Penggunaan AI: Digunakan secara terbatas untuk perapian bahasa dan struktur kalimat (ChatGPT), serta pembuatan ilustrasi visual (OpenAI Image Generator).
Bekasi, 3 Juni 2025—Di era digital yang dibanjiri unggahan prestasi, mahasiswa tidak lagi hanya bersaing di ruang kelas, tetapi juga di media sosial. LinkedIn memamerkan pencapaian magang, lomba, dan organisasi. Instagram Story menampilkan seminar, workshop, dan kegiatan sosial. Tapi di balik citra produktif itu, tak sedikit mahasiswa yang merasa lelah, tertinggal, bahkan tidak cukup.
“Jujur, pasti ada rasa kayak ke-pressure. Soalnya gue ngeliatnya jadi yang kayak, ‘ih kok dia udah sampai sini, sedangkan gue masih stuck di sini aja.’”
— Annisa, mahasiswa FISIP UI.
Fenomena ini dikenal sebagai hustle culture, pola pikir di mana seseorang merasa harus terus bekerja dan terlihat produktif demi validasi, baik dari lingkungan maupun dunia digital. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Indrayanti, M.Si., Ph.D., menyebut hustle culture sebagai pergeseran dari workaholic menuju toxic productivity, di mana individu merasa bersalah jika tidak bekerja keras atau lembur.
“Kalau orang lain kaya gitu, berarti produktif itu yang kerja keras, lembur sampai malam, bawa laptop sampai tiga. Jika tidak melakukan hal seperti itu, lantas menjadi insecure,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran media sosial sebagai pemicu utama. Ketika orang terus membagikan prestasi di platform seperti LinkedIn atau Instagram, kecenderungan untuk membandingkan diri jadi semakin tinggi.
“Apalagi dengan medsos, orang posting prestasi jadi mudah membandingkan diri dengan orang lain. Dampaknya ke isu kesehatan mental,” tambahnya dalam rilis resmi UGM.

(Ilustrasi dan desain oleh penulis. Sumber: Kompas, IDN Times, Unair.)
Standar Mahasiswa Ideal: Nyata atau Ilusi?
Menurut artikel Kumparan, hustle culture membuat mahasiswa merasa gagal jika tidak tampak sibuk. Namun, tak semua mahasiswa merasa perlu ikut dalam arus itu.
“Nggak merasa perlu banget untuk membagikan pencapaian di media sosial karena aku juga nggak terlalu aktif di sana. Tapi kalau di LinkedIn, masih aku pertimbangkan karena lebih relevan untuk hal-hal profesional dan bisa mendukung portofolio juga.”
— Dinda, mahasiswa FISIP UI yang aktif ikut lomba.
Walau jarang unggah, Dinda mengaku sering mendapat dukungan saat berbagi prestasi.
“Banyak yang kasih ucapan selamat atau respon positif kayak ‘congrats’ dan sebagainya, walaupun aku nggak sering upload juga.”
Dampak Psikologis: Insecure, Burnout, dan Tekanan Tak Terlihat
Berbeda dengan Dinda, Annisa mengakui tekanan sosial digital itu nyata. Ia bahkan pernah memaksakan ikut lomba demi terlihat aktif.
“Waktu itu sebenernya gue ngerasa timing gue tuh nggak pas buat ikut lomba. Kita lagi kejar-kejaran waktu. Tapi gue maksain ikut karena ngeliat temen-temen gue udah menang lomba sana-sini. Jadi gue ngerasa kayak, masa iya udah mau lulus tapi belum pernah menang lomba sama sekali?”
“Cuma gue paham, waktu itu sebenernya gue ngejalaninnya juga nggak enjoy, dan nggak maksimal juga karena emang kurang dari segi waktu dan tenaga.”
Annisa menambahkan, standar “mahasiswa ideal” di media sosial sering kali tidak relevan dengan realitas kampus.
“Sebenernya kalau sekarang, gue nggak terlalu bisa mendefinisikan ‘mahasiswa ideal’ itu seperti apa. Karena temen-temen gue, lingkungan sekitar gue tuh, masing-masing punya passion di bidangnya masing-masing.”
Di balik tekanan itu, banyak mahasiswa justru menjadikan media sosial sebagai alat untuk membentuk citra profesional.

(Ilustrasi gambar ini dihasilkan menggunakan teknologi AI dari OpenAI.)
Media Sosial: Alat Branding atau Perang Citra?
Annisa memandang media sosial sebagai kebutuhan profesional.
“Menurut gue sekarang tuh media sosial udah jadi platform gue untuk nge-branding diri. Jadi gue ngerasa wajib buat nge-post tentang achievement atau kegiatan-kegiatan yang gue ikutin.”
Namun, ia juga mengkritisi narasi “produktif = keren” yang justru menekan mental mahasiswa.
“Intinya jangan sampai merasa tertekan. Jangan karena ngeliat orang nge-post ini-itu, lo jadi maksa buat ikut-ikutan posting juga. Padahal sebenernya itu terlalu dipaksain. Just be yourself, nikmatin prosesnya, dan jalanin aja step by step.”
Tekanan dari Luar: Kampus atau Persepsi Sosial?
Tekanan untuk tampil produktif tak hanya datang dari media sosial, tapi juga lingkungan kampus. Annisa menceritakan pengalamannya:
“Iya banget menurut gue. Soalnya kalau di SMA dulu masih ada yang perhatiin, kayak BK atau wali kelas. Tapi kalau di kuliah, kita udah dianggap gede, jadi lebih individualis. Dan gue ngerasa lingkungan kampus tuh lebih nge-push kita buat magang atau aktif, daripada mikirin kesehatan mental.”
Sementara Dinda merasa tekanan lebih berasal dari luar kampus.
“Tekanan untuk produktif menurutku nggak datang dari kampus atau dosen secara langsung, khususnya di Komunikasi UI. Tapi karena membawa nama UI, ada ekspektasi dari luar bahwa kita harus aktif dan berprestasi.”
Di sisi lain, banyak mahasiswa kini memandang magang sebagai tiket utama untuk melamar pekerjaan setelah lulus. Mereka percaya bahwa gelar saja tidak cukup. Kuliah dianggap hanya berisi teori dan omongan dosen, sedangkan “pengalaman lapangan” dipandang sebagai nilai jual sesungguhnya di mata industri.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa semakin banyak pengalaman, semakin tinggi peluang menjadi fresh graduate yang diutamakan. Maka tak jarang mahasiswa mengambil banyak peran sekaligus: magang, kepanitiaan, lomba, freelance, bahkan sambil kerja. Dari sinilah hustle culture mulai tumbuh dan makin diperkuat oleh ekspektasi lingkungan serta standar industri.
Ironisnya, fenomena ini justru menciptakan paradoks berkelanjutan. Lowongan magang kini juga mensyaratkan “pengalaman sebelumnya.” Mahasiswa yang belum pernah magang menjadi kesulitan masuk, sementara yang sudah berpengalaman terus berusaha menambah portofolio agar “lebih dari yang lain.” Kompetisi tak sehat ini menjebak mahasiswa dalam lingkaran produktivitas berlebih yang justru rentan menyebabkan kelelahan mental.
Solusi: Revisi Makna Sukses dan Fokus pada Diri Sendiri
Menurut psikolog klinis Infanti Wisnu Wardani, mahasiswa perlu sadar terhadap kondisi dirinya sendiri dan menetapkan tujuan yang realistis agar tidak terus terjebak dalam kompetisi digital (IDN Times).
Dinda mengatasi ekspektasi dengan realisme:
“Aku berusaha tetap realistis dan tahu kapasitas diri, jadi nggak terlalu membebani diri sendiri.”
Sedangkan Annisa menekankan pentingnya fokus pada jalan hidup sendiri.
“Menurut gue, caranya adalah tetap fokus sama diri sendiri. Karena tiap orang punya jalannya masing-masing. Jadi fokus aja sama apa yang dimau, dan jangan terlalu FOMO. Intinya, jangan FOMO—fokus sama diri sendiri.”
Sukses Tidak Selalu Bersuara Keras
Hustle culture dan FOMO adalah cerminan masyarakat digital yang menuntut produktivitas sebagai bukti eksistensi. Tapi tidak semua perjalanan butuh panggung. Kadang, tumbuh dalam diam jauh lebih damai daripada bersinar dalam tekanan.
Di tengah budaya banding-banding di media sosial, penting bagi mahasiswa menyadari bahwa setiap orang punya kecepatan dan kapasitas yang berbeda. Tidak ada gunanya berlomba jika akhirnya kehilangan diri sendiri.
Karena pada akhirnya, nilai seorang mahasiswa bukan diukur dari seberapa sering ia tampil di LinkedIn, tapi dari seberapa baik ia mengenal, merawat, dan menerima dirinya sendiri.

