Journalight

UI Journalism Studies

Feature Lifestyle

Puluhan Lamaran, Minim Balasan: Kecemasan Mahasiswa di Tengah Persaingan Magang

Ditulis oleh: Zefanya Nathaline Ginting

Sumber: Dokumentasi Pribadi/Vindy S.

DEPOK, (05/06/2026) — Di tengah persaingan yang semakin ketat, mendapatkan tempat magang menjadi tantangan yang tidak mudah bagi banyak mahasiswa. Ketika teman-teman mulai mengunggah kabar diterima di berbagai perusahaan, tidak sedikit mahasiswa yang justru dihantui rasa tertinggal dan ketidakpastian.

“Walaupun guesenang teman guedapat, tapi itu gue jadi stres yang kayak, aduh gue belum.”

Kalimat itu diucapkan oleh Vindy (21), mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ketika menceritakan pengalamannya mencari magang. Setelah mengirim puluhan lamaran ke berbagai institusi, ia masih menunggu kesempatan yang tak kunjung datang.

Perasaan tersebut juga dialami oleh Nic (21), mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Meski berasal dari jurusan yang berbeda, keduanya dipertemukan oleh pengalaman yang sama, yaitu menunggu emailyang tak kunjung datang.

Bagi Vindy, pentingnya magang sudah ia sadari sejak awal kuliah. Di lingkungan Fakultas Hukum, pengalaman magang sering dianggap sebagai bekal penting untuk membangun karier setelah lulus. Karena itu, ia mulai aktif mengirim lamaran ke berbagai institusi sejak beberapa semester lalu.

Namun, kenyataan yang ia hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Selama berkuliah, Vindy memperkirakan telah mengirim lebih dari 30 lamaran magang. Sebagian besar tidak mendapatkan respons, sementara beberapa lainnya berhenti di tahap seleksi. “Gue pribadi tahu akan susah nyarimagang. Tapi gue dan beberapa teman gue juga enggaknyangka seberat itu,” ujarnya.

Lama-kelamaan, pencarian magang menjadi topik yang hampir selalu hadir dalam percakapan sehari-hari bersama teman-temannya. “Kalau ketemu langsung ngobrolinnyaloudah daftar ke mana?’, ‘ada feedback enggak?’,” tuturnya. Tekanan semakin terasa ketika satu per satu temannya mulai mendapatkan panggilan wawancara atau diterima di tempat magang tertentu. “Walaupun guesenang teman guedapat, tapiitu guejadi stres yang kayak, aduh guebelum,”ujarnya.

Jika Vindy merasa tekanan terbesar datang dari perbandingan dengan teman-temannya, Nic justru lebih banyak dihantui ketakutan tentang masa depan setelah lulus. Berbeda dengan Vindy yang telah memikirkan magang sejak awal kuliah, Nic menghabiskan sebagian besar masa perkuliahannya dengan aktif berorganisasi. Ia merasa pengalaman organisasi dapat membantunya membangun relasi, mengembangkan kemampuan kepemimpinan, dan mempelajari berbagai keterampilan baru.

Namun, ketika aktivitas organisasinya mulai berkurang, ia menyadari bahwa pengalaman profesional juga tidak kalah penting. Kesadaran itu mendorongnya mulai aktif mencari magang. “Saat itu guebelum tahu valueyang harus guebawa itu apa,” jelasnya.

Seperti Vindy, perjalanan Nic juga dipenuhi ketidakpastian. “Pokoknyakayak 30-an sampai 40-an kali daftar, tapi enggakada yang nerima,”ujarnya. Tidak adanya respons membuat Nic mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri. “Gue stres dan kayak takut, sih. Ini kenapa guebelum keterima-terima, nih?”ungkapnya.

Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan mendapatkan tempat magang. Ia juga takut tidak memiliki pengalaman yang cukup ketika memasuki dunia kerja. “Gue takut juga enggakpunya pengalaman. Takut setelah lulus sebenarnya ngapain, sih, gue,” ujarnya.

Lantas, apakah kecemasan yang dirasakan Vindy dan Nic hanya terjadi pada segelintir mahasiswa?

Infografik 1. Tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda, kekhawatiran Generasi Z terhadap masa depan, serta pentingnya pengalaman kerja dalam proses rekrutmen menjadi faktor yang turut menjelaskan meningkatnya kecemasan mahasiswa dalam mencari magang. (Infografik: Zefanya Nathaline Ginting; Sumber: BPS, GoodStats, dan World Economic Forum).

Data menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan GoodStats, kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental pada Generasi Z dengan proporsi mencapai 60 persen. Kekhawatiran tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari karier, stabilitas ekonomi, hingga ketidakpastian masa depan.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Future of Jobs Survey2024 yang dilakukan World Economic Forum (WEF) terhadap 1.000 pemberi kerja menunjukkan bahwa pengalaman kerja menjadi faktor utama yang digunakan perusahaan untuk menilai kandidat, dengan persentase mencapai 81 persen. Selain itu, pengalaman magang juga termasuk dalam lima besar mekanisme penilaian calon pekerja. Dengan kata lain, pengalaman profesional masih menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa dan lulusan baru untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja.

Aktivitas Magang di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Sumber: Dokumentasi Pribadi/Vindy S.

Fenomena ini turut diamati oleh Vida A. Parady, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sekaligus Koordinator Mata Kuliah Magang. Menurut Vida, kondisi mahasiswa yang kesulitan memperoleh tempat magang semakin sering ditemui dalam beberapa tahun terakhir. “Sekarang ini justru sampai semester tujuh mulai pun masih ada aja, tuh, mahasiswa yang belum ikut magang. Padahal mereka sudah mencari magang sejak sebelum libur semester enam,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa situasi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Ketika pertama kali menjadi koordinator magang, justru perusahaan yang kesulitan mencari peserta magang. Kini, kondisi tersebut berbalik.“Awal-awal saya jadi koordinator magang, saya banyak menolak organisasi yang mau kasih magang karena anak magangnya sudah habis. Sekarang justru banyak mahasiswa yang masih kesulitan mendapatkan tempat magang,” ungkapnya.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah perubahan kebutuhan industri. Banyak perusahaan kini lebih mengutamakan kandidat yang dapat bekerja penuh waktu atau membuka posisi magang bagi lulusan baru. “Sekarang itu banyak tempat yang magangnya memang mengutamakan mahasiswa yang bisa full time, enggakada kuliah lagi,”ujarnya. Selain itu, banyak perusahaan menetapkan durasi magang minimal tiga hingga enam bulan, sementara mahasiswa aktif masih harus membagi waktu dengan kegiatan akademik.

Meski demikian, Vida mengingatkan bahwa mahasiswa tidak perlu merasa harus datang ke tempat magang dengan kemampuan yang sudah sempurna. “Harusnya mereka tidak khawatir karena memang mereka mau belajar. Biasanya lebih dilihat itu soft skill,”tuturnya.

Bagi Vindy dan Nic, perjalanan mencari magang mungkin belum sepenuhnya selesai. Namun, pengalaman mereka menunjukkan bahwa di balik setiap CV yang dikirim dan setiap emailyang ditunggu, terdapat cerita tentang harapan, tekanan, dan usaha untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Pada akhirnya, kecemasan yang mereka rasakan bukan semata-mata soal mendapatkan tempat magang. Ada ketakutan yang lebih besar di baliknya, yaitu takut tertinggal, takut tidak cukup siap, dan takut masa depan yang mereka bayangkan tidak berjalan sesuai rencana.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, satu emailbalasan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi banyak mahasiswa, emailitu sering kali menjadi lebih dari sekadar undangan wawancara. Ia menjadi tanda bahwa usaha, harapan, dan penantian panjang yang mereka jalani akhirnya menemukan jawaban.


Referensi:

Alfathi, B. R. (2025). Lebih dari 80% Rekruter Menilai Pengalaman Kerja Saat Rekrutmen. GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/lebih-dari-80-rekruter-menilai-pengalaman-kerja-saat-rekrutmen-DIjvG

Husein, A. N. (2026). 60% Gen Z di Indonesia Cemas Akan Masa Depan. GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq

Indraini, A. (2026). Generasi Muda Jadi ‘Korban’, Pengangguran Tertinggi di Usia 15-24. detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8476912/generasi-muda-jadi-korban-pengangguran-tertinggi-di-usia-15-24

Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Kelompok Umur – Tabel Statistik. (2026). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTE4MCMy/tingkat-pengangguran-terbuka-berdasarkan-kelompok-umur.html

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *