Ditulis oleh: Nadia Amelia Putri

Liburan adalah cara manusia mengambil jeda. Sebagian orang pergi ke pantai untuk membiarkan debur ombak menggantikan bising di kepala, ke gunung mencari udara yang lebih lapang, atau ke kota asing untuk berjalan tanpa tujuan. Namun bagi Generasi Z yang tumbuh bersama media sosial, jeda itu kini punya wajah yang berbeda.
Sebelum makanan disentuh, kamera lebih dulu diangkat. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, sudut terbaik sudah dicari. Bahkan di ruang tunggu bandara, perjalanan kerap dimulai sebelum pesawat lepas landas. Ada yang merekam langkah menuju gate, memotong klip video di kursi tunggu, atau mengunggah Instagram Story sebelum sinyal hilang di udara.
Kebiasaan itu bukan tanpa alasan. Laporan Traveler Value Index 2025 dari Expedia Group menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu sumber utama inspirasi perjalanan bagi wisatawan muda. TikTok dan Instagram bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk menemukan destinasi, menyusun itinerary, hingga mendokumentasikan pengalaman selama liburan.
Tak heran jika kamera ponsel seolah menjadi barang wajib setelah tiket dan dompet. Ia hadir di pantai, kafe, hostel, hingga berbagai sudut destinasi. Perjalanan tidak lagi hanya dialami, tetapi juga dirangkai agar bisa hidup kembali di ruang digital.
Namun, di tengah semua momen yang direkam dan dibagikan, benarkah kebiasaan membuat konten membuat Generasi Z kehilangan makna liburan itu sendiri?
Saat Konten Menjadi Bagian dari Perjalanan
Pertanyaan itu sering kali melahirkan ruang perdebatan. Di saat banyak orang menganggap layar ponsel mendistorsi kehadiran kita di dunia nyata, bagi sebagian anak muda, kamera justru menjadi perpanjangan tangan untuk menikmati perjalanan. Konten tidak lagi dinilai sebagai gangguan, melainkan bagian dari momen itu sendiri.
Bagi Muhammad Rizki Abdillah, misalnya. Mengabadikan perjalanan lewat foto, video, hingga unggahan real-time di media sosial sudah menjadi refleks diri. Alih-alih merasa terbebani, ia bahkan kerap memanfaatkan waktu luang di transportasi umum untuk menyunting video, “Justru aku enjoy bikin konten,” ujarnya.

Rizki tidak merasa kehilangan esensi liburan hanya karena tangannya sibuk memegang ponsel. Baginya, konten adalah cara lain untuk mensyukuri setiap perjalanannya. Ada kepuasan personal yang ia dapatkan ketika unggahan tersebut memantik interaksi, seperti menginspirasi orang lain untuk berkunjung atau bahkan memikat orang lain untuk liburan bersama, “Not trying to be pick me, tapi maksud aku itu adalah jadi validasi yang positif, ‘oh, sepertinya aku bisa jadi a good travel friend‘ gitu loh,” tambahnya.

Perspektif serupa diamini oleh Paundra, atau yang akrab disapa Oda. Sebagai seorang content creatorsekaligus tour leader berusia 23 tahun, Oda melihat dokumentasi sebagai cara agar sebuah perjalanan terasa lebih sempurna, karena tetap dapat dinikmatinya setelah perjalanan itu usai. Misalnya, Instagram Story yang tersimpan di highlight, ia bisa memutar kembali memori tersebut tanpa batasan waktu, “Untung saat itu aku videoin,” kenang Oda.
Pada akhirnya, cerita singkat yang diunggah secara spontan atau video cut-to-cut yang dirangkai di sela-sela perjalanan justru menjadi jangkar waktu. Ia menjaga memori tetap hidup, setelah langkah kaki perlahan pergi.
Ruang Rehat bagi Pekerja ‘9-to-5’
Namun, sudut pandang berbeda muncul dari Jeanette Natasha, seorang pekerja kantoran yang memegang prinsip “kerja 9-to-5 demi liburan”, baginya liburan adalah bentuk penghargaan diri setelah menjalani hari-hari panjang. Membeli tiket ke sebuah destinasi menjadi motivasi untuk terus bergerak. Namun, jeda tersebut sempat terusik ketika ia terjebak dalam desakan untuk melakukan real-time posting. Di titik itu, ia menyadari bahwa mengejar estetika digital di tengah waktu santai justru lebih dulu mendatangkan lelah, “Lebih baik fokus menikmati pengalamannya dulu secara langsung,” tuturnya.

Belajar dari sana, Jeanette kini menemukan ritme baru. Ia tetap mendokumentasikan perjalanannya, tetapi seluruh rekaman visual itu hanya dijadikan sebagai stock footage pribadi. Materi tersebut baru akan dipilah dan diolah setelah ia menginjakkan kaki kembali di rumah.
Lewat cara ini, teknologi tidak perlu dihindari, namun juga tidak dibiarkan menyetir perjalanan. Sebagaimana Jeanette yang masih bisa menikmati momen dengan mata kepala sendiri, lalu membiarkan dokumentasi menjadi bahan cerita setelah liburannya benar-benar usai.
Menemukan Sisi Diri yang Tersembunyi
Meski cara menikmati perjalanan berbeda-beda, traveling tetap menyimpan makna yang lebih personal bagi mereka di balik layarnya.
Bagi Rizki, perjalanan membuatnya mengenal sisi diri yang sebelumnya tidak ia sadari. Ia belajar bahwa dirinya mampu tidur di hostel bersama orang asing, berjalan jauh negara orang, dan keluar dari zona nyaman yang selama ini terasa aman.
Bagi Jeanette, traveling menjadi pelajaran tentang bagaimana hidup berdampingan dengan orang lain. Dari perjalanan bersama teman-teman dalam kelompok kecil, ia belajar bahwa setiap orang membawa ekspektasi dan gaya liburan yang berbeda. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa ia tidak harus selalu mengalah atau mengikuti keinginan orang lain. Sebaliknya, ia belajar mencari keseimbangan antara menikmati kebersamaan dan memberi ruang bagi kebutuhan dirinya sendiri.
Sementara bagi Oda, perjalanan kerap menjadi pelajaran tentang perbedaan. Saat bepergian ke luar negeri, ia pernah menghadapi perlakuan yang membuatnya merasa tidak diterima. Namun alih-alih membawa pulang kekecewaan, pengalaman itu justru membuatnya memahami bahwa setiap negara memiliki budaya, kebiasaan, dan tingkat keterbukaan yang berbeda terhadap pendatang. Dari sana, ia belajar melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.
Di balik kamera dan unggahan, perjalanan tetap menjadi ruang untuk bercermin. Tentang siapa diri kita ketika jauh dari rutinitas,
Masih Ada Gen Z yang Slow Living
Di tengah budaya yang semakin terbiasa membagikan segalanya, masih ada anak muda yang memilih memperlambat langkah. Naufal menjadi salah satunya. Ia tetap mendokumentasikan perjalanan dan memahami pentingnya visual yang tertata. Namun baginya, liburan tidak seharusnya berubah menjadi daftar target yang terus dikejar. Tidak semua tempat harus dikunjungi dalam satu hari, tidak semua sudut harus difoto, dan tidak semua pengalaman harus segera dibagikan, “Jadi nggak usah di-push terus untuk ayo kejar ini, kejar itu,” ujarnya.
Bagi Naufal, perjalanan bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dicentang dari daftar tujuan, melainkan tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar hadir dalam setiap pengalaman. Ada kalanya ponsel tetap digunakan, tetapi ada pula saat ketika pemandangan, percakapan, atau suasana sebuah tempat lebih layak dinikmati secara langsung.
Pandangan itu menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus konten, kecenderungan slow livingternyata masih memiliki tempat di kalangan Generasi Z yang memilih menikmati perjalanan dengan ritme yang tenang, tanpa tekanan untuk terus produktif.

Dengan demikian, di situlah makna liburan Generasi Z hari ini menjadi lebih berlapis. Perjalanan tidak lagi sekadar tentang pergi untuk beristirahat, tetapi juga tentang bagaimana setiap orang memilih memaknainya.
Daftar Pustaka
Expedia Group. (2025). 2025 traveler value index. Expedia Group. https://partner.expediagroup.com/en-us/resources/research-insights/2025-traveler-value-index




