Journalight

UI Journalism Studies

Opinion

POV: Orang “Nggak Enakan” Mengisi Borang Penilaian Kelompok di Perkuliahan

Abstrak

Dalam evaluasi akademik, borang penilaian kelompok bertujuan untuk menilai kontribusi individu dalam kerja kelompok secara objektif. Namun, dalam praktiknya, proses ini kerap dipengaruhi oleh dinamika sosial, seperti peer pressure, yang muncul akibat relasi interpersonal antaranggota kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana mahasiswa mengalami, memaknai, dan merespons peer pressure dalam proses pengisian borang. Menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus dan in-depth interview, penelitian ini menemukan bahwa hubungan interpersonal dan kohesivitas kelompok memengaruhi objektivitas penilaian. Meskipun penilaian dilakukan secara anonim, norma tidak tertulis dan rasa tidak enak membuat mahasiswa cenderung memberikan nilai tinggi kepada teman dekat. Temuan ini menunjukkan bahwa Peer Pressure dan Groupthink membentuk kompromi diam-diam yang melemahkan penilaian performa akademik yang objektif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pihak akademik dalam merancang sistem evaluasi kelompok yang lebih adil dan objektif.

Kata Kunci: Peer Assessment, Group Think Theory

Performa Kerja Kelompok Jelek, tapi Temen Sendiri! Duh, Nggak Enak Banget!

Borang penilaian kelompok merupakan instrumen evaluatif yang digunakan di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia untuk menilai kontribusi setiap anggota dalam kerja kelompok. Biasanya, borang ini diisi oleh mahasiswa secara anonim setelah proyek kelompok dalam satu semester selesai dikerjakan. Tujuannya adalah untuk memberikan ruang evaluasi yang objektif, sehingga dosen bisa mendapatkan informasi lebih akurat mengenai dinamika kerja kelompok yang tidak selalu terlihat di permukaan kelas. Borang penilaian ini akan menjadi bahan pertimbangan dosen dalam memberikan nilai akhir.

Namun, dalam praktiknya, borang sering kali tidak diisi berdasarkan performa, melainkan dipengaruhi oleh faktor relasi sosial antaranggota kelompok. Mahasiswa kerap menghadapi dilema: jujur dalam menilai teman yang pasif, atau menjaga pertemanan dengan memberikan nilai yang “aman”. Meskipun pengisian borang dilakukan secara anonim, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tekanan sosial tetap terjadi, baik melalui candaan, kesepakatan tidak tertulis, maupun rasa tidak enak hati.

Realitas ini berdampak pada rusaknya fungsi borang sebagai alat evaluasi yang adil dan objektif. Ketika mahasiswa merasa terpaksa memberikan nilai tinggi demi menjaga keharmonisan kelompok, borang kehilangan integritasnya, penilaian menjadi bias, dan mahasiswa yang aktif lebih justru bisa mendapat nilai setara dengan yang pasif. Akhirnya, sistem penilaian yang dimaksudkan untuk mendorong keadilan justru menjadi bias.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: Bagaimana mahasiswa Ilmu Komunikasi UI mengalami, memaknai, dan merespons peer pressure dalam proses pengisian borang penilaian evaluasi kinerja kelompok?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menganalisis fenomena ini melalui dua konsep utama: Groupthink Theory dan Peer Pressure. Groupthink membantu menjelaskan bagaimana konformitas dalam kelompok bisa mengalahkan penilaian kritis individu. Sementara itu, Peer Pressure menunjukkan bagaimana norma sosial dalam kelompok dapat membentuk keputusan mahasiswa dalam memberikan penilaian.

Kenalan Sama Groupthink: Baca Ini Kalau Kamu Masih Suka Bilang “okey aman aja”!

Teori Groupthink pertama kali muncul dalam buku yang ditulis oleh Irving Janis pada tahun 1972 yang berjudul Victims of Groupthink. Dalam buku itu, Janis menjelaskan kalau Groupthinksering terjadi pada kelompok homogen yang punya tingkat kesepakatan tinggi. Mereka mendorong setiap anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kelompok—atau disebut conformity—tanpa mempertimbangkan pengambilan keputusan yang rasional. Kelompok ini lebih fokus sama pendapat dominan dan mengabaikan pendapat yang beda supaya hubungan tetap terjalin baik dan tidakada konflik. Jadi, keputusan yang diambil bisanya kurang tepat dan tidakmatang. Groupthinkpunya banyak bangetkomponen, seperti lack of impartial leadership,kohesivitas, problem-solving groups, affiliative constraints, dan an overestimation of the group. Apa aja, sih,penjelasan dari komponen tersebut? Kok,bisa Groupthink ada?

Apa Bedanya dengan Peer Pressure?

Penelitian Sruthi VS dkk. (2024) menjelaskan kalau Peer Pressure adalah tekanan yang dirasakan oleh individu untuk mengikuti perilaku, perspektif, atau ide anggota lainnya agar disetujui dan sesuai dengan lingkungan kelompok. Tekanan ini bisa jadi baik atau tidak, tergantung dinamika kelompoknya. Treynor (2009) menjelaskan proses terjadinya Peer Pressure pakai hipotesis “Efek Pergeseran Identitas”. Awalnya, kelompok keadaannya harmonis, tapi punya potensi muncul konflik eksternal. Agar individu tidak dapat penolakan sosial, ia jadinya menyesuaikan diri dengan norma kelompok. Tapi setelahnya, individu akan mengalami konflik internal karena tidak sesuai dengan standar pribadi. Akhirnya, Individu mengadopsi norma kelompok ke dalam identitas dirinya agar kelompok bisa kembali ke keadaan harmonis lagi. 

Jadi, peer pressure lebih fokus kepada individu yang mengalami tekanan, sedangkan Groupthink berfokus pada kelompok dalam pengambilan keputusan.

Lalu, Bagaimana Hubungannya dengan Pengisian Borang Penilaian?

Teori Groupthinkdan konsep Peer Pressure dekat sama kasus pengisian borang. Dalam beberapa penelitian juga sudah disebutkan kalau saat mengisi borang penilaian, individu lebih mempertimbangkan hubungan sosial mereka, sehingga penilaian jadi kurang objektif karena diisi atas prasangka, bukan kinerja (Shui Ng & Yu, 2021). Yuk, kita bahas lebih dalam berdasarkan komponen masing-masing!

Peer Pressure → Bagaimana norma sosial kelompok memberikan tekanan ke individu saat melakukan pengisian borang dan melihat mahasiswa bertindak atas dasar dorongan dari kelompoknya.

Kohesivitas→ Masalah komunikasi yang dihadapi mahasiswa ketika melakukan kerja kelompok akademik dan melihat dilema yang muncul ketika harus memberikan penilaian objektif kepada kelompok dengan hubungan pertemanan yang erat.

Problem-solving groups→ Bagaimana kelompok bernegosiasi untuk membentuk norma penilaian borang kepada teman kelompoknya.

Affiliative constraints→ Bagaimana tekanan sosial memberikan pengaruh kepada keputusan individu ketika mengisi borang penilaian. Apakah cenderung menahan opini pribadi atau harus memberikan nilai yang ‘aman’ demi jaga hubungan sosial dengan teman.

A lack of impartial leadership → Peran dosen dan sistem borang yang memastikan penilaian harus dilakukan secara objektif. Sayangnya, mekanisme kontrol yang kurang menjadikan individu untuk menilai atas pengaruh yang lebih besar dari kelompok.

An overestimation of the groups→ Kecenderungan pengisian borang penilaian yang dilebih-lebihkan dan menilai kelompok lebih superior dalam kinerja.

Terus, gimana, sih, cara kerja penelitian ini?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Tujuannya bukan untuk mencari kebenaran umum atau data statistik, tetapi lebih untuk memahami secara mendalam bagaimana mahasiswa Ilmu Komunikasi UI merasakan dan menghadapi tekanan sosial atau peer pressure saat mengisi borang penilaian dalam kerja kelompok. Karena peneliti hanya fokus pada satu kasus yang sangat spesifik yakni pengalaman di satu jurusan dan satu angkatan penelitian ini termasuk dalam kategori intrinsic case study dan single case study. Artinya, peneliti benar-benar meneliti satu fenomena di satu tempat dan waktu tertentu, tanpa membandingkannya dengan kasus lain.

Menariknya, teori yang peneliti gunakan yaitu Groupthink Theory awalnya berasal dari cara pandang yang cenderung “kaku”, yaitu paradigma positivistik. Paradigma ini biasanya digunakan dalam penelitian yang mengandalkan angka dan pola umum. Tapi karena peneliti ingin memahami sisi manusiawinya seperti bagaimana mahasiswa merasa serba salah saat harus menilai temannya sendiri peneliti memilih pendekatan konstruktivis. Pendekatan ini percaya bahwa realitas itu dibentuk oleh pengalaman dan pemaknaan individu, bukan sesuatu yang pasti dan bisa diukur secara hitam-putih.

Untuk mencari informan, peneliti menggunakan metode purposive sampling, yaitu memilih orang-orang yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam hal ini, peneliti mewawancarai tiga mahasiswa yang pernah mengalami dilema saat harus memberi nilai di borang. Peneliti ingin mendengar langsung pengalaman mereka, tanpa batasan format atau pilihan jawaban yang kaku. Karena itu, peneliti menggunakan metode wawancara mendalam agar cerita yang muncul bisa lebih jujur dan utuh.

Setelah data terkumpul, peneliti akan menganalisisnya dengan dua cara. Pertama, peneliti akan melakukan koding, yaitu menandai kata-kata atau tema penting yang sering muncul dalam wawancara. Kedua, peneliti akan mencari pola dari berbagai jawaban dan menghubungkannya dengan teori-teori yang peneliti gunakan, seperti teori Groupthink, kohesivitas, problem-solving groups, tekanan relasional (affiliative constraints), kurangnya kepemimpinan objektif (lack of impartial leadership), dan kecenderungan melebih-lebihkan performa kelompok (overestimation of the group). Dengan pendekatan ini, peneliti berharap bisa memahami apakah mahasiswa benar-benar mengalami peer pressure, bagaimana mereka memaknainya, serta bagaimana mereka meresponsnya, baik dengan mengikuti tekanan, maupun melawannya.

Borang? Barang Apaan Tuh?

Di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, borang penilaian kelompok biasanya perlu diisi di akhir semester, seperti setelah UAS dan setelah tugas kelompok dikumpulkan. Bentuknya dapat berbeda-beda, tergantung mata kuliah, yaitu ada yang berupa isian kuantitatif dengan skala angka dan ada juga yang kualitatif seperti refleksi naratif. Namun, satu hal yang selalu sama, yaitu mahasiswa diminta menilai rekan kelompoknya sendiri. Bahkan kerja kelompok ini sering dilakukan dengan orang-orang yang sudah dekat terlebih dahulu.

“Gue pribadi nggak ngebedain temen main sama temen kerja kelompok ya,” kata informan A.

Wah, solid juga, ya? Tetapi kedekatan ini justru memunculkan dilema ketika pengisian borang. Iya kalau bagus kerjanya, nah, kalau kurang/jelek kerjanya gimana? Nah, ketika sadar bahwa kontribusi teman dekatnya sebenarnya kurang dan harus menilai, mereka seakan-akan terjepitpada satu konflik batin antara kejujuran dan solidaritas pertemanan, kemudian konflik peran antara teman nongkrong dan rekan kerja.

“Ya, emang agak confusing sih semuanya. Maksudnya kayak, lo tau temen lo kerjanya kurang. Di sisi satu sisi dia temen lo, yang kedua dia ngebebanin lo. Dilema,”kata informan M.

Informan ingin jadi teman yang baik, tetapi juga ingin adil dalam kerja kelompok. Pada akhirnya, mereka memilih jalan aman dengan memandang nilai borang pun sebagai bentuk “pengorbanan kecil” demi keharmonisan kelompok. Beberapa teman malah dianggap nyebelin saat kerja kelompok, tetapi informan tetap memberikan nilai bagus karena… ya, tidak enak saja.

“Aku kasih 83 atau 84. Meskipun sebenarnya itu nggak sesuai dengan kinerja dia sih. Kalau jujur secara objektif, dia berhak mendapatkan 65/60. Tapi, karena kasian ya gitu,”kata informan L.

Kata “nggak enak” sering banget disebutkan sewaktu peneliti mewawancarai infoman. Fenomena ini erat sekali dengan fenomena “nggak enakan“-nya orang Indonesia dimana budaya lingkungannya cenderung kolektivis. Yang memperparah ketidakobjektifan ini adalah mahasiswa cenderung menjadi pribadi yang pragmatis. Dalam artian, ketika mereka merasa borang itu tidak ada penting-pentingnya, mereka cenderung mengisi seadanya. Apalagi sosok dosen terlihat kurang mengambil andil dalam problematika ini.

Melihat Lebih Dalam Konflik Batin Mahasiswa

Cerita dari ketiga informan menunjukkan bahwa proses mengisiborang penilaian teman tidaklepas dari dinamika sosial yang kompleks. Di balik angka yang ditulis, ada tarik-ulur antara kejujuran menilai dan keinginan menjaga hubungan baik. Kedekatan personal, tekanan kelompok, dan persepsi soal penting-tidaknya borang ikut memengaruhi keputusan mereka. Akhirnya, borang jadi ruang negosiasi—antara idealnya objektif dan realitanya kompromi. Fenomena ini mencerminkan kuatnya budaya kolektivis di lingkungan mahasiswa, di mana harmoni seringkali diprioritaskan dibanding penilaian yang sepenuhnya jujur.

Ternyata, keputusan memberikannilai di borang tidak semata-mata soal kontribusi teman di kerja kelompok, tetapi juga dipengaruhi faktor emosional yang kuat. Rasa tidakenakan yang tumbuh dari budaya kolektivis membuatmahasiswa sering menahan diri untuk jujur. Kedekatan pertemanan sejak awal kuliah membentuk affiliative constraints, yaitu kecenderungan menjaga hubungan sosial dengan cara menghindari konflik. Dalam banyak kasus, nilai yang diberikan menjadi bentuk kompromi diam-diam demi keharmonisan kelompok, bukan cerminan kontribusi sebenarnya.

Konflik peran juga muncul, antara menjadi teman nongkrong dan teman kerja kelompok. Rasa solidaritas yang terbentuk di luar tugas kuliah terbawa ke dalam kerja kelompok. Tekanan sosial dari teman, entah lewat candaan atau kesepakatan tidak resmi, sering kali membuat mahasiswa mengikutiarus. Ini sejalan dengan konsep Peer Pressure dan Groupthink, di mana kohesivitas tinggi dalam kelompok mendorong konformitas dan menghambat penilaian kritis. Relasi yang akrab, humor, sampai obrolan santai menciptakan zona nyaman yang justru menahan kejujuran. Meskipun mereka sadar bahwa kinerja temannya kurang karena tidak semua anggota berkontribusi secara solid selama pengerjaan tugas, nilai solidaritas yang terbentuk dalam konteks pertemanan tetap “terbawa” menjadi suatu variabel yang dipertimbangkan saat harus memberikan penilaian. Selain itu, persepsi bahwa borang tidak punya dampak nyata ke nilai akhir membuat mahasiswa semakin enggan berpikir panjang saat ngisinya. Minimnya sosialisasi dari dosen sebagai bentuk ketiadaan pemimpin yang mengatur jalannya pengisian borang (lack of impartial leadership) membuat borang dianggap formalitas belaka. Akhirnya, yang muncul adalah praktik kompromi, norma sosial tak tertulis, dan keputusan yang lebih banyak dipandu perasaan daripada objektivitas.

Bukan Tarik Hikmah, Ini Tarik Kesimpulan! 

Pada akhirnya, kita semua masih mencari letak efektivitas dari borang yang diisi oleh mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa mengalami tekanan dari norma sosial dalam kelompok, terpaksa memaknainya sebagai bentuk solidaritas dan loyalitas sosial, serta meresponsnya dengan berbagai strategi seperti kompromi, candaan, hingga menghindari konflik demi menjaga hubungan interpersonal yang sudah terbentuk.

Selain berharap sama doi yang tidak pasti, peneliti juga berharap bahwa borang dapat menjadi momen refleksi yang menggambarkan mengenai siapa yang benar-benar bekerja, siapa yang butuh dorongan, dan siapa yang butuh diberi tahu bahwa kontribusinya harus ditingkatkan. Sayangnya adalah borang justru menjadi ladang kompromi dan strategi menghindar dari konflik melalui rasa tidak enakan dan/atau kedekatan emosional dari solidaritas. Kalau kita ingin sistem penilaian yang lebih etis dan membangun, perlu ada pendekatan baru yang memperhitungkan sisi psikologis, sosial, dan komunikasi interpersonal mahasiswa.

Nyatanya, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi yang katanya jago komunikasi pun, tetap saja masalah hidup tidak jauh-jauh dari tentang komunikasi juga. Bayangkan apabila borang betul-betul diisi dengan jujur, tentunya hal tersebut dapat membantu orang untuk berkembang. Tetapi yang terjadi? justru seakan-akan tidak ada ruang untuk kritik yang aman, kritik jadi terbungkam, dan diganti dengan candaan. Kita boleh tinggal di negara demokrasi, tapi ternyata skala lingkungan kampus saja kritiknya masih terbungkam. Di sinilah sebenarnya peran dosen atau institusi bisa sangat penting sebagai fasilitator, bukan hanya sekadar pengawas.

Dengan adanya penelitian ini, coba, yuk, refleksi diri lagi ketika tiba waktu mengisi borang. Kita perlu berani bertanya dalam hati: apakah kita mengisi borang untuk menilai kerja teman atau untuk menjaga hubungan yang rapuh? Ibaratnya, sekali-kali tidak apa ketika ingin “seenaknya” dengan orang yang memang tidakberkontribusi di kerja kelompok. Tentunya, harus lebih awaredan hati-hati dengan orang yang mungkin saja memanipulasi dengan memanfaatkan pressurepertemanan untuk mendapatkan nilai bagus di borang.

Temuan ini menggambarkan lebih lanjut mengenai persepsi informan terhadap apa bentuk Groupthinkyang lebih berbeda dari yang Irving Janis definisikan. Ternyata, tekanan kesepakatan tidak hanya bisa muncul dari kesepakatan formal, tetapi bisa dari hasil kompromi implisit dalam batin. Namun, penelitian ini hanya terbatas pada scopemahasiswa Ilmu Komunikasi UI, maka hasilnya belum tentu berlaku di konteks lain. Penelitian ke depan bisa memperluas cakupan ke lintas fakultas atau membandingkan efektivitas borang yang kuantitatif dan kualitatif. Dengan ini, borang bukanlah barang yang bisa diisi asal-asalan, doi menyimpan jejak relasi, emosi, dan kompromi yang sering kali tak disadari oleh para pengisinya sendiri.

REFERENSI

  • Bhujbal, M. P., & Verma, S. (2024). The influence of peer pressure on students: Cause, effect, and strategies for intervention. International Journal for Multidisciplinary Research, 6(5). https://doi.org/10.36948/ijfmr.2024.v06i05.2809
  • Eriyanto. (2011). Analisis isi: Pengantar metodologi untuk penelitian ilmu komunikasi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Kencana.
  • Fajriyati, H. (2023). Penilaian kinerja pegawai negeri sipil melalui aplikasi LASIK di BKSDM Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten (Doctoral dissertation, IPDN).
  • Janis, I. L. (1972). Victims of groupthink: A psychological study of foreign-policy decisions and fiascoes.
  • Ng, W. S., & Yu, G. (2021). Students’ attitude to peer assessment process: A critical factor for success. Interactive Learning Environments, 1–19. https://doi.org/10.1080/10494820.2021.1916762
  • Sruthi VS, N., Vijayan, N. N., & Luke, M. (2024). The relationship between emotional regulation and peer pressure among school students. International Research Journal on Advanced Engineering and Management, 2(12), 3652–3655. https://doi.org/10.47392/irjaem.2024.0542
  • Treynor, W. (2009). Towards a general theory of social psychology—Understanding human cruelty, human misery, and, perhaps, a remedy (A theory of the socialization process). Redondo Beach, CA: Euphoria Press. ISBN: 978-0-9823028-7-3.
  • West, R., & Turner, L. H. (2019). Introducing Communication Theory : Analysis and Application (6th ed.). Mcgraw-Hill.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *