Journalight

UI Journalism Studies

Research

Lebih dari Sekadar Fashion: Bagaimana Mahasiswa FISIP UI Membangun Identitas lewat Gaya Berpakaian

ABSTRAK

Penelitian ini menggunakan Social Identity Theory (Tajfel,1979) untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa FISIP UI mengekspresikan dan menginternalisasi identitas sosial mereka melalui gaya berpakaian yang dinilai lebih ekspresif dibandingkan mahasiswa dari fakultas lain. Lewat pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memahami makna di balik gaya berpakaian mahasiswa dan interaksi sosial yang memengaruhinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fashion bukan sekadar ekspresi pribadi, tetapi juga memuat nilai sosial yang terbentuk lewat interaksi sehari-hari, seperti aktivitas organisasi, kehidupan jurusan, dan budaya nonverbal di FISIP UI . Aspek self-categorization dalam konteks penelitian ini menegaskan bahwa berpakaian bukan sekadar tindakan fungsional atau estetika, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas sosial. Lingkungan sosial FISIP UI juga turut memainkan peran krusial dalam membentuk gaya berpakaian mahasiswa. Perbedaan mencolok dengan fakultas lain menciptakan dinamika in-group favoritism dan out-group differentiation, di mana mahasiswa FISIP UI mengasosiasikan gaya mereka sebagai lebih bebas dan ekspresif, sementara gaya fakultas lain sering dianggap lebih formal dan kaku.

Kata kunci: Identitas Sosial, Internalisasi Nilai, Gaya Berpakaian, Fenomenologi, Mahasiswa FISIP UI

LATAR BELAKANG

Kampus bukanlah saja tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga mencari jati diri untuk mahasiswanya. Salah satu cara untuk mereka mencari jati diri adalah lewat gaya berpakaian. Pakaian atau fashion sendiri adalah bagian dari komunikasi nonverbal yang disampaikan oleh penggunanya (Barnard, 1996). Lewat pakaian, mahasiswa dapat mengekspresikan diri dengan gaya berpakaian yang beragam. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa ilmu sosial, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia yang memiliki gaya berpakaian yang cenderung ekspresif ketimbang fakultas lainnya.
Mahasiswa FISIP UI sering dinilai dengan fashion yang terkesan tidak formal dalam berpakaian sehari-hari dalam perkuliahan. Berbeda dengan fakultas lainnya, seperti Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT) yang berpakaian cenderung formal. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi awal dan merasakan bahwa ketika berada di fakultas lain, seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), identitasnya sebagai mahasiswa FISIP UI terlihat dari pakaian yang cenderung berwarna mencolok. Fenomena tersebut tentu menunjukkan ekspektasi sosial terhadap cara berpakaian berdasarkan fakultas yang menimbulkan stereotip tertentu.

Gaya berpakaian dalam dunia akademik bukan hanya kebutuhan praktis, tetapi juga mencerminkan identitas sosial seseorang dengan menunjukkan siapa diri orang tersebut yang bisa dikategorikan dalam kelompok berdasarkan pandangan (Laksmi, 2017). FISIP UI tidak memiliki aturan mengikat terkait gaya berpakaian, mahasiswa bebas menggunakan pakaian apa pun, tanpa batas. Mulai dari yang sedang trenddi internet atau sesuai dengan selera. Hal tersebut memicu banyaknya gaya berpakaian yang terlihat di FISIP UI sendiri. Banyak dari mahasiswanya berpakaian menyesuaikan dengan lingkunganya. Akibatnya, muncul perkataan seperti “Lo kok FISIP, tapi enggak kelihatan FISIP?” kepada mahasiswa yang berpakaian formal atau rapi.

Source : Pinterest

Social Identity Theory (Tajfel, 1979) pada Praktik Berbusana di Kalangan Mahasiswa FISIP UI

Penelitian ini menggunakan Social Identity Theory (Tajfel, 1979) untuk melihat bagaimana mahasiswa FISIP UI mengekspresikan dan menginternalisasi identitas sosial mereka melalui gaya berpakaian yang cenderung lebih ekspresif dan nonformal dibanding mahasiswa dari fakultas lain. Menurut teori ini, identitas individu terbentuk melalui lima aspek : social categorization, social identification, social comparison, in-group favoritismdan out-group differentiation, serta norm internalization. Dalam konteks kampus, proses social categorization terlihat ketika mahasiswa FISIP mengelompokkan diri sebagai bagian dari “anak FISIP UI”, yaitu identitas yang terwakili lewat fashion yang santai, unik, dan bebas dari aturan formal.

Selanjutnya, pada tahap social identification, mahasiswa mulai mengadopsi nilai-nilai khas FISIP UI, termasuk gaya berpakaian yang menjadi simbol afiliasi kelompok. Identitas ini diperkuat melalui social comparison, di mana proses membandingkan diri dengan mahasiswa dari fakultas lain yang sering diasosiasikan dengan tampilan lebih formal dan kaku. Dari perbandingan ini, muncul in-group favoritism, yaitu kecenderungan memberikan penilaian positif terhadap gaya kelompok sendiri, sekaligus out-group differentiation, ditandai dengan komentar seperti “Enggak kelihatan anak FISIP” terhadap mahasiswa yang tampil terlalu formal. Hal ini menunjukkan adanya ekspektasi sosial yang membentuk norma berpakaian. Lambat laun, norma tersebut tidak lagi terasa sebagai tekanan eksternal. Dalam tahap norm internalization, mahasiswa merasa tidak nyaman ketika harus mengenakan pakaian formal karena hal itu bertentangan dengan citra diri yang telah melekat kuat sebagai bagian dari “anak FISIP UI”.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dipadukan dengan pendekatan fenomenologi dalam paradigma konstruktivisme. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan yang tepat karena fokus utamanya adalah menggali pengalaman hidup mahasiswa dalam memaknai gaya berpakaian mereka sebagai bagian dari proses identifikasi sosial. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa FISIP UI angkatan 2022 karena mereka telah menjalani proses sosialisasi kampus secara daring dan luring, terpapar budaya FISIP UI, serta masih berada dalam pertengahan studi yang memungkinkan adanya refleksi akan perubahan gaya berpakaian dalam konteks identitas sosial dari masa awal perkuliahan hingga saat ini. Subjek penelitian dipilih dengan metode purposive samplingdengan kriteria mahasiswa aktif FISIP UI angkatan 2022, memiliki minat terhadap topik gaya berpakaian, dan dapat merefleksikan pengalamannya secara verbal. 

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sebanyak tiga informan diwawancarai secara mendalam dan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom untuk mendapatkan variasi pengalaman mahasiswa terkait proses internalisasi identitas sosial mereka. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan secara langsung di FISIP UI untuk melihat gaya berpakaian mahasiswa, interaksi sosial yang memengaruhinya, kemudian dibandingkan dengan gaya berpakaian mahasiswa dari fakultas lainnya sebagai bentuk dari in-groupdan out-group differentiation.

Data dianalisis secara tematik melalui coding manual, melalui tiga tahapan utama proses coding: open coding, axial coding,dan selective coding(narasi axial). Kemudian untuk menjamin keabsahan serta kredibilitas penelitian, peneliti menggunakan kriteria trustworthinessdan authenticity.Penelitian ini memiliki kriteria trustworthinesskarena dijaga melalui triangulasidata dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi partisipatif (credibility),dijamin dengan penyajian konteks penelitian secara rinci (transferability),dandicapai dengan menjaga objektivitas dan meminimalkan bias peneliti (confirmability).Sementara itu, kriteria authenticity terpenuhi karena penelitian ini mampu menggambarkan pengalaman dan perspektif informan secara jujur dan utuh. Peneliti berupaya menangkap makna subjektif yang mereka alami, serta bagaimana identitas sosial mereka terbentuk dan diekspresikan melalui fashiondalam lingkungan kampus.


DISCUSSION

Self-Categorization melalui Gaya Berpakaian sebagai Pembentuk Identitas Sosial Mahasiswa FISIP UI

Dalam kerangka Social Identity Theory, aspek self-categorization merujuk pada proses ketika individu secara sadar atau tidak sadar mulai mengelompokkan dirinya ke dalam identitas sosial tertentu. Dalam konteks mahasiswa FISIP UI angkatan 2022, gaya berpakaian menjadi ekspresi identitas penting dari proses ini

Salah satu informan, S (Antropologi 2022) dan Y (Kriminologi 2022) menyatakan :

Pernyataan dari informan S (Antropologi 2022) ini mencerminkan proses internal dari pencarian identitas sosial melalui pakaian. Meskipun Ia tidak bisa mendefinisikan gayanya secara spesifik menurut kategori fashionpopuler, Ia tetap mengasosiasikan penampilannya sebagai “FISIP”, yang menunjukkan bahwa Ia telah mengkategorikan dirinya ke dalam identitas sosial berbasis fakultas melalui simbol visual.

Sementara pernyataan dari informan Y (Kriminologi 20220) dapat dilihat, bahwa mahasiswa FISIP UI tidak hanya memilih  pakaian karena kenyamanan atau tren, tetapi juga karena ia ingin dikategorikan sebagai pribadi yang “rapi dan friendly”. Ini menunjukkan bahwa Ia secara sadar mengonstruksi citra sosial dirinya berdasarkan kategori ideal dalam lingkungan sosial kampus. Gaya berpakaian menjadi alat untuk memetakan dirinya ke dalam kelompok yang dianggap cocok dengan nilai-nilai FISIP UI : santun, estetik, dan komunikatif.

Source : Pinterest


Dengan demikian, aspek self-categorization dalam konteks penelitian ini menegaskan bahwa berpakaian bukan sekadar tindakan fungsional atau estetika, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas sosial yang memungkinkan mahasiswa mengenali diri mereka sebagai bagian dari kelompok tertentu di kampus baik melalui citra “anak FISIP UI”, gaya “rapi dan presentable”, atau penyesuaian terhadap label sosial yang berkembang dalam lingkup pergaulan akademik.

Internalisasi Norma Sosial dan Ekspresi Identitas: Dinamika Gaya Berpakaian di Lingkungan FISIP UI

Lingkungan sosial FISIP UI memainkan peran krusial dalam membentuk gaya berpakaian mahasiswa. Gaya ini tidak hanya muncul dari preferensi pribadi, tetapi juga terkait erat dengan pengalaman berelasi dalam organisasi, jurusan, serta budaya nonverbal yang berkembang di FISIP UI. Budaya jurusan turut membentuk norma tidak tertulis yang akhirnya diinternalisasi oleh mahasiswa. Seiring waktu, norma ini tidak lagi terasa sebagai tekanan eksternal, melainkan menjadi bagian dari cara berpikir dan merasakan diri sebagai bagian dari komunitas.

Salah satu informan, Y (Kriminologi 2022), menjelaskan bahwa warna hitam yang identik dengan jurusannya menjadi semacam dresscode informal:

Pernyataan ini menunjukkan bagaimana norma-norma sosial internal jurusan bisa mendorong mahasiswa untuk menyesuaikan gaya sebagai bentuk sosialisasi identitas kelompok. Selain norma dari jurusan, interaksi di organisasi juga berkontribusi besar. Aktivitas cepat dan padat dalam organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UI  mendorong mahasiswa memilih gaya yang lebih fungsional tanpa kehilangan ciri khas mereka. 


Y (Kriminologi 2022), yang merupakan badan pengurus harian BEM FISIP UI 2024, menyatakan,

Penyesuaian ini menunjukkan bagaimana gaya berpakaian menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang fleksibel dan adaptif terhadap konteks sosial. Di sinilah pentingnya pemahaman akan identitas sosial dari penampilan: dengan membaca gaya berpakaian, mahasiswa dapat menangkap dinamika kelompok dan menyesuaikan cara berkomunikasi yang lebih sesuai, misalnya dalam pemilihan bahasa, topik, atau ekspresi diri. Terlebih lagi, FISIP UI sendiri dilihat sebagai ruang yang sangat terbuka terhadap ekspresi personal, dan suasana ini juga berkontribusi pada internalisasi norma kebebasan berekspresi.

Salah satu informan, S (Antropologi 2022), mengungkapkan bahwa anak Antropologi sudah terbiasa dengan stereotip “funky” yang malah memperkuat kepercayaan diri mereka:

Di sini terlihat bahwa norma kebebasan itu sendiri menjadi nilai yang dihidupi secara sadar oleh mahasiswa. Ketika norma sosial kampus sudah begitu terinternalisasi, gaya berpakaian bukan lagi sesuatu yang ‘dipikirkan’, tapi menjadi bagian dari tubuh dan identitas sosial mereka sehari-hari. Hal ini memungkinkan komunikasi nonverbal yang lebih otentik sekaligus menjadi alat untuk menavigasi hubungan sosial antarkelompok mahasiswa secara lebih cermat.

Social Comparison Gaya Berpakaian Antarfakultas dalam PerspektifIn-group Favouritism & Out-group Differentiation

Seperti yang dijelaskan di awal, FISIP UI cenderung memiliki pakaian yang lebih ekspresif dibandingkan fakultas lainnya. FISIP UI memiliki beragam gaya sehingga bagi fakultas lain yang datang akan melihat bahwa mahasiswa FISIP UI menunjukkan ekspresi diri lewat pakaian.  Perbedaan gaya berpakaian ini menciptakan dinamika in-group favoritism dan out-group differentiation, di mana mahasiswa FISIP UI cenderung menganggap gaya mereka sebagai bentuk kebebasan dan ekspresi diri dibandingkan fakultas lain.

Salah satu dari narasumber kami, O (Ilmu Komunikasi, 2022) menanggapi akan gaya berpakaian yang ada di FISIP UI. 

Gaya berpakaian ini tidak hanya dianggap sebagai ekspresi personal, tetapi juga sebagai ciri khas kolektif yang memperkuat identitas sosial kelompok setiap fakultasnya. O (Ilmu Komunikasi, 2022) juga menegaskan kembali bahwa style tersebut hanya Ia lihat di lingkungan FISIP UI saja.

Source : pinterest

Pakaian yang ditunjukkan melalui gambar diatas adalah pakaian yang akan ditemukan di Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT). Gaya terlihat lebih ke casual formal look. Sementara pakaian yang lebih ekspresif seperti yang dikatakan oleh informan terlihat pada gambar di bawah ini dan cenderung ditemukan di FISIP UI.

Source : Pinterest

Stereotip juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi ini. Contohnya, mahasiswa Antropologi dikenal aktif menggunakan kain seperti turban sehingga menciptakan citra “berbudaya” yang kuat, bahkan dianggap sebagai identitas ikonik dari FISIP UI sendiri. Hal ini memperkuat konstruksi bahwa FISIP UI memiliki subkultur tersendiri yang membedakannya dari fakultas lain, dan mempertegas batas antara in-group favoritismdan out-group differentiation.

Lewat konsep in-group favoritism, mahasiswa FISIP UI memberikan nilai kebebasan berekspresi melalui keberagaman gaya berpakaian yang mereka tampilkan. Para informan menyoroti bagaimana pakaian mahasiswa FISIP UI kerap dianggap “skena”, “unik”, dan mencerminkan keberanian dalam berekspresi. Dibandingkan dengan fakultas lain, FISIP UI dinilai memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswanya untuk menampilkan identitas diri lewat busana. Kebebasan ini mendorong munculnya berbagai gaya berpakaian yang trendi, variatif, dan mencerminkan perkembangan mode serta identitas personal masing-masing individu.


Sementara itu, dalam konteks out-group differentiation, terdapat kecenderungan mahasiswa FISIP UI untuk menekankan perbedaan antara gaya berpakaian di fakultasnya dengan fakultas lain. Hal ini berpotensi membentuk stereotip terhadap kelompok luar. Salah satu contohnya terlihat ketika informan secara tidak langsung membandingkan gaya berpakaian mahasiswa FISIP UI dengan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Farmasi (FF), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Teknik (FT) yang diasosiasikan dengan kesan lebih “formal” dan kurang ekspresif.


Dinamika ini juga berkaitan erat dengan konsep social comparison, yaitu proses di mana individu menilai diri dan kelompoknya dengan membandingkannya terhadap kelompok lain. Dalam konteks ini, mahasiswa FISIP UI melakukan perbandingan sosial dengan cara menilai gaya berpakaian mereka lebih bebas dan ekspresif, sementara gaya dari fakultas lain diasosiasikan dengan kekakuan, keseragaman, atau formalitas. Perbandingan ini tidak hanya memperkuat citra positif terhadap kelompok sendiri, tetapi juga menciptakan stereotip terhadap kelompok luar.

KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya berpakaian mahasiswa FISIP UI bukan hanya soal selera pribadi, tetapi menjadi bagian penting dari proses pembentukan identitas sosial. Aspek self-categorization tampak jelas ketika mahasiswa menyesuaikan gaya mereka agar selaras dengan norma dan budaya yang hidup di lingkungan FISIP UI. Interaksi dalam jurusan, organisasi, dan kehidupan kampus membentuk cara mereka berpakaian sekaligus memperkuat rasa afiliasi atau keanggotaan terhadap kelompok. Perbedaan gaya dengan fakultas lain juga menumbuhkan dinamika in-group favoritism dan out-group differentiation, yaitu gaya FISIP UI yang ekspresif dianggap sebagai simbol kebebasan, sementara gaya dari fakultas lain sering dilihat lebih formal dan kaku. Hal ini menunjukkan bahwa fashionmenjadi sarana penting untuk menegaskan posisi dalam komunitas kampus.


Temuan ini dapat memperkaya studi sosiologi pakaian, komunikasi nonverbal, dan kajian identitas di lingkungan pendidikan tinggi. Dalam praktiknya, hasil penelitian ini bisa membantu pihak kampus atau organisasi mahasiswa memahami bagaimana norma sosial terbentuk dan memengaruhi ekspresi diri mahasiswa, terutama dalam hal inklusivitas dan penerimaan terhadap keragaman gaya berpakaian.

Referensi

Abisya, N. D. (2022). FASHION AS A FORM OF SELF-IDENTITY ON STUDENTS OF THE STATE UNIVERSITY OF SURABAYA: fashion, identity formation, students. The Commercium, 5(3), 68–78. https://doi.org/10.26740/tc.v5i3.48259.

Barnard, M. (1996). Fashion as communication. London: routledge.

Entwistle, J. (2000). The Fashioned Body: Fashion, Dress, and Social Theory. Polity Press.

Laksmi, 2017. Teori Interaksionisme Simbolik dalam Kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Indonesia.

Qorib, F., Oktarina, R. A., Ermelinda, J. (2023). Penggunaan Busana Sebagai Bentuk Ekspresi dan Identitas Mahasiswa di Media Sosial. Jurnal Komunikasi Nusantara, 5(2), 236-251.

Syarafa, D. A., Adhrianti, L., & Sari, E. V. (2020). Fashion Sebagai Komunikasi Identitas Sosial Mahasiswa FISIP Universitas Bengkulu. Jurnal Kaganga: Jurnal Ilmiah Sosial Dan Humaniora, 4(2), 20–29.

Trisnawati, T. Y. (2011). Fashion sebagai Bentuk Ekspresi Diri dalam Komunikasi. The Messenger, 3(1), 36-47.

Romadona, M. R., & Setiawan, S. (2020). Communication of organizations in organizations change’s phenomenon in research and development institution. Jurnal Pekommas, 5(1), 91–104. https://doi.org/10.30818/jpkm.2020.2050110

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *