Journalight

UI Journalism Studies

Data Journalism

Polusi: Mereka yang Paksa Kita ‘Merokok’ Tiga Batang Sehari

Kita Terpaksa Mengisap Dua Sampai Tiga Batang Rokok Setiap Hari Akibat Polusi Udara

DKI Jakarta kembali meraih prestasi sebagai negara yang menempati posisi teratas dengan kualitas udara terburuk di dunia. Data dari IQAir selama sebulan terakhir pun menunjukkan bahwa kualitas udara DKI Jakarta termasuk golongan tidak sehat. Polusi PM 2.5—salah satu indikator kualitas udara berupa partikel kecil yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer yang mudah menembus paru-paru serta aliran darah—di Jakarta setara dengan mengisap 2–3 batang rokok.

Meskipun Baru Trending Belakangan ini, Apakah Buruknya Kualitas Udara DKI Jakarta Menjadi Sesuatu yang Baru?

Buruknya kualitas udara di Jakarta bukanlah sesuatu hal yang tidak biasa bagi masyarakat. Meskipun baru trending belakangan ini, nyatanya, kualitas udara di Jakarta hampir selalu buruk. Bahkan, sebelum pandemi, rata-rata tahunan indeks PM 2.5 di Jakarta pernah mencapai angka 49,4.

Angka ini 7–10 kali lipat lebih buruk dari standar yang telah ditetapkan oleh WHO.

Saat pandemi, angka ini memang mengalami penurunan sehingga banyak warga yang percaya, dengan adanya pembatasan aktivitas selama pandemi, kualitas udara di Jakarta menjadi lebih baik. Padahal, walaupun terdapat penurunan, angka polutan PM 2.5 ini masih tergolong tinggi. Hingga tahun 2022, kualitas udara di Jakarta tidak mengalami perubahan yang signifikan.

“Boleh enggak kita berdoa bersama hujan turun?”

Sigit Reliantoro, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK saat ditanya soal solusi polusi udara

Hujan yang begitu diharapkan di tahun ini dan dipandang dapat menjadi solusi buruknya polusi udara pun ternyata tidak serta merta membuat udara Jakarta dapat dihirup tanpa risiko. Nyatanya, sejak musim hujan dimulai, kualitas udara Jakarta masih berada di level tidak sehat. IQAir menyatakan bahwa hujan memang dapat menjadi salah satu solusi atas polusi udara dengan adanya mekanisme pengendapan basah (wet deposition), mengendapkan pencemar ke tanah. Akan tetapi, hujan tidak cukup efektif untuk mengendapkan PM 2.5 karena partikelnya yang terlalu halus dan kecil.

Kualitas udara tiap tahun kian memburuk. Lantas, bagaimana tanggapan pemerintah terhadap masalah ini?

Tanggapan pemerintah cenderung berubah-ubah dan saling lempar soal penyebab polusi udara di Jakarta. Kendaraan bermotor, PLTU, warga bakar sampah, apa yang sebenarnya menyebabkan polusi udara? Lantas, apa solusi yang tepat untuk menangani masalah tersebut?

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *