cerdas. Satu akun saja nggak cukup. Biasanya mereka punya tiga: akun utama, akun kedua, dan kadang akun ketiga. Akun utama dipakai untuk tampil sempurna. Isinya foto-foto terbaik, caption yang dipikirin, dan konten yang aman dilihat banyak orang. Ini versi publik mereka. Akun kedua lebih personal. Isinya bisa curhat, meme, atau hal-hal yang cuma bisa dipahami orang-orang dekat. Follower-nya terbatas. Kadang masih ada akun ketiga yang lebih kecil lagi lingkupnya. Hanya sahabat dekat yang tahu. Dengan membagi akun seperti ini, Gen Z bisa atur siapa yang lihat apa. Mereka tahu kapan harus jaga citra, dan kapan bisa jadi diri sendiri. Buat mereka, ini bukan cuma soal gaya. Ini cara untuk tetap punya ruang aman di tengah dunia digital yang serba terbuka.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg.png" alt="" class="wp-image-3826" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXejlbPcRKK_RRSRCNn3HBKBJ-tchrLFdwlmRqARAfyADc3A42Uwb4n4I1z4yN_horgSYPoA8_FCnYW_wMdr_rIBAqqA4LaBf4eIqI86zMaFVtKBTGsOpqpz-Ggv7wa9TX76Zhogjg-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.1</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Membentuk Batasan, tapi Sering Goyah.</strong></h3>



<p>Meski pembagian audiens sudah dirancang, batasan ini tidak selalu berjalan mulus. Beberapa informan mengalami tekanan sosial seperti permintaan akses <em>follow</em> dari orang yang kurang dekat yang menyebabkan ketidaknyamanan dan <em>boundary turbulence.&nbsp;</em></p>



<p>Namun, saat strategi ini masih dirasa kurang aman, beberapa informan membuat akun ketiga yang lebih tersembunyi, hanya untuk lingkaran terdekat. Temuan ini memperluas konsep boundary turbulence (Petronio, 2002), dengan menunjukkan bahwa renegosiasi batas saja tidak cukup, dan kadang perlu sistem baru demi menjaga kenyamanan emosional dan kontrol atas identitas digital.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA.png" alt="" class="wp-image-3827" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXewgs7gxTFr689JQ5RaR2xd8li5YEvYchGz5blq1Qi0c8G6MGNQbYVYArurS3SWDq_B_3S0PcG7b4_wC_wAfI_lTMZSzK1PiovmirYQHewc0F-7CX5dn3huUIYif-ILYQiUyljGzA-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.2</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Takut? Khawatir? Gak Nyaman? Itu Sudah Biasa dan Jadi Penting!</strong></h3>



<p>Ternyata, mayoritas  Informan kami mengaku bahwa perasaan tidak nyaman, khawatir, dan keraguan sudah menjadi hal yang normal dalam menggunakan akun Instagram. Namun, Perasaan-perasaan negatif ini menjadi salah satu strategi penting dalam mereka mengelola akun yang berganda.&nbsp;</p>



<p>Hal ini berkaitan dengan perbedaan tingkat kenyamanan pada audiens di masing-masing akun yang berbeda dengan batasan dan audiens yang berbeda. Alhasil, ketakutan, ketidaknyamanan, atau kewaspadaan ini menjadi pendorong para Gen Z untuk selalu mempertimbangkan orang yang mendapatkan akses kepada akun kedua dan ketiga mereka. Mereka juga menjadi lebih berhati-hati untuk menghindari mengunggah sesuatu pada akun yang salah dan juga akhirnya&nbsp; memanfaatkan akun yang lebih tertutup untuk informasi yang lebih rahasia. Emosi negatif ini menjadi penentu Boundary Permeability di setiap akun yang mereka miliki. Boundary Permeability (Petronio, 2002) menjelaskan bagaimana ketika batasan semakin tertutup maka informasi semakin rahasia.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q.png" alt="" class="wp-image-3824" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXedlb6bmfP3CQH3_9woW-FpGrxpGoI5m2u9vJNECD7JV71_rqtOK3bQMatAdc15gZ5gV3S6PJ33168-2YIr9og5GJibFzYkdgXgoa1Kbx9ytvM7PLJO4PhHHAwLTL8hBbXPYRil5Q-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.3</em><br></p>



<p>Pernyataan informan kami di atas menunjukkan bagaimana ada perasaan ketakutan dalam penggunaan akun Instagram, yang mendorong pengelolaan akun dalam bentuk membatasi akses atau memilih menggunakan akun yang lebih privat. Misalnya, informan A bilang <em>“Kalo upload keluarga di first (publik) jadi konsumsi agak risky, takut disalahgunakan orang jahat”. </em>Ketakutan ini mendorong A untuk menyaring unggahannya dan memilih mengunggah perihal keluarga di akun ketiga. Singkatnya, emosi negatif ini menjadi pemicu mereka untuk menjaga dan menentukan batasan audiens dan unggahan mereka di setiap akun mereka. Penelitian Dianiya (2021) juga&nbsp; menjelaskan alasan serupa yaitu ketakutan dihakimi yang mendorong batasan dengan penggunaan <em>fitur close-friend.</em></p>



<p>Dalam memilih siapa yang boleh mengikuti akun kedua atau ketiga mereka, Gen Z tidak hanya mempertimbangkan interaksi digital, tapi juga kedekatan nyata di kehidupan sehari-hari. Hubungan <em>offline</em> seperti kepercayaan, pengalaman bersama, dan ikatan emosional jadi dasar utama pemberian akses ke sisi pribadi mereka di Instagram.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Dekat di <em>Real Life</em>, Baru Boleh Masuk Akun Privat Instagram.</strong></h3>



<p>Namun, praktiknya tidak selalu mudah. Beberapa informan mengaku merasa sungkan atau tidak enak saat menerima permintaan follow dari orang yang sebenarnya tidak dekat. Karena tekanan sosial ini, mereka seringkali tetap menerima, lalu menyaring konten, atau bahkan membuat akun baru lagi yang lebih tersembunyi.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg.png" alt="" class="wp-image-3828" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXeyOla7CXZaJSGyDKaaoTzHPSlfAaoXIMGfP5aPQGlHHLZF0kuqI8C1iTY2Opdjuxk2PVpNan0RSCHwvtmddI5KxDHxfMf-OFWBvXutmIdBmMV-nLU4OWYGOWpcFjgJ8PBWBLxXSg-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.4</em></p>



<p>Temuan ini memperkuat konsep <em>co-ownership</em> dalam teori Communication Privacy Management (Petronio, 2002), bahwa akses terhadap informasi pribadi seringkali diberikan kepada orang-orang yang dianggap &#8220;memiliki&#8221; kedekatan emosional. Tapi batasan ini tak lepas dari pengaruh sosial yang membuat pengelolaan privasi digital terasa lebih kompleks.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Privasi sebagai Narasi Diri: Beda Akun Beda Tampilan</strong></h3>



<p>Penelitian kami menemukan bahwa pengelolaan konten di media sosial sering dilakukan dengan membedakan tema, kedalaman, dan tingkat keintiman di setiap akun. Akun utama biasanya berisi konten yang “siap konsumsi publik” sementara akun lainnya menampilkan ekspresi diri yang lebih jujur, lucu, atau bahkan impulsif. Pola ini menunjukkan bahwa selain melindungi informasi pribadi, pengelolaan konten juga berfungsi untuk membangun versi diri yang berbeda sesuai audiensnya.</p>



<p>Menurut teori <em>Communication Privacy Management </em>(CPM), manajemen privasi tidak hanya soal membatasi akses informasi, tapi juga menjadi bentuk kurasi identitas dan performa naratif. Misalnya, salah satu informan berkata,<em> “Gua posting foto pemandangan di story pertama, video kegiatan di story kedua, dan cerita lucu di story ketiga,”</em> yang menggambarkan penyusunan konten berdasarkan kedalaman personal dan karakter audiens. Temuan ini menegaskan CPM sebagai proses dinamis yang menggabungkan aspek protektif dan ekspresif dalam komunikasi digital.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1600" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw.png" alt="" class="wp-image-3825" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw.png 900w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-169x300.png 169w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-576x1024.png 576w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-768x1365.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXekfTaNmebN-IkgESehMvkjWk3jWxulzkvH5K7BY3IIuA5L0nzL-PatpStPvhgzjlbLwzs5k5aWoQ8vuGugUZr_q1-X55qm3-nWspEo9e0nWpe6HApsv7m8Vprp0jlgb3hV0xOXhw-864x1536.png 864w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Kutipan 1.5</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">&#8211; <strong>Perempuan dan Laki-Laki, Ada Beda Polanya Tidak Ya?</strong></h3>



<p>Jawaban dari informan kami menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dari strategi pengelolaan multi akun Instagram perempuan dan laki-laki. Namun, dalam proses snowball sampling, kami menemukan ternyata fenomena penggunaan akun Instagram yang lebih dari 2 secara aktif ini lebih banyak terjadi di kelompok perempuan.&nbsp;</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h3 class="wp-block-heading">IMPLIKASI DAN REKOMENDASI</h3>



<p><strong>Implikasi Teoritis</strong><br>Strategi multi-akun mencerminkan upaya Gen Z dalam membagi dan mengatur batas privasi mereka (<em>boundary segmentation</em> dan <em>ownership</em>), di mana emosi seperti takut dan tekanan sosial berperan besar dalam pengambilan keputusan. Ini memperluas teori CPM yang selama ini dianggap hanya bersifat kognitif. Saat renegosiasi batas gagal, mereka membentuk sistem baru demi rasa aman, sekaligus menjadikan manajemen privasi sebagai bagian dari ekspresi identitas yang performatif.</p>



<p><strong>Implikasi Sosial</strong><br>Gen Z sadar betul pentingnya mengatur siapa yang bisa melihat apa di media sosial. Namun, relasi digital mereka tetap dipengaruhi hubungan <em>offline</em> kepercayaan dan sopan santun masih jadi pertimbangan utama. Tekanan untuk menerima permintaan akses kadang membuat batas privasi terganggu. Menariknya, perempuan terlihat lebih aktif dalam mengelola privasi berlapis, menunjukkan adanya pengaruh gender dalam praktik ini.</p>



<p><strong>Implikasi Praktis</strong><br>Gen Z perlu didorong untuk menerapkan strategi privasi yang sehat tanpa merasa tertekan secara sosial. Platform seperti Instagram bisa mengembangkan fitur yang mendukung manajemen multi-akun secara lebih nyaman dan fleksibel. Di sisi lain, sekolah dan kampus sebaiknya mulai memasukkan topik identitas digital dan literasi privasi ke dalam kurikulum untuk mendukung kesehatan psikososial anak muda.</p>



<p><strong>Rekomendasi</strong><br>Peneliti ke depan bisa menggali lebih dalam soal peran gender, melakukan studi jangka panjang, dan memakai pendekatan etnografi digital. Gen Z disarankan untuk lebih selektif memberi akses ke akun pribadi demi kenyamanan dan keamanan. Pengembang platform perlu menghadirkan fitur multi-akun dan pengaturan audiens yang lebih rinci. Sementara itu, institusi pendidikan dan pemerintah bisa menyediakan program literasi digital yang menyentuh aspek emosional dan identitas digital, serta ruang diskusi untuk mengatasi tekanan sosial di dunia maya.</p>



<p><strong>Hasil </strong><strong><em>WordCloud</em></strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1600" height="800" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg.png" alt="" class="wp-image-3823" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg.png 1600w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-300x150.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-1024x512.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-768x384.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-1536x768.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/AD_4nXf-PINMZu1BX_zlfPc1kgzKbtRByBnEDQQQoIgTiqQoLfqrtabyEQBqrtRhIkeXkvGiKELz3vRBKT0Xt0xEtNKyxR4hq1Jj4UwPnljd_C4cLNEfhocX-oN0jMILZmgQlR5-Q57rLg-600x300.png 600w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Gambar 3. Wordcloud</em></p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<h2 class="wp-block-heading">INTINYA (Kesimpulan)</h2>



<p>Strategi multi-akun di Instagram menjadi cara cermat Gen Z mengelola privasi dan membentuk persona sosial. Lebih dari sekadar memiliki akun tambahan, pembagian menjadi Rinsta, Finsta, hingga akun ketiga mencerminkan negosiasi batas—berdasarkan kepercayaan, kedekatan, dan risiko.</p>



<p>Temuan ini menunjukkan bahwa privasi digital bukan semata urusan teknis, tapi juga emosional. Rasa malu, cemas, dan kebutuhan untuk merasa aman menjadi faktor penentu dalam mengatur siapa melihat apa. Dalam kerangka <em>Communication Privacy Management</em> (Petronio, 2002), pengaturan informasi tampil sebagai bentuk perawatan diri di tengah ruang publik yang terus terbuka.</p>



<p>Meski berangkat dari konteks mahasiswa Gen Z, riset ini menggarisbawahi bahwa privasi digital kini adalah keterampilan sosial. Penghapusan followers, perpindahan konten, hingga penciptaan akun baru adalah respons terhadap ketidaknyamanan, tekanan sosial, dan pengalaman pelanggaran batas. Privasi, hari ini, bukan lagi sekadar kontrol atas informasi, tetapi soal menjaga rasa aman dalam inflasi keterbukaan yang terus meningkat.</p>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong><em>Glosarium Istilah</em></strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Akun Ganda (Multi-Akun)</strong><strong><br></strong>Kepemilikan lebih dari satu akun Instagram oleh satu pengguna untuk tujuan dan audiens berbeda.</li>



<li><strong>Boundary Coordination</strong><strong><br></strong>Proses mengatur siapa yang boleh tahu apa dalam informasi pribadi.</li>



<li><strong>Boundary Permeability</strong><strong><br></strong>Tingkat keterbukaan batas privasi terhadap orang lain.</li>



<li><strong>Boundary Turbulence</strong><strong><br></strong>Gangguan saat batas privasi dilanggar atau aturan tak diikuti.</li>



<li><strong>Close Friends</strong><strong><br></strong>Fitur Instagram untuk membatasi audiens story hanya ke orang-orang terpilih.</li>



<li><strong>Co-Ownership</strong><strong><br></strong>Status ketika orang lain ikut bertanggung jawab menjaga informasi yang dibagikan.</li>



<li><strong>Communication Privacy Management (CPM)</strong><strong><br></strong>Teori yang menjelaskan cara orang mengatur dan membagi informasi pribadi.</li>



<li><strong>Finsta (Fake Instagram)</strong><strong><br></strong>Akun pribadi yang lebih tertutup, biasanya untuk ekspresi lebih jujur.</li>



<li><strong>Rinsta (Real Instagram)<br></strong>Akun utama yang bersifat publik dan merepresentasikan citra sosial.</li>



<li><strong>Persona Daring</strong><strong><br></strong>Identitas digital yang ditampilkan kepada publik atau kelompok tertentu.</li>



<li><strong>Privasi Digital</strong><strong><br></strong>Kendali atas informasi pribadi di ruang online.</li>
</ul>



<div style="height:100px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>



<p>Arum, L. S., Zahrani, A., &amp; Duha, N. A. (2023). Karakteristik Generasi Z dan Kesiapannya dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030. <em>Accounting Student Research Journal</em>, <em>2</em>(1), 59-72.2</p>



<p>​​Dari, S. W. (2025). Pengelolaan media sosial Facebook dan Instagram sebagai media promosi di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Fadhilah Pekanbaru (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).</p>



<p>Dianiya, V. (2021, MARCH). Management privacy dalam penggunaan fitur “close friend” di Instagram. <em>JURNAL STUDI KOMUNIKASI</em>, <em>5</em>(1), 249-266.</p>



<p>IDN Times. (2024). <em>Indonesia Gen Z Report 2024</em>. IDN Times. <a href="https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf">https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf</a></p>



<p>Lorenz, T. (2017). The secret Instagram accounts teens use to share their realest, most intimate moments. <em>Mic</em>. <a href="https://www.mic.com/articles/175936/the-secret-instagram-accounts-teens-use-to-share-their-realest-most-intimate-moments">https://www.mic.com/articles/175936/the-secret-instagram-accounts-teens-use-to-share-their-realest-most-intimate-moments</a></p>



<p>Mediana. (2024, Maret 27). <em>Generasi Z Bikin 5-6 Akun di Instagram</em>. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2024/03/27/generasi-muda-suka-membuat-multi-akun-di-satu-aplikasi-media-sosial</p>



<p>Petronio, S. (2002). <em>Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure</em>. State University of New York Press.</p>



<p>Ramadhani, O., &amp; Khoirunisa, K. (2025). Generasi Z dan Teknologi: Gaya Hidup Generasi Z di Era Digital. <em>JURNAL PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS)</em>, <em>3</em>(1), 323-331.<a href="https://doi.org/10.54066/jupendis.v3i1.2916">https://doi.org/10.54066/jupendis.v3i1.2916</a></p>



<p>We Are Social. (2024). <em>Digital 2024: Indonesia</em>. Retrieved from <a href="https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia">https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia</a></p>



<p>Yasir. (2012, Maret 6). <em>Teori manajemen privasi komunikasi</em>. Universitas Riau. <a href="https://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/06/teori-manajemen-privasi-komunikasi/">https://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/06/teori-manajemen-privasi-komunikasi/</a>&nbsp;</p>



<p>Yoanita, D., Chertian, V. G., &amp; Ayudia, P. D. (2022). Understanding Gen Z&#8217;s online self-presentation on multiple Instagram accounts. <em>Jurnal Studi Komunikasi, 6</em>(2), 603-616. repository.petra.ac.id</p>



<p>Yuwinanto, H. P. (2015). Privasi online dan keamanan data. <em>Palimpsest</em>, <em>31</em>(11).</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/bukan-satu-dua-tapi-tiga-dan-lebih-banyak-lagi-ini-rahasia-gen-z-menggunakan-banyak-akun-instagram-sekaligus-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Detoks Video Pendek (SFV) pada Kesejahteraan Mahasiswa: Baik atau Buruk?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rusydi.Alkhalifah]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 05:36:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3779</guid>

					<description><![CDATA[Ananda Putri Susanto, Nayla Carissa Setiawan, Nurul Tsabita Ihsani, Rusydi Alkhalifah, Sayed Alif Fahrezi Fenomena Di Balik Scroll Tanpa Henti di Kalangan Mahasiswa “Scroll TikTok sebentar dulu deh, tiba-tiba sudah satu jam.” Tanpa sadar, kita sudah menonton puluhan video dengan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdmst0oT86F06WJKFxV6XwZ4UTrEpvTHXbdWHrbunmxNNf3S8zx6P2e4oofoph47Rj9UKSzZpcs37LkQSFv39JjLexqYyGLD5lJu2KP3bkJ4Wg-aFF7QYpy_SDsV55bhZGKKy0k6A?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:480px;height:auto" /></figure>
</div>


<h4 class="wp-block-heading"><strong>Ananda Putri Susanto, Nayla Carissa Setiawan, Nurul Tsabita Ihsani, Rusydi Alkhalifah, Sayed Alif Fahrezi</strong><br></h4>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Fenomena Di Balik Scroll Tanpa Henti di Kalangan Mahasiswa</strong></h3>



<p>“Scroll TikTok sebentar dulu deh, tiba-tiba sudah satu jam.” Tanpa sadar, kita sudah menonton puluhan video dengan durasi tak lebih dari semenit. Fenomena ini bukan hal baru, terutama bagi Generasi Z di Indonesia. Dalam sehari mereka dapat menghabiskan waktu 1–6 jam per hari di media sosial, menjadikannya sumber utama informasi berita terkini (Yonatan, 2024; Muhammad, 2024). Selain itu aktivitas yang dilakukan di media sosial juga beragam, misalnya mengunggah postingan, memberikan komentar atau <em>like</em>, atau sekadar melakukan scrolling video tanpa henti.</p>



<p>Menurut laporan Indonesia Gen Z Research tahun 2022, sebanyak 75% Gen Z lebih memilih konten video dibandingkan jenis konten lainnya (Hasya, 2023). Popularitas platform media sosial yang berbasis video seperti Instagram, TikTok, dan YouTube membuat pola konsumsi digital semakin didominasi oleh konten visual berdurasi pendek atau yang disebut sebagai Short Form Video. Di balik popularitas konsumsi SFV ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai potensi dampak negatif yang dihasilkan. Durasi video yang singkat dan sistem rekomendasi otomatis mendorong pengguna untuk menonton video secara berurutan (Park &amp; Jung, 2024). Fenomena ini menunjukkan potensi penggunaan berlebihan yang memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga penurunan fokus.&nbsp;</p>



<p>Dampak negatif SFV menjadi perhatian serius, terutama bagi generasi muda, yang lebih rentan mengalami gangguan mental akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Sebagai respons terhadap dampak negatif tersebut, konsep detoksifikasi media sosial mulai diperkenalkan sebagai solusi untuk mengurangi tekanan sosial dan efek negatif dari platform digital. Studi terdahulu menemukan bahwa detoks media sosial dapat meningkatkan kualitas well-being, memperkuat koneksi sosial, menurunkan FOMO, dan meningkatkan produktivitas (Booker dalam Nguyen, 2022; Nguyen, 2022; El-Khoury <em>et al</em>., 2021; Brown &amp; Kuss, 2020).</p>



<p>Namun, praktik detoksifikasi media sosial tidaklah mudah, algoritma membuat pengguna sulit berhenti mengonsumsi konten. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa detoks dapat menyebabkan perasaan terputus dari lingkungan sosial yang berpotensi menurunkan kualitas <em>well-being</em> seseorang (Brown &amp; Kuss, 2020). Meskipun terlihat adanya dampak negatif dari detoksifikasi media sosial terhadap kesejahteraan individu, studi terbaru menyatakan bahwa temuan yang didapat oleh banyak studi terdahulu belum menunjukkan hasil yang konsisten daripada dampak detoksifikasi media sosial terhadap kualitas <em>well-being</em> seseorang (Lemahieu <em>et al</em>., 2025).</p>



<p>Untuk menjawab fenomena ini, kami melakukan penelitian kualitatif terhadap 10 mahasiswa S1 dengan rentang usia 19–23 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak detoksifikasi SFV terhadap <em>well-being</em> mahasiswa. Dengan menggunakan pendekatan <em>multiple case study</em> dan triangulasi data melalui observasi, diari harian, dan wawancara mendalam, kami menemukan dinamika psikologis yang menarik selama proses detoksifikasi SFV yang dilakukan informan kami.&nbsp;</p>



<p>Oleh karena itu, yuk, simak hasil penelitian kami untuk melihat dampak yang dihasilkan dari detoksifikasi konsumsi SFV!&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Hubungan Antara Pola Konsumsi Short Form Video, Detoksifikasi, dan Well-Being</strong></h3>



<p>Penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya konsumsi SFV di <em>platform</em> seperti Instagram, Tiktok, dan Youtube di kalangan mahasiswa. Beberapa penelitian terdahulu telah menjelaskan fenomena ini secara umum. Berdasarkan penelitian oleh Mursyid dan Dewi (2024), algoritma SFV yang adaptif terhadap preferensi pengguna menciptakan ilusi bahwa ada video menarik berikutnya yang harus ditonton sehingga sulit bagi pengguna untuk menghentikan konsumsi SFV mereka. Dalam jangka panjang, pola konsumsi SFV tertentu dapat berkontribusi pada ketergantungan terhadap SFV dan mengurangi kontrol diri dalam mengatur waktu penggunaan media sosial.</p>



<p>SFV adalah video digital yang berdurasi singkat, biasanya kurang dari satu menit dan dirancang agar mudah dikonsumsi secara cepat. SFV sering kali memanfaatkan kombinasi visual yang menarik, seperti teks, gambar, dan musik untuk menyampaikan informasi atau hiburan dalam waktu yang terbatas. Keunggulan utama dari SFV adalah kemampuannya dalam menarik perhatian audiens dalam waktu singkat dan memfasilitasi konsumsi konten secara terus-menerus (Xie <em>et al</em>., 2023).&nbsp;</p>



<p>Pola konsumsi SFV yang intensif ini mengarah pada dampak negatif terhadap <em>well-being</em>. Sebagaimana ditunjukkan oleh Dodemaide <em>et al</em>. (2022) dan Glaser <em>et al</em>. (2018), penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan kecanduan, memperburuk kesehatan mental, dan meningkatkan risiko depresi, kesepian, serta gangguan psikologis lainnya. Hal serupa juga ditemukan oleh Zhu <em>et al</em>. (2024), yang menyatakan bahwa ketergantungan pada SFV berkorelasi dengan stres akademik dan penurunan kontrol atensi.&nbsp;</p>



<p>Sebagai respon terhadap dampak tersebut, muncul praktik detoksifikasi media sosial, yaitu upaya mengurangi atau menghentikan konsumsi media sosial, dalam hal ini SFV untuk mengembalikan keseimbangan mental dan emosional (Seekis <em>et al</em>., 2025; Nguyen, 2023). Detoksifikasi menjadi bagian penting dalam memitigasi efek negatif dari konsumsi digital, dengan harapan meningkatkan kembali kualitas <em>well-being</em> individu.</p>



<p>Dalam konteks ini, penelitian ini ingin mengkaji peran detoksifikasi terhadap pengalaman subjektif mahasiswa, khususnya bagaimana proses ini berdampak pada kondisi psikologis mereka sebelum, selama, dan setelah detoksifikasi. Detoksifikasi dipandang berpotensi menjadi intervensi yang relevan untuk meningkatkan <em>well-being</em>, sebagaimana dikemukakan oleh Hunt <em>et al</em>. (2018) bahwa pembatasan penggunaan media sosial dapat menurunkan perasaan kesepian dan depresi.</p>



<p>Adapun konsep <em>well-being</em> yang dimaksud mengacu pada kesejahteraan mental, emosional, dan sosial individu (Popat dan Tarrant, 2023; CDC, 2018). Dalam kajian literatur Popat dan Tarrant (2023), terdapat lima tema yang menunjukkan adanya korelasi antara media sosial yang berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan, yaitu ekspresi diri dan validasi, perbandingan penampilan dan cita-cita tubuh, tekanan untuk tetap terhubung, keterlibatan sosial dan dukungan teman sebaya, dan paparan terhadap perundungan dan konten berbahaya. Masa remaja dan dewasa muda menjadi periode krusial dalam pembentukan identitas dan stabilitas psikologis, sehingga sangat rentan terhadap tekanan yang berasal dari konsumsi media digital (Grant &amp; Potenza, 2009).</p>



<p>Dengan demikian, tujuan penelitian ini akan menganalisis lebih lanjut hubungan antara pola konsumsi SFV, dampak negatif terhadap <em>well-being</em>, dan upaya detoksifikasi terhadap pengalaman subjektif sebagai strategi untuk mengatasi tantangan kesejahteraan di kalangan mahasiswa.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Self Regulation Theory</strong></h4>



<p>Pilihan untuk melakukan detoksifikasi SFV dan strategi yang diterapkan ketika melakukan detoks dapat dikaji melalui Self Regulation Theory. Bandura (1991) menyatakan bahwa teori ini merujuk pada proses individu mengaktifkan dan mempertahankan pola pikir, perilaku, serta emosi untuk mencapai tujuan pribadi. <em>Self regulation</em> terbagi menjadi tiga tahap, yaitu <em>monitoring</em>, <em>evaluation</em>, dan<em> reaction</em>.&nbsp;</p>



<p>Dalam konteks detoksifikasi SFV, individu umumnya mengalami ketiga tahapan dalam mengambil keputusan. Pada tahap <em>monitoring</em>,<em> </em>individu menyadari bahwa konsumsi SFV berlebihan telah berpengaruh kepada kesejahteraan mental dan produktivitas. Pada tahapan <em>evaluation</em>, individu menilai bahwa konsumsi SFV bertentangan dengan nilai pribadi, seperti keseimbangan digital dan fokus. Berdasarkan evaluasi ini, individu kemudian mengambil tindakan detoksifikasi SFV dan menerapkan strategi sesuai kebutuhan masing-masing (<em>self-reaction</em>).</p>



<p>Tindakan ini didukung oleh <em>self efficacy</em>, yakni keyakinan individu untuk menyesuaikan diri dengan perilaku baru. Ketika berhadapan dengan situasi baru, individu akan menemukan cara dalam mengatasi situasi tersebut. Di penelitian terdahulu, Keller <em>et al</em>. (2021) menunjukkan bahwa <em>self efficacy </em>menjadi mekanisme penting dalam mengurangi penggunaan <em>smartphone</em> bermasalah.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="171" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1024x171.jpg" alt="" class="wp-image-3784" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1024x171.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-300x50.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-768x128.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-1536x256.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Teori-framework-2048x341.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.1 Theoritical Framework</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Metodologi Penelitian</strong></h3>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sudut pandang fenomenologi untuk menggali secara mendalam pengalaman mahasiswa dalam menjalani detoksifikasi konten SFV dari tiga pilihan platform, yaitu Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts. Fokus utama penelitian ini adalah memahami perubahan psikologis, kognitif, dan perilaku yang dialami mahasiswa selama menjalani detoks.</p>



<p>Partisipan dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>, yaitu pemilihan secara sengaja berdasarkan relevansi dengan fokus penelitian. Dalam hal ini, peneliti memilih mahasiswa angkatan 2021-2023 yang aktif menggunakan dan mengonsumsi SFV minimal dua platform, serta bersedia menjalani proses detoks selama lima hari. Ketentuan detoks meliputi pengurangan durasi tontonan SFV maksimal 30 menit per hari, penggunaan aplikasi pemantau <em>screen time</em> (Stay Free), dan komitmen untuk mencatat perubahan selama detoks berlangsung. Kriteria ini dirancang agar partisipan benar-benar mengalami dinamika digital yang menjadi inti penelitian.</p>



<p>Untuk menjamin kedalaman dan validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan tiga pendekatan. Pertama, triangulasi metode, yaitu penggabungan tiga teknik pengumpulan data: refleksi diari, observasi digital, dan wawancara mendalam. Selama lima hari masa detoks, partisipan diminta menulis refleksi harian yang merekam perasaan, hambatan, dan strategi pengendalian diri. Pertanyaan utama dalam diari adalah: <em>“Bagaimana perasaan dan tantangan yang Anda hadapi hari ini terkait upaya mengurangi konsumsi SFV? Jelaskan perubahan emosional, hambatan yang terjadi, atau strategi yang digunakan.”</em> Selain itu, peneliti melakukan observasi terhadap perilaku digital dan aspek <em>well-being</em> partisipan sebelum dan selama masa detoks. Observasi ini berguna untuk menangkap perubahan non-verbal atau perilaku tidak sadar yang mungkin tidak terekam dalam narasi peserta. Setelah detoks selesai, wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pemaknaan subjektif partisipan terhadap pengalaman mereka, mencakup tema-tema seperti perasaan selama detoks, dinamika pengendalian diri, perubahan dalam relasi sosial, dan dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis. Kedua, triangulasi data, dengan membandingkan dan mengontraskan hasil dari berbagai sumber data seperti transkrip wawancara, catatan lapangan hasil observasi, dan diari reflektif partisipan. Pendekatan ini memastikan bahwa interpretasi temuan tidak bersifat parsial atau bias dari satu jenis data saja. Ketiga, triangulasi peneliti, dilakukan dengan cara memverifikasi dan mereview data oleh minimal tiga peneliti untuk menjamin objektivitas dan konsistensi dalam proses analisis. Setiap peneliti melakukan pembacaan silang terhadap transkrip dan kode tematik, serta berdiskusi dalam forum analisis untuk mencapai kesepakatan makna.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1001" height="499" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart.jpg" alt="" class="wp-image-3790" style="width:493px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart.jpg 1001w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-300x150.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-768x383.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/wordart-600x300.jpg 600w" sizes="auto, (max-width: 1001px) 100vw, 1001px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.2 Visualisasi WordArt</figcaption></figure>
</div>


<p>Untuk mendukung proses analisis data secara sistematis, tim peneliti menggunakan Taguette, sebuah perangkat lunak bantu kualitatif berbasis digital yang memfasilitasi proses <em>open coding</em>, kategorisasi, dan penemuan tema-tema kunci. Selain itu, <em>word cloud</em> digunakan sebagai alat visualisasi untuk mengidentifikasi kata-kata yang paling sering muncul dalam narasi partisipan, yang memberikan gambaran awal mengenai fokus emosi, tantangan, atau strategi yang dominan selama masa detoks. Visualisasi ini tidak hanya membantu dalam menginterpretasikan pola tematik secara eksploratif, tetapi juga berperan dalam validasi awal sebelum dilakukan analisis mendalam berbasis tematik.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Lebih Fokus dan Produktivitas Meningkat</strong>&nbsp;</h4>



<p>Bagi mayoritas informan, detoksifikasi SFV memberikan dampak signifikan kepada produktivitas mereka. Dampak tersebut meliputi kemampuan menyelesaikan tugas secara cepat tanpa adanya distraksi media sosial, pola tidur yang lebih teratur, dan peningkatan melakukan aktivitas fisik.&nbsp;</p>



<p>Salah satu informan, Sep (Laki-laki, 23 tahun, Jurusan Sosiologi), menggambarkan bagaimana detoksifikasi membantunya lebih fokus dalam mengerjakan tugas:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Untuk menyelesaikan pekerjaan gua dan itu jadi lebih terarah dan terfokus gitu.” (Wawancara, 29 April 2025)&nbsp;</p>
</blockquote>



<p>Hal senada diungkapkan oleh Qon (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi), yang merasakan manfaat pada pola tidurnya sehingga tidak mengantuk di kelas:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Jam tidur jadi lebih teratur. Jadi di kelas juga gak ngantuk.” (Wawancara, 29 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu, Ami (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi), melalui refleksi diarinya, mengungkapkan bahwa detoksifikasi mendorongnya untuk menggunakan media sosial secara lebih bijak dan meningkatkan aktivitas fisiknya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Detoks membuat saya membuka media sosial seperlunya dan lebih banyak melakukan aktivitas fisik, seperti bersepeda dan bersih-bersih kamar.” (Refleksi Diari, 22 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Perubahan perilaku Ami (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) ini juga terkonfirmasi melalui observasi digital yang dilakukan oleh peneliti. Selama periode detoks media sosial, Ami menunjukkan kebiasaan baru berupa aktivitas fisik, yaitu bersepeda. Hal ini terlihat dari unggahan konten video informatif di akun Instagram miliknya yang mendokumentasikan kegiatannya melakukan tantangan bersepeda ke kampus selama 10 hari.</p>



<p>Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan detoks media sosial dapat meningkatkan kualitas well-being, memperkuat koneksi sosial, menurunkan FOMO, dan meningkatkan produktivitas (El-Khoury dkk., 2021).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Scroll yang Berujung Tekanan Mental</strong></h4>



<p>Sebelum menjalani detoksifikasi, banyak informan mengaku mengalami tekanan mental akibat mengonsumsi SFV. Kondisi seperti <em>overthinking</em>, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, hingga rasa tidak berharga kerap muncul saat mereka menyaksikan pencapaian dan kehidupan orang lain di media sosial.</p>



<p>Aud (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menggambarkan bagaimana konsumsi SFV memicu FOMO dan rasa iri terhadap pencapaian teman-temannya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Kalau aku malah sekarang lebih ke FOMO dan akhirnya jatuhnya iri. Karena di media sosial aku bisa ngeliat temen-temen aku tuh banyak banget yang lomba. Jadi yang kayak.. Kok gue nggak bisa ya?” (Wawancara, 28 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Hal ini selaras dengan dampak buruk internet bahwa efeknya secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan (Glaser dkk., 2018).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Gelisah, Tertekan, dan Cemas</strong></h4>



<p>Detoksifikasi SFV memiliki pengaruh negatif kepada sisi emosional informan. Empat dari sepuluh informan merasa gelisah, cemas, atau bingung ketika awal melakukan detoks. Hal ini tergambar dari berbagai tanggapan informan berikut: </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXda1X1qEyuPgkZueigTL6f3H7-hHGYJQ9QCHTlDqNnvsO_0Pxn_sO1w3Ye8wTfVxB9Fqnpzl3e1boXRXqr0JzK2w45WdjCXEjnNI600CrfK3lDQ8uyB5xwEVGgSAon19a-hayvkmQ?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:316px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.3 Kutipan Wawancara &amp; Refleksi Diari</figcaption></figure>
</div>


<p><br></p>



<p>Temuan ini sejalan dengan studi Stieger &amp; Lewetz (2018) yang menyatakan bahwa detoks media sosial dapat menimbulkan <em>craving</em>, kecemasan, bahkan rasa kesepian.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Strategi Detoks Ala Mahasiswa: Dari Merajin hingga Menulis Puisi</strong></h4>



<p>Dalam menjalankan detoksifikasi, masing-masing informan mengembangkan strategi yang sangat personal dan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Berbagai aktivitas pengganti dilakukan, mulai dari olahraga, masak, membuat <em>beads</em>, menulis puisi, hingga bermain dengan saudara.</p>



<p>Qon (Perempuan, 19 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menjelaskan strateginya dengan mengganti kebiasaan <em>scroll </em>SFV dengan aktivitas yang lebih menenangkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas lain yang lebih tenang, seperti menulis diari atau puisi dan membaca buku.” (Wawancara, 29 April 2025)</p>
</blockquote>



<p>Senada dengan itu, Pin (Perempuan, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) berbagi pengalamannya dalam mengisi waktu luang selama detoks:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Aku kemarin sempat buat beads karena gak ada kegiatan untuk media sosial.” (Wawancara, 30 April 2025)</p>
</blockquote>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%"></div>
</div>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdAHvPhOGJlG13Cejrlqj2DGjRYIOg4cBvMtVYDaVF9m5hXTgujFNx8aRuvDnviGbQLptpPanjFvVLVGeeu3Bqggou9hfUJB61DYm60h9qgOrJ6abAGW_pRtCoyK1GblCmcZpez?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:276px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.4 Strategi Detoks Menulis Puisi</figcaption></figure>
</div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcgwzV5oFsew3eDbAVU2_wHwdtCMVuN3Rcqyy5yhn-bts7XqWk83EhdP25XpIt7z5DEKsEb_gxVIphLWlAMIK-oXwIGvH11gbMCAn7qHSVU9-wyb9xjyA1kLn8lWxgrQBhXv6H5?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:274px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.5 Strategi Detoks Membuat Kerajinan</figcaption></figure>
</div>


<p>Temuan ini memperkuat Teori Self Regulation, tepatnya dalam tahapan <em>self-reaction</em> bahwa mahasiswa mampu menciptakan cara mereka sendiri untuk melawan kebiasaan <em>scroll</em> SFV yang berlebihan. Akan tetapi, hal ini berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang melihat bahwa detoks media sosial dapat menimbulkan <em>kebosanan </em>(Stieger &amp; Lewetz, 2018).</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Pengalihan Fokus ke Platform Lain</strong></h4>



<p>Alih-alih menjadi lebih produktif, sejumlah informan justru mengalihkan fokus ke platform lain selama menjalani detoksifikasi. Strategi detoks yang dilakukan cenderung berdampak negatif dan mengganggu manajemen waktu selama periode detoks. Beberapa informan mengaku ketagihan memainkan permainan atau membuka Twitter hingga berjam-jam.</p>



<p>Tho (Laki-laki, 22 tahun, Jurusan Manajemen Pendidikan) mengungkapkan bahwa ia justru menjadi ketagihan memainkan permainan hingga larut malam:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Saya malah jadi ketagihan main game sampai larut malam.” (Wawancara, 2 Mei 2025)</p>
</blockquote>



<p>Senada dengan itu, Ath (Laki-laki, 20 tahun, Jurusan Ilmu Komunikasi) menceritakan bagaimana pengalihan ke Twitter justru menimbulkan stres baginya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Gue kayak ngerasa kok jadi banyak buka Twitter ya terus malah bikin gue stres.” (Wawancara, 25 April 2025)</p>
</blockquote>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdkotmiX7XtS61G4sMh2ZRI-HJRW6qlD3lFwdz0ISonhqoKRA_Qll86Bp6HFyYQATveFTJSM2l-TEm1uzOEW5_V7998Jf0XOoM0S8MYw6StezWXxtd8gC3qQBudEE6BT65UqSx1WQ?key=Ht3hZYcq4CBvj4cIu-yEMN6L" alt="" style="width:529px;height:auto" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar.6 Screenshot StayFree (Aplikasi Limit Screentime)</figcaption></figure>
</div>


<p>Disamping itu berdasarkan hasil observasi digital yang dilakukan terhadap informan Tho, 22 tahun. Terlihat pada cuplikan layar <em>screen time </em>ketika melakukan detoksifikasi ia mengalihkan fokus ke platform lain yaitu game <em>The Walking Zombie 2</em> yang ia mainkan selama 7 jam 22 menit pada hari kedua proses detoksifikasi.</p>



<p>Strategi ini merupakan reaksi negatif dari <em>self regulation </em>individu dalam menghadapi kebiasaan baru, yakni detoksifikasi SFV.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Detoks SFV?</strong></h4>



<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa detoksifikasi SFV bukan hanya upaya mengurangi <em>screen</em> <em>time</em>, tetapi proses reflektif yang membawa mahasiswa pada pemahaman baru soal hubungan mereka dengan teknologi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h3>



<p>Penelitian ini menyimpulkan bahwa detoksifikasi <em>short form video</em> (SFV) membawa dampak yang kompleks bagi <em>well-being</em> mahasiswa, mulai dari peningkatan fokus dan produktivitas hingga munculnya kecemasan dan kompensasi digital di platform lain. Temuan ini memperkuat relevansi teori Self Regulation dan memperkaya literatur tentang keseimbangan digital di kalangan dewasa muda. Implikasi akademiknya menunjukkan perlunya studi lanjutan yang lebih mendalam terhadap faktor psikologis dan sosial dalam keberhasilan detoks. Secara praktis, hasil ini mendorong perguruan tinggi untuk merancang program detoks yang tidak hanya membatasi <em>screen time</em>, tapi juga menyediakan dukungan emosional, serta mendorong pengembang platform digital untuk menghadirkan fitur pengingat yang ramah mental dan mendukung <em>well-being </em>pengguna.</p>



<h4 class="wp-block-heading">Infografis kelompok</h4>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-3841" style="width:155px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1024x1024.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-768x768.jpg 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis-1536x1536.jpg 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/qr-infografis.jpg 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Daftar Pustaka</h3>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="697" height="706" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1.jpeg" alt="" class="wp-image-3792" style="width:165px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1.jpeg 697w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Image-05-06-25-at-12.24-1-296x300.jpeg 296w" sizes="auto, (max-width: 697px) 100vw, 697px" /></figure>



<p></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/apakah-detoks-sfv-berdampak-negatif-bagi-well-being-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Capek Scroll, Kerja, dan Kuliah: Di Mana Letak Produktivitas Mahasiswa?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Armania Rachmadhani Rizki Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 05:05:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3774</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kamu merasa waktumu habis begitu saja antara kelas, pekerjaan, dan scroll media sosial? Kamu tidak sendiri. Banyak mahasiswa saat ini menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja, sembari terus terhubung ke dunia digital. Akan tetapi, apakah media sosial membantu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="483" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-483x1024.png" alt="" class="wp-image-3785" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-483x1024.png 483w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-141x300.png 141w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-768x1629.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6-724x1536.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-6.png 943w" sizes="auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px" /></figure>
</div>


<p>Pernahkah kamu merasa waktumu habis begitu saja antara kelas, pekerjaan, dan <em>scroll </em>media sosial? Kamu tidak sendiri. Banyak mahasiswa saat ini menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja, sembari terus terhubung ke dunia digital. Akan tetapi, apakah media sosial membantu mereka jadi lebih produktif, atau justru semakin stres?</p>



<p>Di era digital ini, media sosial sudah menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Dimulai dari mencari informasi tugas, promosi bisnis kecil-kecilan, sampai membangun jaringan kerja, semuanya bisa dilakukan lewat layar ponsel. Data menunjukkan bahwa pada awal 2025, ada lebih dari 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan 143 juta di antaranya aktif menggunakan media sosial (Kemp, 2025). Jumlah yang menakjubkan ini menunjukkan betapa besarnya peran media sosial dalam keseharian kita. Sementara itu, bekerja sambil kuliah juga makin umum. Menurut data Badan Pusat Statistik, hampir 7% pelajar usia 10–24 tahun di Indonesia menjalani dua peran ini sekaligus (Databoks, 2021). Bahkan, lebih dari 25% mahasiswa di Yogyakarta saja sudah bekerja sambil kuliah. Banyak dari mereka yang berwirausaha atau magang (Zulfikar, n.d.).</p>



<p>Kemudahan akses teknologi ini seperti pisau bermata dua. Media sosial memang bisa membantu produktivitas, misalnya untuk mencari informasi cepat, diskusi tugas, atau membangun jaringan kerja. Tapi, di sisi lain, penggunaannya yang berlebihan bisa menyebabkan gangguan seperti stres, susah fokus, hingga <strong><em>Fear of Missing Out</em> (FoMO)</strong> dan kecanduan media sosial.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Teori dan Konsep</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXePeNk9jt1A-BWD8LgSDUyrRI-Fz5lD3GMnbccGGDxwS9-qC18m3MfPjREZSXkjxJyHWxSFzhSBblDUA326W_q3V2HDI4WCHoTIuGNG0-j1UbS5upiQYjfy4oZPGD7FVTsaeskhyg?key=X79UXu1nepCLYfezX_YxC77y" alt=""/></figure>



<p>Kerangka teoritis dalam penelitian ini dibentuk dari tiga teori utama dan satu teori pendukung yang saling melengkapi untuk menjelaskan hubungan antara <strong>media sosial dan produktivitas mahasiswa yang kuliah sambil bekerja</strong>.</p>



<p>Pertama, <strong>Uses and Gratification Theory (UGT)</strong> dipakai sebagai fondasi untuk memahami <em>mengapa</em> mahasiswa menggunakan media sosial. Dalam konteks ini, media sosial bukan sekadar hiburan, tapi jadi alat untuk memenuhi kebutuhan informasi, komunikasi, dan profesional. Ini menjelaskan sisi positif dan fungsional media sosial bagi mahasiswa pekerja.</p>



<p>Namun, UGT tidak cukup untuk menjelaskan sisi gelapnya. Karena itu, <strong>Digital Distraction Theory (DDT)</strong> masuk sebagai <strong>penyeimbang</strong>. DDT membantu memahami bagaimana media sosial bisa jadi sumber gangguan: bikin terdistraksi, susah fokus, bahkan lelah mental. Jadi, kalau UGT menjelaskan &#8220;kenapa digunakan&#8221;, DDT menjawab &#8220;apa risikonya&#8221;.</p>



<p>Lalu, di tengah tarik menarik antara manfaat dan distraksi, <strong>Moral Responsibility Theory (MRT)</strong> menjelaskan <strong>peran aktif mahasiswa</strong> dalam mengatur diri sendiri. Teori ini menekankan bahwa mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk mengendalikan penggunaan media sosial mereka, bukan hanya mengikuti arus digital secara pasif.</p>



<p>Terakhir, semua dinamika ini diikat oleh <strong>Model of Media Multitasking (MMM)</strong>, yang menjelaskan bahwa mahasiswa sering berpindah antara dua mode:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Eksploitasi</strong> (penggunaan media sosial yang produktif)<br></li>



<li><strong>Eksplorasi</strong> (penggunaan impulsif tanpa arah)<br></li>
</ul>



<p>Model ini memberi kerangka untuk membaca pola-pola perilaku mahasiswa dalam realitasnya: terkadang mereka fokus, kadang juga terdistraksi, dan itu berubah-ubah tergantung konteks dan strategi pribadi.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Bagaimana Penelitiannya Dilakukan?</strong></h3>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif. Artinya, peneliti tidak sekadar mencari angka atau data statistik, tetapi lebih tertarik memahami makna di balik pengalaman mahasiswa FISIP UI yang menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menggali bagaimana media sosial berperan, sebagai pendukung atau justru penghambat dalam produktivitas mereka.</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan penelitian, data dikumpulkan melalui tiga metode utama. Pertama, wawancara mendalam dilakukan untuk mengeksplorasi pandangan, kebiasaan, serta strategi para mahasiswa dalam menggunakan media sosial. Dari sini, peneliti mendapatkan gambaran yang kaya tentang bagaimana media sosial digunakan, baik untuk keperluan akademik maupun pekerjaan. Lalu wawancara kedua dilaksanakan secara online untuk menggali perspektif para narasumber mengenai dampak media sosial untuk kesehatan mental.&nbsp;</p>



<p>Kedua, dilakukan observasi langsung di lingkungan kampus untuk melihat bagaimana mahasiswa membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan bermain media sosial dalam kehidupan nyata. Ketiga, peneliti juga melakukan observasi digital terhadap aktivitas para informan di media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok. Observasi ini membantu memperkuat atau membandingkan data dari wawancara, sekaligus memberi konteks yang lebih utuh tentang pola penggunaan media sosial.</p>



<p>Untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar dapat dipercaya dan tidak bias, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah cara memverifikasi kebenaran data dengan membandingkan informasi dari berbagai metode dan sumber. Dalam hal ini, informasi dari wawancara dicocokkan dengan transkrip wawancara, catatan observasi langsung, serta dokumentasi digital, termasuk foto tangkapan layar dari unggahan media sosial informan dan dokumentasi saat proses wawancara berlangsung. Triangulasi ini membantu memperkuat temuan, menghindari bias, dan memastikan bahwa interpretasi peneliti benar-benar mencerminkan kenyataan yang dialami narasumber. Hasil dari wawancara sudah diverifikasi oleh tiga peneliti dengan temuan observasi lapangan dan aktivitas digital informan. Ketika data dari ketiga metode ini menunjukkan pola yang konsisten, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa temuan tersebut akurat. Sebaliknya, jika ada perbedaan, maka hal itu justru membuka ruang refleksi dan interpretasi yang lebih dalam.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Banyak Sosok, Satu Realita</strong></p>



<p>Dalam penelitian ini, kami tidak hanya mencari narasumber sembarangan. Kami memilih sekelompok mahasiswa FISIP UI yang menjalani peran ganda: sebagai pelajar dan pekerja di tengah derasnya arus digital. Mereka adalah representasi nyata dari generasi <em>multitasking</em> yang harus membagi fokus antara kelas Zoom, kerjaan deadline, dan notifikasi media sosial yang tak pernah berhenti. Meski berasal dari berbagai program studi, mulai dari Ilmu Komunikasi hingga Kriminologi, para narasumber ini punya satu kesamaan utama: mereka semua adalah mahasiswa yang kuliah sambil bekerja dan aktif menggunakan media sosial. Ada yang magang di agensi public relations, menjadi presenter, menangani sosial media untuk festival musik, hingga menjalani usaha sendiri sebagai makeup artist dan event organizer. Beberapa dari mereka bekerja dengan jadwal tetap seperti WFO atau <em>hybrid,</em> sementara lainnya mengambil pekerjaan lepas yang waktunya dinamis dan kadang tak terduga. </p>



<p>Para narasumber ini dipilih secara selektif menggunakan metode <em>purposive random sampling</em>. Artinya, mereka dipilih karena memiliki kriteria pengalaman yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu aktif kuliah sambil bekerja, serta intens menggunakan media sosial. Selain itu, mereka juga terbuka untuk berbagi cerita dan refleksi secara mendalam. Mereka bukan hanya informan, tetapi juga <em>storyteller</em> yang membawa kita memahami lebih jauh bagaimana generasi mahasiswa hari ini mengelola waktu, tekanan, dan distraksi digital dalam keseharian mereka.</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Ritme Hidup dalam Gambar</strong></p>



<p>Gambar pertama di sebelah kiri merupakan hasil dokumentasi observasi kami terhadap salah satu narasumber di lingkungan kampus, yang diambil dari unggahan Instagram Story miliknya. Gambar di tengah memperlihatkan momen wawancara bersama narasumber lain, sementara gambar ketiga menggambarkan hasil observasi digital terhadap gaya hidup narasumber lain di tengah kesibukannya bekerja, yang juga dibagikan melalui Instagram Story.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="997" height="552" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26.png" alt="" class="wp-image-3776" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26.png 997w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26-300x166.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Screenshot-2025-06-05-at-11.21.26-768x425.png 768w" sizes="auto, (max-width: 997px) 100vw, 997px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Media Sosial: Kawan Sekaligus Lawan Produktivitas?</strong></h2>



<p>Jawabannya: media sosial bisa menjadi penyelamat sekaligus jebakan. Tetapi yang menentukan, bukan teknologinya, melainkan penggunanya.</p>



<p>Penelitian kami menemukan bahwa mahasiswa yang memegang dua peran sekaligus (kuliah dan bekerja) tidak hanya rentan terhadap distraksi digital, tetapi juga menunjukkan upaya aktif dalam mengelola penggunaan media sosial secara sadar dan strategis. Mereka bukan sekadar korban notifikasi, tetapi juga aktor yang sadar tujuan.</p>



<p>Hal ini sejalan dengan <em>Uses and Gratification Theory </em>(UGT), yang menjelaskan bahwa individu menggunakan media sosial secara aktif untuk memenuhi kebutuhannya—baik akademik, profesional, hingga relasi (Rubin, 2002). Kami menemukan bahwa sebagian mahasiswa menggunakan media sosial untuk mencari informasi magang, membangun personal branding, hingga mengakses materi kuliah dari komunitas digital.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Kerja di marketing agency bikin aku harus scroll TikTok setiap hari.”<br>— <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Namun, sejalan dengan <em>Digital Distraction Theory</em> (DDT), media sosial juga terbukti bisa mengganggu fokus kerja dan belajar. Mahasiswa mengaku bahwa tanpa kontrol diri, mereka bisa terjebak scrolling tanpa henti, yang menyebabkan kelelahan kognitif, gangguan tidur, dan penurunan kualitas pekerjaan.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Gampang banget capek padahal gak ngapa-ngapain, cuma scroll medsos doang.”<br>— <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Penggunaan media sosial oleh mahasiswa pekerja tidak selalu berjalan lurus. Ada saat di mana mereka menggunakannya untuk tujuan spesifik seperti mencari referensi tugas atau pekerjaan. Namun, dalam hitungan detik, mereka bisa saja terdistraksi oleh konten yang tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang sedang mereka kerjakan.</p>



<p>Fenomena ini sangat relevan dengan <em>Model of Media Multitasking</em> (MMM) (Wiradhany, 2021), yang menjelaskan bahwa individu terus-menerus berpindah antara dua mode penggunaan media: eksploitasi (penggunaan terarah, produktif) dan eksplorasi (penggunaan impulsif, tanpa tujuan).</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size"><br>“Sering, kadang gue mulai dari buka sosmed buat kerjaan, tapi lama-lama jadi lihat konten yang nggak ada hubungannya sama kerjaan.”<br>— <em>Informan RAMY Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Strategi Cerdas Mahasiswa Menjinakkan Sosial Media</strong></h2>



<p>Daripada tunduk pada distraksi, para mahasiswa justru menciptakan strategi kreatif dan aplikatif agar tetap produktif. Inilah bentuk nyata dari <em>Moral Responsibility Theory</em><strong> </strong>(MRT), bahwa individu bertanggung jawab atas bagaimana ia menggunakan media, termasuk bagaimana mengendalikan diri demi menjaga produktivitas (Strawson, 1962).</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png" alt="" class="wp-image-3780" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4-300x225.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-4-768x576.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>1. Aktifkan Mode DND (</strong><strong><em>Do Not Disturb</em></strong><strong>)</strong></h3>



<p>Fitur yang terlihat sepele ini justru jadi “tameng utama” para mahasiswa agar tetap fokus, baik saat belajar maupun bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“HP gue tuh selalu DND. Supaya gak ke-distract sama notif atau chat yang gak penting.”&nbsp;                                                                                   — <em>Informan ZF, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Langkah ini menjadi refleksi kontrol diri yang konkret dalam membatasi akses media sosial secara<em> real time</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>2. Teknik Pomodoro</strong></h3>



<p>Bekerja 25 menit, istirahat 5 menit. Metode ini menjadi jurus andalan banyak informan untuk menghindari godaan scrolling berjam-jam.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Kalau lo mau coba, coba aja Pomodoro. Jujur otak gue lebih fokus kalau kayak gitu.”                                                                                          – <em>Informan CHH, Mahasiswi Ilmu Politik </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<p>Dengan membagi waktu kerja dalam interval pendek, mahasiswa dapat menyelesaikan tugas lebih efisien dan terhindar dari godaan <em>multitasking</em> digital.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>3. Batasi Waktu Media Sosial</strong></h3>



<p>Beberapa informan secara sadar mengatur waktu maksimal penggunaan TikTok atau Instagram agar tidak kebablasan.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“TikTok cuma 3 jam sehari. Lebih dari itu, gue stop.”                                                                                                                                                     – <em>Informan SA, Mahasiswi Antropologi </em>(Wawancara, 12 April 2025)</p>



<p>Langkah ini merupakan bentuk kedisiplinan digital yang bertujuan melindungi ritme produktivitas harian.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>4. </strong><strong><em>To-Do List </em></strong><strong>&amp; Skala Prioritas</strong></h3>



<p>Daftar tugas dan skala prioritas bukan hanya membantu fokus, tapi juga menyadarkan mereka kapan harus berhenti dari dunia digital.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">                                                   “Gue baca lagi catatan prioritas gue biar sadar harusnya gak buka TikTok terus.”                                                                                                 &nbsp;– <em>Informan BW, Mahasiswa Sosiologi </em>(Wawancara, 28 April 2025)</p>



<p><em>To-do list</em> menjadi alat sederhana namun efektif untuk memperkuat kontrol diri.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>5. Jadwal Harian &amp; Agenda Digital</strong></h3>



<p>Google Calendar atau agenda manual digunakan untuk menetapkan jam khusus buka media sosial, tanpa mengganggu agenda utama.&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Gue set waktu buat buka media sosial, malam hari aja setelah semua kegiatan kelar.”&nbsp;                                                                                         – <em>Informan AKD, Mahasiswa Ilmu Politik</em></p>



<p>Pengelolaan waktu ini menunjukkan pendekatan strategis dalam menyeimbangkan produktivitas dan relaksasi digital.</p>



<h3 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong>6. Pisahkan Diri dari Smartphone</strong></h3>



<p>Beberapa memilih langkah ekstrem tapi efektif: mengunci atau menyembunyikan HP.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">                                                                     “Kadang gue tutup HP pakai bantal aja biar gak kepegang.”                                                                                                                                      &nbsp;– <em>Informan YS, Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 16 April 2025)</p>



<p>Hasil observasi lapangan (FISIP UI, 16 April) juga menunjukkan bahwa Informan YS konsisten tidak menggunakan HP-nya selama kuliah dan justru fokus penuh pada diskusi kelas.</p>



<p>Yang menarik, topik seperti <em>self-control</em>, <em>media sosial positif</em>, dan <em>mental health</em> lebih sering disuarakan oleh mahasiswa perempuan, menunjukkan adanya kesadaran emosional yang lebih ekspresif. Sebaliknya, mahasiswa laki-laki<strong> </strong>cenderung menekankan isu seperti <em>manajemen waktu</em> dan <em>konsumsi jenis konten</em>, mengindikasikan pendekatan yang lebih sistematis terhadap produktivitas digital.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-large-font-size"><strong>Tantangan Mental Health</strong></h2>



<p>Menjalani dua peran secara bersamaan tentu penuh tantangan. Studi dari UIC School of Health Sciences (2019) menyebutkan bahwa mahasiswa pekerja rentan stres, kelelahan, dan penurunan performa akademik. Temuan kami mendukung hal ini, terutama dalam isu tekanan mental dan manajemen emosi.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Konten media sosial juga bisa trigger insecurity.”<br>— <em>Informan KA</em><em> </em><em>Mahasiswi Ilmu Komunikasi </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<p>Penggunaan media sosial secara intensif, terutama dalam rutinitas padat, ternyata bukan tanpa risiko. Beberapa informan menyebut mengalami <em>burn out</em> digital, yaitu kelelahan akibat terlalu lama berada dalam ekosistem media sosial.</p>



<p class="has-text-align-center has-small-font-size">“Main sosial media tuh capek, jadi gue tidur. Karena pasti capek.”&nbsp;                                                                                                                          – &nbsp;<em>Informan CHH, </em><em>Mahasiswi Ilmu Politik</em><em> </em>(Wawancara, 17 April 2025)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-1024x1024.png" alt="" class="wp-image-3783" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-1024x1024.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-300x300.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-150x150.png 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5-768x768.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/image-5.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Gejala burnout juga muncul dalam bentuk gangguan pola tidur, kebiasaan bolak-balik aplikasi, dan menurunnya motivasi, seperti yang disampaikan oleh informan BW dan RAMY. Kondisi ini memperlihatkan sisi gelap dari multitasking digital, di mana kelelahan tetap bisa muncul meski mahasiswa merasa &#8220;tidak melakukan apa-apa.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="has-large-font-size"><strong>Kesimpulan&nbsp;</strong></p>



<p>Berdasarkan penelitian ini, media sosial memiliki peran ganda dalam kehidupan mahasiswa yang menjalani peran sebagai pelajar sekaligus pekerja. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi alat yang membantu dalam mencari informasi, membangun jaringan, dan mendukung produktivitas melalui strategi pengelolaan waktu dan kontrol diri seperti penggunaan <em>to-do list</em>, penjadwalan, serta memisahkan diri dari smartphone saat fokus. Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai risiko seperti gangguan pola tidur, kelelahan digital (<em>burnout</em>), stres, kecemasan, serta fenomena FOMO yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa.&nbsp;</p>



<p>Penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan manajemen digital dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial agar tetap dapat memanfaatkan manfaatnya secara maksimal sekaligus meminimalisasi dampak negatifnya. Pendekatan strategis seperti mengatur waktu penggunaan, membatasi akses, serta disiplin digital menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas dan relaksasi di era digital ini. Berikut implikasi dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya:</p>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Implikasi:</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Teori Uses and Gratification, Digital Distraction, dan Moral Responsibility efektif menjelaskan perilaku digital mahasiswa, dengan Model Media Multitasking membantu pahami pergeseran antara penggunaan produktif dan impulsif. Mahasiswa pekerja perlu keterampilan manajemen digital untuk mengatur penggunaan media sosial agar tetap produktif, memanfaatkan media sosial secara strategis, serta mengelola waktu dan kesadaran emosional yang seimbang untuk menghindari digital overload dan FOMO.</li>
</ul>



<p class="has-medium-font-size"><strong>Rekomendasi:</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mahasiswa, kampus, dan perusahaan perlu bekerjasama mengatur penggunaan media sosial dan membangun budaya kerja yang sehat secara digital. Penelitian selanjutnya disarankan memakai metode campuran untuk memahami kontrol diri, emosi, dan identitas digital secara lebih mendalam.</li>
</ul>



<p class="has-large-font-size"><strong>REFERENSI</strong></p>



<p>Abenoja, R., Accion, N., Aguilar, J., Alcasid, M., Amoguis, A., Buraquit, D., &#8230; &amp; Pame, J. (2019). The experiences of working while studying: A phenomenological study of senior high school students. <em>University of Immaculate Conception</em>.</p>



<p>Databoks.katadata.co.id. (2021). <em>Sebanyak 6,98% Pelajar di Indonesia sekolah sambil Kerja: Databoks</em>. Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/ketenagakerjaan/statistik/9b4fdfb71fe22df/sebanyak-698-pelajar-di-indonesia-sekolah-sambil-kerja?</p>



<p>Gunawan, W., Arisanty, M., &amp; Budiman, R. (2023). <em>Preferensi dan perilaku pemanfaatan media mahasiswa perguruan tinggi jarak jauh</em>. <em>BRICOLAGE: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi</em>, 21(2).</p>



<p>Kemp, S. (2025, Feb. 25). <em>Digital 2025: Indonesia – DataReportal – Global Digital Insights</em>.<br><a href="https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia">https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia</a></p>



<p>McCoy, B. R. (2016). <em>Digital distractions in the classroom phase II: Student classroom use of digital devices for non-class related purposes</em>. <em>Journal of Media Education</em>, 7(1), 5–32.</p>



<p>Mukhayer, R., &amp; Bennett-Gillison, F. (2021). <em>The implications of social media use by employees on organizational reputation and productivity</em>.<a href="https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e23326">https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e23326</a>&nbsp;</p>



<p>Rubin, A. M. (2002). <em>The uses-and-gratifications perspective of media effects</em>. In J. Bryant &amp; D. Zillmann (Eds.), <em>Media Effects: Advances in Theory and Research</em> (pp. 525–548). Lawrence Erlbaum Associates.</p>



<p>Strawson, P. F. (1962). <em>Freedom and resentment</em>. <em>Proceedings of the British Academy</em>, 48, 1–25.Zulfikar, F. (n.d.). <em>Mahasiswa Jogja Banyak Yang Kuliah Sambil Kerja: 43 persen Jadi Wirausahawan</em>. Detikedu. <a href="https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-7488439/mahasiswa-jogja-banyak-yang-kuliah-sambil-kerja-43-persen-jadi-wirausahawan">https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-7488439/mahasiswa-jogja-banyak-yang-kuliah-sambil-kerja-43-persen-jadi-wirausahawan</a></p>



<p></p>



<p></p>


<div class="has-text-align-center wp-block-post-author"><div class="wp-block-post-author__avatar"><img alt='' src='https://secure.gravatar.com/avatar/06e7d91c4772542c7e4fc608f98e156751d392e6fd3c0e9ade07ec4fa91f251d?s=48&#038;d=mm&#038;r=g' srcset='https://secure.gravatar.com/avatar/06e7d91c4772542c7e4fc608f98e156751d392e6fd3c0e9ade07ec4fa91f251d?s=96&#038;d=mm&#038;r=g 2x' class='avatar avatar-48 photo' height='48' width='48' /></div><div class="wp-block-post-author__content"><p class="wp-block-post-author__name">Armania Rachmadhani Rizki Putri</p></div></div>


<h6 class="wp-block-heading"><strong>Kelompok 5 MPK Kualitatif Kelas D (Armania Rachmadhani Rizki Putri, Alayya Btari Setyaputri, Adrian Isnadi Kamaruddin, Tsabitah Zhurifa Syakhshiyah, &amp; Nina Naifahani)</strong></h6>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/05/capek-scroll-capek-kerja-capek-kuliah-di-mana-letak-produktivitas-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Homeless media bisa menggantikan media Konvensional</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhamad Ichsan Febrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 04:13:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[News media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3705</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA — Perkembangan teknologi telah mengubah cara audiens mengonsumsi berita. Dulu, informasi didapatkan melalui koran, radio, atau televisi. Sekarang, dengan dominasi media sosial, audiens dapat dengan mudah memilih dan mengakses berita langsung dari perangkat seluler mereka. Menurut laporan Katadata Insight...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>JAKARTA</strong> — Perkembangan teknologi telah mengubah cara audiens mengonsumsi berita. Dulu, informasi didapatkan melalui koran, radio, atau televisi. Sekarang, dengan dominasi media sosial, audiens dapat dengan mudah memilih dan mengakses berita langsung dari perangkat seluler mereka.</p>



<p>Menurut laporan Katadata Insight Center (KIC), pada tahun 2020-2021, sebanyak 73% masyarakat Indonesia mengonsumsi berita atau informasi melalui media sosial. Angka ini menunjukan adanya pergeseran signifikan dalam kebiasaan masyarakat untuk mengakses berita. Pergeseran lanskap media ini telah memunculkan fenomena baru dalam dunia jurnalisme, yang dikenal dengan istilah <strong><em>homeless media</em></strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa itu <em>Homeless media</em> ?&nbsp;</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="819" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1024x819.png" alt="" class="wp-image-3484" style="width:493px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1024x819.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-300x240.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-768x614.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3-1536x1229.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aesthetic-Photo-Color-Palette-Mood-Board-Photo-Collage-3.png 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><kbd>Beberapa contoh <em>Homeless Media. </em></kbd></figcaption></figure>
</div>


<p>Dilansir dari Remotivi, <em>Homeless media</em> merujuk pada outlet berita yang awalnya hanya mendistribusikan informasi melalui media sosial, dengan sebagian besar kini berbasis di Instagram. </p>



<p>Disebut &#8220;<em>homeless</em>” bukan karena tanpa arah, melainkan karena media ini tidak memiliki &#8220;rumah&#8221; dalam bentuk fisik seperti kantor redaksi atau domain website.&nbsp;Biasanya juga homeless media dijalankan secara informal, dengan tim kecil dan sumber daya terbatas.</p>



<p>Di antara <em>homeless media</em> sendiri, terdapat perbedaan signifikan: sebagian tetap berpegang pada nilai-nilai jurnalistik seperti verifikasi dan keberimbangan, sementara sebagian lainnya lebih longgar dan cenderung mengutamakan opini atau aktivisme tanpa standar editorial yang ketat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Jika kita bicara praktik jurnalisme dalam homeless media, saya pikir kembali<br>apakah yang di lakukan homeless media sebuah praktik jurnalisme atau tidak.<br>Kita harus kembali ke hakikat kerja jurnalistik. Misalnya, apakah disana ada<br>pencarian berita, apakah ada orang-orang disana yang mencari berita atau<br>menuliskan berita dan menyebarkan berita tersebut melalui media digital. &#8221; </p>



<p>&#8211; Reza, Opini.id</p>
</blockquote>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="537" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-1024x537.png" alt="" class="wp-image-3457" style="width:588px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-1024x537.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-300x157.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram-768x403.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/z4uVj-data-pengikut-homeless-media-di-instagram.png 1240w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p>Berdasarkan data berikut dapat dilihat bahwa homeless media memiliki potensi besar untuk mengganggu bisnis dan praktik jurnalisme konvensional. Mereka mampu menarik perhatian publik secara dengan modal yang jauh lebih kecil dibandingkan media arus utama.<br></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Membuat <em>Homeless Media</em> Menarik</h2>



<p>Dilansir dari kajian Remotivi terkait <em>Homeless media</em>, ada beberapa faktor yang membuat <em>Homeless Media</em> lebih diminati:</p>



<p><strong>1. Bersifat <em>Hyperlocal</em></strong><br><em>Homeless media</em> sering kali mengangkat isu-isu yang dekat dengan keseharian masyarakat, terutama di lingkup lokal yang kerap luput dari liputan media arus utama. </p>



<p><strong>2. Penyajian Berita yang Spesifik</strong><br>Berbeda dengan media konvensional yang menyasar spektrum isu lebih luas, <em>homeless media</em> justru unggul dalam penyampaian informasi yang lebih spesifik (contoh : berita maling di suatu daerah).</p>



<p><strong>3. Responsif dan Cepat</strong><br>Karena tak terikat pada struktur redaksi yang panjang, <em>homeless media</em> dapat merespons isu dengan lebih cepat. Namun, kecepatan ini juga disertai risiko yaitu rawannya <strong>misinformasi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tantangan <em>Homeless Media</em></h2>



<p>Mengutip dari detik.com, meski <em>homeless media</em> dapat mendorong partisipasi publik, keberadaannya juga berpotensi menghambat praktik jurnalisme yang mendalam dan komprehensif.</p>



<p><strong>Kecepatan dan Aktualitas</strong><br>Homeless media unggul dalam kecepatan penyampaian informasi karena beroperasi di platform media sosial. Sedangkan Konvensional cenderung lebih hati-hati dalam kecepatan demi akurasi. </p>



<p><strong>Kredibilitas</strong><br>Struktur redaksi yang tidak jelas serta informasi yang disajikan yang sering kali belum terverifikasi membuat homeless media rentan dipertanyakan akurasinya.</p>



<p><strong>Rentan Misinformasi</strong><br>Karena berfokus pada kecepatan, homeless media rentan menyebarkan informasi yang keliru, terutama jika data yang digunakan hanya bersumber dari konten yang sedang viral tanpa verifikasi lebih lanjut.</p>



<p><strong>Permasalahan Hukum</strong><br>Meski berperan sebagai penyebar informasi, <em>homeless media</em> bukan bagian dari Dewan Pers. Akibatnya, perlindungan hukum terhadap mereka terbatas, sehingga rawan intimidasi. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas Apakah Media Konvensional akan ditinggalkan ? </h2>



<p>Meski<em> Homeless Media</em> semakin diminati masyarakat, bukan berarti <em>Homeless Media</em> bisa menjadi pengganti penuh dan mutlak bagi media konvensional. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>Media berita (Konvensional) akan selalu dibutuhkan masyarakat &#8211; Bernadette Moureen</em></p>
</blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>Saya tetap melihat kalau media konvensional ini masih berperan penting untuk masyarakat. Khususnya, mereka yang belum melek digital atau punya akses jaringan internet yang memadai. Jangkauan informasinya tetep (memerlukan dukungan) media konvensional &#8211; Geofanny Elizabeth</em></p>
</blockquote>



<p>Dan, bagi mereka yang ingin menekuni bidang jurnalistik secara profesional, media konvensional tetap menjadi pilihan utama.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>(Aku) masih tertarik untuk bekerja di media konvensional karena menurut ku untuk membangun karir  di langkah awal (sebagai jurnalis), akan lebih baik untuk mulai di perusahaan media yg udah punya nama &#8211; Elaine Keisha</em></p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan : Potensi untuk berkembang tetapi perlu pengawasan</h2>



<p>Homeless media di Indonesia punya potensi besar untuk terus tumbuh, terutama karena cepat dan relevan bagi audiens digital. Namun, potensi ini datang dengan tantangan serius yang butuh pengawasan. Tanpa standar editorial dan verifikasi yang jelas, <em>homeless media</em> rentan untuk menyebarkan misinformasi dan hoaks. Oleh sebab itu,<em> Homeless media</em> perlu memutar otak untuk meningkatkan akurasi dan kredibilitasnya tanpa mengorbankan kecepatan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/apakah-homeless-media-bisa-menggantikan-media-konvensional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merakyat Lewat Digital: Kenapa Politisi Semakin Gencar Kampanye Melalui Sosial Media?</title>
		<link>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/</link>
					<comments>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bernadette Moureen Nathalia Indra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 02:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kang dedi mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=3439</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>JAKARTA, (05/06/2025) — Tak lagi sebatas banyak-banyakan spanduk di jalan raya ataupun pidato di televisi. Politisi kini semakin gencar mencari sorotan melalui media sosial, mulai dari konten ngobrol bareng warga ala Dedi Mulyadi hingga video ceramah versi modernnya Lawrence Wong. Apa, sih, yang membuat media sosial begitu “menggoda” bagi para politisi di berbagai belahan dunia?</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="1920" style="aspect-ratio: 1080 / 1920;" width="1080" controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4"></video><figcaption class="wp-element-caption">Video kompilasi perbedaan pendekatan konten media sosial dari tiga politisi dari Indonesia, Singapura, dan India.<br>Visual: Unsplash dan Instagram @dedimulyadi71@lawrencewongst dan @narendramodi</figcaption></figure>



<p>Lanskap politik dalam negeri baru-baru ini dihebohkan dengan aktivitas digital Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, yang dijuluki “gubernur konten”. Berkat konten-konten sosial medianya, KDM kini berhasil meraup 4.6 juta pengikut dengan rata-rata puluhan ribu <em>likes </em>pada setiap postingannya di Instagram. Konten-kontennya ini berhasil menangkap perhatian dan sorotan dari tak hanya masyarakat Jawa Barat, tetapi juga masyarakat lintas daerah.</p>



<p>Namun, fenomena politisi yang ‘social media savvy’ tidak hanya terjadi di Indonesia. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan kebijakan pemmerintah dan memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah pusat. Dengan angle kamera yang sinematik, penyuntingan video yang dinamis, serta gaya bicara yang lugas, Lawrence mencuri perhatian dan simpati masyarakat Singapura, bahkan dipuji oleh masyarakat negara tetangga.</p>



<p>India pun tidak ketinggalan dalam tren ini. Perdana Menteri Narendra Modi, dengan 95.9 juta pengikut di Instagram, memiliki kehadiran digital yang luar biasa. Melalui <em>feed</em>-nya, ia membagikan cuplikan perbincangan di <em>podcast</em>, konten ceramah, hingga aktivitas sehari-hari yang dikemas secara menarik. Setiap unggahannya mampu meraup jutaan <em>likes </em>dan memiliki <em>engagement </em>tinggi untuk seorang politisi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png" alt="" class="wp-image-3589" style="width:724px;height:auto" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-724x1024.png 724w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-212x300.png 212w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-768x1086.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1086x1536.png 1086w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism-1448x2048.png 1448w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Infografik-Online-Journalism.png 1587w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Infografik <em>insights</em> media sosial tiga politisi internasional.<br>Foto: ANTARA</figcaption></figure>
</div>


<p>KDM, Lawrence Wong, hingga Narendra Modi adalah tiga dari sekian banyaknya politisi internasional yang gencar menggunakan sosial media. <em>Well</em>, keputusan mereka ini bukan sebatas karena ingin saja, tetapi karena memang sistem politik kini sangat dipengaruhi dan disesuaikan dengan demand dari media massa selayaknya yang diungkapkan oleh Hjarvard (2008) dalam Croteau &amp; Hoynes (2019). Fenomena ini kerap disebut dengan<strong> <em>the mediatization of politics </em>atau mediatisasi politik.</strong></p>



<p>Pengaruh media terhadap dunia politik ini secara jelasnya bisa kita lihat melalui bagaimana para politisi melakukan kampanye di sosial media maupun memimpin daerahnya dengan bantuan media. Politisi yang semakin terdorong untuk jago <em>ngonten</em> dan tampil santai di depan kamera juga balik lagi, karena efek mediatisasi politik itu sendiri.</p>



<p>Aktivitas sosial media politisi tidak lepas dari campur tangan tim konten, sosial media, ataupun hubungan masyarakat mereka. Melansir <a href="https://www.tempo.co/politik/dedi-mulyadi-punya-tim-konten-dengan-7-videografer-1483721">Tempo </a>(04/16/2025), KDM memiliki tim kontennya sendiri yang terdiri dari 7 orang videografer yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan Dedi dari berbagai sisi.</p>



<p>Konten media sosial berperan penting dalam lanskap politik modern, terutama karena pertimbangan individu dalam menentukan pilihan politik telah berubah. Croteau &amp; Hoynes (2019) dalam buku Media/Society mengungkapkan bahwa pergeseran ini terjadi ketika pola pemilihan yang sebelumnya didasarkan pada afiliasi partai kini justru lebih berdasarkan kepribadian sang kandidat.</p>



<p>Penggunaan sosial media memberikan keuntungan signifikan bagi politisi. Alih-alih bergantung pada media berita untuk menyebarkan informasi kampanye atau pesan komunikasi mereka, media sosial memungkinkan politisi memproduksi dan mendistribusikan konten secara mandiri. Dengan itu, mereka memiliki kendali penuh atas pesan yang ingin disampaikan. Tak hanya itu, konten di media sosial pun lebih berpotensi untuk viral karena mudah dibagikan antar masyarakat sehingga memperluas jangkauan pesan yang secara sekilas tampak, organik dan otentik.</p>



<p>Namun, benarkah konten media sosial politisi itu organik dan otentik? Ya, selayaknya iklan, konten media sosial politisi sebenarnya merupakan hasil orkestrasi tim yang telah dirancang secara cermat. Konten-konten ini tentunya sudah dikalkulasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dari sang politisi, entah itu mengkomunikasikan kebijakan, mempengaruhi pilihan politik, dan sebagainya.</p>



<p>Kami bertanya kepada masyarakat Jawa Barat terkait tanggapan mereka terhadap aktivitas digital KDM. Bagaimana pandangan mereka terhadap fenomena ini dan terhadap julukan “gubernur konten” yang disematkan kepada Dedi Mulyadi?</p>



<p><em>Turns out</em>, mereka cukup pro dan kontra, <em>lho</em>. Misalnya, Dimas Muhammad Diariefaundra, kerap disapa dengan nama Dimas, mengungkapkan kalau ia cukup senang karena setidaknya ia bisa mengetahui seluk beluk kegiatan yang dilakukan seorang pejabat publik di Jawa Barat. Menurutnya, <em>fair enough</em>, <em>kok</em>, kalo KDM disebut-sebut sebagai “gubernur konten” karena memang ia sudah <em>ngonten </em>jauh sebelum mencalonkan diri sebagai gubernur. “KDM itu menurut gue memang sosok gubernur yang cocok sama karakteristik masyarakat Jawa Barat, dari mulai ia pakai bahasa pengantar Sunda, suka dialog sama rakyat, dan ya jadi lebih deket sama masyarakatnya,” ujar Dimas.</p>



<p>Lain hal dengan Rafi Firmansyah. Sebagai seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang seumur hidupnya tinggal di Jawa Barat, Rafi sudah banyak mendengar tentang KDM. Di satu sisi, ia mendengar dari sesama warga Jawa Barat lainnya bahwa konten KDM membuatnya terasa dekat dengan masyarakat. Namun, di sisi lain, ia menganggap semua konten KDM tidak lebih dari sekedar pencitraan. &#8220;Bukan berarti gue bilang cara yang dia pake ini jelek, tapi ada kekhawatiran bahwa manuver politik ini sebatas cari dukungan untuk maju ke pemilihan aja, jadi gue skeptis dan merasa lebih baik untuk terus mengkritisi aksi KDM,&#8221; ungkapnya. </p>



<p>Ketika Rafi melihat konten ini sebagai pencitraan, Naila Sitti Khalisha atau Naila menyebutnya sebagai gimik.  &#8220;Kalau dari aku sendiri ngeliatnya kayak <em>he&#8217;s full of gimmicks</em> jadi<em> i can&#8217;t take him seriously</em>. Menurut aku, seorang gubernur Jawa Barat itu gak seharusnya tampil di publik dengan citra seperti ini,&#8221; ujar Naila. Naila tak menampis bahwa memang ini sebuah taktik untuk lebih relevan dan dekat dengan masyarakat, tetapi, ia melihat bahwa konten seperti ini sangat dibalut dengan sensasi dramatis layaknya sinetron. Terlebih, Naila mengungkit klaim netizen bahwa salah satu konten KDM itu <em>settingan. </em>Ini yang mendorong Naila untuk cenderung mendiskreditkan konten yang dibuat KDM dan melihatnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat dan bukan benar-benar yang terjadi di lapangan.  </p>



<p>Nah, oleh karena itu, apa, <em>sih</em>, sebenarnya yang perlu kamu awasi dan kamu lakukan jika ketemu konten-konten media sosial politisi? Secara umumnya, tak ada yang salah kok dengan politisi yang melek media sosial. Justru, itu bisa jadi salah satu cara bagi kita untuk mengenal para politisi yang bertanggung jawab atas kesejahteraan hidup masyarakat suatu daerah. Jadi, tenang saja, konten-konten tersebut tak perlu kamu jauhi, tapi jangan pula ditelan mentah-mentah, ya.</p>



<p>Melainkan, <strong>coba untuk lebih kritis terhadap konten-konten tersebut</strong>. <em>Take it with a grain of salt </em>alias terima informasi dan pesannya dengan hati-hati. Tonton dengan kesadaran bahwa konten yang dipublikasikan itu merupakan hasil rancangan dan penyusunan yang terkalkulasi oleh sang politisi dan timnya. Cek kembali fakta yang disampaikan oleh sang politisi dan tentukan pilihan politikmu jangan hanya berdasarkan kepribadian mereka yang kamu lihat di sosial media, tapi, yuk telusuri kembali seluk beluk dan kebijakan yang mereka canangkan!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2025/06/04/merakyat-lewat-digital-kenapa-politisi-semakin-gencar-kampanye-melalui-sosial-media/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2025/06/Aset-UAS-Online-Journalism-1.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
	</channel>
</rss>
