
Abstrak
Representasi dan partisipasi perempuan dalam olahraga Formula One (F1) sedang bertumbuh, termasuk dalam kelompok penggemarnya. Namun, marginalisasi terhadap penggemar perempuan dalam fandomF1 masih marak terjadi, yang diakibatkan oleh struktur maskulinitas hegemonik dalam fandom olahraga. Melalui wawancara dengan perempuan penggemar F1 yang aktif berpartisipasi dalam fandom di ruang digital, penelitian ini mengungkapkan pengalaman mereka dalam mengatasi, melawan, dan menegosiasikan marginalisasi yang terjadi menggunakan kerangka co-cultural theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fandom F1 nyatanya masih beroperasi dalam struktur maskulinitas hegemonik, dengan perilaku marginalisasi terhadap perempuan yang meliputi gatekeeping berbasis pengetahuan, stereotip gender, serta pewajaran budaya maskulin. Penelitian juga memetakan bentuk-bentuk respons perempuan terhadap marginalisasi menurut strategi komunikasi co-cultural, yang terdiri atas orientasi, asimilasi, akomodasi, dan separasi. Strategi perempuan dalam mengatasi marginalisasi menunjukkan bahwa upaya untuk mempertahankan ruang dan legitimasi sebagai penggemar perempuan kerap tidak hanya melawan, tetapi turut melanggengkan struktur maskulinitas hegemonik. Secara keseluruhan, penelitian menegaskan bahwa relasi kuasa dalam fandom F1 secara aktif membentuk praktik penggemar sehari-hari, termasuk bagaimana mereka memaknai diri sebagai bagian dari komunitas penggemar.
Kata Kunci: Fandom, Formula 1 (F1), Maskulinitas Hegemonik, Marginalisasi Perempuan, Co-Cultural Theory
Lebih dari 75 Tahun F1 Telah Berlangsung, tapi Perempuan Masih Belum Punya Ruang Aman?
Siapa di sini yang nonton F1? Mungkin cukup banyak dari kamu, karena saat ini F1 merupakan salah satu olahraga dengan pertumbuhan penggemar yang sangat pesat. Bahkan, berdasarkan statistik tahun 2025, jumlah penggemar F1 telah menyentuh lebih dari 800 juta penggemar! Menariknya lagi, dari survei penggemar di tahun yang sama, ditemukan bahwa sebanyak 42% penggemar F1 merupakan perempuan, dan 3 dari 4 penggemar baru di tahun 2025 merupakan perempuan.
.jpg)
Tapi, meskipun komposisi perempuan makin banyak dalam fandom, masih banyak kejadian diskriminasi, kekerasan, dan marginalisasi berbasis gender yang terjadi terhadap perempuan dalam berbagai bentuk, baik di ruang fisik maupun digital.


Diskriminasi terhadap perempuan seperti itu nggakhanya terjadi dalam fandom F1, tapijuga di olahraga-olahraga lain. Kamu pasti pernah dengar, ‘kan, kata-kata seperti…
“Cewek nonton Premier League biar dapet cowok aja kali.”
“Biasalah, cewek FOMO, makanya nonton olahraga tapi gak ngerti.”
“Bahas NBA, mah, yang cowok cowok aja!”
Hal ini terjadi karena olahraga merupakan lingkungan sosial yang mereproduksi maskulinitas hegemonik, atau bentuk maskulinitas yang dianggap sebagai standar ideal tentang bagaimana laki-laki seharusnya bersikap (Connell & Messerschmidt, 2005).
Nah, budaya penggemar F1 yang sarat dengan relasi kuasa menyebabkan para perempuan menyesuaikan cara mereka menampilkan diri dan berinteraksi sebagai penggemar, agar dapat merasa diterima dalam fandom. Bentuk-bentuk penyesuaian ini cukup beragam dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut, karena seringkali perempuan terdorong untuk menonjolkan sisi “maskulin” mereka atau bahkan mereplikasi perilaku marginalisasi yang mereka alami terhadap sesama penggemar perempuan (Sveinson & Hoeber, 2016; Esmonde et al, 2018).
Kami dapat melihat perilaku perempuan yang harus menyesuaikan diri terhadap budaya fandom F1 yang maskulin dengan kacamata co-cultural theory. Teori ini menjelaskan berbagai strategi yang digunakan oleh kelompok marginal untuk menegosiasikan identitas dan posisi mereka—serupa dengan bagaimana perempuan harus “membuktikan” dirinya dalam fandom F1.
Makanya, dalam penelitian ini, kami berupaya untuk mengkaji praktik marginalisasi yang dialami oleh penggemar perempuan serta mengidentifikasi strategi komunikasi yang mereka gunakan dalam menghadapi dinamika tersebut. Harapannya, kami ingin memahami bagaimana penggemar perempuan menegosiasikan marginalisasi yang mereka alami, sehingga dapat mengungkapkan dinamika relasi kuasa yang bekerja dalam fandom F1.
F1 Bukan Kodratnya OlahragaCowok,tapiDikonstruksi Seperti Demikian!
Olahraga adalah sebuah kegiatan yang identik dengan laki-laki karena medium ini memproduksi dan mensirkulasikan nilai dan ideologi maskulinitas hegemonik. Seperti yang tadi disebut, maskulinitas hegemonik adalah bentuk maskulinitas “ideal” yang paling dihargai di antara laki-laki. Biasanya, ini bisa dilihat di citra laki-laki yang berani, agresif, mandiri, dan berani mengambil risiko.
Citra ini pun dinormalisasi melalui praktik sehari-hari, salah satunya dalam cara peliputan olahraga. Maksudnya gimana? Atlet laki-laki diposisikan sebagai seorang “jagoan” dengan maskulinitas yang ideal, sedangkan perempuan biasanya diposisikan hanya sebagai pemeran sampingan atau sebatas audiens saja.
Di F1 sendiri, penyiaran dan budayanya menampilkan pembalap laki-laki sebagai “lelaki sejati” yang berani, kompetitif, dan identik dengan gaya hidup mewah. Narasi ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk maskulinitas hegemonik, apalagi berkontras dengan perempuan yang perannya bersifat “dekoratif”, dijadikan “piala” yang dimenangkan pembalap seperti WAGs (wives and girlfriends) atau grid girls.


GimanaDominasi Laki–Laki Mengganggu Pengalaman Perempuan Penggemar F1?
Walaupun fandomseharusnya memberikan rasa komunitas, budaya fandomolahraga berada dalam konteks yang sangat maskulin. Jadi, ruangnya masih banyak didominasi oleh penggemar laki-laki. Praktik-praktiknya juga masih sering menempatkan perempuan di posisi yang seakan berada di bawah laki-laki.
Perilaku yang berkembang dalam fandomolahraga merupakan bentuk marginalisasi terhadap perempuan. Hal ini biasanya dilakukan dengan mempertanyakan autentisitas perempuan sebagai penggemar, sehingga mereka merasa harus “membuktikan diri”. Sedihnya, penggemar perempuan juga terkadang melakukannya terhadap penggemar perempuan lain yang dianggap kurang serius, sehingga, secara tidak sadar, perempuan juga ikut mereproduksi stereotip seksis ini.

Pola ini pun muncul di fandomF1 karena penggemar perempuan dianggap tidak memahami olahraga dan tidak memiliki tempat di dalam fandom. Mereka juga sering jadi bahan ejekan karena ini, sehingga tidak asing jika bertemu dengan penggemar perempuan yang berusaha menyembunyikan identitas gendernya untuk menghindari serangan dari penggemar lain.
Co-Cultural Theory dan Hubungannya dengan Respons Penggemar Perempuan terhadap “Abang-Abangan F1”
Co-cultural theory menjelaskan bagaimana kelompok non-dominan, atau co-cultural group, berkomunikasi dalam struktur sosial yang dikendalikan oleh kelompok dominan. Teori ini melihat bahwa ada sebuah hierarki kekuasaan di masyarakat yang menempatkan kelompok tertentu sebagai penentu norma, nilai, dan praktik komunikasi di sana. Dalam fandomF1, penggemar perempuan dipahami sebagai co-cultural groupyang harus menavigasi budaya fandomyang didominasi dan diatur oleh laki-laki.
Dalam teori ini, terdapat tiga orientasi yang dapat mereka ambil sebagai strategi menghadapi struktur ini, yaitu assimilation,accommodation, danseparation. Masing-masing orientasi pun bisa dijalani dengan pendekatan yang non-assertive, assertive, atau aggressive. Kami melihat bahwa perempuan menggunakan strategi-strategi ini sebagai bagian dari praktik penggemarnya dalam budaya fandom F1 yang berstruktur maskulinitas hegemonik.
Yuk, Kita Jelajahi Pengalaman Perempuan-Perempuan dalam Fandom F1!
Untuk mengkaji pengalaman para perempuan, penelitian ini menggunakan paradigma kritis, karena kami berangkat dari asumsi bahwa pengalaman penggemar perempuan F1 terbentuk oleh struktur sosial yang lebih luas. Paradigma kritis ini sesuai dengan tujuan penelitian ini yang ingin mengungkap bagaimana pengalaman marginalisasi dialami, dinegosiasikan, dan direspon oleh perempuan penggemar F1 dalam komunitas daring.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Kami mengumpulkan data dengan metode etnografi digital melalui wawancara mendalam dengan penggemar perempuan F1 yang aktif di ruang digital. Kami juga memperkaya perspektif data dengan observasi partisipan di ruang‑ruang digital yang berkaitan dengan budaya penggemar F1, seperti akun resmi F1 atau akun fanbasedi media sosial.
Penetapan sampel pada penelitian merupakan purposive sampling, di mana informan dipilih sesuai dengan kriteria dan tujuan penelitian. Informan dipilih berdasarkan data dan consent formyang kami berikan dalam bentuk Google Form. Dari situ, kami melakukan wawancara terhadap tiga informan yang bersedia. Ketiga informan kami merupakan:
- Perempuan yang berusia 18-25 tahun (Gen Z);
- Penggemar F1 yang aktif mengikutinya sejak setidaknya 6 bulan ke belakang;
- Saat ini aktif mengikuti dan terlibat dalam pemberitaan dan diskusi F1 di platform digital.
Temuan
Maskulinitas Hegemonik dalamFandomF1: Berawal dari Olahraga Itu Sendiri
Sebagai sebuah olahraga, ada informan yang memang merasa penyiaran F1 menempatkan perempuan, antara lain grid girls dan WAGs (wives and girlfriends) dari pembalap, sebagai sampingan dibandingkan dengan para laki-laki. Selain itu, para informan juga menyadari kemunculan beberapa inisiatif yang meningkatkan representasi perempuan dalam F1. Dua informan menyoroti F1 Academy sebagai ajang balapan khusus perempuan. Informan juga menyadari keberadaan kegiatan nobar khusus perempuan sebagai ruang aman untuk para penggemar perempuan. Namun, hal tersebut dinilai belum maksimal, karena tidak menggeser dominasi laki-laki dalam fandom.
Uniknya, representasi perempuan yang tergambar dalam penyiaran F1 justru terlihat direplikasi oleh penggemar dalam fandom, termasuk oleh para perempuan. Informan secara tidak langsung terlihat setuju dengan beberapa stereotip yang kerap dipasangkan kepada perempuan penggemar F1. Mereka mengaitkan gosip-gosip mengenai WAGs pembalap F1 serta konten drama pada seri F1 di Netflix, “Drive to Survive”, sebagai sesuatu yang “harus dihindari” agar bisa dilihat sebagai penggemar yang autentik. Perilaku ini menunjukkan adanya reproduksi stereotip yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri.
“Akun gua tuh ya pure ngebahas pas balapan. Jadi kayak kalau misalnya strateginya sih nggak ada, karena menurut gua akun gua tuh bukan akun yang stereotypical cewek.” (Informan L)
JadiFans F1, Harus Mengikuti Standar-Standar Maskulin?
Replikasi stereotip seperti itu tanpa sadar membentuk standar-standar yang telah terinternalisasi oleh anggota fandomF1, tanpa terkecuali oleh para penggemar perempuan. Standar tersebut kemudian berkembang menjadi praktik marginalisasi, seperti stereotyping, pengungkapan komentar-komentar misoginis, dan gatekeeping pengetahuan tentang F1—yang seluruhnya mereproduksi maskulinitas hegemonik.
Stereotip yang kerap muncul terhadap penggemar perempuan memandang mereka sebagai penggemar palsu karena FOMO (fear of missing out). Asumsinya adalah bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang ideal dibandingkan dengan penggemar laki-laki.
Bukan hanya stereotip, penggemar laki-laki juga kerap melontarkan komentar-komentar yang bersifat misoginis sebagai usaha untuk semakin memojokkan penggemar perempuan dan menegaskan posisinya yang tidak “layak” untuk menjadi penggemar F1 sejati. Sedih, ya?
Untuk memperkuat stereotip dan diskriminasi, penggemar laki-laki juga sering melakukan praktik gatekeeping, membatasi informasi mengenai F1 yang boleh diketahui perempuan. Para informan mengalami gatekeepingini, dengan dipertanyakan pertanyaan-pertanyaan teknis untuk menguji mereka sebagai fans perempuan. Praktik-praktik tersebut tidak cuma ditemukan di ruang digital, melainkan juga terjadi secara luring.
“Jujur ini udah kayak pembahasan yang digoreng-goreng terus, apalagi di komunitas F1 di Twitter ya. Karena berkali-kali tuh selalu dibawa-bawa lagi kayak, ‘Ah fans-fans cewek mah emang pada enggak ngerti ini regulasi atau aturan-aturan gitu.’ Atau, ‘fans-fans cewek menonton F1 cuma karena driver-nya ganteng.’ Atau misalnya ada fans cewek yang suka sama satu driver, emang ganteng, namanya Charles Leclerc. Nah, ada orang yang bilang kayak, ‘Cewek-cewek memang suka dia karena dia ganteng doang, mana ngerti mereka kalau misalnya dia driver yang bagus atau gimana.’ Dan itu benar-benar diulang-ulang terus pembahasannya.” (Informan L)
“Pernah pas lagi diskusi di Twitter, ada satu fanbase Lando [Norris] yang ngetweet opini, terus ada fangirl Lando yang komentar kalau tweet itu agak men-degradasi Lando. Akhirnya akun base itu tutup akun dan orang-orang langsung marahin cewek ini, dibilang, “Ah, lu fangirl cupu banget, mental lu lemah banget.” Pokoknya kalau ada yang kasih opini, menurut aku di situ paling sering aku lihat kalau F1 girls tuh masih agak rendah dipandang.” (Informan K)
“… dulu aku tahun 2023 di mana orang-orang, aku bener-bener sering banget ngeliat orang kayak ditanyain apa especially in girls kayak ‘Lu beneran suka F1 gara-gara race-nya, kayak in general the whole F1 thing atau gara-gara driver-nya?’” (Informan K)
Reproduksi praktik-praktik marginalisasi ini semakin memperkuat maskulinitas hegemonik yang terdapat dalam fandomF1. Ibaratnya, perlakuan terhadap fansperempuan merupakan alat kontrol yang mengatur batas-batas tentang siapa yang dianggap sebagai penggemar “sejati”, sekaligus menempatkan perempuan di luar batas tersebut secara sistematis dan mempersulit mereka untuk “diterima” atau “diakui” sebagai orang yang benar-benar menyukai F1. Kondisi ini pun mendorong penggemar perempuan untuk menerapkan beberapa strategi agar dapat merasa diterima dalam fandom F1.
Lalu, Bagaimana Para Penggemar Perempuan Merespons?
Cara para penggemar perempuan kemudian merespon terhadap praktik-praktik marginalisasi sejalan dengan co-cultural theory.Orientasi assimilation dan separation paling terlihat digunakan sebagai strategi respons. Para informan juga terlihat menerapkan strategi-strategi komunikasi tertentu—seperti censoring self, overcompensating, avoiding, exemplifying strengths,dan disassociating—yang sejalan dengan co-cultural theory.
Ini terlihat dari cara informan merespon terhadap marginalisasi, misalnya dengan menyembunyikan identitasnya sebagai perempuan, going the extra mile untuk membuktikan pengetahuan teknis yang mereka punya, menghindari platform media sosial tertentu, sampai menjauhi tindakan yang dapat melekatkan stereotip kepada diri mereka.
“Aku nulis itu tuh aku ganti biar seolah-olah mereka tuh kayak nggak tahu ini sebenarnya cewek apa cowok. Dan foto profil aku tuh aku ganti ke idol yang cowok dan banner profilnya itu aku pasangnya mobil Charles. Kayak aku secara sadar benar-benar mengusahakan kalau misalnya aku terlihat itu kayak, “Ini nggak tahu,” bikin orang bingung ini gendernya sebenarnya cewek apa cowok yang ngomong. Walaupun sebenarnya kalau dilihat di tweetnya kayak sebenarnya cewek banget juga sebenarnya bisa sih, cuma kayak pada pandangan pertama aku inginnya mereka melihat kayak nggak tahu ini cewek apa cowok.” (Informan K)
“…dan biasanya kalau kayak gitu tuh gua udah kesel kan, jadi gua langsung nyari artikel untuk backup claim gua. Kayak, ‘Ya gua ngerti ini, buktinya blablabla, lo yang otaknya kosong anjir.’” (Informan L)
Bentuk-bentuk resistensi tersebut nyatanya masih melanggengkan praktik marginalisasi dalam fandom, tidak utuh-utuh melawan pengaruhnya. Meskipun strategi komunikasi co-culturalsudah menunjukkan upaya para penggemar perempuan untuk menegosiasikan dan mempertahankan posisinya, strategi-strategi ini juga melanggengkan standar maskulin yang mengecualikan perempuan. Seluruh strategi tetap didasari dengan stereotip-stereotip yang berkaitan dengan penggemar perempuan F1, dan tetap berupaya untuk menghindari stereotip tersebut agar terlihat sebagai fans yang lebih autentik.
Secara keseluruhan, kami melihat bahwa standar-standar maskulinitas hegemonik yang sudah dijelaskan telah terikat sangat erat dengan praktik perempuan penggemar F1 sehari-hari, hingga bahkan kadang direplikasi, baik secara sadar maupun tidak.
Jadi, Intinya Apa?
FandomF1 masih beroperasi dalam struktur maskulinitas hegemonik, di mana nilai dan ekspresi maskulin menjadi standar penggemar yang autentik. Hal ini mengakibatkan penggemar perempuan F1 mengalami marginalisasi, misalnya di-gatekeep dari pengetahuan, dipasangkan stereotip, hingga mengalami pewajaran budaya maskulin. Ini terjadi tidak hanya di ruang online, tetapi juga secara offline. Walaupun budaya ini dibentuk oleh laki-laki, penggemar perempuan juga secara tidak sadar mereproduksi marginalisasi ini dengan merendahkan penggemar perempuan lainnya.
Untuk mengatasi struktur ini, penggemar perempuan memanfaatkan berbagai strategi komunikasi co-cultural, yaitu strategi orientasi, asimilasi, akomodasi, dan separasi. Namun, beberapa praktik strategi ini merefleksikan bahwa upaya untuk mempertahankan legitimasi sebagai penggemar seringkali juga melanggengkan maskulinitas hegemonik yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa relasi kuasa yang menekan perempuan penggemar juga secara aktif membentuk cara mereka memaknai diri sebagai bagian dari fandom.
Menarik, Deh, untuk Dibahas Lebih Lanjut!
Untuk rekomendasi, studi selanjutnya dapat memperluas partisipan penelitian agar mendapatkan wawasan dari berbagai latar belakang, seperti perbedaan generasi, lokasi geografis, dan lingkungan sosial. Dimensi-dimensi interseksional, seperti ras, kelas, dan kewarganegaraan juga bisa dieksplorasi untuk memperkaya wawasan penelitian.
Topik juga bisa dieksplor melalui sudut pandang yang berbeda, misalnya melibatkan informan laki-laki atau mengkaji platform menurut sifatnya masing-masing. Penggunaan metode lain, seperti analisis wacana, juga bisa dipertimbangkan untuk fokus kepada penggunaan bahasa, argumen, dan makna yang melanggengkan maskulinitas hegemonik.
Akhir Kata untukFandom Olahraga
Dari temuan penelitian ini, kami merasa dibutuhkannya upaya yang lebih terstruktur dari komunitas penggemar, pengelola fanbase, dan institusi olahraga itu sendiri untuk mengurangi marginalisasi terhadap penggemar perempuan dan membangun budaya fandomyang lebih inklusif untuk semua gender.
Itu bisa mulai dari kamu! Ayo, lebih sadar lagi akan standar-standar yang kamu selama ini adopsi sebagai penggemar. Jangan sampai kamu ikut menerapkan perilaku yang justru melukai penggemar lain. Mari bangun ekosistem fandomyang lebih inklusif dan nyaman untuk semua!
Daftar Pustaka

Ditulis oleh:
Kelompok 5
- Falisha Abrienda Iswandy (2306208584 | falisha.abrienda@ui.ac.id)
- Fazli Ferulli Yudha Wijaya (2306206036 | fazli.ferulli@ui.ac.id)
- Jessica Kristianti Ebenhaezer (2306217355 | jessica.kristianti@ui.ac.id)
- Kaia Kanani Rivai (2306222046 | kaia.kanani@ui.ac.id)
- Natisha Harfi Hartanto (2306160552 | natisha.harfi@ui.ac.id)
Untuk pemenuhan mata kuliah MPK 2 Kualitatif – D

