Analisis Penggunaan Whatsapp Dalam Mereplikasi Komunikasi antara Mahasiswa Perantau dengan Orang Tua
(Sumber foto: Canva AI Image Generator)
Penulis: Ahmad Saeful Anwar, Marcello Wilbert, Arryan Fikri, Gilbert Nathanael Merthe, Ilham Saputra
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses replikasi komunikasi mahasiswa perantau dengan orang tua melalui pemanfaatan fitur-fitur media digital Whatsapp sebagai bentuk computer mediated communication. Kerangka teori yang mendukung penelitian ini meliputi Hyperpersonal Communication Theory, Social Presence Theory, Computer Mediated Communication, dan Family Communication Pattern. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma post positivis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa replikasi komunikasi yang terjadi pada tiap fitur-fitur Whatsapp sangat bergantung pada karakteristik pola komunikasi dengan orang tua yang dimiliki oleh masing-masing informan. Teknik analisis data yang digunakan adalah tahapan koding,mulai dari open coding, axial codinghingganarasi axial. Proses kodifikasi dilakukan melalui penentuan istilah-istilah kunci yang sesuai dan relevan dari verbatim jawaban tiap informan dalam wawancara. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan media komunikasi seperti WhatsApp untuk merancang fitur-fitur yang dapat mereplikasi komunikasi dan meningkatkan pengalaman berkomunikasi jarak jauh secara lebih baik.
Keyword:Mahasiswa perantau, Replikasi komunikasi, Fitur Whatsapp, Komunikasi daring, Pola komunikasi dengan orang tua, Hyperpersonal communication.
Pendahuluan
Fenomena merantau untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi telah menjadi bagian penting dari perjalanan akademik sebagian besar mahasiswa di Indonesia. Perpindahan dari daerah asal ke wilayah yang jauh, khususnya ke kawasan Jabodetabek, tidak hanya menghadirkan tantangan adaptasi lingkungan, tetapi juga berdampak pada dinamika hubungan interpersonal, khususnya antara mahasiswa perantau dan keluarganya. Dalam konteks ini, komunikasi menjadi aspek yang krusial. Ketidakhadiran fisik dalam ruang keluarga sering kali memunculkan kerinduan emosional yang mendorong mahasiswa untuk mempertahankan komunikasi melalui cara-cara baru. Seiring dengan berkembangnya teknologi, media digital seperti WhatsApp menjadi jembatan utama dalam menjalin komunikasi jarak jauh, menggantikan interaksi langsung melalui pendekatan komunikasi berbasis komputer atau Computer Mediated Communication (CMC).
WhatsApp, dengan fitur-fitur seperti pesan teks, panggilan suara, video call, hingga penggunaan emoticon, memungkinkan mahasiswa perantau untuk tetap terhubung dengan keluarga. Namun demikian, efektivitas dari fitur-fitur tersebut dalam mereplikasi kedekatan komunikasi yang semula terjalin secara langsung masih menyisakan pertanyaan kritis. Beberapa mahasiswa merasa fitur tersebut mampu menjawab kebutuhan emosional mereka, sementara yang lain merasa komunikasi menjadi kurang bermakna dan cenderung mekanis. Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana fitur-fitur digital tersebut bekerja dalam konteks komunikasi keluarga yang terpisah jarak.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berangkat dari permasalahan utama mengenai bagaimana komunikasi digital yang dimediasi melalui WhatsApp dapat mereplikasi bentuk komunikasi langsung antara mahasiswa perantau dan orang tua mereka. Adanya pergeseran bentuk komunikasi dari luring ke daring tidak hanya menuntut adaptasi teknologi, tetapi juga adaptasi emosional dan pola interaksi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana mahasiswa perantau menggunakan fitur-fitur WhatsApp dalam menjaga hubungan interpersonal dengan keluarga, serta bagaimana bentuk komunikasi tersebut menciptakan atau mempertahankan kehadiran sosial (social presence). Pertanyaan utama yang hendak dijawab adalah: Bagaimana fitur-fitur WhatsApp mereplikasi komunikasi dengan orang tua mahasiswa perantau Ilmu Komunikasi UI melalui kehadiran sosial yang terbentuk dari Computer Mediated Communication? Dengan menjawab pertanyaan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang makna komunikasi digital dalam kehidupan emosional mahasiswa rantau, serta kontribusi teoretis pada pengembangan kajian komunikasi berbasis teknologi.
Kerangka Konsep dan Teori
Dalam penelitian ini, kami memfokuskan pada penggunaan WhatsApp sebagai replikasi komunikasi antara mahasiswa perantauan dengan orang tua mereka. Dalam hal ini, WhatsApp tidak hanya menjadi alat untuk bertukar pesan, tetapi juga menjadi media yang memediasi kedekatan emosional dalam hubungan jarak jauh. Untuk memahami dinamika komunikasi ini, digunakan pendekatan teori dari Computer-Mediated Communication (CMC) yang menjelaskan bahwa komunikasi melalui perangkat elektronik, seperti ponsel dan internet, memungkinkan terjadinya hubungan interpersonal yang bersifat kompleks. CMC mencakup komunikasi sinkron dan asinkron serta berbagai efek sosial yang ditimbulkannya. Temuan dari Kartini & Ramadhana (2019) mendukung hal ini dengan menunjukkan bahwa CMC berkontribusi sebesar 65,9% terhadap keberlangsungan komunikasi antara mahasiswa perantauan dengan keluarganya.
Selain itu, Teori Hyperpersonal Communication yang diperkenalkan oleh Walther (1996) menjadi landasan penting dalam menjelaskan bagaimana komunikasi melalui WhatsApp dapat menciptakan keintiman yang bahkan melebihi interaksi tatap muka. Melalui fitur-fitur seperti pengaturan waktu respon, pemilihan kata, hingga penggunaan emoji dan stiker, mahasiswa rantau dapat membentuk kesan yang lebih positif dan mengelola citra diri dengan lebih terarah. Hal ini diperkuat oleh penelitian Krisnawati (2024) yang menemukan bahwa pasangan jarak jauh memanfaatkan WhatsApp untuk menjaga keintiman emosional yang mendalam melalui komunikasi yang berkembang dari impersonal menjadi hiperpersonal. Bahkan, dalam skala pekerjaan profesional, Cai (2022) mengungkapkan bahwa penggunaan CMC dapat memperkuat kohesi dan efektivitas tim secara virtual, melampaui komunikasi langsung.
Teori Social Presence juga digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana mahasiswa perantauan merasakan kehadiran emosional orang tua mereka melalui media digital. WhatsApp, dengan berbagai fiturnya seperti pesan teks, panggilan suara, dan panggilan video, menciptakan rasa terhubung yang nyata meskipun jarak memisahkan. Penelitian Oktariani & Palupi (2022) menggambarkan bahwa meskipun terdapat perbedaan gaya komunikasi antar generasi dimana Gen X cenderung memilih suara dan Gen Z memilih teks, namun simbol-simbol kehadiran sosial tetap dapat dibangun dalam komunikasi digital.
Selanjutnya, teori Family Communication Patterns (FCP) digunakan untuk memahami bagaimana struktur komunikasi keluarga mempengaruhi cara mahasiswa rantau berinteraksi dengan orang tua mereka. Pola komunikasi otoriter, demokratis, atau permisif menentukan bagaimana komunikasi yang terbuka terjadi. Azizah, Mahardika, & Najwan (2023) menekankan bahwa pola komunikasi keluarga berperan penting dalam menentukan efektivitas komunikasi jarak jauh. Penelitian Barus & Pradekso (2018) juga mencatat bahwa kesibukan dan hambatan teknis juga memengaruhi intensitas komunikasi antara mahasiswa dan orang tua, yang berpotensi menimbulkan konflik.
Dengan merangkum semua penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa WhatsApp memainkan peran penting sebagai penghubung emosional bagi mahasiswa perantauan. Melalui pendekatan teoritis yang menyeluruh termasuk Computer-Mediated Communication (CMC), Komunikasi Hyperpersonal, Social Presence, dan Family Communication Patterns (FCP), penelitian ini berusaha untuk memahami bagaimana komunikasi yang dimediasi oleh teknologi dapat mereplikasi dan bahkan melampaui interaksi offline dalam menjaga hubungan keluarga yang erat.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan post positivis dengan metode kualitatif studi kasus untuk menjawab pertanyaan penelitian “Bagaimana fitur-fitur WhatsApp mereplikasi komunikasi dengan orang tua mahasiswa rantau Ilmu Komunikasi UI melalui kehadiran sosial yang terbentuk dari computer-mediated communication (CMC)?”. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan untuk melihat lebih mendalam terhadap pengalaman subjektif mahasiswa rantau dalam menggunakan WhatsApp sebagai media komunikasi dengan orang tua. Peneliti mengakui bahwa realitas bersifat tidak absolut dan dipengaruhi oleh perspektif individu, sehingga hasil penelitian tidak ditujukan untuk generalisasi secara luas, melainkan untuk memahami dinamika yang spesifik pada konteks yang diteliti. Desain studi kasus yang digunakan bersifat single case study dengan dua unit kasus, yaitu dua mahasiswa Ilmu Komunikasi UI yang sedang merantau dan menggunakan WhatsApp sebagai media utama untuk berkomunikasi dengan orang tua. Studi kasus instrumental dipilih karena fokus utama penelitian bukan pada individu informan, melainkan pada pemahaman atas pengalaman penggunaan WhatsApp sebagai kanal komunikasi jarak jauh.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi. Wawancara berlangsung secara semi terstruktur agar memungkinkan fleksibilitas penggalian data. Kriteria informan ditentukan secara berbasis kriteria berikut, yaitu: (1) mahasiswa Ilmu Komunikasi UI, (2) sedang merantau dan belum bertemu keluarga selama lebih dari satu bulan, dan (3) secara aktif menggunakan WhatsApp untuk komunikasi keluarga, observasi dilakukan untuk mendukung wawancara. Teknik analisis data dilakukan secara tematik melalui proses koding dan interpretasi. Setelah data wawancara ditranskripsi secara verbatim, proses koding dilakukan untuk mengidentifikasi kata kunci dan kategori yang relevan dengan teori CMC, Hyperpersonal Communication, dan Social Presence. Tahapan ini dilanjutkan dengan interpretasi yang mengaitkan data empiris dengan konsep teoritis, dengan fokus pada tiga perspektif analisis yaitu, koneksi emosional, konten komunikasi, dan gaya komunikasi. Metodologi ini dirancang untuk menangkap makna yang lebih kaya dari tiap interaksi digital, serta menunjukkan bagaimana fitur-fitur WhatsApp berperan dalam mereplikasi bahkan memperkuat komunikasi yang sebelumnya dilakukan secara langsung.
Hasil dan Diskusi
Hasil
Tiap fitur memiliki pemaknaan yang berbeda antar informan
Pertama, fitur Teks memiliki tingkat replikasi komunikasi rendah, tetapi pemaknaan yang berbeda. Informan satu melihat teks sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan singkat, sedangkan informan kedua memanfaatkannya ketika mengungkapkan pesan emosional yang sulit untuk diungkapkan dalam komunikasi langsung. Ini menunjukkan koneksi emosional yang rendah pada kedua informan pada saat menggunakan fitur teks. Meskipun begitu, konten komunikasipada informan satu rendah atau tidak mereplikasi komunikasi langsung, tetapi justru berbeda pada informan dua yang lebih kaya dari segi konten komunikasinya ketika menggunakan fitur teks. Dari aspek gaya komunikasi, informan satu tidak merasakan adanya perubahan cara berkomunikasi ketika menggunakan fitur teks, tetapi informan kedua menyatakan adanya cara berkomunikasi yang lebih formal ketika menggunakan fitur teks.
Kedua, fitur voice calldimanfaatkan untuk penyampaian pesan yang lebih detail untuk informan satu, sedangkan informan kedua cenderung menganggap voice call tidak ideal. Berdasarkan konsep koneksi emosional, kedua informan setuju bahwa adanya komunikasi verbal menjadi jembatan yang lebih baik agar emosi dapat disampaikan. Meskipun begitu, konten komunikasiinforman satu berbeda dengan informan dua ketika menggunakan fitur voice call.Di mana informan satu akan lebih banyak bercerita dengan voice call,tetapi informan kedua justru sebaliknya. Kemudian, gaya komunikasipada informan satu ketika menggunakan voice callbersifat sama dengan komunikasinya secara langsung, tetapi informan dua lebih bersifat tertutup ketika menggunakan voice callkarena adanya hambatan visual yang tidak terlihat.
Ketiga, fitur video callmenurut informan satu maupun informan dua menjadi komunikasi online dengan koneksi emosional yang paling baik. Dari segi gaya komunikasi dan konten komunikasi pula, informan satu dan dua mende]skripsikan pengalaman komunikasi yang kasual selayaknya komunikasi luring. Ini menunjukkan tingginya nilai replikasi komunikasi yang dimiliki oleh fitur video call. Keempat, fitur emoticoncenderung dapat menangkap koneksi emosional secara sepotong, meskipun begitu penyampaian konten komunikasimasih jauh dari kata ideal menurut kedua informan, fitur emoticon tidak dilihat sebagai pengganti pesan komunikasi, tetapi menjadi simbol yang bersifat suplementer. Gaya komunikasiyang digunakan pada fitur emoticon juga bersifat berbeda dengan komunikasi langsung. Meskipun temuan di atas bersifat cukup variatif, baik dari informan yang berbeda maupun konsep yang berbeda, tetapi masing-masing temuan masih merefleksi pola komunikasi yang dimiliki oleh informan dengan keduanya.

Deskripsi bagan:
- Panah Merah: menandai Informan 1
- Panah Biru: menandai Informan 2
- Panah Hitam: menandai apabila kedua informan sama-sama merasakan hubungan yang sama
- Apabila panah tidak menghubungkan antara fitur dan aspek komunikasi, berarti aspek tersebut tidak tereplikasi.
Diskusi
Pemaknaan fitur Whatsapp yang berbeda berasal dari pola komunikasi dengan orang tua
Replikasi komunikasi yang terjadi pada tiap fitur-fitur Whatsapp sangat bergantung pada karakteristik pola komunikasi dengan orang tua yang dimiliki oleh masing-masing informan. Berdasarkan penelitian dari Azizah, Mahardika, & Najwan (2023)dalam jurnal “Pola Komunikasi Antara Anak dan Orang Tua dalam Hubungan Jarak Jauh”dijelaskan bahwa terdapat beberapa jenis pola komunikasi antara anak dengan orang tua, seperti pola komunikasi otoriter, demokratis, dan membebaskan. Apabila dihubungkan dengan penelitian kami, temuan dari jurnal tersebut dapat diperluas dengan menyatakan bahwa tiap jenis pola komunikasi menyebabkan perbedaan dalam replikasi komunikasi yang terjadi pada tiap fitur-fitur Whatsapp. Dalam situasi ketika informan satu memiliki pola komunikasi demokratis dengan orang tuanya. Maka informan satu memiliki pandangan terhadap fitur Whatsapp yang berbeda dengan informan dua yang memiliki pola komunikasi mendekati otoriter dengan orang tuanya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun komunikasi digital menawarkan fleksibilitas dan efektivitas dalam mempertahankan hubungan dengan keluarga, temuan ini juga mengungkap pada masing-masing fitur bisa mereplikasi tiap konsep, baik koneksi emosional, konten komunikasi, dan gaya komunikasi dengan tingkat yang berbeda-beda pula. Temuan dari kedua informan menunjukkan bahwa selayaknya fitur-fitur komunikasi digital, dalam konteks ini Whatsapp, dapat mereplikasi komunikasi dengan orang tua, ternyata pola komunikasi yang sudah terbentuk sebelum merantau juga menentukan bagaimana tiap fitur Whatsapp itu dimanfaatkan.
Keterbatasan fitur Whatsapp dalam mereplikasi komunikasi
Temuan dari informan juga menunjukkan bahwa meskipun komunikasi tetap berlangsung intens melalui media digital, terutama video call, kehadiran fisik tetap tidak tergantikan. Meskipun fitur seperti teks, emoji, voice call, dan video calldapat menjembatani sebagian kebutuhan emosional, tetap ada batas-batas yang menyisakan jarak psikologis antara pengguna dan keluarganya. Hal ini memperlihatkan bahwa ada dimensi dalam komunikasi seperti, kontak fisik, dan ekspresi non verbal secara langsung masih sulit digantikan oleh fitur komunikasi digital apa pun.
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa beberapa fitur Whatsapp, meskipun tidak dapat sepenuhnya menggantikan kedekatan fisik, mampu membangun dan bahkan memperdalam koneksi emosional, seperti yang kami temukan pada informan dua ketika menggunakan fitur teks. Informan kedua mengaku lebih terbuka kepada orang tuanya setelah berkomunikasi secara rutin menggunakan Whatsapp, sebuah temuan yang menunjukkan intensifikasi hubungan interpersonal secara virtual. Penelitian ini juga mendukung temuan dari Oktariani & Palupi (2022) dalam jurnal “Social Presence in Computer-Mediated Communication between Gen X and Gen Z through WhatsApp”, yang menyatakan bahwa media seperti WhatsApp mampu memediasi kebutuhan emosional meskipun tidak menggantikan kehangatan komunikasi luring.

Simpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa rantau memanfaatkan fitur-fitur WhatsApp tidak hanya sebagai alat komunikasi fungsional saja tetapi sebagai sarana menjaga hubungan emosional dengan orang tua. Cara penggunaan fitur seperti teks, voice call, dan video call ternyata sangat dipengaruhi oleh kebiasaan komunikasi dalam keluarga sebelum merantau. Artinya, pengalaman dan pola komunikasi yang sudah terbentuk sebelumnya memengaruhi cara mahasiswa menggunakan media digital. Temuan ini memperluas pemahaman dalam teori komunikasi digital karena menunjukkan bahwa penggunaan teknologi komunikasi tidak hanya bergantung pada fiturnya, tetapi juga pada konteks personal pengguna.
Dari sisi praktik, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pengembang aplikasi komunikasi seperti WhatsApp untuk merancang fitur yang lebih mendukung kebutuhan emosional pengguna. Selain itu, dosen, pembimbing, maupun pihak kampus juga dapat menggunakan temuan ini untuk membantu mahasiswa rantau tetap merasa dekat dengan keluarga, misalnya dengan memberi arahan dalam berkomunikasi yang terbuka dan nyaman lewat media digital. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan dua informan dengan latar belakang serupa sehingga belum mampu mewakili keragaman pengalaman mahasiswa rantau secara menyeluruh. Untuk penelitian selanjutnya dapat dikembangkan dengan melibatkan sudut pandang orang tua untuk melihat dinamika komunikasi dari dua arah. Selain itu, melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia juga penting untuk dapat memahami pengaruh latar belakang budaya terhadap interpretasi fitur-fitur komunikasi digital.
Penelitian jangka panjang disarankan agar dapat melihat perkembangan komunikasi digital antara mahasiswa dan orang tua dari waktu ke waktu. Tidak hanya terbatas pada WhatsApp, penelitian lanjutan juga bisa membandingkan efektivitas platform lain seperti Telegram, Line, atau media sosial lainnya dalam menjaga kedekatan emosional antar anggota keluarga. Fitur-fitur WhatsApp memang tidak bisa sepenuhnya menggantikan komunikasi langsung, namun tetap dapat merepresentasikan sebagian aspek seperti ekspresi perasaan, isi pesan, dan gaya komunikasi. Meskipun tidak sempurna, media digital seperti WhatsApp tetap menjadi penghubung penting antara mahasiswa rantau dan orang tua, tergantung pada pola komunikasi masing-masing individu.
Referensi
Akhirin, O., & Palupi, P. (2022). Social Presence in Computer-Mediated Communication between Gen X and Gen Z through WhatsApp. Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity), 592-605.
Azizah, M., Mahardika, A. P., & Najwan, R. A. (2023, November). Pola Komunikasi Antara Anak dan Orang Tua Untuk Menjalin Hubungan Jarak Jauh. In Prosiding Seminar Nasional Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS) (Vol. 2, pp. 188-197).
Cai, Y. L. (2023). Strengthening perceptions of virtual team cohesiveness and effectiveness in new normal: A hyperpersonal communication theory perspective. Asian Business & Management, 1.
Fadillah, H., & Ananda, A. R. (2024). WHATSAPP SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MAHASISWA RANTAU ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA. Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi, 4(2), 228-237.
Kartini, A. B., & Ramadhana, M. R. (2019). Engaruh Percakapan Bermediasi Komputer Terhadap Pola Komunikasi Keluarga (Studi Pada Mahasiswa Rantau Di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Telkom). eProceedings of Management, 6(3).
Krisnawati, A. A. A. M. (2024). TREN PENGGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI SMARTPHONE TERHADAP HUBUNGAN PASANGAN JARAK JAUH. Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JSTI), 6(3).
Sukmawati, S. (2024). Pola Kendali Komunikasi Bermedia dalam Membangun Kelekatan Antara Orang Tua dan Anak (studi kasus mahasiswa rantau IAIN Parepare) (Doctoral dissertation, IAIN Parepare).
Sulistiyowati, R. (2023). Hubungan Intensitas Penggunaan Media Sosial dengan Interaksi Sosial Tatap Muka pada Mahasiswa. Skripsi. Universitas Katolik Soegijapranata.
Vinny Avilla Barus, A. B. (2018). PERILAKU KOMUNIKASI ANTARA MAHASISWA RANTAU DENGAN ORANGTUA (Doctoral dissertation, Faculty of Social and Political Sciences).
Walther, J. B., Van Der Heide, B., Ramirez Jr, A., Burgoon, J. K., & Peña, J. (2015). Interpersonal and hyperpersonal dimensions of computer‐mediated communication. The handbook of the psychology of communication technology, 1-22.




