
Abstrak
Di era digital, registrasi kelas online menjadi hal yang umum dilakukan di setiap universitas, salah satunya di Universitas Indonesia yang biasa menyebutnya dengan SIAK WAR. Menjadi perhatian karena dalam pelaksanaannya banyak permasalahan baik dari segi teknis maupun komunikasi yang terus berulang setiap semesternya. Melalui wawancara dengan mahasiswa dan staf tenaga kependidikan, penelitian ini mengeksplorasi proses organizational information dalam krisis registrasi kelas online pada staf tenaga kependidikan di FISIP UI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses organizational information pada staf tenaga kependidikan di FISIP UI sudah berjalan dengan cukup baik jika dilihat menggunakan Organizational Information Theory. Permasalahan SIAK WAR masih menjadi sebuah permasalahan yang berulang karena terdapat perbedaan pandangan antara mahasiswa dan staf tenaga kependidikan akan penyelesaian permasalahan SIAK WAR. Selain itu, birokrasi yang berlaku juga menjadi penghalang bagi staf tenaga kependidikan untuk menyelesaikan permasalahan SIAK WAR sesuai dengan harapan mahasiswa.
Kata Kunci: Registrasi Kelas Online, Organizational Information Theory.
Sudah Bayar Mahal, Tapi Tidak Dapat Kelas yang Diinginkan. Yang Bener Aja, Rugi Dong!
Registrasi kelas online pada platform SIAK NG atau yang biasa disebut SIAK WAR merupakan kegiatan rutin Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) setiap semesternya yang krusial dalam menentukan alur akademis mahasiswa kedepannya, seperti dalam penentuan mata kuliah dan jadwal yang akan diikuti selama satu semester. Banyak mahasiswa yang merencanakannya dengan matang agar dapat mendukung produktivitas mereka baik untuk kegiatan akademik maupun nonakademik di dalam dan luar kampus. Karena selain untuk semester saat itu, registrasi kelas juga dapat berdampak untuk semester-semester selanjutnya hingga masa kelulusan. Registrasi kelas dianggap sukses bagi mahasiswa jika mereka berhasil mendapatkan kelas sesuai dengan rencana atau keinginan mereka.
Sayangnya, dalam pelaksanaan registrasi kelas online, Mahasiswa FISIP UI seringkali mengalami kendala baik dari segi teknis maupun komunikasi, seperti server yang bermasalah, waktu registrasi yang terlambat dari jam pemberitahuan, dan kurangnya informasi yang diberikan oleh pihak fakultas dan universitas terkait registrasi kelas kepada mahasiswa. Sebelum menghadapi puluhan hingga ratusan mahasiswa lainnya dalam mendapatkan kelas yang diinginkan, mahasiswa terpaksa harus menghadapi terlebih dahulu sistem registrasi kelas online yang kurang memadai dari segi teknis dan komunikasi sehingga pelaksanaannya masih jauh dari kondisi ideal yang diharapkan mahasiswa. Kendala registrasi kelas online yang terjadi setiap semesternya selama bertahun-tahun ini menimbulkan keresahan pada Mahasiswa FISIP UI yang dapat dilihat di media sosial.
Keresahan Mahasiswa FISIP UI di Media Sosial

Keresahan ini sudah seringkali dilaporkan oleh Mahasiswa FISIP UI kepada pihak program studi, fakultas, dan universitas. Namun, masalah ini terus terjadi sampai sekarang. Jika masalah ini terus berlanjut tanpa adanya upaya perbaikan, maka akan menjadi sebuah krisis yang dapat merugikan Universitas Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sebenarnya Bagaimana Proses Organizational Information dilakukan oleh Staf Tenaga Kependidikan dalam krisis registrasi kelas online di FISIP UI? Proses pengelolaan informasi yang cepat menjadi krusial karena SIAK WAR dapat berlangsung hanya dalam hitungan detik. Selain itu, Universitas Indonesia yang termasuk universitas terbaik di Indonesia dan mendapatkan peringkat di World Class Universityjuga mendapat tuntutan dari pihak eksternal untuk dapat menyediakan fasilitas terbaik bagi mahasiswa nya dan mengelola informasi secara cepat di era digital.
Karena itu, menjadi sebuah hal yang diperlukan untuk mengeksplorasi proses organizational information dalam krisis registrasi kelas online pada Staf Tenaga Kependidikan di FISIP UI. Selain bermanfaat secara praktis dan sosial bagi Mahasiswa FISIP UI agar mengetahui proses pengelolaan informasi terhadap keluhan yang disampaikan, diharapkan untuk kedepannya staf dan mahasiswa dapat bekerjasama untuk membuat pengalaman yang terbaik dalam melaksanakan SIAK WAR. Studi ini juga dapat bermanfaat secara akademis untuk membantu studi-studi selanjutnya yang berkaitan dengan Organizational Information Theory.
Apa sih Organizational Information Theory itu?
Organizational Information Theory adalah teori yang menyediakan gambaran tentang aktivitas inti dari organisasi, yaitu proses untuk memahami informasi secara sistematis dan terstruktur. Teori ini menjelaskan bahwa organisasi merupakan sebuah struktur yang berkaitan, dan ketika terjadi permasalahan, pemecahan akan permasalahan tersebut menjadi sebuah hal yang penting dan sentral dalam organisasi tersebut. Karl Weick (1979), menekankan pentingnya proses mengorganisir dan bertukar informasi dalam organisasi. Menurut Dominique (2010), keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada komunikasi efektif antara tim yang terlibat, dan diharapkan dapat mengelola informasi dengan akurat.
Konsep Apa Saja yang Termasuk di Dalam Teori Ini?
Terdapat banyak konsep dalam Organizational Information Theory. Mari kita lihat satu per satu.
- Ketidakpastian (Equivocality): Merujuk pada informasi yang ambigu atau membingungkan terkait hal-hal yang relevan bagi organisasi. Konsep ini penting karena ketidakpastian merupakan kondisi alami yang hadir dalam lingkungan organisasi dan dapat mempengaruhi kinerja serta keberhasilan organisasi. Organisasi dianggap sebagai sistem yang menerima informasi yang membingungkan atau ambigu dari lingkungannya dan mencoba memberikan makna pada informasi tersebut.
- Desain Organisasi: Desain organisasi haruslah didasarkan pada upaya untuk mengatasi ketidakpastian tersebut. Desain organisasi yang efektif dapat mengurangi ketidakpastian sebanyak mungkin atau membantu organisasi dalam menghadapinya dengan lebih baik.
- Koordinasi: Terdapat cara koordinasi yang tersedia bagi organisasi untuk mengatasi ketidakpastian. Koordinasi ini dapat mencakup struktur organisasi, prosedur formal, komunikasi informal, dan sebagainya. Setiap koordinasi memiliki kelebihan dan kelemahan dalam menangani berbagai jenis dan tingkat ketidakpastian.
- Penyesuaian dan Adaptasi dengan Lingkungan: Organisasi harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan eksternal mereka. Teori ini dapat membantu sebuah organisasi untuk dapat memahami sebuah permasalahan dan juga tantangan yang mungkin dihadapi oleh organisasi dalam penyesuaian dan relevansinya.
Selain itu, terdapat dua konsep kunci lainnya, yaitu Rules(Aturan) dan Cycle (Siklus). Rules adalah aturan/pedoman dalam organisasi yang digunakan saat mereka memeriksa tanggapan terhadap ketidakpastian informasi. Terdapat beberapa konsep didalamnya, yaitu:
- Duration (Durasi): Keputusan mengenai ketidakpastian harus dibuat dalam waktu sesingkat-singkatnya.
- Personnel (Staf): Pekerja yang paling berpengetahuan harus menyelesaikan ketidakpastian.
- Success (Kesuksesan): Rencana mengurangi ketidakpastian yang sukses di masa lalu akan digunakan untuk mengurangi ketidakpastian saat ini.
- Effort (Usaha): Keputusan mengurangi ketidakpastian harus dilakukan dengan usaha yang paling minim.
Sedangkan Cycle adalah serangkaian perilaku komunikasi yang berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian, yaitu:
- Act (Tindakan): Perilaku komunikasi yang menunjukkan keambiguan seseorang dalam menerima suatu pesan.
- Response(Respon): Reaksi untuk mengurangi ketidakpastian informasi.
- Adjustment (Penyesuaian): Informasi disesuaikan dari hasil respon pengurangan ketidakpastian.
Apa Prinsip yang Digunakan Organisasi Dalam Mengurangi Ketidakpastian?
- Semakin tinggi tingkat ketidakpastiannya, maka semakin sedikit aturan yang ada untuk menguranginya.
- Semakin banyak aturan yang ada untuk mengurangi ketidakpastian, maka semakin sedikit siklus komunikasi yang diperlukan.
- Semakin banyak siklus komunikasi yang dilakukan, maka semakin banyak ketidakpastian yang dikurangi.
Apa Saja Tahap-Tahap Untuk Mengurangi Ketidakpastian (Equivocal)?
- Enactment(Penetapan): Bagaimana informasi akan diterima dan ditafsirkan oleh organisasi. Dalam tahap ini, dibutuhkan sensemaking, yaitu upaya untuk menciptakan pemahaman dalam situasi yang rumit dan tidak pasti.
- Selection (Pemilihan): Memilih metode (aturan atau siklus) yang terbaik dalam memperoleh informasi untuk mengurangi ketidakpastian.
- Retention (Penyimpanan): Penyimpanan informasi untuk digunakan di masa mendatang (evaluasi cara seperti apa yang berhasil untuk digunakan kedepannya dan meninggalkan yang tidak berhasil)
Terus, Kaitannya Apa Dengan Proses Pengelolaan Informasi SIAK WAR?
Tentu saja berkaitan! Kamu masih ingat dengan krisis COVID-19? Terdapat studi-studi sebelumnya yang membahas proses pengelolaan informasi ditengah maraknya keluhan serta informasi palsu yang beredar dengan menggunakan Organizational Information Theory. Sama hal nya dengan krisis registrasi kelas online di FISIP UI, studi ini ingin melihat proses pengelolaan informasi atas berbagai keluhan mahasiswa yang dilakukan oleh Staf Tenaga Kependidikan melalui berbagai konsep, prinsip, serta tahapan yang ada dalam mengurangi ketidakpastian informasi terkait pelaksanaan SIAK WAR. Dengan teori ini, kita dapat melihat bagaimana keluhan yang ada terkait pelaksanaan SIAK WAR kemudian diproses oleh Staf Tenaga Kependidikan untuk dikurangi tingkat ketidakpastiannya dan dicari cara untuk mengatasinya.
Yuk, Gali lebih Dalam Tentang Permasalahan SIAK WAR Ini!
Pada penelitian ini, kami menggunakan Paradigma interpretif, yaitu paradigma yang digunakan untuk memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik, tidak terdapat pemisahan antara realitas yang terjadi, kompleks, dinamis, penuh makna subjektif, dan hubungan antar gejala bersifat timbal balik (Rahardjo, 2018). Paradigma interpretif berperan sebagai sarana untuk memahami interpretasi yang beragam, yang diberikan oleh subjek penelitian mengenai proses organizational information dalam krisis registrasi kelas online di FISIP UI. Dengan demikian, penelitian akan menghasilkan pemahaman komprehensif bahwa segala realitas sosial yang terbentuk pada masalah penelitian sebagai proses yang dinamis dan penuh pemaknaan subjektif.
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan logika induktif, yaitu proses penelitian yang dimulai dari hal-hal khusus dan telah terjadi di lapangan, lalu digunakan sebagai data lapangan yang akan dikaitkan dengan teori. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode studi kasus. Metode studi kasus dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan meningkatkan pengetahuan melalui keterkaitan dengan teori yang telah menjadi logika induktif. Lalu, studi kasus dapat mengamati suatu kasus yang menjadi peristiwa nyata tanpa memberikan perlakuan tertentu sehingga memberikan hasil yang objektif.
Teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai sumber informasi studi kasus dalam penelitian ini adalah teknik wawancara, dengan kerangka metode dan teknik penelitian yang digunakan yaitu wawancara mendalam (in-depth interview). Melalui wawancara mendalam dengan tiga Staf Tenaga Kependidikan FISIP UI sebagai data utama dan 5 Mahasiswa FISIP UI sebagai data tambahan, kami dapat menggali data dan fakta serta opini pribadi narasumber mengenai peristiwa yang sedang diteliti.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu manajemen data, coding data, dan interpretasi data. Hasil temuan data yang diperoleh melalui wawancara akan diproses menjadi transkrip wawancara. Transkrip wawancara akan diproses melalui open coding untuk pemadatan fakta temuan penelitian. Lalu, fakta yang telah dipadatkan akan dikategorisasi sebagai bahan proses analisis terhadap teori.
Triangulasi sumber data menjadi goodness criteriadalam penelitian ini. Kami menggunakan triangulasi sumber data wawancara dari seluruh narasumber, yakni tiga staf tenaga kependidikan dan 5 mahasiswa FISIP UI. Goodness criteriamenjadi hal krusial dalam mewujudkan kepastian dan keabsahan data penelitian sehingga memberikan keakuratan hasil penelitian yang mempengaruhi signifikasi penelitian (Creswell, 2018). Goodness criteriadilakukan melalui triangulasi sumber data yang disesuaikan dengan teknik pengumpulan data. Oleh sebab itu, triangulasi sumber data pada penelitian yang menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, maka dilakukan peninjauan ulang terhadap hasil wawancara seluruh narasumber untuk melihat keselarasan data.
❗PENEMUAN PENEMUAN❗
Sebenarnya Permasalahan Apa sih yang Terjadi Selama SIAK WAR?

Permasalahan yang ada juga membuat mahasiswa menggunakan cara alternatif dalam melakukan SIAK WAR dengan menggunakan joki pengisian atau jasa BOT.
“Dan yang pernah saya dengar juga, salah satunya ada yang mahasiswa hire mahasiswa FASILKOM saat SIAK WAR. Jadi, dengan bot nya itu bisa langsung nentuin pada saat itu juga saat SIAK nya dibuka.”
Staf Tenaga Kependidikan
Udah Tau Masalahnya, Sekarang Proses Pengelolaan Informasi Dari Staf nya Bagaimana?

Staf tenaga kependidikan, dalam mengelola informasi dan mengurangi ketidakpastian informasi telah menerapkan konsep-konsep utama dari Organizational Information Theory. Seperti dalam tahap Enactment, staf tidak memiliki prosedur formal yang terstruktur untuk mengurangi ketidakpastian sehingga mereka mengandalkan siklus komunikasi dengan mengarahkan masalah ke sekretariat atau pihak lain untuk penanganan lebih lanjut dan melakukan sensemaking dengan bertanya lebih lanjut tentang keluhan dan kondisi mahasiswa. Hal ini sesuai dengan prinsip nomor 2 ketika aturan sedikit/tidak ada, maka akan mengandalkan siklus komunikasi.
Pada tahap Act & Selectionkami jadikan satu, yaitu sekretariat secara aktif memeriksa SIAK NG sebagai sumber informasi untuk mengurangi ketidakpastian. Sementara itu, staf non-sekretariat mencari informasi dari sekretariat untuk mengurangi ketidakpastian, sesuai dengan konsep Personnel. Keluhan yang khusus dan mendesak diarahkan ke dosen pembimbing akademik atau wakil dekan untuk penyelesaian lebih lanjut. Response yang diberikan juga, baik dari sistem SIAK NG maupun dari sekretariat, membantu mengurangi ketidakpastian dengan memberikan informasi yang jelas dan langsung. Cara yang dipilih memiliki durasi yang singkat sesuai dengan konsep Duration dan Effort yang minim.
Dalam tahap Adjustment, sekretariat melakukan pemindahan dan penataan ulang kelas serta memberi informasi kepada mahasiswa tentang penyesuaian kuota, sementara kasus khusus memerlukan persetujuan dari dekan atau pihak lainnya. Terakhir, pada tahap Retention, mereka menyimpan data dan hasil evaluasi dalam rapat koordinasi di Google Drive, serta mempertahankan metode komunikasi yang efektif seperti WhatsApp, sambil menghilangkan cara yang kurang efektif seperti penggunaan Twitter sesuai dengan konsep Success. Melalui siklus komunikasi ini, sesuai dengan prinsip nomor 3, terlihat bahwa semakin banyak siklus komunikasi yang dilakukan, semakin banyak ketidakpastian yang dapat dikurangi oleh staf tenaga kependidikan. Tahap ini juga menunjukkan bahwa organisasi melakukan Penyesuaian dan Adaptasi Dengan Lingkungan.
Lantas, Solusi dan Penyelesaiannya Bagaimana?
Untuk saat ini, staf tenaga kependidikan menyebutkan bahwa mereka akan berupaya semaksimal mungkin untuk mempercepat administrasi yang masih bergantung pada kemampuan teknis dari sistem SIAK NG. Selain itu, staf juga menyebutkan bahwa pemerataan kuota kelas harus dilakukan untuk menghindari favoritisme dosen dan menciptakan iklim belajar mengajar yang adil. Cara yang digunakan staf yaitu dengan melakukan menyembunyikan nama dosen pengajar untuk menghindari favoritisme dosen saat SIAK WAR. Upaya lainnya yaitu dengan dengan menstandarisasi cara pengajaran dosen, satuan acara pembelajaran, rubrik nilai, dan lainnya.
Untuk kedepannya, staf menyebutkan bahwa mereka berharap adanya peningkatan jumlah SDM untuk menjadi contact center yang menjawab keluhan mahasiswa terkait masalah SIAK WAR. Dari aspek sistem, staf mengharapkan adanya peningkatan kapasitas server sehingga mampu mengakomodasi administrasi in systemselama SIAK WAR.
Di sisi lain, mahasiswa pun menyampaikan solusi yang harus dilakukan oleh staf tenaga kependidikan. Mahasiswa menyebutkan bahwa staf harus menerapkan keterbukaan informasi tentang pemerataan kuota kelas. Sebab, mahasiswa yang sudah berhasil mendapatkan kelas dengan posisi aman, terkadang masih dapat dipindahkan oleh staf tanpa diberikan kejelasan atau informasi lanjutan. Mahasiswa juga berharap adanya keterbukaan informasi terkait kepastianserverdapat diakses kembali apabila mengalami gangguan atau server down.
Mahasiswa pun menyebutkan, bahwa sebaiknya diberlakukan pemisahan jadwal SIAK WAR bagi setiap fakultas untuk meminimalisir server down atau meningkatkan kapabilitas server. Terakhir, mahasiswa berharap agar permasalahan SIAK WAR ini dapat didiskusikan bersama oleh mahasiswa dan juga staf tenaga kependidikan agar dapat memberikan pengalaman registrasi kelas online yang terbaik bagi mahasiswa.
Jadi, Intinya Apa?
Proses Organizational Information yang dilakukan oleh Staf Tenaga Kependidikan dinilai sudah cukup efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari siklus komunikasi staf yang sudah jelas walaupun tidak ada aturan formal dalam mengurangi ketidakpastian informasi. Karena permasalahan yang ada merupakan permasalahan berulang setiap semester nya, staf pun sudah terbiasa dan membuat informasi/keluhan yang ada menjadi berkurang tingkat ketidakpastiannya.
Dengan kondisi saat ini, staf merasa penyelesaian dari permasalahan yang ada sudah cukup baik mengingat adanya keterbatasan birokrasi seperti penambahan SDM atau kuota kelas. Staf juga merasa bahwa pada akhir periode SIAK WAR, semua permasalahan juga akan selesai, walaupun berproses. Sampai saat ini, mereka belum terpikir permasalahan yang tidak ada solusinya.
Secara penyelesaian, terdapat perbedaan pandangan akan kata “selesai” dari staf dan mahasiswa. Bagi staf, permasalahan SIAK WAR ini selesai ketika mahasiswa sudah tidak mengeluhkan atau mengubah kelas mereka di SIAK NG. Namun, bagi mahasiswa, sebenarnya permasalahan ini belum selesai karena mereka tidak/gagal mendapatkan kelas yang diinginkan akibat dari berbagai permasalahan teknis dan komunikasi yang ada. Mahasiswa tidak mengeluhkan atau mengubah kelas mereka bukan berarti mereka puas, melainkan sudah pasrah atau periode SIAK WAR sudah selesai. Jika mahasiswa memilih untuk tidak mengambil kelas karena tidak sesuai keinginan, maka akan menjadi beban SKS untuk semester kedepannya yang belum tentu mahasiswa berhasil mendapat kelas yang diinginkan karena permasalahan yang terus berulang.
Mahasiswa merasa bahwa seharusnya ketika mereka sudah membayar kuliah, maka mereka berhak untuk mendapatkan kelas, dosen, dan jawal yang diinginkan. Namun bagi staf, hal tersebut merupakan kenyamanan mahasiswa, bukan hak mahasiswa sehingga staf tidak memfasilitasi hal tersebut.
Komunikasi menjadi salah satu faktor utama dalam permasalahan SIAK WAR. Komunikasi dan keterbukaan informasi dari seluruh pihak yang terlibat yaitu mahasiswa, program studi, fakultas, dan universitas sangat diperlukan untuk membuat pengalaman registrasi kelas online yang terbaik bagi mahasiswa dan staf tenaga kependidikan.
Hasil penelitian ini menjadi temuan menarik karena permasalahan SIAK WAR yang dialami bukan karena lemahnya proses pengelolaan informasi, tetapi karena terbatas oleh birokrasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dan pandangan akan penyelesaian yang berbeda antara mahasiswa dan staf tenaga kependidikan. Mahasiswa juga dapat mengetahui bahwa ada beberapa permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh program studi atau fakultas tetapi terhalang birokrasi, dan ada permasalahan yang hanya bisa diselesaikan di tingkat universitas.Untuk penelitian kedepannya, dapat mengulik lebih dalam tiap konsep dan prinsip yang ada dalam organizational information theorydengan informasi yang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi agar dapat melihat proses organizational information nya dengan lebih jelas.
Referensi
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design (5th ed.). SAGE Publications.
Handayani, I., Febriyanto, E., & Kristanti, C. Y. (2019). PERAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN ILEARNING PLUS DI UNIVERSITAS RAHARJA. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 16(2).
Jensen, Jason L. and Robert Rodgers (2001). Cumulating the Intellectual Gold of Case Study Research. Public Administration Review, Vol. 61, No. 2, 2001.
Maritsa, A., Salsabila, U. H., Wafiq, M., Anindya, P. R., & Ma’shum, M. A. (2021). Pengaruh Teknologi Dalam Dunia Pendidikan. Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian Dan Kajian Sosial Keagamaan, 18(2), 91-100. https://doi.org/10.46781/al-mutharahah.v18i2.303
Nopriandi, H. (2018). PERANCANGAN SISTEM INFORMASI REGISTRASI MAHASISWA. JURNAL TEKNOLOGI DAN OPEN SOURCE, 1(1).
Proses Organisasi Informasi COVID-19 Pada Media Sosial Instagram Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2021). https://journal.untar.ac.id/index.php/koneksi/article/view/10189/6958
Rahardjo, M. (2018). Paradigma Interpretif. Repository UIN Malang. http://repository.uin-malang.ac.id/2437/1/2437.pdf
Sujana, I. W. C. (2019). FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN INDONESIA. Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 4(1), 29. https://doi.org/10.25078/aw.v4i1.927
Stake, Robert E. (2005). Case Studies. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (ed), Strategies of Qualitative Inquiry. Second Edition. Thousand Oaks: Sage Publications.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Penerbit Alfabeta Bandung.
View of Government Digital communication Management in facing the health crisis (Case Study on the COVID-19 pandemic in Provincial Government). (2023). https://journalkeberlanjutan.com/index.php/ijesss/article/view/489/455
Weick, K. E. (1979). The social psychology of organizing. McGraw-Hill Humanities, Social Sciences & World Languages.
West, R., & Turner, L. (2009). Introducing Communication Theory: Analysis and application. McGraw-Hill Humanities/Social Sciences/Languages.
Yin, Robert K. (2014). Case Study Research: Design and Methods. Fifth Edition. Thousand Oaks: Sage Publications.





