I Came Prepared for Absolution if You’d Only Ask: Studi tentang Negosiasi Label dalam Hubungan Tanpa Status pada Mahasiswa FISIP UI
Profil peneliti: Adinda Putri Indika (adinda.putri35@ui.ac.id), Calya Fildza Athaya (calya.fildza@ui.ac.id), Elisa Grace Chrisanty (elisa.grace@ui.ac.id), Karinadia Prima Adinta (karinadia.prima@ui.ac.id),Tiara Arjuna Farhaniah (tiara.arjuna@ui.ac.id)
Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, cara generasi muda memaknai hubungan romantis mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya relasi cenderung dipahami dalam kategori yang jelas seperti “pacaran” atau “teman” dan bergerak dalam alur yang linier, kini muncul berbagai istilah baru seperti Hubungan Tanpa Status (HTS), situationship, talking stage, dan no label relationship. Istilah-istilah tersebut merefleksikan bentuk relasi yang lebih cair, fleksibel, dan tidak selalu mengarah pada komitmen formal (Arora & Batra, 2026; Singh, 2025). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa relasi semacam ini umumnya ditandai oleh batas hubungan yang tidak jelas, komitmen yang ambigu, serta ekspektasi yang tidak selalu dikomunikasikan secara terbuka (Dewari, 2024; Pushkar & Singh, 2023; Langlais et al., 2024). Akibatnya, individu sering kali harus menafsirkan sendiri makna dari perhatian, perilaku, maupun komunikasi yang diberikan oleh pasangannya.
Menariknya, meskipun penuh ketidakpastian, relasi tanpa label justru semakin dinormalisasi di kalangan anak muda (Gupta, 2024; Anderson & Phillips, 2026). Perkembangan teknologi dan budaya kencan digital turut memperkuat fenomena ini dengan menciptakan lebih banyak pilihan pasangan sekaligus mendorong individu untuk mempertahankan fleksibilitas dalam hubungan (Collins & Horn, 2018; George, 2024). Di sisi lain, berbagai penelitian juga menemukan bahwa ambiguitas dalam relasi dapat memunculkan kebingungan emosional, kecemasan, serta ketidakselarasan ekspektasi antar pasangan (George, 2024; Singh, 2025). Dengan kata lain, persoalan dalam relasi tanpa label tidak semata-mata terletak pada ada atau tidaknya komitmen, tetapi juga pada bagaimana individu mengomunikasikan dan mendefinisikan hubungan yang mereka jalani.
Walaupun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada dampak psikologis, pengalaman individu, atau karakteristik relasi yang ambigu. Belum banyak studi yang melihat bagaimana istilah seperti situationship atau HTS digunakan sebagai bagian dari proses negosiasi hubungan dalam komunikasi interpersonal. Padahal, penggunaan maupun penghindaran label tertentu dapat menjadi cara bagi individu untuk mengelola ekspektasi, menetapkan batas relasi, atau justru menghindari pembicaraan mengenai komitmen. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya memahami bagaimana generasi muda menegosiasikan hubungan romantis melalui penggunaan label relasi dalam interaksi sehari-hari. Dengan menempatkan relasi tanpa label sebagai arena negosiasi interpersonal, penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam kajian komunikasi interpersonal mengenai dinamika romansa kontemporer di kalangan generasi muda.
Kerangka Konsep
Dalam kajian Ilmu Komunikasi, negosiasi hubungan dapat dipahami melalui konsep self-disclosure atau keterbukaan diri. Konsep ini merujuk pada proses ketika seseorang mengungkapkan informasi personal, perasaan, pengalaman, maupun harapan kepada orang lain dalam sebuah hubungan interpersonal. Salah satu teori yang menjelaskan proses tersebut adalah Social Penetration Theory yang dikembangkan oleh Altman dan Taylor (1973). Teori ini memandang perkembangan hubungan sebagai proses yang berlangsung secara bertahap, dimulai dari percakapan yang bersifat dangkal hingga mencapai tingkat keterbukaan yang lebih intim. Menurut Altman dan Taylor, keterbukaan diri dapat dilihat melalui dua dimensi, yaitu breadth (keluasan topik yang dibicarakan) dan depth (kedalaman informasi yang diungkapkan). Semakin luas dan mendalam proses self-disclosure, semakin besar pula kemungkinan terbentuknya kedekatan dalam hubungan interpersonal.
Namun, dalam konteks relasi tanpa label, keterbukaan diri tidak selalu berjalan secara utuh. Ada perasaan, ekspektasi, atau ketidakpastian yang kerap disimpan dan tidak diungkapkan kepada pasangan. Oleh karena itu, penelitian ini juga menggunakan model Johari Window yang diperkenalkan oleh Luft dan Ingham (1955). Berbeda dengan Social Penetration Theory yang lebih menekankan perkembangan kedekatan melalui keterbukaan, Johari Window membantu menjelaskan adanya hidden area, yaitu wilayah yang berisi informasi yang diketahui individu tetapi sengaja tidak dibagikan kepada orang lain. Konsep ini menjadi relevan untuk memahami relasi tanpa label, karena negosiasi hubungan sering kali terhambat bukan hanya oleh kurangnya komunikasi, tetapi juga oleh perasaan, harapan, atau definisi hubungan yang dipendam. Dengan demikian, penggunaan Social Penetration Theory dan Johari Window dalam penelitian ini saling melengkapi untuk menjelaskan bagaimana keterbukaan maupun ketidakterbukaan diri memengaruhi proses negosiasi dalam hubungan tanpa label.
Metodologi

Hasil Temuan
Penelitian ini melibatkan empat informan dari dua relasi tanpa status: IN dan MF (yang saling berpasangan), serta SM dan AR (yang saling berpasangan). Keempatnya memberikan perspektif masing-masing atas pengalaman menjalani hubungan tanpa label yang jelas.

Tema 1. Pembentukan Kedekatan dalam Relasi Tanpa Label
Dari data keempat informan, kedekatan selalu berawal dari aktivitas bersama yang intensif dalam konteks sosial yang sama, sejalan dengan tahap orientation dalam Social Penetration Theory (SPT). IN dan MF menjadi dekat karena terlibat dalam satu divisi di acara Gelmab sejak November 2024, sementara SM dan AR bermula dari proyek UAS mata kuliah MPKT yang mengharuskan mereka bekerja sama.
UAS tuh akhirnya kita jadi deket gara-gara UAS MPKT kan harus bikin proyek. —SM
Kondisi ini menciptakan frekuensi interaksi tinggi yang menjadi “pintu masuk” bagi pembentukan relasi secara lebih dalam. Setelah momen formal berakhir, intensitas interaksi justru tidak berkurang. SM menyebut keduanya tetap mengobrol setiap hari, sementara IN dan MF mulai sering bepergian bersama meski aktivitasnya “udah bukan wajib gitu loh”.
Memasuki tahap exploratory affective exchange, interaksi mulai melampaui batas pertemanan. SM menggambarkan kedekatannya dengan AR terbentuk dari kesamaan minat, seperti “kita tuh taste musiknya sama, terus kita juga suka nonton film” yang berkembang jadi rutinitas menonton bersama lewat Discord. Pada pasangan IN-MF, MF mulai menyatakan perasaan romantisnya, sementara IN mengakui mulai muncul “pergerakan atau action” dari MF yang membuatnya mempertanyakan batas pertemanan: “Kayaknya teman nggak mungkin kayak gini deh… Jadi kayak mulai muncul-muncul pergerakan atau action dia yang kayak aku questioning gitu.”
Namun, pada saat yang bersamaan, keempat informan menghadapi hambatan komitmen yang bersifat personal. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada Tema 2, karena hambatan-hambatan ini justru menjadi dasar dari ambiguitas hubungan yang terbentuk.
Pertemuan antara intensitas interaksi yang tinggi dan hambatan komitmen inilah yang menciptakan ruang relasi “abu-abu”, yaitu hubungan yang secara perilaku sudah mendalam, tetapi secara simbolis belum terdefinisi. Hal ini tampak jelas dari pengakuan SM: “kita ngelakuin semua hal yang orang pacaran lakuin.”
Tema 2. Asimetri Self-Disclosure dan Ambiguitas Identitas Relasi
Hasil wawancara menunjukkan bahwa di balik kedekatan yang terbentuk, masing-masing informan menyimpan alasan personal yang sebagian besar tidak terkomunikasikan secara terbuka kepada pasangannya, mengenai ketidaksiapan untuk berkomitmen. Kondisi ini mencerminkan hidden area dalam Johari Window, di mana sebagian motif dan kekhawatiran hanya diketahui oleh diri sendiri.
Pada pasangan SM dan AR, ditemukan setidaknya tiga alasan berbeda yang melatari keengganan masing-masing untuk berkomitmen. Namun tidak semuanya saling diketahui secara penuh. SM menyebutkan perbedaan agama sebagai salah satu hambatan utama:
“Jujur, jadi sebenernya alasan kita gak mau pacaran juga gara-gara kita beda agama.” — SM
Selain itu, SM memegang prinsip date to marry—ia hanya ingin berpacaran dengan seseorang yang memiliki prospek jangka panjang. Di sisi lain, AR sendiri menyatakan secara langsung bahwa ia belum ingin berpacaran, dengan alasan ingin sendiri terlebih dahulu. AR digambarkan oleh SM sebagai pihak yang “belum ready“, dan ketika ada kesalahan dalam hubungan, AR cenderung mengaitkannya dengan ketidaksiapannya sendiri.
Hal serupa, namun dengan pola berbeda, terjadi pada pasangan IN dan MF. IN sadar ia belum lama mengakhiri hubungan sebelumnya dan masih menganggap MF sebagai teman pada awalnya, namun memilih bersikap no expectation, tidak secara aktif mengomunikasikan batas yang ia inginkan. Sementara itu, MF merasa tidak punya hak dan tanggung jawab untuk cemburu atau memvalidasi perasaan IN selama berstatus HTS, sebuah persepsi yang juga tidak sepenuhnya diketahui IN.
Asimetri keterbukaan ini pada akhirnya memunculkan paradoks identitas relasi: hubungan terasa menyerupai pacaran secara perilaku, tetapi tidak dapat secara jelas disebut pacaran secara simbolis. IN menggambarkan kebingungannya: “Aku jawab temen aja sih. Karena ya bingung juga jawabnya pakai HTS, kayak enggak deh, tapi kalau jawab pacaran, enggak juga.” Sementara MF menyadari bahwa perlakukannya kepada IN berbeda dari teman-teman lain, dan orang-orang di sekitar mereka pun memperhatikan hal itu.
Pada pasangan SM dan AR, ambiguitas ini terasa lebih kentara dalam bahasa sehari-hari mereka , keduanya saling menyebut “cowok gue” atau “cewek gue”, namun kebingungan langsung muncul ketika ditanya soal status resmi:
“Eh iya dia cowok gue, dia cewek gue, kayak gitu loh. Tapi kayak… kalau misalnya ditanya kayak ‘Oh udah ditembak?’ Kita bakalan kayak eh…” — SM
Ketidakjelasan ini bukan sekadar kebingungan sesaat, melainkan kondisi berkepanjangan yang akhirnya mendorong masing-masing pasangan mencari cara untuk menamai atau menegosiasikan apa yang sebenarnya mereka jalani.
Tema 3. Label sebagai Strategi Negosiasi Makna dan Ekspektasi Relasi: Dua Pasangan, Dua Lintasan Berbeda
Ketidakjelasan identitas hubungan mendorong individu untuk menegosiasikan label, baik secara eksplisit melalui pembicaraan langsung maupun secara implisit melalui pola interaksi sehari-hari. Namun, dari dua relasi yang diteliti, ditemukan dua lintasan (trajectory) negosiasi yang sangat berbeda hasilnya.
Pasangan IN dan MF: negosiasi menuju kejelasan status.
Pada pasangan ini, negosiasi diinisiasi secara sadar oleh IN. IN merasa tidak bisa terus memberikan ambiguitas kepada MF, sehingga memberikan closure bahwa ia belum siap melanjutkan ke tahap pacaran:
“Tapi di satu sisi aku juga ngerasa kayaknya egois kalau misalnya aku tetap lanjutin hubungan ini… Jadi pas itu aku kayak terang-terangan buat ngasih kayak closure gitu.” — IN
Paradoksnya, justru setelah momen closure itu, yang sempat membuat keduanya lost contact selama dua bulan, proses menuju pacaran justru berlangsung. Setelah reconnect pada September, keduanya akhirnya resmi berpacaran pada November, melalui proses HTS on-off yang berlangsung sekitar satu tahun. Pada pasangan ini, depth of penetration (SPT) berlanjut hingga mencapai stable exchange. MF menyebut bahwa setelah resmi pacaran, hal-hal yang dulu tidak bisa dibicarakan kini bisa diutarakan secara terbuka, membuat hubungan terasa “lebih terbuka dan lebih sehat”.
Pasangan SM dan AR: negosiasi yang berujung pada disonansi persepsi.
Pola pada pasangan ini sangat berbeda. Tidak ada pembicaraan eksplisit dan terbuka yang mengarah pada kesepakatan bersama soal status hubungan. Yang terjadi justru proses depenetration atau penurunan intensitas hubungan. SM menggambarkan momen ketika harapannya akan kejelasan status terus tertunda:
“Setelah itu kan aku getting my hopes up… Jadi aku tuh tagih, ‘eh lu jadi nih nembak gue?’… Terus dia kayak ‘Udah ada tanggalnya sih,’ ‘udah ada pikirannya sih’… Cuman gak dilanjut-lanjutin.” — SM
Pada akhirnya, SM sendiri yang mengambil langkah untuk menurunkan intensitas hubungan: “Terus abis itu akhirnya kayak, akhirnya kita kayak yaudah kita temenan aja yuk, gitu.” Namun, ketika ditanya soal label yang tepat untuk menggambarkan hubungan mereka, SM sendiri masih kesulitan: “Iya, tapi… tapi gak jelas deh. Apa ya, bahasanya? TTM?”
Menariknya, AR justru memandang TTM sebagai label yang paling mendekati realitas hubungan mereka, sebuah istilah yang ia sebutkan dengan cukup yakin, meski mengakui istilah itu pun tidak sepenuhnya akurat:
“Bingung sih jadi istilahnya, tapi kayak paling mendekati kayak TTM.” — AR
Perbedaan ini menunjukkan adanya disonansi persepsi antara SM dan AR: SM mengalami proses depenetration sebagai langkah “mundur” yang belum menemukan nama yang pas, sementara AR justru sudah memiliki label (TTM) yang ia anggap representatif — meski tidak jelas apakah label ini pernah dikomunikasikan dan disepakati bersama oleh keduanya. Hal ini memperkuat temuan Tema 2: bahwa ambiguitas dalam relasi tanpa status tidak hanya terjadi pada level “ada atau tidaknya status”, tetapi juga pada level pemaknaan individu terhadap proses dan arah hubungan itu sendiri, dua orang dalam relasi yang sama bisa memiliki interpretasi yang berbeda atas apa yang sedang mereka jalani.
Diskusi dan Analisis

Penelitian ini menemukan bahwa ketidakjelasan status bukan berarti tidak adanya perasaan. Justru sebaliknya, kedekatan emosional telah tumbuh dan perilaku yang ditunjukkan kerap menyerupai hubungan berpacaran. Namun, ketika pertanyaan seperti “what are we?”muncul, jawabannya menjadi sulit dikemukakan. Meski kedekatan emosional hadir dalam hubungan semacam ini, tetapi ada keraguan, ketidaksiapan, serta berbagai pertimbangan personal yang membuat label hubungan sengaja ditunda.
Bagi informan kami, label dipahami sebagai penanda tanggung jawab. Label berkaitan dengan kapan seseorang berhak meminta kepastian, boleh merasa cemburu, atau menuntut komitmen dari pasangannya. Tanpa label, kedekatan dapat terus berlangsung tanpa adanya kontrak yang mengikat kedua pihak. Kondisi ini menciptakan paradoks hubungan yang terasa seperti pacaran, tetapi belum cukup “aman” untuk diberi nama demikian. Munculnya berbagai istilah baru untuk mendefinisikan relasi menunjukkan bahwa bahasa terus berupaya mengejar kompleksitas pengalaman romantis yang tidak lagi sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kategori-kategori lama yang terkesan hitam-putih dalam menggolongkan teman dan pacaran.
Menariknya, negosiasi mengenai label tidak selalu berujung pada kejelasan. Pada sebagian pasangan, perubahan istilah tidak banyak mengubah dinamika hubungan atau malah memperbesar jarak di antara mereka. Status “HTS” turun menjadi “TTM” saat upaya memperjelas hubungan berusaha dilakukan. Perubahan istilah ini mengubah kompleksitas hubungan serta memperkabur batasan dalam hubungan. Namun, pada pasangan lain, percakapan yang jujur mengenai ketidaksiapan justru menjadi titik balik menuju komitmen yang lebih jelas. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan penetapan label dalam hubungan terletak pada kemampuan kedua individu untuk mengomunikasikan perasaan, harapan, dan ketakutan yang selama ini disimpan.
Melalui kacamata Social Penetration Theory dan konsep hidden area dalam Johari Window, penelitian ini menunjukkan bahwa relasi tanpa label merupakan arena negosiasi interpersonal yang sarat paradoks. Kedekatan emosional dapat berkembang tanpa kepastian status, tetapi hal ini juga semakin memperbesar kerentanan perasaan, ekspektasi, dan harapan yang harus dihadapi. Pada akhirnya, negosiasi untuk memperjelas istilah hubungan juga berarti bernegosiasi terkait kesiapan untuk menjadi rentan, keberanian untuk menyatakan kebutuhan, dan kesediaan untuk memikul tanggung jawab atas perasaan yang timbul dalam hubungan.
Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana mahasiswa FISIP UI yang menjalani relasi tanpa label menegosiasikan makna hubungan mereka melalui komunikasi interpersonal. Berdasarkan wawancara dengan empat informan yaitu, IN, MF, SM, dan AR, penelitian ini menemukan tiga hal utama sebagai berikut:
- Relasi tanpa label tidak terbentuk karena ketiadaan perasaan, melainkan karena adanya hambatan komitmen personal, seperti trauma hubungan sebelumnya, perbedaan agama, dan ketidaksiapan emosional. Dalam kondisi ini, kedekatan emosional berkembang lebih dulu, sementara definisi status hubungan tertunda.
- Asimetri self-disclosure memperkuat ambiguitas relasional. Informasi penting seperti perasaan, harapan, dan batasan pribadi sering kali tidak diungkapkan secara terbuka, sehingga menciptakan hidden area yang besar dan menyebabkan perbedaan pemaknaan terhadap hubungan yang dijalani.
- Negosiasi label tidak selalu menghasilkan kejelasan. Ketika kedua pihak memaknai label secara berbeda, ambiguitas tetap ada. Sebaliknya, komunikasi yang jujur dan terbuka dapat menjadikan negosiasi label sebagai jalan menuju kejelasan dan komitmen yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa relasi tanpa label merupakan bentuk negosiasi interpersonal yang kompleks, di mana individu menegosiasikan kesiapan emosional, tanggung jawab relasional, dan makna simbolik hubungan secara bersamaan.
Referensi
Aghera, M., Doshi, V., Jain, S., & Maru, M. (2025). The Role of Fear of Commitment: A Comparative Study between Situationships and Committed Relationships. Indian Journal of Mental Health, 12(1).
Anderson, S., & Phillips, M. J. (2026, January 29). All the Feels, None of the Labels: Young Adults’ Experiences of Situationships.
Chen, T. (2025). Love without Falling in Love: Mediated Intimate Relationships in the Digital Age. Media and Communication Research, 6(5).
George, A. S. (2024). Escaping the situationship: Understanding and addressing modern relationship ambiguity among young adults. Partners Universal International Innovation Journal, 2(3), 35-56.
Ingle, A., & Chore, A. (2024). Young Adults’ Romantic Relationship Status: A Study of Psychological Influences. International Journal of Indian Psychology, 12(3).
Langlais, M. R., Podberesky, A., Toohey, L., & Lee, C. T. (2024) Defining and Describing Situationships: An Exploratory Investigation. Sexuality & Culture, 28, 1831–1857. Springer. DOI: 10.1007/s12119-024-10210-6
Lin, Y. C. (2026). “Are You Feeling the Rush?” Quantifying Emotional Ambiguity in Situationships and Its Impact on Well-Being.
Patton, M. Q. (2002). Qualitative research and evaluation methods (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Sibley, D. S., Vennum, A., Mallory, A. B., Brown, C. C., & LeFebvre, L. E. (2024). “We’re just talking”: Constructing a recent trend in emerging adult romantic relationship development. Journal of Couple & Relationship Therapy, 23(4), 249–281.
Singh, H. (2024). Rewriting Romance: The Psychological and Cultural Implications of Gen Z’s Relationship Slang. Indian Journal of Health & Wellbeing, 15(4).
Singh, S. (2025). Fooling in the name of love: Welcome to Gen-Z relationships. International Multidisciplinary Research Journal Reviews, 2(8).




