Journalight

UI Journalism Studies

Opinion

FOMO di Era Digital: Scroll Instagram Sampai Mual, Gimana sih Siklus Doomscrolling dan Ketergantungan Informasi Kita?

Tidak mudah bagi Gen Z untuk memisahkan rutinitas mereka dari handphone. Rutinitas ini terus berulang, mulai dari membuka feeds Instagram, mengeksplor laman yang isinya random. Hal ini terus berulang sampai sadar kalau waktu istirahat ikut berkurang. Aktivitas ini sangat wajar muncul karena ternyata 61% pengguna media sosial di Indonesia (YouGov dalam Business Asia, 2024), dan mereka biasanya mengakses konten selama satu hingga enam jam setiap hari (GoodStats, 2024). 

Rutinitas harian tersebut secara pelan-pelan membentuk kebiasaan baru. Timbul dorongan kuat untuk selalu terhubung dengan internet agar tidak tertinggal arus informasi. Ketika terputus sebentar saja, muncul kecemasan tersendiri yang biasa kita kenal dengan Fear of Missing Out (FOMO). Beban pikiran ini nyatanya terasa makin berat di realitas kehidupan kampus. Mahasiswa dituntut untuk produktif, di mana satu sisi harus menyelesaikan deadlinetugas kuliah, tapi di sisi lain ada tekanan dari peer group untuk terus up to dateagar terus nyambung saat mengobrol. 

Kondisi penuh tuntutan inilah yang mendorong mahasiswa lari ke media sosial. Niat pertamanya, mengecek Instagram untuk refreshing. Namun, karena sistem aplikasinya memang sengaja diatur supaya kita betah berlama-lama, mereka pun gampang terjebak scrolling tanpa henti. Perlahan, pelarian ini berubah menjadi doomscrolling. Mereka kesulitan berhenti men-scroll layar meski sadar sudah membuang terlalu banyak waktu. Pada akhirnya memengaruhi penurunan fokus, interaksi di dunia nyata jadi terasa membosankan, sementara otak justru makin kelelahan karena terus menerima informasi yang overload.

Melihat situasi tersebut, penelitian ini menjadikan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI sebagai fokus utama karena adanya temuan yang cukup kontradiktif. Sebagai pihak yang mendalami ilmu komunikasi, mereka tentu sangat paham soal literasi digital dan cara media bekerja. Namun, pemahaman teori itu tidak membuat mereka sadar bahwa kebiasaan mengonsumsi media secara berlebihan itu berakibat fatal. Kenyataan ini menjadi bukti nyata bahwa ada celah yang cukup jauh antara teori di ruang kelas dengan pelaksanaannya di dunia nyata.

Bising di Kepala, Hening di Realita: Merespons Dampak Doomscrolling

Berangkat dari latar belakang itu, studi ini ingin menggali lebih dalam soal bagaimana mahasiswa memaknai rutinitas doomscrolling mereka di Instagram, mengurai apa saja faktor pemicu FOMO, dan melihat langsung efeknya terhadap cara mereka merespons lingkungan sosial. 

Teori Media System Dependencydigunakan pada penelitian ini untuk menjelaskan bahwa  ketika media menjadi rujukan utama seseorang untuk mencari wawasan dan pedoman hidup, seseorang menjadi lebih terikat dengan media (Ball-Rokeach & DeFleur, 1976). 

Platform digital kini melampaui batas sekadar sarana bertukar pesan, melainkan berubah menjadi ruang sentral untuk membangun identitas dan merespons dunia luar. Keterikatan ini otomatis melonjak saat rasa penasaran akan suatu kabar makin tinggi.

Kebutuhan informasi yang tinggi tadi akhirnya memancing hadirnya FOMO. Hal ini sejalan dengan pandangan Przybylski et al. (2013), di mana rasa gelisah muncul akibat takut tertinggal momen menyenangkan atau kabar penting dari orang lain. Demi mengusir cemas, seseorang jadi refleks mengecek gawai berkali-kali supaya tetap merasa terhubung dengan lingkungannya.

Oberst et al. (2017) menyatakan bahwa keadaan ketakutan inilah yang sering menyebabkan penggunaan media sosial menjadi tidak terkendali. Kebiasaan doomscrollingsecara bertahap muncul ketika kebiasaan mengecek handphoneini dibiarkan (Sharma et al., 2022).

Meskipun niat awalnya mungkin untuk menenangkan rasa penasaran, terlalu banyak konten malah dapat menyebabkan information overload. Menurut Bawden dan Robinson (2009), ini adalah titik di mana arus data yang masuk melewati batas kemampuan otak untuk memprosesnya. Pada akhirnya, pengguna mengalami kecanduan yang semakin sulit dilepaskan, yang akhirnya berakibat kelelahan otak yang cepat dan gangguan konsentrasi.

Di Balik Layar Penelitian: Gimana Cara Kami Menguliti Masalah Ini?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang berlandaskan paradigma konstruktivisme. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bertujuan memahami pengalaman subjektif, makna, dan konstruksi sosial yang dibangun informan terkait perilaku konsumsi media mereka. Metode studi kasus digunakan karena memungkinkan peneliti menjawab pertanyaan mengenai bagaimana dan mengapa suatu fenomena sosial terjadi dalam konteks kehidupan nyata yang tidak dimanipulasi (Yin, 2018). Sementara itu, paradigma konstruktivisme memandang realitas sosial sebagai hasil konstruksi individu melalui proses interpretasi, interaksi sosial, dan pemaknaan terhadap lingkungannya (Guba & Lincoln, 1994). Oleh karena itu, perilaku doomscrolling dipahami sebagai praktik sosial yang dibentuk melalui pengalaman dan pemaknaan informan, bukan sekadar perilaku individual yang bersifat mekanis.

Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi observasi partisipatif dan wawancara mendalam (in-depth interview) untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai pengalaman dan perilaku informan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu penentuan informan berdasarkan kriteria tertentu agar diperoleh kasus yang kaya informasi  sesuai fokus penelitian (Denzin & Lincoln, 2018). Kriteria informan meliputi informan mahasiswa aktif Universitas Indonesia yang termasuk Generasi Z, menggunakan Instagram secara aktif setiap hari, serta memiliki pengalaman melakukan doomscrolling yang dipengaruhi oleh Fear of Missing Out (FOMO).

Penentuan jumlah informan dilakukan secara fleksibel dengan memegang teguh prinsip kejenuhan data, sebuah kondisi di mana proses pengumpulan data dihentikan ketika penambahan informan baru tidak lagi memunculkan variasi informasi atau tema teoretis baru yang signifikan (Guest et al., 2006). Berdasarkan kriteria tersebut, riset ini menguliti pengalaman dari dua informan utama informan mahasiswa Ilmu Komunikasi UI.

Profil Informan Penelitian

Data hasil wawancara mendalam ditranskripsikan secara verbatim dan dianalisis menggunakan metode thematic coding. Proses analisis dilakukan melalui pembacaan berulang terhadap transkrip (immersion), penyusunan koding awal (open coding), pengelompokan kategori, hingga identifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan motif doomscrolling dan dinamika emosional informan (Braun & Clarke, 2006; Creswell, 2014).

Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dengan membandingkan temuan observasi dan hasil wawancara mendalam. Selain itu, dilakukan member checking dengan mengembalikan hasil interpretasi kepada informan untuk memastikan kesesuaian antara analisis peneliti dan pengalaman yang mereka alami (Creswell & Miller, 2000). Langkah ini bertujuan meningkatkan validitas temuan sekaligus meminimalkan potensi bias dalam proses interpretasi data.


Lingkaran Setan Antara Burnout, Doomscrolling, dan Munculnya Alarm Darurat Tubuh

Melalui proses analisis thematic coding yang mendalam, penelitian ini berhasil membongkar tiga tema temuan utama yang sangat kaya akan dinamika psikologis dan sosial dari realitas kehidupan informan mahasiswa digital.

Dengan adanya sebuah pola sirkular yang bersifat destruktif dan berulang secara konstan dalam keseharian informan mahasiswa Gen Z. Pola tersebut membentuk sebuah lingkaran setan: Tekanan Perkuliahan →  Burnout Akademik → DoomscrollingInstagram → Distraksi Berkepanjangan → Kognitif Kebanjiran → AnxietyMenunggangi Tubuh

Aktivitas perkuliahan di UI yang terkenal padat dengan tumpukan tugas, presentasi kelompok, dan ujian berkala sering kali membuat informan mahasiswa berada dalam kondisi kelelahan mental yang kronis atau burnout. Ketika berada dalam titik jenuh ini, informan mahasiswa secara instan berpaling ke ponsel mereka, menjadikan Instagram sebagai sebuah katup penyelamat atau ruang pelarian emosional (escapism) untuk mengalihkan pikiran dari stres akademik. Namun, alih-alih mendapatkan kesegaran pikiran, aliran konten visual yang masuk tanpa henti justru mengunci perhatian mereka ke dalam durasi penelusuran yang tidak masuk akal.

Informan PS menceritakan bahwa bagi dirinya, membuka Instagram pada awalnya diniatkan untuk memperluas cakrawala berpikir terkait isu-isu media digital dan perkembangan industri musik dunia yang sangat relevan dengan peminatannya di Kajian Media. PS merasa perilaku ini produktif. Namun, intensitas penggunaan gawai yang terlalu tinggi tanpa sadar menjebak dirinya ke dalam perilaku prokrastinasi yang parah. Tugas-tugas kuliah sengaja ditunda demi kepuasan sesaat menggulir layar, yang pada akhirnya justru melipatgandakan tingkat kecemasan dan memperparah kondisi burnout awal ketika tenggat waktu tugas makin mendekat.

Di sisi lain, informan FF menampilkan potret yang sedikit berbeda namun memiliki ujung yang sama. FF menggunakan Instagram murni sebagai media hiburan kasual dan senjata utama untuk membunuh rasa bosan di waktu luang. Namun, FF mengaku mengalami kelelahan kognitif yang teramat sangat akibat paparan masif konten berformat video pendek, yakni Instagram Reels.

Perpindahan informasi, narasi, audio, dan visual dari satu video ke video lain yang berlangsung dalam durasi super singkat (hitungan detik) memaksa otak FF untuk terus melakukan penyesuaian kognitif secara kilat. Akibatnya, FF merasa overwhelmed dan mengalami fragmentasi perhatian yang parah, di mana dirinya menjadi sangat sulit untuk mempertahankan fokus pada aktivitas nyata yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang.

Paradoks terbesar dari temuan ini adalah ketika dampak doomscrolling ini mulai termanifestasi secara biologis ke dalam tubuh fisik informan. Paparan intensif layar digital ini terbukti melahirkan konsekuensi kognitif dan fisik yang riil. Ketika informan mahasiswa sudah melewati ambang batas kemampuan pemrosesan informasi harian mereka, tubuh mereka mulai menyalakan alarm darurat. Kedua informan melaporkan sering kali merasakan gejala fisik berupa sakit kepala/pusing, rasa mual yang mengganggu, mata perih, hingga kegelisahan motorik yang intens setelah menghabiskan waktu berjam-jam melakukan scrolling Reels secara kompulsif.

Pola Regulasi Kontrol Diri: Kamu Jalur Teman  atau Jalur Hapus Aplikasi?

Ditemukan sebuah realitas optimistik: baik PS maupun FF sebenarnya memiliki kesadaran kritis yang penuh akan dampak destruktif dari kebiasaan doomscrolling yang mereka lakukan. Mereka tahu tindakan itu merusak waktu dan kesehatan mental mereka. Namun, karena kontrol diri tidak bisa berjalan secara otomatis di hadapan algoritma medsos yang adiktif, kedua informan merumuskan dua strategi regulasi diri yang sangat berbeda dan kontekstual, mencerminkan keunikan kepribadian mereka masing-masing:

Pola Regulasi Sosial (Social Monitoring) – Gaya PS: PS mengandalkan dukungan dan pengawasan sosial untuk mengendalikan perilaku doomscrolling. Kesadaran untuk berhenti biasanya muncul setelah mendapat teguran atau pengingat dari teman mengenai tanggung jawab akademiknya. Selain itu, PS mengurangi ketergantungan pada media sosial dengan mengalihkan perhatian ke aktivitas non-digital seperti journaling dan membuat kerajinan manik-manik, yang membantunya menciptakan jarak dari penggunaan ponsel.

Pola Regulasi Teknis – Gaya FF: Berbeda dengan PS, FF menerapkan kontrol diri secara lebih individual dan berbasis teknologi. Ia memanfaatkan fitur pembatas waktu penggunaan aplikasi sebagai pengingat untuk mengurangi aktivitas doomscrolling. Ketika cara tersebut tidak lagi efektif, FF melakukan digital detox dengan menghapus aplikasi Instagram untuk sementara waktu guna memulihkan fokus dan kestabilan emosinya.

Pembentukan Identitas Digital dan Beban Moral Anak FISIP UI: Tuntutan Harus Selalu Up-to-Date

Prilaku doomscrolling pada mahasiswa tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya disiplin individu, tetapi berkaitan dengan kebutuhan untuk mempertahankan relevansi sosial, membangun identitas digital, dan menjaga rasa memiliki (social belonging) di lingkungan kampus.

Bagi PS, Instagram menjadi sarana utama untuk memahami budaya digital yang berkembang di lingkungan pertemanan. Informasi tentang meme, tren internet, musik populer, dan percakapan viral berfungsi sebagai social currency yang membantu dirinya tetap terhubung dalam interaksi sosial sehari-hari. Karena itu, aktivitas scrolling dilakukan agar ia tidak merasa tertinggal atau terasing dari kelompoknya.Sementara itu, FF mengalami tekanan yang lebih terkait dengan identitas akademik dan profesional. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan Periklanan, ia merasa perlu selalu mengikuti isu politik, tren media sosial, dan strategi komunikasi visual yang sedang berkembang. Kemampuan untuk tetap up-to-date dipandang sebagai bagian dari kompetensi profesional, sehingga ketinggalan tren menimbulkan kekhawatiran dianggap kurang kompeten oleh lingkungan akademiknya

Sementara itu, FF mengalami tekanan yang lebih terkait dengan identitas akademik dan profesional. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan Periklanan, ia merasa perlu selalu mengikuti isu politik, tren media sosial, dan strategi komunikasi visual yang sedang berkembang. Kemampuan untuk tetap up-to-date dipandang sebagai bagian dari kompetensi profesional, sehingga ketinggalan tren menimbulkan kekhawatiran dianggap kurang kompeten oleh lingkungan akademiknya.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa doomscrolling tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individual, tetapi juga oleh tekanan sosial dan profesional yang mendorong mahasiswa untuk terus terhubung dengan arus informasi digital.

Paradoks Doomscrolling: Ketika menggulir layar lebih dari sekedar ‘Me Time

Bagi informan mahasiswa Generasi Z, ritual menggulirkan layar gawai tanpa henti (doomscrolling) di Instagram Reels sering kali dicap sebagai kemalasan pasif. Namun, dari hasil penelitian ini, ternyata praktik ini adalah tindakan sosial aktif, lho. Informan mahasiswa secara sadar menggunakan media sosial sebagai mekanisme adaptasi untuk mengurangi rasa takut tertinggal informasi (Fear of Missing Out/FOMO) di tengah gempuran tekanan akademik.
Jika kita melihat dari kacamata konstruktivisme, informan mahasiswa tidak pasif didikte oleh teknologi. Mereka justru aktif mengkonstruksi realitas digital mereka dan menjadikan platform tersebut sebagai rujukan utama dalam tiga dimensi kehidupan:

Dimensi play yang idealnya memberikan relaksasi, justru bermutasi menjadi sebuah paradoks. Niat awal mencari hiburan pasca-kuliah malah menjebak informan mahasiswa ke dalam pusaran stimulasi visual tanpa batas.
Alih-alih stresnya hilang, fungsi hiburan ini runtuh dan justru memicu prokrastinasi akut, kebanjiran data, hingga kelelahan mental yang nyata. Informan mahasiswa merasa mereka adalah agen berdaya yang bebas memilih tontonan, padahal tanpa disadari, durasi atensi dan regulasi emosi mereka sedang dinegosiasikan ulang oleh desain algoritma platform.
Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kita sebenarnya bisa mengatasi hal ini bersama-sama dengan…

Merebut Kembali Kendali Atensi

Yuk bersama-sama kita mencari informasi dengan lebih teratur!

Dibuat oleh:Kelompok 6 MPK Kualitatif II

Andreas Wijaya Nugraha             (2306160451)

Kayla Fariska Maharani               (2306246790)

Niquitta Chuaery Hendarsin        (2306160685)

Matthew Arafel Aditya                (2306160703)

Tamara Aurelia Zamira                (2306241026)

Dipublikasikan sebagai bentuk pemenuhan Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif.

Tautan Daftar Pustaka: https://drive.google.com/file/d/15IN4C1QC1wO1uvEHC8I7zm6tkvd-CdaT/view?usp=sharing


LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *