Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi organisasi berperan dalam membentuk budaya ‘Kekeluargaan’ di HMIK UI 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif dan pendekatan fenomenologi untuk menggali makna dan pengalaman subjektif para pengurus dalam memahami serta menjalani budaya organisasi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi menjadi sarana penting dalam menciptakan pemahaman bersama tentang nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Meskipun komunikasi efektif dalam konteks koordinasi dan pelaksanaan tugas/program kerja, kedekatan emosional cenderung lebih kuat terbentuk dalam lingkup Bidang/Biro/Departemen (BBD) masing-masing, dibandingkan secara keseluruhan organisasi. Budaya kekeluargaan lebih banyak dimaknai dalam ruang lingkup profesional, sehingga perlu strategi komunikasi yang lebih inklusif untuk memperkuat hubungan lintas struktur. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman dinamika komunikasi dalam pembentukan budaya organisasi di organisasi mahasiswa.
Kata kunci: komunikasi organisasi, budaya organisasi, organisasi mahasiswa, fenomenologi, kualitatif.
Pendahuluan
Buat teman-teman mahasiswa, pasti familiar dengan adanya organisasi kampus, deh! Ibaratnya, organisasi kampus ini jadi tempat kamu main-main sekaligus ngembangindiri melalui berbagai program kerja dan bisa nambah circlepertemanan juga. Teman-teman juga pasti paham, karena fungsinya sepenting itu, kualitas dan hubungan antar anggota jadi kunci utama suksesnya sebuah organisasi mencapai tujuan (Fridayani, J. A., 2022 & R. P. Andy, et al., 2024). Kalau di Ilmu Komunikasi UI, ada satu organisasi yang jadi rumah buat para mahasiswanya, yaitu Himpunan Mahasiswa Komunikasi Universitas Indonesia (HMIK UI). Organisasi ini bertujuan untuk menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, jadi wadah buat menggali minat dan bakat mahasiswa Ilmu Komunikasi, dan menjaga tali kekeluargaan di antara anggotanya (HMIK UI, 2019).
Khusus di tahun 2024 ini, HMIK UI punya highlight budaya “Kekeluargaan” yang mereka sebut sebagai nilai “rekat”. Intinya, mereka pengen semua anggota bisa saling terikat, ngerasa punya satu sama lain, dan menciptakan lingkungan yang inklusif alias ngerasa jadi bagian dari keluarga besar (HMIK UI, 2024). Akan tetapi, namanya juga proses, mewujudkan “kekeluargaan” ini ternyata gak semudah membalik telapak tangan. Masih ada aja tantangan kayak kurangnya kekompakan antar biro atau departemen, dan belum semua anggota ngerasain serta nginternalisasi nilai kekeluargaan itu secara merata.
Komunikasi Organisasi dan Bagaimana Hal Tersebut Membentuk Budaya Organisasi
Komunikasi organisasi adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan di antara anggota organisasi dalam konteks struktur dan tujuan bersama (Nainggolan, 2021). Komunikasi ini bisa berupa koordinasi antar biro/ bidang/ departemen, sosialisasi, rapat, dan bentuk penyebaran informasi lain yang dilakukan di dalam organisasi. Nah,sedangkan kalau ngomongin soal budaya organisasi, artinya adalah sekumpulan nilai, kepercayaan, dan sikap yang hidup di dalam sebuah organisasi. Hal ini mencakup hal-hal yang sifatnya formal (seperti visi misi atau struktur organisasi), sampai yang non-formal (misalnya bagaimana tim bekerja sama atau gaya berkomunikasi mereka). Nah, budaya ini punya kekuatan buat ngebentuk perilaku dan bikin nilai-nilai itu meresap ke dalam diri anggotanya (Chanda, M. K., & Putra, E. V, 2021; Fibrianto, A. S., & Yuniar, A. D., 2020). Budaya organisasi itu menyebar melalui komunikasi organisasi. Artinya, interaksi antar pengurus itu penting banget buat saling bertukar makna tentang nilai budaya yang ada, sehingga bisa tercipta dan terjaga terus organisasi itu sendiri (Saputra, A., 2024).
Pertanyaan Penelitian
- Bagaimana komunikasi organisasi yang dilakukan di dalam HMIK UI?
- Bagaimana bentuk budaya organisasi yang ada di dalam HMIK UI?
- Bagaimana komunikasi organisasi membangun budaya organisasi diantara pengurus HMIK UI?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi organisasi berperan dalam membentuk dan memperkuat budaya kekeluargaan di HMIK UI 2024 melalui pengalaman para pengurus.
Kerangka Konsep dan Teori
Teori Utama: Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan di antara anggota organisasi dalam konteks struktur dan tujuan bersama (Nainggolan, 2021). Komunikasi ini menjadi sarana untuk mengkoordinasi aktivitas, memperkuat hubungan, dan mewujudkan keberadaan organisasi.
Teori Pendukung:Organizational Culture Theory
Budaya organisasi digambarkan sebagai jaring simbolik yang diciptakan dan dimaknai bersama oleh anggota organisasi (West & Turner, 2018). Budaya ini terbentuk melalui cerita, ritual, simbol, nilai, dan tradisi yang mencerminkan identitas dan cara kerja organisasi. Teori ini memiliki pada tiga asumsi, yaitu (1) anggota organisasi menciptakan makna bersama tentang bagaimana organisasi berfungsi; (2) simbol berperan penting dalam membentuk dan merepresentasikan budaya; dan (3) setiap organisasi memiliki budaya unik dengan interpretasi simbol dan tindakan yang berbeda-beda.
Kerangka Pemikiran
Keterkaitan antara teori utama dan teori pendukung menunjukkan bahwa komunikasi adalah elemen utama dalam pembentukan dan pemeliharaan budaya organisasi. Studi sebelumnya oleh Altamira & Rusfian (2019) juga menegaskan bahwa budaya organisasi terbentuk melalui proses komunikasi seperti storytelling, sosialisasi anggota baru, dan koordinasi antar kelompok. Dalam konteks HMIK UI, hal ini sejalan dengan semangat budaya “Rumah Tumbuh Bersama”, yang dibentuk dari komunikasi internal.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif karena cocok untuk menjelaskan interaksi sosial yang kompleks, seperti dinamika antar anggota HMIK UI (Harahap, 2020; Roosinda et al., 2021). Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif, yang berfokus pada makna subjektif yang dibentuk individu dalam konteks sosial mereka. Oleh karena itu, digunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman pribadi anggota dalam memaknai budaya organisasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara membantu memahami makna yang dirasakan narasumber, sementara observasi dan dokumen memperkuat konteks sosial yang diteliti.
Jadi, Hasil Temuannya ApaAja?
Penelitian ini menemukan kalau komunikasi organisasi di HMIK UI 2024 berperan penting dalam membentuk dan menyampaikan budaya organisasi yang dinamis, menyesuaikan visi dan misi ketua serta wakil ketua. Budaya kekeluargaan ini dikemas dalam narasi “Rumah Tumbuh Bersama” yang menekankan fleksibilitas dan kekeluargaan, tercermin melalui tagline tahunan dan budaya mikro di setiap Biro/Bidang/Departemen (BBD). Penyelarasan antar BBD dilakukan lewat komunikasi seperti rapat pleno, rapat kerja, bidding, dan hearing. Keempat informan memiliki latar belakang yang beragam dengan motivasi yang berbeda saat ingin masuk ke HMIK UI. Hal ini menimbulkan keberagaman dalam pemaknaan budaya kekeluargaan HMIK UI.
- Komunikasi yang Terjadi di HMIK UI
Komunikasi di HMIK UI 2024 terbagi menjadi vertikal (antar level jabatan) dan horizontal (antar sesama anggota), diatur oleh struktur dan prosedur yang jelas untuk mendukung efektivitas operasional. Kanal informasi seperti grup koordinasi dan rapat rutin menjadi hal-hal yang dilakukan untuk koordinasi kerja. Teman-teman HMIK UI 2024 biasanya lebih informal dan santaidalam komunikasi sehari-harinya, Meskipun, kalau dalam diskusi terbuka dan forum evaluasi, komunikasi antar BBD didominasi oleh kepala departemen dan pengurus inti.
Peneliti juga menemukan terkadang ada perasaan segan dari staf kalau mau komunikasi ke pengurus inti. Hal ini juga membuat interaksi dan kedekatan antar staf biasanya banyak terjadi di internal BBDnya, dan sulit kalau mau akrab dengan BBD lain. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa komunikasi HMIK sangat baik dalam mendukung fungsi kerja organisasi, namun perlu ditingkatkan dari segi kedekatan emosional agar tercipta hubungan yang lebih menyeluruh, inklusif, dan berimbang antara struktur organisasi dan rasa kekeluargaan.
- Budaya Organisasi pada HMIK UI
HMIK UI 2024 secara konsisten menginternalisasi budaya “Rumah” yang berlandaskan kekeluargaan yang berawal dari keresahan akan kurangnya rasa kepemilikan mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap prodi mereka. Budaya ini tercermin dalam tagline “Rumah Tumbuh Bersama” dan didukung oleh gaya komunikasi informal serta fleksibilitas dalam aturan organisasi. Namun, informan menggaris bawahi bahwa aspek kekeluargaan ini lebih terasa dalam konteks profesional, seperti dukungan dalam pelaksanaan program kerja, daripada dalam hubungan personal sehari-hari. Pelaksanaan budaya ini juga berlandaskan pada dinamika kepengurusan yang berubah setiap tahun, dengan ketua dan wakil ketua yang merumuskan visi dan nilai. Meskipun pengurus inti berupaya mendorong kekeluargaan melalui kehadiran fisik di Gedung Komunikasi, tantangan muncul akibat perbedaan karakteristik antar BBD. Hal ini seringkali mengakibatkan kekeluargaan yang terbentuk bersifat di dalam lingkup masing-masing BBD, menghambat pembentukan budaya yang lebih menyeluruh.
- Komunikasi Organisasi yang Membangun Budaya Organisasi HMIK UI
Komunikasi itu sangat penting untuk membangun budaya organisasi di HMIK UI 2024. Meskipun pengurus inti sudah mengusahakan budaya kekeluargaan, misalnya dengan hadir di berbagai acara atau tukar pikiran sama staf, tetapi komunikasi informal di luar profesional masih bisa ditingkatkan lagi. Struktur organisasi juga sedikit banyak membatasi bagaimana kita bisa berinteraksi. Alhasil, hubungan antar anggota cenderung lebih akrab di dalam lingkup biro/bidang/departemen masing-masing. Semua pengurus, dari staf yang jadi Penanggung Jawab acara, BPH (Badan Pengurus Harian) sebagai pengawas, sampai pengurus inti sebagai pembuat keputusan, merasa memiliki peran penting di HMIK UI 2024. Budaya organisasi HMIK UI, termasuk nilai kekeluargaan, memang diserap lewat obrolan formal dan santai. Namun, ini lebih banyak berorientasi pada peran dan tanggung jawab selama masa kepengurusan. Begitu masa bakti selesai, ikatan emosional atau personal dengan organisasi dan sesama anggota cenderung memudar. Jadi, suasana inklusif dan kekeluargaan itu lebih banyak terasa di dalam lingkungan kerja daripada dalam hubungan personal yang berkelanjutan setelah masa kepengurusan berakhir.
Mari Berdiskusi!
Komunikasi Organisasi
Sejalan dengan penelitian terdahulu (Altamira, M. B., & Rusfian, E., 2019), temuan ini menekankan pada pentingnya komunikasi organisasi untuk pembentukan budaya organisasi. Peneliti menemukan bahwa pengurus inti HMIK UI menggunakan komunikasi organisasi untuk menginternalisasi budaya “Rumah Tumbuh Bersama”, sesuai dengan penelitian terdahulu yang juga menggunakan cara-cara komunikasi, seperti seminar, sosialisasi, dan rapat untuk memperkenalkan budaya organisasi. Temuan peneliti juga sejalan dengan teori budaya organisasi yang diusung oleh M. Pacanowsky dan N. O’Donnell-Trujillo (1982) (West, R., & Turner, L. H., 2018) yaitu bagaimana komunikasi membentuk pemahaman bersama dalam organisasi. Meskipun, kami menemukan keunikan terkait pembentukan budaya, yaitu budaya organisasi justru secara sengaja dibentuk oleh ketua dan wakil ketua melalui struktur organisasi yang ada.
Budaya Organisasi
Dalam konteks HMIK UI 2024, budaya “Rumah”, yaitu pemahaman mengenai HMIK UI sebagai organisasi fleksibel dan kekeluargaan, diinternalisasi oleh ketua dan wakil ketua melalui berbagai bentuk komunikasi organisasi, baik secara formal maupun informal. Ketua dan wakil ketua memiliki peran penting untuk mengkomunikasikan budaya organisasi “Rumah”, yaitu sebagai individu atau kelompok yang bertanggung jawab dalam menginisiasi, mengelola, dan mengimplementasikan perubahan budaya melalui berbagai strategi, termasuk komunikasi efektif (Syafitri, V. P., & Toni, A., 2024). Dalam hal ini, ketua dan wakil ketua memanfaatkan berbagai bentuk komunikasi formal, seperti pertemuan, rapat, bidding, hearing, dan koordinasi program kerja, sebagai wadah untuk menanamkan dan memperkuat nilai-nilai budaya “Rumah” yang mengedepankan kekeluargaan dan fleksibilitas. Melalui komunikasi ini, mereka tidak hanya menyampaikan pesan secara formal, tetapi juga secara konsisten membentuk nilai-nilai tersebut dalam setiap program kerja, sehingga memperkuat internalisasi budaya organisasi secara menyeluruh (Altamira, M. B., & Rusfian, E., 2019). Dengan kata lain, peran mereka sebagai pemimpin dalam komunikasi organisasi sangat penting untuk memastikan bahwa budaya “Rumah” mampu diinternalisasi dan dijalankan secara harmonis oleh seluruh anggota, baik melalui komunikasi formal maupun informal, serta dalam setiap aspek kegiatan organisasi.
Peran Komunikasi Organisasi dalam Membangun Budaya Organisasi
Terlepas dari penanaman budaya tersebut, hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ketua dan wakil ketua dalam membentuk budaya organisasi dengan realitas yang dirasakan oleh pengurus HMIK UI 2024. Kekeluargaan dimaknai berbeda-beda oleh para individu Sebagian besar pengurus memaknai budaya “Rumah”, sebagai bentuk hubungan kekeluargaan yang saling mendukung dan erat, lebih terlihat dalam konteks profesional, yaitu ketika menjalankan program kerja atau melakukan koordinasi antar pengurus. Hal ini berarti bahwa budaya “Rumah” yang diharapkan terealisasikan dalam dinamika organisasi justru lebih terlihat dalam interaksi formal daripada dalam hubungan informal sehari-hari yang lebih personal.
Jadi, Kesimpulannya Apa?
Budaya organisasi “Kekeluargaan” di HMIK UI 2024, yang dikenal dengan narasi “Rumah Tumbuh Bersama”, dibentuk melalui proses komunikasi organisasi yang dinamis dan konstruksi makna bersama oleh para pengurus. Komunikasi menjadi alat utama dalam membangun pemahaman bersama tentang budaya ini, baik melalui forum formal seperti rapat, bidding, hearing, maupun percakapan informal sehari-hari. Namun, karena sifat organisasi yang besar dan struktur yang hierarkis, kedekatan lebih mudah terbentuk di tingkat BBD masing-masing, bukan secara keseluruhan HMIK.
Meskipun narasi “rumah” digaungkan oleh pimpinan, implementasinya cenderung lebih terasa dalam konteks kerja daripada relasi personal. Budaya kekeluargaan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk dukungan saat menjalankan tugas, bukan dalam interaksi emosional sehari-hari. Dengan demikian, budaya organisasi di HMIK UI 2024 tidak hanya ditentukan oleh visi ketua atau tagline tahunan, tetapi juga oleh bagaimana setiap anggota memaknai, menghayati, dan mereproduksi nilai-nilai tersebut dalam praktik sehari-hari melalui komunikasi.
Implikasi dan Limitasi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dalam kajian komunikasi organisasi, khususnya terkait budaya organisasi dalam membentuk solidaritas di organisasi mahasiswa. Secara praktis, penelitian ini diharapkan membuka pandangan pengurus HMIK UI tentang realita yang terjadi di HMIK, sehingga HMIK UI dapat mencari solusi untuk meningkatkan keterlibatan anggota dan memperkuat rasa kebersamaan di dalam organisasi. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi organisasi mahasiswa lain yang menghadapi permasalahan serupa.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu disadari dalam rangka menjaga objektivitas dan transparansi hasil penelitian. Pertama, salah satu informan diwawancarai melalui pesan suara (voice note), sehingga terdapat keterbatasan dalam mengeksplorasi lebih dalam respons spontan atau klarifikasi langsung selama proses wawancara berlangsung. Kedua, mayoritas informan yang terlibat berasal dari struktur inti organisasi HMIK UI, seperti pengurus inti dan BPH umum, sehingga perspektif dari anggota yang hanya berperan sebagai staf belum bisa digali lebih dalam.
Referensi
Adha, D. E., & Azhar, A. A. (2024). Leadership communication model of the Executive Student Council of the Faculty of Social Sciences, State Islamic University of North Sumatra. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media Sosial (JKOMDIS, 4)(2), 507–514. https://doi.org/10.47233/jkomdis.v4i1.1764
Altamira, M. B., & Rusfian, E. (2019). Komunikasi organisasi dalam proses pembentukan budaya organisasi (Studi nilai budaya organisasi I’ve Care pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 2(1), 51-60.
Chanda, M. K., & Putra, E. V. (2021). Internalisasi budaya organisasi (Studi budaya organisasi Bawaslu Sumatera Barat). Jurnal Perspektif, 4(1), 39-53.
Fibrianto, A. S., & Yuniar, A. D. (2020). Peran budaya organisasi dalam pembentukan karakter, etika, dan moral siswa SMA Negeri di Kota Malang. Jurnal Analisa Sosiologi, 9(1), 267-282.
Fridayani, J. A. (2022). Pendampingan dalam pengelolaan organisasi mahasiswa. SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2). https://doi.org/10.35329/sipissangngi.v2i2.2922
Hadi, S. (2021). Implementasi kepemimpinan dan eksklusivisme organisasional di Universitas Nahdlatul Wathan Mataram. TARGET: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 3(2), 177-184. https://doi.org/10.30812/target.v3i2.1590
Harahap, N. (2020). Penelitian Kualitatif (p. 120).
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI. (2019). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Depok, Indonesia.
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI. (2024). Rancangan Besar HMIK UI 2024. https://drive.google.com/drive/folders/1XgQLiuz3nsQpzVzoWmXqnSHXVSHY7DxK
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI. (2025). Rancangan Besar HMIK UI 2025. https://drive.google.com/file/d/1GNM4j18PLczDkDnT3SIo8XL1XqM_ROjJ/view
Keyton, J. (2005). Communication & Organizational Culture: A Key to Understanding Work Experiences. Sage Publications.
Muhammad, A. (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Myers. (1987). Teori-Teori Manajemen Komunikasi. Jakarta: Bahana Aksara.
Nainggolan, N. T., dkk. (2021). Komunikasi Organisasi: Teori, Inovasi, dan Etika. Medan: Yayasan Kita Menulis.
Roosinda, F. W., Lestari, N. S., Utama, A. A. G. S., Anisah, H. U., Siahaan, A. L. S., Islamiati, S. H. D., Astiti, K. A., Hikmah, N., & Fasa, M. I. (2021). Metode Penelitian Kualitatif (pp. 5-6).
Saputra, A. (2024). Efektivitas komunikasi organisasi dalam meningkatkan produktivitas kerja aparat desa Tilote Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo. Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi, 3(1), 46-52.
Simarmata, H. M. P. (2022). Teori Organisasi dan Manajemen (Vol. 14).
Syafitri, V. P., & Toni, A. (2024). Komunikasi organisasi dalam proses pembentukan budaya organisasi melalui agent of change. Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi (JIMIK), 5(2), 1-9. https://journal.stmiki.ac.id
West, R., & Turner, L. H. (2018). Introducing Communication Theory: Analysis and Application (6th ed.). McGraw-Hill Education.





