Journalight

UI Journalism Studies

Opinion

Lebih dari Sekadar Chat: Ternyata Mahasiswa S1 FISIP UI Pakai Fitur LINE Untuk Menghindari Situasi Sensitif!

Sumber foto: https://www.nativex.com/en/blog/what-is-line-japans-super-app-explained

Kelas MPK Kualitatif 2 – Kelompok 3
Profil Peneliti: Claudia Christine Sugianto (claudia.christine@ui.ac.id), Deutelin Bella Marchia Marinda (deutelin.bella@ui.ac.id), Naila Azka Putri Ahmad (naila.azka@ui.ac.id), Najwa Adelia Naila (najwa.adelia@ui.ac.id), Tara Adristi Hutapea (tara.adristi@ui.ac.id)

Link Drive Infografis (Untuk Kualitas Lebih HD): https://drive.google.com/file/d/1jSEXxNZ3jk-Lk1E5zpk6sDAmBuz5iMI5/view?usp=drive_link

Pernah gak kamu mikir lama dulu sebelum kirim pesan di grup kelompok? Atau sengaja pakai stiker tertentu agar terasa lebih ramah? Pengalaman ini ternyata dialami oleh banyak mahasiswa yang melibatkan berbagai pertimbangan sosial dan tidak selalu terlihat secara langsung.

Pembahasan pada penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa aktif S1 FISIP UI memanfaatkan LINE bukan hanya sebagai platform koordinasi perkuliahan, tetapi juga menggunakan fitur-fiturnya, seperti Sticker, Polling, hingga Ladder Shuffle,yang digunakan untuk mengelola hubungan dengan sesama anggota kelompok. 

Penggunaan fitur-fitur LINE yang berhubungan dalam mengelola hubungan dengan sesama anggota kelompok, dapat dilihat ketika mahasiswa menghadapi situasi komunikasi yang sensitif, yaitu situasi yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau konflik dalam kelompok. Misalnya ketika dalam kelompok tugas mahasiswa diharuskan menagih tugas, membagi tugas, mengingatkan anggota yang kurang aktif, atau ketika sekedar harus mengambil keputusan yang ditakutkan tidak sesuai dengan pemikiran anggota lainnya. Pada situasi seperti ini, mahasiswa menjadi mulai memikirkan bagaimana pesan akan diterima oleh anggota kelompok lainnya atau si penerima. Mahasiswa tidak lagi hanya memikirkan isi pesan yang ingin disampaikannya.

Pada akhirnya, fitur-fitur LINE mulai dimanfaatkan untuk menciptakan kenyamanan, bukan lagi hanya untuk mempermudah koordinasi, melainkan juga untuk menjaga kenyamanan dan menghindari konflik. Hal inilah yang menjadi fokus utama pembahasan di penelitian kali ini.

LINE di FISIP UI: Bukan Sekadar Aplikasi ChatBiasa

LINE di FISIP UI memiliki posisi yang lain dan unik karena menjadi platform yang paling sering digunakan oleh mahasiswa untuk berbagai keperluan perkuliahan. Berbeda jika dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lain di Universitas Indonesia, mereka cenderung lebih banyak menggunakan WhatsApp atau Discord. 

Bagi mahasiswa di FISIP UI, LINE menjadi cukup istimewa karena banyak hal yang dilakukan melalui aplikasi ini, mulai dari sekedar bertukar pesan biasa, pembagian tugas, diskusi kelompok, pengambilan keputusan bersama hingga penyebaran informasi penting.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, fitur-fitur LINE ini sangat membantu mahasiswa di FISIP UI, yakni Stickeryang digunakan untuk mengekspresikan emosi, serta Pollingdan Ladder Shuffle yang memudahkan proses pengambilan keputusan dalam kelompok.

Hal ini juga cukup sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa LINE lebih sering digunakan dibandingkan WhatsApp karena menawarkan fitur yang lebih beragam (Salsabila et al., 2019). Dalam konteks kehidupan akademik mahasiswa, keberagaman fitur ini memberikan banyak kemudahan dalam berkoordinasi dan bekerja sama.

Namun, pembahasan di penelitian kali ini menemukan bahwa peran LINE tidak hanya sampai pada fungsi untuk koordinasi saja. Hal yang menarik justru terletak pada bagaimana mahasiswa memanfaatkan fitur-fitur tersebut ketika berhadapan dengan situasi komunikasi yang bisa dikatakan cukup sensitif bagi mereka. Contohnya, ketika mahasiswa dihadapkan untuk menagih tugas pada anggota kelompok lain, menentukan bagaimana pembagian tugas yang adil, atau sekedar mengingatkan anggota kelompok yang kurang aktif.

Mereka ternyata mempertimbangkan bagaimana pesan tersebut akan diterima, bagaimana mereka akan dilihat atau dianggap oleh anggota kelompok lain, serta bagaimana dampaknya terhadap hubungan dalam kelompok.

Pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh mahasiswa menunjukkan adanya upaya untuk menjaga perasaan, citra diri, dan kenyamanan dalam berinteraksi atau yang sering dikenal sebagai face saving. Dengan kata lain, penggunaan LINE juga berkaitan dengan cara mahasiswa menjaga hubungan sosial dan harmoni kelompok dalam interaksi sehari-hari.

Apa Itu “Face Work” dan Mengapa Relevan?

Untuk lebih memahami fenomena ini, penelitian menggunakan kerangka berpikir Face-Negotiation Theory(FNT) yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey. Dalam teori ini, “wajah” (face) merujuk pada citra diri yang ingin dipertahankan seseorang di hadapan orang lain (Yang & Bruner, 2018).

Hal ini cukup sejalan dalam konteks di kerja kelompok oleh mahasiswa, adanya kebutuhan untuk menjaga citra diri ini muncul dalam berbagai bentuk. Di satu sisi, mahasiswa FISIP UI ingin dipandang sebagai anggota kelompok yang kooperatif untuk diajak bekerja sama. Di sisi lain, mahasiswa FISIP UI juga ingin tetap memiliki kebebasan dan tidak merasa ditekan atau diperintah oleh anggota kelompok lainnya.

Face-Negotiation Theory (FNT) menyebutkan kedua kebutuhan tersebut sebagai positive face dan negative face. Positive face merujuk pada keinginan untuk diterima, dihargai, dan disukai oleh orang lain, sedangkan negative face berkaitan dengan keinginan untuk tetap bebas dari tekanan pihak lain. Dalam situasi kerja kelompok yang penuh dengan deadline,pembagian tugas, dan berbagai beban akademik lainnya, kedua kebutuhan ini sering kali bertemu dan memunculkan berbagai pertimbangan dalam berkomunikasi.

Untuk mengelolanya, mahasiswa FISIP UI menggunakan facework, yaitu berbagai strategi komunikasi yang bertujuan menjaga atau melindungi citra diri sendiri maupun orang lain. Bentuknya dapat berupa tact facework yang mengurangi kesan memaksa, solidarity faceworkyang menonjolkan kedekatan dan kebersamaan, maupun approbation facework yang menunjukkan penghargaan atau penilaian positif kepada orang lain.

Strategi-strategi tersebut menjadi semakin relevan dalam konteks Indonesia yang cenderung mengutamakan harmoni kelompok dibandingkan konfrontasi secara langsung. Oleh karena itu, maka berbagai bentuk faceworkjuga muncul dalam komunikasi digital sehari-hari, termasuk melalui fitur-fitur yang tersedia di LINE oleh mahasiswa FISIP UI.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan studi kasus tunggal. Paradigma ini dipilih karena penggunaan LINE dipandang bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi juga sebagai tindakan sosial yang dibentuk oleh relasi, budaya, dan konteks komunikasi sehari-hari.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi terhadap empat mahasiswa aktif S1 FISIP UI, yaitu L, RN, RA, dan SN. Informan dipilih menggunakan purposive sampling dengan pendekatan heterogeneous samplingatau maximum variation untuk memperoleh pengalaman yang beragam. Seluruh informan menggunakan LINE sebagai media komunikasi akademik dan memiliki pengalaman menghadapi situasi komunikasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan dalam kerja kelompok.

Wawancara difokuskan untuk menggali pengalaman informan ketika menggunakan fitur-fitur LINE pada situasi komunikasi yang mereka anggap sensitif, mulai dari bagaimana informan memilih kata-kata, bagaimana informan memiliki menggunakan stiker apa yang dikirimkan dan pada situasi apa informan mengirimkannya, juga bagaimana para informan menghadapi anggota kelompok yang kurang aktif atau yang biasa dikenal dengan istilah free rideratau matil. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tahapan open coding, kategorisasi, unitisasi, axial coding, dan selective coding untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul dari pengalaman para informan.

Temuan 1: Menggunakan Ladder Shuffle dan PollingSebagai Penengah

Bagi mahasiswa dalam penelitian ini, fitur seperti Ladder Shuffle dan Polling ternyata tidak hanya digunakan untuk mempermudah koordinasi kelompok. Keduanya juga berfungsi sebagai strategi tact facework, yaitu cara menyampaikan keputusan tanpa membuat anggota lain merasa diperintah atau ditekan.

Dengan membuat pembagian tugas pada mekanisme acak, misalnya, tidak ada satu orang yang secara langsung menunjuk atau menentukan siapa mengerjakan apa. Akhirnya keputusan dianggap muncul dari proses yang “netral” sehingga setiap anggota dapat merasa nyaman karena bukan mereka yang mengambil keputusan. Dalam istilah Face-Negotiation Theory, kondisi ini membantu melindungi negative face anggota kelompok.

Salah satu informan menjelaskan:

“Fitur-fitur tersebut membantu saat kita pengen gerak cepat, tapi nggak pengen merasa seperti orang yang suka nyuruh-nyuruh.” — Informan 2

Temuan ini menarik jika dilihat dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung mengutamakan harmoni dan menghindari konfrontasi secara langsung. Dalam situasi seperti ini, LINE berperan sebagai mediator yang memungkinkan pembagian tugas dilakukan tanpa menempatkan satu orang sebagai pihak yang memerintah. Fungsi serupa juga terlihat pada fitur Polling yang memposisikan keputusan sebagai hasil dari suara bersama, bukan berdasarkan kehendak satu individu.

Terdapat hal menarik yang dilakukan oleh salah satu informan, ia mengaku pernah mengulang hasil Ladder Shufflehingga mendapatkan pembagian tugas yang dianggap lebih sesuai. Tujuan dia adalah memberikan porsi pekerjaan yang lebih ringan kepada anggota yang dikenal kurang berkontribusi dalam kelompok, sehingga hasil akhir tugas bisa selesai dengan baik. Dengan cara ini, menurutnya konflik tidak akan muncul secara terbuka dan harmoni kelompok tetap terjaga karena hasil pembagian tugas dapat dilihat sebagai hasil yang “acak”.

Temuan ini menunjukkan bahwa faceworkdapat muncul sebagai strategi yang kreatif sekaligus ambigu: yakni menjaga harmoni di sisi permukaannya, namun sambil tetap merespons ketegangan yang ada di dalam kelompok.

Temuan 2: Makna dan Pesan Dibalik Sticker

Sumber foto: https://www.theverge.com/2018/8/31/17804028/line-link-cryptocurrency-stickers-webtoons

Bagi banyak mahasiswa, stiker LINE bukan sekadar pelengkap percakapan. Dalam penelitian ini, stiker justru muncul sebagai salah satu cara untuk mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Karena komunikasi di ruang digital yang menutup peluang akan adanya ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh, stiker dapat membantu mahasiswa menyampaikan pesan tersebut dan membantu membuat pesan terasa lebih hangat serta ramah sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Salah satu informan menjelaskan:

“Sekarang orang-orang sangat amat melek terhadap dry texter... salah satu cara di LINE untuk meng-avoid dry textingya melalui LINE Sticker.” — Informan 3

Informan lain juga mengungkapkan hal serupa:

Stickeritu ngebantu aku buat kayak terlihat lebih ramah lah at least.” — Informan 1

Hal ini juga menunjukkan bahwa penggunaan stiker berkaitan dengan upaya menjaga positive face, yaitu citra diri sebagai seseorang yang ramah, hangat, dan menyenangkan untuk diajak berinteraksi. Pesan yang dikirimkan jika hanya berupa teks tanpa stiker dapat terasa lebih dingin atau terlalu formal, sementara stiker dapat membantu mahasiswa untuk menambahkan nuansa emosi ramah yang sulit disampaikan jika hanya melalui kata-kata saja.

Peran dalam menjaga positive face ini didukung dengan ekosistem dari stiker LINE yang bisa dikatakan cukup beragam. Berbagai pilihan karakter, ekspresi, dan tulisan dalam fitur stiker memungkinkan pengguna menampilkan kepribadian mereka dengan cara yang lebih ekspresif dibandingkan sekadar emoji biasa. Hal ini sesuai dengan penelitian yang mengatakan bahwa stiker tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pesan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas digital penggunanya (Rachmawati et al., 2021). Jika mahasiswa yang menggunakannya ingin dipersepsikan ramah, ia bisa banyak menggunakan stiker yang lekat dengan kesan ramah ataupun berbagai karakter yang diinginkan.

Penggunaan stiker menjadi sesuatu yang berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dipersepsikan dan juga bagaimana mahasiswa menjaga perasaan orang lain. Ketika harus menyampaikan pesan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya mengingatkan anggota kelompok yang belum mengerjakan tugas, stiker sering digunakan untuk mengurangi kesan tegas atau menghakimi dari pesan yang dikirim.

Dalam konteks ini, stiker dapat dipahami sebagai bentuk approbation facework yang dimediasi oleh teknologi LINE. Kehadirannya membantu menjaga citra diri pengirim sekaligus melindungi face penerima, sehingga pesan yang sensitif tetap dapat disampaikan tanpa harus mengganggu atau merusak hubungan dalam kelompok.

Temuan 3: Hubungan Kedekatan Memengaruhi Kebutuhan Akan Fitur LINE

Penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa FISIP UI juga menemukan bahwa kedekatan relasi memengaruhi cara mahasiswa menggunakan fitur-fitur LINE dalam berkomunikasi. Ketika berinteraksi dengan teman yang belum terlalu dekat, fitur LINE sering dimanfaatkan sebagai bufferuntuk menyampaikan pesan-pesan yang sensitif. Misalnya, saat harus menagih tugas atau mengingatkan anggota kelompok yang kurang aktif, mahasiswa cenderung memilih cara yang lebih tidak langsung agar tidak terkesan agresif.

“Aku tuh takut aja kalau misalnya aku ngomongnya terlalu kasar, dan malah jadi offside… bukannya menyelesaikan masalah, malah dibuat masalah baru.” — Informan 4

Dalam situasi ini, fitur-fitur LINE membantu mahasiswa melakukan Face-Threatening Acts(FTA) dengan cara yang lebih aman. Ketika hubungan antaranggota kelompok belum cukup dekat, pesan yang terlalu langsung berisiko disalahartikan dan justru memicu ketegangan baru.

Sebaliknya, pada relasi yang lebih dekat, kebutuhan akan fitur-fitur LINE sebagai perantara cenderung menjadi berkurang. Kepercayaan dan pemahaman yang telah terbangun membuat komunikasi secara langsung terasa lebih nyaman dan tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi hubungan. Karena itu, mahasiswa lebih leluasa menyampaikan pendapat, kritik, maupun pengingat tanpa harus terlalu bergantung pada fitur-fitur tertentu.

Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kedekatan relasi tidak selalu menghasilkan pola face concern yang sama. Informan 1 dan 4 justru lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan teman yang tidak terlalu dekat karena khawatir memicu konflik yang sulit dikelola. Sebaliknya, Informan 2 dan 3 lebih berupaya menjaga perasaan teman dekat karena menganggap hubungan tersebut lebih berharga untuk dipertahankan.

Hal ini terlihat dari pernyataan salah satu informan berikut:

Kalau misalkan lu canggung… ada unresolvedkonflik… lu mau ngomong apa juga enggak enak.” — Informan 3

Nah, hal ini menunjukkan bahwa face concern tetap hadir pada berbagai tingkat kedekatan hubungan. Namun, dapat kita lihat perbedaannya terletak pada bagaimana perhatian tersebut diwujudkan. Ada yang lebih berhati-hati terhadap teman yang belum dekat untuk menghindari konflik, sementara ada juga yang justru lebih menjaga teman dekat karena menyadari pentingnya hubungan tersebut bagi kenyamanan dan kelancaran kerja kelompok kedepannya.

Bagaimana Ketika Mereka Dihadapkan Dengan Free Rider?

Face concern akan kelihatan paling jelas ketika kelompok harus berhadapan dengan anggota yang tidak berkontribusi pada kelompok atau free rideratau yang sebelumnya disebut dengan “matil”. Dalam situasi ini, perhatian yang awalnya lebih banyak diarahkan pada perasaan orang lain (other-face concern) perlahan bergeser menjadi upaya melindungi kepentingan kelompok (self-face concern) dan tentunya diri sendiri karena berkaitan dengan nilai pribadi mahasiswa. Pergeseran tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan muncul seiring mendekatnya deadlinetugas dan meningkatnya tekanan untuk menyelesaikan tugas, apalagi jika tingkat kepentingan tugas tersebut juga tinggi, misalnya untuk tugas akhir semester.

Salah satu informan mengungkapkan:

“Untuk orang yang dia kayak mati gitu-gitu, aku nggak bakal mikirin perasaannya dia sih selama tugas itu selesai.” — Informan 2

Pandangan serupa juga terlihat pada informan lain:

“Bagaimanapun caranya, kita harus benar-benar ngasih sense of urgency… nge-kick some reality ke dia melalui pesan yang direct.” — Informan 3

Seiring meningkatnya urgensi, cara berkomunikasi yang digunakan pun ikut berubah. Pada tahap awal, mahasiswa cenderung menggunakan pendekatan yang lebih halus melalui gaya avoidingdan obliging, yaitu dengan memberikan pengingat secara tidak langsung atau mengajukan pertanyaan yang bersifat halus. Namun ketika cara-cara tersebut tidak berhasil, biasanya komunikasi yang dilakukan mahasiswa akan menjadi lebih tegas dan blak-blakan, serta mengesampingkan hal-hal lainnya.

Perubahan ini terlihat dari munculnya gaya dominating, seperti menandai nama anggota secara langsung di grup, menghubungi melalui pesan pribadi, hingga memberikan peringatan keras mengenai kemungkinan pencoretan nama dari kelompok jika tugas tidak segera dilakukan. Dalam kondisi ini, keberhasilan penyelesaian tugas menjadi prioritas utama sehingga norma harmoni yang biasanya dijaga dalam interaksi kelompok untuk sementara dikesampingkan sampai tugas terselesaikan.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya menjaga hubungan yang baik akan memiliki batas-batas tertentu jika dihadapkan dengan situasi yang lebih penting. Ketika seorang anggota dianggap mengancam keberhasilan kelompok secara keseluruhan, mahasiswa cenderung mengutamakan penyelesaian tugas dibanding menjaga perasaan pihak yang dianggap tidak menjalankan tanggung jawabnya.

Nah, Apa Sebenarnya Arti Dari Semua Pembahasan Ini?

Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui LINE di lingkungan akademik bukan hanya persoalan menyampaikan informasi. Di balik pilihan menggunakan Sticker, Polling, Ladder Shuffle, atau pesan pribadi, terdapat berbagai pertimbangan yang berkaitan dengan cara mahasiswa menjaga hubungan dan citra dirinya dalam kelompok.

Pembahasan dalam penelitian ini juga memperlihatkan bahwa teknologi komunikasi bukanlah alat yang sepenuhnya netral. Fitur-fitur mungkin kita lihat atau anggap sederhana ternyata juga berfungsi dalam mengelola relasi, menghindari konflik, dan menjaga harmoni dalam interaksi sehari-hari. Dengan kata lain, faceworktidak hilang ketika komunikasi berpindah ke ruang digital, tetapi justru menemukan bentuk-bentuk baru melalui berbagai fitur yang tersedia di LINE.

Perspektif baru juga dapat dilihat dalam temuan ini, bahwa mahasiswa tidak selalu memprioritaskan harmonisasi dalam kelompok. Harmonisasi bisa menjadi kebutuhan sekunder jika terdapat hal-hal yang melewati batas bagi mahasiswa.

Keterbatasan dan Peluang Penelitian Selanjutnya

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah mayoritas informan merupakan perempuan dan seluruh data berasal dari konteks akademik mahasiswa S1 FISIP UI, sehingga temuan perlu dipahami sesuai dengan konteks tersebut. Selain itu, keterbatasan akses terhadap percakapan grup membuat penelitian ini bergantung pada pengalaman yang diceritakan oleh informan.

Ke depannya, penelitian serupa dapat melibatkan informan yang lebih beragam, baik dari segi gender, latar belakang budaya, maupun konteks penggunaan LINE, yakni tidak hanya di lingkungan kampus/akademik. Perbandingan dengan platform lain seperti WhatsApp atau Telegram juga menarik untuk dilakukan untuk melihat apakah perbedaan fitur turut memengaruhi dinamika faceworkdalam komunikasi kelompok.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung mengutamakan harmoni dan perasaan, penggunaan LINE tidak hanya berkaitan dengan koordinasi tugas atau pertukaran informasi. 

Berbagai fitur yang tersedia juga dimanfaatkan mahasiswa untuk mengelola hubungan interpersonal, menjaga citra diri, menghindari potensi konflik, serta menegosiasikan posisi mereka dalam kelompok. 

Referensi

Bryman, A. (2016). Social research methods (5th ed.). Oxford University Press.

Fauzi, A. R., & Saputro, E. P. (2019). Penggunaan LINE Sebagai Media Komunikasi Organisasi (Studi Kualitatif Deskriptif Media Sosial LINE Pada UKM di Universitas Muhammadiyah Surakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Hancock, B. (2002). An introduction to qualitative research.Trent Focus Group.

Janine, U. (2023). Face-negotiation theory. https://www.ebsco.com/research-starters/communication-and-mass-media/face-negotiation-theory 

Naldo & Satria, H. W. (2018). Studi Observasi terhadap Penggunaan Aplikasi LINE oleh Generasi Millenial. Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 1(1), 32-40. https://scholar.ui.ac.id/ws/portalfiles/portal/68417220/Studi%20Observasi%20terhadap%20Penggunaan%20Aplikasi%20LINE%20oleh%20Generasi%20M.pdf 

Rachmawati, N. A., Salam, O. D., Setiawan, G. A., & Izaak, R. G. A. (2021). Evolution of Interpersonal Communication Through Symbols (Sticker) Cyber Native in the LINE App. Business Economic Communication and Social Sciences (BECOSS) Journal, 3(3), 125–135. https://doi.org/10.21512/becossjournal.v3i3.7729

Salsabila, N. F., Az-Zahra, H. M., & Rachmadi, A. (2019). Evaluasi pengalaman pengguna pada aplikasi mobile messengermenggunakan metode ux curve (studi kasus pada aplikasi line dan whatsapp). Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 3(7), 6526-6537.

Taweethong, N. (2019). The Influence of the LINE Social Media Application in Thai Communications. International Journal of Economics, Business and Management Research, 3(9), 171–180.

Yang, J. & Bruner, K. (2018). Face-Negotiation Theory. dalam West, R. L. & Turner, L. H. (2018). Introducing Communication Theory: Analysis and Application(6th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Yossatorn, Y., Binali, T., Weng, C., & Chu, R. J. (2023). Investigating the relationships among LINE users’ concerns, motivations for information sharing intention and information sharing behavior. Sage Open, 13(3), 1–17. https://doi.org/10.1177/21582440231192951

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *