Journalight

UI Journalism Studies

Research

K-Pop dan Politik: Partisipasi Anak Muda Lewat Lensa Fan Activism

Abstrak

Penelitian ini mengkaji fenomena partisipasi sukarela oleh pengguna media sosial X yang menggabungkan unsur budaya K-Pop dalam kampanye politik Anies Baswedan pada masa Pemilihan Umum 2024 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses partisipasi politik di era digital, khususnya bagaimana budaya populer dapat mempengaruhi keterlibatan politik generasi muda. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi digital dan wawancara mendalam, penelitian ini menemukan bahwa fan activism dalam kampanye politik dapat terjadi melalui proses yang kompleks. Fenomena ini bermula dari aksi spontan pengguna media sosial yang mengaitkan elemen K-Pop dengan kampanye politik kemudian menarik perhatian komunitas fandom K-Pop dan menciptakan bentuk partisipasi politik yang kreatif. Partisipasi ini melibatkan aktivitas online seperti mengunggah dan berinteraksi dengan konten, serta aktivitas offline seperti bergabung dengan tim sukarelawan dan mengadakan acara berbasis komunitas. Faktor pendorong partisipasi meliputi pengaruh lingkungan sosial, rasa kesesuaian dengan visi dan misi politik, serta pendekatan kampanye yang menarik dan menyenangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya K-Pop dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan partisipasi politik di kalangan generasi muda, menciptakan kampanye politik yang lebih inklusif dan relevan. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang potensi kampanye politik kreatif di masa depan dan bagaimana pendekatan berbasis budaya populer dan pendekatan yang relevan dan kreatif dapat memperluas jangkauan dan meningkatkan keterlibatan politik masyarakat.

Keyword: Budaya populer, Fan activism, Kampanye politik, K-Pop, Media sosial, Partisipasi politik, Generasi muda, Pemilu 2024, Anies Baswedan, Etnografi digital, Participatory culture

Fenomena Fan Activism dan Budaya Partisipatori K-Pop dalam Kampanye Politik Anies Baswedan

Saat ini, fenomena fan activism dapat ditemukan di ranah politik pada isu-isu yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Indonesia, fenomena ini pernah terjadi beberapa kali. Salah satu contohnya adalah ketika fans K-Pop berpartisipasi dalam demonstrasi penolakan RUU Cipta Kerja dengan menggunakan hashtagdan membantu isu tersebut naik menjadi worldwide trending topicdi media sosial X (Andini & Akhni, 2021). Contoh lainnya terjadi baru-baru ini selama kampanye politik jelang Pemilihan Umum 2024, di mana ketertarikan dan keterlibatan masyarakat dalam politik mencapai puncaknya. Selama ini, aktivisme yang melibatkan penggunaan budaya populer hanya terbatas pada demonstrasi isu-isu sosial, ekonomi, serta kebijakan hukum. Pada pesta demokrasi tahun ini, terdapat fenomena yang cukup unik, yaitu adanya sekelompok pengguna media sosial X yang secara sukarela menggabungkan unsur budaya K-Pop ke dalam kampanye politik Anies Baswedan. Fenomena tersebut tentu sangat menarik untuk diteliti karena belum ada penelitian yang secara khusus mempelajari proses terjadinya praktik fan activism yang digunakan dalam kampanye politik untuk mendukung seorang calon presiden di Indonesia. 

Kontestasi pilpres 2024 dimeriahkan dengan penggunaan unsur budaya penggemar K-Pop yang dikaitkan dengan sosok calon presiden nomor urut 01, Anies Baswedan. Dari meluasnya narasi bahwa Anies mirip dengan idola K-Pop hingga wajahnya terpampang di sejumlah layar videotron di berbagai kota, media sosial menjadi tempat semuanya berawal.  Anies Baswedan menyapa masyarakat lewat siaran langsung (live) TikTok ketika sedang dalam perjalanan pulang selepas berkegiatan (28/12/24). Siapa sangka, gestur kecil yang dilakukan Anies tersebut menuai perhatian dari penggemar K-Pop di media sosial X karena dinilai mirip dengan idola K-pop, yang memang kerap melakukan liveserupa setelah tampil di acara musik.

Keesokan harinya (29/12/24), muncul akun X @aniesbubble mengunggahvideo liveTikTok Anies Baswedan dengan captionterjemahan bahasa Korea, persis seperti akun penggemar K-Pop yang biasa mengunggah terjemahan dari konten idola mereka, kemudian rutin mengunggah updateterkini dari aktivitas Anies dan mempromosikan kinerjanya ketika menjabat sebagai gubernur. Setelah itu, muncul pula akun @olpproject dan @haveaniesday, yang menginisiasi berbagai aktivitas kampanye untuk mendukung Anies sebagai capres sekaligus mendorong partisipasi lebih lanjut dari pengguna X dalam aktivitas-aktivitas tersebut, baik secara luring maupun daring. Orang-orang yang familiar dengan budaya penggemar K-Pop merespons fenomena ini dengan sikap positif—banyak dari mereka yang memuji dan turut berpartisipasi secara sukarela, sedangkan orang-orang yang tidak familiar cenderung bertanya-tanya tentang alasan mereka berpartisipasi mereka dalam fenomena ini, sekaligus meragukan keorganikan fenomena ini.

Dengan meneliti fenomena ini, peneliti berharap dapat memberikan wawasan berharga yang bisa membantu memahami proses partisipasi politik di era digital serta bisa menjadi panduan untuk membangun strategi kampanye politik yang lebih efektif. Selain itu, peneliti juga berharap dapat mendorong pemikiran kritis dan diskusi mengenai peran budaya populer dalam membentuk opini politik dan partisipasi politik, terutama di kalangan generasi muda. Apalagi, mereka ini sangat mudah terpengaruh oleh tren dan konten media sosial.

Serba-Serbi Fan Activism dan Budaya Partisipatoris

Menyinggung topik penggemar K-Pop, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang dapat menjelaskan fenomena yang diangkat dalam penelitian ini secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Hutt (2021) menunjukkan bahwa fandom K-Pop memperlihatkan cara penerimaan (mode of reception) unik yang dipengaruhi oleh internet, dan media sosial dan menjadi ruang aman untuk membentuk komunitas sosial alternatif. Fandom K-Pop juga terlibat dalam serangkaian praktik kritis dan interpretatif tertentu, serta mendorong terjadinya berbagai produksi, tradisi estetika, dan praktik kebudayaan (fan videos, fan arts, fanchants, fanfiction, covers, terjemahan, dan lain-lain), serta berkontribusi terhadap identitas kolektif yang kuat yang memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan spesifik, termasuk usaha-usaha politis. Kim dan Hutt (2021) juga menemukan bahwa penggemar K-Pop memiliki sejarah dalam keterlibatan aktif sebuah fandom di berbagai aspek, mulai dari ekonomi, sosial, hingga musik dari sebelum tahun 2020. Mereka juga melibatkan diri dalam masalah sosial politik yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka di luar konteks fandom

Budaya K-Pop memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana bagi penggemar untuk berpartisipasi dalam proses politik dan melawan tatanan sosial yang dominan dengan memanfaatkan kekuatan mereka di media sosial. Pada studi lain yang dilakukan oleh Kurniawan et al. (2022), dapat dilihat bahwa keterlibatan penggemar K-Pop dalam aktivisme digital dikemas dengan cara yang khas. Agar pesan-pesannya dapat dimengerti, mereka menyampaikannya dalam berbagai bentuk, mulai dari infografis, utas, hingga meme.Mereka kerap menggunakan jenis bahasa guyon atau plesetan dan sentimen emosional yang mempermudah penyebaran serta penerimaan pesan.

Keterlibatan penggemar dalam permasalahan sosial politik dapat disebut dengan istilah fan activism. Dalam praktik fan activism,penggemar merubah statusnya dari audiens yang pasif menjadi sebuah publik yang peduli akan isu sosial-politik (Brough & Shresthova, 2012). Jenkins (2012) mendefinisikan fan activismatau aktivisme penggemar sebagai “upaya yang didorong oleh penggemar untuk mengatasi masalah sipil atau politik melalui keterlibatan dan penyebaran konten budaya populer secara strategis”. Lebih lanjut, Jenkins menjelaskan konsep fan activism dengan menganalisis Harry Potter Alliance (HPA), sebuah organisasi non-profit yang mendukung hak asasi manusia dan kesetaraan yang didirikan dan digerakkan oleh penggemar Harry Potter di seluruh dunia. Contoh ini memberikan pandangan yang lebih luas terhadap definisi dari aktivisme yang semula hanya terbatas pada praktik-praktik tradisional. Kini, definisi dari aktivisme lebih mempertimbangkan peran media dan konvergensi budaya. Sebab, menurut Jenkins (2012), permasalahan politik sering terjadi melalui bahasa dan konteks yang banyak dipengaruhi oleh budaya komersial yang memusatkan aktivisme penggemar dan konsumen dalam gerakan sosial kontemporer.

Konsep fan activismsendiri merupakan bagian dari participatory culture. Participatory culture atau budaya partisipatoris dapat diartikan sebagai budaya penggemar yang dapat mendorong terjadinya kegiatan aktivisme penggemar sebagai wujud dari adanya keterlibatan sipil (Jenkins, dalam Leksmono & Maharani, 2022). Participatory culture tidak hanya fokus pada bagaimana orang bisa menjadi prosumer, tetapi juga menjelaskan bagaimana orang dapat berkolaborasi dan membentuk sebuah komunitas di era digital (Leksmono & Maharani, 2022). Melanjutkan hal tersebut, menurut Jenkins et al. (dalam Leksmono & Maharani, 2022), participatory culture telah bergeser dari ekspresi individu menjadi keterlibatan komunitas. Participatory culture (Jenkins, dalam Leksmono & Maharani, 2022) memiliki beberapa karakteristik, yaitu hambatan yang relatif rendah terhadap ekspresi artistik dan keterlibatan masyarakat, dukungan kuat untuk menciptakan dan berbagi karya, adanya bimbingan informal di mana orang yang paling berpengalaman meneruskan pengetahuannya kepada orang yang masih tergolong pemula, dan anggotanya memercayai bahwa kontribusi mereka penting dan merasakan adanya hubungan sosial antara satu sama lain.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menelusuri fenomena fan activismdalam konteks kampanye politik. Peneliti tertarik untuk memahami bagaimana pengguna media sosial X menggunakan berbagai elemen budaya K-Pop, seperti fan events, merchandise, dan aktivitas online, dalam mendukung kampanye politik Anies Baswedan secara kreatif dan intensif, yang merupakan fokus utama penelitian kami. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap proses dan motivasi di balik partisipasi aktif mereka, serta bagaimana interaksi dan komunitas online ini berkontribusi pada strategi kampanye secara keseluruhan. Dengan mengadopsi paradigma konstruktivis, peneliti berusaha memahami bagaimana realitas partisipasi ini dibentuk oleh pengalaman sosial individu yang terlibat. Paradigma konstruktivis menganggap bahwa realitas adalah konstruksi mental yang bersifat lokal dan spesifik, serta tergantung pada individu yang melakukannya (Irawati et al., 2021). Untuk mengumpulkan data, peneliti menerapkan metode etnografi digital dan melakukan wawancara mendalam dengan para pengguna media sosial yang terlibat dalam kampanye tersebut. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perspektif, pengalaman, dan pandangan responden terkait dengan topik penelitian. Selain itu, peneliti juga mengamati interaksi mereka di platform media sosial untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang praktik online mereka. Penelitian ini menggunakan metode observasi ‘observer participation’, di mana data dikumpulkan melalui pengamatan terhadap objek penelitian tanpa keterlibatan aktif dalam kegiatan kelompok yang diamati (Hasan et al., 2022). Metode ini bertujuan untuk menggali aspek-aspek praktik yang melibatkan hubungan antara tindakan manusia dan aturan, struktur, serta proses yang membentuk perilaku dan interaksi online. Setelah mengumpulkan data, peneliti menerapkan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola dan tema-tema utama yang muncul dalam partisipasi mereka. Metode analisis ini sesuai dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan, serta memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman yang dalam tentang bagaimana budaya K-Pop digunakan dalam konteks politik dan bagaimana hal ini mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kampanye politik. Pendekatan ini juga memberikan wawasan tentang dinamika sosial dan kultural yang mendasari fenomena fan activism dalam kampanye politik. Hasil temuan dari analisis ini akan dibahas secara rinci pada bagian berikutnya, memberikan gambaran menyeluruh tentang pola partisipasi dan interaksi yang terjadi. Diskusi ini juga akan melihat implikasi dari penggunaan budaya K-Pop dalam konteks politik, kontribusinya terhadap strategi kampanye, dan dampaknya pada keterlibatan politik secara keseluruhan.

Budaya Populer, Anak Muda, dan Politik

Budaya populer, atau pop culture, adalah bentuk budaya yang paling umum diadopsi dan dinikmati oleh masyarakat luas. Dalam kajian budaya, budaya populer dianggap sebagai budaya massa yang dikonsumsi dan dipraktikkan oleh khalayak umum dalam kehidupan sehari-hari, didorong oleh media massa dan faktor lainnya (Messianik & Shamad, 2023). Budaya populer sangat lazim di kalangan anak muda, terutama Gen Z dan milenial, karena mereka adalah digital native yang terbiasa dengan internet dan teknologi digital (Selwyn, 2009). 

Penelitian ini membahas fenomena di media sosial, khususnya bagaimana budaya populer mempengaruhi partisipasi politik anak muda. Sebagai pemilih pemula dalam pemilihan presiden pertama mereka, anak muda mencari cara berpartisipasi yang sesuai dengan budaya mereka, yang menarik dan menyenangkan. Quintellier (2007) dalam jurnal Contemporary Politics menyatakan bahwa generasi muda lebih tertarik pada partisipasi politik baru seperti aksi komunitas lokal, konsumerisme politik, gerakan sosial baru, politik isu tunggal, dan protes, dibandingkan dengan partisipasi tradisional. Bagi mereka, menarik dan menyenangkan berarti sesuatu yang menghibur, kreatif, dan relevan dengan minat mereka.

Alasan di Balik Partisipasi

Berdasarkan hasil observasi di media sosial dan didukung oleh cerita salah satu informan, Fifi (24), fenomena penggunaan budaya penggemar K-Pop pada kampanye Anies ini bermula dari keisengan belaka, yang tanpa disangka-sangka menuai engagementbesar hingga menjangkau audiens yang tidak familiar dengan budaya K-Pop.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Sebanyak 3 dari 5 informan mengaku tidak berniat mendukung Anies sebelum maraknya fenomena penggunaan budaya penggemar K-Pop pada kampanye Anies. Naja (20), NA (23), dan Jia (24) menyatakan bahwa fenomena ini menjadi titik awal mereka dalam mencari tahu lebih lanjut tentang Anies dan politik, hingga akhirnya menjatuhkan pilihan kepada paslon 01. Sementara itu, Fifi dan Rey (19), mengaku memang telah menjatuhkan pilihannya kepada Anies sebelum merebaknya fenomena ini.

Alasan informan dalam mendukung Anies antara lain karena kesesuaian dengan visi dan misi serta track record, familiaritas dengan kiprah politik Anies, gestur, serta kepribadian Anies. Faktor lingkungan, seperti pengaruh keluarga dan teman, juga berperan dalam mendorong beberapa informan untuk memilih paslon 01.

Kelima informan memiliki alasan berbeda-beda yang mendasari partisipasinya dalam berbagai aktivitas kampanye yang berbalutkan budaya penggemar K-Pop.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Warna-Warni Partisipasi Berbalut Budaya Penggemar K-Pop

Kelima informan mengaku ikut meramaikan kampanye Anies yang dibalut budaya penggemar K-Pop dengan berbagai bentuk partisipasi, baik daring maupun luring. Mereka pertama kali terpapar oleh fenomena ini setelah melihat cuitan-cuitan berbalut budaya penggemar K-Pop yang beredar di linimasa media sosial X mereka. Para informan sepakat bahwa momen ketika Anies Baswedan melakukan live di TikTok menjadi titik awal penting dalam memahami penggunaan budaya penggemar K-Pop dalam kampanye politik Anies Baswedan, yang kemudian mendorong mereka untuk terlibat lebih jauh dalam berbagai bentuk partisipasi dalam fenomena ini.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Bentuk partisipasi yang dilakukan tiap informan bervariasi. Namun, terdapat dua bentuk partisipasi yang sama-sama dilakukan oleh kelima informan, yakni mengunggah konten tentang Anies Baswedan yang dikaitkan dengan budaya penggemar K-Pop dan berinteraksi (memberikan like, reply, retweet, dan/atau quote retweet) dengan cuitan-cuitan yang serupa.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Pada lingkup luring, bentuk partisipasi yang dilakukan semakin bervariasi dan kompleks. Misalnya, bergabung dengan tim sukarelawan yang diinisiasi oleh Olppaemi Project dalam rangka menyukseskan kampanye akbar, sebagaimana yang dilakukan oleh Naja.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan


“Masuk, jadi volunteer, ketemu sehari-dua hari, lalu udah mulai ngomongin bakal ngapain aja,” ungkap Naja ketika ditanyai tentang kegiatan yang dilakukan selama menjadi sukarelawan. “Kami jadi dekat karena banyak yang dikerjain selama kampanye akbar.”

“Selama volunteer, aku mendapat networking, teman, dan keluarga baru.” – Naja, 20 tahun

Sejumlah informan juga rela merogoh kocek sendiri dalam menunjukkan dukungannya lewat sejumlah aktivitas khas penggemar K-Pop. Jia menceritakan pengalamannya berpartisipasi dengan membuat dan membagikan freebiesberupa merchandisegantungan kunci gemas berwajah Anies ketika ia menyambangi acara kampanye Anies.

*freebies: hadiah yang diberikan kepada sesama penggemar K-Pop secara cuma-cuma (n)

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Ada pula NA, yang berpartisipasi dalam penggalangan donasi yang diinisiasi oleh akun akun @olpproject, @humaniesproject, dan @aniesbubble. Donasi biasanya dibuka untuk memberikan sumbangan dana untuk bencana alam ataupun isu sosial lainnya atas nama Humanies.

*Humanies: sebutan untuk pendukung Anies Baswedan (n)

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Bentuk partisipasi lain juga dilakukan oleh NA. Ia berkata sempat mengikuti acara nonton bareng Debat Capres bersama pendukung Anies Baswedan lainnya yang dikemas dalam konsep cupsleeve event, khas penggemar K-Pop.

*cupsleeve event: acara yang digelar di kafe biasanya untuk merayakan ulang tahun, hari jadi atau sebuah pencapaian grup atau anggota grup K-Pop. (n)

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Setelah usainya pilpres, partisipasi mereka tidak berhenti begitu saja. Beberapa informan memperhatikan bahwa akun-akun besar seperti @aniesbubble, @olpproject, dan lain-lain masih aktif mengunggah konten, melakukan liveSpace, menggalang dana untuk isu sosial dan lingkungan, serta mengadakan acara luring.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Dampak Penggunaan Budaya Penggemar K-Pop

Selain mendalami bagaimana fenomena ini terjadi di kalangan fandom K-Pop dan anak muda itu sendiri, kami juga mengeksplorasi pandangan mereka mengenai dampak penggunaan budaya ini terhadap eksplorasi dunia politik di Indonesia ke depannya. Hadirnya fenomena ini tentunya memunculkan spekulasi-spekulasi terkait pendekatan baru yang akan dilakukan oleh para praktisi di dunia politik Indonesia. Informan kami, Fifi, memandang fenomena ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas pasangan calon tersebut, namun akan berpengaruh pada swing voters atau pemilih yang belum menetapkan pilihan dan masih labil atau dapat berubah-ubah sewaktu-waktu. Pendekatan ini dapat menjadi daya tarik dan penentu bagi mereka dalam mengambil keputusan terakhir, serta berdampak pada meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu politik di Indonesia melalui tahap perkenalan yang menggunakan pendekatan yang lebih akrab.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Rey, informan kami lainnya, melihat fenomena ini sangat berdampak pada anak muda yang menjadi lebih melek terhadap isu politik di Indonesia. Aksi ini juga dapat menggerakkan anak muda lainnya untuk lebih peduli dan mulai memberikan perhatian pada isu-isu politik di Indonesia.

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Dengan kata lain, seluruh informan memandang aksi dan fenomena ini sebagai dampak penggunaan budaya K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan yang berkesan positif dan cukup berpengaruh terhadap praktik politik di Indonesia.

Prediksi Kampanye Politik Masa Depan

Di masa depan, informan kami optimis bahwa fenomena ini membuka peluang untuk munculnya bentuk kampanye politik baru. Misalnya, Naja mengungkapkan,

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Selain itu, bentuk kampanye ini juga dianggap meningkatkan rasa keterlibatan masyarakat dalam politik. Fifi menyatakan,

Sumber: Hasil wawancara dengan informan

Secara umum, para informan melihat bahwa kampanye kreatif yang menggabungkan elemen budaya populer seperti K-Pop dapat memperluas target audiens dan membawa pendekatan baru yang lebih menarik dalam dunia politik Indonesia.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bagaimana fenomena partisipasi sukarela oleh pengguna media sosial X yang menggunakan kultur K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan terjadi melalui proses yang kompleks. Fenomena ini bermula dari aksi spontan dan iseng seorang pengguna Twitter yang mengaitkan elemen budaya K-Pop dengan kampanye politik Anies Baswedan. Aksi ini menarik perhatian komunitas fandom K-Pop di media sosial X, menciptakan bentuk partisipasi politik yang kreatif dan akrab bagi generasi muda pada proses politik yang biasanya dianggap serius. Melalui unggahan cuitan, video, dan konten visual yang meniru gaya fanbase K-Pop, para pengguna media sosial X mulai menghidupkan narasi politik dengan cara yang segar dan menarik. Partisipasi ini berkembang dari aktivitas online seperti like, reply, retweet, dan quote retweet terhadap konten berunsur K-Pop, hingga aktivitas offline seperti bergabung dengan tim sukarelawan, menyumbangkan dana, dan membagikan freebies/merchandise terkait kampanye.

Keterlibatan komunitas fandom K-Pop dalam kampanye Anies Baswedan menunjukkan bahwa anak muda dapat memadukan minat pribadi mereka dengan partisipasi politik, menciptakan bentuk keterlibatan yang inovatif dan relevan dengan budaya dan karakter digital native mereka. Selain itu, partisipasi ini juga didorong oleh faktor lingkungan, seperti pengaruh keluarga dan teman, serta rasa kesesuaian dengan visi dan misi Anies Baswedan. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang proses partisipasi politik di era digital dan bagaimana budaya populer, seperti K-Pop, dapat digunakan untuk mendorong keterlibatan politik di kalangan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan potensi besar dari kampanye politik kreatif, tetapi juga menandakan bahwa pendekatan serupa dapat diadopsi dalam kampanye politik di masa depan untuk mencapai audiens yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi politik masyarakat, terutama generasi muda. Dimulai dari aktivisme spontan seorang penggemar K-Pop di media sosial X, aksi ini berkembang menjadi gerakan yang lebih terstruktur dan berdampak besar. Fan activism dalam kampanye Anies Baswedan menunjukkan bagaimana anak muda dapat memadukan minat pribadi mereka dengan partisipasi politik, menciptakan bentuk keterlibatan yang inovatif dan relevan dengan budaya digital mereka. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa politik bisa menjadi menarik dan menyenangkan jika disajikan dengan cara yang tepat, mendorong lebih banyak anak muda untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam proses demokrasi. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa sebuah gerakan dapat berkembang dari bawah ke atas, dimulai dari para penggemar dan kemudian mencapai tingkat yang lebih tinggi hingga melibatkan idola yang mereka gemari.

Daftar Pustaka

Andini, A. N., & Akhni, G. N. (2021). Exploring Youth Political Participation: K-Pop fan activism in Indonesia and Thailand. Global Focus, 1(1), 38–55. https://doi.org/10.21776/ub.jgf.2021.001.01.3

Brough, M., & Shresthova, S. (2012). Fandom Meets Activism: Rethinking Civic and Political Participation. Transformative Works and Cultures, 10. https://doi.org/10.3983/twc.2012.0303

Hasan, M., Pd, M., Harahap, T. K., & Hasibuan, M. S. S. (2022). Metode penelitian kualitatif.Penerbit Tahta Media Group.

Irawati, D., Natsir, N. F., & Haryanti, E. (2021). Positivisme, Pospositivisme, Teori Kritis, dan Konstruktivisme dalam Perspektif “Epistemologi Islam”. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan,8(4), 875.

Jenkins, H. (2012). “Cultural Acupuncture”: Fan Activism and the Harry Potter Alliance. Transformative Works and Cultures, 10. https://doi.org/10.3983/twc.2012.0305

Kim, P., & Hutt, E. (2021). K-pop as a Social Movement: Case Study of BTS and Their Fandom ARMY. Journal of Student Research, 10(3). https://doi.org/10.47611/jsrhs.v10i3.1772

Kurniawan, A. F., & Manar, D. G. (2022). ANALISIS ETNOGRAFI VIRTUAL: AKTIVISME

FANS K-POP DI MEDIA SOSIAL DALAM KASUS OMNIBUS LAW. Journal of Politic and Government Studies,11(4), 118-128.

Leksmono, D. L., & Maharani, T. P. (2022). K-pop Fans, Climate Activism, and Participatory Culture in the New Media Era. Unitas. (Print), 95(3), 114–135. https://doi.org/10.31944/20229503.05

Messianik, A., & Shamad, P. A. (2023). Komodifikasi Budaya Populer di Generasi Z (Studi Kasus Anak Muda Sidoarjo) Popular Culture Commodification On Z Generation (Case Study Sidoarjo’s Young Generation). Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 25(1), 220–223. https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/download/4387/3305

Quintelier, E. (2007). Differences in political participation between young and old people. Contemporary Politics, 13(2), 165–180. https://doi.org/10.1080/13569770701562658

Selwyn, N. (2009). The digital native – myth and reality. Aslib Proceedings, 61(4), 364–379. https://doi.org/10.1108/00012530910973776

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *