Ditulis oleh: Aisha Selvira Zahfarina
Pukul enam pagi, deretan Instagram Storymulai dipenuhi berbagai aktivitas olahraga. Ada yang mengunggah tangkapan layar aplikasi lari lengkap dengan jarak tempuh dan paceyang telah dicapai. Ada pula yang membagikan mirror selfie di gym, foto raket tenis yang baru digunakan, hingga video singkat saat mengikuti kelas pilates. Aktivitas yang dahulu bersifat personal kini menjadi konsumsi publik yang dapat dilihat ratusan bahkan ribuan orang hanya melalui satu unggahan.
Fenomena ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Tren olahraga seperti lari, tenis, gym, dan pilates berkembang pesat di kalangan generasi Z. Namun, seiring meningkatnya minat terhadap olahraga, muncul pula kebiasaan untuk mendokumentasikan dan membagikan aktivitas tersebut ke media sosial. Bagi sebagian orang, mengunggah kegiatan olahraga ke Instagram Story menjadi bentuk dokumentasi dan motivasi diri. Namun bagi sebagian lainnya, media sosial juga menjadi ruang untuk membangun citra diri, memperoleh validasi sosial, atau bahkan sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
Fatur (20) merupakan salah satu generasi Z yang aktif membagikan aktivitas olahraganya di Instagram. Dalam satu minggu, ia bisa mengunggah kegiatan olahraga hingga dua sampai tiga kali. Mulai dari sesi latihan di gym, video swingbola golf, hingga permainan tenis yang belakangan menjadi salah satu olahraga favoritnya. Menurut Fatur, olahraga dan media sosial kini menjadi dua hal yang sulit dipisahkan.
“Ya jujur aja, biar kelihatan keren dan punya lifestyleyang aktif. Kalau gue postinglagi nge-gymatau tanding tenis kankesannya gueorang yang produktif dan sehat,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ia mengakui bahwa unggahan olahraga yang dibagikannya bukan semata-mata untuk dokumentasi pribadi. Bagi Fatur, media sosial menjadi tempat untuk membentuk kesan tertentu tentang dirinya di mata orang lain.
“Jujur kebanyakan emang buat nunjukin lifestyledan nyari personal brandingyang bagus. Sisanya baru buat dokumentasi pribadi. Intinya sih biar orang tahu kalau gueanak tenis, golf dan anak gym,” katanya sambil tertawa.
Menariknya, kebiasaan tersebut berawal dari fenomena yang banyak dialami generasi Z lainnya, yaitu FOMOatau fear of missing out. Fatur mengaku mulai aktif mengunggah aktivitas olahraga sejak 2025 setelah melihat banyak teman dan pengguna media sosial lain melakukan hal serupa.
“Kalau main golf, gueudah mulai dari SMA, sih,sekitar tahun 2022. Tapi, pasawal tahun 2025 feedsIG guepenuh banget sama orang-orang yang mendadak main tenis dan gym. Karena gueanaknya emang agak FOMOdan nggak mau ketinggalan, akhirnya guemutusin buat coba ikutan main tenis dan gym,” ungkapnya.
Dari yang awalnya hanya ingin mengikuti tren, olahraga kemudian menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun, kehadiran media sosial tetap memainkan peran penting dalam pengalaman tersebut. Menurutnya, respons dari para pengikut terhadap kegiatan yang diunggahnya memberikan kepuasan tersendiri.
“Ada rasa puas dan bangga sih. Apalagi kalau habis postingterus banyak yang nge-viewatau nge-like, guengerasa orang ngeliat guakeren gitu, bikin makin pede,” ujarnya.
Tak jarang, komentar-komentar dari teman-temannya juga membuatnya merasa mendapatkan pengakuan atas usaha yang telah dilakukan. Di sisi lain, ia mengakui bahwa media sosial juga dapat menimbulkan tekanan ketika melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih baik.

Berbeda dengan Fatur, Annisa (20) memiliki alasan yang berbeda dalam membagikan aktivitas olahraganya di media sosial. Meski sama-sama aktif mengunggah kegiatan olahraga seperti pilates, lari, dan tenis, ia tidak melihat media sosial sebagai sarana untuk mencari validasi sosial. Annisa mulai konsisten membagikan aktivitas olahraganya sejak 2024. Saat itu, ia menyadari bahwa media sosial dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan hal-hal positif yang mencerminkan nilai dan prinsip hidup seseorang.
“Tujuan utama gueitu buat membangun personal branding yang positif. Gue pengenorang lain ngeliatgue sebagai pribadi yang disiplin, punya komitmen, dan menghargai kesehatan,” ujarnya.
Berbeda dengan Fatur yang terdorong oleh tren yang sedang berkembang, Annisa mengaku kebiasaannya muncul karena inspirasi dari sejumlah kreator konten kesehatan yang menurutnya edukatif.
“Kalau terdorong karena FOMOatau ikut-ikutan tren sih enggak ya. Gue justru terinspirasi dari beberapa health influencer yang edukatif dan sering bagiinmomen-momen olahraganya. Guepengen bikin hal yang sama di akun Instagram guesendiri,” jelasnya.
Bagi Annisa, unggahan olahraga bukan sekadar menunjukkan aktivitas yang dilakukan, melainkan juga menyampaikan nilai yang ingin ia pegang dan bagikan kepada orang lain.
“Buat gue, ini perpaduan antara dokumentasi progres pribadi dan valueyang gue tanemindi diri gue, sih. Guenunjukin lifestylesehat bukan buat gaya-gayaan, tapi buat mempertegas nilai diri yang gue pegang,” katanya.
Karena itu, ia tidak terlalu memikirkan jumlah likesatau viewersyang diperoleh dari unggahannya. Hal yang lebih berarti baginya adalah ketika ada orang lain yang merasa terbantu atau termotivasi setelah melihat konten yang ia bagikan.
“Guebakal seneng bangetkalau ada followersyang DM tanya-tanya, ‘Nis, tipsnya dong’. Pertanyaan-pertanyaan kayakgitu yang bikin guengerasa konten gueada manfaatnya juga ternyata,” ujarnya.

Perbedaan cara pandang antara Fatur dan Annisa menunjukkan bahwa motivasi di balik unggahan olahraga tidak selalu sama. Keduanya sama-sama aktif berolahraga dan sama-sama membagikannya di media sosial, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.
Bagi Fatur, media sosial menjadi ruang untuk menunjukkan gaya hidup aktif sekaligus memperoleh pengakuan sosial dari lingkungan sekitarnya. Sementara bagi Annisa, media sosial berfungsi sebagai medium untuk memperkuat personal branding yang dibangun berdasarkan nilai hidup sehat dan disiplin.
Meski demikian, keduanya sepakat bahwa media sosial telah mengubah cara generasi Z berinteraksi dengan olahraga. Aktivitas yang dahulu dilakukan untuk kepentingan pribadi kini juga menjadi bagian dari identitas digital yang ditampilkan kepada publik.
Di balik foto lari, raket tenis, atau mirror selfie gymyang sering muncul di Instagram Story, terdapat motivasi yang beragam. Ada yang ingin mencari validasi, ada yang ingin membangun citra diri, dan ada pula yang ingin menginspirasi orang lain. Namun satu hal yang pasti, bagi banyak generasi Z saat ini, olahraga juga hidup di media sosial, menjadi cerita yang dibagikan, dilihat, dan ikut membentuk identitas mereka di dunia digital.



