<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rokok &#8211; Journalight</title>
	<atom:link href="https://journalight.com/tag/rokok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journalight.com</link>
	<description>UI Journalism Studies</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Dec 2024 03:30:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/02/cropped-Journalight_1-logo-cropped-removebg-32x32.png</url>
	<title>rokok &#8211; Journalight</title>
	<link>https://journalight.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kebal Tantangan, Mengapa Perokok Indonesia Bertahan?</title>
		<link>https://journalight.com/2024/11/12/kebal-tantangan-mengapa-perokok-indonesia-bertahan/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/11/12/kebal-tantangan-mengapa-perokok-indonesia-bertahan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Kelompok 3 Jurnalisme Online 2025]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Nov 2024 08:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Perokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=1535</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah desakan global untuk menekan angka perokok, Indonesia justru masih menjadi salah satu &#8220;surga&#8221; bagi perokok. Sadar gak, sih? Rokok kini bukan hanya sekadar barang konsumsi, tapi sudah menjadi bagian dari obrolan, bahkan identitas bagi penggunanya. Mirisnya, kesadaran akan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-video"><video height="900" style="aspect-ratio: 1080 / 900;" width="1080" autoplay controls src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/SETIAP-1-TAHUN-JUTAAN-ORANG-BERHENTI-MEROKOK.mp4"></video></figure>



<p>Di tengah desakan global untuk menekan angka perokok, Indonesia justru masih menjadi salah satu &#8220;surga&#8221; bagi perokok. Sadar<em> </em>gak, sih? Rokok kini bukan hanya sekadar barang konsumsi, tapi sudah menjadi bagian dari obrolan, bahkan identitas bagi penggunanya. Mirisnya, kesadaran akan bahaya merokok belum sepenuhnya tertanam di kalangan masyarakat, terutama pada generasi muda yang semakin menganggap rokok sebagai bagian dari gaya hidup.  </p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>INDONESIA BERADA PADA PERINGKAT 8 JUMLAH PEROKOK TERBANYAK DUNIA</strong></h2>



<p>Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kemenkes, jumlah perokok di Indonesia diperkirakan sudah lebih dari 70 juta orang<sup data-fn="9c2e41a5-330a-464f-a29b-d553dcb87428" class="fn"><a href="#9c2e41a5-330a-464f-a29b-d553dcb87428" id="9c2e41a5-330a-464f-a29b-d553dcb87428-link">1</a></sup>. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat 8 besar negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, dengan 38,2% dari populasi merupakan perokok (World Population Review, 2024)<sup data-fn="195958ec-d8c4-4f57-8f60-9bccf00362f9" class="fn"><a href="#195958ec-d8c4-4f57-8f60-9bccf00362f9" id="195958ec-d8c4-4f57-8f60-9bccf00362f9-link">2</a></sup>. Kondisi ini diperkeruh dengan temuan dari Badan Pusat Statistik yang mengungkapkan bahwa <strong>persebaran jumlah perokok usia di atas 15 tahun hampir merata di seluruh Indonesia</strong>. </p>


<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Persentase Persebaran Perokok di Indonesia (2023)" src="https://datawrapper.dwcdn.net/8ibQy/4/#?secret=RCEzBxKEBd" data-secret="RCEzBxKEBd" scrolling="no" frameborder="0" height="315"></iframe></div>



<p>Hal menunjukkan bahwa kebiasaan merokok sudah dimulai sejak remaja dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Rokok: Teman Hidup yang Sulit Dilepaskan</h3>



<p>Selain tingginya jumlah perokok, rata-rata konsumsi rokok di Indonesia juga mencatat angka yang mengkhawatirkan. Lembaga survei PKSJ UI mengungkapkan bahwa mayoritas perokok menghabiskan 1-2 bungkus rokok setiap harinya. Bayangkan, jika satu bungkus rokok berisi minimal 12 batang, berarti ada sekitar 12 hingga 24 batang rokok yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="663" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-1024x663.png" alt="" class="wp-image-1965" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-1024x663.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-300x194.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-768x497.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-1536x994.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/1-Bungkus-1-2048x1326.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Angka ini jelas menunjukkan bahwa rokok telah menjadi santapan wajib yang menemani keseharian mereka. Rokok sudah dianggap seperti teman yang menemani dalam berbagai situasi, baik saat bekerja, bersosialisasi, maupun saat bersantai. Kebiasaan ini tidak hanya melibatkan ruang pribadi, tetapi juga menjalar ke ruang publik, di mana merokok sudah menjadi hal yang dianggap biasa. Hal ini memperkuat norma sosial yang ada dan menjadikan merokok seolah bagian tak terpisahkan dari interaksi sosial masyarakat.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong> </strong>&#8220;9 dari 10 Perokok Sadar Akan Bahaya Rokok&#8221;</h3>



<p>Siapa yang belum tahu bahaya rokok? Sebagian besar dari kita pasti telah mengetahui akan bahaya rokok. Berbagai penelitian medis dan laporan dari organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization (WHO) telah lama mengungkapkan dampak merugikan rokok bagi kesehatan. Menariknya, meskipun bahaya merokok sudah sangat jelas dan telah merenggut banyak sekali nyawa disekitar kita, kebiasaan merokok masih tetap mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Survei terbaru dari PKSJ UI mengungkapkan sebuah temuan yang mengejutkan, dimana <strong>91,08% perokok ternyata telah sadar akan</strong> <strong>risiko kesehatan</strong> yang ditimbulkan oleh merokok. Ini menunjukkan bahwa merokok telah dijadikan sebagai &#8220;teman hidup&#8221; yang sulit dilepaskan, bahkan oleh mereka yang sadar akan bahayanya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/20816549/embed#?secret=Jgr9nTtYiC" data-secret="Jgr9nTtYiC" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Kian Penuh Tantangan, Namun Merokok Sulit Dilepaskan</h2>



<p>Kesadaran akan bahaya merokok yang telah dimiliki oleh sebagian besar perokok bukanlah satu-satunya fakta mencolok dari fenomena tingginya angka perokok di Indonesia saat ini. Nyatanya, para perokok ini telah dihadapkan pada berbagai tantangan yang mempersulit mereka untuk melanjutkan kebiasaan tersebut. Tantangan-tantangan ini tidak hanya sebatas pada terbatasnya ruang dan waktu untuk merokok, tetapi juga muncul dari berbagai sisi. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Ruang yang Semakin Menyempit</h3>



<p>Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perokok adalah penerapan <strong>Kawasan Tanpa Rokok (KTR)</strong> di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini diatur dalam Pasal 115 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang mewajibkan pemerintah daerah menetapkan KTR di wilayahnya. Regulasi ini melarang aktivitas merokok di tempat-tempat umum. Penerapan KTR jelas memberikan tekanan sosial kepada perokok untuk membatasi kebiasaan mereka, terutama di ruang-ruang publik. Namun pada kenyataannya, meskipun tantangan KTR semakin membatasi ruang gerak mereka, perokok tetap berupaya menemukan cara agar dapat tetap merokok.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Gue tau, sih, ada daerah yang melarang kita buat ngerokok, tapi biasanya kalau tempatnya terbuka gue tetep ngerokok aja.&#8221; ujar narasumber berinisial A.</p>
</blockquote>



<h3 class="wp-block-heading">Tak Merokok Lebih Horor dari Gambar di Bungkus Rokok</h3>



<p>Selain pembatasan ruang, pemerintah juga telah mengatur pemasangan peringatan bahaya dalam bentuk gambar pada kemasan rokok sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.  Namun, survei PKSJ UI menunjukkan bahwa mayoritas perokok merasa gambar-gambar ini tidak mempengaruhi kebiasaan merokok mereka. Dengan kata lain, seseram-seramnya gambar pada bungkus rokok, lebih seram lagi tidak merokok.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/20788283/embed#?secret=Tj3GzABSFR" data-secret="Tj3GzABSFR" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Merokok Hukumnya &#8220;Dilarang&#8221; antara Haram dan Makruh</h3>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Seluruh peserta sidang sepakat bahwa rokok hukumnya tidak wajib, sunnah maupun mubah,&#8230;Setuju kalau merokok haram di tempat umum, bagi anak-anak dan wanita hamil?,&#8221; kembali peserta menjawab serentak, &#8220;setujuu!&#8221; (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2009)<sup data-fn="7311a9d7-8d44-4127-bd2d-646ac42b99a8" class="fn"><a href="#7311a9d7-8d44-4127-bd2d-646ac42b99a8" id="7311a9d7-8d44-4127-bd2d-646ac42b99a8-link">3</a></sup></p>
</blockquote>



<p>Itulah pernyataan di dalam sidang pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III&nbsp;yang dipimpin oleh Ketua MUI KH Maruf Amin, 15 tahun yang lalu. Meski bersifat imbauan moral dan tidak mengikat secara hukum, fatwa ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi umat Muslim, untuk lebih bijak dalam menyikapi kebiasaan merokok. Namun, pertanyaannya tetap sama, yaitu seberapa besar pengaruh fatwa ini dalam menekan angka perokok di Indonesia, sebuah negara dengan budaya merokok yang begitu mengakar?</p>



<div class="wp-block-media-text is-stacked-on-mobile" style="grid-template-columns:55% auto"><figure class="wp-block-media-text__media"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="662" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-1024x662.png" alt="" class="wp-image-2172 size-full" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-1024x662.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-300x194.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-768x497.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-1536x994.png 1536w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/Persepsi-Masyarakat-terhadap-Fatwa-MUI-1-1-2048x1325.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure><div class="wp-block-media-text__content">
<p>Berdasarkan hasil survei yang sama, PKSJ UI juga telah mencoba untuk melihat persepsi masyarakat mengenai fatwa haram ini. Cukup tingginya angka persetujuan, menunjukkan bahwa banyak orang sudah sadar akan buruknya rokok, bahkan mengaitkannya dengan pandangan agama. Meskipun banyaknya suara yang setuju dengan fatwa tersebut (yang keluar pada tahun 2009), kenyataannya fatwa ini belum cukup efektif untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia sampai saat ini.</p>
</div></div>



<h3 class="wp-block-heading">Rokok Dihisap, Tabungan Lenyap</h3>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/20788280/embed#?secret=oKW1tVXKF4" data-secret="oKW1tVXKF4" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Selain fatwa haram, tingginya biaya konsumsi rokok seharusnya menjadi faktor signifikan yang mendorong seseorang untuk berhenti merokok. Data dari PKSJ UI menunjukkan bahwa para perokok juga menyadari rokok sebagai barang mahal. Namun, bagaimana jika harga rokok naik? Apakah persepsi tersebut akan berpengaruh langsung terhadap perilaku mereka?</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-flourish wp-block-embed-flourish"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="responsive-embed widescreen"><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="Interactive or visual content" src="https://flo.uri.sh/visualisation/20812273/embed#?secret=ZqQX9mnSLI" data-secret="ZqQX9mnSLI" frameborder="0" scrolling="no" height="575" width="700"></iframe></div>
</div></figure>



<p>Meskipun kenaikan harga rokok mencapai nominal yang cukup besar, data menunjukkan bahwa rokok masih memiliki konsumen yang bersedia untuk membelinya. Fakta menarik ini tercermin dalam respons perokok aktif terhadap kenaikan harga. Misalnya, meskipun harga rokok mencapai Rp70.000, yang cukup tinggi, sejumlah besar perokok memilih untuk berhenti. Sayangnya, data ini kembali menegaskan bahwa kenaikan harga, meskipun signifikan, tidak terlalu memengaruhi kebiasaan merokok bagi sebagian besar perokok.</p>



<p>Dari paparan di atas, muncul sebuah pertanyaan besar, yaitu<strong> Mengapa perokok terus merokok meskipun telah dihadang oleh berbagai tantangan? </strong>Untuk memahami perspektif ini lebih dalam, kami telah berbincang dengan sejumlah narasumber untuk menggali pandangan mereka terkait tantangan-tantangan yang ada.</p>



<div class="wp-block-group is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-ad2f72ca wp-block-group-is-layout-flex">
<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kalau Bukan karena Takdir, Tidak Akan Berhenti</strong></h2>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;<em>&#8230;lagian</em> kalau <em>emang</em> <em>udah</em> waktunya <em>yasudah</em>. <em>Ngga ngaruh ngerokok</em> atau <em>ngga ngerokok</em>” Ujar seorang perokok aktif, A</p>
</blockquote>
</div>



<p>Melalui wawancara yang kami lakukan bersama tiga perokok aktif, terungkap alasan dan tantangan yang membuat kebiasaan merokok sulit ditinggalkan. Ketiganya memiliki pola yang relatif serupa, yaitu: (<em>klik untuk melihat penjelasan</em>)</p>



<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Memulai kebiasaan dari hal yang tampaknya sepele, yaitu ajakan teman</summary>
<p>Kebiasaan merokok mereka dimulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu ajakan teman. Rokok dianggap sebagai tiket masuk ke pergaulan.</p>
</details>



<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Kebiasaan yang berubah menjadi kebutuhan</summary>
<p>Lambat laun, merokok tak lagi sekadar menjadi kebiasaan semata. Ketiganya mengakui bahwa rokok menjadi pelarian saat stres atau depresi melanda. Asap rokok memberikan rasa lega sesaat, meski solusi ini tak pernah benar-benar menyelesaikan masalah.</p>
</details>



<details class="wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow"><summary>Sadar, Tapi Tak Berdaya</summary>
<p>Ketiganya bahkan pernah mencoba berhenti, tetapi kecanduan berkata lain. Proses berhenti merokok terasa sangat sulit.</p>
</details>



<p></p>



<p>Bagi ketiganya, alasan sulitnya untuk berhenti merokok ternyata bukan hanya tentang melepas kebiasaan yang sudah lama dilakukan, tetapi juga melepas pelarian mereka untuk mengatasi stres dan tekanan dalam hidup<em>. </em>Rasa ketergantungan yang begitu kuat membuat mereka merasa tak berdaya dan tak mampu untuk berhenti.</p>



<p>Walaupun dihadapkan dengan berbagai tantangan eksternal, manfaat psikologis dan kenyamanan yang dirasakan dari merokok tetap sulit dilepaskan oleh mereka. Rokok mampu memberikan sensasi relaksasi dan ketenangan yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Hal ini menciptakan ikatan emosional yang kuat antara perokok dan kebiasaannya, yang sering kali mengalahkan logika tentang bahaya kesehatan dan dampak yang ditimbulkan. Bahkan, dengan kesadaran penuh akan dampak negatifnya terhadap kesehatan, pengalaman subjektif dari merokok tetap menjadi hambatan besar untuk berhenti. Hal ini menunjukkan bahwa</p>



<figure class="wp-block-pullquote"><blockquote><p><strong>Bagi perokok aktif, merokok bukan sekadar kebiasaan, melainkan juga sebuah kebutuhan emosional yang sulit tergantikan.</strong></p></blockquote></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Sulit, Namun Tak Mustahil</h2>



<p>Berhenti merokok memang bukan perkara yang mudah. Namun, diluar sana tak jarang juga yang telah berhasil melakukannya. Dalam kesempatan ini, kami menghadirkan dua kisah inspiratif tentang bagaimana kebiasaan merokok telah merenggut kebahagiaan dan senyum orang-orang yang kita cintai.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;<em>Sadar ga sadar merokok itu bisa memakan korban di luar diri kita sendiri hingga bisa merenggut nyawa orang yang kita sayangi.</em>&#8221; ujar AMC &#8211; Seorang mantan perokok aktif yang hampir kehilangan putri semata wayangnya.</p>
</blockquote>



<div class="wp-block-cover is-light"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim" style="background-color:#788485"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" class="wp-block-cover__image-background wp-image-2043" alt="" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-16-17.12.26-A-dramatic-illustration-of-a-young-girl-lying-in-a-hospital-bed-surrounded-by-a-faint-haze-of-cigarette-smoke-in-the-air.-The-atmosphere-is-somber-an-1.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-16-17.12.26-A-dramatic-illustration-of-a-young-girl-lying-in-a-hospital-bed-surrounded-by-a-faint-haze-of-cigarette-smoke-in-the-air.-The-atmosphere-is-somber-an-1.jpg 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-16-17.12.26-A-dramatic-illustration-of-a-young-girl-lying-in-a-hospital-bed-surrounded-by-a-faint-haze-of-cigarette-smoke-in-the-air.-The-atmosphere-is-somber-an-1-300x300.jpg 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-16-17.12.26-A-dramatic-illustration-of-a-young-girl-lying-in-a-hospital-bed-surrounded-by-a-faint-haze-of-cigarette-smoke-in-the-air.-The-atmosphere-is-somber-an-1-150x150.jpg 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-16-17.12.26-A-dramatic-illustration-of-a-young-girl-lying-in-a-hospital-bed-surrounded-by-a-faint-haze-of-cigarette-smoke-in-the-air.-The-atmosphere-is-somber-an-1-768x768.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-constrained wp-block-cover-is-layout-constrained">
<h2 class="wp-block-heading has-text-align-center has-large-font-size"><strong>Rokok, Penyesalan dan Kisah Perjuangan Seorang Ayah</strong></h2>
</div></div>



<p>Dua tahun lalu, AMC (35), seorang pria yang sudah lama merokok, menghadapi peristiwa yang mengguncang hidupnya. Putrinya yang masih kecil tiba-tiba jatuh sakit. Awalnya, ia mengira itu hanya demam biasa, namun kondisi anaknya semakin memburuk hingga kesulitan bernapas.</p>



<p>Panik, ia segera membawa anaknya ke rumah sakit. Di ruang gawat darurat, anaknya sempat kehilangan kesadaran dan nyaris kehilangan nyawa akibat gagal napas. Untungnya, anak semata wayangnya ini bisa diselamatkan, tetapi dengan diagnosis berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Mengetahui diagnosa penyakit anak saya, saya merasa gagal menjadi orang tua dan kecewa terhadap diri sendiri. Terlebih ini adalah anak semata wayang saya yang kehadirannya udah saya tunggu-tunggu sejak awal menikah&#8221; Ujarnya AMC.</p>
</blockquote>



<p>Malam itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah melihat putrinya hampir kehilangan nyawa, ia membuat keputusan besar untuk berhenti merokok. Bayangan akan penyeselan yang terus menghantuinya merupakan bahan bakar terbesar yang telah memperkuat tekadnya. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<p>Setelah sebelumnya kita membahas bagaimana kebiasaan merokok dapat membahayakan kesehatan orang-orang di sekitar perokok, kali ini kita akan mendengar kisah yang berbeda. Kisah ini menggambarkan bagaimana rokok telah meninggalkan luka yang mendalam merenggut senyum seorang ibu.</p>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim" style="background-color:#807a6a"></span><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" class="wp-block-cover__image-background wp-image-2044" alt="" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-17-22.33.16-A-poignant-silhouette-illustration-of-a-grieving-mother-sitting-with-her-head-in-her-hands-crying-over-the-loss-of-her-son-who-was-a-heavy-smoker.-Th-1.png" data-object-fit="cover" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-17-22.33.16-A-poignant-silhouette-illustration-of-a-grieving-mother-sitting-with-her-head-in-her-hands-crying-over-the-loss-of-her-son-who-was-a-heavy-smoker.-Th-1.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-17-22.33.16-A-poignant-silhouette-illustration-of-a-grieving-mother-sitting-with-her-head-in-her-hands-crying-over-the-loss-of-her-son-who-was-a-heavy-smoker.-Th-1-300x300.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-17-22.33.16-A-poignant-silhouette-illustration-of-a-grieving-mother-sitting-with-her-head-in-her-hands-crying-over-the-loss-of-her-son-who-was-a-heavy-smoker.-Th-1-150x150.png 150w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/DALL·E-2024-12-17-22.33.16-A-poignant-silhouette-illustration-of-a-grieving-mother-sitting-with-her-head-in-her-hands-crying-over-the-loss-of-her-son-who-was-a-heavy-smoker.-Th-1-768x768.png 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-constrained wp-block-cover-is-layout-constrained">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size"><strong>Kehilangan Di Balik Asap Rokok</strong></p>
</div></div>



<p>Di sisi lain, kami mendengar kisah seorang ibu yang juga harus menghadapi kenyataan pahit akibat rokok. Anaknya yang sudah lama merokok didiagnosis menderita tuberkulosis (TBC) setelah mengalami batuk darah. </p>



<p>Meskipun sudah didiagnosis menderita penyakit parah, putranya tetap tak mampu untuk berhenti dari kebiasaan merokoknya. </p>



<p>Hal ini semakin memperburuk kondisinya. Hingga pada akhirnya, ia menghembuskan napas terakhir dan meninggalkan ibunya dalam kesedihan yang mendalam</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Rokok telah merenggut nyawa anak saya. Saya berharap rokok bisa lebih sulit dijangkau agar tak ada lagi korban seperti anak saya,&#8221; ujar sang ibu dengan suara penuh harapan.</p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity" />



<p>Kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa rokok tidak hanya merusak dan menyakiti tubuh perokok, tetapi juga dapat meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang dicintai. </p>



<p>Kini saatnya untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita akan terus menunda perubahan? Bukankah rasa takut kehilangan orang yang kita cintai adalah alasan yang cukup kuat untuk memulai perubahan? </p>


<ol class="wp-block-footnotes"><li id="9c2e41a5-330a-464f-a29b-d553dcb87428"><a href="https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240529/1545605/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda/">https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240529/1545605/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda/</a> <a href="#9c2e41a5-330a-464f-a29b-d553dcb87428-link" aria-label="Jump to footnote reference 1"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li><li id="195958ec-d8c4-4f57-8f60-9bccf00362f9"><a href="https://worldpopulationreview.com/country-rankings/smoking-rates-by-country">https://worldpopulationreview.com/country-rankings/smoking-rates-by-country</a> <a href="#195958ec-d8c4-4f57-8f60-9bccf00362f9-link" aria-label="Jump to footnote reference 2"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li><li id="7311a9d7-8d44-4127-bd2d-646ac42b99a8"><a href="https://kemenag.go.id/nasional/fatwa-mui-rokok-hukumnya-makruh-dan-haram-341hw4">https://kemenag.go.id/nasional/fatwa-mui-rokok-hukumnya-makruh-dan-haram-341hw</a> <a href="#7311a9d7-8d44-4127-bd2d-646ac42b99a8-link" aria-label="Jump to footnote reference 3"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/21a9.png" alt="↩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />︎</a></li></ol>

<div class="wp-block-post-author"><div class="wp-block-post-author__avatar"><img alt='' src='https://secure.gravatar.com/avatar/9a8ce6621f5d7684f8c3e01b0349cd7460f2eddeebdbd2c17cc905b23ff3c495?s=48&#038;d=mm&#038;r=g' srcset='https://secure.gravatar.com/avatar/9a8ce6621f5d7684f8c3e01b0349cd7460f2eddeebdbd2c17cc905b23ff3c495?s=96&#038;d=mm&#038;r=g 2x' class='avatar avatar-48 photo' height='48' width='48' /></div><div class="wp-block-post-author__content"><p class="wp-block-post-author__byline">disusun oleh</p><p class="wp-block-post-author__name">Kelompok 3 Jurnalisme Online 2025</p></div></div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/11/12/kebal-tantangan-mengapa-perokok-indonesia-bertahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/11/SETIAP-1-TAHUN-JUTAAN-ORANG-BERHENTI-MEROKOK.mp4" length="0" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Analisis Peer Communication Mahasiswa dalam Kegiatan Merokok di Kampus</title>
		<link>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/</link>
					<comments>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilma Rayhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2024 10:19:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[fisip ui]]></category>
		<category><![CDATA[peer communication]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[social influence theory]]></category>
		<category><![CDATA[takor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journalight.com/?p=892</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Diandra Adjani Paruntu, Gedavi Hamallas, Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Yoga Al Kemal Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai peer communication terhadap kebiasaan merokok mereka di lingkungan kampus, dengan fokus pada kantin Takor, Fakultas Ilmu Sosial...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Penulis</strong>: Diandra Adjani Paruntu, Gedavi Hamallas, Ilma Rayhana, Rafi Abid Wibisono, Yoga Al Kemal</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Abstrak</strong></h2>



<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai <em>peer communication</em> terhadap kebiasaan merokok mereka di lingkungan kampus, dengan fokus pada kantin Takor, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>peer communication</em> memiliki peran yang signifikan dalam membentuk norma sosial terkait merokok di area kampus yang seharusnya bebas dari asap rokok. Teknik analisis data yang digunakan adalah <em>explanation building</em> yang memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam bagaimana dan mengapa fenomena terjadi. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi kebiasaan merokok di lingkungan kampus.</p>



<p>Keyword:<em> Peer communication,</em> Kegiatan merokok, Lingkungan kampus, Kawasan bebas asap rokok</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pendahuluan</strong></h2>



<p>Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang telah lama menjadi perdebatan di berbagai kalangan masyarakat. Di tengah upaya untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok, larangan merokok di tempat umum menjadi sebuah langkah yang diambil oleh banyak institusi. Namun sayangnya, implementasi larangan merokok tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika budaya merokok telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di suatu tempat.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-1024x768.png" alt="" class="wp-image-1333" srcset="https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-1024x768.png 1024w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-300x225.png 300w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4-768x576.png 768w, https://journalight.com/wp-content/uploads/2024/06/image-4.png 1360w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kantin FISIP UI (Takor). (Sumber foto: Hans TM via Google Maps)</figcaption></figure>



<p>Kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menjadi salah satu contoh lingkungan di mana larangan merokok tidak sepenuhnya diindahkan. Meskipun berbagai cara telah dilakukan seperti dipasangnya banner larangan merokok, kegiatan merokok tetap berlangsung di area yang dikenal dengan sebutan Takor (Taman Korea) atau Balsem (Balik Semak). Fenomena ini menarik perhatian kelompok peneliti untuk menggali lebih dalam tentang dinamika komunikasi antar individu terkait kegiatan merokok di kawasan anti rokok. Masalah penelitian yang mendasari&nbsp; adalah bagaimana konsep <em>peer communication</em> dapat memengaruhi perilaku merokok di kantin FISIP UI, terutama dalam konteks larangan merokok yang sebenarnya telah diberlakukan. <em>Peer communication</em>, atau komunikasi antar teman sebaya, dianggap memiliki peran yang signifikan dalam membentuk norma sosial dan perilaku individu. Dalam kasus ini, <em>peer communication</em> diharapkan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk tidak merokok sesuai dengan area yang bebas dari asap rokok.&nbsp;</p>



<p>Penelitian ini memiliki signifikansi yang penting dalam konteks kesehatan masyarakat dan kebijakan anti merokok. Dengan memahami bagaimana komunikasi antar individu di lingkungan kantin FISIP UI memengaruhi keputusan merokok, diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga bagi pengembangan strategi preventif dan intervensi yang lebih efektif bagi pihak kampus dalam mengurangi kebiasaan merokok di lingkungan kampus. Pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah bagaimana <em>peer communication</em> mendorong individu dalam keputusan merokok di kawasan anti rokok di FISIP UI. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi pola komunikasi antar teman sebaya terkait kegiatan merokok dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas <em>peer communication</em> dalam mengubah perilaku merokok.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Literature Review</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Peer Communication</em></strong></h3>



<p>Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kram dan Isabella (1985) <em>peer communication</em> dapat dibedakan oleh karakteristik komunikasinya. Jenis hubungan pertama disebut sebagai <em>information peer</em> (komunikasi mengenai pekerjaan atau organisasi dengan tingkat pengungkapan diri dan kepercayaan yang rendah). Yang kedua adalah <em>collegial peer</em> (komunikasi mengenai pekerjaan atau masalah pribadi dengan tingkat kepercayaan dan pengungkapan diri yang lebih baik atau berada pada level menengah). Yang terakhir adalah <em>the special peer</em> (berbagai topik komunikasi, dukungan emosional tinggi, umpan balik pribadi, kepercayaan, pengungkapan diri, dan persahabatan yang kuat).</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Social Influence Theory</em></strong></h3>



<p>Sementara itu, teori yang digunakan adalah teori pengaruh sosial (<em>social influence theory</em>). Menurut Venkatesh dan Brown (2001), <em>social influence theory </em>adalah bagaimana seseorang dalam jejaring sosialnya dipengaruhi oleh sikap lingkungannya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu melalui interaksi sosial. Dalam konteks kegiatan merokok di FISIP UI, seorang individu dapat mempengaruhi orang yang merokok di area dilarang merokok dengan menggunakan <em>peer communication</em>. Menurut Kelman (1979), <em>social influence theory</em> memiliki tiga cara dalam mempengaruhi perubahan perilaku seseorang dalam sistem sosial, yaitu <em>compliance</em> (kepatuhan), <em>identification</em> (identifikasi), atau <em>internalization</em> (internalisasi).&nbsp;</p>



<p><em>Compliance</em> merupakan penerimaan pengaruh bagi individu untuk menerima imbalan dan menghindari hukuman atas perilaku tidak patuh. Penerimaan ini sering kali disebabkan oleh kekhawatiran akan dampak sosial dari melanggar peraturan, yang kemudian membantu mengurangi kesenjangan dalam norma sosial. <em>Compliance</em> kemungkinan besar terjadi ketika terdapat pengawasan dari agen yang mempengaruhi (Pelinka &amp; Suedfeld, 2017). <em>Identification</em> merupakan pengaruh sosial yang bertujuan mencapai tujuan tertentu tanpa mencerminkan nilai pribadi. <em>Identification</em> terjadi apabila individu mengharapkan dirinya dapat memenuhi peran sosial tertentu. Kondisi ini dapat terjadi apabila individu terhubung dengan kategori sosial tertentu, dan juga terdapat tuntutan peran sosial di dalamnya. Berbeda dengan <em>identification</em>, <em>internalization</em> dapat terjadi apabila seseorang mengadopsi perilaku karena sesuai dengan nilai dan pandangan pribadinya. Nilai tersebut sering dipengaruhi oleh lingkungan sosial saat seseorang dibesarkan. Perilaku yang sesuai dengan nilai yang seseorang anut akan membantunya mencapai tujuan yang diinginkan (Kelman, 1958).</p>



<p>Dengan mengacu pada <em>social influence theory</em>, peneliti membagi narasumber menjadi 2 bagian, yaitu <em>compliant group</em> dan <em>non-compliant group</em>. Tingkat kepatuhan atau <em>compliance</em> merujuk pada peraturan formal yang didistribusikan melalui spanduk berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok UI, serta konsensus informal mahasiswa FISIP UI mengenai waktu dan lokasi tempat yang diperbolehkan merokok. Sementara, mahasiswa yang mengabaikan kedua payung aturan tersebut dikategorikan sebagai <em>non-compliant group</em>.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>Research Gap</em></strong></h3>



<p>Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, ditemukan bahwa <em>peer communication</em> ternyata berperan dalam mempersuasi individu untuk berpikir dan bersikap dengan cara tertentu, bahkan lebih besar dari peraturan dan himbauan yang dibuat oleh pembuat kebijakan terkait. Hal tersebut rata-rata berhasil terjadi karena rasa kepercayaan dari individu terhadap <em>peer group</em> mereka, percakapan informal mengenai hal-hal formal seperti kebijakan, serta keterbukaan diskusi dalam <em>peer group</em> (Muraleetharan &amp; Brault, 2021: 7–8).</p>



<p>Dalam konteks larangan merokok di lingkungan kantin FISIP UI, peneliti berhasil menemukan beberapa <em>research gap</em> dari penelitian terdahulu bahwa (1) belum ada pembahasan yang cukup spesifik mengenai peran <em>peer communication</em> dalam himbauan berhenti merokok di lokasi bebas asap rokok. Di sisi lain, banyaknya penelitian terdahulu dengan tema rokok tidak menekankan <em>peer communication</em>. Kemudian (2) tidak adanya batasan-batasan dari konsep <em>peer communication</em> itu sendiri, sehingga salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan untuk penelitian ini adalah untuk menjelaskan batasan <em>peer groups</em>, seperti kedekatan antar teman yang mungkin akan mempengaruhi reaksi individu dalam berpikir dan bersikap.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Metode</strong></h2>



<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretif untuk memperoleh data yang diperlukan. penelitian berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial melalui pengumpulan data yang kaya dan deskriptif. Dalam pendekatan ini penulis menggunakan dua metode pengumpulan data, yaitu wawancara langsung dan observasi mandiri. Metode wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang paling umum dalam pendekatan penelitian kualitatif. Dalam paradigma interpretif, wawancara digunakan untuk menggali makna dan interpretasi yang dimiliki individu tentang pengalaman dan perspektif mereka. Kemudian dalam paradigma ini, metode observasi digunakan untuk memahami makna dan interpretasi yang dibangun oleh individu dan kelompok dalam pengalaman mereka.</p>



<p>Paradigma interpretif adalah cara pandang dalam penelitian ilmu sosial yang melihat sesuatu dengan cara memahami dan menjelaskan dunia sosial melalui perspektif pelaku suatu kasus sosial. Berbeda dengan paradigma positivis yang cenderung menekankan objektivitas dan meyakini realitas bersifat tunggal, paradigma interpretif mengakui realitas dapat memiliki banyak sisi tergantung dari sudut pandang kita melihat realitas tersebut. Paradigma interpretatif membantu kami untuk mengulik lebih dalam subjek penelitian, tidak hanya sekedar analisis dasar dari subjek namun juga perilaku, interaksi, dan budaya subjek penelitian. Dengan penggunaan pendekatan dan paradigma ini, kami bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi yang terjadi dalam suatu <em>peer group </em>dimaknai oleh para subjek penelitian, dan apakah <em>social influence theory</em> sebagai teori acuan dapat diaplikasikan pada kasus ini.</p>



<p>Konsep <em>peer group </em>dan <em>social influence theory </em>kami gunakan berkaca dari kasus serupa lain, yakni pengembalian piring makan <em>(self-service) </em>pada kantin Takor FISIP UI yang berhasil membentuk sebuah budaya dan konsensus baru di tempat yang sama. Dalam memperoleh data, penulis menggunakan metode wawancara secara langsung dengan 7 informan. Kemudian untuk memperkuat data primer penulis juga melakukan observasi mandiri untuk melihat perilaku dan kebiasaan orang-orang di kantin Takor FISIP UI dalam merokok. Dari data-data tersebut, penulis kemudian menganalisis data tersebut dengan cara <em>coding </em>manual untuk melihat pola-pola yang ada dalam jawaban-jawaban informan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hasil dan Diskusi</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Konsensus bersama lebih dipatuhi daripada peraturan resmi</strong></h3>



<p>Dalam hal merokok di area Takor, para narasumber–baik <em>compliant </em>maupun <em>non-compliant group–</em>merasa bahwa terdapat daerah-daerah kantin yang telah disetujui untuk merokok selain <em>smoking area </em>resmi. Persetujuan ini selanjutnya akan disebut konsensus area merokok, yang antara lain terdiri dari Takor Atas, Takor Politik, dan Takor Semen.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“<em>Nah, kalo ngerokok di Takor, gue ngeliat ada dua tempat yang sering dijadiin yaitu Smokar dan lantai atas, dan yang kedua tuh di tempat politik. (&#8230;) tempat duduk semen sekarang juga jadi tempat ngerokok.”</em></p>
<cite>Perokok, <em>compliant group</em>.</cite></blockquote>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeUodPT1oiwD117jBBbSCvpj35VszaEU60ZzjlEbhGa11bUPE0Jkxt_pRw-DjIyFe16U9bSrBR6R0HfhtXNHQIHMtWVhMeMJ3PV9TsyUd0NEVmmRvHp3I2QKKp8mez2qI6XqLf8_VsQvvx0iMZNaK70h3mF?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Semen (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXezLLPKNQngfhCV8a1f-YDhH49O3B-PtBjELlpjiBrr5co4EgtFHTRrSTmTfm4uEbmRYSAUl7rMLvAf3MLlF15WfkJaTPN2jbLIMhwXmXpMTnbzc3wCzdvp9eIjxuyHyV7jZvgcvDtFhpMRbtK7SzsH9-Z-?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Bawah (bagian rendah, <em>foreground</em>) dan Takor Atas (bagian tinggi, <em>background)</em> (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcJ1o9sBGGTEjo2Xm1RG37jbvN9pi7_548F6XDz9AbcdVJgBqAYEvI6-skekzpdTTKno9Bmn5Jw--HHU-DPxEZwyI_ByAjfMa32etduVQuVzwuMT6aiQMNR7vaEkUvXBntnhuKwssZyv8Bw5bHx9xxr1-G7?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt=""/><figcaption class="wp-element-caption">Takor Politik (Sumber foto: Yoga Al Kemal)</figcaption></figure>



<p></p>



<p>Konsensus area merokok inilah yang cenderung diikuti oleh para perokok dan non-perokok. Keduanya saling diuntungkan–perokok dapat merokok tanpa merasakan pengapnya <em>smoking area </em>Takor, dan non-perokok dapat menghirup udara bersih. Tetapi, terkadang hal ini juga masih dilanggar. Menurut beberapa narasumber, biasanya hal ini dilakukan warga non-FISIP UI yang tidak tahu persis tentang konsensus area merokok.</p>



<p>Secara umum, mereka mengetahui tentang larangan merokok formal yang disosialisasikan dari <em>banner </em>dan poster di area Takor. Larangan ini sudah diatur oleh SK Rektor UI Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) UI. Namun, pasifnya pihak berwajib membuat para perokok merasa “aman” untuk merokok. Kebanyakan dari mereka berdalih–jika salah, maka salahnya ramai-ramai. Jika dihukum, maka ratusan orang lain juga harus dihukum, termasuk dosen dan staf yang merokok di kawasan tanpa rokok.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Latar belakang perokok yang membentuk budaya merokok</strong></h3>



<p>Berdasarkan kebiasaan merokoknya, terdapat empat narasumber yang merupakan perokok, dua non-perokok, dan satu mantan perokok. Uniknya, keempat perokok dan satu mantan perokok mulai merokok saat masih di bangku SMP-SMA dan dilakukan karena, atau ingin ikut, <em>nongkrong</em>.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>“Berawal diajak waktu nongkrong. (&#8230;) Dari gue SMP, gue merasa harus merokok. Citra itu gue tekunin sampai sekarang.”</em></p>
<cite>Perokok, <em>noncompliant group</em></cite></blockquote>



<p>Kedua kebiasaan ini–merokok dan <em>nongkrong</em>–menjadi tidak terpisahkan hingga kuliah. Hal ini terlihat ketika dilakukan observasi di area Takor. Kebanyakan pengunjung Takor yang berada di satu meja<em> </em>akan makan, mengobrol, hingga mengerjakan tugas sambil merokok.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Munculnya  </strong><strong><em>social ignorance</em></strong></h3>



<p>Warga Takor tidak lagi asing dengan peneguran. Berbasis pengalaman saling menegur yang efektif untuk mengembalikan piring kotor, kami mencoba membawanya ke dalam konteks rokok. Namun, hasil penelitian tidak menunjukkan pola yang sama.</p>



<p>Para narasumber dari <em>compliant group </em>tidak pernah menegur orang yang merokok di kawasan tanpa rokok, dengan alasan simpel: tidak merasa terganggu dengan asapnya. Salah satu narasumber memilih mengajak teman perokoknya untuk <em>nongkrong </em>di area konsensus sebelum pelanggaran dapat terjadi. Narasumber lain mengakui pernah ditegur oleh teman dekatnya sendiri dengan nada baik-baik. Hal ini mendorongnya untuk lebih menghormati temannya dan menjauh ketika sedang ingin merokok.</p>



<p>Beberapa narasumber dari <em>noncompliant group </em>yang pernah ditegur merasa malu ketika hal itu terjadi, apalagi jika ditegur orang yang tidak ia kenal. Namun, ini tidak berkelanjutan–ia akan melanjutkan merokok dengan sembarangan setelah beberapa hari.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfnWlPJzakZFXJ3TOsYWnb7ZWPNe4xd3zktIij24J1UpHOIiHWtSjU3zInep42zQ79DORZWaxhd-gPx5mkyHdeMpg_5C1RCmGjA17Sxch9l25IDjT6I0gOyxXVAraxGoYQDG5Z7WGeeHfIA6t7xczFNbvw?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt="" style="width:500px;height:auto"/></figure>
</div>


<p>Hasil observasi juga menunjukkan keluhan mahasiswa di media sosial, khususnya X, tentang asap rokok di Takor<em>.</em> Hanya pengunggah berikut yang memberikan izin untuk dijadikan data. Sejumlah unggahan lain menyatakan bahwa mereka merasa “tidak berani” untuk menegur, karena notabenenya beberapa perokok dianggap mengintimidasi. Hal ini sejalan dengan salah satu jawaban narasumber, merasa “takut untuk menegur orang yang tidak dikenal.”</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcEAUxaJlh6li92xsa58_vCRxVM967qz7wCk9dLNZpPc3RWSLgvwXF0HWmgqd4W9uGstl5S7GlMjG_JRb_przoVK91c0-Rov-T8EjFuHSDr2B3T6uzpv75OhaJuDY1z1TmULEvQj2d6UxtYQ7e9hNz52VUv?key=XkZ5Q4EtcAidf_pTtVkvkQ" alt="" style="width:451px;height:auto"/><figcaption class="wp-element-caption">Sumber foto: Anonim, mahasiswa FISIP 2021</figcaption></figure>
</div>


<p></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Diskusi</strong></h3>



<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konsensus informal mengenai area merokok di FISIP UI yang lebih dipatuhi oleh para perokok dibandingkan aturan formal yang dianggap kurang efektif. Hal ini sejalan dengan konsep <em>social influence theory</em> yang menjelaskan bagaimana interaksi sosial dalam kelompok dapat mempengaruhi perilaku individu. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana perokok dan non-perokok di FISIP UI mengikuti konsensus area merokok yang diakui secara sosial. Dalam hal ini, persetujuan bersama terkait area merokok menjadi lebih dominan daripada peraturan formal yang ditetapkan oleh pihak fakultas.</p>



<p>Sementara itu, terdapat pula teori lain yang relevan dengan hasil penelitian ini, yaitu <em>social theory of ignorance.</em> Menurut teori ini, ketidakpedulian terhadap aturan merupakan konstruksi sosial yang dilanggengkan. Hal ini tercermin dalam perilaku perokok yang merasa &#8220;aman-aman saja&#8221; untuk tetap melanggar aturan karena kurangnya penegakan hukum dan sanksi nyata. Salah satu narasumber juga memilih untuk tidak menegur perokok karena tidak merasa terganggu meskipun hal tersebut tetap merupakan pelanggaran.</p>



<p>Berkaca pada kasus teguran pengembalian piring di kantin Takor FISIP UI, kami menduga bahwa konsep <em>peer communication</em> akan lebih efektif untuk mencegah kegiatan merokok di area dilarang merokok. Diasumsikan bahwa dalam <em>peer group </em>dengan anggota orang yang <em>compliant </em>dan <em>noncompliant </em>terhadap peraturan dan konsensus, pihak <em>noncompliant </em>dapat terdorong untuk mengikuti ekspektasi anggota kelompoknya untuk menjaga harmoni.</p>



<p>Walaupun hal ini terjadi dalam salah satu narasumber yang ditegur oleh teman dekatnya,&nbsp; tetapi berdasarkan jawaban mayoritas narasumber lain, konsep <em>peer communication</em> terbukti masih kurang dimaknai dengan baik oleh perokok. Kebanyakan narasumber merasa teguran yang ditujukan kepada mereka akan lebih efektif jika dilakukan oleh pihak yang berwenang, berkuasa, atau memiliki otoritas, seperti dosen atau PLK.</p>



<p>Walaupun demikian, sejumlah narasumber yang pernah ditegur pun hanya berhenti merokok di area dilarang merokok dalam jangka waktu pendek. Pihak <em>compliant group</em> cenderung segan untuk menegur orang yang tidak mereka kenal. Hal ini menjawab pertanyaan penelitian terkait bagaimana perokok memaknai teguran dari <em>peer group</em> mereka.</p>



<p>Dapat disimpulkan bahwa peran <em>peer communication </em>akan efektif dan dimaknai dengan baik apabila terdapat budaya dan norma tertentu yang ingin dipertahankan, seperti budaya pengembalian piring di Takor. Namun, untuk kegiatan merokok di FISIP UI, cukup banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti <em>ignorance</em>, sikap “tidak enak”, dan regulasi formal yang tidak dikomunikasikan dengan baik oleh pihak berwajib.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Simpulan</strong></h2>



<p>Merokok sudah menjadi begitu umum di lingkungan mahasiswa FISIP UI. Hal ini juga didorong oleh latar belakang kebanyakan individu menjadi perokok yang erat kaitannya dengan bersosialisasi. Teguran terkait larangan merokok cenderung jarang dibahas dalam suatu <em>peer communication</em> mahasiswa FISIP UI akibat merasa “tidak enak”.&nbsp;</p>



<p>Faktor <em>social ignorance</em> terhadap kegiatan merokok<em> </em>juga jauh lebih berkontribusi dibandingkan <em>peer communication </em>maupun peraturan formal. Karena mahasiswa FISIP UI memilih untuk bersikap <em>“bodo amat</em>” terhadap peraturan, maka muncul <em>status quo </em>bahwa ada kebebasan relatif dalam merokok di FISIP UI. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa konsensus informal yang telah disetujui secara kolektif mengenai lokasi merokok jauh lebih dihormati dibandingkan peraturan formal tanpa sanksi yang diimplementasikan dengan baik. Teguran dari teman dapat dimaknai dengan baik, namun dari orang yang tidak dikenal akan kurang efektif. Di sisi lain, perokok merasa bahwa penegakan larangan merokok berbentuk peneguran lebih baik dilakukan secara rutin orang yang berwenang (seperti petugas keamanan).</p>



<p>Penelitian selanjutnya dapat membahas lebih dalam mengenai faktor perilaku dari kegiatan merokok di kampus, menggunakan sudut pandang psikologis atau sosiologis dibandingkan komunikasi. <em>Social theory of ignorance </em>atau konsep <em>face saving </em>dapat digunakan sebagai acuan, karena hubungannya yang erat dengan budaya masyarakat yang menghindar dari konfrontasi langsung seperti teguran.&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Referensi</strong></h2>



<p>Aprilian, M. (2023). <em>PENGARUH TINGKAT SOCIAL INFLUENCE TERHADAP PERSEPSI SISWA PADA PENGGUNAAN LAYANAN MOBILE PAYMENT (Survei Terhadap Siswa Kelas XI IPS di SMAN 1 Parigi)</em>.</p>



<p>Bryman, A. (2012). <em>Social Research Methods</em>. OUP Oxford.</p>



<p>eBusiness@Newcastle. (n.d.). Social Influence Theory &#8211; TheoryHub &#8211; Academic theories reviews for research and T&amp;L. <a href="https://open.ncl.ac.uk/theories/15/social-influence-theory/">https://open.ncl.ac.uk/theories/15/social-influence-theory/</a>&nbsp;</p>



<p>Esterberg, K. G. (2002). <em>Qualitative Methods in Social Research. </em>McGraw-Hill.</p>



<p>Kram, K. E., &amp; Isabella, L. (1985). MENTORING ALTERNATIVES: THE ROLE OF PEER RELATIONSHIPS IN CAREER DEVELOPMENT. <em>Academy of Management Journal</em>, <em>28</em>(1), 110–132. <a href="https://doi.org/10.2307/256064">https://doi.org/10.2307/256064</a>&nbsp;</p>



<p>Li, C. (2013). Persuasive messages on information system acceptance: A theoretical extension of elaboration likelihood model and social influence theory. <em>Computers in Human Behavior</em>, <em>29</em>(1), 264–275. <a href="https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.09.003">https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.09.003</a></p>



<p>Mekarisce, A. A. (2020). Teknik Pemeriksaan keabsahan data Pada Penelitian kualitatif di bidang Kesehatan Masyarakat. <em>JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat</em>, <em>12</em>(3), 145–151. https://doi.org/10.52022/jikm.v12i3.102&nbsp;</p>



<p>Meyer, S. B., Leask, J., Seale, H., &amp; Wiley, K. E. (2023). ‘Getting the vaccine makes me a champion of it’: Exploring perceptions towards peer-to-peer communication about the COVID-19 vaccines amongst Australian adults. <em>Health Expectations</em>, <em>26</em>, 1505-1513.</p>



<p>Moran, M. B., &amp; Sussman, S. (2015). Changing Attitudes Toward Smoking and Smoking Susceptibility Through Peer Crowd Targeting: More Evidence From a Controlled Study. <em>Health Communication</em>, <em>30</em>(5), 521-524.</p>



<p>Muraleetharan, V., &amp; Brault, M. A. (2021). Friends as Informal Educators: The Role of Peer Relationships in Promotion of Sexual Health Services among College Students. <em>Community Health Equity Research &amp; Policy</em>, <em>44</em>(1), 3-14.</p>



<p>Nasution, S. (1988). <em>Metode penelitian naturalistik kualitatif. </em>Tarsito.</p>



<p>Rektorat UI. (2013). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keputusan Rektor Universitas Indonesia Nomor 1805/SK/R/UI/2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok Universitas Indonesia (KTR UI) [Surat Keputusan Rektor Universitas Indonesia].</p>



<p>Saw, A., Paterniti, D., Fung, L.-C., Tsoh, J. Y., Chen Jr., M. S., &amp; Tong, E. K. (2017). Social Environmental Influences on Smoking and Cessation: Qualitative Perspectives Among Chinese-Speaking Smokers and Nonsmokers in California. <em>J Immigr Minor Health</em>, <em>19</em>(6), 1404-1411.</p>



<p>Yin, R.K (2017). Case Study Research and Application: Design and Methods. Sage Publication.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://journalight.com/2024/06/04/analisis-peer-communication-mahasiswa-dalam-kegiatan-merokok-di-kampus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
