Journalight

UI Journalism Studies

Research

Instant Love, Instant Regret? Indonesia College Hookup Culture Unwrapped

“No one’s gotta know, just us and the moon ‘til the sun starts wakin”
“Lowkey”oleh NIKI.

Memasuki quarter life crisismungkin adalah pengalaman yang brutal. Naasnya, nasib ini justru dialami oleh mereka yang baru mulai “dewasa”, yang baru mulai masuk kuliah, yang baru mulai bereksplorasi. Masa kuliah dihiasi dengan tugas yang menumpuk, konflik pertemanan, dan… percintaan yang nggak jelas.Di balik gegap gempita percintaan di kehidupan kampus, muncul satu fenomena yang kerap diperbincangkan: hookup culture.

Hookup culture, atau hubungan seksual tanpa komitmen, perlahan mulai muncul di tengah kehidupan mahasiswa di kota-kota besar. Fenomena ini berkembang bersama dengan meningkatnya penggunaan dating apps populer, seperti Bumble, Tinder, dan sejenisnya. Perubahan nilai-nilai sosial juga turut memengaruhi batasan atas apa yang dianggap tabu. Di tengah pergeseran cara generasi muda membangun hubungan, hookup culturepun menjadi hal yang lumrah.

Bumble Dating App. (Sumber foto: Kiss FM Medan via Google Images)

Akan tetapi, meskipun hookup culturemulai mendapat tempat, tren ini tetap menjadi isu sensitif di Indonesia. Norma sosial dan agama yang kuat membuat perbincangan mengenai seks bebas dianggap tabu. Di tengah tekanan sosial kampus, mereka yang terlibat dalam hookup culturecenderung selektif dalam mengontrol siapa saja yang boleh tahu—karena ini bukan cuma soal urusan pribadi, tapi juga soal reputasi.

Mahasiswa dengan keterlibatan hookup culturepun akhirnya membentuk “lingkaran aman”, tempat mereka bisa berbagi cerita tanpa takut untuk dihakimi. Melalui penelitian ini, kami ingin memahami: bagaimana mahasiswa mengelola informasi mengenai keterlibatan hookupdi lingkungan kampus? Pertanyaan ini menjadi titik awal eksplorasi kami mengenai preferensi mahasiswa dalam mengelola informasi pribadi mereka, khususnya dalam konteks hubungan seksual nonkomitmen, agar tetap sesuai dengan aturan sosial yang berlaku.

Sebelum masuk ke pembahasan “ngaku nggak ngaku”,penelitian ini dilakukan dengan berdasar pada teori Communication Privacy Management(CPM) dari Sandra Petronio. Teori CPM menjelaskan bahwa setiap individu memandang informasi pribadi sebagai sesuatu yang mereka miliki dan punya hak untuk mengatur siapa saja yang boleh mengetahui hal itu. 

CPM berangkat dari tiga asumsi dasar: bahwa manusia adalah pengambil keputusan, pencipta aturan, dan makhluk sosial yang mempertimbangkan orang lain dalam setiap keputusan tentang informasi pribadi. Dengan kata lain, kapan seseorang memilih untuk “bercerita” atau “diam” bukanlah keputusan yang diambil sembarangan, melainkan hasil dari proses sosial yang kompleks. Teori ini terdiri dari lima konsep utama:

  1. Ownership and Control of Private Information,atau singkatnya: “Ini rahasia gue…”.Setiap orang punya hak penuh atas info pribadi mereka. Mereka yang pegang kendali, mereka yang atur siapa tahu apa.
  2. Private Boundaries.Orang punya batas: mana yang bisa dibagi ke luar, mana yang harus tetap privat.
  3. Disclosure as Control. “Gue cerita bukan berarti lo boleh sebar.”.Ngomong atau berbagi info sama dengan bentuk kontrol.
  4. Boundary Turbulence. “Ups, bocor!”,biasanya terjadi saat ada yang nyebarin info tanpa izin, atau aturan main soal jaga privasi nggak dipatuhi dan terjadilah kekacauan. Trustjadi taruhannya.
  5. Dialetics. “Pengen cerita, tapi takut juga.”Ada tarik-ulur batin: pengen terbuka biar lega tapi pengen tetap diam supaya nggak disalahpahami atau di-judge. (Lingkungan kampus keras!)

Hookup culturemuncul sebagai bagian dari pola hubungan modern. Berbeda dari dating cultureyang fokus ke ikatan dan komitmen—dalam hookup,seks justru seringkali jadi pintu masuk. Hubungan dalam hookup culture cepat, sementara, dan tanpa ekspektasi akan berlanjut. Inti dari hookup culturebukan di jenis aktivitasnya, tapi di sifatnya yang nonkomitmen dan serba singkat.

Namun, kemunculannya tidak lepas dari tantangan, apalagi di masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi norma konservatif. Salah satu isu utama adalah stigma sosial. Di tengah standar ganda yang masih kuat, laki-laki sering dianggap kerendan hebatkalau punya teman hookup,sementara perempuan lebih banyak kena getahnya.

Di lingkungan kampus, mahasiswa yang terlibat dalam hookup cultureharus bisa “main aman” dengan selektif dan penuh pertimbangan. Mereka membatasi siapa yang tahu demi menjaga reputasi di tengah norma sosial yang masih ketat. Di kampus-kampus Indonesia, tekanan ini jadi semakin kompleks karena nilai budaya yang kuat juga memperkuat stigma hookup.

Meskipun hookup culturesudah banyak diteliti di luar negeri, penelitian yang membahas bagaimana mahasiswa Indonesia mengelola privasi dalam pengalaman hookupmasih sangat terbatas. Penelitian ini merupakan salah satu kajian baru yang mengangkat topik tersebut.

Beberapa studi memang mencatat perubahan perilaku seksual di kalangan anak muda, tapi belum banyak yang menggali lebih dalam tentang bagaimana mahasiswa Indonesia menyusun strategi untuk mengontrol privasi atas pengalaman hookup mereka. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih banyak membahas perilaku atau dampak kesehatan, penelitian ini memberikan insightbaru dengan melihat bagaimana mahasiswa mengatur privasi komunikasi mereka dalam menghadapi norma sosial, stigma, dan tekanan sosial di lingkungan kampus.

Jadi, ya, this is(uhuk) not a new thing at all… 

Hookup Culture (Sumber foto: The New Yorker via Google Images)

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk memahami pengalaman mahasiswa dalam mengelola privasi terkait keterlibatan mereka dalam hookup culture.Fenomenologi dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam tentang bagaimana mahasiswa merasakan, menafsirkan, dan memaknai keputusan mereka dalam membagikan atau menyembunyikan pengalaman tersebut.

Informan dipilih melalui purposive sampling, lebih spesifiknya homogeneous sampling,yaitu mahasiswa aktif yang pernah atau sedang terlibat dalam hookup culture. Mereka diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai strategi komunikasi yang digunakan dalam mengungkapkan atau menyembunyikan pengalaman mereka.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Pendekatan ini memberi kebebasan bagi informan untuk berbicara terbuka, namun tetap relevan dengan topik. Wawancara berlangsung 45–60 menit, baik tatap muka maupun daring, tergantung kenyamanan informan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, dimulai dari pembacaan transkrip, identifikasi kode, hingga pengelompokan kode. Hasil analisis diharapkan memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana mahasiswa mengelola privasi terkait hookup culturedi lingkungan kampus.

Penelitian ini menemukan empat pola utama yang menggambarkan bagaimana mahasiswa mengelola privasi mereka dalam hookup culture.Lewat wawancara mendalam dengan tiga informan, terungkap beragam cara mereka “main aman”. Masing-masing punya strategi berbeda, tergantung konteks pergaulan, pengalaman pribadi, dan seberapa besar risiko yang mereka rasakan di lingkungan kampus.

Mereka sama-sama setuju kalau ini bukan konsumsi publik.
Semua informan menunjukkan satu hal yang sama: mereka selektif dalam berbagi pengalaman hookupmereka. Nggak ada yang asal cerita ke sembarang orang, informasi ini dibagikan dengan sangat hati-hati hanya ke orang-orang yang mereka benar-benar percaya.

“Aku sangat selektif. Orang-orang yang aku dekat saja yang tahu.”– Informan 2
“… lebih ke my smallest circle, sih, yang bener-bener tahu tentang private life dan pengalaman hookup-ku.” – Informan 1

Tapi yang menarik, strategi ini nggak statis. Salah satu informan mengaku, dulu sempat overshare,apa pun diceritain, tanpa filter. Tapi seiring waktu, makin sadar bahwa enggak semua orang perlu tahu urusan pribadi.

“Pas maba semua hal diceritain, oversharing, terus sekarang ketika sudah di masa-masa semester tua, aku mikir, harusnya nggak usah diceritain karena itu bukan hal yang orang-orang harus tahu.” – Informan 1

Di sini, kita bisa lihat bahwa pengelolaan privasi itu bukan cuma soal menyimpan rahasia, tapi juga soal belajar membatasi, memilah, dan menjaga kendali atas cerita yang menyangkut diri sendiri.

Kalau mereka tahu gue pernah hookup, gue enggak bisa bayangin gimana mata mereka mandang gue”

Sama seperti apa yang diomongin Chappell Roan lewat lagu “Casual”, “I’ve heard so many rumors that I’m just a girl that you bang on your couch”. Hubungan hookupsangat rentan soal stigma. Semua informan mengakui bahwa pengalaman hookup mereka disimpan rapat-rapat bukan tanpa alasan. Ada kekhawatiran besar: takut dihakimi, dipermalukan, atau dicap buruk oleh lingkungan sekitar, mulai dari teman sampai keluarga sendiri.

“Yang pasti dari anggota keluarga, ya. Bisa dibilang aku di keluarga tuh terlihat kayak orang yang nggak macem-macem gitu loh.” – Informan 2
“Kalau misalnya, amit-amit, ada hal kayak spycam… Itu sampai nyangkut ke reputasi aku sebagai mahasiswa.” – Informan 2

Di mata mereka, menjaga privasi bukan cuma soal kenyamanan pribadi, tapi juga perlindungan terhadap citra diri. Risiko sosial yang dirasakan membuat para informan lebih hati-hati dalam berbagi cerita, bahkan membatasi diri dari sekadar spill di lingkaran pertemanan. Karena sekali reputasi rusak, efeknya bisa panjang.

Lingkungan juga berpengaruh.

Lingkungan sosial itu menentukan, dan keras. Norma kampus, budaya jurusan, sampai gaya pertemanan jadi faktor utama yang memengaruhi seberapa terbuka atau tertutupnya seseorang soal pengalaman hookup. Di ruang-ruang yang cenderung konservatif, informan memilih untuk diam dan menjaga jarak. Tapi ketika mereka merasa aman, dikelilingi orang-orang yang nggak nge-judge, cerita jadi lebih mudah mengalir.

“Di lingkungan jurusan aku mungkin nggak terlalu yang menormalize hal itu sih, kayak kita rada-rada strict.” – Informan 1
“Aku cerita ke temen yang bisa nerima, yang tahu cara nanggepin dan nggak nge-judge.” – Informan 3

Jelas bahwa dukungan sosial itu krusial. Bukan karena butuh validasi, tapi karena sometimes, you just need someone to say: it’s okay, I get it. Dan ruang-ruang yang aman semacam itu, walau cuma circlekecil, jadi tempat bernapas, apalagi ketika norma-norma besar di sekeliling terasa menekan.

But, why did they do it?(Bertanya dengan nada lembut)

Cerita tentang hookup culturenggak selalu berat, penuh siksaan—atau bahkan, ringan, santai, dan penuh tawa. Ada motif di balik setiap keterlibatan: ada yang karena rasa penasaran dan pengen “coba-coba”, ada yang jadi pelarian dari luka emosional, bahkan ada yang terjadi karena tekanan atau trauma. Di balik kacamata kalau hubungan hookupitu selalu “fun and wild”,ada sisi gelap yang jarang dibicarakan. Bahkan, salah satu informan mengaku bahwa pengalaman hookup-nya dipicu oleh dendam karena hubungan sebelumnya.

“Harusnya nggak melakukan hal itu karena dilandasi oleh dendam dengan hubungan sebelumnya…” – Informan 1
“Ada juga yang mungkin pengalaman hookup-nya malah nggak konsensual… itu sih yang bikin aku dan teman-teman aku jarang ngebahas hal ini.”– Informan 2

Cerita-cerita seperti ini membuka kenyataan bahwa hookupbukan cuma soal kebebasan masa muda, tapi juga soal rasa bersalah, ketidaknyamanan, dan trauma. Di tengah itu semua, informan juga berhitung matang soal reputasi pasangan. Ada semacam kesepakatan diam atau mutual deterrence untuk saling menjaga privasi, terutama ketika pasangan adalah sosok publik atau cukup dikenal.

“Kalaupun dia sampai membocorkan informasi, ya dia juga ikut rugi sih menurut aku.” – Informan 3
“I respect partner aku karena ini bukan hal yang harus diumbar juga.”– Informan 1

Di sini, privasi bukan cuma tentang diri sendiri, tapi juga tentang saling melindungi, karena satu cerita bocor, bisa rusak dua sisi sekaligus.

To sums up…

Penelitian ini memperlihatkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam hookup culture di lingkungan kampus tidak bersikap pasif terhadap informasi pribadi mereka, justru sebaliknya, mereka menjalankan strategi komunikasi yang sangat selektif dan adaptif. Lewat kerangka teori CPM ditemukan bahwa mahasiswa memiliki kesadaran tinggi akan kepemilikan dan kontrol atas narasi personal mereka, serta membangun batasan yang ketat soal siapa yang boleh tahu dan siapa yang tidak.

Keputusan ini banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran akan stigma sosial, tekanan lingkungan, dan risiko terhadap reputasi, terutama dalam masyarakat yang masih menjunjung norma konservatif. Pada saat yang sama, motif keterlibatan dalam hookup culturejuga tidak bisa disederhanakan, ada yang berangkat dari eksplorasi diri, ada yang lahir dari luka, dan ada pula yang sekadar mengikuti arus sosial.

Temuan ini menegaskan bahwa teori CPM sangat relevan untuk memahami bagaimana mahasiswa Indonesia menavigasi privasi di tengah kompleksitas budaya dan sosial yang mereka hadapi. Lebih jauh, penelitian ini juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana gender, kekuasaan, dan kontrol atas identitas berperan dalam praktik komunikasi di tengah hookup culture,isu yang masih jarang disentuh dalam konteks mahasiswa Indonesia.

Here’s what you should *note*!

1. Try not to be judgmental…setiap individu memiliki motif pribadi yang berbeda-beda dalam terlibat dalam hookup culture.Penting untuk tidak bersikap judgmental, karena apa yang dirasakan dan dipilih seseorang tidak selalu mudah untuk dipahami dari luar.
2. Kalau kamu terlibat dalam hookup cultureyang toksik: penting untuk mempertimbangkan untuk keluar dari hubungan tersebut. Keputusan ini harus didasari oleh pemahaman yang matang, baik itu mengenai dampak emosional, kesehatan mental, atau tekanan sosial yang mungkin timbul.
3. This is (not) a new case, so?Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menggali lebih dalam dinamika sosial yang mempengaruhi keputusan mahasiswa dalam terlibat atau keluar dari hookup culture,serta untuk memahami lebih lanjut bagaimana gender dan kekuasaan berperan dalam membentuk pengalaman tersebut.

Lihat analisis dan infografis di sini:bit.ly/HookupCultureMPKKualitatif

Andine Clorinda Riasty Anggoro, Annisa Ratnadewati Firmansyah, Dinda Naeva Anantri, Qanita Cahya Najmi, Rivanya Zahrashaumi Yandri, Syeni Setyawati Wowor. e-mail: andine.clorinda@ui.ac.id,annisa.ratnadewati@ui.ac.id,  dinda.naeva@ui.ac.id, qanita.cahya@ui.ac.id, rivanya.zahrashaumi@ui.ac.id, syeni.setyawati@ui.ac.id

Al-Abri, N. K., Al-Sharji, R. F., Al-Arimi, M. S., Al-Fahdi, A. K., Al-Zadjal, M. M., & Roy, N. (n.d.). Role of organizational psychology in dealing with human resources and the performance of the organizations. Open Access Library Journal.

Allison, R. (2019). Asking out and sliding in: Gendered relationship pathways in college hookup culture. Qualitative Sociology, 42(2), 199–217. https://doi.org/10.1007/s11133-019-09430-2

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Bryman, A. (2012). Social research methods (4th ed.). Oxford University Press.

Child, J. T., & Agyeman-Budu, E. A. (2010). Blogging privacy management rule development: The impact of self-monitoring skills, concern for appropriateness, and blogging frequency. Computers in Human Behavior, 26(5), 957–963.

Choi, K. W. Y., Choi, E. P. H., Chow, E. P. F., Wan, E. Y. F., Wong, W. C. W., Wong, J. Y. H., & Fong, D. Y. T. (2021). The experience of using dating applications for sexual hook-ups: A qualitative exploration among HIV-negative men who have sex with men in Hong Kong. The Journal of Sex Research, 58(6), 785–794. https://doi.org/10.1080/00224499.2021.1886227

Christou, P. A. (2023). How to use thematic analysis in qualitative research. Journal of Qualitative Research in Tourism. Advance Access. https://doi.org/10.4337/jqrt.2023.0006

Dworkin, S. L., & O’Sullivan, L. (2005). Actual versus desired initiation patterns among a sample of college men: Tapping disjunctures within traditional male sexual scripts. Journal of Sex Research, 42(2), 150–158. https://doi.org/10.1080/00224490509552268

Fielder RL, Carey MP. Predictors and consequences of sexual “hookups” among college students: a short-term prospective study. Arch Sex Behav. 2010 Oct;39(5):1105-19. doi: 10.1007/s10508-008-9448-4. Epub 2009 Jan 9. PMID: 19130207; PMCID: PMC2933280.

Garcia JR, Reiber C, Massey SG, Merriwether AM. Sexual Hookup Culture: A Review. Rev Gen Psychol. 2012 Jun 1;16(2):161-176. doi: 10.1037/a0027911. PMID: 23559846; PMCID: PMC3613286.

Glenn, N., & Marquardt, E. (2001). Hooking up, hanging out, and hoping for Mr. Right. Institute for American Values.

Herrman, A. R., & Tenzek, K. E. (2017). Communication privacy management: A thematic analysis of revealing and concealing eating disorders in an online community. Qualitative Research Reports in Communication, 18(1), 54–63. https://doi.org/10.1080/17459435.2017.1294617 

Hess, A. (2023). Confronting the Toll of Hookup Culture. Institute for Family Studies. Diakses pada 28 Maret 2025, dari https://ifstudies.org/blog/confronting-the-toll-of-hookup-culture

Järvinen, M., & Mik-Meyer, N. (Eds.). (2020). Qualitative analysis: Eight approaches for the social sciences. Sage Publications.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Tahun 2022. Diakses pada 28 Maret 2025, dari https://p2p.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2023/06/FINAL_6072023_Layout_HIVAIDS-1.pdf

Klinger, L. (2016). Hookup culture on college campuses: Centering college women, communication barriers, and negative outcomes. College Student Affairs Leadership, 3(2), Article 5. https://scholarworks.gvsu.edu/csal/vol3/iss2/5

Mason, J. (2017). Qualitative researching (3rd ed.). Sage.

Madarina, F. A. (2023). Budaya Hook-Up pada Online Dating Tinder. Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial, 4(2). https://doi.org/10.30762/asketik.v4i2.973 

Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., & Moules, N. J. (2017). Thematic Analysis: Striving to Meet the Trustworthiness Criteria. International Journal of Qualitative Methods,16(1). https://doi.org/10.1177/1609406917733847 (Original work published 2017)

Paul, E. L., McManus, B., & Hayes, A. (2000). “Hookups”: Characteristics and correlates of college students’ spontaneous and anonymous sexual experiences. Journal of Sex Research, 37(1), 76–88. https://doi.org/10.1080/00224490009552023 

Petronio, S. S. (2002). Boundaries of privacy: Dialectics of disclosure. State University of New York Press. https://www.jstor.org/stable/jj.18255126

Petronio, S. S., & Durham, W. T. (2008). Communication privacy management theory, significance for interpersonal communication. In L. Baxter & D. Braithwaite (Eds.), Engaging theories in interpersonal communication: Multiple perspectives (pp. 309–322). Sage.

Ritchie, J., & Lewis, J. (2003). Qualitative research practice: A guide for social science students and researchers. Sage.

Syakhrani, W. A. (2022). Budaya dan kebudayaan: Tinjauan dari berbagai pakar, wujud-wujud kebudayaan, 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal. Jurnal IAIS Sambas, 5(1), 782–791.

Wells, I., & Giacco, D. (2024, Oktober 31). Theoretical frameworks used to inform qualitative mental health research: A focus on positivism, interpretivism and critical realism. Cambridge University Press.

West, Richard dan Turner, H. Lynn. 2013. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika

Yudha, A. T. (2021). Analisis communication privacy management kaum lesbian “femme” dengan masyarakat lingkungannya (Studi kasus di Kota Medan). Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 4(1), 39–40. https://ejurnal.stikpmedan.ac.id/index.php/JIKQ/article/view/59/48

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *