Journalight

UI Journalism Studies

LDR
Feature

Cinta di Balik Layar: LDR Gen Z di Bawah Sorotan Netizen

Ditulisoleh: Margareth Fidelia Anggara

Konten digital menjadi cara pasangan LDR membagikan momen kebersamaan mereka.

Sumber foto: akun TikTok @marselandmichelle

JAKARTA, (05/06/2026) – Bagi Generasi Z, menjalani hubungan jarak jauh bukan lagi sekadar menahan rindu atau menunggu pertemuan berikutnya. Di era media sosial terutama TikTok, hubungan romantis ikut berpindah ke ruang digital, di mana momen pribadi dapat berubah menjadi tontonan publik. Unggahan tentang pasangan, caption romantis, atau video pertemuan bisa menjadi ruang interaksi yang dilihat, dinilai, bahkan diawasi banyak orang.

Fenomena ini dapat dilihat melalui konsep netizen surveillance, ketika audiens digital tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga ikut mengamati dan menilai perilaku pengguna lain di media sosial. Dalam long distance relationshipatau yang sering disebut dengan LDR, pengawasan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Media sosial dapat membantu pasangan mendokumentasikan komitmen, tetapi sorotan publik juga dapat memicu rasa cemas hingga stres jika tidak dikelola secara sehat. Kisah Michelle-Marsel serta Asha-Bhadra menunjukkan bahwa cinta jarak jauh hari ini juga hidup di bawah tatapan publik digital.

Media Sosial sebagai Ruang Dokumentasi LDR

Michelle dan Marsel, pasangan asal Bandung, menggunakan media sosial untuk merayakan hubungan jarak jauh mereka. Setelah lulus dari SMA Santa Angela Bandung, keduanya menjalani kehidupan kampus di kota berbeda. Michelle melanjutkan studi di Universitas Airlangga, Surabaya, sementara Marsel berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Melalui akun TikTok @marselandmichelle, mereka membagikan perjalanan LDR, mulai dari video “jedag-jedug” mengenakan almamater kampus masing-masing hingga momen pertemuan saat kembali ke Bandung pada libur semester.

Bagi pasangan ini, TikTok menjadi galeri digital yang menyimpan jejak komitmen. Konten yang diunggah bukan hanya menunjukkan sisi romantis, tetapi juga membangun identitas sebagai pasangan muda yang mampu mempertahankan hubungan meski berbeda kota.“Awalnya aku cuma ingin nyimpen momen aja, apalagi karena kita jarang ketemu. Tapi ternyata konten itu juga jadi cara buat nunjukin kalau LDR tetap bisa dijalanin,” ujar Michelle.

Skala pengawasan di media sosial yang lebih besar dialami oleh Asha, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, dan pasangannya, Bhadra, mahasiswa Manajemen UGM yang sedang menjalani program double degree di Hull, Inggris. Sebagai content creator dengan 249.000 pengikut di akun TikTok @revasharstnd, Asha terbiasa membagikan potongan kehidupan personalnya, termasuk hubungannya dengan Bhadra. “Kita berusaha untuk nge-balance-in komunikasi via sosial media apapun aja,” ujarnya. Mereka sering saling mengirim foto dan video keseharian agar tetap punya bahan obrolan meski terpisah jarak Indonesia–Inggris dan perbedaan waktu.

Unggahan TikTok Asha menjadi salah satu ruang dokumentasi hubungan LDR sekaligus titik temu antara cerita personal dan respons publik digital.

Sumber foto: akun TikTok @revasharstnd

Tipisnya Batas antara Privasi dan Konsumsi Publik

Semakin besar ruang publik yang dibuka, semakin besar pula risiko pengawasan yang datang. Dalam ekosistem media sosial, followers sering kali tidak hanya menikmati konten, tetapi juga merasa berhak menilai hubungan orang lain. Mereka dapat memberi dukungan, tetapi juga mempertanyakan, mencurigai, atau mengoreksi tindakan pasangan yang terlihat di layar.

Bhadra merasakan langsung bagaimana informasi personal dapat menyebar melampaui lingkaran terdekat. Beberapa temannya di kota lain di Inggris dapat mengetahui aktivitas atau detail hubungannya hanya dari membaca caption unggahan Asha di TikTok. Padahal, sebagian dari mereka belum pernah bertemu langsung dengannya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin tipis.

Asha menyadari bahwa menjadi figur publik di TikTok membuatnya harus lebih berhati-hati. “Aku jadi berusaha untuk lebih aware lagi sih ketika aku do something in public,” ungkapnya. Kesadaran ini muncul karena setiap tindakan yang terekam atau dibagikan dapat memengaruhi citra dirinya sebagai content creator, sekaligus citra hubungannya dengan Bhadra. Pengalaman Michelle dan Marsel juga memperlihatkan hal serupa dalam skala lebih ringan. “Kadang kita sadar kalau orang bisa ikut tahu cerita kita dari video-video itu. Jadi tetap harus mikir mana yang bisa diunggah dan mana yang cukup kita simpan sendiri,” ujar Marsel.

Dampak Pengawasan Digital pada Kesehatan Mental

Pengawasan yang terus-menerus dapat membawa dampak psikologis, terutama ketika komentar netizen mulai memicu kecurigaan. Salah satu risiko yang muncul adalah kecemburuan kognitif, yaitu rasa khawatir tentang pasangan karena pikiran negatif. Dalam hubungan LDR, kecemburuan ini dapat semakin meningkat karena pasangan LDR tidak dapat selalu hadir secara fisik bagi satu sama lain. Jarak, perbedaan waktu, dan keterbatasan komunikasi membuat informasi dari pihak ketiga terasa lebih mengganggu.

Komentar netizen, rumor, atau potongan informasi yang tidak utuh dapat menjadi pemicu stres apabila langsung dipercaya tanpa verifikasi. Dalam situasi ini, media sosial bukan lagi hanya sebuah ruang hiburan, tetapi juga sumber kecemasan bagi pasangan Gen Z.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Asha dan Bhadra membangun komunikasi yang terbuka. Asha tidak langsung percaya pada komentar atau tuduhan yang muncul dari netizen. “Ketika ada komen pasti aku enggak bakal terima mentah-mentah,” jelasnya. Ia memilih mengonfirmasi langsung kepada Bhadra sebelum mengambil kesimpulan, agar komentar publik tidak berubah menjadi konflik pribadi.

Selain itu, Asha menggunakan aplikasi “Find My” untuk mengetahui lokasi Bhadra secara rutin. “Soalnya, kalau LDR susah banget ya kalau enggak digital,” ujarnya. Fitur tersebut membantunya merasa lebih tenang ketika pasangannya belum sempat memberi kabar. Bagi mereka, teknologi ini bukanlah bentuk kontrol berlebihan, melainkan cara untuk mereka menenangkan diri, selama teknologi itu digunakan dengan kesepakatan dan kepercayaan.

Infografis: Batas sehat dalam menjalani LDR di era media sosial dan netizen surveillance.

Menjaga Kepercayaan di Tengah Sorotan Netizen

Pada akhirnya, fondasi utama LDR di tengah pengawasan publik adalah kepercayaan. Bhadra menekankan pentingnya kedewasaan untuk tidak “mencari-cari masalah yang enggak ada” karena emosi atau spekulasi dari luar. Baginya, menurunkan ego dan memahami tanggung jawab masing-masing adalah bagian dari cara menjaga hubungan agar tetap sehat. Asha juga menegaskan, “I think the only thing that we can rely on adalah dengan mempercayai pasangan kita.”

Keduanya menunjukkan bahwa transparansi digital bukan berarti membuka seluruh kehidupan pribadi kepada publik. Tidak semua percakapan, konflik, atau bukti cinta harus dibagikan ke media sosial. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan memilah mana yang layak menjadi konsumsi publik dan mana yang tetap menjadi ruang pribadi. Asha sendiri menyadari bahwa meski konten tentang hubungan asmara dapat membawa dampak positif, ia tetap harus menjaga batasan agar kehidupan personalnya tidak terganggu.

Di tengah riuhnya kolom komentar, validasi terbesar atas sebuah hubungan tetap berada di tangan pasangan itu sendiri. Netizen dapat mengamati dan membangun narasi tentang hubungan yang mereka lihat di layar. Namun, hanya pasangan yang benar-benar mengetahui dinamika di baliknya. Kisah Michelle-Marsel dan Asha-Bhadra memperlihatkan bahwa layar ponsel dapat menjadi jembatan yang mendekatkan, tetapi juga jendela yang membuat hubungan rentan diawasi. Selama pasangan mampu menjaga batas sehat, transparansi, dan kepercayaan, netizen surveillance tidak harus menjadi ancaman bagi hubungan LDR.

Referensi

  1. Febriani, S. N., & Widyatama, R. (2025). Peran followers dalam mengawasi aktivitas content creator pada platform media sosial di era digital. JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan), 8(6), 6186–6193.
  2. Retossa, R. R., Wardhani, N., & Srisayekti, W. (2024). The relationship between cognitive jealousy and stress levels in romantic relationships in emerging adulthood. Eduvest – Journal of Universal Studies, 4(7), 5775–5784.




LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *