Journalight

UI Journalism Studies

Opinion

Selat Hormuz Memanas, Harga BBM Naik? Mungkin Bukan Itu Penyebab Utamanya

(sumber foto: dokumentasi pribadi)

Ketegangan kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini dikenal sebagai urat nadi distribusi minyak dunia. Konflik antarnegara di wilayah ini terbukti mampu memengaruhi kondisi geopolitik global secara signifikan. Setiap kali situasi memanas di wilayah ini, satu kekhawatiran pun muncul, yaitu harga energi global akan kemudian melonjak.

Meski terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, dampaknya terasa sangat dekat. Di jalanan kota, antrean di SPBU mulai memanjang. Tarif ojek onlineperlahan merangkak naik. Biaya logistik ikut terdorong. Semua seolah mengarah pada satu kesimpulan sederhana: konflik global membuat hidup menjadi lebih mahal.

Namun, benarkah sesederhana itu?

Arteri Dunia: Selat Hormuz sebagai Pemantik, Bukan Penentu Tunggal

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling krusial dalam distribusi minyak dunia. Dengan lebar titik tersempit hanya 33 kilometer, jalur ini memikul beban distribusi 21 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 21% konsumsi minyak cair global1. Letaknya yang sempit menjadikannya seperti bottleneck, sedikit gangguan saja dapat menghambat aliran pasokan energi global. Ketika konflik terjadi di kawasan ini, kekhawatiran pasar pun langsung meningkat, seolah-olah pasokan minyak dunia berada di ambang kritis.

Kondisi ini membuat Selat Hormuz sering diposisikan sebagai titik paling rentan dalam sistem energi global. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, turut menyoroti keterkaitan tersebut2.

“Ini tidak terlepas dan seiring dengan eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang menuju disrupsi pasokan energi dan menimbulkan kenaikan harga energi secara global.” – Hasan Fawzi (2026)

Pernyataan ini menegaskan bahwa dinamika geopolitik memiliki peran penting dalam membentuk volatilitas harga energi. Namun, dalam praktiknya, harga energi global tidak hanya ditentukan oleh pasokan minyak dunia, melainkan juga oleh tingkat konsumsi yang terus meningkat.

Dalam konteks ini, tingginya kebutuhan energi di berbagai negara justru memperbesar dampak dari gangguan yang terjadi. Artinya, selama permintaan tetap berada pada level tinggi, pasar akan terus berada dalam kondisi rentan, di mana isu geopolitik kecil sekalipun dapat dengan cepat diterjemahkan menjadi lonjakan harga yang dirasakan hingga ke tingkat domestik.

Rantai Reaksi Global: Harga Naik karena Ekspektasi, Bukan Sekadar Konflik

Pasar global seringkali bereaksi lebih cepat daripada peluru. Sebelum satu barel minyak benar-benar hilang dari pasar, sentimen spekulatif sudah lebih dulu mengerek harga. Analis dari Goldman Sachs mencatat bahwa dalam kondisi tegang, harga minyak dunia bisa mengandung premi risiko hingga $10 per barel3. Artinya, kita membayar lebih mahal, bukan karena minyaknya sudah habis, melainkan karena pasar ‘menghargai’ ketakutan akan kemungkinan gangguan di masa depan. Ditambah lagi, premi asuransi kapal tanker bisa melonjak hingga 10 kali lipat saat melewati area konflik4.

Efek ini kemudian merambat ke berbagai sektor lain melalui kenaikan biaya logistik. Distribusi barang menjadi lebih mahal, terutama untuk komoditas yang bergantung pada jalur laut dan udara. Dalam rantai pasok global yang saling terhubung, kenaikan biaya energi di satu titik dapat dengan cepat menyebar menjadi inflasi harga barang di berbagai negara.

Lebih jauh, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap ekspektasi. Ketika konsumsi energi dunia tetap tinggi, ruang untuk menyerap guncangan menjadi semakin sempit. Akibatnya, bukan hanya konflik besar, tetapi juga potensi gangguan kecil sekalipun dapat memicu reaksi berlebihan dari pasar. Pada akhirnya, lonjakan harga energi tidak semata-mata mencerminkan kelangkaan pasokan, tetapi juga mencerminkan tingkat ketergantungan dunia terhadap energi dalam jumlah besar. Selama konsumsi tetap tinggi, pasar akan terus berada dalam kondisi rentan terhadap kepanikan kolektif.

Keresahan Publik, Tanpa Perubahan Perilaku

Pada tingkat masyarakat, keresahan semakin nyata di ruang publik. Perasaan ini merupakan akumulasi dari ketidakpastian harga minyak yang terus meningkat. Namun, faktor global dan nasional bukan satu-satunya penyebab. Gaya hidup konsumtif turut memperparah krisis energi, terlihat dari dominasi penggunaan kendaraan pribadi meski alternatif transportasi umum tersedia.

Pada data BPS 2025, jumlah kendaraan di DKI Jakarta mencapai lebih dari 9 juta sepeda motor dan 2 juta mobil5. Tingginya penggunaan ini mendorong konsumsi minyak hingga 1,5–1,6 juta barel per hari, dengan sekitar 1 juta barel masih harus diimpor6. Pertanyaannya, mengapa masyarakat masih enggan beralih ke transportasi publik?

“Subsidi BBM tidak selamanya dapat membantu karena lama-kelamaan biayanya akan naik juga secara drastis. Semoga enggak sih…tapi udah bisa mulai dibiasakan untuk mengurangi kendaraan bermotor dan mengubahnya ke pilihan alternatif seperti transportasi umum atau bahkan naik sepeda dan jalan kalau ga jauh.” – Marvel Yosia Budianto (2026)

Kesadaran sebenarnya mulai muncul. Marvel (23), pekerja swasta, menyatakan pentingnya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Namun, ia tetap menggunakan motor karena akses transportasi umum belum merata. Kondisi ini mencerminkan dilema umum: ada keinginan berubah, tetapi terbatas oleh sistem.

Keinginan untuk mengubah perilaku dalam memilih moda transportasi masih menjadi tergolong rendah, terutama di Jakarta sebagai pusat dari berbagai kegiatan industri dan perkantoran (hub district). Mayoritas pekerja masih menggunakan kendaraan pribadi, dengan persentase mencapai 69–80% dibandingkan transportasi umum7. Maka, dapat disimpulkan bahwa satu hal tetap konstan, yaitu pola konsumsi energi nyaris tidak berubah.

Kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan utama. Jalanan tetap padat. Konsumsi BBM tetap tinggi.

Suara dari Aspal: Dampak Terasa, tapi Respons Masih Konsumtif

Kenyamanan kendaraan pribadi, tuntutan mobilitas yang cepat, hingga kebiasaan urban yang tidak ramah efisiensi energi membentuk pola konsumsi yang sulit ditekan. Keluhan pun bermunculan, baik di percakapan sehari-hari maupun media sosial. 

Dalam membahas lifestyle, terdapat keterkaitan antara pola mobilitas (penggunaan kendaraan pribadi atau transportasi umum) dengan gaya hidup umum yang konsumtif (mall, tempat wisata, kedai kopi, dan sebagainya). Efek dari penutupan Selat Hormuz pun tidak berpengaruh besar terhadap tingginya biaya energi bumi di Indonesia saat ini dan lebih condong dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif masyarakatnya. Dosen Sosiologi FISIP UI, Yosef Hilarius Timu Pera, S.Sos., M.Si. memperkuat pernyataan tersebut dengan menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi energi.

“Tanpa menyebut Hormuz (Selat Hormuz) pun menurut saya perlu dirubah dalam penggunaan energi fosilnya. Perlu adanya perubahan pola konsumsi untuk meningkatkan daya tahan ekonomi.” – Dr. Yosef Hilarius Timu Pera, S.Sos., M.Si. (2026)

Masyarakat urban saat ini cenderung terkungkung dalam gaya hidup konsumtif. Kondisi ini menciptakan fenomena unik, ketika harga BBM naik, permintaan masih tetap tinggi karena masyarakat merasa tidak memiliki alternatif yang memadai untuk mempertahankan standar hidup yang dianggap “layak” secara sosial. Dr. Yosef Hilarius Timu Pera, S.Sos., M.Si., juga mencatat bahwa kelas menengah kerap kali membiayai gaya hidupnya bukan semata dari penghasilan yang mencukupi, melainkan dengan menggerus tabungan agar kualitas hidupnya tidak terlihat menurun.

“Uang kita cukup untuk hidup, tapi uang kita tidak pernah cukup buat gaya hidup. Secara sosiologis, yang harus disesuaikan adalah lifestyle.”  – Dr. Yosef Hilarius Timu Pera, S.Sos., M.Si. (2026)

Permintaan BBM yang terus tinggi di tengah gejolak global membuat anggaran negara terbebani oleh subsidi8. Akibatnya, ruang fiskal menjadi semakin terbatas sehingga alokasi dana untuk sektor lain harus diprioritaskan secara selektif. Dalam praktiknya, kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap mendapat perhatian besar, meskipun efektivitasnya dalam menurunkan angka stunting nasional masih menjadi perdebatan. Pada akhirnya, masyarakat yang menanggung dampaknya melalui kenaikan biaya hidup di berbagai sektor, mulai dari harga pangan hingga biaya pendidikan yang semakin mahal9.

Dengan demikian, selama permintaan tetap tinggi, harga energi akan selalu rentan meningkat, baik dalam kondisi konflik di Selat Hormuz maupun tidak. Selat Hormuz mungkin jauh secara geografis, tetapi dampaknya terasa nyata karena gaya hidup masyarakat yang belum mampu lepas dari ketergantungan pada energi fosil. Kondisi ini seharusnya menjadi momen reflektif bagi pemerintah dan masyarakat: sudahkah kita bergerak menuju kemandirian energi atau kita masih nyaman dalam ilusi konsumsi yang rentan?

Penulis: Annisa Keya Dinanti, Davin Yosua Budianto, Zefanya Nathaline Ginting

Daftar Referensi

  1. Aisyah, N. (2025). Fakta Selat Hormuz yang Terancam Ditutup oleh Iran, Jalur Vital Minyak Dunia. detikcom. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7978547/fakta-selat-hormuz-yang-terancam-ditutup-oleh-iran-jalur-vital-minyak-dunia  ↩︎
  2. Permatasari, I. (2026). IHSG Melemah Akibat Geopolitik Timur Tengah di Awal April 2026. Asatunews.co.id. https://www.asatunews.co.id/ihsg-melemah-geopolitik-april-2026#:~:text=%22Ini%20tidak%20terlepas%20dan%20seiring%20dengan%20eskalasi,dan%20menimbulkan%20kenaikan%20harga%20energi%20secara%20global↩︎
  3. Anil, A., Maler, S., & Adler, L. (2025). Goldman Estimates Geopolitical Risk Premium of Around $10 per Barrel for Brent After Prices Rise. Reuters. https://www.reuters.com/business/energy/goldman-estimates-geopolitical-risk-premium-around-10-per-barrel-brent-after-2025-06-18/  ↩︎
  4. Mathew, G. (2026). War Risk Insurance Costs Spiral Upwards as West Asia Conflict Escalates. The Indian Express. https://indianexpress.com/article/business/insurance-costs-spiral-upwards-as-west-asia-conflict-escalates-10580435/  ↩︎
  5. Badan Pusat Statistik Indonesia. (23 Februari 2026). Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Provinsi dan Jenis Kendaraan (unit), 2025. Diakses pada 10 April 2026, dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VjJ3NGRGa3dkRk5MTlU1bVNFOTVVbmQyVURSTVFUMDkjMw==/jumlah-kendaraan-bermotor-menurut-provinsi-dan-jenis-kendaraan–unit—2023.html?year=2025 ↩︎
  6. Adri, A. (2026, March 27). BBM kian sering gonjang-ganjing, dekarbonisasi otomotif makin urgen. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/kerentanan-energi-transformasi-otomotif-tak-bisa-ditunda ↩︎
  7. Rahman, D. F. (2022, April 7). Pekerja RI lebih banyak naik kendaraan pribadi dibanding angkutan umum. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/transportasi-logistik/statistik/663fdacb65e0a4a/pekerja-ri-lebih-banyak-naik-kendaraan-pribadi-dibanding-angkutan-umum ↩︎
  8. Wallerstein, I. (2011). The modern world-system I: Capitalist agriculture and the origins of the European world-economy in the sixteenth century. University of California Press.  ↩︎
  9. Nugroho, L. (2026, Januari 22). Hormuz 2026 dan Alarm Ketahanan Energi Indonesia. Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.com/global/read/2026/04/09/091321570/hormuz-2026-dan-alarm-ketahanan-energi-indonesia?page=all  ↩︎

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *