Abstrak
Penelitian ini mengkaji pemaknaan hubungan romansa yang ditampilkan di media sosial, dengan fokus pada akun TikTok @_shaz yang dikelola oleh influencerShasa Zhania. Melalui analisis konten romantis yang dibagikan Shasa dan pasangannya Gio, penelitian ini berupaya untuk memahami bagaimana para pengguna media sosial, terutama generasi muda menafsirkan dan memaknai hubungan romansa yang diunggah di media sosial tersebut. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk menggali pemahaman mendalam dari tiga informan yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan teknik purposive sampling.
Temuan penelitian ini mengungkapkan variasi dalam frekuensi paparan, tingkatan ketertarikan, serta pandangan terhadap konten romantis yang dipengaruhi oleh tingkat literasi media informan. Beberapa informan menganggap konten tersebut tidak realistis dan terlalu idealis, sementara yang lainnya melihatnya sebagai hiburan yang lucu dan menggemaskan. Selain itu, meskipun menyadari adanya konten bersponsor (endorsed content), pandangan informan terhadap keharmonisan hubungan yang ditampilkan tidak banyak berpengaruh. Penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan antara konsep mainstreaming dan resonance, dimana paparan konten yang sering muncul di media sosial meningkatkan kemungkinan konten dengan resonan dengan khalayak. Namun, resonancetidak selalu tercapai, tergantung pada pengalaman dan harapan pribadi masing-masing individu. Kesadaran dan literasi media memainkan peran penting dalam pemaknaan dan penerimaan konten hubungan romansa di media sosial.
Kata Kunci:Hubungan Romansa, Media Sosial, TikTok, Mainstreaming, Resonance, Literasi Media
Media Sosial dan Citra yang Ditampilkan Content Creator
Saat ini, kehadiran media sosial sudah menjadi sangat lekat dengan keseharian manusia dan mendorong munculnya perilaku baru dalam berbagi informasi, khususnya terkait informasi pribadi. Frekuensi berbagi informasi pribadi semakin tinggi dan jenisnya semakin beragam (Bazarova & Choi, 2014), salah satunya terlihat dari tren A Day in My Lifeyang marak di media sosial Tiktok. Terkait itu, terdapat kecenderungan pada pengguna media sosial untuk hanya mengunggah informasi yang sifatnya positif daripada informasi negatif tentang diri sendiri. Perilaku para pengguna media sosial dalam mempromosikan dan merepresentasikan citra diri yang positif ke publik ini bertujuan untuk mendapatkan umpan balik positif, berupa “likes” dan komentar positif (Schlosser, 2019).
Citra positif ini juga ditampilkan dalam konteks konten yang berkaitan dengan hubungan romansa. Salah satunya terlihat dari Akun TikTok @_shaz atau yang dikenal dengan Shasa Zhania–seorang public figure yang sering membagikan momen romantis bersama pasangannya, Gio. Meskipun demikian, umpan balik terhadap hubungan romansa yang ditampilkan akun TikTok @_shaz ternyata sangat beragam, dari komentar yang bersifat positif, netral, hingga skeptis.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Marston (2024) dan Taba (2020), terkait pemaknaan generasi muda terhadap hubungan romansa yang ditampilkan media yang menunjukkan keberagaman hasil penelitian. Hasil penelitian Marston (2024) menunjukkan adanya kecenderungan informan dalam memaknai hubungan yang ditampilkan sebagai hubungan yang inspirasional, sedangkan hasil penelitian Taba (2020) menunjukkan kecenderungan informan dalam memaknai hubungan sebagai tidak realistis.
Sayangnya, penelitian yang lebih mendalam terkait peran konteks latar belakang ataupun budaya seseorang dalam membentuk makna tentang “hubungan romansa” yang ditampilkan media sosial, khususnya dalam konteks di Indonesia masih sangat minim. Oleh karena itu, kami ingin meneliti bagaimana generasi muda menginterpretasi dan memaknai hubungan romansa yang ditampilkan pada media sosial, dengan mengambil kasus akun TikTok @_shaz.
Adapun terkait signifikansi penelitian ini, terdapat kebaruan konteks media sosial TikTok serta signifikansi peran konteks budaya dan tingkat literasi media dalam memaknai hubungan romansa dalam penelitian ini. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan literasi media dan membantu individu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menginterpretasikan konten yang ada dalam media sosial.
Di Balik Pemaknaan Konten Romantis pada Media Sosial
Interpretasi tersebut kami teliti dengan menggunakan teori kultivasi yang dicetus oleh Gerbner. Asumsi teori ini adalah semakin sering seseorang menyaksikan suatu pesan media, maka semakin besar kemungkinan orang untuk bersikap dan berperilaku sebagaimana ditampilkan dalam pesan (Gerbner, n.d. dalam Griffin, 2019). Terkait intensitas terpaparnya khalayak terhadap sebuah pesan tersebut, khalayak dibagi menjadi light exposuredan heavy exposure(Griffin, 2019). Kemudian dalam studi kasus yang kami teliti, kami juga berusaha melihat bagaimana teori kultivasi terjadi dalam konteks media sosial yang memiliki fitur personalisasi, seperti traffic, algoritma, dan data pribadi yang membuat persepsi khalayak menjadi semakin heterogen (Hermann, et al, 2023).
Adapun konsep hubungan romansa atau romantic relationshipmerupakan hal yang ingin ditelaah secara lebih lanjut menggunakan teori kultivasi media pada penelitian ini. Hubungan romansa yang dimaksud adalah terjalinnya sebuah hubungan antar dua individu melalui interaksi sukarela, saling mengakui, dan memiliki intensitas khas, ditandai dengan ekspresi kasih sayang (Connolly & McIsaac, 2009). Dalam konteks anak muda, hubungan romansa disebut berpacaran, yaitu proses menjajaki kemungkinan pasangan hidup melalui berbagai aktivitas bersama (Benokraitis, 1996). Praktik berpacaran dominan mengarah kepada hiburan yang mudah dijangkau dan memprioritaskan keintiman hubungan(Rabu dan Rongan, 2018; Wardani, 2013). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, mayoritas informan setuju bahwa pacaran memiliki arti sama dengan saling menyukai, memiliki komitmen, dan menjadi support system (Fathia dan Herawati, 2023).
Pada akun TikTok @_shaz, konten-konten romansa yang terdapat di dalamnya cukup mencerminkan definisi dari hubungan romansa juga contoh dari praktik berpacaran yang dikenali oleh anak muda zaman sekarang. Konten-konten yang diunggahnya tersebut dimaknai berbeda-beda berdasarkan bagaimana cara individu dapat memproses sebuah informasi berdasarkan teori kultivasi yang dicetus oleh Gerbner.
Selanjutnya, untuk melihat bagaimana informan memaknai konten Shasa Zhania dan Gio, perkembangan konsep literasi media, yakni literasi sosial media digunakan oleh peneliti. Dalam Cho et al. (2022) terdapat dua komponen yang membentuk kompetensi seorang individu, yaitu konten dan juga kompetensi. Kali ini, kita akan berfokus pada dimensi konten yang terbagi ke dalam tiga dimensi, yaitu The Self, The Medium, dan The Reality. Melalui dimensi The Self, khalayak diajak untuk memiliki kesadaran akan motivasi, ketertarikan, dan niat dalam bermedia sosial karena motivasi yang mereka miliki akan memengaruhi konten yang dikonsumsi dan konsekuensi yang ada. Melalui dimensi The Medium, khalayak konten perlu memiliki pengetahuan bahwa setiap platform media sosial memiliki karakteristik dan interaksi mereka membentuk, memodifikasi, dan menguatkan persepsi realita. Terakhir, ada dimensi The Realityyang mengajak khalayak media untuk menyadari banyaknya realita yang ada di media sosial
Menggunakan teori dan konsep tersebut, penelitian ini ingin melihat bagaimana konsumsi dan pemaparan dari konten-konten romantis pada platform TikTok dapat memengaruhi pemaknaan individu mengenai hubungan romantis. Berdasarkan pada teori kultivasi, dua hal utama yang memengaruhi interpretasi khalayak merupakan mainstreaming dan resonance. Mainstreaming menyatakan bahwa khalayak yang sering mengonsumsi (high exposure audiences) konten-konten romantis pada akun @_shaz akan memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengikuti dan mengadopsi definisi hubungan romantis dari apa yang ditunjukkan oleh Shasa Zhania dan Gio. Sementara itu, resonance menyatakan bahwa untuk seseorang dapat menerima dan menginternalisasi pesan, pesan tersebut harus sesuai dan selaras (resonate) dengan pemahaman yang sudah dimiliki oleh khalayak. Gabungan dari kedua konsep tersebut kemudian dipengaruhi juga oleh konsep literasi media, di mana kemahiran khalayak dalam mengakses dan menganalisis konten media memengaruhi bagaimana mereka akan menyikapi dan menginternalisasikan pesan tersebut ke kehidupan mereka.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivis yang memiliki unsur-unsur bersifat reduksionis, logis, empiris, berorientasi sebab-akibat, dan deterministik berdasarkan teori a priori (Creswell, 2014). Kemudian, pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus karena penelitian ini ingin mengeksplorasi dan memahami secara mendalam akun @_shaz dan konten hubungan romansa di dalamnya.
Proses pengambilan data dalam penelitian ini akan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) yang bersifat semi-structured. Lalu, dalam memilih informan yang akan diteliti, peneliti mengacu kepada salah satu teknik non-random sampling,yaitu purposive sampling.Dengan syarat mahasiswa Ilmu Komunikasi UI dan mengenali akun TikTok @_shaz serta mengetahui konten-konten populernya, khususnya terkait ‘hubungan romantis’. Setelah data terkumpul, data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis naratif (narrative analysis) untuk melihat bagaimana informan memahami dan memaknai kejadian tersebut, dan dampaknya kepada informan.
Adapun, kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas dan kredibilitas penelitian ini adalah transferabilitydan authenticity. Penelitian ini memiliki kriteria transferabilitykarena mengungkapkan deskripsi rinci tentang konteks di mana penelitian dilakukan, yaitu pada lingkup Komunikasi UI dan bagaimana hal ini membentuk temuan-temuan yang ada. Dengan demikian, memungkinkan pembaca untuk membuat penilaian tentang sejauh mana mereka dapat mentransfer temuan ini ke konteks atau kelompok lain. Selanjutnya, penelitian ini memiliki kriteria authenticitykarena mewakili realitas atau pengalaman unik masing-masing partisipan secara akurat dan kredibel. Peneliti memahami konteks budaya dan sosial di lingkup Komunikasi UI serta membangun hubungan saling percaya dengan informan. Dengan demikian, temuan penelitian akan lebih autentik, adil, dan mewakili keunikan pengalaman informan secara akurat.
Intensitas Paparan Konten Romantis TikTok dan Variasi Pemaknaan di Kalangan Anak Muda
Kami menganalisis hasil wawancara mendalam yang dilakukan terhadap tiga informan, yaitu WD (mahasiswa, 21 tahun), ZTR (mahasiswi, 21 tahun), dan MG (mahasiswi, 19 tahun). Berdasarkan ketiga wawancara tersebut kami menemukan beberapa hasil temuan penelitian.
Pertama, terkait perbedaan frekuensi paparan, tingkat ketertarikan informan, dan pola interaksi informan terhadap konten romantis akun TikTok @_shaz. Berdasarkan hasil wawancara terhadap tiga informan ditemukan terdapat perbedaan dan variasi frekuensi paparan konten-konten hubungan romansa yang ditampilkan akun TikTok @_shaz.

Terdapat informan yang memiliki frekuensi paparan konten hubungan romansa yang rendah, yaitu hanya melihat sebentar apabila muncul di FYP-nya (informan WD) serta terdapat informan dengan paparan konten berfrekuensi tinggi, yaitu setiap hari terpapar dengan konten tersebut (informan ZTR dan MG). Kemudian, informan WD juga menunjukkan ketertarikan yang rendah terhadap konten hubungan romantis dibandingkan dengan kedua informan lainnya (informan ZTR dan MG).
Kedua, terkait kesadaran, reaksi, dan pandangan informan terhadap konten romantis milik akun TikTok @_shaz yang bermuatan endorse (sponsored content).Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan ditemukan bahwa ketiganya menyadari apabila sebuah konten bermuatan endorse (sponsored content).

Meskipun menyadari adanya muatan endorse, masing-masing informan memiliki pandangan yang sedikit berbeda dalam menyikapinya. Informan ZTR dan WD lebih terbuka selama penyampaiannya baik, sementara informan MG kurang menyukai jika konten bermuatan endorse terlalu eksplisit.
Lalu, temuan ketiga adalah terkait pemaknaan para informan terhadap konten hubungan romansa akun @_shaz yang dikonsumsinya.

Ditemukan bahwa terdapat variasi pemaknaan konten hubungan romansa. Informan WD menilai hubungan romansa yang ditampilkan tidak realistis, sedangkan informan ZTR dan MG menilai itu merupakan hal yang lucu.
Selain itu, ditemukan juga bahwa konten bermuatan endorseternyata tidak memengaruhi pandangan terkait keharmonisan hubungan romansa yang ditampilkan akun @_shaz oleh informan ZTR dan MG.

Kemudian, dalam penelitian ini ditemukan juga bahwa paparan konten hubungan romansa bukanlah satu-satunya faktor yang membentuk makna atas hubungan romansa yang diharapkan, tetapi pengalaman pribadi juga turut berkontribusi.

Kemudian, dari temuan hasil penelitian tersebut kami menyusun open coding, yang meliputi 4 kelompok kode. Pertama, kelompok pola konsumsi media. Kelompok ini terdiri atas motivasi-motivasi pendorong penggunaan media sosial, bentuk-bentuk interaksi/pola konsumsi dalam media sosial (likes, comments & shares), jenis konten apa saja yang umumnya ditonton pada media sosial, dan frekuensi paparan konten hubungan romansa.
Kedua, kelompok pemaknaan konten hubungan romansa. Kelompok ini terdiri atas pemaknaan positif dan negatif konten milik akun @_shaz, serta pandangan terhadap exposurehubungan romansa pribadi di media sosial.
Ketiga, kelompok harapan dan pandangan terhadap hubungan romansa. Kelompok ini terdiri atas pandangan informan terhadap hubungan yang tengah dijalaninya, pandangan terhadap hubungan romansa yang ideal, serta harapan terhadap hubungan romansa itu sendiri.
Keempat, kelompok perilaku dan pengalaman hubungan romansa. Kelompok ini meliputi,pengalaman-pengalaman pribadi terkait hubungan romansa yang pernah dijalani informan, pola perilaku hubungan romansa yang tengah dijalani informan, serta perilaku yang mengadopsi apa yang ditampilkan oleh akun @_shaz.
Kemudian, empat kelompok open coding tersebut dikelompokkan kembali ke dalam 2 kategori axial coding, yaitu kategori mainstreaming dan resonance.Pengelompokkan axialinidilakukan untuk analisis yang lebih komprehensif tentang pemaknaan dan perilaku khalayak terkait hubungan romansa yang ditampilkan pada media sosial. Kelompok yang termasuk dalam mainstreamingmerupakan persepsi dan sikap yang mungkin terbentuk akibat paparan konten TikTok Shasa dan Gio sedangkan yang termasuk resonancemerupakan sejauh mana konten Shasa dan Gio sesuai dengan pengalaman pribadi individu. Lalu, axial coding ini diabstraksi kembali menjadi selective coding, yaitu konstruksi makna hubungan romansa melalui paparan konten media sosial dan pengalaman pribadi.
Discussion
Cultivation Theorydalam Media Sosial Melalui Kacamata Mainstreamingdan Resonance
Keterkaitan antara mainstreaming dan resonance terletak pada fakta bahwa semakin sering suatu konten muncul di media (mainstreaming), semakin besar kemungkinan konten tersebut memiliki resonance dengan sebagian khalayak. Dengan kata lain, paparan yang lebih besar terhadap suatu konten dapat meningkatkan peluang untuk terjadi resonance dengan pengalaman atau keinginan khalayak. Dalam penelitian ini, data menunjukkan bahwa sebagian informan menilai hubungan yang ditampilkan Shasa Zhania dan Gio sebagai ideal dan menimbulkan keinginan untuk memiliki hubungan serupa. Ini mengindikasikan adanya resonance antara konten tersebut dengan keinginan atau ekspektasi sebagian informan tentang hubungan romantis.
Namun, resonancetidak selalu terjadi meskipun suatu konten telah menjadi mainstream. Sebagian informan lain justru menilai hubungan yang ditampilkan tidak realistis, yang menunjukkan kurangnya resonance antara konten tersebut dengan pengalaman atau keinginan mereka. Dengan demikian, mainstreaming dan resonance saling terkait, dimana mainstreaming dapat meningkatkan peluang terjadinya resonance dengan sebagian khalayak. Namun, resonance itu sendiri juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti latar belakang, pengalaman pribadi, dan keinginan khalayak yang berbeda-beda. Keterkaitan tersebut terjadi pada informan MG dan ZTR yang merupakan high exposure audience. Pada MG, konten Shasa dan Gio membuat dirinya terpikir keinginan agar pasangannya bisa menjadi seperti Gio. Berbeda dari MG, informan ZTR merasakan resonancedari TikTok Shasa dan Gio hanya sebatas sebagai inspirasi aktivitas yang hendak dilakukan dengan pasangannya saat ini. ZTR secara eksplisit mengatakan bahwa konten Shasa dan Gio tidak membentuk persepsinya akan hubungan romansa yang ideal dan menekankan konsep ideal tersebut pada nilai-nilai yang ia miliki saat berada di dalam hubungan dan pengalaman romansanya di masa lampau. Hasil MG dan ZTR menunjukkan adanya perbedaan derajat tingkat kesesuaian konten Shasa dan Gio terhadap pengalaman pribadi mereka. Lalu, informan WD yang merupakan low exposure audience secara terang-terangan tidak merasakan resonancedengan alasan bahwa situasi yang terlihat dalam konten Shasa dan Gio hanyalah bagian yang positif saja dalam hubungan mereka sehingga dikatakan tidak realistis.
Kekurangan dalam penelitian ini terletak pada jumlah informan yang tidak dapat membenarkan konsep mainstreaming. Informan sebanyak tiga orang dengan latar belakang yang homogen tidak dapat dilihat sebagai mainstreamingkarena tidak representatif terhadap keragaman pengalaman dan persepsi yang digunakan untuk menggambarkan pengaruh media secara luas.
Paparan Konten Romansa Shasa Zhania dan Gio pada Perilaku khalayak Highdan Low Exposure
Sedangkan untuk frekuensi paparan konten Shasa Zhania dan Gio terbagi atas dua kategori, yakni low exposure audiencedan high exposure audience.Pembagian kedua kategori ini akan berpengaruh ke bagaimana para khalayak memaknai, menilai, dan mengimplementasikan apa yang mereka konsumsi pada media sosial terhadap kehidupan nyata mereka. Perbedaan dari kedua kategori ini bisa terlihat pada khalayak yang mengikuti akun Shasa Zhania dan tidak mengikuti akun Shasa Zhania pada media sosial TikTok. Tentu saja mereka yang tidak mengikuti akun Shasa Zhania pada TikTok akan kurang terpapar oleh konten Shasa Zhania sehingga dapat disebut sebagai low exposure audience.Pada penelitian ini, informan WD termasuk ke dalam low exposure audience karena Ia tidak mengikuti dan hanya mengandalkan algoritma TikTok-nya untuk mengonsumsi konten Shasa Zhania dan Gio.Melainkan sebaliknya, mereka yang mengikuti akun Shasa Zhania pada TikTok akan lebih sering terpapar oleh konten yang dibuat dan diunggah oleh Shasa Zhania, dan menjadikannya termasuk ke dalam kategori high exposure audience. Yang pada penelitian ini, informan MG dan ZTR termasuk ke dalam high exposure audience dikarenakan mereka mengikuti akun Shasa Zhania dan aktif dalam mengonsumsi konten yang diunggah oleh Shasa Zhania pada media sosial TikTok.
Literasi Media dan Pemaknaan Konten Romansa Shasa Zhania dan Gio
Dengan semakin dikenalnya konten “Tutorial Umur Pendek” yang diunggah Gio tentang hubungannya dengan Shasa Zhania, pasangan Shasa Zhania dan Gio menjadi semakin dikenal oleh banyak orang. Followersmereka di media sosial terus meningkat, dan tidak sedikit merek yang bekerja sama dengan mereka dalam bentuk sponsored content. Dalam menanggapi hal tersebut, kompetensi-kompetensi literasi media diperlukan agar khalayak bisa menginterpretasikan dan memahami konten yang ditonton.
Dalam penelitian yang dilakukan, ketiga informan sadar bahwa beberapa konten Shasa Zhania dan Gio merupakan sponsored contentdan berusaha mempromosikan sebuah merek atau produk. Meskipun demikian, dengan berkaca pada dimensi-dimensi yang telah dibahas sebelumnya, kita bisa melihat tingkat literasi media yang berbeda-beda dari masing-masing informan. Informan ZTR mengungkapkan bahwa Ia sadar akan adanya endorsement, mengetahui motif endorsement, dan tidak merasakan keberatan akan hal tersebut. Berkaca pada dimensi-dimensi dalam konsep literasi media sosial, informan ZTR memiliki pemahaman akan konten yang dikonsumsi dan paham akan konsekuensinya yang sesuai dengan dimensi The Self, selain itu Ia juga memahami karakteristik media sosial yang digunakan untuk mengkonsumsi media sesuai dengan dimensi The Medium. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Ia termasuk seseorang yang melek media.
Informan WD juga mengungkapkan hal yang serupa karena tidak merasa terganggu akan endorsement, akan tetapi Ia mengungkapkan bahwa Ia kerap kali tidak sadar mengenai konten endorsementhingga akhir video. Apabila dibandingkan dengan informan ZTR, Informan WD memiliki tingkatan literasi media yang lebih rendah karena Ia kurang bisa memahami karakteristik media sosial yang digunakan dan tidak mengetahui sebuah konten berbentuk endorsementdi akhir video. Terakhir, informan MG juga berada di level melek media yang serupa dengan informan WD karena walaupun Ia mengungkapkan ketidaksukaannya pada konten endorsement, Ia kerap kali tidak mengetahui bahwa suatu konten merupakan endorsement.
Meskipun demikian, pendapat masing-masing informan terkait monetisasi yang dilakukan oleh Shasa dan Gio tidak memengaruhi bagaimana mereka melihat Shasa dan Gio sebagai sebuah pasangan. Menurut informan, konten yang diunggah Shasa Zhania dan Gio merupakan realita dari hubungan mereka dan bukan merupakan settingan. Informan ZTR menungkapkan bahwa sebagai seseorang yang mengikuti Shasa & Gio dari awal, Ia menganggap bahwa konten yang Ia lihat merupakan realita dari hubungan Shasa & Gio. Informan MG juga mengungkapkan bahwa konten endorsementdan hubungan pribadi Shasa & Gio merupakan hal yang terpisah sehingga konten romansa milik Shasa Gio merupakan konten yang natural (tanpa setting) yang menunjukkan realita hubungan Shasa dan Gio. Hal tersebut menunjukkan bahwa terkait dimensi The Reality, penilaian realisme kedua informan sangat dipengaruhi oleh realitas yang mereka temukan di media sosial, sehingga kebenarannya juga patut dipertanyakan.
Kesimpulan
Penelitian ini berusaha melihat bagaimana konten romansa yang diunggah oleh selebtokShasa Zhania dan Gio pada akun Tiktok mereka masing-masing memengaruhi pemaknaan mahasiswa/i akan hubungan romansa mereka. Viralnya video Shasa Zhania dan Gio menyebabkan berbagai individu mengungkapkan keinginan untuk berada dalam hubungan seperti pasangan tersebut. Oleh karena itu, kami tertarik untuk melihat bagaimana pemaknaan mahasiswa akan konten romansa tersebut.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tiga informan, ditemukan bahwa frekuensi paparan konten memengaruhi bagaimana mereka memaknai hubungan romansa Shasa Zhania dan Gio. Menggunakan teori kultivasi, informan dibagi menjadi khalayak low exposuredan khalayak high exposure. Pada penelitian ini, informan WD termasuk ke dalam low exposure audience karena mengandalkan algoritma TikTok-nya untuk mengonsumsi konten Shasa Zhania dan Gio.Di sisi lain, informan MG dan ZTR termasuk ke dalam high exposure audience dikarenakan mereka aktif dalam mengonsumsi konten yang diunggah oleh Shasa Zhania pada media sosial TikTok dan mengadopsi beberapa perilaku maupun kebiasaan yang dimiliki Shasa dan Gio.
Frekuensi paparan konten tersebut memengaruhi terjadinya resonancepada informan. Terlihat pada informan MG bahwa konten Shasa dan Gio membuatnya memiliki keinginan agar pasangannya agar bisa menjadi seperti Gio. Sedangkan, informan ZTR merasakan resonancedari TikTok Shasa dan Gio hanya sebatas sebagai inspirasi aktivitas yang hendak dilakukan dengan pasangannya saat ini.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konten romansa Shasa Zhania dan Gio tidak memberikan efek pada ekspektasi, dan harapan informan dalam menjalani hubungan. Menurut mereka, pengalaman menjadi kunci dari bagaimana mereka menjalankan hubungan mereka sehari-hari. Meskipun demikian, kami menemukan bahwa konten-konten milik Shasa dan Gio menjadi sebuah acuan, terkait cara berperilaku dalam menjalani hubungan, ide aktivitas untuk dilakukan, dan memunculkan juga harapan.
Penggunaan teori kultivasi dalam penelitian ini tidak dapat dilihat dari segi mainstreamingdikarenakan informan yang terlalu sedikit dan homogen sehingga tidak bisa merepresentasikan efek media secara masif. Oleh karena itu, menjadi sebuah saran untuk penelitian terkait kultivasi media sosial dilakukan dengan informan yang banyak dan heterogen.
Referensi
Bazarova, N. N., & Choi, Y. H. (2014). Self-Disclosure in social media: Extending the functional approach to disclosure motivations and characteristics on social network sites. Journal of Communication, 64(4), 635–657. https://doi.org/10.1111/jcom.12106
Benokraitis, N. V. (1996). Marriages and families (2nd edition) Change, Choices and Constraint. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Cho, H., Cannon, J., Lopez, R., & Li, W. (2022). Social media literacy: A conceptual framework. New Media & Society, 26(2), 941–960. https://doi.org/10.1177/14614448211068530
Connolly, J., & McIsaac, C. (2009). Romantic relationships in adolescence. https://doi.org/10.1002/9780470479193.adlpsy002005
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.
Fathia, A. T. N. I., & Herawati, E. (2023) Pengalaman dan Makna Pacaran Pada Mahasiswa: Studi Fenomenologi. UMBARA: Indonesian Journal of Anthropology, 8(1), 29-87. https://doi.org/10.24198/umbara.v7i2.43048
Griffin, E. M. (2019). A first look at communication theory (10th ed.). International Edition. New York: McGraw-Hill.
Hermann, E., Morgan, M., & Shanahan, J. (2023). Cultivation and social media: A meta-analysis. New Media & Society, 25(9), 2492-2511. https://doi.org/10.1177/14614448231180257
Marston, K. (2022). #Relationshipgoals: fantasies of the good life in young people’s digitally-networked peer cultures. Journal of Youth Studies, 1–19. https://doi.org/10.1080/13676261.2022.2124106
Rabu, P., & Rongan, W. O. (2018). Hubungan Pacaran dengan Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun. Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 19(10), 90-114, 19, 5–24. https://doi.org/10.34150/jpak.v19i10.39
Schlosser, A. E. (2020). Self-disclosure versus self-presentation on social media. Current Opinion in Psychology, 31, 1–6. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2019.06.025 Taba, M., Lewis, L., Cooper, S. C., Albury, K., Chung, K. S. K., Lim, M. S. C., Bateson, D., Kang, M., & Skinner, S. R. (2020). What adolescents think of relationship portrayals on social media: a qualitative study. Sexual Health, 17(5), 467. https://doi.org/10.1071/sh20056





